Breath: Bruise

Afraid of hurting your heart, I hide everything from you.

Previous : EternitySeparation

aiveurislin’s © 2017 ; Lee Taeyong & Ahn Hanra ; a series [983 words] ; Kingdom-AU!, Angst, Hurt/Comfort, Dystopia, & War ; for parental guidance


Napasku kian tercekat kala mengais kembali memoirku bersamanya. Lingkup serebrumku yang penuh akan persepsi pun sontak membawa kembali letupan gemuruh dalam benakku. Kupaksakan raga ini bangkit, bersiap menerjang angin yang menyusup tak tahu diri melewati kanopi. Dengan gelagat lancang melempar tatapan kosong pada pedestrian yang dikelilingi pohon maple berdaun kemerahan. Sepasang fokusku menemukan siluetnya dalam muramnya malam yang beranjak mengelam. Hawa yang menusuk seakan mengungkungku mengingat kembali lembaran-lembaran samar yang sempat menghilang. Suasana yang sama, orang yang berbeda, dan aku yang tak berdaya.

“Apakah saya harus melakukannya, Jenderal?”

Ya, kau harus melakukannya. Victoire tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Pangeran Mahkota mereka. Aku memberimu waktu tiga hari untuk pergi dari sana.

Kupalingkan atensiku pada sebuah kopor kecil di atas meja. Seketika itu pula dwimanikku meremang, fokusku pun melayang. Jangankan berpikir, meneguk saliva pun rasanya kerongkonganku disiram raksa. Kupaksakan jemari ini membuka benda itu, setengah mati kutahan cekatan napasku kala siratku menemukan eksistensi pistol Whalter P99 keluaran Jerman dan beberapa lusin peluru perak.

Menatap atasanku ragu, lidahku pun tak lagi mampu menahan retorika yang sejak tadi terpendam dalam, “Lalu, apakah ini permulaannya? Apakah kita benar-benar harus berperang melawan Victoire?” kuesioner itu membahana, sengaja kutahan hingga terdengar agak lirih, namun tetap jua larut bersama udara yang bermuara pada sepasang daun rungu Jenderal bernama Jung Yunho itu.

Victoire dan Uni States berdiri di kubu yang bertolak belakang, Ahn Hanra. Perang Dunia Keempat ini akan menjadi perang yang paling mengerikan sepanjang sejarah dunia. Kita berada di pihak Federation Commands sedangkan Victoire didukung oleh kekuatan penuh dari Great Briton. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha dengan apa yang kita miliki, untaian lisannya yang sarat akan ketegasan turut andil membuat fokusku mengeruh, mengimplikasi peluhku untuk mengalir jatuh.

Deru napasku mulai memberat, putus-putus pula. Tak sanggup lagi untukku mendengarnya. Aku sudah muak dengan opera mengenai pertikaian berakhir perang, seperti kali ini. Namun aku tak punya daya untuk menyangkalnya, apalagi membantahnya. Ucapan Jung Yunho adalah perintah mutlak, suatu hal berlabel sumpah yang akan mengikatku hingga ajal menjemputku.

Disamping itu, Jung Yunho adalah panutanku yang juga melabeli diri sebagai pimpinan fraksiku, fraksi militer yang turut mengambil andil dalam pecahnya perang ini. Aku tidak ingin mengakuinya, namun kurasa ini adalah akhir dari segalanya. Ingatan mengenai asal-usulku menghantamku dengan keras, seakan-akan menyeretku hingga terseok-seok menuju tepi tebing yang curam, menghadap dengan lancang pada Sang jurang yang bersiap melahapku. Hanya perlu satu langkah untuk melepaskan segalanya dan terjun.

Ini bukan keinginanku, sungguh. Dalam kungkungan dilema memuakkan ini, aku masih mencantumkan namanya diatas sumpah setiaku. Namun apa dayaku? Karena aku sudah kalah sejak awal. Karena aku tidak sungguh-sungguh diberi pilihan.

“Baiklah, sekarang ambil itu. Bawa kemana pun kau pergi. Ingat, Hanra, aku hanya memberimu waktu tiga hari. Selebihnya aku tidak bisa menanggung apapun. Maaf, cintamu pada Negara lebih dibutuhkan saat ini. Kuharap, keputusan yang akan kauambil cukup bijaksana untuk membuktikan cintamu pada bangsamu, klausa yang diudarakan Jenderal Jung menghujamku telak. Kuhela setarik napas panjang lalu jemariku beruintuisi mengisi pistol itu dan kuisi dengan beberapa butir peluru perak. Kupaksakan raga ini untuk beranjak, sebelum ilusi konfrontasi dalam otakku kian memuncak.

Konklusi imajiku kuputus sudah. Entahlah. Aku tak punya cukup keberanian untuk menyongsong hari esok. Saat ini aku hanya ingin lenyap, lesap tanpa membuat bumi terkesiap.

Menutup paksa lembaran ingatan itu, tubuhku tersentak pelan dari pijakan. Napasku tersengal, seakan rongga dadaku tak lagi muat menahan bobot paruku. Ilusi konfrontasi yang sedari tadi padam kini memercik kembali gejolak dalam kalbuku. Sungguh bodoh! Bahkan di masa krusial semacam ini aku malah melupakan bagian terpenting kedatanganku ke Locomotor.

Jemariku bergerak, seakan berintuisi sendiri untuk menghitung hari. Buku-buku tanganku kini mulai memutih seiring wajahku berubah pucat pasi. Hari ini adalah hari keempat. Menyadari akan adanya fakta itu seakan membuat jantungku didera beribu tekanan. Sampai sakarang pun aku ingin menyangkal bahwa aku telah sampai di huruf Z dalam daftar alfabet, sebagai wujud implementasi akhir dari segalanya.

Kini aku tiba pada titik final dan aku pastikan bahwa aku siap menuai hasil dari keputusan ini. Tungkaiku berpijak yakin, setapak demi setapak kurajut dalam irama konstan menuruni belasan anak tangga hingga raga ini bertatap dengan muka pintu. Jemariku bergetar kecil, mendorong pelan kusen pintu utama yang bercat putih pasi. Mengabaikan dinginnya malam yang menembus sweater rajutku pun jua yang cukup tajam menusuk lapisan dermis terluar tubuhku hingga tulang.

Aku terpaku mendapati eksistensinya. Dia ada di sana, seseorang yang tanpa permisi menyusup ke dalam hatiku. Orang itu, Lee Taeyong.

Setengah mati aku menahan hasrat yang sudah terkubur dalam-dalam. Aku ingin mendekapnya, mengatakan bahwa aku merindukannya, bahwa perasaan itu masih sama, bahkan untuk beberapa dekade berikutnya sekali pun. Namun benakku kembali menyuarakan konspirasi, bahwa aku tak pantas bersanding dengannya, bahwa langit akan selamanya mengecam sejumput rasa cinta yang kusimpan untuknya.

Fokusku dibuat buyar kala menilik sebuah titik akan presensi sebuah senapan laras panjang. Aku mengenalinya. Spontanitas dwimanikku menelusuri kepada siapa benda itu diarahkan. Darahku berdesir cepat alih-alih merangsang buih-buih peluh di pelipisku. Sepasang tungkaiku mencetus langkah seribu, menghentak pelan memukuli bumi. Dalam derap itu, kualun seuntai doa. Berharap jika keajaiban itu itu ada. Setidaknya datanglah padaku untuk kali ini saja.

Salahkan saja aku dan persepsi skeptisku.

“Lee Taeyong!”

DOR!

Napasku tercekat kala peluru perak itu menembus kulitku tepat saat aku meraihnya, menariknya ke dalam rengkuhanku. Taeyong membalasnya, menjentikkan jemarinya perlahan di punggungku pun pula membawaku tenggelam dalam ilusiku. Aku tak peduli jika liang luka hati ini kian menganga. Mulai saat ini, aku akan lebih merindukannya. Bahkan ketika langit mengutukku dengan gemuruhnya, aku akan tetap merindukannya.

Sepasang tungkaiku tak lagi mampu menahanku. Seiring itu pula ikatan sepasang lenganku mulai mengendur. Kuberanikan diri menatapnya, hingga kedua pandangan kami saling menubruk, membentuk seutas bujur yang kasat mata. Aku mengulas secarik senyum. Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, kuuntai rangkaian aksara sederhana untuk terakhir kalinya.

“Terima kasih, Lee Taeyong.”

Napasku kian berat kuembuskan samar-samar. Seberkas sinar menyambutku, sontak membuatku kehilangan kekuatan untuk sekadar membuka mataku. Lelah telah menjarah kekuatanku dan akhirnya aku tertidur dalam rengkuhannya malam itu.

Tuhan, apa aku akan segera menemui-Mu?

–to be continued.


notas;

yas, akhirnya bisa tepat waktu juga. well, i thank you, guys, for your polite waiting (and for loving Yong-Aire too kekeke) 🙂

sedikit penjelasan mengenai ‘Bruise’, mungkin bisa dibilang ini adalah ‘Separation’ dalam sudut pandang Hanra. dan aku baru sadar selama ‘Breath’ jalan ke seri 3, aku terlalu detail mendeskripsikan karakter Hanra seakan dia yang paling nestapa (semoga karakter Hanra yang ada diimajinasi kalian ga semenye deskripsiku. karena karakter Hanra yang aku buat itu sebagai perwujudan sisi kuat seorang perempuan).

well, seri ‘Breath’ selanjutnya bakal lebih fokus sama permainan emosi Taeyong (dan yang pasti lebih rumit karena aku sendiri cewe dan itu tantangan tersendiri buatku untuk ‘mainin’ perasaan cowo yang ditinggal mati cewenya) hufft.

Kindly drop a comment after reading this fiction. I’ll appreciate you as soon as possible. Thank you and have a nice day! 😀 ❤

Sincerely yours,

aiveurislin.

Advertisements

10 responses to “Breath: Bruise

  1. wiiih udh di update niih
    ga mungkin kan kalo hanra mati, jelas lah kalo mati ntar taeyong sama siapa,? aku gitu.? kalo aku sih ga papa*abaikan
    authornim rada panjangin dikit boleh?? boleh lah ya ya ya~😃
    semangatssss~

    • Waduh mati ga ya? Spoiler alert spoiler alert Wkwkwk
      Waduh, tadinya malah 1k word lebih lho part ini. Cuma aku mikirnya nanti kalo lebih panjang pada muak liat fiksi isinya dominan paragraf. Percakapannya aja cuma flashback sama monolog /timpuk sajalah akuuh/
      Yups, thanks for dropping your comment here 😀

  2. Jadi Bintan, apa kamu ngasih hint kalo Hanra-nya bakal mati gitu aja? XD Ninggalin kangmas taeyong yang bakal perang batin sama dirinya sendiri? Mungkin kalo saranku entar ada scene pas perangnya gitu kali ya, action tipis-tipis lah HAHA Hanya sekedar saran pembaca kok~ Anyway, aku suka banget sama series Breath ini 😀
    Keep writing!

    • Hai Kak Pat!
      Aku baru ngerasa kalo kalimat terakhir Hanra itu rancu dan ambigu. Wkwkwk series Breath ini sebenernya masih panjang kok. Jadi no more spoiler dulu ya kak 😉 #hehehe karena ga seru kalo ngomongin spoiler mah.
      Mengenai perang batin Taeyong, tungguin aja seri selanjutnya.
      Sip kak. Makasih buat sarannya. Action itu bakal jadi genre tambahan di proyek fiksi Kingdom-AU! yang lain setelah seri Breath selesai. Thanks for liking this series kak 😀 ❤

  3. selalu suka sama bahasanya, ceritanya
    Ditunggu next chap nya,,, penasaran sama hanra bagaimana nasib nya?

  4. Halo Bintan, perkenalkan aku Liana 95line 🙂 inget aku gak ya hhe kmu pernah main di blogku kan?

    Anyways, sbnernya aku suka ide kingdom AU ini dan aku kira ini Taeyong x Mina hahaha Krn visualisasinya hanra ini twice Mina bukan? Ternyata oc. Gpp juga sih

    Yg mungkin mmbuatku krg nyaman dgn fiksi ini mgkin Krn bhsnya yg terlalu g lazim? Terlalu byk kosakata? Haha aku sbnrnya tdk punya wewenang ilmiah utk berkomentar soal itu tapi tdkkah kamu ngerasa bahasanya ketinggian sehingga ceritanya mengabur? Kyk ini sebetulnya Taeyong ngapain sih, Mina knp ketembak apa ditembak apa piye, klo pembaca tdk memiliki kosakata luas bisa susah Krn hrs cari dulu arti kata2nya
    Dan berhati-hatilah dgn istilah medis ya, dermis aslinya tdk di permukaan lho, yg di permukaan epidermis. Jadi yg dibelai angin disentuh hujan digigit dingin bukan dermis.
    Katakan saja kulit, simple bukan?
    Ada juga bbrp kosakata yg aku rasa krg tepat:memagut figurnya, kuesioner, mengimplikasikan peluh, sifatku … Hng aku merasa kosakataku sangat tdk luas tapi hrskah kmu memakai kata2 yg sesulit ini utk menjelaskan sebuah adegan sederhana?
    Pesannya sih mgkin …buatlah fic yg gampang dinikmati. Aku tau style personal sulit ditinggalkan tapi kmu bikin ff buat dibaca toh?
    Harap dipertimbangkan utk perbaikan ya thankies dan Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s