Hello School Girl [Chapter 31] ~ohnajla

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1-15 || Chapter 16-23 || Chapter 24-29 || Chapter 30 || Chapter 31

Tahu-tahu sudah bulan Oktober. Mulai tanggal 18 sampai 25, Yoongi harus menghadiri fanmeet di beberapa tempat. Ralat, negara maksudnya. Tanggal 18 di Seoul, 19 di Tokyo, 20 di Beijing, 22 di Chicago, dan 25 di Washington DC. Sekali lagi dia harus mengambil cuti sekolah.

Sayangnya, beberapa hari menjelang fanmeet-nya, ada gangguan saja yang mulai menghalangi jalannya.

Seorang reporter entah bagaimana bisa masuk ke SMA Bangtan.

Reporter yang sama yang telah berhasil mengabadikan foto kebersamaan Agust D dan Sena, tapi sayangnya telah digagalkan oleh Seokjin.

Reporter dengan nama Jung Junhyung itu terkejut saat melihat Sena. Kedatangannya itu sontak membuat Sena dan Yoonji yang sedang berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang pun berhenti.

“Oh hei! Bukankah kau gadis yang pernah berciuman dengan Agust D di taman Sungai Han?”

Sederet kalimat itu sontak membuat Sena membelalak. Tak terkecuali Yoonji di sampingnya. Termasuk trio berisik kawan Sena yang baru sampai beberapa detik di belakang mereka.

“A-apa?” tanya Sena gagap.

Junhyung menjentikkan jari senang. “Berarti aku tidak salah mengenali orang. Wah … kebetulan sekali ya bertemu di sini.”

Sena masih menatapnya curiga. Begitu juga dengan Yoonji dan trio berisik.

Pria kisaran 30 tahun itu beralih menatap gadis berambut bob yang tak lain Yoonji yang berada di sebelah Sena. Dahinya mengerut sebentar. Memajukan wajah untuk memastikan penglihatannya. “Kau … mirip sekali seperti Agust D.”

Yoonji mendadak tegang. Dia berusaha berpaling kemana pun asal pria itu tidak bisa menatapnya lagi.

“Aku tak habis pikir, kau dan Agust D mirip sekali. Pasti karena itu nona berteman dengannya?”

Sena tidak menjawab, tidak apa. Dia hanya menatap si reporter dan Yoonji bingung.

Tanpa sepengetahuan mereka, diam-diam Lisa mengirim pesan pada Seokjin.

Cepatlah datang kemari. Ini darurat!!

Tak lama kemudian muncullah batang hidung Seokjin dari arah kantin. Matanya membola melihat si ahjussi yang waktu itu tertangkap basah olehnya sedang mencoba mengobrol dengan Yoonji. Melihat tanda bahaya, buru-buru dia berlari menghampiri mereka.

“Oh sayang!!!”

Suaranya yang keras menggema itu sontak membuat perhatian enam orang itu teralih. Seokjin tahu-tahu sudah berhenti di sebelah Yoonji. Mengatur napasnya sebentar sebelum merangkul bahu Yoonji dan mencium pipinya mesra.

Sena beserta tiga teman segenk-nya menutup mulut takjub.

Yoonji sendiri membelalak.

Seokjin tersenyum lembut tanpa mengindahkan reaksi para gadis. “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau di sini.”

Yoonji mencoba melayangkan pertanyaan dari matanya, tapi Seokjin hanya membalasnya dengan senyum lebar.

“Kau?!”

Remaja itu reflek menoleh ke asal suara. Dia berpura-pura terkejut melihat keberadaan Junhyung. “Ow? Ahjussi?!

Junhyung menutup mulutnya yang menganga tak percaya. “Yaa! Ternyata kau bersekolah di sini?!”

Seokjin mengeratkan rangkulannya pada Yoonji sambil tersenyum miring pada Junhyung. “Lalu ahjusshi sendiri kenapa di sini? Jangan-jangan … kau sedang mengikutiku ya?”

Junhyung menendang tulang kering Seokjin yang sontak membuat remaja itu meringis pelan. “Sakit!! Kenapa kau menendangku segala sih?!”

“Siapa bilang aku mengikutimu? Apa untungnya aku mengikuti anak yang sudah menghilangkan kartu memori kameraku? Gara-gara kau aku pulang dengan tangan kosong. Di memori itu tidak hanya foto Agust D dan nona ini. Tapi juga banyak foto lainnya. Sial. Untung saja aku tidak dipecat.”

Seokjin terkekeh tanpa dosa. Sementara Yoonji di sebelahnya menatapnya tak percaya.

“Itu kabar bagus, Ahjussi. Yang penting ‘kan kau tidak kehilangan pekerjaanmu. Lagipula siapa suruh kau mengambil foto idola dan temanku, huh? Itu adalah balasan yang setimpal untuk orang sepertimu.”

Junhyung mengangkat tangannya ingin memukul Seokjin tapi tidak jadi. Pria itu lebih memilih menahan emosinya. Dia menatap Yoonji sekali lagi.

Tahu kemana arah pandang Junhyung, Seokjin buru-buru menyembunyikan wajah Yoonji dengan menenggelamkan wajah Yoonji ke dadanya. “Lihat apa, huh? Jangan berani-beraninya merebut pacarku.”

Junhyung mendengus sambil memutar bola mata. “Seleramu payah sekali. Apa-apaan pacarmu punya wajah yang mirip dengan idolamu sendiri.”

“Memang tidak boleh?” sembur Seokjin cepat. “Suka-sukaku lah. Memangnya aku berpacaran dengannya, menjadi urusan untukmu?”

Reporter itu menatap Seokjin kesal. “Kau ini pandai sekali berbicara pada yang lebih tua. Ey anak jaman sekarang.”

Mereka –Seokjin dan Junhyung, saling melayangkan tatapan benci satu sama lain sebelum Junhyung beranjak meninggalkan mereka. Begitu punggung Junhyung sudah hilang, kelima remaja di sana menghela napas lega.

Yoonji memaksa melepaskan diri dari pelukan Seokjin.

“Nyaris saja,” gumam Seokjin sebelum menoleh pada Yoonji. Dia mendadak terpaku mendapat ekspresi serius idolanya.

“Kau pernah bertemu dengannya?”

Semua mata langsung memandang Seokjin. Seokjin sendiri masih bergeming.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal ini?” tanya Yoonji lagi.

“Yoonji-a!”

Seokjin pun terselamatkan berkat kedatangan Jimin. Pria itu seperti biasa akan memperlihatkan angelic smile-nya. Dan sekarang angelic smile itu makin bersinar, mungkin karena sekarang bulan Oktober.

Yoonji melirik ketua kelasnya ogah-ogahan. “Wae?”

Jimin pun mengulurkan kotak yang sedari tadi dipegangnya. “Ini untukmu.”

Yoonji menatap kotak berbentuk hati yang dibungkus kertas kado warna mint itu tanpa minat. “Apa itu?”

“Hadiah. Aku memberikannya padamu karena hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Oh? Ketua kelas ulang tahun hari ini?” celetuk Sena berusaha mencairkan suasana tegang sisa peristiwa tadi.

Jimin mengangguk semangat. “Sekarang tanggal 13 bukan? Hari ini aku berulang tahun.”

“Wah … chukkae,” sahut Irene yang ikut-ikutan kelihatan ceria meskipun dia masih terbawa suasana tadi.

“Hanya Yoonji saja nih? Aku mana?” celetuk Lisa sembari melipat lengan di perut.

Jimin mengibaskan tangannya. “Kau ini tidak penting.”

“Sepertinya Yoonji tidak mau. Untukku saja.” Jenny dengan tiba-tiba langsung merebut kotak di tangan Jimin.

Jimin spontan melotot. “Yaa! Kembalikan tidak? Itu bukan untukmu, eo? Kemarikan.”

Jenny menjulurkan lidahnya sebelum mengajak Jimin bermain kejar-kejaran. “Tangkap aku kalau bisa, mochi!”

YAA!! BERHENTI DI SANA SEBELUM AKU MEMBUNUHMU! YAA KIM JENNY!!”

Sepeninggal Jimin dan Jenny, Yoonji pun kembali menatap tajam remaja berbahu lebar di depannya.

Melihat situasi yang kembali tegang, Irene pun mengajak Lisa untuk duluan ke kantin.

Sena berpindah tempat di antara Yoonji dan Seokjin, meraih lengan Yoonji untuk tidak lagi menyudutkan Seokjin.

“Sudahlah. Kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang ayo makan siang dulu.”

Tapi Yoonji sama sekali tidak berpaling dari Seokjin. “Aku menunggu penjelasan darimu, Jin-a.”

Ketegangan itu akhirnya berakhir setelah Sena menarik tangan Yoonji untuk pergi ke kantin.

Sepeninggal mereka, Seokjin menghela napas.

Di sinilah mereka sekarang. Satu-satunya tempat di sekolah itu yang jarang dikunjungi oleh siapa pun. Tempat yang agak kumuh tapi sangat cocok dipakai untuk mengobrol serius.

“Jadi … waktu itu kau juga berada di sana?” tanya Yoonji setelah Seokjin selesai menjelaskan.

Remaja itu mengangguk pelan. “Ya. Aku di sana pagi itu.”

“Itu artinya kau melihat semua?”

Sekali lagi Seokjin mengangguk.

Yoonji pun menghela napas. Bagus, sekarang ruang geraknya makin sempit karena ulah Sena yang tiba-tiba menciumnya waktu itu. Konyolnya kenapa hari itu dia tidak menolak saja? Kenapa dia harus membalas ciumannya? Tch, masalah ini pun tak luput dari salahnya.

“Aku sudah melakukan apa yang kubisa untuk mencegah foto itu tidak tersebar kemana pun, Hyung. Jadi untuk saat ini kau bisa sedikit tenang.”

“Eum. Gomawo.” Yoonji menyipitkan matanya saat menatap lurus ke depan. “Aku akan pastikan itu tidak akan terjadi lagi. Sial. Kenapa juga dia bisa sampai di sini?”

“Aku juga bingung, Hyung. Dia bahkan bisa dengan teliti mengenali wajahmu.”

“Aish! Kenapa jadi rumit seperti ini?!” Yoonji mengacak wig-nya sampai berantakan.

Seokjin menatapnya prihatin. “Hentikan, Hyung. Nanti rambut palsunya rusak, bisa-bisa dia tahu penyamaranmu.”

Masih sambil merapalkan sumpah serapah, Yoonji aka Yoongi pun menata wig-nya kembali. “Bang-nim tidak boleh tahu soal ini. Kekacauan ini disebabkan olehku jadi aku harus menyelesaikannya sendirian. Sena juga. Sial. Tahu begini aku tidak akan menuruti ajakannya.”

“Tapi ngomong-ngomong, Hyung. Kau … benar-benar berciuman dengannya? Sena?”

Yoonji menatap Seokjin sebentar, sebelum membuang pandangannya lagi. Wajahnya sudah tidak secerah biasanya. Pikiran yang berat membuat wajahnya menjadi keruh. “Ya, apa yang kau lihat tidak salah.”

“Kalian pacaran?”

“Tidak. Itu hanya terjadi begitu saja.”

Seokjin menatap hyung favoritnya dengan takjub. Jawaban Yoongi terkesan santai dan tanpa beban. Seolah ciuman itu tidak berarti apa-apa untuknya seperti hanya sebuah ketidaksengajaan saja.

Sementara Yoongi sendiri benar-benar tidak memikirkan soal ciuman itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya menghindar dari perhatian si reporter tersebut. Meskipun baru bertemu sekali, Yoongi bisa yakin 100% kalau pria itu adalah orang yang gigih dan tidak akan menyerah sebelum mendapat apa yang dia mau. Bagaimana kalau tiba-tiba orang itu menyadari penyamarannya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana karirnya? Perusahaannya? Fans-nya? Sena? Argh! Rasa-rasanya kepalanya ingin sekali meledak.

Tidak boleh. Dia tidak boleh membiarkan orang itu tahu penyamarannya juga.

Rahasia ini harus tetap aman sampai nanti.

Dia hanya punya waktu 4 bulan lagi di SMA Bangtan.

Setidaknya dia harus bertahan sampai hari itu tiba.

Tanpa sadar dia sudah menggigit bibirnya begitu keras sehingga darah segar pun mengalir. Kesadarannya baru kembali saat Seokjin menyeka darah itu dengan sapu tangan.

“Bibirmu berdarah, Hyung,” ujarnya saat Yoongi menatapnya heran.

Yoongi pun mengusap bibirnya untuk memastikan.

Ia pun menghela napas melihat cairan merah yang ada di kulit tangannya.

Dibiarkannya Seokjin yang tetap membersihkan bibirnya dengan sapu tangan. Sementara dia sendiri masih memikirkan jalan keluar masalah ini sambil mengamati wajah tampan nan muda remaja itu.

“Kenapa kau selalu membantuku?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Yoongi, usai Seokjin memasukkan kembali sapu tangan itu ke sakunya.

Remaja itu tersenyum tipis. “Kau ini idolaku, Hyung. Dan aku pernah jatuh cinta pada Yoonji.”

Yoongi sedikit geli mendengar pengakuan Seokjin. “Bukannya kau sempat membenciku karena aku membohongimu?”

“Ya, aku memang sempat membencimu. Tapi hanya sebentar. Aku bisa mengerti masalahmu, Hyung. Kurasa, menjadi Yoonji juga berat untukmu. Kalau saja nanti saat aku sudah menjadi idol dan Bang-nim menyuruhku untuk melakukan penyamaran seperti yang kau lakukan sekarang … mungkin … aku tidak akan melakukannya sebaik kau melakukannya. Aku tidak bisa membencimu lagi setelah mencoba melihat situasinya dari sudut pandangmu, Hyung.”

Yoongi pun tersenyum. “Kau ini cukup dewasa ternyata.”

“Semua ini karenamu, Hyung. Eomma juga bilang kalau pikiranku mulai mendewasa setelah aku menjadi fans-mu.”

Lagi-lagi Yoongi tersenyum. “Jinjja? Wah … aku tersanjung mendengarnya.”

Seokjin menggaruk tengkuknya malu. “Ng … Hyung?”

Wae?”

“Bolehkah … aku memelukmu? Sekali saja. Sebagai fanservice.”

“Kau sudah mendapat fanservice dariku.”

Seokjin mengerutkan dahinya. “Benarkah? Kapan?”

“Tadi. Bukannya kau menciumku?” tanya Yoongi sembari menunjuk pipinya sendiri.

Wajah Seokjin langsung memerah. “I-i-itu itu itu bukan kemauanku, Hyung! Aku terpaksa melakukannya untuk mengalihkan perhatian saja. Serius! Aku tidak benar-benar bermaksud menciummu.”

Yoongi terkekeh geli melihat Seokjin yang mulai gelisah. “Arasseo, arasseo. Kemarilah.”

Seokjin pun maju pelan-pelan sampai kedua lengannya berhasil melingkari pinggang Yoongi. Diturunkan sedikit bahunya agar kepalanya bisa bersandar dengan nyaman di pundak Yoongi.

“Aku akan tetap berada di sampingmu sampai kapanpun, Hyung. Bahkan kalau aku sudah menjadi artis pun, aku tetap akan berdiri di belakangmu.”

Yoongi menepuk-nepuk punggung Seokjin pelan. “Ya, nanti setelah kau debut, kita akan berjalan bersama. Terima kasih sudah memercayaiku.”

TBC

Advertisements

14 responses to “Hello School Girl [Chapter 31] ~ohnajla

  1. Aaaaaakkkk.. Bau” mau end ya kak?? 😭😭😭
    Andwae.. Belum ikhlas,
    Seokjin my bias 😍😍😍😍
    U’re so sweet 😄

  2. itu ajushi niat banget pengen tau -_-
    seokjin akhir” ini bagaikan malaikat penyelamat :*
    wah wah wah makin seru nih

  3. Tanda tanda mau end…

    Huaaaa gak ikhlaaaaaaaasss…
    Sekitar dua atau tiga chapyer lagi yak??

    Gqk sabr nunggu kelanjutannya tapi gak mau kalau bakal end…

  4. Waah tuh reporter nyebelin banget deh
    Kasian yoongi klo ketauan nanti ga lulus” smanya
    Bromancenya dapet banget eonni, terharu sama seokjin, tapi aku rada aneh klo ngebayangin fans cowo minta peluk ke idolanya hehe
    Tapi tetep suka chap ini
    Eonni ga melulu ngeliatin sisi romance sena sama yoongi tapi banyak cerita yg bikin menarik selain sisi romance itu
    Pokoknya sangat ditunggu kelanjutannya
    Dabestlah pokoknya ffnya

  5. Ahjussi mau ngapain dateng ke sekolah? Nyari yoongi? Niat banget sih wkwk tapi ga bakalan dateng lagi kan ya? Baru sekali liat aja langsung nyadar kalo yoonji mirip yoongi next yaa

  6. Mudahan ngak ada yg liat soekjin sm yoongi lg pelukan,oppsss..tp ngak apa toh idolanya juga..soekjin dpt fanservice hihihi..cari kesempatan,sdh cium yoongi meluk lagi..andai q yg meluk yoongi *plakkkk bs d gampar

  7. Huahhhhh..seokjin baik bgt sih..ampe segitu nya..ihh itu reporter ko gigih bgt ampe tw sekolah y..untung mereka gerak cpt jd bisa d hindari…

  8. huahh bntar lagi tamatt gk ikhlas,-
    skali lagi feelnya dpet eon entah knapa baru sdar air mata netes 😥 seokjin oppa dewasa bett

  9. Pingback: Hello School Girl [Chapter 33] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. aaa seokjin perhatian banget sih ngertiin banget posisi yoongi gimana ululu/? oke abaikan. itu lagi si ajussi kenapa nongol patang menyerah banget ya udah tua juga /eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s