Hello School Girl [Chapter 34] ~ohnajla

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1-15 || Chapter 16-23 || Chapter 24-29 || Chapter 30 || Chapter 31|| Chapter 32 || Chapter 33 || Chapter 34

Jungkook menjadi orang kedua setelah Sena yang dipersilahkan masuk ke apartemen mewah milik Agust D.

Remaja itu tidak bisa menutup keterpanaannya melihat furniture-furniture mahal yang ada di apartemen tersebut. Duduk di sofa kesayangan Yoongi sambil menunggu Yoongi selesai ganti baju.

Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang bersama dua kaleng soda. Duduk di sebelahnya sembari menyerahkan satu kaleng soda.

Sekarang keterpanaan Jungkook beralih pada pria itu.

Yoongi sendiri dengan cueknya menikmati soda tanpa memedulikan tatapan meneliti remaja di sebelahnya.

“Mau ditutupi seperti apa pun, akhirnya aku akan ketahuan juga,” ucapnya sembari meletakkan kaleng soda di atas meja.

“Kau adalah orang keenam yang tahu rahasia ini,” lanjut Yoongi.

“Keenam? Siapa yang pertama?”

Yoongi pun menoleh. Seperti biasa, tatapannya datar. “Siapa lagi. Tentu saja roommate-ku.”

Jungkook tampak sangat terkejut sejak tadi. Bahkan di situasi ini dia tidak bisa membiarkan wajahnya tetap datar seperti biasanya. “Lalu yang lainnya?”

“Seokjin dan tiga sahabat Sena.”

Jungkook terdiam. Lantas membuang pandangan. Tak lama kemudian tersenyum miring. “Jadi selama ini kau sudah membohongiku? Bukankah seharusnya kau memberitahuku dulu setelah Sena? Hah. Kau benar-benar berhasil membodohiku. Bahkan sekarang aku tidak tahu harus memanggilmu bagaimana.”

Hanya deru napas yang terdengar di ruangan itu. Yoongi menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan. Hari ini benar-benar berada di luar rencananya. Dia sudah cukup tenang akhir-akhir ini karena si reporter itu sudah jarang datang ke sekolah lagi. Comeback pun sudah ada di depan mata. Dia hanya perlu mengosongkan pikirannya selama rentang waktu itu sebelum pikirannya dibombardir lagi dengan tetek bengek comeback yang ribetnya bukan main. Namun rencananya seketika hancur oleh satu masalah ini.

Andai tadi dia naik taxi, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.

Tanpa sekalipun menyentuh sodanya, Jungkook tiba-tiba bangkit.

“Terima kasih sudah mau memberitahuku. Meskipun … sebenarnya ini sudah sangat terlambat. Ya, aku sangat terkejut mendengarnya. Aku tidak menyangka kalau Min Yoonji yang selama ini kukenal sebagai seorang gadis ternyata adalah seorang pria.”

Jungkook mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Aku tidak akan membencimu, tenang saja. Tapi mungkin, akan sulit untukku bersikap seperti biasa setelah ini. Permisi.”

Tanpa harus mendengar penjelasan dari bibir Yoongi terlebih dulu, dia langsung pergi dari apartemen itu dengan sedikit tergesa-gesa. Bantingan pada pintu menjadi tanda kalau dia benar-benar angkat kaki dari sana.

Yoongi menghela napas.

Sekali lagi dia mengacak rambutnya.

Lalu menoleh ke kulkas.

Aku butuh soju.

Eomma!! Aku ingin pulang!”

“Aku sudah lelah dengan semuanya.”

Eomma bogoshippeo.”

Eomma~~”

Eomma! Kau sudah tidak sayang padaku lagi?”

Eomma kemarilah. I need you, mom. Peluk aku.”

“Kenapa eomma malah menanyakan Chanyeol?! Sebenarnya siapa sih anak eomma di sini?!”

Andwae!! Andwae! Jangan tutup teleponnya dulu. Eomma!!

Yoongi menatap ponselnya nanar. Ia pun menendang-nendang udara dengan kesal. Kemudian meraih botol soju yang masih ada dan meneguknya habis dalam sekali tarikan napas.

Ditiliknya lagi benda kotak ceper di tangannya, memilih-milih nama yang tersedia di kontak.

Babi

Perlahan ujung bibirnya terangkat. Tanpa pikir panjang dia langsung menekan nomor itu.

Yoboseyo.”

“Tahu saja kalau yang menelepon itu yeobo,” ucapnya ngelantur sambil mengambil botol yang lain.

“Yoongi Oppa? Kenapa suaramu seperti ini?”

“Kenapa ya … ummm….” Dia meletakkan telunjuk di bibirnya yang sedang mengerucut lucu. “Terlalu memikirkanmu mungkin.”

Ye? Kau sedang mabuk?”

Yoongi terkekeh tanpa alasan. “Tidak percaya sekali sih. Aku itu tidak mabuk. Aku hanya terlalu memikirkanmu, babi sayang. Kau tidak mau datang kemari? Aku sedang ingin dipeluk. Aku rindu pelukanmu yang hangat itu. Huwaaa!! Aku juga ingin mencium pipi gembulmu lagi.”

Di seberang sana, Sena sudah sangat yakin 100% kalau Yoongi benar-benar sedang mabuk.

Oppa, tunggu aku, eo? Aku akan ke sana sebentar lagi. Kau jangan tidur dulu.”

“Yeee!! Babi mau kesini!”

“Aku tutup dulu ya.”

Andwae! Jangan tinggalkan aku~”

Oppa….”

Andwae! Aku tidak mau sendirian lagi. Aku—HOEK”

OPPA!

Yoongi menepuk-nepuk dadanya untuk memaksa semua yang ada di dalam tubuhnya keluar. Dia bahkan tidak peduli kalau lantainya jadi kotor karena muntahannya.

Setelah puas mengeluarkan semua, dia pun kembali menempelkan ponsel di telinga.

Jagiya cepat kemari….”

Arasseo, aku sedang dalam perjalanan keluar dari sekolah. Sebutkan berapa nomor password apartemenmu.”

“Tanggal debutku.”

Arasseo. Tunggu aku, eo? Jangan minum lagi. Berbaringlah menyamping.”

Yoongi yang awalnya telentang pun reflek membetulkan posisi tidurnya menjadi menyamping. “Aku sudah tidur menyamping.”

“Bagus. Jangan minum lagi sampai aku datang.”

“Um….” jawabnya sambil mengangguk seperti anak kecil.

“Taxi!” Terdengar suara Sena yang sedang memanggil taxi. Yoongi tersenyum tipis. Mengaktifkan loudspeaker, meletakkan ponselnya di dekatnya sambil menunggu Sena datang.

“Sungai Han, Ahjussi.”

Oppa, kau masih di sana?”

“Um.”

“Benar tidak boleh dimatikan?”

“Um. Aku ingin mendengar suaramu.”

“Tapi perjalanannya lama sekali. Kau menyuruhku berbicara selama itu?”

“Kalau begitu menyanyi saja.”

“Suaraku jelek.”

“Aaaa~~ Pokoknya menyanyi. Ayolah Babi ~ menyanyilah~ babi oik menyanyi ~~”

“Tsk. Kau ini menyusahkan sekali kalau mabuk. Arasseo, aku akan menyanyi. Tapi jangan protes mendengar suaraku, eo?”

“Yeee!! Babi menyanyi. Oke, telinga oppa siap mendengarkan.”

“Ekhem. Ekhem.”

note: di play ya videonya ^^ atau dengerin aja lagunya Taeyeon – Fine ^^

jjijeojin jongisjogage
damanaen naui jinsime
seonmyeonghaejyeo somethin’ bout you

(Perasaanku yang sesungguhnya
Pada kertas yang basah
Semakin jelas sesuatu tentangmu)

 

Yeah nareul manhi talmeun deut dareun
neon hoksi nawa gateulkka jigeum
gwaenhan gidaereul hae

haru han dal il nyeonjjeum doemyeon
seoro dareun ilsangeul saraga

(Kita terlihat sama namun tetap berbeda bagaimana pun juga
Aku ingin tahu apakah kamu merasakan hal yang sama denganku
Tidak ada harapan namun aku tetap menginginkannya
Setelah hari, bulan, dan tahun berlalu
Kita akan tinggal di kehidupan yang berbeda)

 

naneun aniya
swipji anheul geot gata
yeojeonhagedo neon nae haruharureul chaeugo
ajigeun aniya
babocheoreom doenoeneun na
ipgae maemdoneun mareul samkil su eopseo
It’s not fine
Ah- Ah- Ah- Ah- It’s not fine

(Aku tidak
Aku tidak berpikir itu akan mudah untukku
Kamu tetap mengisi hari-hariku
Belum, aku belum
Aku mengulangnya seperti orang bodoh
Aku tak bisa menahan apa yang ingin bibirku ucapkan
It’s not fine
Ah- Ah- Ah- Ah-
It’s not fine)

 

meoril jilkkeun mukkeun chae
eojireoun bangeul jeongrihae
chajgo isseo somethin’ new

gakkeum ireohge gamdanghal su eopsneun
mworado haeya hal geosman gateun gibune
gwaenhi umjigigon hae

haru han dal il nyeon geujjeumimyeon
useumyeo chueokhal geora haessjiman

(Kembali mengikat rambut,
Aku membersihkan ruangan yang berantakan ini
Aku mencari sesuatu yang baru
Terkadang aku berpindah
Merasa aku tak dapat mengendalikannya
Atau mungkin aku harus melakukan sesuatu yang lain
Setelah hari, bulan, dan tahun berlalu
Kurasa aku dapat mengingatnya dengan senyuman)

 

naneun aniya
swipji anheul geot gata
yeojeonhagedo neon nae haruharureul chaeugo
ajigeun aniya
babocheoreom doenoeneun na
ipgae maemdoneun mareul samkil su eopseo
It’t not fine
Ah- Ah- Ah- Ah- It’t not fine

(Aku tidak
Aku tidak berpikir itu akan mudah untukku
Kamu tetap mengisi hari-hariku
Belum, aku belum
Aku mengulangnya seperti orang bodoh
Aku tak bisa menahan apa yang ingin bibirku ucapkan
It’s not fine
Ah- Ah- Ah- Ah-
It’s not fine)

 

uimi eopsneun nongdam, jugobatneun daehwa
saramdeul teume nan amureohji anha boyeo
mudin cheok useumeul jieo boimyeo
neoran geuneureul aesseo oemyeonhaebojiman

(Candaan yang tidak lucu dan ucapan ringan
Aku terlihat baik-baik saja di keramaian
Aku pura-pura baik-baik saja dengan senyuman di wajahku
Aku mencoba untuk tak memikirkan bayang-bayangmu)

 

uri majimak
geu sungani jakku tteoolla
jal jinaeran mari jeonbuyeossdeon damdamhan ibyeol
(Aku tak bisa menghentikan pikiran tentang kenangan terakhir kita
Semua adalah tentang ucapan “hati-hati”)

 

ajigeun aniya
babocheoreom doenoeneun geu mal
ipgae maemdoneun mareul samkil su eopseo
It’t not fine
Ah- Ah- Ah- It’s not fine Oh-
Ah- Ah- Ah- It’s not fine

(Belum, aku belum
Aku mengulangnya seperti orang bodoh
Aku tak bisa menahan apa yang ingin bibirku ucapkan
It’s not fine
Ah- Ah- Ah- Ah-
It’s not fine)

 

“B-bagaimana?”

Yoongi yang tanpa sadar memejamkan mata karena menikmati suara lembut Sena pun membuka matanya perlahan. Dia menyelipkan lengannya di bawah kepala. Tersenyum tipis menatap layar ponselnya yang masih setia menyala.

“Suaramu bagus….”

“Benarkah?”

“Um. Seperti babi.”

“Aish, orang ini.”

Yoongi terkekeh pelan. “Kau sudah sampai di mana? Lama sekali.”

“Ah aku—Ya, pak, berhenti di sini saja. Ini. Aku sudah sampai di depan apartemenmu. Ah ya, terima kasih.”

Ppali~”

“Ini di lift.”

“Sekarang di mana?”

“Baru sampai lantai lima.”

“Lama sekali sih?” erang Yoongi sambil menendang-nendang udara lagi.

“Sudah di lantai sepuluh.”

“Huuuuh! Dwaeji bogoshipda! Uri dwaeji bogoshipda!!”

Aigoo … bersabarlah sedikit. Lima lantai lagi sampai.”

“Lama~~~ Heaaaargh!! Ppali! Ppali!!”

TING!

“Aku sampai—TUUT”

Sambungan pun terputus begitu terdengar suara unlock dari pintu.

Dengan senyum merekah di wajah mabuknya, Yoongi pun bergegas turun dari sofa dan menyeret kakinya mendekati pintu. Dia berhenti di ambang lorong begitu melihat Sena yang buru-buru melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia pun merentangkan tangannya, menyambut kedatangan gadis itu.

“Astaga, sudah berapa banyak yang kau minum?”

Yoongi maju dua langkah untuk mencapai Sena. Dia mengunci gadis itu di pelukannya, mencium pipinya dengan mesra. “Wasseo?

Sena balas memeluk Yoongi meskipun dia sedikit tidak tahan dengan bau alkohol yang sangat menyengat. “Ada apa, huh? Kenapa kau bisa sampai mabuk seperti ini? Bukankah seharusnya aku yang desperate hari ini?”

Yoongi tersenyum getir. Menikmati sekali saat kepalanya bisa bersandar nyaman di bahu Sena. “Aku sangat merindukan pelukanmu, Babi. Kapan terakhir kali kau memelukku? Sebulan lalu? Ah … molla. Aku lupa. Hm … aromamu tetap sama. Babi jeruk. Aku suka bau babi.”

Mereka nyaris saja jatuh karena tiba-tiba Yoongi hilang kesadaran untuk sesaat.

“Ayo kuantar ke kamar.”

Yoongi menurut saja saat Sena memapahnya ke kamar. Gadis itu membaringkannya di ranjang dalam posisi miring, lantas menyelimutinya.

“Kau tidak mau tidur di sini juga? Tempatnya masih luas. Sangat cukup untuk babi cantik sepertimu. Sini, sini. Ke pelukan oppa.”

Sena menggeleng prihatin sambil menurunkan tangan Yoongi. “Tidak. Aku tidak akan tidur malam ini. Kau mabuk parah, Oppa. Aku harus berjaga untuk mengurusmu.”

Mendengarnya membuat pria itu mengerucutkan bibir. Nyaris saja dia kehilangan kesadaran, tapi setelah itu dia memaksa membuka mata merahnya lagi, menatap Sena dengan senyuman bodoh.

“Aaa yeppeuda. Kau terlihat seperti dewi … dewi hatiku.” Pria itu terkekeh sendiri setelah menunjuk letak jantungnya sendiri. Sena menggeleng prihatin meskipun tetap mengulum senyum.

“Sepertinya mabuk juga membuatmu amnesia parah. Kau sudah lupa apa yang kau katakan padaku beberapa jam lalu?”

Ani. Aku tidak lupa. Aku ingat kalau aku bilang, aku mencintaimu, Babi.”

Sena menangkup wajahnya sambil meletakkan siku di permukaan kasur. “Sangat sulit memahamimu, Oppa.”

“Oh ya? Aku ingat, dulu, eomma pernah bilang kalau pikiranku itu rumit seperti labirin. Dia ibu kandungku tapi dia sendiri sulit memahamiku. Dan kau juga tidak bisa memahamiku. Apa jangan-jangan kau dan ibuku itu sehati? Kalau itu benar … wah … aku tidak salah memilih seorang yeoja.”

Sena meletakkan tangan kirinya di pipi Yoongi. Mengusap-usapnya pelan yang perlahan membuat Yoongi melayang. “Semakin banyak yang kau bicarakan, aku semakin tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Beberapa jam lalu kau seolah membenciku, tapi sekarang kau terlihat sangat mencintaiku. Aku harus mempercayai yang mana? Kau membuatku bingung, Oppa.”

Yoongi meletakkan tangannya di atas tangan Sena. Memejamkan mata menikmati sentuhan yang diberikan gadis itu. “Percayalah kalau aku adalah pembohong yang ulung, Jagiya. Aku sudah terbiasa berbohong. Aku berbohong pada perasaanku sendiri. Berbohong pada orang lain. Berbohong tentang semuanya. Jangan pernah mempercayaiku….”

“Satu kata pun.”

Detik itu juga Yoongi jatuh tertidur. Masih dengan tangannya yang memegang tangan Sena.

Sementara tangan mungil itu sudah berhenti bergerak. Beralih menggenggam tangan kurus kekar milik Yoongi. Mengelus bagian punggungnya pelan. Kemudian meletakkannya dengan nyaman di atas ranjang.

Dia sendiri mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Menjangkau pipi berisi Yoongi dengan bibirnya.

Jalja….”

Paginya Yoongi terbangun. Dia mengerjap-ngerjap sebentar sambil merentangkan sendi-sendi tangannya. Selang beberapa detik kemudian dia bisa merasakan pening yang sangat di kepala. Ia mendesis lirih. Mengurungkan niat untuk membalik badan. Kemudian dia pun sadar kalau ada seseorang yang tidur di dekatnya. Ia pun memaksakan kedua matanya untuk terbuka lebar, mengamati kepala siapa yang berbaring nyaman di depannya.

Senyumnya pun merekah saat orang itu bergerak pelan mencari kenyamanan.

Ia menggunakan tangan kanannya sebagai bantal sementara tangan kiri menyentuh rambut navy black itu. Mengelusnya pelan, tanpa sekalipun melunturkan senyum di wajahnya.

Mungkin Sena sedikit terganggu dengan itu. Beberapa menit kemudian dia bangun.

“Oh Oppa. Kau sudah bangun?” Dia segera mengangkat kepalanya untuk menguap lebar. Bibirnya mendesis lirih tatkala ia merasakan sakit di bagian leher.

“Sakit, eh?” tebak Yoongi begitu melihat ekspresi Sena. “Bukannya kemarin sudah kubilang untuk tidur di sini saja?”

Sena berdecak. “Katamu aku bukan siapa-siapamu. Untuk apa juga aku tidur di sebelahmu? Tch, aku tidak segampang itu, Tuan.”

Yoongi tersenyum getir. Ah ya … dia baru sadar kalau kemarin dia bicara begitu pada Sena. Syukurlah, Sena tetap mau datang kemari untuknya meskipun dia telah menyakiti gadis itu.

Mianhae.”

“Simpan kata itu untuk lima tahun ke depan, Oppa. Aku yakin setelah ini kau pasti akan berusaha mendorongku pergi lagi. Kau ini adalah tipe yang seperti itu. Sulit dimengerti.”

Yoongi terkekeh pelan. “Kau mengenalku lebih baik dariku sendiri.”

Sena hanya manyun. Memilih untuk tidak ambil pusing dengan semua pujian Yoongi lagi. Semalam setelah merenung, akhirnya dia memutuskan untuk tidak lagi bersikap agresif. Ini saatnya Oh Sena menjadi Oh Sena yang sebenarnya. Dingin dan sulit didapatkan.

Gadis itu menoleh saat Yoongi mengelus pipinya. Dia berusaha terlihat cool meski sebenarnya dia memekik riang dalam hati.

“Aku paling tidak bisa mengungkapkan perasaanku melalui kata-kata, Sena. Aku tidak seperti Seokjin yang gampang menyuarakan isi kepalanya. Aku juga tidak seperti Hoseok yang bisa menuangkan perasaannya lewat sebaris puisi. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan semua. Aku juga menyukaimu. Tapi di satu sisi aku ingin kau pergi dariku. Kau tidak boleh bersamaku. Benar-benar tidak boleh, Sena. Aku tidak mau kau terlibat dalam berbagai permasalahan rumit seperti yang kuterima selama ini. Kau harus tetap seperti ini, selamanya seperti ini. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan semua tekanan-tekanan yang kudapat selama ini. Kau harus bahagia. Bahagia tanpa harus memikirkan orang lain, memikirkan … aku.”

Mata Sena sudah memanas. Dia langsung membuang pandangan sebelum air matanya jatuh.

Yoongi masih saja mengelus pipi Sena. Hati-hati, seolah dengan menekannya hanya akan merusak pipi putih itu. Dia pun juga sama. Matanya mulai berkaca-kaca. Berkedip sekali saja mungkin cairan bening akan mengalir turun dari sana. Dia masih tersenyum. Berlagak seolah dia baik-baik saja.

Arasseo. Mulai detik ini aku akan berusaha untuk benar-benar mengikis perasaanku. Aku tidak akan mengganggumu lagi, tidak akan memaksamu lagi, tidak akan meminta apa pun darimu lagi. Aku hanya akan melupakan semuanya dan kembali seperti saat aku belum mengenal siapa dirimu sebenarnya. Bukankah kita ini ditakdirkan bertemu hanya untuk menjadi orang asing?” Sena tersenyum miring saat mengatakan kalimat terakhir. Yoongi mengangguk pelan.

“Kalau begitu, mari kita berjanji untuk saling melupakan satu sama lain. Pinky swear.”

Yoongi terkekeh pelan. Ia pun menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil Sena.

Melihat kedua kelingking saling bertautan, mereka pun tertawa. Miris.

TBC

Advertisements

20 responses to “Hello School Girl [Chapter 34] ~ohnajla

  1. Sediiih 😭😭😭
    Ini detik” menuju ending kenapa sedih begindang. Akankah sad ending? Andwaeeee 😭😭😭😭
    Kak…belum rela tamat 😭

      • Tapi iya sih. Yoongi kiyowo banget. Apalagi pas dia bilang “yeobo” padahal sena bilang “yeoboseyo” … Gebleeek 😂😂😂.. Akibat saking kangennya sama Sena kali yaa.
        Dan apaaan??? Babi jeruk 😂😂😂😂😂
        Demi Tuhan kak 😂😂😂

  2. 😢😢😢😢 sedihhh bgt sihh…mereka harus mengorbankan perasaan mereka masing2..knp sih yoongi susah bgt ihhh..ttp adja menyakiti hati mereka sendiri…

  3. Jadi penasaran bsk endingnya kek gimana
    Sedih seriusan mereka janji kek gitu 😭😭😭
    Sena yoongi yang sabar nak ini ujian..
    Good eonni daebak bikin hati ini kebawa suasana..

  4. Sedih…hikssss,knp ky sad ending ya…astaga yoongi mabuk,tp lucu ngeracau babi segala..mngkn isi sbnrx isi hati yoongi,cm sulit d pahami orang lain,sena semoga semakin memahami yoongi…yoongi curcol ya,biasax orng mabuk itu jujur lo..wah thor lucu saat yoongi mabuk,dpt banget…

  5. terkadang klo mabuk emg biasanya isi hati yg sbnernya bkl terungkap yee… tpi ko mlh sad ending trz tbc… ah…. jdi baper klo dsruh nglupain smwnya… sena berjuanglah… huhuhu😢😢

  6. rumit ya beneran rumit ga ngerti akutu maunya saling melupakan tapi aku yakin hati mereka ga pengen ky gitu. yaampun:”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s