Breath: Separation

BREATH: SEPARATION

We previously agreed. If we break up, then we cannot meet again.

Previous : Eternity

aiveurislin’s © 2017 ; Lee Taeyong & Ahn Hanra ; a series [927 words] ; Kingdom-AU!, Angst, Hurt/Comfort, Dystopia, & War ; for parental guidance


Langkahku menapaki pedestrian di sepanjang wilayah timur Istana Dvorak. Mengetuk-etuk pelan pula memecah lapisan tipis es di bawah sol, menguarkan sensasi dingin yang membuat sepasang sepatu bulu milikku sedikit basah. Anganku kembali mengelana, mencitra sebuah siluet yang kurindukan sosoknya. Kutatap langit malam yang seakan ikut menyendu bersama kekelaman hatiku saat ini. Dalam diam, aku berharap ribuan kerlip yang menggantung di sana dapat menjawab semua ungkapan retorika yang ada di benakku saat ini.

“Aku mencintai Ahn Hanra. Maafkan aku, Ayah.”

“Apa kau pikir akan semudah itu? Apa kau melupakan Sejeong yang telah menyelamatkanmu? Sudahkah kau berpikir ribuan kali untuk mengatakan kalimat itu? Taeyong, kau ini calon raja selanjutnya. Kau Pangeran Mahkota kerajaan ini. Kau itu panutan dan cerminan bagi rakyatmu. Apa ini yang akan kautunjukkan pada mereka? Pikirkanlah hal ini baik-baik.

Tak bisa kukatakan banyak hal untuk mengingkari orang nomor satu di negeri ini, sosok yang sekaligus melabeli diri sebagai ayahku. Kim Sejeong, nama gadis yang ayahku elu-elukan itu tak mungkin sirna dalam sekejap mata dari benakku. Mustahil jika aku melupakannya dengan mudah. Tanpanya mungkin muka bumi ini tak dapat kupijaki lagi. Banyak hal telah ia korbankan untukku. Dan kali ini, aku harus membayarnya dengan setimpal.

“Tapi aku tak mencintainya, Ayah. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku. Tidak lebih.

“Apa kau sudah gila, Lee Taeyong? Apa di saat seperti ini kau pantas berkata seperti itu? Sejeong sangat mencintaimu. Dia mempertaruhkan segalanya untukmu, bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu. Dia rela kehilangan fungsi kakinya demi kau! Apa kau menutup mata akan semua kebenaran itu?” ucap Ayahanda dengan penuh penekanan di setiap patah kata.

Kuhela napas dalam-dalam. Sungguh, ini adalah pilihan yang berat bagiku. Aku mencintai Hanra, namun aku harus membalas budi mulia Sejeong. Dalam klausa lain, bersama wanita yang aku cintai atau bersama wanita yang telah menyelamatkan hidupku. Sungguh, dua opsi itu hanya berputar-putar dalam otakku.

Angin berhembus agak kuat, membawa serta sepoi sejuk yang menusuk lapisan dermis yang membungkus tubuhku. Tuhan nampaknya sedang tidak ingin berpihak kepadaku. Bahkan di tengah dilema yang menelungkupi kalbuku, hitamnya malam pun turut mengelam juga. Aku hanya menatap kosong bangku-bangku taman yang membisu di sepanjang pedestrian yang aku lewati.

“Yang Mulia, sebaiknya Anda segera masuk. Suhu di luar sangat dingin. Udara malam juga tidak baik bagi kesehatan Anda,” spontan mencari sang penyeru, sepasang netraku bersirobok dengan sosok pria paruh baya kisaran kepala lima, yang kukenal sebagai Paman Jungsu. Langkahnya menyambung ritme mendekat padaku, menepis jarak dari pijakanku yang tak begitu jauh.

Kusungging senyum tipis pun kusapukan seluruh fokusku memagut figurnya, mengulur kedua lenganku membenarkan letak mantel di tubuhnya yang sudah mulai renta, “Seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu untukmu, Paman. Bukankah kau jauh lebih rapuh dariku?”

“Apa karena usia saya yang sudah lebih dari setengah abad membuat saya lemah? Saya sudah diuji untuk dua generasi sebelum Anda, Yang Mulia,” sejenak kekehan kecilku memutus ilusi konfrontasi dalam otakku. Kuakui, Paman Jungsu begitu mahir untuk menghiburku. Bahkan ungkapan humornya tak banyak berubah, tak termakan oleh usia senjanya.

“Aku tahu itu, Paman. Terima kasih atas pengabdianmu. Aku berhutang banyak padamu, Paman Jungsu,” secarik senyum berhias keriput pun beliau ulas, yang serta-merta membuatku menarik kedua sudut ceruk bibirku.

“Saya memang tidak tahu hal apa yang membuat Anda dirundung gulana malam ini. Namun saya yakin, setiap problema akan selalu memiliki paling tidak sebuah penyelesaian. Jadi saya harap, Anda dapat memutuskannya dengan bijak. Saya percaya bahwa Pangeran Lee Taeyong mampu melewatinya,” seuntai nasihat bijak itu membuat penat yang menumpuk dalam serebrumku tersingkap setingkap demi setingkap. Aksara-aksara itu seakan merasuki benakku, menggugah kembali arogansi untuk memecah keraguanku.

Sesaat kemudian, Paman Jungsu pamit undur diri, pun kupersilahkan beliau untuk lesap dari radarku. Kulangkahkan kembali sepasang tungkaiku menyusuri bata-bata merah pedestrian. Setapak demi setapak tanpa sadar menuntunku menuju sebuah bangku taman yang diapit oleh sepasang pohon maple berdaun coklat kemerahan.

Spontan, kuulas secarik senyum getir. Sepasang obsidianku mencitra siluet anggunnya yang duduk tenang di sana. Tatapan sepasang netranya yang teduh sontak menghangatkan hatiku. Tak lupa jemari-jemari lentiknya menyentuh ujung buku, dengan lihai menggulirkan satu per satu halaman bukunya. Lalu dia memalingkan pandangannya padaku, memerangkap sosokku dalam bingkai manik coklat kehitamannya. Kudapati pula parasnya menyelipkan seulas senyum yang mampu menghipnotisku dua sekon kemudian.

Aku merindukannya, merindukan senyumnya, canda-tawanya, sentuhannya, dan segala yang ada padanya. Aku merindukannya seperti orang gila.

“Apa yang sedang kau lakukan, Ahn Hanra? Apa kau juga merindukanku sebanyak aku merindukanmu? Maafkan aku, Ra, karena tak bisa menepati semua janjiku.”

Aku tidak ingin menangis, sungguh. Hanya saja lambat laun rasa ini kian menyesakkan ketika tidak terlisankan. Memori-memori itu seakan menghujam otakku dengan segala penyesalan. Bodoh memang. Karena aku seakan memberi sebuah pengharapan semu, dan aku benci akan hal itu.

Deru napasku berpadu dengan derap langkah terburu-buru yang tertangkap alat pendengarku. Pun kulihat sosok itu menepis jarak mendekat padaku. Sosok itu, Ahn Hanra-ku.

“Lee Taeyong!”

DOR!

Tubuhku berhasil diraihnya. Namun seruannya yang lekas dibalas sahutan tembakan membuat seluruh ragaku menegang pun diikuti kerja jantungku yang seakan berjeda panjang. Tubuh Hanra menegang dan perlahan melemas. Ikatan kedua lengannya yang mendekapku perlahan melemah. Napasku kian putus-putus saat ia tak lagi mampu berpijak dengan kedua tungkainya. Kuberanikan diri menatap rupanya yang sudah bersimbah peluh. Ia tersenyum padaku, lalu ceruk bibirnya bergerak lemah, menguntai aksara sederhana yang mampu menohok sepasang runguku.

“Terima kasih, Lee Taeyong.”

Obsidianku memerah, kelopaknya pun mulai penuh. Setengah mati kutahan isakanku yang semakin tak terbendung. Hari ini, dengan lapang hati, aku menangis untuk gadis ini. Napasku kian tercekat saat menyadari eksistensi bercak kemerahan mengotori sweater rajutnya. Nafasnya semakin berat dan memudar dalam jangkauan telingaku dan aku ingin berteriak padanya untuk tidak menutup sepasang manik itu.

Namun apa dayaku saat Yang Maha Kuasa telah berseru.

 

–to be continued.


notas;

dan lanjutannya makin worst dan worst aja. Salahin penulisnya karena mereka hampir selalu punya kisah yang menyakitkan /hah/ maaf ga bisa nepatin janji untuk update seminggu sekali. minggu kemarin aku ada uts jadi lanjutan fanfik ini agak terbengkalai. mungkin minggu depan aku bisa update sesuai janji. doakan ya!

kindly drop a comment after reading this fic because your reviews are so meaningful♥

Sincerely yours,

aiveurislin.

Advertisements

10 responses to “Breath: Separation

  1. asaaaa… yang ditunggu tungu di update juga😀
    ngga masalah yang penting update-nya ngga 1bulan sekali kelamaan nungguinnya keburu lumutan😆
    semangat authornim💪

  2. Bintan Hai! semoga masih ingat denganku HAHA XD
    Yaampun aku baca fiksimu kamu itu sambil geleng2 terus, bahasanya ituloh sudah semacam puisi aja :))))) Berkelas sekali kaya novel terjemahan hemmm. Dan lagi Kingdom kamu ini bener2 kental banget rasanya, diksimu yang banyak itu mendukung sekali. Dan raden mas taeyong duh, aku akhir2 ini gemes sama dia, habisnya lucu banget kalo udah ketemu muntaeil *malah curhat*
    Ini Hanra-nya ketembak kenapa? Aku belom baca yang sebelumnya HUHU sepertinya harus segera buka biar ngeh.
    Anyway, nice shots! Keep writing ya~

    • Halo Kak Pat! Masih inget dong kak 🙂 ketemu lagi yaampun 😀
      Waduh ini puisi apaan deh kak apalagi novel terjemahan duh jauuh banget, masih banyak kekurangan kak T.T yaah akhir-akhir ini mood Kingdom-AU!nya makin jadi nih kak. Lagi mau coba-coba genre baru juga. Lah mas muntae emang unyu bingo, tingkahnya kayak anak ilang aja padahal paling tua /yang tua yang ngangenin sih/ kalo taeyong mah gausah ditanya itu orang emang minta diculik (ke hatinya hanra soalnya) wkwkwk
      Wah, kalo kasus ketembak itu bakal kebuka di seri selanjutnya nih kak, itu pertanyaannya monggo disimpen dulu yak hehehe 😀

  3. Pingback: Breath: Bruise | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Jatuh cinta sama diksinya.. Taeyong nya jugaa…
    Ya ampunn thor bagus banget, serius baru kali ini baca ff dikasih diksi sebagus ini

    • Halo again!
      Waah, ini masih ga ada apa-apanya. Diluar sana masih ada karya-karya lain yang lebih bagus 🙂
      Thanks for dropping your comment here 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s