[CHAPTER 20] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Perjalanan mereka menggunakan pesawat paling tidak menghabiskan waktu selama sebelas jam. Lagi-lagi Se-Hun dan Hee-Ra duduk bersebelahan, namun kali ini berbeda, tidak ada lagi rasa tegang dan canggung seperti dulu, mereka sesekali berbincang kecil, mencoba melepaskan diri dari rasa sedih akibat kehilangan Shin Jae-Woo.

 

Kembali ke Korea berarti kembali pada masa lalu, walau hanya beberapa hari, tapi Se-Hun berniat mengunjungi beberapa tempat yang bersejarah baginya. Yah, semoga saja dia tidak bertemu dengan pria itu—Oh Jae-Bum—kalau bisa, Se-Hun berharap semoga orang yang telah menjualnya itu sudah mati.

 

Selama tiga hari ke depan mereka akan tinggal di rumah lama yang dulu sempat ditempati waktu tinggal di Korea. Sebuah rumah dua lantai bergaya Eropa klasik, bercat putih-krem dan halaman yang cukup luas di depan maupun belakang. Orang tua Hee-Ra sengaja tak menjual rumah tersebut setelah pindah ke London karena berpikir kemungkinan suatu hari nanti mereka akan kembali ke Korea, dan ternyata benar.

 

 

Rasanya aneh kembali di sini dengan anggota yang berkurang. Kenangan serta kebahagiaan yang dulu sempat terukir seolah merasuki jiwa Hee-Ra, membawa gadis itu dalam ilusi yang menyakitkan.

 

Waktu Hee-Ra kecil, setiap Sabtu sore, ia sekeluarga akan minum teh di tengah halaman sambil menikmati kicauan burung kecil di pohon. Walau saat itu belum ada Se-Hun dan Hee-Ra adalah anak tunggal, tapi ia bahagia.

 

Tak ingin terlarut dalam kesedihan, Hee-Ra segera menaruh kopernya di kamar dan beranjak menemui sang Ibu yang telah bersiap untuk pergi ke tempat penyimpanan abu jenazah.

 

Untuk terakhir kalinya, Hee-Ra memberikan penghormatan dan mengucapkan betapa ia mencintai Shin Jae-Woo. Kang So-Hee yang terlihat tegar bahkan tak sanggup menghentikan air matanya. Hatinya hancur, benar-benar hancur sampai tak bisa diungkapkan seberapa besar rasa sedih yang melingkupi.

 

Namun, hidup harus terus berjalan. Kehilangan seseorang bukan berarti menjadi batu hantam untuk tidak bergerak. Hee-Ra paham, sangat paham, tapi untuk sebentar saja, biarkan dia mencurahkan rasa sedih dan kehilangannya.

 

Hampir dua jam mereka di sana, menatap kosong namun penuh harap dalam hati. Kang So-Hee menatap kedua anaknya bergantian dan kemudian berucap, “Pulanglah, kalian pasti lelah.”

 

Hee-Ra buru-buru menggeleng, “Tidak, aku akan di sini bersama mama,” elaknya.

 

Kang So-Hee mengusap lembut rambut Hee-Ra. Ia bisa melihat raut lelah di wajah anak perempuannya itu. “Kau tidak tidur selama dua hari, mama akan baik-baik saja di sini. Pulanglah bersama kakakmu..”

 

“Tapi ma..”

 

Belum sempat Hee-Ra mengeluarkan pendapatnya, So-Hee sudah lebih dulu menghentikan ucapan Hee-Ra menggunakan telunjuknya, “Mama berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. Kehilangan papamu bukan berarti juga harus kehilangan diri sendiri, sayang,” ujarnya meyakinkan.

 

Kalau sudah seperti ini yang bisa dilakukan Hee-Ra hanya menurut. Ia menatap Se-Hun sebentar, meminta persetujuan agar pria itu mau pergi bersamanya, dan kemudian dibalas anggukan oleh pria itu.

 

Sejenak Se-Hun merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil pada Kang So-Hee. “Kami akan pulang naik taksi, mama bisa membawa mobilnya,” gumamnya lalu mengucap pamit sebelum akhirnya membawa Hee-Ra berjalan bersamanya.

 

Ia tak menggubris penolakan halus dari Hee-Ra saat tanpa izin menggenggam tangan gadis itu erat-erat. Se-Hun menarik Hee-Ra keluar dan berhenti di depan gerbang. Entah kenapa ia ingin menghibur gadis yang masih bersedih ini. Se-Hun merasa mendapat dorongan dari dalam hati yang terus merengek untuk dapat melihat senyum cerah Hee-Ra yang sempat hilang.

 

“Kau benar-benar mau pulang?” tanyanya dengan hati-hati sambil melepaskan tautan tangannya.

 

Hee-Ra membuang napas gundah, jelas sekali ia tak ingin pulang. Kembali ke rumah hanya membuatnya teringat pada mendingan ayahnya. “Entahlah.”

 

Seolah mendapat persetujuan, Se-Hun langsung menghentikan taksi yang melintas dan sekali lagi menarik Hee-Ra, “Ayo! Kau harus ikut denganku!” ucapnya penuh semangat yang semakin membuat Hee-Ra bingung.

 

Se-Hun menyebut nama suatu taman yang baru didengar Hee-Ra pertama kali. Sepuluh menit berlalu, mereka telah berdiri di depan taman yang penuh dengan bunga warna-warni, tidak hanya sakura, tapi juga mawar, lotus, daisy, tulip dan masih banyak lagi.

 

Taman tersebut dikelilingi sungai kecil yang dilengkapi dengan jembatan berpegangan kayu di sampingnya, tidak lupa sampan-sampan kecil di sebuah danau yang tepat berada di tengah taman semakin membuat menarik tempat ini.

 

Hee-Ra hanya bisa membulatkan mulutnya, selama tinggal di Korea, ia hanya pergi ke tempat itu-itu saja. Ia tak menyangka ada taman seindah ini di Seoul.

 

“Aku sering ke sini waktu kecil,” kata Se-Hun tanpa ditanya.

 

Masa kecil? Hee-Ra jadi penasaran seperti apa Se-Hun dulu. “Bersama ayahmu?”

 

Se-Hun menggeleng, tatapannya terfokus pada indahnya hamparan bunga, “Tidak. Aku sendiri.” Ia tak membiarkan Hee-Ra berpikir sejenak dan kembali menyahut, “Mau naik sampan bersamaku? Aku belum pernah menaikinya sejak dulu.”

 

Hee-Ra mengerutkan keningnya. “Kau serius? Bukankah kau sering ke sini dulu?”

 

“Faktanya, ya.” Ia menaikkan kedua bahu bersamaan dan membuang muka. “Aku selalu kemari sendiri dan waktu itu aku masih kecil. Petugas di sana tidak membiarkanku naik sampan sendirian,” jelasnya sambil menunjukkan barisan gigi rapinya. Se-Hun kelihatan sangat senang, dan hal tersebut mau tak mau berhasil membuat Hee-Ra ikut tersenyum, melupakan kesedihannya untuk sejenak.

 

“Ayo!” ucapnya penuh semangat, ia meraih tangan Hee-Ra dan mengajaknya berlari kecil ke danau.

 

Serius. Se-Hun yang biasanya arogan, beraura gelap, dan menyebalkan bisa begitu senang hanya karena menaiki sebuah sampan? Hee-Ra tak pernah berpikir hal kecil seperti ini ternyata berpengaruh besar bagi Se-Hun. Selama ini ia mengira bahwa dikelilingi gadis-gadis cantiklah yang akan membuat Se-Hun begitu senang, dan ternyata Hee-Ra salah.

 

Bahagia adalah saat melihat orang yang kau kasihi tersenyum bersamamu

 

Melihat antusias Se-Hun yang begitu besar kala mendayung sampan, membuat Hee-Ra tak mampu menahan tawanya. Lelaki otoriter ini berubah selayaknya bocah kecil hanya dalam sekejap. Dan tiba-tiba saja perasaannya menghangat. Entah sejak kapan, tapi bersama Se-Hun membuatnya begitu nyaman dan merasa terlindungi, bersama Se-Hun membuatnya perlahan terbiasa dan kemungkinan jatuh kembali dalam pesonanya, bersama Se-Hun membuatnya melupakan Jong-In begitu saja…

 

Mungkinkah Hee-Ra telah kalah dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk jatuh cinta pada Se-Hun, lagi?

 

Tidak! Hee-Ra tidak boleh jatuh cinta pada kakaknya sendiri. Perasaannya sudah jelas salah dan ia harus kembali memfokuskan diri pada Jong-In. Ya, untuk sejenak kelalaiannya membawa masalah. Tapi sungguh, jauh di hatinya yang paling dalam, ada secerca keinginan dimana Hee-Ra berharap bahwa Se-Hun bukanlah kakaknya…

 

Ia tahu kenyataan telah berkata lain..

 

Tapi mau bagaimana lagi?

 

Bukankah perasaan memang tak bisa dikendalikan?

 

Selesai naik sampan, mereka berjalan-jalan mengelilingi taman, memandang indahnya bunga yang tengah bermekaran. Padang sakura tak luput dari perhatian mereka, keduanya berdiri di antara bunga yang tengah berjatuhan tertiup angin semilir, lalu dalam satu kali tangkapan, Hee-Ra berhasil mendapatkan setangkai bunga sakura yang terjatuh.

 

Ada mitos tentang bunga sakura. Bila kau menangkap bunga sakura yang terjatuh, maka kau akan menikahi cinta pertamamu.

 

Hee-Ra tersenyum samar dan memandang Se-Hun diam-diam. Lalu beberapa detik kemudian ia tersadar tengah diperhatikan, keningnya mengerut penuh tanya, tapi Hee-Ra tak menjawab dan hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian berlari mendahului Se-Hun untuk duduk di bangku taman.

 

“Aku baru pertama kali ke sini.” Ia menengok ke arah Se-Hun yang baru duduk. “Terima kasih sudah menghiburku, aku senang bersamamu,” lanjutnya.

 

“Sebenarnya di sini akulah yang bahagia.” Se-Hun tertawa, sangat manis dan lepas begitu saja. Ia membalas tatapan Hee-Ra lembut, “Aku sudah berjanji pada papa akan selalu menghibur dan menjagamu. Aku senang bila kau juga senang.”

 

“Kau pernah berjanji seperti itu pada papa? Kenapa aku tidak tahu?” protesnya.

 

Se-Hun kembali tertawa, kali ini ia mengacak-acak rambut Hee-Ra penuh kasih sayang. “Tentu saja kau tidak tahu.” Ia berhenti sebentar dan mengusap pipi kanan Hee-Ra, “karena kau tidak pernah bertanya ataupun peduli padaku, Shin Hee-Ra.”

 

Skakmat. Hee-Ra memalingkan wajahnya karena malu. Ya, Se-Hun benar. Ia memang tak pernah peduli ataupun bertanya, tapi hal itu tidak dilakukannya tanpa alasan. Hee-Ra takut, ia sangat takut bila rasa pedulinya pada Se-Hun semakin berkembang hingga perasaan yang telah lama dipendamnya muncul kembali.

 

Sama seperti saat ini. Kepedulian yang diam-diam dirasakannya kembali menggugah kenangan manisnya dulu. Sampai-sampai Hee-Ra tak bisa menahan diri untuk sekedar berharap dan berdoa pada Tuhan. Ia tak paham akan dirinya sendiri, ia bimbang, sebenarnya siapakah yang dicintainya?

 

Jong-In atau Se-Hun?

 

“Shin Hee-Ra?”

 

Panggilan Se-Hun berhasil menyadarkan Hee-Ra dari lamunan sekilasnya. Ia melebarkan kedua matanya. “Ya?”

 

“Bisakah kau memandangku sebagai pria?”

 

“Apa?” Pria bagaimana? Apa sih maksudnya? “Aku tidak paham.”

 

Se-Hun terhenti sejenak, ditatapnya kedua mata Hee-Ra dalam-dalam. “Kurasa..aku mencintaimu, Shin Hee-Ra.”

 

Apa? Apa barusan yang ia dengar?

 

Memang selama ini Se-Hun selalu mengatakan Hee-Ra miliknya dan bersikap semaunya sendiri, memaksa Hee-Ra begini-begitu, tapi pria itu baru pertama kali mengatakannya, kalimat yang tiba-tiba saja menjadi sihir dan membuat Hee-Ra terlena. Matanya menelusuk, menemukan kejujuran pada kedua mata Se-Hun.

 

Pria itu serius dan tidak berbohong tentang perasaannya. Hee-Ra tahu itu.

 

“Aku tahu kau mungkin akan berpikir aku egois, dan kau pasti menolak karena status kita sebagai kakak-adik. Tapi bagaimana jika aku mengatakan bahwa kita memiliki celah yang membuatku sah-sah saja mencintaimu?”

 

Belum sempat menjawab, hal yang tak diinginkan kembali terjadi. Gerimis yang tiba-tiba saja mengguyur langsung membuat keduanya sedikit panik dan langsung berlari mencari tempat berteduh.

 

Kejadian alam yang seolah mewakili perasaan keduanya. Hujan semakin deras dan petir mulai menyambar-nyamar. Orang-orang yang semula ramai mulai beranjak pergi dengan kendaraan masing-masing, sementara Se-Hun dan Hee-Ra masih terjebak di sini.

 

Berteduh di depan halte bus dan berharap ada kendaraan yang lewat. Dinginnya tiupan angin merasuk dan menusuk kelit hingga ke tulang-tulangnya, memaksa Hee-Ra menyilangkan kedua lengan untuk menghangatkan tubuh.

 

Se-Hun rupanya memiliki rasa peka yang begitu sensitif, ia melepaskan jaket yang dikenakannya dan memakaikan pada Hee-Ra, kemudian merangkul gadis itu dengan tangan kirinya, mendekatkan tubuh mereka hingga saling bersentuhan.

 

“Kau akan kedinginan kalau memberikan jaketmu padaku..” protes Hee-Ra. Bibirnya mulai memucat.

 

Se-Hun menggeleng. “Tidak apa-apa, aku sudah biasa menahan dingin,” ujarnya berusaha meyakinkan Hee-Ra.

 

Tapi tubuh tak bisa bohong, semeyakinkan apapun Se-Hun berkata ia baik-baik saja, tubuhnya mengatakan hal lain. Hee-Ra bisa merasakan tangan Se-Hun yang mulai bergetar karena kedinginan.

 

Hee-Ra memutar otaknya dan teringat pada sesuatu. “Apa kau membawa ponsel?” tanyanya yang langsung dibalas anggukan oleh Se-Hun.

 

Pria itu buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku, namun gurat kecewa menerpa kala Se-Hun mendapati ponselnya low batt. “Bagaimana denganmu?”

 

Hee-Ra mendesah berat. “Aku tidak bawa, makanya tadi bertanya padamu.” Ia menghela napas. Harapannya untuk menghubungi sang Ibu dan berharap bisa dijemput langsung sirna. Terlebih lagi hawa dingin semakin memperburuk keadaan.

 

Pada saat darurat seperti ini, Hee-Ra tahu hal apa yang kemungkinan besar bisa menghangatkan keduanya. Tapi apa yang ada dalam pikirannya merupakan ide paling gila! Bagaimana kalau setelah melakukan itu Se-Hun akan berpikir bila Hee-Ra bukanlah wanita baik-baik?

 

Mendapati Hee-Ra terdiam dalam lamunan yang cukup lama, Se-Hun mulai khawatir. Ia memutar badan Hee-Ra ke arahnya dan menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya, kemudian menempelkannya pada pipi Hee-Ra. “Kau kenapa? Apa ada yang sakit?”

 

Tidak. Hee-Ra tidak sakit. Ia hanya sedang memikirkan apakah langkah yang diambilnya setelah ini memang benar?

 

“Aku tidak apa-apa.” Ia berhenti sebentar dan menutup kedua bola matanya sebentar sambil menggigit lembut bibir bawahnya. “Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar kita tidak kedinginan,” lanjutnya.

 

Se-Hun menyipitkan matanya. “Kau tahu caranya?”

 

Ya, aku tahu dan ini gila. “Kuharap kau tidak keberatan kalau aku melakukan ini.” Ia melepaskan kedua tangan Se-Hun yang masih menempel di pipinya, kemudian memindahkan lengan pria itu ke samping pinggangnya. “Karena mungkin kau tidak pernah menduga aku akan melakukannya.”

 

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Hee-Ra langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Se-Hun dan menarik wajah pria itu. Menempelkan bibir mereka dan berlanjut memberikan kecupan-kecupan manis sambil menutup matanya. Hee-Ra tak berani melihat ekspresi Se-Hun. Ia hanya terus bergerak, melumat lembut bibir manis pria dalam pelukannya, dan mendorong lidahnya dengan penuh berani untuk masuk ke mulut pria itu.

 

Awalnya ada rasa takut akan penolakan Se-Hun. Tapi nyatanya keadaan berkata lain. Hee-Ra merasakan tubuhnya mulai panas, ketersediaan Se-Hun untuk membuka mulut dan membiarkan lidah mereka beradu bersamaan dengan cecapan-cecapan manis merupakan pertanda bila pria itu menikmatinya.

 

Detik berikutnya, direngkuhnya pinggang Hee-Ra dengan erat dan menuntun gadis itu agar duduk di pahanya. Bibir mereka masih saling bertautan, kali ini giliran Se-Hun yang menjelajahi mulut Hee-Ra. Mereka saling menggigit lembut satu sama lain, lenguhan menikmati sesekali terdengar dari mulut Hee-Ra.

 

Sialan! Hee-Ra terbawa terlalu jauh dalam permainan ini! Dalam benaknya berputar pertanyaan, apakah alasannya melakukan hal ini karena membutuhkan rasa hangat atau karena keinginannya untuk memiliki Se-Hun diam-diam?

 

Hee-Ra tak tahu. Yang pasti ia sangat menikmati permainan Se-Hun. Dalam benaknya bergemuruh rasa ingin lebih atas pemberian Se-Hun. Tapi hal itu tidak mungkin. Bagaimanapun mereka berada di kawasan publik. Hee-Ra tak ingin terjerumus lebih dalam akan apa yang dilakukannya sekarang.

 

Perlahan, ia menjauhkan bibirnya dari bibir Se-Hun. Kening mereka masih bersentuhan, Hee-Ra hanya memberi jarak beberapa centi dari wajah Se-Hun. Telapak kanannya bergerak, ia mengusap bibir manis Se-Hun yang barusan telah dirasakannya dengan suka rela. Jujur, ada rasa senang dan puas dalam dirinya.

 

Senyum manis terukir pada wajah Se-Hun. Ia menjauhkan tangan Hee-Ra dari wajahnya, kemudian menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya. Dielusnya rambut belakang Hee-Ra sambil terus mengeratkan dekapannya.

 

“Aku sudah hangat sekarang..” Se-Hun agak terkikik. “Terima kasih sudah memberikanku kehangatan,” lanjutnya yang berhasil membuat pipi Hee-Ra memanas.

 

Jelas ucapan Se-Hun barusan menjurus untuk menggodanya. Tapi masa bodoh dengan semua itu, untuk kali ini saja biarkan Hee-Ra bersikap seperti ini. Biarkan ia melakukan apa yang dimau dengan tanpa beban. Karena sebesar apapun kekuatan yang ia keluarkan untuk menolak Se-Hun, pada akhirnya tubuhnya akan tetap kalah dan meraung bila Hee-Ra memang mengiginkannya.

 

Ia menginginkan Se-Hun untuk menjadi miliknya. Tapi tenanglah, Hee-Ra pasti akan kembali berusaha sekuat mungkin untuk menekan perasaan itu.

 

 

 

 

 

 

Nafsu adalah penggambaran dari rasa cinta yang lama terpendam.

 

Hee-Ra terbangun kala matahari telah berada jauh di atas. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh, dan ya! Ia memang kesiangan. Semoga masih ada sisa sarapan di dapur. Secepat kilat ia meraih handuk dan mandi dalam hitungan menit.

 

Lantas, Hee-Ra meluncur ke dapur, tersenyum senang ketika mendapati masih ada satu piring sarapan tersisa di sana. Perutnya keroncongan karena kemarin tidak sempat makan malam. Begitu sampai di rumah, ia langsung tidur.

 

“Tidur nyenyak, sayang?”

 

Hee-Ra hampir tersedak nasi yang barusan dikunyahnya. Ia segera meminum air dan memutar badan ke belakang, dilihatnya sang Ibu tengah berdiri sambil berkacak pinggang. “Pelan-pelan kalau makan, kau jadi tersedak, kan?” ujarnya lalu tertawa.

 

Well, ada rasa senang tersendiri melihat ibunya tertawa. Sepertinya keadaan sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, dan mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan lagi.

 

Hee-Ra mengerucutkan bibirnya beberapa saat sebelum melihat ke kanan-kiri dan bertanya, “Di mana Se-Hun? Aku tidak melihatnya sama sekali?”

 

“Dia keluar tadi pagi.”

 

“Keluar? Sendiri?”

 

“Begitulah.” Kang So-Hee duduk di samping Hee-Ra. “Tidak biasanya kau mencari Se-Hun. Ada apa, hm?”

 

Hee-Ra buru-buru menggeleng sebelum ibunya curiga, “Tidak apa-apa,” katanya. “Tunggu, dia pergi menggunakan mobil? Sementara kita hanya menyewa satu mobil?”

 

Lagi-lagi Kang So-Hee tertawa. “Tidak apa-apa, lagipula nanti paman dan bibimu akan datang kemari. Kita bisa pergi menggunakan kendaraan mereka, atau naik bus juga tidak masalah.”

 

Hee-Ra mengangguk setuju, keberhasilannya dalam mengalihkan pembicaraan patut diacungi jempol.

 

 

 

 

 

 

Masa lalu seharusnya dipandang sebagai pelajaran bagi Se-Hun. Tapi apa daya, hasrat untuk kembali menginjak rumah ini begitu besar. Ia menatap muak sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Seoul—rumah yang dulu ditempatinya bersama Oh Jae-Bum.

 

Sepertinya rumah ini tidak dijual, papan nama pemilik di depan pagar juga masih sama, tapi keadaannya kotor, sepertinya tidak dirawat, dan itu berarti Oh Jae-Bum kemungkinan tak pernah kembali ke sini.

 

Ia melangkah masuk secara hati-hati. Sarang laba-laba kelihatan hampir memenuhi setiap sudut rumah ini. Kaca penuh debu, lantai kotor, pintu tidak dikunci—ah bukan, yang lebih tepat, pintunya rusak.

 

Rasanya aneh, setelah sekian lama pergi dan kembali menginjak tempat bersejarah ini. Sakit hati akan masa lalu yang begitu perih seolah terkuak kembali. Goresan-goresan kekejaman sang Ayah yang selalu memaksakan kehendak dan tega menjual Se-Hun pada Bruce masih begitu tertanam.

 

Ingin rasanya Se-Hun menuntut balas, tapi apa daya, ia tak tahu di mana Oh Jae-Bum sekarang.

 

Ah, bagaimana kalau Se-Hun mencari tahu keberadaan orang itu? Yah, dia tidak terlalu suka menyebut Jae-Bum sebagai ayah. Sepertinya ide bagus! Mungkin sudah saatnya Se-Hun menuntut balas. Walaupun tidak sampai membunuh, memberi sedikit pelajaran pasti bukan masalah yang besar.

 

TO BE CONTINUED

 

 

Sorry for latepost soalnya aku lagi Ujian Sekolah dan besok mulai USBN hehe. Oh iya, karena cerita ini emang awalnya cuma mau aku post di wattpad aja dan tiba-tiba malah ngepost di wordpress juga, jadi aku bakal tetep ngikutin alur yang aku buat di wattpad, yaitu dengan banyak chapter, mungkin bisa sampe 30 atau 40.

 

Nah, aku gatau apa kalian terbiasa baca ff dengan chapter sepanjang itu. Jadi aku mau tanya, should i delete this fict from SKF? Atau dilanjutin sampe END?

 

 

Advertisements

87 responses to “[CHAPTER 20] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Gw paling suka sama chapter berkepanjangan/? Hahaha
    Entah kenapa lebih suka aja. Padahal panjang bgt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s