Find You by slmnabil

123311633

You’re covered with all these broken promises from people who said they would never leave.

Aku menemukanmu di suatu sore di tepi laut, dengan gerapaian gelombang terasa di ujung-ujung tungkaiku. Aku agak mencemaskanmu, sesungguhnya, melihat hanya tersisa dua jengkal antara kau dan air bah di sana. Tampaknya kau bisa terhantam angin sewaktu-waktu, yang akan dengan senang hati melancarkan aksi mengakhiri hidupmu.

Tapi,

itu ,’kan yang kau inginkan?

Melarikan diri dari persoalan hidup yang terlalu berat?

Menghilang bersama cinta palsu yang kaupikir kau punyai sepanjang hidupmu?

Pergi membawa sedikitnya secuil harapan bahwa kau mengakhirinya dengan benar?

Ketika akhirnya kau merealisasikan isi pikiranku yang cuma asal menebak dan kejemawaanku yang seolah sudah hidup seribu tahun, aku hanya tahu kalau aku harus lari ke arahmu,

karena polisi tidak akan mengiakan saja jika kubilang angin jadi penyebab kematianmu.

Lucunya, aku tidak sempat membayangkan kalau akhirnya kita sama-sama akan melompat. Kau, untuk menghilangkan eksistensi. Aku? Yah, salahku karena sok jadi orang baik. Membawa serta tubuh tak sadarkan diri, sedang aku saja masih berada di bawah pengaruh alkohol tadi malam, sungguh tak akan kulakukan lagi seumur hidupku.

Aku membaringkanmu di atas pasir putih lalu bersusah payah mengembalikan kesadaranmu—yang kuragukan kau inginnya begitu. Aku menghitung dalam hati, dengan maksud jika sudah mencapai tiga puluh dan kau tak kunjung sadarkan diri, aku akan berbaik hati membiarkan orang bergiliran menyelamatkan hidupmu sedangkan aku akan mengurusi kehidupanku.

Namun, sial benar. Belum sampai hitungan lima belas, kau sudah terbatuk-batuk dan unjuk iris matamu yang sebiru langit.

Aku ragu kita akan dipertemukan kembali, namun siapa tahu begitu, diam-diam aku memutuskan untuk memperbaiki kesan pertamaku tentangmu. Bukannya wanita yang kukacaukan momen bunuh dirinya, namun wanita yang memandang langit dengan mata birunya.

Jadi aku pergi. Ya. Begitu lebih baik. Aku sungguh penuh perhatian.

Kau mencariku, adalah versi cerita yang tidak kubayangkan sebelumnya. Mana kutahu jika seselesainya membersihkan diri, aku akan membukakan pintu dan mempersilakanmu masuk?

“Rumah musim panas yang bagus.”

“Ya, dan rumah musim dingin, semi, dan gugur yang bagus juga,” sahutku.

“Oh, rumah yang bagus,” koreksimu.

Aku mengangguk saja mengingat momen saling berterima kasihnya kaulah yang harus memulai. Namun, di detik kau maju selangkah dan mengayunkan telapak tanganmu kuat ke pipiku—pendeknya, menamparku—aku sadar kalau … ah tidak begitu. Karena, yah, tamparan bukan apa-apa dibandingkan acara bunuh diri yang dikacaukan oleh oknum tidak tahu diri.

“Kau berhutang satu kematian.”

“Dan kau berhutang satu kehidupan. Jadi, mau bayar kontan atau kredit?”

Kau memutar mata dengan tidak tahu dirinya.

“Sinting,” kau bilang.

Jadi aku menamparmu dengan tidak tahu dirinya juga.

“Setidaknya hutang tamparanmu sudah dibayar di muka.”

Nah, kita baru saja bertemu tapi kita sudah merangkum pertemuannya seolah sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya.

Kau jadi orang yang tidak tahu terima kasih.

Aku jadi orang brengsek karena menampar perempuan.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu?” tanyamu terkejut.

Aku menaikkan sebelah alis. “Mudah saja.”

Kutebak, kau pasti tengah merencanakan seribu satu cara untuk membunuhku tanpa menyisakan jejak. Namun alih-alih memuaskan pemikiranku, kau malah mengambil langkah mundur seribu. Jadi, sebelum tanganmu berhasil memutar kenop pintu, aku melempar pisau buah dan menancapkannya persis setengah jengkal dari tempat tanganmu membeku.

Ketika kau membalik badan menghadapku, praktis aku mengangkat bahu.

“Aku bisa mengajarkanmu trik untuk itu.”

Bagian lucunya adalah kau ingin tahu. Menurutmu aksi tadi terhitung luar biasa keren, aku pasti berprestasi di mata pelajaran fisika. Padahal—yah—sebenarnya tidak.

Aku mengajakmu ke pesta musim panas salah satu temanku, dengan maksud menyelesaikan sengketa. Namun, siapa yang sangka kalau ternyata kau adalah teman ngobrol yang menyenangkan? Atau tepatnya, pemberi respons yang menyenangkan mengingat akulah yang mendominasi pembicaraan. Kau sih menjawab ala kadarnya saja: “ya, tidak, oh, benarkah? Cool.”

Ya, cool. Aku, kau, pembicaraan tanpa emosi ini.

“Tapi, omong-omong, tadi itu kau menamparku karena menggagalkan misi penghancuran dirimu?” tanyaku akhirnya, menyinggung topik pembicaraan yang benar-benar ingin kuketahui sejak awal.

Iris sebiru langitmu mengunci pandanganku, saking terbuainya hingga aku enggan berpaling bahkan ketika kau memutus kontak dan meneguk sampanyemu tampak frustasi.

“Tidak semua orang ingin diselamatkan saat tenggelam. Tidak semua orang ingin digapai saat tergantung di atas jurang. Tidak semua orang punya keinginan untuk hidup sebesar keinginanmu untuk hidup.”

Lantas serta-merta kulemparkan justifikasi atas dirimu: kau terperangkap dalam gelap dan aku agak ingin mengedipkan cahaya ke arahmu—meski punyaku saja masih remang-remang.

  1. Disclaimernya diambil dari salah satu poetry di Pillow Thoughts by Courtney P. Yang belum baca, baca deh
  2. Snapshotsnya belum dilajut maafkaan 😦
Advertisements

4 responses to “Find You by slmnabil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s