Stay Overnight ~ohnajla

ohnajla || fluff || teen || oneshoot

Jung Hoseok X Song Woohyun

Seseorang mengetuk pintu apartemenku di malam hari. Dahiku berkerut samar saat melihat jam dinding.

“Siapa yang bertamu jam sepuluh begini?”

Penasaran siapa, aku pun segera turun dari ranjangku dan pergi menuju pintu. Suara ketukan itu masih belum hilang. Aku mulai diliputi rasa was-was. Bagaimana kalau itu adalah orang jahat? Lagi pula tidak mungkin ‘kan teman-temanku datang jam segini. Mereka bukan orang yang sangat pemberani seperti wonder woman. Kalau toh mereka mau bertamu, biasanya mereka akan menghubungiku dulu.

Untungnya pintu apartemenku memiliki desain yang mirip seperti pintu kamar hotel. Sebelum membuka pintu, kutengok dulu siapa orang yang datang melalui lubang kecil yang ada di tengah-tengah pintu. Sekilas aku bisa melihat wajah seorang pria. Refleks tubuhku menegang.

“Siapa dia? Kenapa dia ke sini?”

Namun semakin kuperhatikan, ternyata orang itu adalah tetanggaku. Aku pun menghela napas lalu membuka pintu.

Mataku membelalak melihatnya membawa sebuah bantal.

Dia tersenyum padaku dengan super lebar sambil melambaikan tangan. “Hai.”

Aku pun mengangkat tanganku ragu-ragu. “H-hai.”

“Bolehkah aku menginap hari ini?”

“Hah?”

Menginap? Demi apa dia ingin menginap? Secara refleks kualihkan pandanganku ke kiri, tepat beberapa meter dari tempat kami berdiri yaitu pintu unitnya. Lalu kembali menatapnya.

Dia tampak menggaruk rambutnya canggung. “Begini. Ibuku sedang pulang ke Gwangju. Jadi … yah … aku tidak berani tidur sendirian.”

Rahangku langsung jatuh. Apa? Dia sudah sebesar ini masih tidak berani tidur sendirian?

“Jadi … bisakah aku menginap semalam saja di tempatmu? Ah! Tenang saja! Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku adalah pria baik-baik. Tidak merokok, tidak minum-minum, tidak menggunakan narkoba dan … masih bersih.”

Aku tidak langsung menjawab. Meskipun sebaik itu, bukankah aku tetap harus hati-hati? Oh ayolah, dia adalah pria, sementara aku wanita. Sebaik-baiknya dia, dengan kondisi kami yang bukan siapa-siapa dan hanya sebatas tetangga saja bukankah akan terdengar aneh kalau kami tidur di satu atap yang sama?

Namun akal sehatku seolah sedang malas bekerja sekarang. Salahkan wajah memelasnya yang begitu menyentuh empatiku. Aku benar-benar lemah dengan wajah seperti itu.

“Baiklah. Silahkan masuk.”

Bisa kutangkap ekspresi berbinar di wajahnya sebelum masuk ke dalam apartemenku. Buru-buru kuhampiri meja ruang tengahku yang sangat-sangat berantakan oleh buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan kampus. Aku pun menyuruhnya untuk duduk di sofa panjang.

“Mau kubuatkan minum?”

“Ah tidak usah,” jawabnya sambil tersenyum lebar. “Aku kemari untuk menginap, hehe.”

Aku menggaruk tengkuk yang rasanya terus meremang sejak tadi. “Oke. Kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku.”

Dia hanya mengangguk dan membuat obrolan kami berakhir. Aku masih berdiri di sana seperti orang linglung. Entahlah, aku ingin mengajaknya mengobrol tapi kenapa lidahku rasanya kelu sekali. Dia sendiri seperti sedang memindai desain interior unitku. Mungkin dia menyayangkan tempat ini adalah milikku. Desain interiornya sangat simple untuk ukuran perempuan. Cat dindingnya putih tanpa wallpaper macam-macam, yang kemudian disemarakkan dengan furniture-furniture warna hitam. Mungkin yang terlihat paling jelas di sini adalah rak-rak buku. Ya, aku penyuka buku.

“Kau tinggal sendirian?”

Aku yang secara tak sadar ikut-ikutan memindai ruanganku pun kembali menoleh padanya. Oh My God! Garis rahangnya tajam sekali. Ini pertama kalinya aku melihat seorang pria dengan rahang seperti itu.

“Ya, aku tinggal sendiri.” Kalimat itu baru keluar begitu dia menoleh padaku.

“Wah … kau orang yang sangat simple ya. Biasanya apartemen seorang gadis yang tinggal sendirian akan lebih ramai dari ini.”

Dahiku kontan mengerut. Apakah maksudnya dia sering menginap di rumah gadis-gadis muda lain yang tinggal sendirian?

Mungkin dia menyadari maksud tatapanku. Secara buru-buru dia menggeleng. “Ah! Maksudku bukan seperti itu. Aku tidak pernah menginap di rumah wanita lajang sebelumnya. Itu hanya perumpamaan. Tolong jangan salah paham, oke?”

Tahu-tahu aku mengangguk sendiri.

Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pun pamit untuk ke kamar. Namun dia menghentikan langkahku dengan pertanyaannya.

“Bolehkah aku tahu namamu?”

Bodoh. Bagaimana bisa aku menerimanya di sini bahkan tanpa mengetahui siapa namanya? Sekarang aku jadi terlihat sangat bodoh karena sudah percaya begitu saja pada orang yang belum kukenal baik.

“Ekhem. Aku Song Woohyun. K-kau?”

“Ah, Woohyun-sshi. Aku Jung Hoseok. Salam kenal.”

Aku mengangguk.

“Kupikir kau menerimaku di sini karena sudah tahu namaku.”

Nah, tepat sekali Hoseok-sshi. Aku jadi terlihat bodoh ‘kan di matamu?

“Tapi ini salahku juga sih. Tiba-tiba meminta menginap tanpa memperkenalkan diri dulu.”

Kurasa dia tidak butuh jawaban. “Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Kau tidak masalah ‘kan tidur di sofa? Kamarnya hanya satu.”

Dia mengangguk puas. “Tidak apa-apa. Hanya semalam saja kok.”

“Oke. Bilang saja kalau butuh sesuatu. Oh ya, kamar mandinya ada di sebelah dapur.”

“Ah … oke.”

Good night.”

Night.”

Aku pun segera masuk ke kamar, melanjutkan kegiatan menulis ceritaku yang sempat tertunda.

Dua jam kemudian, dengan mata berair sehabis menguap lebar, aku turun dari ranjang berniat mengambil minum di dapur.

Lampu ruang tengah ternyata masih menyala. Apakah Hoseok belum tidur? Kulihat sofa panjang di ruang tersebut, Hoseok sedang tidak ada. Hanya ada bantalnya yang tersampir di lengan sofa. Mungkin saja dia sedang di kamar mandi. Jadi aku pun mengabaikannya dan segera pergi ke dapur.

TAK!

Tubuhku berjengit setelah mendengar suara hentakkan yang mengejutkan itu. Si pelaku ternyata adalah Hoseok. Dia tidak berada di kamar mandi, melainkan di dapur. Kami bahkan sempat bersitatap sekilas. Dia sepertinya baru saja menghabiskan segelas besar air mineral dalam sekali tarikan napas. Dadanya tampak naik turun, bibirnya basah. Aku pun menghampirinya dengan jantung yang masih belum berdetak normal.

“Sedang apa?”

“Minum. Kurasa aku tidak bisa tidur karena haus.”

Namun aku tahu pasti kalau matanya sedang menahan kantuk yang sangat. “Kau baik-baik saja?”

Bisa kutangkap sedikit keraguan di matanya. “Entahlah.”

“Kalau kau butuh sesuatu bilang saja padaku.”

Sekali lagi dia menatapku serius. Aku yang tak tahu apa pun hanya membalas tatapannya dengan penasaran.

“Aku sedang membutuhkan sesuatu.”

“Lalu?”

“Tapi ini sedikit memalukan. Aku tidak yakin kau akan memberikannya.”

‘memberikannya’ adalah kata yang terambigu yang kudengar seharian ini. Apakah mungkin dia menginginkan ‘itu’? Oh please, bukannya dia sendiri yang bilang kalau dia adalah pria yang baik-baik?

“Apa itu?” Jiwaku yang kelewat penasaran dengan seenaknya menyuruh bibirku untuk menanyakan pertanyaan itu. Bagaimana kalau dia benar-benar menginginkan itu?!

“Bisakah kau … ekhem! Me-me-me .. ah!” Dia sendiri tampak frustasi dengan keinginannya. Mungkinkah apa yang kupikirkan ini benar? Me-apa? Mencium? Menggigit? Mencubit? Memukul? Atau menemani tidur? Ah sial! Seseorang tolong hentikan pikiran laknatku!

Dia tampak sedang mengambil napas dalam-dalam sebelum membuangnya perlahan. Kemudian dengan mantap dia menatapku lagi. “Bisakah kau mengelusku saat aku tidur?”

“Apa?”

Aku sungguh tidak memercayai pendengaranku kali ini.

Dia sendiri mengangguk yakin dengan ekspresi yang seolah mengatakan ‘aku tidak peduli lagi dengan rasa malu’. Apakah dia kucing? Kenapa permintaannya seperti itu?”

“Aku tidak bisa tidur karena itu. Eomma selalu mengelusku sebelum aku tidur. Sumpah, aku benar-benar membutuhkannya sekarang. Bisakah kau melakukan itu? Sebentar saja, sampai aku tertidur.”

Lagi-lagi dia mengerti kelemahanku. Sial, sekarang aku benci sekali dengan pria yang punya wajah memelas sepertinya. Oke, kata itu akhirnya keluar dari bibirku.

Kami pun menuju sofa panjang di ruang tengah. Dia berbaring, kemudian aku duduk di sedikit sisi sofa itu. Konyol. Kenapa sekarang aku merasa seperti seorang gadis yang bekerja sebagai pasangan cuddle seorang pria lajang? Tch, menulis fiksi membuat imajinasiku bermain terlalu liar.

“Aku harus mulai dari mana?” Astaga mulutku! Pertanyaan macam apa itu yang barusan kukatakan?

Dia meraih pergelangan tanganku, kemudian meletakkannya di rambutnya. Kupikir akan berhenti di sana, ternyata dia menggerakkannya turun ke kening, lalu pipi, rahangnya –yang sangat kukagumi itu, leher, dada dan berakhir di lengannya. Kemudian dia melepaskan tanganku. “Semua itu. Bisa?”

Bagaimana aku menjawab tidak? Diriku sudah terlajur duduk di sini. Akhirnya aku mengangguk dan memindahkan tanganku ke rambutnya. Ternyata rambutnya jauh lebih lembut dari rambutku. Dia pun memejamkan mata begitu tanganku bergerak pelan.

“Maaf sudah merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa.”

“Aku benar-benar pria yang baik. Jangan berpikiran kalau aku sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.”

“Hm.”

“Kita sering bertemu di lift bukan? Berapa usiamu sekarang? Kenapa akhir-akhir ini kau sudah tidak memakai seragam lagi?”

“Ah itu … sekarang aku sudah kuliah.”

“Benarkah? Semester satu ya? Di mana?”

“Kyunghee.”

“Jurusan?”

“Sastra Inggris.”

“Wah … hebat. Aku juga di Kyunghee. Jurusan Dance Kontemporer. Masih sunbae-mu mungkin, aku sudah semester tujuh sekarang. Oh ya, berapa usiamu?”

“Sembilanbelas.”

Aigoo … masih muda sekali. Aku merasa malu masih tinggal bersama eomma padahal usiaku sudah duapuluh tiga.”

Aku ikut terkekeh saat dia terkekeh. Entah mengapa sekarang aku sangat menikmati kegiatanku. Aku suka rahangnya yang tajam.

“Sudah punya pacar?”

“Belum.”

Wae?”

Pria yang mendekatiku tidak ada yang punya rahang setajam ini, inginku bicara begitu. Namun yang keluar dari bibirku justru jawaban yang lain. “Hanya ingin sendiri saja.”

Dia mendadak bergerak tidak nyaman saat tanganku telah sampai di dadanya. “Kenapa begitu? Apakah tidak ada seorang pria yang mendekatimu? Ah, tentu saja tidak mungkin. Gadis sepertimu pasti banyak yang suka.”

“Aku hanya tidak menyukai mereka.” Jantungku tiba-tiba berdegup kencang ketika merasakan detak jantungnya di tanganku.

Dia bergerak lagi, kali ini meringkuk ke arahku seperti embrio. Posisinya ini sedikit menyulitkanku, sehingga aku pun berganti mengelus lengannya.

“Baguslah kalau begitu.”

“Bagus kenapa?”

Namun tidak ada jawaban apa pun darinya.

Napasnya teratur.

Dia sudah tidur.

Reflek tanganku berhenti. Jadi … tugasku sudah selesai ‘kan?

Tapi bolehkah aku menyentuh rahangnya lagi?

Tahu-tahu tanganku sudah ada di sana lagi sebelum mendapat jawaban dari siapa pun.

Bibirku mengulum senyum tipis.

Aku suka rahangnya.

Mungkin juga … orangnya.

END

Advertisements

2 responses to “Stay Overnight ~ohnajla

  1. ya ampun ini sweet banget ><
    saya suka,saya suka 😀
    ceritanya simple,tapi ngena 😀
    author,tolong bikin series tentang mereka,,,
    jebal~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s