[CHAPTER 21] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Kedatangan Kang Soo-Ah—bibi Hee-Ra—dan putranya sama sekali tak membuatnya senang. Suara Baek-Hyun yang cukup nyaring sebenarnya membuat Hee-Ra tak begitu nyaman. Oh ayolah, kenapa ada pria yang memiliki sifat seceria ini sih? Hee-Ra mungkin tidak akan tahan kalau disuruh tinggal bersama keluarga itu.

 

Well, sebenarnya sifat ceria Baek-Hyun diturunkan oleh ibunya. Mereka sangat suka berbicara, entah dengan orang yang dikenal maupun tidak.

 

Lebih lagi, ia harus mampu menahan diri sampai pukul delapan malam. Ia bahkan hampir menangis senang saat Baek-Hyun dan ibunya pamit pulang.

 

Sayangnya, sampai sekarang Se-Hun belum menampakkan batang hidungnya. Sejak Kang So-Hee mengatakan Se-Hun pergi menggunakan mobil yang mereka pinjam, pria itu tak memberi kabar sama sekali. Tentu saja pikiran negatif dengan mudahnya menyerang Hee-Ra. Banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bagaimana kalau Se-Hun kecelakaan? Bagaimana kalau Se-Hun lupa jalan pulang? Bagaimana kalau mobil yang digunakan mogok?

 

Dan di sinilah Hee-Ra sekarang. Duduk cemas di sofa, sementara jam dinding telah menunjukan pukul sepuluh malam. Bayang-bayang akan kejadian kemarin malam terus saja berputar di kepalanya, sesekali Hee-Ra mendecak, dalam hati mengumpat pada diri sendiri, kenapa ia bisa sebodoh itu? Mencium Se-Hun dengan begitu agresif? Jangan-jangan Se-Hun sengaja pergi pagi-pulang malam agar tak bertemu Hee-Ra? Jangan-jangan Se-Hun takut padanya gara-gara kemarin?

 

Jujur saja, sampai sekarang Hee-Ra masih bimbang pada alasannya untuk mencium Se-Hun kemarin. Ia tak yakin bila rasa dinginlah alasan paling kuat untuk melakukan itu. Ia merasa hatinya cukup banyak ambil bagian hingga munculah keberanian untuk mencium Se-Hun.

 

Mungkinkah…

 

Mungkinkah Hee-Ra jatuh cinta lagi pada Se-Hun?

 

Tidak! Tidak mungkin! Ia yakin perasaannya sudah mati sejak tak sengaja melihat Se-Hun membunuh waktu SMA dulu. Dan seharusnya hal itu makin mati ketika mendapati beberapa foto mencurigakan yang ada dalam kamar Se-Hun. Seharusnya seperti itu.

 

Tapi kenapa ia malah mengedepankan setiap momen dimana Se-Hun begitu manis padanya? Kenapa ia malah terlena pada sikap Se-Hun yang akhir-akhir ini sangat hangat dan seolah ingin melindunginya?

 

Seharusnya dulu ia melaporkan Se-Hun ke kantor polisi karena telah membunuh, tapi kenapa perasaannya berkata bila apa yang dilakukan Se-Hun waktu itu tak sejahat yang telah dilakukan oleh orang yang dibunuhnya?

 

Hee-Ra benar-benar tak bisa mengerti dirinya sendiri.

 

“Kenapa belum tidur?”

 

Hee-Ra terkesiap, matanya membulat setelah mendengar pertanyaan dari seseorang. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Se-Hun tengah berdiri di depan pintu. Pria itu mengerutkan keningnya penuh tanya, curiga kenapa Hee-Ra belum tidur dan malah menenggelamkan diri dalam lamunan tanpa lampu di ruang tengah.

 

Omong-omong, Hee-Ra tak mendengar suara mobil sama sekali. Apakah ia terlalu larut dalam pikirannya tadi?

 

“Kenapa belum tidur?” Se-Hun mengulangi pertanyaannya, kali ini lebih keras.

 

“Aku menunggumu,” Oh, shit! Apa yang kukatakan? “Maksudku, aku bertanya-tanya kenapa kau belum pulang dan—”

 

“Aku senang kau menungguku,” kata Se-Hun, memotong ucapan Hee-Ra sebelum selesai. Ia menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekati gadis itu, kemudian berjongkok di hadapannya. “Kau sudah makan malam?”

 

Tatapan lembut yang diberikan Se-Hun terasa bagai mantra yang begitu kuat sehingga Hee-Ra mau tak mau akhirnya jatuh dalam pesonanya. Ia menggeleng beberapa kali, “Belum.”

 

Kali ini sebuah senyum yang terasa lebih sensual ditampilkan oleh pria itu. “Mau makan malam bersamaku?”

 

“Baiklah. Kurasa perutku cukup lapar,” jawabnya yang sedetik kemudian telah bangkit mendahului Se-Hun.

 

Mereka beralih ke dapur. Se-Hun menyuruh Hee-Ra untuk duduk di meja makan, sementara ia yang akan berhadapan dengan peralatan memasak. Yah, walaupun Se-Hun adalah pria yang cukup sibuk, tapi ia memiliki skill yang lumayan hebat dalam hal masak-memasak.

 

“Kudengar tadi Bibi dan Baek-Hyun ke sini,” ucapnya membuka pembicaraan sambil terus membelakangi Hee-Ra dan lebih memilih fokus mencari bahan yang bisa dimasak.

 

“Ya, seharian mereka ada di sini.”

 

“Dan Baek-Hyun menghabiskan banyak makanan, termasuk bagianmu. Benar, kan?”

 

Hee-Ra terkikik pelan mengingat betapa semangatnya Baek-Hyun menghabiskan makan malamnya tadi. Sebenarnya pria itu tidak seratus persen menyebalkan kalau dia tak banyak bicara. “Begitulah.” Ia berhenti sebentar, matanya terus memandang punggung Se-Hun yang begitu menggoda. “Omong-omong kau tadi ke mana?” Ia memberanikan diri untuk balik bertanya karena tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.

 

Kali ini Se-Hun berbalik, “Pasta atau omelette?”

 

Omelette!” Hee-Ra agak berteriak, tak menyadari kalau Se-Hun hanya sedang mengalihkan pembicaraan mereka. “Aku tidak begitu suka pasta,” lanjutnya.

 

“Baiklah, tunggu sebentar.” Setelah mengucapkan kalimat barusan, Se-Hun segera berbalik dan mulai memasak. Kelihaiannya menangani peralatan dapur berhasil membuat Hee-Ra kagum. Yah, bagaimana lagi? Ia hanya tak menyangka si pria yang selalu memiliki aura mengintimidasi ini rupanya bisa memasak.

 

“Aku baru tahu kau tidak suka pasta,” lagi-lagi Se-Hun berusaha membuka pembicaraan ke arah yang santai untuk membuat Hee-Ra lupa pada pertanyaannya, “kenapa kau tidak menyukainya?”

 

Menaikkan pundaknya bersamaan, “Entahlah, dari dulu tidak begitu suka.”

 

Pembicaraan mereka terhenti selama beberapa menit hingga akhirnya Se-Hun duduk di samping Hee-Ra sambil menaruh dua piring omelette di meja makan. “Makanlah, kau mau minum apa? Bagaimana kalau susu?”

 

Hee-Ra tertawa, “Kau pikir aku anak kecil yang harus minum susu sebelum tidur?” ujarnya.

 

“Bukankah itu selalu berhasil bagimu?” Se-Hun memotong omelette milik Hee-Ra dan memberikannya pada gadis itu. “Ayo, cobalah. Aku yakin omelette buatanku tidak begitu buruk.”

 

Hee-Ra menangguk, ia segera menerima uluran garpu dari Se-Hun dan melahap omelette buatan pria itu yang ternyata rasanya luar biasa! Ia tak menyangka kalau Se-Hun rupanya cukup handal dalam hal masak-memasak.

 

“Aku tidak menyangka kau sehebat ini!” pujinya penuh semangat. “Kau juga harus memakan omelette-mu, Oh Se-Hun. Ini benar-benar enak!”

 

“Kau menyukainya?” lontar Se-Hun polos.

 

Hee-Ra lagi-lagi tertawa, namun kali ini ia menepuk pelan pundak Se-Hun. “Kau bercanda? Aku sangat menyukainya! Kurasa kau memang hebat dalam banyak hal.”

 

Perasaannya terbang setelah mendengar Hee-Ra berkata menyukai masakan buatannya. Tidak ada gurat paksaan atau sekedar penghibur dari raut Hee-Ra. Se-Hun yakin gadis itu benar-benar memuji masakannya dengan sepenuh hati.

 

 

 

 

 

 

Tangannya refleks terulur, kemudian mulai mengusap pelan rambut Hee-Ra yang diurai begitu saja. Untungnya Hee-Ra tidak menjauh, ia malah memberikan seulas senyum manis pada Se-Hun yang tentu saja langsung dibalas oleh pria itu.

 

Mereka saling memandang satu sama lain, membalas tatapan dalam yang dilemparkan untuk mencari kejujuran. Rasa hangat menyeruak memenuhi dada keduanya. Kesedihan yang tadinya sempat hingga hingga menggelapkan hati, kini perlahan menghilang dan digantikan dengan kelembutan juga kasih sayang.

 

Ada satu hal yang disadari kedua anak manusia itu. Bahwa dalam kondisi seburuk apapun, pasti akan ada hal yang pantas disyukuri dan membawa kebahagiaan. Setidaknya itulah arti hidup bagi mereka saat ini.

 

Se-Hun tidak ingat kapan terakhir kali membuat Hee-Ra memandangnya sehangat ini—Yah, atau mungkin ia memang tak pernah melakukannya?

 

Tapi, yang pasti Se-Hun merasa bahagia. Ia seakan berhasil menemukan tujuan hidupnya yang beberapa waktu lalu sempat meredup. Ia merasa dipenuhi tenaga dan keyakinan untuk terus melindungi Hee-Ra.

 

Jujur saja, setelah melihat betapa manisnya senyum gadis itu, dalam hati Se-Hun berjanji akan melindunginya sampai mati. Ia benar-benar akan menepati janjinya.

 

“Teruslah seperti ini, Shin Hee-Ra.”

 

Hee-Ra mengerutkan keningnya. “Hm?”

 

Tanpa menghentikan kegiatannya untuk mengusap rambut Hee-Ra, Se-Hun menjawab, “Tersenyum. Aku sangat suka bila kau tersenyum.”

 

Dengan agak canggung, Hee-Ra mengangkat tangan kanannya dan mulai mengusap lembut pipi kiri Se-Hun, membuat pria itu sedikit terkejut dan hampir membulatkan matanya. “Aku juga suka melihatmu tersenyum.” Ia berhenti sebentar dan memperlebar senyumannya, “Dan aku lebih suka lagi bila kita tersenyum bersama. Seperti sekarang,” lanjutnya yang langsung diberi respon dengan sebuah pelukan erat oleh Se-Hun.

 

Aneh memang, empat tahun mereka bersama dan selalu dipisahkan oleh dinding tebal. Namun beberapa waktu belakangan ini rasa benci itu luntur dan kembali menumbuhkan kenangan masa lalu yang telah dipendam Hee-Ra dalam-dalam.

 

Ia hanyalah manusia biasa yang tak bisa mengatur perasaan, maksudku, bukankah rasa cinta adalah anugerah dari Tuhan? Dan bukankah hal itu berada di luar kekuasaannya sebagai manusia? Jadi tidak salah kan kalau Hee-Ra perlahan menikmatinya? Tidak salah kan kalau Hee-Ra mulai membuka hatinya?

 

“Asalkan kau terus bersamaku, aku berjanji akan selalu tersenyum.” Se-Hun melonggarkan pelukannya pada Hee-Ra dan menangkup kedua pipi gadis itu, “Sekarang, habiskan makanmu sebelum dingin, Shin Hee-Ra,” tukasnya sambil mengedipkan salah satu matanya.

 

 

 

 

 

 

Hee-Ra menyandarkan kepalanya ke pintu kamar. Tangan kirinya menggenggam ponsel yang barusan berbunyi karena mendapat pesan masuk dari Jong-In. Ia jatuh terlalu dalam, kalau saja tadi ponselnya tak berbunyi, Hee-Ra tak tahu hal apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Se-Hun di dapur setelah berpelukan.

 

Tentu saja deringan ponselnya cukup membuat ia canggung dan terpaksa pamit ke kamar. Untuk pertama kalinya ia merasa pesan dari Jong-In bukanlah hal yang diinginkannya, melainkan terus bersama Se-Hun.

 

Tidak, ia bukannya kesal pada Jong-In, hanya saja Hee-Ra merasa pesan itu masuk di saat yang tak tepat. Benar-benar tidak tepat.

 

Ok, jadi sekarang Hee-Ra harus bagaimana? Apa dia lebih baik mengakhiri hubungannya dengan Jong-In? Tidak. Sebenarnya Hee-Ra masih memiliki perasaan dengan pria itu, tapi percayalah bila  hampir setengah persen perasaan yang harusnya diberikan pada Jong-In, tiba-tiba saja teralihkan pada Se-Hun akhir-akhir ini. Dan itu membuat Hee-Ra cukup frustasi.

 

Tringg..

 

Lagi-lagi ponselnya berbunyi, Hee-Ra hampir melompat karena terkejut, untungnya ia cepat menyadari bahwa bunyi tersebut berasal dari pesan masuk yang dikirimkan Jong-In. Mungkin kekasihnya tersebut kesal karena Hee-Ra tak juga membalas pesan pertamanya tadi.

 

 

 

‘From : Kim Jong-In

 

Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak membaca pesanku dan hanya membacanya? Apa kau begitu sibuk?’

 

 

 

Hee-Ra menggaruk kepalanya dan menghempaskan diri ke kasur, kemudian mulai mengetik balasan pesan untuk Jong-In.

 

 

 

‘To : Kim Jong-In

 

Maaf, aku sangat mengantuk sampai tertidur setelah membaca pesanmu tadi. Kau tidak marah, kan?’

 

 

 

——————

 

 

 

‘From : Kim Jong-In

 

Tentu saja tidak. Aku tahu kau banyak pikiran beberapa hari ini. Cepatlah pulang, aku merindukanmu, Shin Hee-Ra. Tapi sebenarnya aku tidak masalah kalau kau memang membutuhkan lebih banyak waktu di sana, yang penting jagalah kesehatanmu. Dan aku berjanji akan menjaga hatiku di sini, kau juga harus melakukannya.’

 

 

 

——————

 

 

 

‘To : Kim Jong-In

 

Aku mengerti^^ Aku akan segera pulang, kau tidak perlu khawatir~’

 

 

 

 

 

 

Se-Hun hanya meringis saat Hee-Ra menerima pesan dan pamit masuk ke kamar. Ia tahu bila pesan tersebut berasal dari Jong-In. Serius, kalau saja Hee-Ra tidak memiliki hubungan yang begitu erat dengan Jong-In, mungkin Se-Hun telah melenyapkan pria sialan itu sejak lama.

 

Tapi ya sudahlah, Se-Hun juga tidak terlalu memiliki dendam dengan Jong-In. Lagipula ia berpikir bahwa kehadiran Jong-In ada untungnya juga. Mungkin, suatu hari nanti ia harus meminta bantuan pria itu untuk mengamankan Hee-Ra. Entah kapan waktunya, tapi Se-Hun yakin saat itu akan segera datang.

 

Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi Daniel. Well, Se-Hun punya beberapa pertanyaan untuk pria itu.

 

Riwayat Daniel sebagai hacker paling handal di organisasi, juga merupakan master dalam berbagai hal mengenai IT. Itulah alasan Se-Hun mempercayakan hal ini pada Daniel. Ya, untuk mencari keberadaan lelaki yang telah membuangnya dulu.

 

Setelah Daniel mengangkat panggilannya, Se-Hun segera memulai percakapan, “Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai pria itu?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

Sementara Daniel hanya membuang napas berat selama beberapa saat. Se-Hun mengerti kalau ia harus menelan kekecewaan untuk saat ini.

 

“Aku berjanji akan mendapatkannya besok,” ujar Daniel penuh keyakinan. “Kau bisa mempercayakan hal ini padaku.”

 

Se-Hun menarik salah satu ujung bibirnya. “Baiklah, aku akan pulang besok. Kuharap hal ini tidak mengganggu konsentrasimu untuk apa yang telah kita rencanakan.”

 

“Tentu. Kau tidak perlu khawatir.”

 

Daniel memang sedikit kaku. Yah, mau bagaimana lagi? Pria berkebangsaan Kanada itu memang hidup dalam tekanan sejak kecil. Predikat broken home akibat perceraian orang tuanya dan kecanduan narkoba sempat membuat hidupnya hancur. Sampai akhirnya Daniel benar-benar menghancurkan hidup dan masa depannya dengan bergabung dalam organisasi ini.

 

Kalau saja Se-Hun memiliki kesempatan untuk keluar, ia benar-benar ingin melepaskan diri. Ia tak pernah mempunyai keinginan untuk menjadi pembunuh, berbeda dengan Daniel.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungimu lagi besok,” gumam Se-Hun sebelum akhirnya mengakhir panggilan. Untuk sesaat ia hanya termenung di meja makan, pandangannya kosong, pikirannya bercampur aduk menjadi satu. Lalu detik selanjutnya ia menghela napas panjang dan memutuskan untuk masuk ke kamar. Tubuhnya butuh istirahat sebelum melakukan misi yang sempat gagal beberapa waktu lalu.

 

 

 

 

 

 

Seorang pria melangkah dengan percaya diri. Penampilannya yang agak kumal berhasil menjadikannya sebagai pusat perhatian. Rambut gondrong yang dibiarkan begitu saja dan kemeja yang tak dikancing membuat orang-orang menatapnya aneh. Seperti gelandangan yang masuk ke tempat elit.

 

Hei! Apa dia salah tempat? Mungkin pertanyaan seperti itu yang ada dalam pikiran mereka.

 

Pria itu memasuki sebuah ruangan di lantai lima. Dilihatnya seorang pria berjas hitam tengah duduk sambil memandang laptop, keningnya mengerut begitu menyadari kehadiran orang lain dalam ruangannya.

 

“Siapa kau?” tanyanya langsung.

 

Pria itu bergeming selama beberapa saat, namun senyum liciknya mengembang. Ia duduk di sofa dengan percaya diri. “Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang pasti aku bisa memberimu informasi tentang hal yang selama ini sangat kau inginkan.”

 

Siapa pria ini? Apa yang membuatnya begitu percaya diri? Serius, ia benar-benar mengesalkan!

 

“Kau? Apa yang kau ketahui?”

 

Pria itu menajamkan pandangannya. “Aku tahu kau telah menempatkan anak buahmu untuk menyamar, tapi sayangnya dia terbunuh karena ketahuan. Benar, kan?” Ia berhenti sebentar dan memberikan tatapan kemenangan. “Ayolah, kau terlalu bodoh bila terus mengirimkan agen dan membiarkan mereka mati sia-sia. Lebih baik kau melakukan saranku.”

 

Sialan!

 

Siapa pria ini? Berani sekali dia bicara seperti itu?

 

“Kau tidak perlu menunjukkan wajah kesalmu, sungguh.” Ia menegakkan dadanya dan kembali melanjutkan ucapannya, “Aku menyarankanmu untuk berhenti mengirimkan agen dan mulai mengendalikan salah satu anggota organisasi mereka.”

 

Pria itu tertawa, “Mengendalikan anggota mereka? Apa kau bodoh? Mereka semua loyal pada organisasi, brengsek!”

 

“Benarkah? Aku tidak melihat seperti itu.” Ia menarik ujung bibir kirinya. “Karena aku tahu orang yang bisa kau andalkan dalam hal ini.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

38 responses to “[CHAPTER 21] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Jadi baper ngeliat mereka berdua,akur terus yaah

    Sekian buat chap ini.terlalu banyak yg mau di ungkapkan takut ga muat

  2. Uhhh… Seneng banget ngeliat sehun sama hee ra yang lagi berduaan, rusuh yaa jongin i,ni, orang lagi seneng-seneng jugaaa.

  3. Apa cuma gw yg ngerasa kalo agen yg dimaksud itu sehun???? Huweeee itu polisi bukan yg diajak bicara?? Dan lelaki gondrong itu? Who’s that man?!

  4. Thor thanks y karena buat banyak moment hee ra sama sehun. Semoga aja nanti mereka hidup bahagia ☺😊😊😊😊😀😀

  5. Itu lklk yg tarkhir papa nya sehun kah? Agen yg dimaksud itu sehun juga?penasaran 😥 heera sehun knapa ga bersama aja siii, takut banget kalo sehun pergi ninggalin heera 😦 next ya

  6. Seneng bangeh sehun bisa senyum bareng hee ra gitu.
    Part akhirnya siapa cowok tadi ? Makin nggak sabar sama kisah2 mereka, ditunggu nextnya

  7. Pesan dari jongin sungguh mengganggu momen romantis mereka, aku baper pas baca adegan mereka berdua. Semoga kisah cinta mereka berkhir bahagia
    Siapa laki-laki itu ya ?
    Ditunggu chapter selanutnya.

  8. Makin dkt adja mereka..seneng bgt..kaya y heera jatuh bwt ke 2 x nya hahahaa…hati y terbelah 2 bwt jongin ma sehun…
    Itu kira2 siapa y…

  9. Senang.a liat mereka akur gitu,.
    *makin enggak sabar pengen jongin sama hee ra pisah. 😜

    Kek.a masih panjang banget jalan menuju happy.a,
    Semoga rintangn yg menunggu enggak terlalu menyakitkan. N semogga enggak ada korban lagi.,

  10. Akhirnya….. di post juga 😛 siapa itu yg berdialog diakhir? duh Heera sama sehun…. hub. mreka… /ish bkin q iri…. mskipun bgitu q suka bgt dg progress hub. mreka. seenggaknya ga nyesekin bwt Sehun sndiri 😦 😀 Tapi ksian ya Jongin… bca pesannya utk Heera bkin mewek n seketika jd ikut galau.. 😦 Yah mw gmn lagi, pda kenyataannya sgt sulit utk ngendaliin perasaan suka sm seseorang kn… huhu keren ini! ditungggu next nya! 😉

  11. Ya ampun siapa pria misterius itu, apa yang sedang mereka rencanakan… Oh my god, semoga bukan sesuatu yang buruk buat Sehun

    Next

  12. Part yg di akhir chapter ini bikin aku penasaran sumpah …
    Dan yg aku suka dari ff ini adalah alur cerita nya yg gk maksa bgt gitu ,, fix ff ini keren 🙂

  13. Hanya satu yg bisa keluar dari mulutku saat baca ff ini “authornya hebat bisa buat alur yg sekeren ini”
    Penasaraannnn.izin lanjut thor

  14. Gak kepikiran sedikitpun, siapa bapak gembel itu *eh, agak kumel maksudnya 😂😀✌. Penasaran bgt bgt bgt.
    Emangnya Sehun sama Hee-Ra bakal ngelakuin apa kalau gak ada pesan dari Jongin? 😩😏😅.
    Aduuuh, Aku next ya, Kaaaak 😉😘😚.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s