The Red Line [1st] – pramudiaah

cr pic: tumblr

a story by pramudiaah

Cast: EXO’s member, Jung Hyerin (OC)

Genre: Highschool!AU

1st

***

Oh Sehun berpaling sejenak dari buku pelajaran di tangannya, demi menatap kerumunan di halaman sekolah. Sehun tidak ingat sejak kapan tempat itu menjadi sangat ramai; ia sudah sekitar lima belas menit mendudukkan diri di pinggir lapangan—tak jauh dari halaman sekolah dan ia tidak menyadari hal itu sama sekali. Mungkin Sehun terlalu asyik membaca buku sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Yeah, itu bisa saja. Sehun, kan, memang tidak terlalu peduli pada sekitarnya.

“Wah, ramai sekali sekolah ini,” ujar seorang gadis—yang entah darimana datangnya, tahu-tahu sudah duduk di sebelah Sehun.

Sehun biasanya akan merasa tidak nyaman apabila seseorang mengganggu waktu menyendirinya, tapi tentu saja tidak dengan gadis itu. “Apa yang terjadi? Apa Big Bang datang ke sekolah kita?” tanya Sehun, dan demi Tuhan, ia serius.

Gadis di sebelah Sehun mendesis. “Apa kau bahkan tidak tahu?”

“Apa aku harus tahu?” Balas Sehun cuek, lalu kembali menaruh atensi pada buku tebal di tangannya. Kalau tidak salah, ia tadi sudah sampai di halaman 450.

“Ada siswi yang bunuh diri, tahu,” balas gadis di sebelah Sehun, sebal. Menurutnya, Sehun benar-benar tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar. “Apa kau pikir Big Bang akan datang dengan mobil polisi dan ambulans?” lanjut gadis itu.

Sehun kembali mengalihkan pandangannya ke halaman sekolah. Ah, tempat itu dipenuhi oleh para murid sampai-sampai mobil polisi dan ambulans yang berada di sana hampir tidak terlihat olehnya.

“Kau tahu Kim Seulbi?”

Sehun beralih memandang gadis di sebelahnya, kemudian tampak berpikir sebentar sebelum mengangguk, sedikit tak yakin. “Apa mungkin, teman sekelasmu yang—”

“Tepat! Seulbi yang itu!” potong gadis di sebelah Sehun. “Aku tidak mengerti kenapa dia harus bunuh diri padahal semua orang menyebut dia adalah gadis tercantik di sekolah. Apa kau pikir itu masuk akal?” Gadis itu berbicara kelewat cepat hingga Sehun harus mengerutkan kening untuk mencerna kalimatnya baik-baik.

Yeah, itu bisa saja terjadi. Kita tidak tahu seberapa berat masalah seseorang, kan?” balas Sehun akhirnya.

“Tapi, Sehun, apa kau tidak berpikir kalau kasus ini sedikit mencurigakan?” gadis itu mulai menyampaikan asumsinya. “Selain cantik, Seulbi sangat berprestasi di kelas, jadi maksudku, apa bahkan mungkin dia punya alasan untuk bunuh diri?”

Sehun menghela napas, setengah bosan dan setengahnya lagi kesal. “Ya! Jung Hyerin,”

“Apa?” Gadis yang dipanggil Jung Hyerin itu masih tampak berpikir keras dan tak sepenuhnya mengindahkan Sehun, sampai kemudian ia merasakan seseorang merebut buku di tangannya. Maka serta merta, ia menatap si pelaku.

“Kau terlalu sering membaca novel misteri, kau tahu?” ujar Sehun sambil menunjukkan sebuah novel bersampul cokelat di depan wajah Hyerin. “Seharusnya kau kurangi baca yang seperti ini, dan sebaiknya kau lebih banyak baca buku pelajaran supaya nilai Kimiamu sedikit lebih baik. Mengerti?” Sehun kemudian mendorong pelan kening Hyerin dengan telunjuknya, lalu meyerahkan kembali novel milik Hyerin.

Hyerin menggeleng, tidak setuju. Ia kemudian kembali menyuarakan isi kepalanya. “Tapi Sehun, tidak mungkin gadis secantik Seulbi—”

“Menurutku, kau lebih cantik.”

“Oke, aku lebih—APA?” Hyerin memandang Sehun tak percaya. Seingatnya, ini adalah kali pertama Sehun menyebutnya begitu. Jadi, apakah ia harus melompat kegirangan dan mengatakan kepada dunia bahwa jantungnya sedang berdebar kencang? Oh oke, itu berlebihan.

Sementara Sehun, ia kembali menaruh atensinya pada buku, seolah tidak terjadi apapun—seolah pernyataannya itu bukan apa-apa. Sehun kembali berkutat dengan bukunya seperti sebelum Jung Hyerin tiba di tempat itu, atau bahkan seolah gadis itu tidak pernah datang.

Hyerin terpana memandang figur Sehun dari samping; rambut hitam yang belakangan dipotong cepak, alis hitam, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, bibir tipis kemerahan.

Hyerin tersenyum sekilas. Kegiatannya yang berlangsung selama sekian detik itu menghasilkan sebuah konklusi: perasaannya untuk Sehun tidak pernah berubah bahkan setelah bertahun-tahun, tetap sama seperti saat pertama kali ia jatuh cinta pada laki-laki itu di Sekolah Dasar.

Sehun mungkin akan terus berkutat dengan bukunya sampai bel masuk berbunyi, kalau saja ponselnya tidak lebih dulu berdering.

Halo?” Sehun menyapa seseorang di seberang telepon. “Iya, aku akan kesana.” Sehun kemudian memutuskan sambungan singkatnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Hyerin bisa melihat raut wajah Sehun berubah cerah. “Soojung?” tanya Hyerin, sedikit ragu.

Sehun tersenyum, lantas mengangguk. Ia kemudian memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu menyandangnya.

Sebelum Sehun benar-benar pergi, Hyerin memanggilnya. “Sehun!”

Sehun menoleh. “Ya?”

Hyerin menggigit bibirnya. Ia merasa tidak perlu menanyakan hal ini karena takut hatinya akan terluka, tapi sungguh ia tidak mau mati karena penasaran. “Apa kau dan Jung Soojung… pacaran?”

Sehun tampak berpikir sebentar, lantas menggeleng. “Maksudku, belum,” ralat Sehun. “Kami jadi lebih dekat akhir-akhir ini, bahkan barusan ia memintaku untuk mengajarinya matematika. Jadi kupikir, kami akan menjadi makin dekat,” lanjutnya dengan senyum tertahan. “Kau tunggu saja kabar baiknya, Jung Hyerin!” Dengan itu, Sehun berlari pergi meninggalkan lapangan dan Hyerin.

Hyerin menghela napas menatap kepergian Sehun. “Kabar baik katamu?” Ia menggumam. Meski hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi sebelumnya, tetap saja ia tidak pernah bisa mengantisipasi rasa sakitnya.

***

Di sepanjang koridor, Hyerin bisa mendengar semua orang tengah menggunjingkan Kim Seulbi yang tewas karena melompat dari atap gedung sekolah mereka. Semua orang bertanya-tanya mengenai alasan mengapa Seulbi nekat melakukannya, termasuk Hyerin sendiri.

Hyerin memang tidak terlalu dekat dengan Seulbi, tetapi seingatnya, Kim Seulbi masih tampak normal kemarin—tidak ada tanda-tanda kalau gadis itu akan melakukan aksi bunuh diri atau semacamnya. Tiba-tiba saja, jasadnya yang berlumuran darah ditemukan di halaman sekolah pagi ini.

Sebagai teman sekelas, tentu saja Hyerin merasa prihatin. Ia tak menyangka bahwa gadis secantik dan sepintar Kim Seulbi akan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara setragis itu. Pasti ada alasan di baliknya, tentu saja. Hyerin meyakini hal itu.

Hyerin sudah tiba di depan pintu kelasnya, tetapi entah mengapa ia enggan untuk melangkah masuk. Ia teringat Seulbi sempat meminjam bolpoinnya beberapa hari yang lalu, dan ingatan itu membuat hatinya seperti teriris, pedih sekali. Sungguh gadis yang malang, batin Hyerin.

Namun pada akhirnya, Hyerin harus tetap masuk ke kelas. Ia pun berjalan menuju bangkunya begitu melihat Lee Hayoon—sahabatnya—sudah menunggu di sana.

Ya! Jung Hyerin! Kemana saja kau? Aku mencarimu kemana-mana, tahu!” gerutuan sebal dari Hayoon langsung menyambut Hyerin begitu gadis itu mendudukkan diri.

Hyerin menggelengkan kepala. “Hanya mencari udara segar,” ujarnya dengan senyum timpang.

Hayoon berdecak. “Apa udara segar yang kau maksud itu adalah Oh Sehun?” tanyanya sinis. Hayoon kelewat tahu, bahkan hapal di luar kepala mengenai tabiat Hyerin yang satu itu.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Hyerin dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.

“Oh ayolah, sepertinya semua orang tahu kecuali Oh Sehun, kalau kau menyukai pria itu.”

Hyerin mendesis. “Semua orang katamu? Kalau kau bukan sahabatku, kau mungkin tidak akan tahu, Lee Hayoon! Kau seharusnya bangga jadi sahabatku!”

“Ya, ya, ya, dan aku adalah saksi bisu perjalanan cinta tak terbalasmu itu selama bertahun-tahun,” balas Hayoon lagi, dengan nada mengejek.

Hyerin langsung mendelik sebal memandang Hayoon. “Saksi bisu? Tak terbalas?”

“Kalau begitu, apa sudah terbalas?”

Hyerin menghela napas kesal. Tiba-tiba saja ia kembali teringat saat tadi Sehun meninggalkannya demi ingin menemui Soojung, dan itu membuatnya semakin kesal. Rasanya ingin sekali ia memaki-maki seseorang saat ini juga untuk meluapkan kekesalannya. Tetapi dari pada meneriaki Hayoon, tentu saja bercerita pada gadis itu akan jauh lebih baik. Ya, hatinya akan lega.

“Tadi—”

“Hyerin-a, kau tahu? Ternyata Kim Seulbi… dia hamil.”

Hyerin terbelalak kaget. “Serius?”

Hayoon mengangguk. “Benar. Bahkan menurut informasi yang kudengar, usia kandungannya sudah menginjak empat bulan. Kurasa itulah alasannya bunuh diri.”

Hyerin masih menganga, tidak menyangka.

***

Hyerin tidak bisa fokus sama sekali selama jam pelajaran Biologi berlangsung. Pikirannya berkelana tak tentu arah. Separuh pikirannya keheranan mengapa gadis sepatuh Kim Seulbi bisa sampai hamil, sedangkan separuhnya lagi bertanya-tanya mengenai siapa bapak dari bayi yang Seulbi kandung.

Otaknya kini sedang mengait-ngaitkan peristiwa apa saja yang mungkin Kim Seulbi alami selama beberapa bulan belakangan. Naluri detective-nya selalu muncul di saat seperti ini. Barangkali Sehun benar soal dirinya yang terlalu sering mengonsumsi novel misteri. Ya, apa boleh buat, naluri detective-nya memang lebih kuat dari apapun.

Hyerin mulai merangkai analisa di dalam kepalanya: 1) Kim Seulbi melakukan sebuah kesalahan sampai ia hamil. 2) Ternyata laki-laki yang sudah menghamili Seulbi tidak mau bertanggung jawab. 3) Seulbi terancam tidak bisa ikut ujian akhir dan dikeluarkan dari sekolah. 4) Belum lagi, Seulbi harus melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri. 5) Seulbi begitu frustasi sampai akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri.

Hyerin mengangguk, meyakini analisanya sendiri. Menurutnya, tidak ada alasan lain yang membuat Seulbi memutuskan untuk bunuh diri.

“Dasar laki-laki berengsek!” umpat Hyerin yang serupa dengan gumaman.

“Huh? Apa kau bilang?” tanya Hayoon yang duduk di sampingnya, dengan nada berbisik; takut guru Park akan menemukan mereka mengobrol di tengah pelajaran.

“Apa kau sudah tahu siapa yang menghamili Kim Seulbi?” bisik Hyerin bertanya.

Hayoon menggeleng. “Tidak ada yang tahu, bahkan polisi sekalipun.”

“Bagaimana dengan orang tua Seulbi?”

“Eh? Kau tidak tahu?”

Hyerin menatap Hayoon heran. “Tahu soal apa?”

“Kim Seulbi tidak punya orang tua.”

.

Masih di jam pelajaran Biologi, Hyerin berpikir keras sekali lagi. Menurutnya, kasus bunuh diri Kim Seulbi masih menyimpan banyak misteri. Setahunya, Kim Seulbi adalah gadis pendiam yang tidak banyak memiliki interaksi dengan lawan jenis. Jadi, bagaimana mungkin gadis itu bisa hamil?

Hyerin kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Dari semua murid laki-laki yang ada, terhitung hanya ada dua orang yang pernah ia lihat memiliki interaksi dengan Seulbi.

Pertama, Kim Jongdae, si Ketua Kelas yang tidak banyak bicara. Suatu pagi, Hyerin pernah tidak sengaja mendengar obrolan Jongdae dan Seulbi terkait PR Matematika. Well, menurut Hyerin, tidak ada yang perlu dicurigai dari hal itu; Jongdae dan Seulbi hanya mengobrol sewajarnya saat itu.

Laki-laki kedua, Byun Baekhyun, si pembuat onar yang selalu tidur di saat jam pelajaran berlangsung. Hyerin pernah tidak sengaja melihat Seulbi dan Baekhyun bertemu di koridor di depan toilet, keduanya tampak sedang berbicara hal yang serius. Ah, Hyerin ingat, Seulbi sempat berusaha memengang tangan Baekhyun saat itu, namun laki-laki itu langsung mengempaskannya dengan kasar. Hyerin pikir, tidak mungkin gadis sepintar Seulbi akan menjalin hubungan dengan manusia semalas Byun Baekhyun, tapi mungkinkah…?

Hyerin menolehkan kepalanya ke bangku pojok paling belakang, dan seperti yang sudah ia perkirakan, Byun Baekhyun sedang tidur dengan kepala di atas meja.

“Tidak mungkin…” Hyerin menggeleng, tergelak sendiri dengan tebakan di dalam kepalanya. Namun kemudian, ia mengingat kembali kejadian saat Seulbi memegang tangan Baekhyun tapi langsung dihempaskan oleh laki-laki itu.

***

Selepas jam pelajaran Biologi, Hyerin memutuskan untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam, dan target pertamanya adalah Byun Baekhyun.

Tidak banyak yang dilakukan oleh laki-laki itu selama jam istirahat berlangsung, kecuali berbuat kerusahan di kantin dan setelahnya melanjutkan tidur di atap sekolah. Hyerin tidak habis pikir kenapa ada manusia seperti Baekhyun di dunia ini; menurut Hyerin, laki-laki itu seperti tidak memiliki tujuan hidup dan yang dilakukannya hanya buang-buang waktu.

Yang Baekhyun lakukan di kantin adalah meminta-minta makanan dari murid lain dan kalau murid itu tidak setuju, mereka bisa berakhir dengan berkelahi. Lalu setelah puas berkelahi dengan murid lain, Baekhyun akan berjalan santai dengan bersiul menuju lantai teratas gedung sekolah, untuk kemudian berbaring di salah satu bangku yang ada di sana.

“Apa dia gila?” gumam Hyerin di tengah kegiatan mengintai yang ia lakukan. Ia pikir penyelidikannya terhadap Baekhyun hanya akan membuang-buang tenaga dan waktunya saja, lantaran dari awal Byun Baekhyun memang tampak tidak normal dan sangat mustahil seorang Kim Seulbi akan jatuh cinta padanya.

Hyerin memutuskan untuk mengakhiri penyelidikannya dan berniat untuk keluar dari tempat persembunyiannya saat ini. Ia pun hendak bangkit dari balik bangku di mana ia bersembunyi selama hampir setengah jam. Namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar Baekhyun berbicara dengan seseorang di telepon.

Apa kau sudah gila?!

Dari tempat persembunyiannya yang berjarak beberapa meter dari posisi Baekhyun, Hyerin bisa mendengar laki-laki itu berteriak marah.

Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau dia sedang hamil?!

Spontan Hyerin menutup mulut dengan mata terbelalak.

Seulbi… gadis bodoh itu! Arrgah!

Hyerin masih terbelalak, napasnya terdengar pendek-pendek. Ia mengintip dari balik celah bangku dan melihat Baekhyun sudah menutup sambungan teleponnya. Hyerin tidak bisa berpikir apapun. Perasaannya campur aduk.

Saat tersadar dari asumsi-asumsinya, Hyerin sudah melihat sepasang sepatu di hadapannya. Begitu menengadah, ia terbelalak sekali lagi. Saking terkejutnya, ia sampai terjungkal ke belakang dengan posisi terduduk.

“B-Byun Baekhyun.” Hyerin tergagap.

“Apa yang kau lakukan di situ?”

“Eum.. aku..” Hyerin masih tergagap. Tepatnya, ia belum menyiapkan jawaban antisipasi apabila ketahuan seperti saat ini.

“Apa kau mengikutiku?”

Hyerin langsung menggeleng. “Aku.. cuma.. cuma..”

Baekhyun menunggu jawaban Hyerin dengan raut wajah malas. Bosan, ia pun menggaruk kepalanya hingga rambut hitam yang sebelumnya sudah berantakan itu, semakin terjuntai tak keruan. Setelah beberapa saat, ia sungguh tidak tahan lagi lantaran Hyerin tidak kunjung memberikan jawaban yang jelas. Maka, ia memutuskan untuk pergi saja. Namun sebelum mencapai pintu atap, ia sempat menoleh ke arah Hyerin.

“Bukankah kau yang memberiku makanan di kantin tadi?” ujarnya setengah berteriak. “Omong-omong, terimakasih!”

“Bahkan dia sempat tidak mengingatku?” Hyerin bergumam tidak percaya. “Aku bahkan memberinya satu porsi makan siangku karena kasihan padanya. Benar-benar tidak bisa dipercaya!”

Hyerin menatap kepergian Baekhyun dengan sedikit heran. Ia menduga Baekhyun memang mengidap penyakit kepribadian ganda atau semacamnya. Atau yang lebih masuk akal, Baekhyun memang agak kurang waras.

***

Selama jam pelajaran terakhir berlangsung, Hyerin tidak bisa mengalihkan atensinya pada Baekhyun. Sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang untuk sekadar mengecek apa yang sedang Baekhyun lakukan. Sungguh, kecurigaannya pada laki-laki itu sudah berada pada level tertinggi. Setidaknya, pasti Baekhyun tahu sesuatu tentang alasan Kim Seulbi bunuh diri.

Maka, saat kelas benar-benar berakhir, buru-buru ia membereskan alat tulisnya ketika sudut matanya berhasil menangkap Baekhyun sudah berjalan meninggalkan kelas. Bahkan ia mengabaikan Hayoon yang berteriak ingin pulang bersama. Dengan cepat ia berlari keluar kelas agar tidak kehilangan jejak dari Baekhyun.

Saking fokusnya mengikuti langkah Baekhyun, Hyerin sampai tidak sadar saat dirinya berpapasan dengan Sehun di koridor. Hyerin bahkan bergeming saat laki-laki itu menyerukan namanya. Sehun hanya bisa dibuat keheranan melihat hal itu.

***

Hyerin mengatur napasnya yang memburu. Ia kelelahan. Ia tidak menyangka kalau mengikuti Baekhyun akan menjadi semelelahkan itu. Sedari tadi, Baekhyun sudah beberapa kali naik turun bus, dan tentu saja, Hyerin mengikutinya secara diam-diam. Tapi yang paling membuat Hyerin tak habis pikir, sejauh ini Baekhyun tidak pernah singgah di suatu tempat. Sebenarnya, kemana tujuan laki-laki itu? Apa bahkan Baekhyun punya tujuan?

Hari beranjak makin sore. Hyerin melirik arlojinya dan terbelalak karena setengah jam lagi ia harus pergi bekerja. Well, meski hanya bekerja paruh waktu di sebuah minimarket, tetap saja ia terancam dipecat apabila datang terlambat.

Namun, ia sudah mengikuti Baekhyun sejauh ini, dan kalaupun ia memutuskan untuk pergi bekerja, waktu setengah jam tidak akan cukup untuk datang tepat waktu ke minimarket—tempat ia bekerja. Maka, ia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya.

Hari sudah beranjak malam dan Hyerin semakin bingung dengan tujuan Baekhyun yang sebenarnya. Sekarang kalau Hyerin tidak salah, ia dan Baekhyun hanya berputar di tempat yang sama sebanyak dua kali. Tunggu, apa Baekhyun sedang mempermaikannya? Apa Baekhyun sepintar itu?

Hyerin terus menjaga jarak dan berusaha untuk tidak ketahuan oleh Baekhyun sedari tadi, jadi seharusnya laki-laki itu tidak tahu kalau ia sedang mengikutinya di belakang.

Hyerin mengangguk, sepakat dengan pemikirannya. Ia pun terus mengikuti langkah Baekhyun, kali ini melewati gang-gang sempit di sebuah komplek perumahan. Tapi lama-kelamaan, Hyerin tidak lagi mendapati perumahan dan hanya menemukan bangunan-bangunan kosong di sisi kiri-kanan jalan. Tiba-tiba ia bergidik.

Hyerin melihat Baekhyun berbelok ke sebuah gang sempit. Lantaran ragu, Hyerin pun berhenti tepat di gang itu, lalu bersembunyi di balik sebuah tembok untuk mengintip posisi Baekhyun dari sana.

Baekhyun berhenti di depan sebuah tempat. Ia tampak terlibat pembicaraan dengan beberapa pria bertubuh kekar di depan pintu masuk tempat itu, sebelum kemudian masuk ke dalam.

Hyerin hanya mampu melihat sebatas itu, karena ia tidak punya cukup keberanian untuk mengikuti Baekhyun melewati pria-pria itu. Samar-samar ia mendengar musik dj berasal dari tempat itu. Maka, ia menyimpulkan kalau tempat itu adalah club, bar, atau semacamnya.

Gadis itu berbalik, berniat untuk mengakhiri pengintaiannya hari ini dan menyambungnya di lain waktu.

“Sedang apa haksaeng malam-malam di sini?”

Hyerin terperanjat mendapati beberapa pria sudah berada di hadapannya. Ia berusaha menerobos pria-pria itu, namun satu orang pria yang paling tinggi berhasil menangkap lengannya. “Eomma!” seketika Hyerin berteriak.

“Kau takut pada oppa? Oppa tidak jahat, kok,” ujar pria itu dengan senyum menyeringai, lantas merangkul bahu Hyerin.

Hyerin meronta, berusaha melepaskan diri. Ia ingin menangis.

“Kita bersenang-senang saja, ya, hari ini.” Pria itu merangkul Hyerin semakin erat dan memaksa gadis itu untuk ikut bersamanya ke tempat tadi. Pria-pria di sebelahnya tertawa kegirangan.

Ya! Park Chanyeol!”

Seketika pria-pria itu berhenti tertawa. Hyerin yang sedang ketakutan pun, lantas membuka matanya perlahan, dan ia menemukan Baekhyun berdiri di sana.

“Lepaskan dia,” ujar Baekhyun datar, setengah cuek.

“Siapa? Gadis ini, maksudmu?” Pria yang dipanggil Park Chanyeol itu menoleh pada Hyerin, lalu menggosokkan tangannya di bahu Hyerin sambil menyeringai. Hyerin hanya bisa menelan ludah ketakutan.

Baekhyun mengangguk santai. “Dia temanku.”

“Lalu apa peduliku kalau dia temanmu?”

Baekhyun tergelak tanpa alasan. “Benar juga, ya? Apa pedulimu kalau dia temanku? Haha.”

Hyerin melotot melihat tingkah Baekhyun. Ia sempat berharap banyak kalau Baekhyun akan membantunya terbebas dari pria-pria itu.

“Tapi itu masalah buatku kalau kau tidak melepaskannya,” ujar Baekhyun lagi, kali ini dengan raut wajah serius.

“Lalu kau mau apa?” balas Park Chanyeol. Ia mendorong Hyerin menjauh lantaran emosinya mulai terpancing.

“Aku mau kau melepaskannya,” kata Baekhyun tegas.

“Tidak gratis.” Chanyeol menyeringai. “Bagaimana kalau duel pukul?”

Hyerin terbelalak mendengarnya. Ia menatap Baekhyun, lalu menggeleng—mengisyaratkan agar Baekhyun tidak menerima tawaran itu. Baekhyun balas menatapnya, namun hanya sebentar karena ia kembali menatap pria bernama Chanyeol itu.

Deal,” balas Baekhyun. “Tapi kau harus biarkan dia pergi dulu.”

“Oke.”

Baekhyun memberikan isyarat pada Hyerin untuk pergi, namun gadis itu menggeleng. Baekhyun pun menghela napas. Sekali lagi, dengan tegas ia mengisyaratkan agar Hyerin pergi dari tempat itu.

Tidak punya pilihan, Hyerin pun mundur perlahan meninggalkan tempat itu.

Dari kejauhan, Hyerin melihat Chanyeol memukul wajah Baekhyun, lalu sebaliknya, Baekhyun menghajar Chanyeol. Setelah beberapa kali saling hajar, salah satu teman Chanyeol ikut menendang Baekhyun, kemudian diikuti oleh teman-teman Chanyeol yang lain. Baekhyun terjatuh di tanah dan ia berakhir dengan dipukuli oleh Chanyeol dan teman-temannya.

Hyerin menutup mulutnya melihat Baekhyun meringkuk lantaran dikeroyok.

Hyerin menangis ketakutan. Ia ingin menghubungi polisi, namun ia takut hal itu malah akan membuat Baekhyun dalam masalah.

Sembari menangis, Hyerin berlari meninggalkan tempat itu.

“Maafkan aku, Baekhyun. Maafkan aku.” Gadis itu terisak.

.

.

To be Continued.

a/n: Aku gk tau ini apa pfftt ._.

Advertisements

68 responses to “The Red Line [1st] – pramudiaah

  1. lama nggak baca karyanya kak diaah, sekali muncul berhasil bikin ketagihaan. tanggung jawab kaaak. jangan lama2 updatenya hehe.
    genrenya misteri yaa, antimainstream 😀
    tebak-tebakan juga ada.
    sehun kelewat bodo amat apa gimana sih, masak ada kasus di sekolahnya dia diem2 aja .__.
    yg ngehamili jangan2 malah kim jong daee wkwk tapi nggak tau ding. baru satu part belum bisa ketebak. perannya baekhyun juga masih abu2, mau nunggu part selanjutnya dulu hehe
    semangat kaaaak 😀

  2. Aku baru tau fanfic ini….😆 anyeong author apa kabar. Lma tdak membaca karya mu, terakhir baca yang the king atau apalah itu aku lupa judulnya. Aku kira author udh berhenti nulis krna gk ada karya baru dari author 😥😂 hah..dan akhirnya author kmbali.
    Btw…berasa baca cerita baekhyun sama diri sendiri (Hyerin).

  3. Bukan Baekhyun kan yg ngehamilin seulbi? Terus itu yg ngobrol ditelpon sama baekhyun siapa? Apa jangan-jangan itu ayah dri anak seulbi gitu? Atau jangan-jangan chanyeol yg ngehamilin seulbi? Kasian bgt ya seulbi mana gak ada orang tua nya😞

  4. Aku baru baca ff ini. Dan aku rasa ceritanya menarik. Ada Sehunnya juga lagi hehehehe. Semoga sukses. Ditunggu terus lanjutannya. Fighting

  5. Uh, baru baca ini><
    Yampun ini beneran ada hubungannya smaa bekhyu ga ya?
    Baekhyun sifatnya labil kali..
    Duh ko lebih suka sehun sama hyerin:"

  6. ak kangen baca2 ff kk. search di gugel dan gak taunyaaaa ada post di skf. . . lucky!!!! ada ff balu yg di post
    kyaaaaa!!! always love2 ff baekhyun. . . keren ini spt biasa. . .
    kuuy ak mau lanjut baca part 2nya

  7. yeyeyeee akhirnya kak diah update lagi. aku pikir kak diah udah keluar dari dunia per fanfiction an ternyata aku salah hohoho. soalnya ff yang di web pribadinya kakak juga udah pada ilang sihh. alhamdulillah kakak comeback dengan cerita yang baru dan keren banget. tetep nulis ya kakak

  8. long time no see saengi duhhh author kece balik lagi lama gk baca ceritamu

    duhhh baekhyun misterius kayak mafia aja kamu baek
    ini seru jiwa detektif hyerin mulai muncul hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s