Stay [Chapter 1] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Chapter 1

“… Pukul sembilan pagi menghadiri rapat divisi, pukul sebelas menghadiri perjamuan makan siang dari Tuan Kim, pukul satu siang menghadiri rapat eksekutif, pukul tiga sore melakukan kunjungan ke hotel, pukul lima sore melakukan wawancara, pukul tujuh malam menghadiri perjamuan makan malam dari Tuan Byun dan itulah semua jadwal Anda hari ini, Nyonya.”

Seorang wanita dalam balutan setelan formal, sejak tadi tampak memijat dahinya sambil duduk santai di kursi kerjanya saat mendengarkan sang asisten berbicara. Ia pun menengadahkan tangan kanannya, meminta si asisten untuk menyerahkan daftar jadwalnya hari ini.

“Terima kasih atas infonya, Nona. Kau dipecat.”

Si asisten bertubuh jangkung dengan tampang nyaris menyerupai mannekin langsung membelalak setelah mendengar kalimat bosnya. “A-apa, Nyonya?”

“Kau dipecat,” ulang wanita itu sambil membaca ulang tulisan-tulisan di daftar jadwalnya.

“T-tapi Nyonya … saya baru bekerja tiga hari di sini….”

Gerah mendengar suara si asisten, wanita itu pun mendongak dengan alis di tengah. “Kau ini banyak bicara sekali ya. Memangnya kenapa kalau kau baru bekerja tiga hari? Ini perusahaanku. Terserah aku lah mau memecatmu kapan pun. Kerjamu tidak becus begini.”

“Nyonya—”

“Bukankah sejak awal sudah kubilang kalau aku paling tidak suka jadwal yang padat?” potong wanita itu tanpa berkeinginan sedikitpun mendengar protes bawahannya. “Kemarin-kemarin pekerjaanmu sudah sangat bagus. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba begini? Jadwal macam apa ini yang kau buat? Kau mau aku mati muda?!”

Gadis mannekin itu langsung tertunduk dalam setelah mendengar suara tinggi bosnya. Baiklah, dia mengaku salah. Daripada hari kemarin, jadwal hari ini memang terbilang penuh dari pagi sampai malam. Tapi dia sudah melakukan yang terbaik untuk mengatasinya. Sayangnya, bagi bos-nya itu tidak membantu sama sekali.

“Sekarang juga kemasi barang-barangmu. Kau akan tetap kuberi gaji sebesar gaji bulanan meskipun kau baru bekerja dua hari di sini.”

Kalimat yang bersifat final itu pun mengantarkan gadis tersebut keluar dari ruangan bos-nya. Dia membuka dan menutup pintu dengan pelan, mulai terisak saat mengemasi semua barang-barangnya. Baru tiga hari dia berbahagia karena diterima bekerja di perusahaan besar, sekarang dia sudah ditendang keluar hanya karena pekerjaannya yang menurut sang atasan kurang maksimal.

Sementara itu, wanita muda yang menjabat sebagai bos di perusahaan itu meraih horn teleponnya. Ditekanya angka satu lama, menunggu sebentar, sebelum akhirnya tersambung ke jaringan di seberang sana.

“Carikan aku asisten yang baru.”

Tanpa perlu berbasa-basi lebih lanjut, ia pun langsung menutup sambungan.

Kembali menyandarkan punggung dengan nyaman.

“Aaaaaaaaaah!! Mannekin sialan!”

Dia pun mendengus kasar.

Gara-gara jadwal yang dibuat mantan asistennya, hari ini dia harus rela dijebak dengan berbagai jadwal yang saling berhimpitan. Padahal rencananya hari ini dia akan pulang lebih awal. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan bersama seseorang. Tapi sialnya semua itu harus dibatalkan karena jadwal padat menyebalkan ini. Ugh….

Wanita itu pun memutar kursinya menghadap dinding kaca di seberang meja kerjanya. Dari sini dia bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang seolah berlomba-lomba menyentuh langit. Bukan pemandangan yang menarik memang. Langit biru saja hanya terlihat 30% dibanding gedung-gedung tingginya. Mungkin di malam hari pemandangannya akan begitu indah. Tapi pagi hari, pukul 8 seperti ini … apanya yang indah? Yang ada dia justru makin stress.

CKLEK.

Suara ketukan sepatu terdengar makin dekat. Wanita itu terlalu malas menoleh hanya untuk memastikan siapa yang datang. Lagi pula siapa lagi yang datang tanpa mengucapkan salam?

“Kudengar kau memecat asisten lagi.”

“Hm.”

“Sekarang kenapa lagi, huh?”

Wanita itu pun memutar kursinya. Menatap seorang pria berkulit pucat menjulang tinggi yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.

“Dia tidak becus.”

Pria itu meraih lembar jadwal di atas meja. Mengamatinya sebentar. “Ini bahkan tidak sepadat milikku.”

Wanita itu manyun. Mendorong tubuhnya ke depan, meletakkan kepalanya di atas lengan kanannya yang terentang di atas meja. Kertas jadwalnya sudah kembali ke atas meja. “Tapi aku tidak suka, Ayah. Aku sudah berencana pulang lebih awal hari ini.”

Pria yang dipanggil ayah itu membenarkan letak papan nama di atas meja. Bertuliskan Oh Se Na (General Manager). “Memang kau sedang merencanakan apa?”

“Kencan.”

Oh Sehun, ayah dari Oh Sena, seorang presdir perusahaan sekaligus pemilik, mengangkat alis tebalnya mendengar penuturan putri semata wayangnya. “Kencan dengan siapa?”

“Tentu saja kekasihku, Ayah. Memangnya siapa lagi?” seru Sena sedikit gemas dengan pertanyaan ayahnya.

“Oh. Kupikir dengan gulingmu. Siapa kekasihmu? Kenapa tidak pernah memberitahuku?”

Gadis itu berdecak. “Bagaimana mau memberitahu? Ayah selalu sibuk. Jadwal kita juga tidak pernah sama.”

“Sekarang beritahu ayah. Siapa dia?”

Sena memilin-milin kertas berkasnya. “Sebenarnya … bukan pacar juga sih. Hubungan kami terlalu rumit. Dia ini….”

Tenggorokkannya mendadak tercekat. Dia kesulitan melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja otaknya memutar kenangan lamanya. Ia tersenyum tipis. Tidak menyadari tatapan heran dari sang ayah yang meskipun sudah hampir kepala 5 tapi tetap terlihat muda seperti pria berusia 20 tahun.

“Dia kenapa?” tanya Sehun tak sabaran.

Sena pun mengangkat kepalanya. Menatap sang ayah dengan senyum yang cerah namun sendu di matanya. “Tidak kenapa-napa.”

Oh Sena menginjak usia 23, tahun ini. Dia telah diangkat sebagai general manager di Oh Corp tahun lalu, tepat setelah dia menyelesaikan studinya dalam bidang manajemen. Oh Sena tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik, dewasa dan cukup berpotensi. Rambutnya kini dipotong bob sebahu dengan tetap mempertahankan warna tak alami navy black tapi telah merubah ketidakteraturannya menjadi rambut yang lurus.

Ada rencana untuk melanjutkan studi ke S2. Tapi dia belum memutuskan dalam bidang apa. Yang pasti dia tidak akan memilih manajemen lagi, karena dari perjanjiannya dengan sang ayah dia bisa memilih bidang favoritnya setelah lulus S1.

Tapi meskipun Sena sudah begitu banyak berubah secara fisik, bukan berarti dia juga banyak berubah secara kepribadian. Oh Sena tetaplah Oh Sena. Angkuh, suka seenaknya sendiri, random, berlebihan.

Sejak dia bekerja di perusahaan ayahnya, tidak pernah ada satu pun asisten atau sekretaris yang bekerja lebih dari seminggu dengannya. Lima hari kerja, ditendang keluar. Tiga hari kerja, dipaksa mengundurkan diri. Bahkan ada juga yang belum 24 jam kerja sudah dipecat. Semua masalahnya hampir mirip. Mereka telah membuat jadwal padat yang sangat dibenci oleh Sena.

Gadis ini benar-benar tidak suka dengan jadwal padat ataupun aturan yang sangat mengekang. Beruntung presdir perusahaan adalah ayahnya sendiri, kalau bukan mungkin saja nasibnya tidak jauh beda dengan para asistennya yang lalu.

Dan karena ulah Sena itulah, perusahaan selalu ramai oleh para pelamar kerja. Banyak yang menginginkan posisi itu meskipun mereka tahu kalau menjadi asisten Sena tidaklah semudah kelihatannya.

Di sinilah sekarang dia. Mengamati satu persatu dari beberapa berkas CV para pelamar kerja. Sebenarnya tidak ada kriteria tetap dari yang Sena inginkan. Gadis itu random. Selalu melihat apa saja yang berbeda dari para pelamarnya. Yang terlampau biasa seperti menyertakan nilai IPK, prestasi nonformal dan antek-antek wah yang sebenarnya tidak penting untuknya, langsung diabaikan tanpa dibaca lebih lanjut.

“Ini kenapa semuanya biasa saja? Tidak ada pelamar yang lain?” cicit Sena setelah beberapa menit dihabiskan hanya diam sambil membaca satu-persatu CV para pelamar.

Yoon Heejoo, manajer bawahan Sena dalam bidang SDM menggaruk tengkuknya gugup setelah mendengar kalimat Sena. “Sebenarnya itu sudah yang terbaik dari yang lain.”

Sena menghela napas kasar. Dia yang awalnya sudah malas sekarang makin malas saja mengecek semua CV itu. “Kenapa semakin hari semakin buruk saja sih SDM Korea? Aku itu tidak peduli berapa nilai IPK kalian! Aku juga tidak butuh prestasi nonformal kalian! Mau kalian sudah pernah jadi asisten sebelumnya aku juga tidak peduli! Ssshh! Mereka pikir semua itu akan membuatku terpukau? Dalam mimpi kalian, Ladies and gentleman.”

Heejoo hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tindak Sena ini sudah tidak aneh lagi baginya. Meskipun sudah tidak ada kasus bullying lagi yang dilakukan Sena padanya, sikap Sena yang suka bicara pedas dan seenaknya sendiri tetap ada sampai sekarang. Selulus SMA mereka bahkan terus bersama-sama karena secara mengejutkan mereka diterima di kampus yang sama, pun dengan jurusan yang sama pula. Dan sekarang, mereka bekerja bersama di perusahaan ini.

Sampai di berkas terakhir, mata malas Sena mendadak berbinar. Kedua alisnya terangkat tinggi saat membaca nama dan foto si pelamar. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia pun mengucek kedua matanya dan membacanya ulang. Tulisan dan gambar itu tetap tidak berubah. Ia pun beralih menatap Heejoo yang sejak tadi menunggunya dengan sabar.

“Ini … benar dia?”

Heejoo mengangguk. “Ya, dia datang sendiri menyerahkan berkasnya.”

Sena meneliti ulang berkas itu.

Tidak ada nilai IPK yang tertulis. Prestasi nonformal juga kosong. Prestasi lain juga tidak ada.

Sempurna.

Hanya tertulis data diri serta riwayat sekolah. Selain itu tidak ada.

Matanya yang berwarna kecokelatan berhenti pada tulisan nama SMA si pelamar yang dicetak dengan huruf tebal.

Ia mendengus geli.

“Oke, aku terima yang ini.”

Tiga hari setelah asisten manekin itu dipecat, asisten baru Sena pun memulai hari pertamanya kerja. Seperti ketentuan perusahaan, orang itu datang 30 menit sebelum pukul delapan untuk mulai menata jadwal atasannya hari ini. Dia tampak begitu rapi dengan kemeja putih yang bagian lengannya digelung sampai siku serta celana kain panjang. Ya, dia adalah seorang pria. Asisten baru yang dipilih Sena adalah seorang pria, pria pertama dari sekian banyak asisten yang Sena punya dulu.

Sementara itu Sena sendiri datang tepat pukul delapan. Dia tidak memakai setelan formal seperti biasanya. Kali ini atasannya berbahan kaus berwarna abu-abu gelap, yang hanya dipadukan dengan skinny jeans dan sepatu berwarna hitam. Penampilannya terbilang cukup simple. Terlebih dia hanya memakai kalung sebagai aksesorisnya.

Jalan menuju kantornya tentu saja melewati meja asistennya. Di sanalah dia bertemu dengan pria itu.

“Selamat pagi.”

Sena tersenyum geli dengan sapaan asisten barunya. “Pagi. Wah … kau tampan sekali dengan setelan itu, Tuan.”

Pria itu pun mengangkat kepalanya. Tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi kelincinya sebelum membalas ucapan Sena. “Kau juga, bos. Apakah ini karena kita sudah lama tidak bertemu?”

Sena pun memukul pelan lengan kekar pria itu. “Kau ini bicara apa sih. Geumanhae. Kutunggu di mejaku sepuluh menit lagi.”

“Siap!”

Gadis itu terkekeh melihat asisten barunya yang memberinya hormat ala tentara. Ia pun menepuk-nepuk bahu pria itu sebelum melenggang ke kantor.

Sepuluh menit kemudian, dia benar-benar datang ke kantor Sena sembari membawa daftar jadwal hari ini.

Sena menyambutnya dengan hangat.

“Oke Tuan asisten, mari kita lihat bagaimana cara kerjamu di hari pertama.”

Pria itu mulai memanaskan pita suaranya, kemudian membacakan serangkaian jadwal Sena hari ini.

“Karena Anda bilang Anda tidak suka dengan jadwal yang padat, maka saya membuat jadwal terbaik untuk Anda hari ini.”

Sena mengangguk, menyuruh pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Pukul sembilan rapat komisaris. Satu jam setelahnya yaitu pukul sepuluh wawancara. Pukul sebelas menghadiri pesta pernikahan Jung Hoseok. Pukul satu siang, istirahat makan siang. Pukul dua siang memantau Hotel B. Pukul empat sore rapat divisi. Pukul enam sore menghadiri makan malam dengan Tuan Kim. Dan itulah jadwal Anda hari ini, Nyonya.”

Sejak pria itu bicara sampai sekarang sudah selesai, Sena tak henti-hentinya membuka mulut lebar-lebar. Dia benar-benar tidak percaya apakah dia harus senang atau sebaliknya memiliki asisten seperti pria ini. Apa-apaan?! Jadwal yang dibuatnya jauh lebih mengerikan daripada jadwal yang dibuat si manekin.

Yaa … kau … Ini baru hari pertamamu kerja. Bagaimana bisa kau memberiku jadwal sebanyak itu?”

Pria itu tetap memamerkan senyumnya. Meletakkan lembaran jadwal dengan sopan ke atas meja. “Saya sudah melakukan yang terbaik, Nyonya. Mengingat hari-hari kemarin Anda selalu menghindari pemantauan di Hotel B, maka saya meletakkan jadwal itu hari ini.”

“Tapi—”

“Tuan Kim juga terus melayangkan protes pada Anda karena tidak segera menerima tawaran makan malamnya. Jadi untuk menghindari relasi yang buruk dengan JM Group, maka saya pun menerima tawaran beliau.”

Speechless. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Sena sekarang.

Demi apa dia malah jadi pihak yang kalah dari si asisten.

Matanya terus terpaku pada lembaran jadwalnya hari ini.

Sementara pria itu menatapnya dengan puas.

“Anda tidak bisa memecatku, Nyonya.”

Sena menggulirkan matanya pada pria itu. “Maksudmu?”

“Oh? Anda tidak tahu? Tadi pagi Presdir bilang pada saya kalau saya harus bekerja di sini minimal enam bulan, Nyonya. Beliau bilang, kalau Anda ingin memecat saya, maka Anda harus mendapat persetujuan darinya dan harus dengan alasan yang masuk akal.”

“Ayahku bilang begitu?”

Pria itu mengangguk yakin. “Kalau Anda tidak percaya, silahkan saja tanyakan pada Manajer Yoon.”

Sena tentu saja tidak percaya begitu saja. Buru-buru dia menelepon Heejoo, memastikan kebenaran dari yang diucapkan pria itu.

Dan benar saja. Heejoo bahkan sudah mendapat surat perubahan peraturan itu dari Presdir sendiri.

Bahu Sena pun langsung jatuh. Dia menutup telepon dengan lesu.

“Jadi … bagaimana kalau kita mulai bersiap untuk rapat, Nyonya?”

“Diam kau, Kook. Aku benci padamu.”

Asisten baru yang tak lain adalah Jeon Jungkook, teman masa SMA-nya sendiri sekaligus teman sekampusnya itu terkekeh mendengar suara ketus Sena. Ia pun meletakkan tangan besarnya di atas kepala gadis itu. Mengusapnya pelan. Namun langsung ditepis kasar oleh Sena.

“Kau memilih asisten yang tepat, Sayang.”

TBC

Jeng jeng! inilah dia HSG Book 2 yang aku bilang :”) gimana? sreg apa enggak di hati? atau justru ga menarik lagi gara2 tokoh utama cowonya bukan Yoongi lgi? :”) kalo emang enggak sreg sih, ntar tak rombak lagi deh :”) demi pembaca :”) aku juga bingung kenapa tiba2 muncul ide kalo book 2 ngga usah ngejelasin hubungan Seyoon lagi :3 dan gini deh hasilnya. tokohnya malah jungkook XD maafkan author yg sangat mencintai yoongi sampai2 author ga mau yoongi jadian sama sena :”3

Advertisements

25 responses to “Stay [Chapter 1] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Entah lah kak. Sebelum falling in love ke suga, aku awalnya nge bias si jungkook. Tapiiii… Kenapa aku tidak ikhlas kalau sena ga jadi sama suga. Sena suga forever pokoknya..
    Daaaaaan….bukankah dlu jungkook prnah bilang ke sena “aku menyesal pernah menyukaimu” … Waeee??? Kenapa Jk plan plin???? 😂😂😂😂

  2. Sayang?Jungkook sena pacarankah?serius?
    Aku kira bakal lanjut hubungan sena yoongi eonni huhuhu
    Tapi aku ngikutin cerita eonni, soalnya inikan pure ide eonni, aku akan tetap mendukung eonni
    Tapi blm bisa move on dari yoongi sena hehe
    Semangat eonni
    Aku bakal nunggu karya” eonni

  3. Jadi sena sm jungkook skrng? Apa gmn sm yonggi tuh? Trs ceritain dong kok bs sm jungkook setelah sm yonggi. 😂

    Sejujurnya dari dulu suka couple setae sih, taehyung keliatan gentle bngt, tp image sena yg skrng yg suka ceplasceplos ga cocok sm image setae yg kalem feminim gt :”)

    • gimana sena bisa sama jungkook, itu dijelaskan di chapter selanjutnya :”)
      Sena itu fleksibel XD dia bisa kalem, bisa ceplasceplos, bisa swag, tergantung pada siapa kapelnya :v

  4. Aku pikir itu yoongi dan ternyata itu jungkook. Terus gimana kelanjutan hubungan sena dan yoongi. Heejo juga jadi karyawan dan teman sena.
    Next nya ditunggu *maaf baru bisa komen di sini, mianhae*

  5. Suka kak thor, tp masih gk rela sih klo sena sama jungkook, pengennya sama yonggi. Tapi daripada sena nunggu yg gk pasti ya mending gini. Hehehe lanjut kak thor 😀

  6. Oohh jungkook ternyata maincast y..g pa2 deh ma jungkook juga..wahh sena kejam sekali hihihi..suka..suka ko…

  7. Gue kira bakalan yoongi lagi. Jk gpp lah, kalo emang cocok, tpi udh srek sama yoongi. Next chap ~

  8. Kaget banget klo si cowok adalah jongkook,q pikir yoongi…q kira yoongi sdh ngak jd artis lg,jd ngelamar asisten sena..tp ngak apa thor,walaupun begitu yoongi harus tetap muncul d cerita ne,q biaa jongkook jg kok

  9. Yaampun ganyangka kalo ternyata itu Jungkook 😀 😀 Ini udah bagus kok, udah bagus 😀 Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk menulis kak 😀
    Semangat buat chapter selanjutnya heheh

  10. Bagus kok… bagus.. book 2 cerita 2 donk… kisah sebelumnya kan udh the end..
    Tp kasih flashback donk.. knp sii jongkook suka bgt am sena?
    Bukanx mreka berpaling k yoonji smw?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s