Hello School Girl [Chapter 29] ~ohnajla

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1-15 || Chapter 16-23 || Chapter 24 || Chapter 25 || Chapter 26 || Chapter 27 || Chapter 28 || Chapter 29

Hari sekolah kembali datang. Semua siswa yang pulang ke rumah sudah kembali ke asrama, lebih tepatnya kamar masing-masing. Termasuk diantaranya adalah Jungkook, Namjoon, Taehyung, Jimin, Hoseok, Irene, Lisa, Jenny begitu pula dengan Sena dan Yoonji. Asrama yang semula sepi, kini ramai kembali. Para siswa berlalu lalang di lorong asrama mereka. Mengobrolkan apa-apa saja yang telah mereka lalui selama liburan.

Jungkook yang mulai menggeluti bidang bowling bersama sepupunya Mingyu.

Namjoon yang menemukan hobi barunya yaitu jalan-jalan di sekitar kompleks rumahnya tiap tengah malam.

Taehyung yang harus merelakan hari liburnya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris.

Jimin pulang kampung ke Busan.

Hoseok berhasil menambah koleksi novelnya sampai satu kardus televisi penuh.

Irene mengecat rambut ke warna setengah pink.

Lisa semakin cantik setelah menjadi model di salon ibunya sendiri.

Dan Jenny yang makin cool setelah memotong rambutnya sepanjang bahu.

Banyak hal yang telah terjadi di antara anak-anak itu yang ingin sekali mereka ceritakan pada yang lain.

Sayangnya, itu tidak berlaku bagi pemilik kamar nomor 3-1-4.

Sejak kedatangan mereka pagi tadi, keduanya tidak saling menyapa.

Si pemilik rambut panjang navy black sibuk sendiri dengan ponselnya sambil berbaring di atas ranjang. Tidak memedulikan pria berpakaian wanita yang sedang unpacking barang-barangnya.

Entahlah kemana perginya kehangatan dalam balutan love hate yang dulu menyelimuti kamar ini. Kali ini atmosfer mendadak berbeda. Dingin, sunyi, kosong. Seolah tidak ada siapa pun lagi yang menempati kamar itu.

Sena terkekeh pelan mendapati pesan Jenny kalau misi mereka berhasil. Yaitu membuat Joy si gadis kelas satu yang centil untuk putus dari Sungjae. Ya, sejak awal bukankah hidup Sena memang begini? Menjadi primadona, tapi di sisi lain dia begitu liar. Mem-bully, menghancurkan hubungan orang, memanfaatkan adik kelas khususnya yang menyukainya, itulah kehidupan aslinya sebelum Yoonji aka Yoongi datang.

Entahlah, gadis itu sendiri bingung kenapa dia bisa dengan mudahnya mengabaikan Yoonji. Padahal dulu dia sangat gatal untuk menggoda pria dalam dandanan wanita itu. Sedetik saja tidak menggodanya, dia akan sangat bosan setengah mati. Bahkan tanpa malu dia menuntut pelukan, ciuman yang bahkan bukan haknya karena mereka tidak terikat hubungan romantis apa pun.

Dan sekarang….

Semua terjadi begitu saja.

Gadis itu menggulirkan matanya dari ponsel sejenak saat Yoonji turun dari ranjang untuk menyimpan koper di sebelah buffet. Kembali fokus ke ponselnya begitu Yoonji kembali naik ke ranjang.

Seperti biasa, pria itu akan melepas semua aksesoris wanitanya, lalu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memangku laptop. Menyibukkan diri untuk menyiapkan comeback selanjutnya yang rencananya akan berbentuk full album.

Kamar itu sepi sampai berjam-jam lamanya.

Jam makan siang, mereka beranjak sebentar dari ranjang masing-masing untuk pergi ke kantin. Tapi mereka tidak pergi bersama. Sena duluan yang pergi, lalu diikuti Yoonji beberapa menit kemudian.

Setelah jam makan siang sampai senja, Sena memilih untuk tidur.

Yoongi? Dia tetap sibuk bekerja pada musiknya.

Jam makan malam ke kantin lagi. Kali ini Yoonji duluan, baru Sena setelah trio temannya datang.

Semua itu terjadi sampai hari sekolah benar-benar datang.

Seokjin berjalan tepat di belakang Yoonji yang sedang berjalan sendirian. Pria itu bisa saja menyalip, tapi dia malah memperlambat langkahnya seolah dia benar-benar ingin berada di belakang Yoonji.

“Yoonji-a.”

Merasa dipanggil, Yoonji pun berhenti dan menoleh. Ditatapnya Seokjin dengan alis terangkat. Tumben dia bicara padaku?

Seokjin pun mendekat, lalu berhenti tepat dua langkah di depan Yoonji. “Kau sendirian? Di mana roommate-mu?”

Baru dibicarakan, Sena beserta tiga kawannya tahu-tahu melewati mereka sambil mengobrol ria. Dia seolah tidak peduli dengan kehadiran Yoonji ataupun Seokjin meski mereka sempat saling lirik.

Seokjin sekarang tahu apa yang terjadi dilihat dari ekspresi Yoonji yang datar-datar saja. “Nanti temui aku di rooftop. Ada yang ingin kubicarakan. Kaja.”

Yoonji hanya menurut saat Seokjin mengajaknya untuk pergi ke kelas bersama.

Jam istirahat, Yoonji benar-benar datang ke rooftop seperti yang diminta Seokjin. Dia pun berhenti setelah mencapai pagar pembatas rooftop tepat di samping Seokjin yang sudah menunggu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Seokjin menoleh. Sekilas. Lantas kembali menatap lurus ke depan. Pada gedung-gedung pencakar langit yang menghampar di sejauh mata memandang. “Di sini tempatnya bagus ya … Hyung?

Yoonji aka Yoongi reflek membuang pandangannya juga ke depan. “Sudah basa-basinya. Aku tahu kau menyuruhku kemari bukan untuk membicarakan itu. Katakan.”

Seokjin tersenyum tipis. Wajahnya yang tampan terlihat makin tampan dengan ujung rambutnya yang bergoyang pelan diterpa angin. “Memangnya salah kalau aku mencoba berbasa-basi dengan idolaku?”

Yoongi menyeringai. “Aku masih menjadi idolamu?”

Keurom. Agust D hyung akan selalu menjadi idolaku. Memang karena siapa lagi aku mau jadi artis kalau bukan kau.”

Yoongi menggeleng pelan. “Oke, sekarang apa?”

Remaja berusia 17 tahun itu terdiam sebentar. “Aku mau minta maaf. Waktu itu karena terbawa emosi aku tidak sengaja memukulmu.”

“Itu bukan salahmu. Toh … itu memang pantas diberikan padaku.”

Seokjin menggeleng tak setuju. “Aniyo. Kau terlalu berharga, Hyung. Kau tidak boleh lagi terluka. Itu adalah salahku, benar-benar salahku. Meskipun aku kesal tidak seharusnya aku melukaimu. Aku bahkan tidak pantas disebut penggemar lagi.”

Yoongi menoleh, membalas tatapan Seokjin lembut. “Aku suka dengan caramu bicara, Jin-a. Kau sangat blak-blakan.”

“Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku.”

“Setidaknya pukulanmu waktu itu cukup membuatku sadar kalau apa yang kulakukan saat ini salah. Sayangnya … aku tidak bisa berhenti sekarang. Aku jauh lebih mencintai pekerjaanku ketimbang perasaan orang lain.”

Seokjin menatap Hyung favoritnya itu iba. “Aku tahu bagaimana perasaanmu, Hyung. Menjadi seperti ini mungkin juga bukan keinginanmu sendiri.”

Yoongi tersenyum getir lantas membuang pandangan ke depan. “Awalnya kupikir Bang-nim tega karena telah membuatku berdandan seperti ini untuk masuk kemari. Kupikir dia melakukannya agar rumor itu tidak membuat saham perusahaan anjlok. Tapi, setelah kau mengetahui kebenaran identitasku secara tak disengaja, disitulah aku sadar kalau Bang-nim melakukan ini untukku, untuk karirku. Di perusahaan, kami mungkin hanyalah sebatas CEO dan artis. Tapi di sisi lain, aku bisa merasakan kalau Bang-nim memperlakukanku seperti anak laki-lakinya sendiri. Semua itu baru kusadari setelah aku tertangkap basah olehmu. Pukulanmu benar-benar tidak salah sasaran, Jin-a. Karena dengan kau memukulku, akhirnya aku sadar kalau selama ini pikiranku memang salah. Aku begitu berdosa pada kalian semua.”

Untuk pertama kalinya Seokjin berbicara dari hati ke hati bersama sang idola. Dia tidak tahu kalau Yoongi ternyata sedewasa ini ketika berbicara. Impiannya untuk berbicara dengan sang idola terwujud. Poin plus-nya, dia jadi tahu apa yang ada di pikiran seorang Agust D yang kata orang liar dan selalu ingin mendominasi. Agust D bukan hanya orang yang keras, tapi di satu sisi dia juga lembut dan lemah. Seperti sekarang. Seokjin pun menepuk pelan pundak Hyung-nya, berusaha memberikan ketenangan.

Lalu tiba-tiba Seokjin teringat sesuatu.

Hyung, waktu itu….” Ia menjeda kalimatnya sebentar. Menimang-nimang kembali apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Bahkan masih ragu ketika Yoongi memandangnya bingung.

“Waktu itu apa?”

Sekali lagi Seokjin menyapu wajah cantik sang idola yang dulu sempat membuatnya terpesona sampai tergila-gila.

“Ah tidak. Maksudku yang tadi, kenapa kau dan Sena tidak saling menyapa seperti biasa? Kalian sedang bertengkar?”

Mendengar nama Sena, tanpa aba-aba Yoongi kembali membuang pandangan. “Tidak ada apa-apa di antara kami. Bukannya dulu aku dan dia juga seperti ini.”

Seokjin mengerutkan dahi. Lalu yang ciuman itu?

Yoongi aka Yoonji pun menarik tubuhnya dari pagar pembatas. Menatap Seokjin sejenak dengan datar. “Aku lapar. Aku duluan, eo?”

Seokjin hanya mengangguk dan membiarkan hyung-nya pergi begitu saja.

Seperti biasa, jam makan siang, Sena duduk di satu meja bersama tiga trio rusuhnya. Ditambah empat siswa lain yang tidak mereka kenal siapa. Tapi meskipun tidak kenal, geng ini tidak punya sungkan sama sekali. Mereka seperti biasa mengobrol dan tertawa dengan suara keras. Tidak ada yang berani protes buktinya juga. Karena protes sama saja dengan bunuh diri. Sudah tidak terbantahkan lagi bagaimana tingkah mereka berempat kalau sudah kesal pada orang lain. Kalau punya pacar akan diputuskan secara paksa, kalau tidak punya pacar akan di-bully habis-habisan. Terdengar buruk sekali ‘kan? Ya, itu memang kenyataan. Tidak akan ada yang bisa menduga itu kalau hanya dilihat dari wajah mereka saja. Masa iya wajah cantik bak bidadari tapi tingkah seperti penghuni jahannam?

Saat asyik-asyiknya mengobrol, tak sengaja Lisa melihat siluet Yoonji yang baru datang ke kantin. Mereka yang awalnya mengobrolkan soal prom yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi, tiba-tiba berbelok topik setelah Lisa mengadukan soal apa yang dilihatnya.

“Hei, kau dan Yoonji ada apa sih? Waktu olahraga itu kalian akur, tapi sekarang sudah jauh-jauhan lagi.”

Sena berhenti mengunyah selama beberapa detik. Lalu melanjutkan kunyahannya lagi. “Itu bukan urusanmu.”

“Kalian bertengkar karena urusan namja?” tebak Irene. Dia bicara begitu karena dulu di awal Yoonji datang, Sena bisa kesal setengah mati pada Yoonji karena urusan pria.

Sena mendengus geli, lantas menggeleng. “Ani.”

“Aku dan Lisa juga pernah bertengkar karena namja. Padahal dia sama sekali tidak menyukai salah satu dari kami,” celetuk Jenny sebelum meneguk minumannya.

Lisa menjentikkan jari. “Maja. Aku sudah menjambak rambutnya, pukul-pukulan dengannya, ternyata dia tidak menyukaiku.”

Sena tergelak keras. “Wah daebak! Jadi kalian pernah berkelahi hanya karena namja?”

Irene di sebelahnya terkikik geli.

“Dulu hampir saja Irene menjambak rambutku gara-gara Taehyung memberiku bunga.”

Ekspresi Irene langsung berubah. Dia melirik gadis di sebelahnya kesal. “Jangan ungkit-ungkit itu lagi.”

Tapi Sena seolah menulikan telinganya dan melanjutkan. “Dan kalian tahu kenapa? Ternyata teman sebangkuku ini penggemar berat Taehyung.”

Lisa dan Jenny sama-sama membelalak. “Jinjja?!”

Irene langsung memukul pundak Sena dengan pipi memerah. “Itu dulu, sekarang sudah tidak.”

“Wah … benarkah kau menyukai pria sepertinya?” tanya Jenny tak percaya.

“Aku tidak menyangka kalau selama ini kau menyukai Kim Taehyung, Irene-a. Apa yang kau suka darinya?”

Irene mengerucutkan bibir. “Ah sudahlah, itu sudah berlalu. Sekarang aku sudah punya pacar, ingat?”

“Bogum oppa? Hati-hati lo ya, kudengar, di kampus Bogum oppa ada mahasiswi baru yang katanya cantiiiiiik sekali. Kalau tidak salah, namanya Kim Yoojung. Aku tidak yakin apakah oppa tersayangmu itu tidak akan berpaling darimu,” celetuk Sena usil.

Sekali lagi Irene memukul lengan Sena.

Sesuatu menginterupsi mereka.

“Aish! Kau ini jalan tidak pakai mata?!”

Heejoo buru-buru berjongkok untuk mengambil nampannya yang terjatuh di lantai. Sementara di depannya, berdiri seorang pria dari kelas 3-2 bernama Joshua. Joshua tampak kesal karena seragamnya yang basah akibat ulah Heejoo.

Heejoo segera bangkit setelah mendapatkan nampannya. “Maaf, aku tidak sengaja.”

“Maaf maaf. Bajuku tidak akan kering dengan kata maafmu! Makanya kalau punya mata itu dipakai! Apa gunanya kacamatamu itu kalau jalan saja tidak benar!”

“Ma-maaf.”

“Muak aku melihat wajahmu terus.” Joshua pun pergi dengan langkah lebar-lebar dan bibir yang masih merapalkan sumpah serapah.

Heejoo masih berada di sana. Kembali berjongkok untuk membersihkan makanannya yang berserakan di lantai.

“Wah … ada yang sedang sial di sini,” seru Sena tiba-tiba sambil melipat kedua tangan di perut. “Punya kacamata agar bisa melihat dengan jelas, eh … ini malah jalan saja tidak benar.”

Irene, Lisa dan Jenny menyeringai.

“Maaf itu hanya berlaku untuk orang-orang yang suka melarikan diri dari tanggung jawab. Kasihan sekali nasib Joshua yang harus sial karenamu.”

Heejoo masih bergeming di sana. Memunguti satu persatu butir nasinya yang masih mengotori lantai.

Sena tahu-tahu sudah berdiri sambil memegang gelas minumannya. “Memaki harus dibalas dengan memaki, memukul harus dibalas juga dengan memukul.”

Gadis itu tersenyum setan. Dengan pelan mulai memiringkan gelas minumannya dan … cuuuurrr….

Matanya membelalak melihat air itu bukannya jatuh ke kepala Heejoo melainkan ke punggung seseorang yang tahu-tahu sudah membukuk tepat di atas Heejoo. Buru-buru Sena menarik gelas itu sebelum air di dalam gelas itu membasahi tubuh tersebut makin banyak.

Haksaeng yang barusan melindungi Heejoo itu menegakkan punggungnya. Menatap Sena tajam melalui mata sipitnya yang dingin. Bertahan lima detik, orang itu menarik lengan Heejoo untuk berdiri.

“Berhenti merendahkan dirimu di depan anak-anak ini. Kau ini punya kekuatan, kau bisa melawan mereka. Tampar dia atau pukul dia sekalian. Jangan hanya diam saja dan pasrah menerima semua perlakuan mereka.”

Pusat perhatian seisi kantin sekarang hanyalah pada mereka. Sena, Heejoo dan si pahlawan, Yoonji.

“Sekarang kembalikan nampanmu ke gerai dan kembalilah ke kelasmu,” perintah Yoonji pada Heejoo. Kemudian dia melirik Sena. “Dan kau, ikut aku sekarang.”

Yoonji pun berbalik dan tergesa-gesa keluar dari kantin. Sena yang masih terkejut akhirnya mengikuti kemana Yoonji pergi. Dia yakin, Yoonji pasti akan menghukumnya.

.

.

Sudut sekolah tak terjamah yang pernah ditunjukkan Taehyung padanyalah yang menjadi tempat mengobrol yang dipilihnya. Dia duduk di bangku yang tersedia. Menyuruh Sena untuk duduk di sebelahnya.

Mereka hanya saling diam dalam beberapa menit sebelum Yoonji akhirnya buka suara.

“Benarkah kau adalah Oh Sena yang kukenal?”

Sena yang sejak tadi memainkan jarinya pun menoleh. Tidak lama. Setelah itu dia menunduk lagi.

“Kau yang bilang sendiri kalau kau sudah meminta maaf padanya. Tapi kenapa tingkahmu masih saja begitu. Kau ini sebenarnya serius meminta maaf atau tidak, huh? Atau jangan-jangan kau berbohong?”

Pelototan Yoonji makin membuat Sena meringkuk takut.

Benar, Sena berbohong soal permintaan maaf itu.

Dia tidak pernah sekalipun minta maaf pada Heejoo.

Sampai kapan pun dia tidak akan meminta maaf pada gadis itu.

Hatinya sudah keras.

Dia benci pada Heejoo.

Selain skandal Heejoo berkencan dengan guru itu, sebenarnya ada hal lain yang membuat Sena sangat membencinya.

Heejoo telah merebut cinta pertamanya. Yoo Kihyun.

Karena Heejoo, dia tidak bisa bersama Kihyun. Heejoo telah merebut miliknya dengan mudah.

Yoo Kihyun tak lain adalah kakak kelas mereka dulu yang sekarang debut sebagai artis solo terbitan Starship.

Masalahnya hampir mirip dengan yang terjadi sekarang.

Heejoo tertangkap basah berkencan dengan guru. Dia hampir saja dikeluarkan dari sekolah kalau saja Kihyun tidak dengan berani menghentikan kepala sekolah. Sementara di sisi lain Sena juga tidak menyukai Heejoo. Dan dia mulai ikut-ikutan temannya membully Heejoo diam-diam. Sayangnya ketahuan oleh Kihyun dan … pupus sudah harapannya untuk bersama Kihyun.

Jelas sekali bukan kenapa dia sangat membenci gadis berkacamata tebal itu?

Yoonji menghela napas atas kediaman Sena. Dia memijat keningnya pelan. Ini salah, kenapa aku harus ikut campur masalah dua anak ini? Kenapa aku harus memarahinya? Kenapa aku tidak mengabaikannya saja?

“Aku sangat benci dia.”

Yoonji pun menoleh.

“Karena dia aku kehilangan cinta pertamaku.”

“Aku hampir saja berpacaran dengan Kihyun sunbae. Tapi karena dia, pupus sudah harapanku.”

Kihyun?

Yoonji aka Yoongi memandangi tanah yang mereka pijak sambil memikirkan nama yang cukup familiar itu.

“Kenapa dia sangat mudahnya mendapat simpatik dari orang-orang seperti kalian? Tidak kau, tidak Kihyun, kenapa idol seperti kalian selalu membelanya?”

Ah, maja. Yoongi ingat sekarang. Kihyun adalah solois yang debut di bulan yang sama dengannya. Bedanya dia sebagai rapper sementara Kihyun sebagai solois. Mereka punya relasi yang cukup dekat karena debut di bulan yang sama. Hampir saja diundang ke Celebrity Bromance seandainya Agust D tidak tersandung rumor tidak lulus SMA.

Kebetulan yang mencengangkan. Kihyun adalah cinta pertama Sena dan sekarang Sena menyukai Yoongi. Yoongi Kihyun? Berteman dekat.

“Aku semakin tidak menyukainya setelah kau lebih membelanya. Aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan Kihyun.”

Yoongi menghela napas. Oke, sekarang permasalahan mulai merambat pada perasaan.

“Aku sudah tidak mem-bully-nya sesering dulu. Tadi, aku melakukan itu karena kau mulai menjauhiku. Jadi … untuk apa aku berbaik-baik padanya lagi kalau kau sudah tidak peduli padaku.”

Aku mencoba untuk menjauhimu sejak dulu.

Tapi ciuman itu menggugurkan segalanya.

Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah kau mencuri ciuman pertamaku?

“Aku tahu kau pasti masih marah soal kemeja itu. Lalu kau pikir aku tidak marah? Aku juga marah karena kau mencoba melepaskan sendiri kemeja itu dariku! Aku hanya memakai bra saat itu! Kau tahu bagaimana perasaanku?!”

“Itu sama saja dengan kau berusaha melecehkanku.”

Yoongi mengernyit. Sedikit aneh dengan kalimat barusan. Dia? Melecehkan gadis SMA? Berciuman saja baru di hari itu dan itu pun dimulai oleh Sena. Berpegangan tangan? Berpelukan? Tidur di ranjang yang sama? Siapa yang memulai semua itu kalau bukan Sena? Ya, Sena mencuri semua apa yang menjadi pertama baginya. Entah dia harus bersyukur atau sebaliknya dengan fakta itu.

Sekali lagi mereka terjebak pada suasana diam. Sena sibuk memainkan jari-jarinya. Yoongi aka Yoonji memperhatikannya sambil menopang pipi.

Yoongi tahu, dia tidak seharusnya menaruh harapan pada gadis belia itu. Mencintainya sama saja dia bersikap egois. Karena di balik rasa cinta itu pasti ada rasa ingin memiliki yang tinggi. Hal itu juga berlaku untuk Yoongi. Bagaimana ketika dia benar-benar mencintai gadis itu dan ingin memilikinya? Apa kabar dengan karirnya? Mungkinkah D girls/boys mau menerima Sena jika mereka berdua benar-benar berkencan?

Entahlah. Dia tidak tahu. Sudah cukup berat dia memikirkan soal penyamarannya dan sekarang juga harus memikirkan perasaan.

Bukan ini yang dia harapkan dari keputusannya untuk masuk sekolah lagi.

Dia hanya ingin belajar dengan tenang, lulus, mendapat ijazah dan selesai.

Sayangnya semua mendadak berjalan rumit.

Inilah kehidupan.

Samar-samar terdengar bel masuk. Yoonji pun bangkit. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blazer, berjalan sedikit ke kiri, berhenti tepat di depan Sena.

Tanpa disuruh, gadis itu sudah mendongak sendiri. Berdiri setelah melihat sinyal dari mata Yoongi.

“Sekarang, karena kau sudah menceritakan semuanya. Maka, tidak ada alasan lagi bagimu untuk mengganggu Heejoo. Oke, aku tidak akan membelanya. Tapi kalau kau masih saja membuat gara-gara dengannya, jangan salahkan dia kalau aku membelanya. Ingatlah Sena, di dunia ini kau tak lebih dari remaja berusia 17 tahun yang makan saja masih menggantungkan orangtua. Kau bukan Tuhan, arasseo?”

Gadis itu mengangguk patuh.

Yoonji mengeluarkan tangan kanannya dari saku, meletakkannya di atas kepala Sena, mengusapnya pelan. “Aku tahu, kau ini gadis yang baik. Berhenti melakukan hal yang merugikan orang lain. Selagi masih ada kesempatan, bersediakah kau meminta maaf pada semua korbanmu? Aku yakin, orangnya pasti bukan Heejoo saja ‘kan?”

Sekali lagi Sena mengangguk.

“Belajar dari kebohonganmu, aku harus tahu kalau kau benar-benar meminta maaf atau tidak pada mereka. Berselfie-lah dengan mereka setelah kau minta maaf. Ingat, maaf yang tulus, oke? Maaf yang sifatnya mengancam tidak akan dihitung.”

Ketiga kalinya, Sena mengangguk.

Yoongi pun tersenyum. Tanpa perlu hitungan 3,2,1 ia pun mencondongkan kepalanya ke depan untuk mencium puncak kepala Sena. Tersenyum lebar ketika gadis itu mendongak dengan mata membola.

“Itu hadiah untuk anak baik.”

TBC

Advertisements

14 responses to “Hello School Girl [Chapter 29] ~ohnajla

  1. huahh dapet ciuman gratiss lagi dari yoonji oppa
    ahhh sweet bngett feel nya dpet eonn..
    dilanjt yaa

  2. Uakuakuaaaaaakkkk… Ini manis 😍😍😍😍😉
    Semoga kebawa mimpi. Trus aku yg jadi sena nya 😂😂😂
    Buat bekal tidur lho yaaaa…
    Makin suka kak. Ga sabar nunggu kelanjutannya. 😄😄😄

  3. Tuh kan..hehehe..tanpa sdr dia selalu adja bikin hati sena berbunga2..tiba2 gitu nyium sena..sweet bgt sihhhh

  4. bayangin sena angguk2 macem anak TK dimarahin kakaknya :D. Aaah disini aku merasa agus lebih jadi kakak yang baik ketimbang kekasih hati :”)

  5. Waaaaahhh senengnyaaaaa
    Kebawa suasana bangeeettt
    Mereka kok so sweet banget sih, jadi pengen punya gebetan #eh?
    Sumpah makin penasaran gimana mereka nantinya…
    Sukaak eonni ffnya sukaak banget

  6. Wah,terungkap sdh masa lalu sena,,yoongi dewasa banget, soekjin ternyata baik hati…yoongi sdh jatuh cinta sm sena,perjuangakn yoongi, q slalu mendukungmu..

  7. Pingback: Hello School Girl [Chapter 33] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s