The Red Line [2nd] – pramudiaah

Cr pic: tumblr

Cast: Byun Baekhyun (EXO), Oh Sehun (EXO), Jung Hyerin (OC)

Genre: Highschool!AU

PG-17

1st || 2nd

***

Malam beranjak makin larut, dan Jung Hyerin tidak juga meninggalkan persimpangan gang itu sejak dua jam yang lalu.

Hyerin sengaja menunggu Byun Baekhyun di tempat itu. Ia berharap akan berpapasan dengan Baekhyun ketika laki-laki itu pulang nanti. Namun selama hampir dua jam menunggu, ia tak kunjung menemukan presesnsi Baekhyun. Padahal, seharusnya Baekhyun pulang melewati jalanan itu sama seperti ketika ia pergi tadi. Seharusnya, kalau ia tidak salah.

Jujur saja, Hyerin mengkhawatirkan kondisi Baekhyun sekarang. Hyerin takut kalau-kalau Baekhyun pingsan di tempat tadi dan tidak ada satupun orang yang tahu, atau Baekhyun kehabisan napas karena terlalu keras dipukuli.

Hyerin menggigit bibir bawahnya, cemas. Sekarang ia menyesal; kalau saja ia tidak mengikuti Baekhyun ke tempat tadi, pasti kejadian itu tidak akan terjadi. Sial. Ini semua karena novel misteri yang sering ia baca—yang membuat rasa keingintahuannya terkait kematian Kim Seulbi berada di luar batas wajar.

Hyerin menghela napas. Ia memutuskan untuk pulang saja, dan berniat menemui Baekhyun esok hari (itu pun kalau Baekhyun datang ke sekolah).

Namun sebelum ia beranjak, samar-samar ia melihat seseorang jalan tergopoh-gopoh di ujung jalan. Tidak berpikir panjang, Hyerin berlari menghampiri orang itu. Dan seperti yang sudah ia duga, orang itu memang Byun Baekhyun.

Baekhyun tampak heran melihat keberadaannya di tempat itu. “Kau masih belum pulang?”

Hyerin menggeleng. Ia tidak terlalu mengindahkan pertanyaan Baekhyun dan lebih memilih untuk mengamati kondisi Baekhyun yang benar-benar berantakan. Rambut laki-laki itu mencuat kemana-mana, seragamnya tampak lusuh dan ranselnya entah hilang kemana. Yang jelas, ada beberapa memar di wajah Baekhyun dan laki-laki itu jalan dengan kaki pincang sebelah. Sangat menyedihkan.

“Apa kau bisa jalan sendiri?” tanya Hyerin khawatir. Ia hendak membantu Baekhyun berjalan, namun laki-laki itu langsung memekik kesakitan. “Jangan pegang perutku!”

“Eh, maaf.” Hyerin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak berani menyentuh Baekhyun, takut kalau hal yang ia lakukan akan membuat Baekhyun semakin kesakitan.

“Sudah, tidak perlu membantuku,” balas Baekhyun sambil terus berjalan dengan kaki tertatih. “Aku bisa jalan sendiri.”

“Kau benar-benar bisa jalan sendiri?” tanya Hyerin cemas. Ia tak yakin kalau Baekhyun sanggup berjalan sendiri lebih lama lagi.

Baekhyun menghentikan langkah, lantas mendelik memandangnya.

Ditatap seperti itu, Hyerin hanya bisa menelan ludah.

Tatapan Baekhyun makin lama semakin mengintimidasi. “Kau menyukaiku, ya?”

“Huh?” tanya Hyerin memastikan. Sepertinya ia salah dengar barusan.

“Kau memberiku makanan, lalu mengikutiku ke atap sekolah, dan yang terakhir kau menguntitku sampai ke tempat tadi. Apa ada alasan lain selain kau menyukaiku?”

Hyerin menganga tidak menyangka, lantas tergelak. Ia tidak tahu kalau seorang Byun Baekhyun akan sepercaya diri itu. Ah, ia lupa satu hal: Baekhyun, kan, memang agak kurang waras, jadi wajar saja kalau gagasan seperti itu adalah satu-satunya yang bisa laki-laki itu pikirkan.

“Apa aku sudah gila?” balas Hyerin tidak percaya.

Baekhyun masih memandang Hyerin dengan tatapan mengintimidasi, lantas mengambil satu langkah ke depan. “Bisakah kau jelaskan kenapa kau memberiku makanan tadi siang, kenapa kau bisa berada di atap saat aku juga berada di sana, dan yang paling penting—” Baekhyun menjeda kalimatnya sebentar. “—kenapa kau bisa berada di tempat tadi?”

Hyerin memundurkan dirinya. “Ah, soal itu..” ia gelagapan mencari alasan.

Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya dengan cuek. “Sudah ketahuan pun, masih mau mengelak,” gumamnya.

“Aku tidak menyukaimu, tahu!” teriak Hyerin sebal, lalu mengekori Baekhyun.

“Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Mengikutiku?” tanya Baekhyun dengan nada mengejek.

Hyerin menghentakkan kakiknya kesal, lalu berhenti melangkah. “Iya, aku memang mengikutimu dari tadi siang! Puas?!”

Baekhyun tidak mengacuhkannya dan terus berjalan meski dengan kaki pincang dan tangan memegangi perut.

“Itu kau, kan?!” teriak Hyerin lagi.

Baekhyun masih terus berjalan.

“Bapak dari bayi yang Seulbi kandung.. adalah kau, kan?!”

Kali ini, Baekhyun berhenti melangkah, lantas berbalik. “Bukankah seharusnya kau mengucapkan terimakasih terlebih dulu?” ujarnya. Lalu memperlihatkan kondisi tubuhnya yang memar di mana-mana—seolah menunjukkan pada Hyerin kekacauan macam apa yang sudah gadis itu sebabkan.

“Aku benar, kan? Kau yang sudah menghamili Seulbi?” tanya Hyerin lagi, mengabaikan pernyataan Baekhyun sebelumnya. “Kau tidak bisa terus bersembunyi, Byun Baekhyun. Kau harus mengakuinya.”

“Astaga,” Baekhyun mendesah kesal. “Sepertinya kau benar-benar salah paham,” lanjutnya.

“Tidak perlu berbohong lagi, Baekhyun. Aku sudah mendengar semuanya. Aku mendengar kau berbicara dengan seseorang di telepon tentang Seulbi.”

Baekhyun mengusap gusar wajahnya. “Lalu apa itu berarti aku memiliki hubungan dengannya? Semua orang membicarakannya, kau tahu?”

“Tapi aku yakin orang itu adalah kau! Kau adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu!” Hyerin bersikeras.

Baekhyun menghela napas. “Oke, mari kita anggap begitu. Lalu apa? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku mau kau mengakuinya di kantor polisi,” Hyerin berujar mantap.

Baekhyun tergelak tidak percaya. “Kau sudah gila, ya?”

“Baiklah. Kalau kau memang tidak mau, aku yang akan melaporkanmu ke pihak sekolah!” balas Hyerin tegas.

“Tunggu,” Baekhyun menatap Hyerin sebentar, lalu beralih pada name tag gadis itu. “Jung. Hye. Rin.” Baekhyun mengeja nama itu, lantas tersenyum miring memandang Hyerin. Sementara Hyerin, itu adalah kali pertama ia melihat Baekhyun menyeringai. “Apa kau punya bukti?” tanya Baekhyun kemudian. “Kau harus punya bukti kalau ingin melaporkanku.”

Hyerin balas menatap Baekhyun tanpa takut. “Aku akan mencari buktinya. Aku akan menangkapmu meski kau bersembunyi di ujung dunia sekali pun!”

Baekhyun memajukan langkahnya dengan tertatih-tatih. Kini ia berdiri sangat dekat di depan Hyerin. “Sebelum kau melakukan itu, bukankah seharusnya kau membayar yang ini dulu, Hyerin-ssi?” tanyanya dengan suara rendah, sembari menunjuk memar di wajahnya.

Hyerin menatap Baekhyun kesal; setengah marah, setengahnya lagi merasa bersalah. Entahlah.

Ya! Jung Hyerin!”

Baekhyun menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan Hyerin.

Hyerin terhenyak sebentar menemukan Sehun di sana. “Se-Sehun?” tanyanya memastikan, antara percaya dan tidak percaya. “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Apa kau bodoh?” sembur Sehun langsung, lantas berjalan menghampiri Hyerin. “Siapa yang setengah jam yang lalu menelponku sambil menangis, kalau bukan kau?”

“O-oh,” Hyerin baru ingat kalau setengah jam yang lalu dirinya memang menghubungi Sehun. Saat itu ia hanya kelewat panik karena tidak tahu arah jalan pulang sementara Baekhyun tidak kunjung datang juga. “Kau benar-benar datang karena aku menelponmu?” tanya Hyerin lagi. Mati-matian ia menahan senyum lantaran kelewat senang.

“Aku tadi sedang mengantar Soojung pulang saat kau menelpon, kebetulan rumahnya ada di sekitar sini. Makanya aku bisa cepat datang kesini.”

Senyum di wajah Hyerin langsung hilang seketika, lantas berubah masam. “Ah, jadi bukan karena aku menelponmu,” gumamnya pelan.

Sehun mengedikkan bahu, lantas ia baru menyadari keberadaan Baekhyun di sana. Lantaran kelewat dekat, ia pun menarik Hyerin menjauh dari Baekhyun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sehun pada Hyerin, namun pandangannya belum beralih dari Baekhyun barang sejengkal pun. “Dan apa yang laki-laki ini lakukan di sini? Apa dia berusaha menyakitimu?” tanyanya lagi, dengan nada tajam.

Baekhyun tersenyum tidak percaya, namun kemudian ia merasakan ngilu di sudut bibirnya. Tangannya pun terangkat untuk menyentuh memar di bibirnya.

“Tidak, Sehun, bukan begitu,” Hyerin menggeleng, berusaha menjelaskan, namun Sehun langsung menyela. “Ayo kita pulang.”

Baekhyun tidak bersuara sedikit pun. Ia hanya bisa melihat Sehun menarik tangan Hyerin, dan perlahan berjalan meninggalkannya.

Hyerin dengan terpaksa mengikuti langkah Sehun . Ia pun menoleh sebentar ke arah Baekhyun, dan menemukan laki-laki itu sudah berjalan dengan tergopoh-gopoh ke arah yang berlawanan. Ada setitik rasa bersalah di hatinya melihat Baekhyun pulang sendirian dengan kondisi seperti itu. Bagaimana pun juga, dirinya adalah alasan mengapa Baekhyun menerima luka-luka itu.

Ya! Jung Hyerin!”

Hyerin tersentak. Ia lantas tersadar dan menemukan Sehun sudah duduk di atas skuter dengan tangan memegang helm, dan kini helm itu tersodor ke arahnya.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” ujar Sehun lagi. Pemuda itu kemudian menarik tangan Hyerin agar gadis itu mendekat, lalu memasangkan helm di kepala Hyerin dengan telaten.

Saat sedang memasang kaitan helm di bawah leher Hyerin, pandangannya tidak sengaja bertemu tatap dengan milik gadis itu. “Laki-laki tadi… kau berteman baik dengannya?”

“Huh?” Hyerin yang sedang tidak fokus itu hanya bisa mengerjap. “Maksudmu Byun Baekhyun? Dia teman sekelasku, tahu,” balas Hyerin.

Sehun tampak berpikir sebentar, lantas mengangguk paham. “Cepat naik!” ujarnya kemudian.

Hyerin mengangguk seraya tersenyum diam-diam.

.

Di sepanjang perjalanan pulang, Sehun tidak berhenti berbicara tentang Soojung dan itu membuat Hyerin bosan, sekaligus sedih. Tentu saja, perkembangan cerita cinta Sehun yang makin hari semakin bagus itu bukan kabar baik baginya. Yeah, hal ini kerap kali terjadi, tetapi kali ini terasa dua kali lebih menyakitkan; seperti menguak luka lama.

“Soojung sangat suka kopi, kau tahu?” Sehun bercerita dengan riang. “Sama sepertimu, dia sangat suka kopi mulai dari kopi latte, kopi mocha, kopi pahit, dan kopi apa pun itu—” Sehun berhenti berceloteh ketika merasakan rangkulan di pinggangnya mengendur. “Hyerin-a, kau tidur? Ya!

Sehun menahan tangan Hyerin yang hampir terlepas dari pinggangnya, bersamaan dengan kepala Hyerin yang terkantuk di punggungnya. “Jung Hyerin!” panggil Sehun seraya mengguncangkan tangan Hyerin. Namun ia tidak mendapati respon apa pun.

Maka, mau tidak mau ia harus menahan tangan Hyerin dengan tangan kirinya dan mengemudikan sekuternya dengan kecepatan rendah.

Ck, gadis ini!” alih-alih merasa kesal, Sehun malah tersenyum geli.

***

Pagi itu Hyerin berangkat ke sekolah lebih awal untuk piket. Ia pun merapikan bangku-bangku kelas sembari terus berpikir terkait peristiwa yang terjadi malam sebelumnya. Seingatnya, ia pulang dengan dibonceng oleh Sehun, namun pagi tadi, ia sudah menemukan dirinya sendiri berbaring di atas kasur masih dengan seragam lengkap. Apa Sehun yang menggendongnya sampai ke kamar?

Ah, memikirkannya saja sudah membuat Hyerin berjingkat-jingkat bahagia.

“Benar! Aku harus mengucapkan terimakasih padanya!” Ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazer lalu mengetikkan sesuatu di sana.

Satu per satu murid mulai berdatangan dan Hyerin pun hampir merampungkan tugas piketnya. Ia berniat untuk mengambil tong sampah saat ia menemukan Baekhyun muncul di muka pintu, dan seketika matanya langsung berbinar.

“Kau datang?” tanya Hyerin begitu menghampiri Baekhyun. “Apa lukamu baik-baik saja? Apa kau sudah siap mengakui semuanya hari ini, Byun Baekhyun?”

Baekhyun memandang Hyerin malas. “Mengakui apa?”

“Ehei, jangan pura-pura lupa begitu,” balas Hyerin seraya tersenyum penuh arti.

Baekhyun pun mengabaikan ucapan gadis itu dan berniat untuk masuk ke kelas, namun tubuh Hyerin langsung menghadangnya. “Ya! Aku sudah berusaha untuk lunak, tahu!” sembur Hyerin jengkel. Ia sudah berusaha membujuk Baekhyun secara baik-baik sebelumnya, dan ia tidak tahan lagi.

Baekhyun masih menganggap suara Hyerin itu seperti angin lalu dan kembali ingin melanjutkan langkah, namun Hyerin tetap berdiri kokoh menghalanginya. Baekhyun pun bergeser ke kiri—berharap menemukan celah, tapi gadis itu dengan cepat pula bergeser ke arah yang sama. Baekhyun belum menyerah, ia pun bergeser ke kanan. Namun Hyerin lagi-lagi bergeser ke arah yang sama.

“Kau benar-benar keras kepala, ya?” tanya Baekhyun, lantas menggelengkan kepalanya. Ia pun berbalik untuk keluar dari kelas.

Namun setelah beberapa detik, Baekhyun kembali masuk ke kelas dengan langkah sedikit terburu. Hyerin sempat heran dibuatnya. Namun setelah samar-samar mendengar suara guru Kim di luar, ia pun tahu. Yeah, jika guru Kim melihat wajah Baekhyun yang babak belur itu, bisa dipastikan Baekhyun akan membusuk di ruang detensi selama seminggu atau bahkan lebih. Guru Kim tidak akan menolerir kekerasan fisik dalam bentuk apa pun baik di dalam atau di luar sekolah dan percayalah, Baekhyun tidak akan selamat.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang, Baekhyun-ssi? Bukankah guru Kim akan menangkapmu?” tanya Hyerin dengan senyum mengejek.

“Apa kau tidak ingat dari mana aku mendapat luka ini, Hyerin-ssi? Apa kau sudah lupa siapa yang menolongmu semalam?”

Raut wajah Hyerin langsung berubah masam. “Lalu kau mau aku berbuat apa?” tanyanya dengan nada terpaksa.

“Pikirkan sesuatu!”

“Apa?” tanya Hyerin bingung.

“Sembunyikan wajahku!”

“Huh?” Hyerin semakin bingung. Ia kemudian panik ketika samar-samar mendengar suara guru Kim semakin mendekat.

Tanpa pikir panjang, Hyerin pun melepas blazer di tubuhnya lalu menutupi seluruh kepala Baekhyun dengan itu. Lantas cepat-cepat ia merangkul Baekhyun untuk keluar dari kelas.

Ya! Ya! apa yang kau lakukan?” suara Baekhyun teredam oleh sesuatu yang menutupi wajah—bahkan hampir seluruh kepalanya. Ia bahkan belum sempat berpikir apa pun saat Hyerin tiba-tiba saja sudah menutupi penglihatannya dan menariknya dengan paksa.

Hyerin menyeret Baekhyun jauh dari kelas setelah berhasil melewati guru Kim tanpa meninggalkan kecurigaan apa pun.

Setelah memastikan guru Kim tidak mengikuti mereka, ia pun menyingkap blazer yang menutupi kepala Baekhyun, lalu kembali memakainya.

“Dasar gadis gila,” gumam Baekhyun sembari merapikan rambut hitamnya dengan sembarangan.

“Bukankah kau harus berterimakasih terlebih dulu sebelum menyebutku begitu?” balas Hyerin dengan nada sama persis seperti yang Baekhyun gunakan tempo hari. Ia lalu mendekat ke arah Baekhyun, lantas mengamati wajah Baekhyun yang masih tampak babak belur, sebelum kemudian merapikan rambut pemuda itu dengan telaten. “Kau harus cepat mengaku, Baekhyun-ssi,” ujar Hyerin di depan wajah Baekhyun.

Baekhyun langsung menepis tangan Hyerin, sedikit keras. “Bukankah sudah kukatakan kalau bukan aku yang melakukannya? Kenapa kau keras kepala sekali?” balas Baekhyun tajam.

“Aku akan mencari buktinya,” ujar Hyerin bersikeras. “Kita sudah impas sekarang, ingat?”

Baekhyun tersenyum miring, lantas menggeleng tidak setuju. “Kau tidak bisa menyebutnya impas saat lukaku bahkan belum mengering, Jung Hyerin.”

Hyerin berdecak. “Oke, fine, tunggu sampai lukamu kering dan akan kubongkar semuanya!”

Baekhyun mengangguk-angguk. “Oke, lakukan sesukamu.”

Hyerin membuka mulutnya hendak berbicara lagi, namun sebuah suara menginterupsi.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah bel masuk sudah berbunyi dari tadi?”

Hyerin lantas menoleh. “Sehun?”

“Lalu kau sendiri.. apa yang kau lakukan di sini?” celetuk Baekhyun, memandang Sehun tajam.

“Aku dari toilet,” balas Sehun dingin. “Itu tidak penting apa yang kulakukan. Yang ingin kutanyakan, apa masalahmu dengan Hyerin? Apa sekarang kau berusaha mengajaknya untuk membolos?” tanya Sehun bertubi-tubi. Entah mengapa suasana di antara keduanya menjadi sedikit tegang.

Baekhyun tersenyum tidak percaya. “Mengajaknya membolos?” tanyanya memastikan. “Kau sendiri.. apa hubunganmu dengan Jung Hyerin? Apa kau pacarnya?”

Sehun hendak menjawab, namun kembali terdiam.

Hyerin yang menyadari suasana semakin tidak kondusif itu, mencoba untuk menengahi. “Sehun-ah, ada apa denganmu? Dia cuma teman sekelasku, kok. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk membolos, serius.” Hyerin kemudian menggandeng Sehun dan membawanya pergi dari tempat itu.

Lagi-lagi Baekhyun menjadi pihak yang ditinggal sendirian. Mood-nya tiba-tiba menjadi kacau sejak kedatangan Sehun. Untuk beberapa alasan, entah mengapa ia tidak menyukai Sehun. Maka, kalau sudah begini, ia akan benar-benar membolos.

***

“Jadi dia membolos lagi?” Hyerin bertanya entah mungkin pada angin atau siapa, lantas berdecak sendiri.

Ia kemudian membereskan buku-bukunya di atas meja begitu guru Tyson mengakhiri mata pelajaran siang itu. Dan tanpa babibu, ia lantas meninggalkan kelas bahkan sebelum Hayoon sempat berbicara.

Hayoon hanya bisa melihat Hyerin heran; sahabatnya itu bertingkah aneh beberapa hari belakangan. Padahal tadinya ia ingin mengajak Hyerin makan siang bersama, namun gadis itu sudah lebih dulu melarikan diri. Well, mungkin Hayoon bisa menanyakan hal ini pada Sehun nanti.

.

Hyerin mencari Baekhyun di kantin; biasanya pemuda aneh itu akan merusuh di kantin pada saat jam istirahat seperti sekarang. Namun kali ini, Hyerin tidak menemukan Baekhyun di sana.

Ia kemudian ingat tempat lain yang sering Baekhyun singgahi pada saat jam istirahat: atap sekolah. Maka, sambil memikirkan cara untuk mencari bukti bahwa Baekhyun memang bapak dari anak yang Seulbi kandung, ia pun pergi ke atap sekolah.

Di atap, ia benar-benar menemukan Baekhyun. Ia pun tersenyum puas karena instingnya tidak pernah meleset.

Baekhyun baru saja merogoh korek dari dalam saku celana dan hendak menghidupkan korek itu saat seseorang tiba-tiba menarik batang rokok dari mulutnya. “Ya! Apa yang..” ia menoleh dan hendak berteriak kesal, namun begitu menyadari bahwa orang itu adalah Jung Hyerin, maka ia hanya menghela napas, bosan.

“Kau tahu, kan, kalau merokok itu dilarang di sekolah?” tanya Hyerin kemudian.

“Apa aku peduli walau itu dilarang atau tidak?” balas Baekhyun dingin, lalu berusaha merebut rokoknya dari tangan Hyerin.

“Kau tahu, di dalam rokok itu ada sekitar dua ribu senyawa beracun yang berbahaya untuk tubuh! Walau pun aku tidak bisa menyebutkan nama senyawanya satu per satu, aku yakin itu akan membunuhmu cepat atau lambat,” ceroros Hyerin sambil terus menjauhkan rokok itu dari jangkauan Baekhyun.

Baekhyun akhirnya menyerah dan menghela napas sekali lagi. “Ya! Hyerin-ssi! Bukankah kau membenciku?”

“Ya, benar, aku memang membencimu.”

“Bukankah bagus kalau aku cepat mati karena rokok itu?” tanya Baekhyun sekali lagi. “Jadi, cepat kembalikan!”

“Apa kau bilang? Cepat mati? Ha!” Hyerin tergelak tidak percaya. “Kenapa orang-orang seperti kalian mudah sekali berbicara kematian di saat ribuan orang di luar sana berusaha untuk mempertahankan hidupnya dengan susah payah?!” sembur Hyerin.

Baekhyun terkesiap sebentar, sebelum kemudian tersadar. “Hyerin-ssi, sampai kapan kau akan seperti ini?”

“Apa?” tanya Hyerin ketus.

“Menggangguku,” balas Baekhyun. “Kapan kau akan berhenti mengangguku?”

“Sampai kau menyerah dan mengaku.”

Baekhyun mengacak rambutnya. Ia pun menendangkan kakinya ke udara dan berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan rasa frustasinya. Ia tidak bisa membayangkan dihantui oleh gadis bernama Jung Hyerin sepanjang hidup sampai ajal menjemputnya.

Hyerin terkejut melihat kelakuan Baekhyun yang sepertinya sedang kumat. Ia pun mengambil jarak beberapa langkah dari pemuda itu.

Baekhyun mencoba menenangkan dirinya dan berusaha bepikir jernih. Ia harus mencari cara untuk menyingkirkan Hyerin dari hidupnya yang damai-damai saja sebelumnya. Baekhyun pun menghela napas, lantas membuka matanya yang sebelumnya terpejam.

Baekhyun kemudian menoleh, dan masih mendapati Hyerin di sana. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Hyerin akan sekekeuh itu.

“Kau akan berdiri di sana sampai pacarmu bernama Sehun itu datang dan dia akan berteriak padaku?” tanya Baekhyun dengan nada malas.

“Pacar?” Hyerin tersenyum miris. “Dia bukan pacarku, kok.”

“Lalu apa namanya? Suamimu?” balas Baekhyun dengan senyum mengejek.

Ya! Hubungan kami tidak seperti itu, tahu!”

“Kelihatannya dia sangat menyukaimu,” ujar Baekhyun lagi. Kali ini ia serius mengatakannya.

Hyerin lagi-lagi tergelak miris. “Kau salah, dia menyukai orang lain.”

Kali ini, Baekhyun menoleh ke arah Hyerin dan memandang gadis itu agak lama.

“Kami sudah berteman sejak masih di sekolah dasar, dan tidak akan lebih dari seorang teman,” ujar Hyerin sambil memandang jauh ke arah lapangan sekolah.

Pandangan Baekhyun masih terpaku pada Hyerin. “Kau menyukainya?”

Hyerin hendak menjawab, namun kemudian ia sadar kalau dirinya sudah bicara kelewat banyak pada Baekhyun. “Ya! Aku menyukainya atau tidak memang apa urusanmu?!” teriaknya tiba-tiba.

Baekhyun terkejut diteriaki seperti itu. Namun kemudian ia tertawa, mengejek. “Aku benar. Kau memang menyukainya,” godanya.

“Tidak! Jangan sok tahu!”

“Kau menyukainya.”

“Tidak!”

“Tidak perlu berbohong.” Baekhyun mengalihkan pandangan dari Hyerin, kemudian menahan senyumnya. Entah apa yang ia pikirkan.

***

Hyerin tiba di rumah hampir pukul 10 malam. Setelah pulang sekolah, ia harus bekerja paruh waktu di minimarket sampai malam hari, dan begitu sampai di rumah, ia masih harus mengerjakan tugas dari sekolah baru kemudian beranjak tidur.

Ia sedang berkonsentrasi mengerjakan PR matematika saat ia mendengar suara-suara aneh seperti sebuah desahan berasal dari ruang keluarga rumahnya. Mulanya ia berusaha untuk mengabaikan semua itu, namun lama-lama suara itu semakin menjadi dan ia tidak tahan lagi.

Hyerin keluar dari kamar dan menemukan ibunya sedang bercumbu dengan seorang pria yang tidak Hyerin kenali di sofa ruang keluarga. Hal seperti itu bukanlah pertama kali, sehingga Hyerin tidak perlu terkejut lagi.

“Apa Ibu sudah tidak waras? Apa Ibu lupa kalau Ibu punya anak gadis yang seharusnya tidak melihat semua ini?” tanya Hyerin kesal.

Dengan terpaksa Ibu Hyerin mengakhiri kegiatannya untuk kemudian memandang Hyerin marah. Sembari memperbaiki pakaiannya, ia kemudian menghampiri puterinya. “Siapa yang menyuruhmu keluar dan melihatnya? Kau seharusnya tetap berada di kamar dan belajar saja!”

“Tapi aku punya telinga dan aku bisa mendengar semuanya, Bu! Aku tidak bisa konsentrasi belajar, Ibu tahu?!” teriak Hyerin kesal. Matanya memerah, entah menahan amarah atau sakit hati.

“Kalau begitu, kenapa kau masih saja di rumah? Bukankah aku menyuruhmu untuk menikah dengan Tuan Jo? Dengan begitu kau tidak akan menyulitkanku, kau tahu!”

Hyerin tidak bisa menahan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa Ibunya benar-benar akan mengatakan itu.

“Aku membencimu!” isak Hyerin. Ia lantas mengambil jaket dan tasnya dari dalam kamar, untuk kemudian meninggalkan rumah dengan membanting pintu.

***

Hyerin mengecek jam di ponselnya. Hampir pukul 11 malam.

Hyerin tidak tahu harus kemana dan yang ia lakukan hanya duduk di halte bus dekat rumahnya selama hampir sepuluh menit. Dirinya tidak punya tujuan, tentu saja. Ia kemudian mencoba menghubungi Hayoon, berharap sahabatnya itu bisa membantu. Namun sayang, Hayoon tidak menjawab panggilannya.

“Mungkin dia sudah tidur,” gumam Hyerin lirih.

Ia kemudian berniat menghubungi Sehun. Meski ragu pada awalnya, ia tetap menekan icon panggil pada kontak Sehun.

Tepat setelah itu, sebuah bus berhenti di hadapannya. Dan tidak sengaja ia mendapati Baekhyun berada di salah satu kursi penumpang bus. Namun, pemuda itu tidak sedang melihat ke arahnya.

Entah apa yang Hyerin pikirkan, ia lantas menekan end call di ponselnya dan buru-buru beranjak naik ke dalam bus. Bahkan di saat seperti ini, ia masih saja ingin menyelidiki Baekhyun.

.

Hyerin berhasil mengikuti Baekhyun tanpa ketahuan. Dari kejauhan, ia bisa melihat Baekhyun memasuki gerbang sebuah rumah.

Begitu Baekhyun sudah masuk, Hyerin kemudian mendekat untuk bisa melihat rumah itu lebih dekat. Namun ia langsung kembali bersembunyi saat mendapati gerbang itu dijaga oleh beberapa pria bersetelan hitam. Ia pun bertanya-tanya rumah siapa itu dan kenapa rumah itu dijaga ketat sekali.

“Apa Baekhyun tinggal di situ?” Hyerin lagi-lagi bertanya pada angin.

.

Setelah berpikir dan menimbang-nimbang selama hampir lima menit, akhirnya Hyerin memutuskan untuk menerobos masuk ke rumah itu. Ia sudah pernah beberapa kali memanjat pagar sekolah, jadi rasanya memanjat pagar rumah Baekhyun yang tingginya hampir dua meter itu bukanlah hal mustahil.

Hyerin memilih spot di samping rumah, di mana tidak ada penjaga pada bagian itu. Sungguh, rasa penasarannya akan Baekhyun benar-benar memuncak; Baekhyun pasti bukan murid bengal biasa.

Gadis itu berhasil menemukan pijakan sehingga ia bisa memanjat ke atas pagar. Begitu sampai di atas, ia melemparkan tasnya lebih dulu ke pekarangan rumah, baru kemudian dirinya turun dari atas pagar dengan hati-hati.

“Sudah kubilang aku ahlinya memanjat,” ujar Hyerin bangga, kemudian membersihkan beberapa bagian pakaiannya yang kotor. Setelah mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya ia melihat penampakan rumah di hadapannya.

Hyerin terperangah memandang rumah—yang menurutnya seperti istana—di hapannya.

.

Hyerin mengendap-endap selama hampir sepuluh menit dan tidak juga menemukan pintu yang bisa ia masuki. Saat ia berusaha membuka sebuah pintu dengan paksa, tiba-tiba mucul seorang pria berbadan kekar sehingga ia harus kembali bersembunyi di balik tiang besar. Untunglah, tiang itu sangat besar sehingga tubuhnya bisa benar-benar tertutupi dan pria itu melintas begitu saja tanpa curiga sedikit pun.

Hyerin bertanya-tanya apakah itu rumah presiden atau semacamnya hingga harus dijaga seketat itu.

Saat berbalik, betapa senangnya Hyerin saat mengetahui bahwa pintu yang sebelumnya tertutup itu, kini terbuka sangat lebar.

Namun, mata berbinar-binar itu berubah jadi terbelalak ketika ia menemukan Baekhyun berdiri di sana—masih dengan mengenakan seragam namun tanpa blazer.

Sama hal nya dengan Hyerin, Baekhyun juga tak kalah terkejutnya. “Hyerin-ssi?”

“B-Baekhyun..” Hyerin gelagapan.

“Kau masuk ke rumahku diam-diam?”

“Rumahmu?” Hyerin melotot. “Jadi benar ini rumahmu?”

“Eum..” Baekhyun berusaha mengelak. “Maksudku, yeah, aku memang tinggal di sini.” Baekhyun tidak berhasil menemukan kata-kata lain.

Ya! Byun Baekhyun, siapa kau sebenarnya?” tanya Hyerin masih dengan raut terkejutnya.

“Hyerin-ssi, sebaiknya kau keluar dari sini sekarang sebelum penjaga-penjaga itu menangkapmu! Aku serius, pemilik rumah ini tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja. Percayalah.” Baekhyun menghampiri Hyerin dan mendorong gadis itu untuk pergi.

Namun Hyerin tidak mau pergi begitu saja. “Ya! Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku,” ujar Hyerin serius. “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku?” tanya Baekhyun memastikan. “Oh, oke, aku Byun Baekhyun. Puas?”

“Aku serius, Baekhyun,” balas Hyerin tajam.

“Ya, aku juga serius!” teriak Baekhyun kesal.

Baekhyun hendak berbicara lagi, namun ia mendapati seorang penjaga sedang berjalan ke arah mereka. Maka, ia menarik Hyerin masuk ke rumah.

“Dengar, Hyerin, tempat ini sangat berbahaya. Kau seharusnya tidak pernah masuk ke tempat ini!”

“Jadi kenapa kau berada di sini kalau memang tempat ini berbahaya?” tanya Hyerin keras kepala.

“Karena kau dan aku berada di posisi yang berbeda!”

“Kenapa?”

“Ya ampun! Bisakah kau berhenti bertanya?!” Baekhyun hampir frustasi menjelaskan.

Tiba-tiba, pintu lain di dekat mereka terbuka. Refleks, Baekhyun mendorong Hyerin ke balik dinding.

Hyerin melihat seorang pria paruh baya sedang merangkul mesra seorang wanita muda dengan diikuti beberapa pria berbadan kekar di belakangnya. Gerombolan pria itu kemudian naik ke atas tangga setelah sebelumnya menunduk hormat pada Baekhyun di sana, kecuali si pria paruh baya. Hyerin menebak bahwa pria yang merangkul wanita itu adalah pimpinan mereka.

“Sepertinya kali ini lebih muda dari yang sebelumnya,” gumam Baekhyun lirih.

“Apa kau bilang?” tanya Hyerin memastikan.

Baekhyun terkejut dan menoleh. “Kau masih di sini?”

“Kau pikir aku bisa keluar melewati penjaga-penjaga itu?” balas Hyerin kesal, tapi kemudian ia menunduk sedih. “Lagipula aku tidak punya tempat untuk bermalam.”

Baekhyun memandang Hyerin tidak percaya.

***

“Ini benar-benar kamarmu?” tanya Hyerin takjub, seraya terus mengamati kamar Baekhyun yang hampir seluas rumahnya.

Hyerin benar-benar tidak menyangka bahwa murid semalas Baekhyun nyatanya adalah seorang anak orang kaya. Pantas saja orang seperti Baekhyun sangat meremehkan kehidupan. Hyerin mendecih. Orang-orang seperti mereka memang sudah terlahir dengan sendok perah di mulutnya, pantas saja.

“Jangan berbicara lagi padaku malam ini,” ujar Baekhyun dingin, lantas melemparkan sebuah selimut pada Hyerin.

Hyerin berdecak begitu Baekhyun masuk ke ruangan lain di kamar itu. Hyerin kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari tempat di mana ia bisa tidur, lalu menemukan sebuah sofa.

Namun sebelum tidur, ia bertanya-tanya di mana Baekhyun menyimpan minumannya. Ia pun berjalan ke ruangan lain di dalam kamar itu, dan menemukan sebuah kulkas besar. Hyerin terperangah begitu melihat isi kulkas itu; ada banyak sekali jenis minuman, bahkan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Mulanya ia ingin meminta izin pada Baekhyun untuk mengambil salah satu minuman di sana. Namun kemudian ia ingat kalau Baekhyun memintanya untuk tidak berbicara dengan pemuda itu. Well, ia akan memberitahu Baekhyun besok pagi saja.

Hyerin pun mengambil secara acak salah satu minuman yang tidak ia kenal merknya itu, lalu meminumnya perlahan. Beberapa saat, ia mengambil lagi minuman dengan jenis yang sama. Demi Tuhan, ia akan memberitahu Baekhyun besok pagi.

.

Baekhyun berusaha untuk tidur dan mengabaikan keberadaan Hyerin di dalam kamarnya. Namun pada akhirnya ia tetap kepikiran juga. Dengan malas ia turun dari kasur dan mencari Hyerin di tempat ia meninggalkan gadis itu sebelumnya. Namun, ia justru mendapati gadis itu sedang berbaring di lantai.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Hyerin.

Ya! Jung Hyerin! Apa kau akan tidur di lantai begini?”

Tapi bukannya bangun, gadis itu malah menggeliat ke sana ke mari sembari menggumam, “Baekhyun, kenapa kamarmu panas sekali?”

“Apa?” tanya Baekhyun bingung. Ia kemudian mengecek air conditioner di kamarnya dan alat itu masih berfungsi dengan baik.

“Sampai kapan gadis gila ini akan menyusahkanku?!” Baekhyun mengeluh. Namun pada akhirnya ia tetap tidak tega membiarkan Hyerin tidur di atas lantai. “Kenapa juga aku harus peduli padamu?” Baekhyun kemudian menggendong Hyerin ke atas sofa.

“Panas sekali..” gadis itu kembali menggumam dengan mata tertutup.

Baekhyun setengah melemparkan Hyerin ke atas sofa. Ia benar-benar tidak mau peduli lagi. Namun saat ia berbalik, tangan Hyerin menahan kaosnya.

“Baekhyun, aku kepanasan.” Hyerin merancu tidak jelas di dalam tidurnya.

Baekhyun mengernyit kebingungan. Pandangannya kemudian menangkap botol minuman di atas meja. Ia ingat bahwa beberapa hari yang lalu, kakak laki-lakinya menitipkan beberapa botol minuman serupa ke dalam kulkas di dalam kamarnya. Ia pikir itu adalah jus atau semacamnya sampai kemudian ia ingat sesuatu.

“Astaga!” Baekhyun yakin Hyerin baru saja meminum minuman itu.

“Panas sekali..”

Baekhyun menoleh dan mendapati Hyerin sedang berusaha melepas jaketnya. Ia pun buru-buru menghentikan kegiatan gadis itu.

Ya! Hentikan!” teriak Baekhyun panik.

Namun Hyerin sudah terlanjur melemparkan jaketnya asal entah kemana. Untunglah, gadis itu masih memakai kaos panjang di dalamnya. Baekhyun pun menghela napas lega.

Tepat setelah itu, Hyerin kembali menarik kaus Baekhyun. Baekhyun berusaha melepaskan diri, namun gadis itu tiba-tiba bangkit dan berdiri di hadapannya. Lalu tanpa aba-aba, Hyerin mengalungkan tangannya ke leher Baekhyun sehingga membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan dan mereka terjatuh ke atas sofa dengan posisi Hyerin menindih tubuh Baekhyun.

Ya! Jung Hyerin, sadarlah!” Baekhyun berusaha bangkit, namun Hyerin menahan posisi mereka tetap seperti itu.

Baekhyun menghentikan kegiatannya saat melihat Hyerin membuka matanya. Pandangan keduanya bertemu untuk beberapa saat. Dengan jarak yang hanya beberapa senti itu, Baekhyun baru sadar bahwa Hyerin memiliki bulu mata yang cantik dan poni yang lucu. Belum sempat Baekhyun tersadar, Hyerin sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Baekhyun.

Baekhyun mengerjap, seluruh tubuhnya kaku membeku untuk sejenak. Ia kemudian berusaha mendorong Hyerin, namun gadis itu bersikeras kembali ke posisi semula, dan malah melumat bibir Baekhyun lebih dalam.

Baekhyun tidak membalas ciuman itu, matanya terpejam dan tangannya terkepal kuat.

Tapi, godaan itu lebih kuat. Baekhyun akhirnya membalik posisi mereka, dan mencium bibir Hyerin lebih intens. Sekali ini saja.

.

To be Continued.

Advertisements

59 responses to “The Red Line [2nd] – pramudiaah

  1. ini si baekhyun bapaknya mafia. keluarga mereka sama2 gak harmonis keknya. kecurigaan hyerin membawa malapetaka. si sehun kok potek sih. jan2 tar suka sama hyerin.

    ukey lanjut deeh part 3

  2. Sprtinya ada sesuatu nih dgn Sehun,,, wah bnr2 rasa pnsaran Hyerin udah klwatan…
    Aduhhh mrka bkal kjdian gk yaaa

  3. Hyerin nekad banget serius. Dia sampe manjat buat ngikutin Baekhyun. Dan itu malah jadi malapetaka buat dia sendiri.

    Ceritanya keren. Banyak misteri yang bikin penasaran.

  4. aaa… gak bisa milih antara baek ama sehun…. btw mereka ngapain?? dan minuman itu jangan bilang minuman perangsan

  5. astaga hyerin bodoh ama cerobohnya parah banget sich itu baekhyun bisa lepas kontrol ntar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s