The Great Escape — by echaakim

The Great Escape
© echaakim 2017

1535 wordcount with RV’s Yeri and NCT’s Mark for PG15

—Yeri hanya ingin pergi, dan Mark sedang mengabulkannya.

 

“Kau akan pergi, ‘kan?”

“Apa?”

“Prom besok malam.”

Nope.”

“Ayolah, Yeri, jangan bilang kalau kau tidak siap melihat Mark menggandeng gadis lain?”

Kalau ini adalah adegan dari suatu drama, Yeri pasti akan menyemburkan milkshake stroberinya dengan dramatis tepat di muka Koeun. Tapi tidak, Yeri sedang tidak bersyuting suatu drama jadi aksi dramatis nan klasik itu tidak akan terjadi. Yeri hanya nyaris tersedak, kaget setengah mati ketika Koeun menyebut nama itu, tapi dia berusaha mengelabui kawannya itu agar tak terlihat begitu kaget. “Mark siapa?”

Koeun membetulkan ikatan rambutnya sambil tergelak. Ia memundurkan tubuh, menyandarkan punggungnya pada kursi. “Ya, Mark mantan pacarmu,” jawab Koeun dengan senyum jenaka. “Memangnya kau pernah pacaran dengan berapa Mark di dunia ini?”

Cuma satu, jawab Yeri dalam hati. Ah, sial, kenapa si Koeun ini sudah berani sebut-sebut nama jelek itu, sih? Benar, Mark adalah mantan pacarnya di semester pertama kelas dua, tiga bulan berpacaran, putus empat bulan lalu karena ternyata laki-laki bernama Mark itu berengseknya bukan main. Yeri tak percaya dia memacari laki-laki yang ternyata juga memacari gadis lain. Dramatis.

Jadi Yeri menyedot milkshake stroberinya lagi sambil berpura-pura baru mengingat siapa Mark yang dimaksud Koeun. “Oh, Mark yang itu.”

“Nah, ayo kita pergi besok malam. Firasatku bilang kalau sebenarnya Mark ingin mengajakmu dan aku mau-mau saja kalau kau memintaku untuk menanyakan—“

Yeri terkejut untuk yang kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari tiga menit. “Are you crazy or something?

Koeun mengulum senyum, menaik-turunkan alisnya. “Bagaimana?”

Well, tidak,” ujar Yeri ketus. Demi bebek berjanggut pelangi, dia tidak akan pernah ke sana! Dia tidak mau bertemu Mark Lee si berengsek dengan rambut pirangnya yang menyebalkan. Lagipula rasa-rasanya tidak mungkin kalau Mark belum punya pasangan untuk prom besok malam, karena yang kita bicarakan ini adalah Mark Lee yang punya tingkat kepopuleran nomor satu di sekolah. Mudah saja baginya meminta salah satu dari sekian gadis yang memujanya untuk jadi pasangannya di malam prom. Atau mungkin dia sudah mengajak Luna si ketua pemandu sorak yang cantik jelita. Dia ‘kan berengsek, ingat?

Koeun mendengus keras-keras. “Come on, Yeri. Masa kau tidak datang ke prom hanya karena tidak mau bertemu dengan Mark?” Gadis di depan Yeri itu memasang ekspresi sebal, lalu berganti dengan wajah memelas pada sekon berikutnya. “Yeri, please. Pergilah demi aku, kau bilang kalau kita sahabat, bukan? Abaikan saja si Mark sialan itu, ya?”

Yeri menghela napas. Yang dikatakan Koeun ada benarnya, sih; masa cuma karena menghindari mantan pacarmu yang menyebalkan sampai harus merelakan pesta prom sekolah. Prom hanya diadakan satu tahun sekali dan kau menyia-nyiakannya? Mengambil ponselnya, Yeri mulai mengetik satu pesan singkat. “Fine, aku akan menyetujui ajakan Richard dan pergi ke prom. Puas?”

 

 

Prom tahun ini benar-benar meriah, lebih meriah dari yang Yeri bayangkan. Semua orang bersuka-cita, tertawa, dan menari; menikmati segala hiruk pikuknya. Tapi Yeri tidak, jelas tidak. Ia datang tanpa kemauan sebagai pondasi; demi Koeun. Richard menjemputnya dan pemuda itu tampak keren dan tampan. Tapi sekali lagi, si pemuda bernetra biru itu tak cukup untuk membuat Yeri betah. Jadi Yeri melarikan diri, menepi ke sisi yang lebih ramai dan duduk di sofa, bersembunyi di balik mereka yang masih setia menari. Peduli setan Richard mau menilainya seperti apa.

“Rupanya kau punya cara yang berbeda untuk menikmati prom.” Suara Mark yang tidak asing tiba-tiba mengintrupsi rasa cemas Yeri; takut kalau Richard tiba-tiba saja bisa menemukannya.

Yeri mendongak. “Hai,” sahut Yeri, mengulas senyum kaku, mengabaikan candaan Mark.

Laki-laki pirang itu balas tersenyum. “May I sit here?

Sure.”

Bebas dari kandang buaya, masuk kandang singa. Tunggu sebentar, apa ini hari sial nasional seorang Yeri? Karena Yeri terlalu banyak menerima kesialan malam ini. Kesialan pertama, ia pergi dan terpaksa menghabiskan sedikitnya dua jam penuh kepura-puraan dengan Richard. Kesialan kedua, ia tak sengaja melihat Mark menari dengan Luna dan mereka tampak serasi. Kesialan ketiga, Mark menyapanya dan mereka berakhir duduk bersebelahan. Terakhir, Mark sangat tampan. Sial yang sungguh keterlaluan.

So, Richard adalah pasanganmu malam ini, apa aku benar?” tanya Mark, suaranya sengaja agak dikeraskan agar tidak redam bersama musik yang memenuhi seisi ruangan. Dia bertanya lagi tepat setelah Yeri mengangguk sebagai jawaban. “Di mana dia?”

Yeri mengangkat bahu acuh. “Aku tidak tahu.” Sumpah mati dia tidak mau peduli di mana si Richard itu berada sekarang. Masa bodoh kalau saat ini laki-laki itu sedang kebingungan mencarinya di kerumunan.

“Hei, jangan bilang kalau kau melarikan diri darinya?” Mark membelalak, kemudian tergelak. Tak habis pikir dengan gadis di sebelahnya.

“Sayangnya, memang begitulah kenyataannya,” jawab Yeri sekenanya, tersenyum timpang. Lalu ikut tergelak bersama Mark. “Kau bagaimana? Tidak sedang kabur dari Luna ‘kan?”

Mark menyugar rambut pirangnya, masih tertawa. Dia benar-benar terlihat seperti Draco Malfoy dari Harry Potter dengan gaya rambut dan tuxedo hitam itu. “Sayangnya, memang begitulah keadaannya,” Mark mengulang jawaban Yeri. “Dia mengerikan.”

“Kenapa?”

“Terlalu liar dan agresif. Dia mati-matian mengenalkanku sebagai pacarnya, dia sudah menyebar berita palsu hampir ke semua orang di sini.”

Yeri mengangkat alis. Separuh hatinya merasa kasihan dengan Mark yang harus menerima kesialan semacam itu, separuh lagi berkata kalau Mark pantas mendapatkannya setelah apa yang ia lakukan pada Yeri. Luna si ketua pemandu sorak itu juga yang jadi alasan mereka putus empat lalu, omong-omong. Yeri sibuk memikirkan kalimat apa yang harus ia lontarkan lagi tapi matanya tak sengaja mendapati sosok Richard dari kejauhan, sedang menuju ke tempatnya dan Mark duduk. “Oh Tuhan, apa Richard sedang menuju ke sini?”

Mark turut menoleh mengikuti arah pandang Yeri. Benar, Richard tengah terburu-buru berjalan ke arah mereka.

Ugh, aku harus pergi, Mark.” Yeri buru-buru bangkit berdiri, namun tangannya ditahan oleh Mark. “Please, aku—“

“Jarak dari tempat kita berdiri ke mobilku sekitar lima puluh dua langkah. Lepas sepatumu sekarang karena kita akan berlari.”

 

 

Suara khas Adele mengalun lewat pemutar musik. Yeri menyanyikan beberapa bait lirik yang diketahuinya sambil memandangi jalanan yang masih ramai. Keduanya berhasil melarikan diri setelah bersusah payah karena gaun yang dikenakan Yeri. Mereka kabur, Yeri tidak tahu ke mana Mark membawanya. Yeri hanya ingin pergi, dan Mark sedang mengabulkannya.

Dalam hati ada secuil rasa bersalah pada Richard, laki-laki itu barangkali masih kebingungan mencarinya. Tapi mau bagaimana lagi, Yeri tidak pernah sungguhan ingin pergi ke prom, bersama Richard pula. Sebut saja ia jahat dan kurang ajar, ia tidak keberatan. Namanya mungkin akan jadi buah bibir di kalangan para pemain baseball sekolah sebentar lagi.

Lupakan. Yeri tidak mau repot-repot memikirkannya. Richard bisa saja jadi pasangannya Luna setelah ini. Yeah, itu juga kalau Luna mau, sih. Ah, peduli setan.

“Yeri, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan.” Mark tiba-tiba saja bersuara setelah nyaris setengah jam mereka diam. Suaranya nyaris tenggelam oleh lagu yang mengalun namun Yeri masih dapat mendengarnya dengan jelas.

“Hal apa?” tanya Yeri, mengecilkan volume lagu. Lampu merah menyala, Mark menghentikan laju mobil.

Mark tidak lekas menjawab. Dia melirik Yeri sekilas lalu beralih, jemarinya diketuk-ketukkan pada kemudi mengikuti irama lagu. “Hal pertama, aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita empat bulan lalu,” Mark berujar serius. Netranya bersirobok dengan milik Yeri. Cukup lama sampai ia melajukan mobilnya lagi segera setelah lampu merah berubah menjadi hijau. “Aku hanya membantu Luna untuk penggelaran teater pada waktu itu. Aku sudah berulang kali memintanya untuk tidak menempel padaku, tapi dia sulit disingkirkan. Aku minta maaf.”

Yeri tidak memberi respon. Lagu yang mengalun tak lagi menyapa rungunya.

“Kedua,” Mark menoleh pada Yeri untuk beberapa detik, memastikan Yeri mendengarkannya. “Aku dan Luna tidak pernah berkencan, itu hanya gosip busuk yang disebar tim pemandu sorak karena kau tahu, ‘kan, kalau mereka sama saja seperti Luna? Sekali lagi, aku minta maaf.”

Yeri tetap bergeming. Perasaannya mendadak campur aduk mendengar pernyataan Mark barusan. Suara rendah Mark membuatnya terpasung ruang rindu. Ia sungguh benci saat nostalgia menyergapnya secara tiba-tiba seperti ini. Salahnya yang sebelumnya tak memberi laki-laki itu celah untuk menyanggah argumennya waktu itu.

“Ketiga, kau sudah tahu kalau aku tidak pernah mengencani Luna, menyukainya saja tidak. Barangkali cuma aku yang masih mengharapkan ini tapi biarkan aku tahu setidaknya apakah kita bisa memulai semuanya lagi?”

Hening menyambangi selama sekian detik sebelum lagu selanjutnya kembali terdengar. Yeri menyunggingkan senyum, menatap Mark. “Ternyata kau tidak menyerah juga, ya?”

Mark menaikkan alis, tergelak satu detik setelahnya. “Apa itu jawaban iya?”

Yeri memalingkan muka. “Tidak.”

“Aku ditolak?”

“Tidak.” Kedua sudut bibir Yeri terangkat membentuk senyum jenaka.

 

Hampir pukul satu dini hari ketika Mark menepikan mobilnya di luar pagar rumah Yeri. Mereka sudah berkeliling selama satu jam lebih tanpa tujuan hingga akhirnya Mark mengantarkannya pulang. Mark sudah berniat keluar membukakan pintu untuk Yeri, mengantarkannya sampai depan pintu; kebiasaan yang dilakukannya dulu tiap kali mengantar Yeri. Tapi baru saja dia ingin membuka pintu, Yeri membuka suara.

“Aku minta maaf sudah mengecapmu sebagai seseorang yang berengsek, Mark.” Yeri berujar. “Seharusnya aku memberimu kesempatan berbicara.” Gadis itu menatap Mark, memberian tatapan minta maaf. Ia melepas sabuk pengaman dan mengucapkan terima kasih sebelum ia ditarik ke samping.

Mark meninggalkan satu kecupan singkat di pipi, cukup untuk membuat Yeri mematung dan bungkam.

“Tahan, Yeri,” bisik Mark, suaranya rendah sekali. “Aku ingin jadi laki-laki yang membawa lari seorang gadis bergaun merah muda dari pesta prom sekolah.” Dia mengabaikan wajah bingung Yeri. “Just a few minutes more.

Mark punya aroma seperti lemon yang bercampur dengan segarnya daun mint. Yeri menyukainya. Sangat menyukainya. Keduanya hanyut lagi dalam hening sekitar dua menit penuh. Mark masih mempertahankan posisinya memandangi Yeri demikian. Senyuman muncul di bibir tipisnya.

“Keberatan kalau kita berjalan-jalan lagi sampai pukul dua, princess?”

Yeri tersenyum.

Mark tahu jawabannya.

 

fin.

note(s) :

  • hm, ini fanfik pertamaku di tahun 2017. woohoo! sudah sekian lama akhirnya aku bisa menulis lagi.
  • aku tau aku suda menulis seonggok sampah (lagi), but yea MarkRi sangat onyoe ugh aku suqaa.
  • ngetik ini dari minggu ke minggu, hm apaqa kekuatan menulisku sudah luntur tergerus waktu?
  • maap ya kalian jauh-jauh sampe sini cuma buat bacain unfaedah things dariku):
  • kepada seluruh readers yang sudah meninggalkan jejak maupun yang hanya sekadar membaca, aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya ❤

xoxo,
echaakim

 

Advertisements

2 responses to “The Great Escape — by echaakim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s