[Song Fic] Set Me Free by ShanShoo

smtheballad

ShanShoo‘s present

Chanyeol with you

sad // oneshoot // teenager

 

Inspirated song : Taeyeon – Set Me Free [S.M The Ballad]

***

The thing I suddenly remembered was your smile

I keep trying to erase it but it just gets clearer

 

 

Ini tidak benar. Pandanganmu tidak benar. Kau mengerjapkan matamu beberapa kali. Mencoba untuk meyakinkan penglihatanmu dan juga mengenyahkan seluruh air mata yang kian menumpuk. Kau berdiri tak jauh dari dua sosok muda yang tengah berpelukan. Matamu terus terpaku ke arah mereka. Terpekur dengan kenyataan yang ada di hadapanmu.

Sebelumnya Chanyeol menghubungimu bahwa dia tak bisa menjemputmu malam ini. dia meminta maaf, dan kau memaafkannya. Lagipula, kau sendiri juga merasa kesal karena guru pengajarmu di sekolah memberikan tugas kelompok—yang sebenarnya hanya kau sendiri yang mengerjakan— di perpustakaan hingga malam menjelang.

Waktu untuk mengerjakan tugas kelompokmu telah selesai. kau memutuskan untuk segera melangkahkan kaki meninggalkan sekolah. Mengingat Chanyeol tak akan menjemputmu. Dia ada urusan, katanya.

Masih pukul tujuh malam. kau masih bisa berjalan sendirian, tak perlu menghubungi ayahmu atau kakakmu untuk datang menjemput.

Sepanjang perjalananmu, kau tak henti-hentinya mengukir senyuman manis ketika ingatanmu kembali pada kekonyolan Chanyeol yang selalu pemuda itu tunjukkan padamu, hanya padamu. Ya, hanya di depanmu lah ia mau berbuat aneh dan konyol. Kedua kakimu terus saja menyusuri jalanan yang cukup sepi. Semilir angin malam tak menggoyahkan pertahanan kedua sudut bibirmu yang masih saja tersenyum, dan juga tak membuat tubuhmu membeku kedinginan.

Namun ketika kau tiba di penghujung jalan yang akan mengantarmu untuk turut berbelok sesuai alur jalan yang kaulalui, kau mendapati pemandangan yang sungguh membuatmu kaget dan berhenti untuk bernapas sejenak.

Kau mematung di sudut jalan yang berbelok. Pandanganmu membelalak. Dan secara perlahan, semilir angin malam berhasil menerobos pertahananmu. Membuat tubuhmu dingin, membuat senyummu memudar.

Pandanganmu mulai memburam. Jantungmu berdebar dua kali lebih cepat hingga kau bisa mendengarkan detakan jantungmu sendiri. Kedua tanganmu terkepal erat di sisi tubuh.

Benarkah apa yang kaulihat?

Apa kau tak merasa jika pandanganmu memiliki sedikit masalah?

Tidak. Tidak sama sekali. Kau yakin jika pandanganmu tidak bermasalah sedikitpun.

Di sana. dua orang yang berdiri tak jauh dari hadapanmu tengah berpelukan mesra. Kedua pasangan itu terlihat begitu berbahagia. Pemuda yang merengkuh tubuh mungil gadisnya itu mengacak kecil surai hitam legamnya yang terurai cantik. Sedangkan satu tangannya memeluk pinggang gadis itu begitu erat. Sang gadis yang mendapatkan belaian lembut dari pemuda itu hanya memamerkan senyuman lebar sambil sesekali diiringi tawa kecil yang terdengar nyaman.

Kau merasa sepertinya hanya tersisa tubuhmu saja di sini. Sementara jiwamu melayang entah ke mana. Kau tetap diam. Hingga akhirnya kau tak menyadari jika sepasang kekasih itu menghilang dalam pandanganmu yang semakin memburam.

***

Love

All of the stories we shared together

Now they are in the past

 

Hari ini adalah hari Minggu. Di hari libur ini, kau memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana. Kau diam dan bergulung di balik selimut tebal yang nyaris menelan seluruh tubuh kurusmu. Rasanya hangat. Namun rasa hangat itu tak mampu menembus hatimu, hingga membuat hatimu juga merasakannya.

Samar-samar, di balik selimutmu, kau mendengar ibumu memanggil.

“Sayang, Chanyeol sudah datang. Cepatlah keluar dari kamar.” Katanya setelah ia mengetuk pintu kamarmu beberapa kali.

Kau masih diam. Enggan untuk membalas seruan ibumu. Yang ada, kau kembali meneteskan air mata saat ibumu mengatakan nama seseorang yang telah membuat keadaanmu berubah sekarang.

“Sayang, keluarlah…” ibumu tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Seperti ada seseorang yang menyela ucapannya untuk mengajaknya berbicara. “Oh, Sayang. Bolehkah Chanyeol masuk? Dia ada di sini.”

Kau mengerti apa yang ibumu katakan. Dia ada di sini. Itu berarti, dia ada di depan pintu kamarmu. Detakan jantungmu semakin tak menentu. Kau menerjang selimut tebalmu lalu mendudukkan diri secara paksa. Sorot matamu menatap nyalang ke arah pintu begitu kau mendengar,

“Kau ada di dalam? Ayolah keluar, kita pergi berkencan di hari Minggu, seperti biasa.

Suaranya terdengar begitu santai. Seperti tak mempunyai masalah ataupun sesuatu hingga membuatmu menjadi seperti ini. tatapanmu yang nyalang kini berubah sendu. Bulir-bulir bening pun kian membasahi wajahmu yang tirus. Kau menutup bibirmu yang bergetar pilu. Sementara kedua telingamu terus mendengar Chanyeol berseru di sana.

“Apa kau masih tidur?”

 

“Ayolah, keluar.”

 

“Kau yakin tidak akan pergi berkencan denganku?”

Chanyeol masih saja berceloteh, seperti biasa. Tak menyadari jika gadis yang sedang diajaknya berbicara itu tengah berusaha menahan isakan paraunya.

Akhirnya, kau mencoba untuk meredakan isak tangismu. Kau berdeham beberapa kali, berusaha untuk menjernihkan suaramu seraya mengusap kasar lelehan air mata yang membekas di kedua pipimu.

Kau menapakkan kedua kakimu di atas lantai kamar yang terasa dingin. Kau hanya berdiri di tepian tempat tidur. Kedua matamu terpejam sesaat, berusaha untuk menenangkan diri. Lalu kau bercermin sekilas untuk merapikan rambutmu yang cukup berantakan sebelum kau pergi membuka pintu untuk kekasihmu di sana.

Perlahan namun pasti, kau membuka pintu itu. semilir wangi aroma yang kausukai akhirnya menyeruak ke dalam indera penciumanmu. Kau tertegun saat mendapati Chanyeol berdiri di sana sendirian, dihiasi dengan senyuman lebarnya yang terlihat sungguh mempesona di matamu.

Hi, Girl!” dia mengacak perlahan rambutmu yang sebelumnya telah kau rapikan. Kau mencoba untuk tersenyum padanya, tapi rasanya terlalu sulit. Hingga senyum kikuklah yang bisa kau berikan padanya.

“Hai,” sia-sia saja kau mencoba untuk menjernihkan suaramu. Nyatanya, suaramu masih terdengar cukup parau. Hingga membuat Chanyeol mengernyit dan bertanya,

“Ada apa?”

“Tidak.” Ujarmu, mencoba menyembunyikan kegusaran di wajahmu.

“Masuklah,” kau kembali berbicara, dan kali ini kau memantapkan hati untuk menatap Chanyeol tepat di manik matanya. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Chanyeol mengangguk keheranan. Dia mengusap tengkuknya, lalu berjalan mengikuti langkah kakimu ke dalam kamar. Suasananya masih terlihat berantakan. tentu saja. Karena kau belum berniat untuk merapikan ruanganmu itu.

Kau dan Chanyeol kini duduk berhadapan di atas tempat tidur. Chanyeol menatap menelisik ke arahmu. Mencaritahu apa yang akan kaubicarakan sebelum kau berbicara padanya.

Kau berdeham pelan, mengerjap beberapa kali lalu menatap Chanyeol. “Kemarin… kau tidak memberitahuku urusanmu, hingga kau tak bisa menjemputku pulang.” Katamu. Dan kau sudah menyiapkan diri untuk tidak menangis begitu saja jika Chanyeol menjawab pertanyaanmu.

Pertanyaan itu Chanyeol respon dengan kekehan pelan. Ia lalu mengusap lembut rambutmu. “Aku membantu kakakku mengurus kafenya. Maafkan aku, Sayang.” Balasnya kemudian. Menatap teduh ke arahmu, hingga membuatmu terbuai oleh tatapannya.

Oh, tidak.

Kau menggeleng cepat, lalu menjawab. “Kafe?” tanyamu gugup.

Umm,

Tanpa sadar, kau mengepal sprei tempat tidur dengan satu tangan. Mencoba untuk menahan rasa kesal dalam dada. Membantu kakaknya katanya? Lalu, bagaimana dengan pelukan hangat nan mesra itu? apakah gadis itu kakaknya? Apa kafe itu terletak cukup dekat dengan sekolahmu? Bukankah kafe kakak dari kekasihmu itu berada berkilo-kilo meter jauhnya dari sekolahmu?

“Kau tidak membohongiku?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir mungilmu. Matamu memicing ketika menatap Chanyeol yang tiba-tiba saja terlihat gusar.

“Tentu saja tidak.”

“Park Chanyeol…” kau menahan napas sejenak, “Kau membohongiku.” Lagi-lagi, bulir bening itu memaksamu untuk segera dialirkan. Namun kau terus menahannya agar tidak terjatuh begitu saja.

Chanyeol tertegun. Hendak berbicara, tetapi kau segera menyelanya.

“Aku melihatmu bersama seorang gadis. Kalian berdua berpelukan begitu erat.” Kau menyerah, dan kau membiarkan air matamu kembali mengalir. Tidak, kau tak lagi peduli dengan air matamu itu. dan kau tidak akan menahannya lagi.

Chanyeol mulai memperlihatkan kegusarannya. Ia ingin berbicara, dan kau terus menyelanya.

“Mataku tidak mungkin salah. Dan otakku tidak mungkin tak mengingatnya. Gadis itu bukanlah kakakmu. Dia orang lain!” kau mulai berani menyudutkannya. Nada bicaramu meninggi. Menatap Chanyeol dengan guratan emosi yang terpatri di wajahmu.

Baby…”

“Apa yang akan kaujelaskan padaku? Alasan apalagi yang akan kauberikan padaku?” jantungmu berdetak semakin tak beraturan ketika kau mengingat banyaknya alasan yang diutarakan Chanyeol jika pemuda itu tak bisa bertemu denganmu, atau ketika kau menanyakan pertanyaan yang membuat Chanyeol sempat kalut.

Kau mendengar Chanyeol mengembuskan napas panjang. Dia menunduk sejenak, sebelum mulai menatapmu datar.

“Ya, dia memang bukanlah kakakku. Melainkan kekasihku.”

Rasanya ada yang tidak beres di dalam dirimu. Kau merasa jika sebuah palu besar baru saja menghantam tubuhmu hingga hancur berkeping-keping. Kau tak bisa bergerak. Kau tak bisa bernapas dengan benar. Sesak. Rasanya sangat sesak ketika kau mencoba untuk bernapas dengan normal.

Isakan tangismu keluar. Kau menunduk sedalam-dalamnya. kedua bahumu bergetar hebat. Hanya dengan mendengar pengakuan itu saja sudah membuat hatimu sakit.

“Kenapa… kenapa…” kau bergumam. Chanyeol mendengar gumamanmu, dia lalu menjawab.

“Karena sebenarnya, aku tidak mencintaimu.”

“….”

“Aku selalu berusaha mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan hal ini. tapi waktunya selalu salah. Kau selalu terlihat bahagia, ceria, dan kau jarang menunjukkan kesedihan di hadapanku. Hingga aku sempat berpikir, apakah aku akan terus menyembunyikan kenyataan ini darimu?”

Kau semakin tak bisa mengendalikan keadaan hatimu. Kau terus menangis sesenggukan. Tak mendengarkan sebagian perkataan Chanyeol yang menurutmu amat penting untuk didengarkan.

“Jika kau tak bisa mencintaiku, kenapa kau mau menjadi kekasihku?” tanyamu dengan amarah yang meledak. Kau tak peduli jika akhirnya ibumu mendengar kau berteriak. Matamu menatap Chanyeol dengan kilat-kilat emosi yang menggebu. “Kau benar-benar tidak mempunyai hati!”

“Karena aku tak mau membuatmu malu di hadapan mereka!” Chanyeol pun akhirnya ikut terpancing emosi. Dia berdiri dan menatapmu nyalang.

Kau turut berdiri dan balas menatapnya. Kalimat terakhir yang Chanyeol utarakan barusan membuatmu terpaksa harus mengingat bagaimana perjuangan dirimu untuk mendapatkan hati Chanyeol.

Kau mencintainya. Kau menginginkannya. Kau telah terpesona padanya sejak kalian memasuki jenjang sekolah menengah atas. Kau tak pernah henti membicarakan hal-hal seputar Chanyeol pada teman dekatmu. Kau tak peduli jika teman dekatmu merasa bosan mendengar ceritamu itu. setiap hari, kau selalu berlatih berbicara di depan cermin. Mengutarakan isi hatimu pada Chanyeol yang selalu terpikirkan olehmu sepanjang hari. kau tersipu malu. Kau merasa jika kau adalah gadis terbodoh yang berusaha menyatakan isi hatimu pada seseorang yang kausukai.

 

Akhirnya, kau telah memantapkan hatimu untuk mengutarakan perasaanmu pada Chanyeol. Di dalam kelas, kau berusaha untuk memberanikan diri menghampiri meja Chanyeol yang letaknya tak jauh dari mejamu. Chanyeol mendongak begitu ia mendapatimu berdiri di sampingnya. Menggenggam sebatang coklat yang kau ulurkan padanya. Malu-malu, kau mulai mengutarakannya.

 

“Ch-Chanyeol-ah.. aku.. aku menyukaimu.” Katamu, gugup.

 

“….”

 

“Aku… sudah lama menyukaimu…”

“….”

 

Chanyeol hanya diam mendengarkan. Berbeda dengan Baekhyun—teman sebangkunya— yang sepertinya sudah tak tahan ingin mendengarkan balasan Chanyeol.

 

Dengan setulus hati, kau mengungkapkannya perlahan. “Maukah kau… menjadi kekasihku?”

 

Kalimat pernyataan cinta itu sontak saja membuat seluruh siswa di dalam kelas bergemuruh kecil. Sebagian dari mereka mendukung apa yang kaulakukan. Namun tak sedikit pula di antara mereka ada yang tak menyukai hal itu.

 

Hingga akhirnya… Chanyeol menerima coklat yang kausodorkan. Chanyeol berdiri dan tersenyum di hadapanmu. Kau mengartikan senyuman itu bagaikan sebuah anugerah besar yang diberikan Tuhan untukmu.

 

Ya, Chanyeol menerimanya. Chanyeol mau menjadi kekasihmu. Kekasih dari seorang gadis yang bermodalkan keberanian dan juga coklat sepertimu.

 

Rasa sesak kian menumpuk. Kau mulai tak sanggup untuk berdiri tegak. Ketika kau mencoba untuk terus menenangkan hatimu, Chanyeol berbicara lagi.

“Kau sudah mengetahui yang sebenarnya, bukan?” nadanya begitu dingin dan rendah. Seolah mengabaikan bagaimana sakit dan perihnya menjadi dirimu saat ini.

“Sekarang, apa yang kauinginkan? Kau ingin hubungan ini berakhir?”

Semuanya terasa sia-sia setelah kau menjalin hubungan bersama Chanyeol hampir satu tahun lamanya. Semua kenangan-kenangan indah yang kau jalani bersama pemuda itupun bagaikan debu yang ditiup. Menghilang dan berbaur bersama angin kencang yang menerpa.

“Ya…,” kau menahan napas sejenak. “Akhiri saja hubungan ini… karena aku tahu,”

Chanyeol sengaja tak membalas, ia merasa penasaran, perkataan apalagi yang akan kau utarakan untuknya.

“Cinta memang tak bisa dipaksakan,” kau mendongak perlahan, menatap Chanyeol dengan seberkas senyuman terakhir yang kau tunjukkan padanya. “Terima kasih, karena kau telah menjadi bagian dari hidupku selama ini, Park Chanyeol …”

.

.

.

.

.

.

Set me free, let me be

Let me go, so I can rest for a moment

Ini sudah memasuki hari keenam setelah kau memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengan Chanyeol. Langkah kakimu terasa berat ketika kau melangkah memasuki kelas. Kau tak lupa, ada seseorang yang telah menyakiti hatimu di sana. awalnya kau berniat untuk tidak masuk kelas saja, akan tetapi, kau tak boleh terus seperti ini. kau harus tetap kuat!

Sepertinya, kabar bahwa kau telah putus dengan Chanyeol dengan cepat menyebar di sekolah. Teman-teman di kelasmu menatapmu penuh iba, ada yang menatapmu penuh rasa puas karena hal ini, ada juga yang secara terang-terangan menertawakanmu. Benar-benar menyedihkan.

Kau beralih menatap Chanyeol di bangkunya yang terlihat begitu menikmati canda tawanya bersama Baekhyun. Tidak ada sedikitpun raut wajah sendu atau sedih yang muncul. Bagaikan seseorang yang tak pernah ikut merasakan kesedihan orang lain.

Kau menghela napas panjang. Menahan agar kau tidak menangis lagi. memalukan sekali jika kau menangis. Langkah kakimu terhenti di samping bangkumu, lalu kau duduk tanpa ada semangat yang menyertai. Teman sebangkumu hanya tersenyum menenangkan seraya mengusap lembut bahumu. Dia terus memberikan kata-kata motivasi agar kau tak terus memikirkan pemuda itu. kau hanya mengangguk mengiyakan. Namun pada akhirnya, kau tak bisa melakukannya begitu saja.

Enam hari sudah kau melewati hari-harimu tanpa Chanyeol. Dan selama itu pula, kau tak bisa melepaskan bayang-bayang Chanyeol dan kenanganmu bersamanya sedikitpun. Semuanya terasa sulit untuk kaulakukan. Kau tak bisa melupakannya. Kau tak bisa menepis bayangannya. Sekalipun kau berharap pada Tuhan agar ingatanmu tentang dirinya disirnakan.

.

.

.

.

.

.

Set me free, let me be

This isn’t right, like a fool. I keep laughing

 

“Kau terlihat lebih kurus,”

Kau tersentak dari lamunanmu, begitu kau mendengar Joonmyeon—teman dekatmu— berbicara. Pandanganmu beralih ke samping, menatap pada Joonmyeon yang mulai memasukkan satu sendok es krim ke mulutnya.

“Apa jangan-jangan, kau masih belum bisa melupakannya?” tanya pemuda tampan itu begitu ia menelan es krim di mulutnya.

Saat ini, kau dan juga Joonmyeon berada di sebuah kedai eskrim yang terletak di pusat kota. Tangan kananmu mengaduk-aduk es krim menggunakan sendok pada sebuah gelas besar di atas meja kedai. Sementara tatapanmu terlihat menerawang, memikirkan perkataan yang baru saja terlontar dari bibir temanmu.

“Hey, Gadis Bodoh, berhentilah memikirkan laki-laki itu. dia adalah laki-laki buruk yang pernah kudengar lewat ceritamu itu.” Joonmyeon terus berceloteh. Ia juga merasa sedikit kesal karena sampai saat ini, kau belum memberitahu bagaimana rupa Chanyeol padanya. Padahal kalian telah berteman dekat. Bukan apa-apa, hanya saja sepanjang perjalanan hubunganmu dengan Chanyeol, Joonmyeon tak mempunyai waktu untuk bertemu denganmu dan Chanyeol karena masalah-masalah di perusahaan ayahnya. Meski usia Joonmyeon terpaut empat tahun lebih tua darimu, Joonmyeon tak mempermasalahkannya. Karena pemuda itu akan tetap menganggapmu sebagai teman dekat.

Tiba-tiba, kau tersenyum kecil. “Aku sudah bisa melupakannya, meskipun sedikit.” Katamu kemudian, menatap Joonmyeon yang juga menatapmu intens.

Joonmyeon mendesah, “Kau yakin? Kau terlihat sedang membohongiku.” Balasnya seraya menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Umm,”

Matamu kemudian mengarah pada pintu kedai yang terbuka. menampilkan sosok pemuda bertubuh tinggi dan juga seorang gadis dalam rangkulannya memasuki kedai es krim. Wajah keduanya terlihat berseri-seri. Tersenyum lebar seolah menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan paling berbahagia di muka bumi ini.

Kau tertegun. Senyumanmu memudar seketika. Gemuruh detak jantungmu mulai meningkat dan mulai menyakiti dadamu. Kau merutuki dirimu sendiri yang tak bisa memalingkan pandanganmu ke arah lain, ataupun menatap pada Joonmyeon. Pandanganmu terus tertuju pada mereka berdua. Tidak. Kau tidak boleh terus seperti ini.

“Tunjukkan padaku sekarang jika kau baik-baik saja,” suara Joonmyeon mendominasi keheningan di antara kalian. Bersyukurlah kau karena setelah mendengar suara Joonmyeon, kau dapat mengalihkan tatapanmu padanya. Sudut-sudut bibirmu terangkat, tersenyum menenangkan. Namun sesekali kau mencuri pandang ke arah dua orang yang baru saja tiba di kedai. Mereka terlihat begitu mesra. Membagi kasih sayang tanpa ragu.

Chanyeol lantas mengalihkan tatapannya dari gadisnya ke arahmu ketika ia merasa ada seseorang yang memerhatikan. Chanyeol terlihat kaget begitu tahu bahwa kau ada di kedai juga. Matanya membelalak lebar saat ia terus menatapmu. Sontak saja kau tertawa tanpa minat dengan suara yang keras. Joonmyeon menatap heran ke arahmu. Dan kau masih saja tertawa hambar—tanpa minat seraya menatap ke arah Joonmyeon.

“Ya… aku baik-baik saja, kau lihat?” kau terus tertawa, seperti orang bodoh yang tak tahu hal apa yang patut ditertawakan. “Aku baik-baik saja…”

.

.

.

.

.

.

The thing that suddenly passes by is the smile inside of me

I keep trying to bring it back, but it just gets farther away

 

 

Apakah rasanya harus sesakit ini? bisakah sedikit saja kau melupakan kenanganmu bersama Chanyeol?

Tidak. Itu bukanlah hal yang mudah. Kau tak bisa melupakan hal itu begitu saja. Dan kau tak bisa menghilangkan nama Chanyeol dari dalam benakmu.

Kau duduk muram di atas kursi ayunan. Kedua kakimu yang berpijak di atas tanah di taman belakang, mulai bergerak untuk mengayunkan kursi itu. kursi pun berayun lambat, begitupun tubuhmu yang duduk di atasnya. Tatapanmu lurus, menerawang memikirkan semua kenyataan pahit yang kauhadapi sekarang.

Ini sudah dua minggu setelah kalian berdua mengakhiri hubungan itu. tapi sungguh, hingga saat ini kau belum berubah. Kau masih sama seperti hari di mana kalian berdua tak lagi memiliki hubungan. Kau masih sama seperti di saat kau mengatakan bahwa kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Chanyeol—meski sebenarnya kau tak mau.

Hanya senyuman palsu yang kauberikan untuk ibu, ayah, dan juga Joonmyeon. Kau selalu berpura-pura untuk tersenyum. Menyatakan bahwa sekarang kau jauh merasa lebih baik dari sebelumnya. Kau selalu berbohong. Kau tak pernah mau mengatakan yang sebenarnya, bahwa kau sebenarnya tidak baik-baik saja. Kau sakit. Hatimu sakit, sangat sakit.

Ingin rasanya kau kembali tersenyum ceria seperti dulu. Seperti saat di mana kau belum memiliki hubungan apapun—dengan siapapun. Setiap hari, setiap waktu, kau tak pernah henti membagikan keceriaanmu pada orang-orang terdekatmu. Namun ketika kejadian ini menimpa dirimu, kau tak sanggup lagi untuk tersenyum. Kau tak mampu lagi untuk memberikan kebahagiaanmu pada mereka. Dan kau terus menunjukkan senyum penuh kepalsuan di bibirmu.

Setiap kali kau mencoba untuk membawa kembali senyuman itu, kau tak bisa. Yang ada, kau malah semakin membuat senyumanmu menghilang. Kedua matamu pun tak lagi berbinar, memancarkan kebahagiaan. kedua matamu redup, tak ada binar-binar apapun lagi di sana.

.

.

.

.

.

.

Love

Our happy moments were like precious stones

“Kau tak akan bisa mengejarku!” Chanyeol berlari menghindar darimu yang dipenuhi krim kue di wajah. Sungguh, wajahmu terlihat menjadi buruk setelah Chanyeol mengoleskan cukup banyak krim kue ulangtahunmu di wajahmu.

 

Ini adalah hari ulangtahunmu. Hari kelahiranmu. Hari di mana kau menghirup udara segar. Hanya ada kau dan Chanyeol di taman belakang rumahmu. Kedua orang tuamu sedang tidak ada di rumah. mereka pergi karena ada urusan yang penting. Sepertinya mereka lupa mengucapkan selamat ulangtahun padamu. Menyedihkan, memang. Tapi itu semua tak berlangsung lama ketika kau tahu, bahwa Chanyeol datang ke rumahmu untuk merayakan hari spesial ini.

 

Kau merayakannya dengan penuh suka cita. Ada banyak kenangan indah yang kaudapat di sini bersama kekasihmu. Kalian berbagi kebahagiaan. tidak ada satupun hal menyedihkan yang terlintas dalam benak kalian. Semuanya terisi penuh oleh canda tawa dan rasa senang.

 

Akhirnya, kau mengejar Chanyeol yang kini berlari menjauh darimu. Dia menertawakanmu karena wajahmu yang dipenuhi krim kue. Kau sungguh merasa kesal akan hal ini, tapi kau juga merasa bahagia.

 

 

Kau mengembuskan napas panjang. Titik fokusmu beralih, tak lagi menatap satu gambar dirimu dan juga Chanyeol di layar ponsel milikmu. Kau menjatuhkan ponselmu ke samping tubuh di atas tempat tidur. Kau menangis sesenggukan. Merasa bodoh karena sampai sekarang kau tak bisa melupakan sosok Chanyeol.

Kenangan antara kau dan dia terlalu berharga untuk kaulupakan, dan terlalu menyakitkan untuk terus kau ingat. Dan hal ini membuatmu bingung harus berbuat apa. Kau terjebak dalam kenanganmu. Kenangan yang indah sekaligus menyakitkan.

.

.

.

.

.

Set me free, let me be

The more I’m in a pain, the more you well up in my heart

 

Genap satu bulan sudah kau membiarkan kekosongan dalam hatimu. Tubuhmu terlihat semakin kurus. Kau benar-benar berubah hanya karena seseorang seperti Chanyeol. Ibumu sudah tak tahu harus berbuat apalagi agar kau kembali seperti dulu. Namun dia tak lelah untuk selalu memperingatimu, perihal kesehatanmu yang kian memburuk. Ibumu tak mau kau sakit. Kau hanya menanggapinya dengan perkataan ‘Iya’, tapi nyatanya, kau tetap mengabaikan perkataan ibumu. Sama seperti kau mengabaikan perkataan temanmu.

Kau berjalan sendirian di tepi jalan raya mengenakan sweater hangat. Cuaca di malam ini benar-benar membuatmu merasa kedinginan. Kepulan asap menguar melewati celah bibirmu. Meski dingin kian menusuk, kau harus tetap pergi untuk membeli sesuatu. Membeli obat untuk dirimu. Ibumu, bahkan Joonmyeon tak tahu bahwa saat ini kau terkena demam. beruntung kau bisa menyembunyikan hal itu dari orang-orang terdekatmu.

Langkahmu terhenti seketika begitu kau mendapati ada sepeda motor sport yang berhenti tepat di sampingmu. Dia seorang pemuda yang mengenakan helm berwarna hitam, senada dengan warna kendaraannya. Kau lantas menghentikan langkahmu, dan mematung di sana. menatap pemuda itu yang melepas helmnya, lalu menatap ke arahmu.

“Hai…” sapa pemuda itu, yang tak lain adalah Chanyeol.

Kau membungkam bibir. Tak mau mengatakan hal apapun pada lelaki di depanmu ini.

“Kau tak pernah menyapaku selama di kelas, bukankah itu menyebalkan?” ujar Chanyeol. Dia terus menatapmu diiringi senyuman yang sebenarnya sulit untuk kau artikan.

“….”

“Bicaralah,”

Kau tetap diam. Menahan gejolak amarah dan sakit yang tiba-tiba saja datang dan menghantam hatimu.

“Hey.. wajahmu pucat,” Chanyeol mengulurkan tangan kanannya ke arah pipimu, dan kau segera menepisnya. Seketika rona merah mulai mencuat di kedua pipimu.

Chanyeol menurut, ia masih tetap duduk di atas jok motornya. “Apa kau sakit?”

“Aku baik,” jawabmu sekenanya. Menyembunyikan kenyataan.

“Tidak, tidak. Aku mengenalmu dengan baik. Jadi aku tahu, kapan waktumu untuk berbohong padaku atau tidak.” Kata Chanyeol sambil menggeleng tak percaya.

“Berhentilah, Park Chanyeol. Berhenti membuatku semakin sulit melupakanmu!” emosimu kembali naik. Pandanganmu tak lagi sendu. Penuh amarah dihiasi bulir bening.

“Berhentilah bersikap seolah kita masih saling memiliki hubungan!” kau terus berbicara. Mengabaikan beberapa tatapan para pejalan kaki yang mengarah padamu dan Chanyeol.

“Kau tak pernah tahu bagaimana sulitnya aku untuk melupakanmu, Yeol.” Kau menghirup napas dalam ketika dirasa dadamu begitu sesak. Lalu mengembuskannya kuat-kuat.

“Karena semakin aku berusaha melupakanmu, kau semakin terus membayang dalam benakku…” isakan tertahanmu mulai terdengar. Chanyeol terhenyak lalu turun dari motornya. Menatapmu penuh luka seraya mengulurkan tanganmu untuk menghapus jejak air mata di wajahmu.

“Aku tak bermaksud…”

“Sudah cukup,” kau mundur perlahan, menjaga jarak darinya. “Jangan katakan apapun lagi padaku. Jangan katakan apapun yang bisa membuatku terus mengingatmu, mengingat kenangan kita.” Tatapanmu kembali sendu. Kau menundukkan kepala sembari menahan isak tangis.

“Maafkan aku…” Chanyeol berujar, “Aku tak pernah menyangka, jika sikapku seperti ini akan melukai hatimu lebih jauh.”

Terselip nada penuh penyesalan yang terdengar dari bibir Chanyeol. Kau mendongak demi menatap bagaimana ekspresi yang tercetak di wajah tampannya.

“Sungguh, demi apapun.. aku tak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini.” pemuda itu kembali berbicara. Dan kau hanya mendengarkannya dalam diam. “Setiap hari, aku selalu melihatmu murung. Kau bahkan jarang berinteraksi dengan teman-teman dekatmu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di saat kau berubah demikian. Aku… aku merasa sangat bersalah padamu,”

“Maukah kau memaafkanku? Aku berjanji, aku tak akan melakukan hal apapun yang membuatmu terlihat semakin buruk.” Kata Chanyeol, lembut. Tangan kanannya bergerak untuk menghapus air matamu, tapi kau tetap menepisnya.

“Lakukanlah dengan hal yang paling kecil, jangan sentuh aku, Park Chanyeol.” Kau melanjutkan perkataan Chanyeol. Lalu tersenyum miris.

“Maafkan aku…” gumam Chanyeol pelan.

Kau mengembuskan napas panjang, “Aku… aku memaafkanmu.” Kemudian menyeka air matamu dengan kasar. “aku harus pergi, kau.. pergilah.” Katamu dengan nada pelan.

“Biarkan aku mengantarmu terlebih dulu—”

“Tidak. Pergilah,” kau menyela ucapannya.

Chanyeol mendesah, ia tak bisa menolak permintaanmu. Pemuda itu akhirnya mengangguk mengiyakan, menaiki motornya sembari menggunakan helm. Sekali lagi, ia menoleh padamu. Sebelum akhirnya, pemuda bertubuh tinggi itu melajukan motornya, meninggalkanmu.

Set me free, let me be

This isn’t right, like a fool, I keep shedding tears

 

Bebaskan aku, biarkan aku pergi

Ini tidak benar, seperti orang bodoh, aku terus saja menangis…

Kau menatap kepergian Chanyeol dengan pandangan semu, terhalang oleh cairan bening yang menganak di kedua bola matamu. Kau terus menangis di sana. menangisi kepergian Chanyeol seperti orang bodoh. Ya, kau bodoh karena telah mencintai lelaki sepertinya.

Dia telah pergi dari hidupmu. Dia tak akan pernah kembali padamu—kau sudah meyakini hal itu dalam hati, sekalipun kau memintanya. Karena kau tahu, cinta tak dapat dipaksakan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

Thanks for reading this fanfiction! 😉

Don’t forget to visit my blog and follow my wattpad account, just click ShanShoo and @ikhsaniaty 😉

 

Advertisements

21 responses to “[Song Fic] Set Me Free by ShanShoo

  1. Sakit banget seriusan
    Nyesek..
    Chanyeol jahat, klo ga suka kenapa harus diterima, mendingan ngasih kenyataan pahit diawal daripada nusuk gitu
    Berhasil deh ini bikin hati tersayat huhu

  2. You hurt me Park Chan!! Parah ini nyesek banget,kirain pas di akhir Chanyeol nyesel?? Ada sequel nggak?Pengen tahu aja perasaan chanyeol yg sebenernya setelah putus.

    • huhu Park Chanyeol memang jahat T.T
      Chanyeol memang menyesal, tapi dia emang gak punya perasaan apa-apa sama ceweknya x(
      sekuel? enggak ada, kak, biarkan ceweknya mupon dari sosok Park Chanyeol :”)
      makasih kak udah komen ^^

  3. Hahahaha.. sediihhh
    To ak udh pernah baca ini sebelumx.. d wp km deh kykx..
    Tp ttp aj sedih bacanya..
    Knp cwekx ga dbkin sakit trus mati aja..
    Biar chanyeolx nyesel paraahh.. hahahaha

    • Hai kak, ehehe ff ini pernah di-post di blog sebelah kok :”D
      Jangan kak, ceweknya biarin mupon aja, kalo mati nanti kasian(?) 😂😂😂

  4. Sedih banget ini,kok chanyeol tega ngelakuin kayak gitu,jahat banget tau.Cewek gak bisa digituin yeol, jangan gitu kamu…..kasihan kan ceweknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s