[Oneshot] That Man and That Woman – by A.S. Ruby

That Man and That Woman

Presented by:

A.S. Ruby

   

Main Cast: Oh Sehun & Park Byul (OC) || Genre: AU, Romance, Life, Marriage Life, etc || Rated: T/PG-15 || Length: Oneshot (3,1k+ words) 

 

Disclaimer

Inspired by a really beautiful song written and sung by Banda Neira, “Sampai Jadi Debu”, I present this one for you. I own nothing except the poster and the storyline; there’s no money-making here of course.

 

 .

 

“Perempuan itu memohon demi sepersekian detik yang ada—begitu pula lelaki itu. Namun, tiada seorang di antara keduanya yang tahu bahwa rindu itu masih ada.”

 

.

 

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

 

“Apa lagi yang harus kuharapkan?”

 

Perempuan itu menundukkan kepalanya lesu, jemarinya bergetar menahan pena yang kini berusaha digenggamnya agar tak tergelincir jatuh. Sekujur tubuhnya terasa kaku, setiap sendinya seolah meleleh begitu mendengar lelaki itu bersuara kembali; sakit. Hatinya sakit membayangkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat—seluruh mimpi dan harapannya, cita-citanya, hidupnya akan luluh lantah sebentar lagi.

Persis begitu mereka menyepakati perihal yang satu itu.

“Ketika berkas ini sudah sampai di pengadilan, kau tahu apa yang akan terjadi…”

Bibirnya bungkam.

“Kau dengar aku, kan…” Dapat didengarnya lelaki itu menghela napas pelan, kini sama putus asanya dengan dirinya. “Jika memang ini keputusan finalmu, aku akan rela—sungguh…”

“T—tetapi, tidakkah kau…”

Geming sejenak dan toh perempuan itu pun masih enggan berbicara, terlalu takut jikalau suaranya justru akan tergantikan oleh tangis yang mulai berupaya melesak melalui pelupuk mata. Sepanjang usianya, tiada hal apa pun yang lebih berat dari ujian yang dihadapinya kini; melepaskan atau mempertahankan dan di antara keduanya tersisip dua risiko yang saling bertolak belakang; seperti dua sisi mata koin yang sialnya sama-sama menyakitkan.

 

Byul…”

 

Lelaki itu memanggil namanya.

 

Tolong…”

 

 ∅
 

Pada awalnya, segala sesuatunya terasa seperti mimpi bagi mereka. Lelaki bernama Oh Sehun dan perempuan bernama Park Byul itu hanyalah sepasang insan yang secara ajaib dipertemukan Tuhan di suatu sore yang mendung, pada salah satu kedai kopi kecil dengan bangku-bangku cokelat kayunya yang hangat. Ditemani dua cangkir macchiato yang kebetulan mereka gemari bersama, keduanya larut dalam satu konversasi penuh antusiasme yang berujung pada saling tertariknya mereka terhadap satu sama lain.

 

Namaku Byul. Park Byul.”

 

Oh Sehun. Panggil aku Sehun, tetapi jika kau tidak keberatan,” bibirnya mengukir seulas senyum tipis, “panggil saja aku ‘Hun’.

 

Masih tersimpan rapat di dalam benak keduanya betapa indahnya hari itu, kala jemari mereka pertama kali menyentuh satu sama lain.

 

Senang berkenalan denganmu, Oh Sehun. Oh tidak,” perempuan itu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul, “maksudku, ‘Hun’. Karena, oke, kau lebih senang dipanggil seperti itu.

 

Senang berkenalan denganmu juga, Byul—Nona Bintang, hm?”

 

Oh Sehun sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan gadis seunik itu seumur hidupnya: namanya Park Byul, usianya dua puluh dua tahun. Dia senang meneliti sastra yang hidup pada era 40’an hingga saat ini dan telah melintasi sekitar tiga puluh negara dalam kurun waktu enam tahun belakangan untuk meneliti berbagai etnis di dunia. Bibirnya begitu lancar menceritakan petualangannya mempelajari antropologi yang sedang didalaminya selama ini, mendeskripsikan hasil studinya seumpama hal tersebut merupakan cinta dalam hidupnya. Seperti namanya yang bermakna bintang, Sehun mengakui bahwa gadis itu sungguh cemerlang—seperti bintang yang bersinar di angkasa.

Sama halnya dengan lelaki bernama Oh Sehun yang satu itu, Park Byul sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegembiraan sekaligus kekagumannya kepada sosok yang baru dikenalnya hari itu. Namanya Oh Sehun, usianya dua puluh tiga tahun, seorang penulis muda yang memiliki ambisi begitu besar terhadap sastra dan telah mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk menulis tanpa henti; menggoreskan penanya di atas kertas lantaran cinta akan sastra, bukan sekadar berupaya mendapat sepeser pecahan mata uang dari sana.

 

Sampai jumpa lagi, Hun.”

     

“Sampai jumpa lagi, Byul.

 

Ø

 

“Kau sudah tahu risikonya…”

     

“Ya. Aku tahu.”

     

“Tidakkah kau takut?”

     

“Tidak sama sekali.”

 

Bohong.

 

Jauh di lubuk hatinya, perempuan bernama Park Byul itu tahu betul bahwa apa yang diutarakannya kali ini tak lebih dari sekadar dusta belaka. Bohong jika dia mengatakan bahwa hatinya tidak sakit, tidak benar bahwa dia sudah siap menanggung segala risiko yang ada, tetapi tiga perempat dari hatinya telah memutuskan untuk mengambil keputusan tersebut: melepaskan Oh Sehun selama-lamanya.

 

Ø

 

Bertahun-tahun silam, ketika segalanya masih baik-baik saja, lelaki dan perempuan itu pernah berjanji tak akan melepas satu sama lain. Lantaran keduanya percaya bahwa keyakinan mereka jauh lebih kuat dibanding keras serta kejamnya dunia ini. Aral melintang jelas akan datang, itu hukum tetap yang telah digoreskan Tuhan dalam kitab takdir, tetapi mereka sepakat untuk terus menggenggam tangan satu sama lain hingga titik akhir nanti; suatu saat tatkala napas keduanya berembus untuk terakhir kalinya.

 

“Dibanding memintamu untuk tidak pergi, aku berjanji untuk tetap tinggal. Apa pun yang terjadi, Byul.”

   

Pada hari itu, lelaki itu berbisik lembut seraya menggenggam tangannya erat, membuat perempuan itu serta-merta tak mampu menahan senyum. Manik keduanya menatap lurus ke arah samudera yang perlahan memendar keemasan bersama sang fajar yang mulai muncul di ujung timur horizon. Angin pagi melambai pelan menggelitik kulit keduanya,  bersatu-padu bersama desir ombak yang telah mereka amati sekitar satu setengah jam lamanya; hanya berdua.

 

“Dan dibanding memintamu untuk berjuang sendirian, aku berjanji akan terus ada di sampingmu. Dalam suka maupun duka, lapang atau pula sempit—aku janji akan terus ada. Apa pun yang terjadi, Hun.”

   

Apa pun yang terjadi. Itu janji keduanya.

 

Ø

      

Tetapi pada nyatanya, setelah nyaris satu dasawarsa keduanya berjuang bersama, lelaki dan perempuan itu justru nyaris menyerah kali ini.

Apa pun yang terjadi kini tak lebih dari kalimat klise yang menimbulkan rasa perih belaka. Semua janji yang pernah terucap di antara keduanya tak lagi mampu menjadi alasan bagi mereka untuk bertahan—barang waktu sehari pun. Perjalanan panjang mereka, semua usaha yang selama ini dilaksanakan sehati-hati mungkin, semuanya tak lebih dari seonggok daging busuk di bawah kaki lelaki dan perempuan itu sekarang.

Lelaki itu, Oh Sehun, telah menimbulkan luka menganga besar di hati perempuan yang telah memperjuangkan segalanya untuknya selama ini. Entah disadari oleh lelaki itu atau tidak, sosoknya telah menghancurkan perempuan itu menjadi ribuan keping rusak yang tidak akan mungkin tersusun kembali.

Sebab nyatanya, lelaki itu berkhianat.

 

“Apa kabar perempuanmu yang baru?”

 

Ø

 

Musim gugur tak pernah sehangat ini dalam hidup seorang Park Byul yang kala itu menginjak usia seperempat abad. Tidak ada kesempurnaan yang lebih indah dibanding apa yang dirasakannya saat itu, persis sewaktu Oh Sehun yang berusia dua puluh enam menikahinya setelah tiga tahun keduanya bersama. Bersamaan dengan menguningnya dedaunan, lantas disusul oleh meranggasnya mereka lantaran angin yang bertiup, lelaki dan perempuan itu saling mengukuhkan sumpah setia di hadapan Sang Pencipta.

 

“Park Byul, hari ini di hadapan Tuhan serta seluruh umat manusia, aku menyatakan kesediaanku menjadi rekanmu sepenuhnya dalam menjalani hidup. Berjanji untuk terus berjalan bersamamu, memberikan kepercayaanku sepenuhnya kepadamu, menuntunmu menjalani seluruh tantangan hidup ke mana pun takdir akan membawa kita. Saling belajar, mendukung sama lain, juga saling mencintai…”

   

“Selamanya.”

   

“Untukmu, Oh Sehun, pada hari ini di hadapan Tuhan serta seluruh umat manusia, aku menyatakan kesediaanku menjadi rekanmu sepenuhnya dalam menjalani hidup. Berjanji untuk terus berjalan bersamamu, memberikan kepercayaanku sepenuhnya kepadamu, mendampingimu sesulit apa pun tantangan hidup kita nanti. Menerima dirimu apa adanya, mencintaimu dengan sepenuh hati…”

   

“Selamanya.”

    

 

“Maafkan aku, Byul…”

Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan seseorang dalam menjalani suatu hubungan adalah berkhianat. Bagi perempuan itu, tidak ada dosa lebih besar yang dapat dilakukan oleh lelaki yang amat dicintainya itu kecuali mencari pelabuhan hati lain setelah sekian lama mereka berjuang bersama. Tak apa jikalau mereka harus berjuang lebih keras dalam mencari sesuap nasi, tidak masalah sama sekali jika keduanya harus tinggal saling berjauhan jika memang lelaki itu hendak fokus menulis novelnya demi menafkahi keluarga kecil mereka—tidak apa.

Bahkan Byul rela kembali bekerja setelah mereka dilanda krisis dua tahun belakangan ini dan dirinya harus mengalah lebih banyak demi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga mereka. Tetapi mengapa harus melakukan hal itu? Mengapa harus menjadikan alasan pekerjaannya sebagai tedeng aling-aling demi menjaga kerahasiaan hubungannya dengan perempuan barunya itu?

 

Mengapa?

   

Bibir perempuan itu bergetar hebat, “K—kau jahat, Hun…”

 

Tangis itu akhirnya pecah. Lagi.

 

“Serendah apakah aku kini di matamu hingga kau tega memperlakukanku seperti ini? Apakah perempuan barumu itu lebih menarik, Hun? Apakah dia mampu memberikanmu segala hal yang tak mampu kuberikan untukmu? Katakan padaku, Hun…”

Seolah jantungnya dihujam paku berkarat, Byul mempertanyakan kesalahannya kepada sosok lelaki itu, Oh Sehun yang masih menyandang gelar suaminya saat ini. “Apakah aku telah menyakitimu begitu hebat hingga kau tak berpikir panjang sebelum mencari perempuan barumu itu? Apa salahku, Hun? Bilang padaku…”

 

“Katakan apa salahku, Oh Sehun.”

 

“Byul, maafkan aku…”

 

“Apa salahku, Oh Sehun?!”

 

Ø

 

“Hei, aku punya suatu hal yang penting kuberitahukan kepadamu…”

               

“Apa itu?”

               

“Kau akan jadi ayah dalam waktu dekat ini, Hun…”

   

Tidak ada yang lebih indah bagi sepasang manusia yang saling mencintai kecuali menemukan fakta bahwa buah hati mereka sebentar lagi akan hadir di dunia. Begitu pula yang dirasakan oleh lelaki dan wanita itu, Oh Sehun dan Park Byul yang tak sabar lagi menanti satu sosok mungil yang kini tumbuh di dalam perut Byul kala itu: enam tahun silam. 

                 

“Hei, Sayang. Ini Appa…”

 

Setiap hari yang keduanya lewati seiring dengan pertumbuhan si kecil terasa begitu ajaib, amat mengagumkan. Tidak ada satu hal pun yang dapat lelaki dan perempuan itu lakukan, melainkan berterima kasih kepada Tuhan lantaran begitu murah hati dalam memberkati pernikahan mereka yang baru berjalan setahun lamanya. Mereka bersyukur lantaran bisa berjuang sejauh ini, dan sebentar lagi hidup mereka akan semakin sempurna dengan lahirnya sesosok makhluk mungil yang memberi warna berbeda dalam hidup keduanya.

 

“Rasanya mengagumkan sekali menyadari ada satu kehidupan sedang tumbuh di dalam sini,” pada suatu malam lelaki itu berujar lembut kepada perempuannya, jemarinya bergerak pelan membelai helaian surai kelam sang istri yang turut tersenyum. “Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Aku akan menjadi ayah dan kau akan menjadi ibu…”

                 

“Bagaimana rupanya nanti?”

   

“Apakah dia akan mirip denganku atau justru denganmu?”

   

 “Atau mungkin perpaduan di antara kita berdua?”

   

“Akankah dia jatuh cinta dengan sastra juga suatu saat nanti, seperti kita berdua, hm?”

   

Lelaki itu tak pernah berhenti bertanya, sungguh. Menjadi ayah merupakan salah satu hal paling menakjubkan sekaligus ajaib yang pernah dirasakannya seumur hidup.

Lantas pada hari itu pula, Oh Sehun mengecup lembut sosok perempuan yang paling dicintainya seumur hidup, Park Byul namanya. Dirinya merasa amat berterima kasih lantaran perempuan itu masih terus di sisinya hingga saat ini, sudah empat tahun keduanya bersama dan Oh Sehun tak pernah melewati harinya tanpa merasa tidak beruntung. Terlebih, sebab kini, sosok Byul pulalah yang menjadi ibu dari buah hati mereka kelak—benar, Sehun merasa sangat beruntung.

   

Perempuan itu sungguh akan jadi satu-satunya.

 

Ø

 

“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Byul,” Sehun menggelengkan kepalanya perlahan, kini seraya berupaya memberanikan diri menatap pasangan hidupnya, Byul, tepat di matanya.

“Aku yang bersalah. Aku yang terlalu egois mementingkan perasaanku saja tanpa sedikit pun memikirkan perasaanmu,”

Tidak terdengar satu sahutan pun menguar dari bibir merah itu. Byul bergeming, hanya isak tangisnyalah yang mengisi kisi-kisi dialog mereka yang dirundung emosi. Bagaimanapun juga, Sehun tahu betul bahwa masalah ini sebagian besar atau bahkan sepenuhnya merupakan tanggung jawabnya. Dia yang tolol lantaran tak pernah berhati-hati, begitu mudah dibutakan oleh rasa penat sekaligus sepi yang beberapa lama mengisi hubungan pernikahan mereka.

“Hidup di dua lingkungan yang berbeda ternyata sama sekali tak mudah bagiku, keputusanku untuk menetap di luar kota untuk memfokuskan diri pada novelku justru menjadi bumerang paling berbahaya untukku. Aku terlalu sering memikirkanmu, merindukanmu—tetapi kau justru tidak ada di sana, kau terlalu jauh untuk kugapai. Pikiranku dibutakan oleh keinginan sepintas untuk melepas rasa sepi sekaligus penat, dan…”

Ada geming sejenak yang muncul, lelaki itu berusaha sebisa mungkin mengatur kata.

“Dan perempuan itu datang. Awalnya aku hanya ingin berkonsultasi dengannya, memintanya memberi solusi akan permasalahanku; tentang rasa rinduku kepadamu, kepada keluarga kecil kita. Namun aku seketika buta,” suara beratnya kini kian rendah, “dan aku…”

A—aku…

“Byul,” tak mudah sama sekali bagi Sehun memanggil nama perempuan itu sekali lagi, “maafkan aku.”

Jika memang ini saatnya mereka berpisah, dirinya sama sekali tak ingin mereka berakhir sebagai musuh. Byul boleh mendepaknya dari rumah mereka, Byul boleh saja mencacinya sepuas yang diinginkannya, asalkan suatu hari keduanya bisa berdamai dan menjadi teman lagi. Tanpa ada dendam atau pula sakit hati; meskipun dirinya juga tahu melakukan hal itu tak semudah membalik telapak tangan.

 

Byul, maafkan aku.”

  

Hatinya diiris pilu menyaksikan istrinya sendiri menangis disebabkan kesalahan terbodoh seumur hidupnya. Oh Sehun adalah lelaki tertolol di dunia yang sudah sepantasnya sejak awal dicampakkan. Ketidakhati-hatiannya justru membawanya menuju lubang neraka dan dia sungguh menyesal.

   

Menyesal telah menyakiti perempuan itu. Perempuannya.

   

“Tolong jangan menangis lagi.”

Lamat-lamat, diusapnya wajah perempuan itu hati-hati. Oh Sehun semakin dilanda rasa bersalah begitu menyadari betapa kurus dan pucatnya sosok Byul kini, “Kau harus tetap sehat untuk Joon. Dia sangat membutuhkan ibunya sekarang, jadi kumohon untuk tetap kuat. Jika memang kau tidak bisa memaafkanku sekarang, aku paham. Dan jika memang kau ingin pergi, aku akan pergi.”

Ada keraguan yang sempat tersingkap sejenak di wajah lelaki itu, tetapi secepat mungkin dia menepisnya. Semua ini demi kebaikan mereka bersama; untuk Byul, Joon, juga dirinya sendiri. Sehun akan mengalah untuk menjauh, jika memang itu yang diinginkan oleh perempuan yang masih amat dicintainya seumur hidup tersebut.

“Kalau kau sudah merasa muak melihat eksistensiku di sini, aku akan menghilang atas permintaanmu. Aku akan menandatangani berkas yang disodorkan tadi malam ini juga dan kau boleh langsung mengajukan gugatan ceraimu ke pengadilan besok, Byul. Karena aku sadar, setiap perbuatan tentu memiliki ganjarannya masing-masing, dan ini ganjaran untukku.”

Sekali lagi, sebelum dirinya memutuskan untuk mulai mengepak barang-barangnya, Sehun berbisik pelan kepada perempuan yang masih bergelar istrinya tersebut, “Kumohon suatu hari nanti maafkan aku.”

 

“Maafkan aku sudah melanggar janjiku dulu, Byul.”

  

“Tolong jaga Joon baik-baik, ya,” ada seulas senyum tulus sekaligus getir yang hadir di antara sudut bibir lelaki itu kali ini, “katakan kepadanya bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Jika Joon besok bangun dan menanyakan di mana ayahnya, katakan saja bahwa aku sedang bekerja di luar kota dan akan membawakannya banyak mainan bagus nanti,”

 

Hun…”

 

Byul, perempuan itu, seketika memanggil namanya. Tubuhnya mulai bergetar hebat, napasnya mulai berderu tak karuan; tidak seharusnya dirinya selemah ini, tetapi pada kenyataannya, Byul tak kuasa menahan tangis kembali.

 

Sst, hei, Byul…” Tahu-tahu saja, lelaki itu telah mendekapkan kedua lengannya di antara bahu perempuan itu.

“Kumohon jangan menangis lagi. Semuanya akan baik-baik saja suatu saat nanti, yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah belajar menerima. Kau tahu, aku juga tahu, ini keputusan yang terbaik bagi kita berdua.”

“Daripada hubungan kita berujung pada saling benci, lebih baik kita belajar untuk saling mengikhlaskan sejak awal,” lembut, Sehun berbisik kepada sosok yang didekapnya tersebut. “Belajar untuk memahami bahwa hidup tidak selalu semudah apa yang kita bayangkan. Tidak semua dongeng dapat berakhir dengan bahagia, tetapi setidaknya kita dapat meminimalkan rasa sakit itu.”

 

“Dan aku akan merindukanmu, Byul.”

  

“Tolong jaga Joon baik-baik, ya,” bibirnya terasa pahit tatkala akan melanjutkan perkataannya lagi, lantas Sehun menurunkan posisi tubuhnya, berjongkok di hadapan Byul hingga wajahnya berpapasan dengan perut sang istri, “juga adik Joon yang masih di dalam sini…”

Skak mat.      

Byul sama sekali tak memberontak ketika Sehun sekali lagi mendekap pinggangnya, mengecup perutnya sebagai penanda betapa dirinya juga mencintai bayi mereka; adik Joon yang justru hadir dalam situasi sulit seperti ini.

“Jika kau merasa kesulitan selama masa kehamilanmu ke depan nanti, aku akan selalu ada untuk membantumu. Terlebih apabila kau mulai mendekati masa kelahiran nanti, hubungi aku agar aku bisa melihat anak kita…”

Lelaki itu tersenyum getir, “Adik Joon, Byul.”

                        

“Buah hati kita.”

 

Tangis perempuan itu memuncak saat Sehun mengucapkan perkara terpahit yang begitu memberatkan hubungan mereka saat ini. Seharusnya mereka bahagia menyambut kehadiran satu sosok kecil lagi dalam kehidupan keluarga mereka—benar, seharusnya. Namun demikian, ketentuan takdir memang tak selalu membawa manusia menuju arah kebahagiaan.

Ada kalanya manusia dapat bahagia dengan mudah, ada kalanya pula manusia harus berupaya lebih keras dalam menggapai kebahagiaan itu; harus ada perjuangan serta pengorbanan yang dilakukan, juga keegoisan diri yang harus dilepaskan.

 

“Sudah berapa lama, Hun?” Lirih, Byul berbisik. “Sudah berapa lama kau bersamanya?

 

Lelaki itu bergeming, tetapi pelukannya di pinggang Byul masih belum merenggang sama sekali, bahkan kian erat seiring waktu berlalu dan jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari.

“Sudah satu tahun sebelum aku memutuskan untuk menghentikannya, persis sewaktu kau memberitahuku perihal kehadiran adik Joon di perutmu—empat bulan yang lalu,” mengumpulkan keberaniannya, Sehun pun memutuskan untuk berusaha mengungkapkan segalanya. Setidaknya dirinya harus jujur pada detik-detik terakhir hubungan mereka kini. “Dan aku benar-benar menyesal, Byul. Menyesal lantaran telah menelantarkanmu, Joon, juga bayi ini…”

 

“Aku ini lelaki paling tolol di dunia, Byul.”

  

“Suami pecundang, juga ayah yang pengecut.”

 

Tak henti-hentinya Oh Sehun merutuki dirinya sendiri, menyesali seluruh perbuatan paling tak tahu diuntung yang pernah dilakukannya di masa lalu. Napasnya tersendat, lidahnya kelu, tubuhnya seketika dihimpit rasa bersalah yang begitu menyesakkan dada.

Pelupuk mata lelaki itu memanas sekali lagi, tanpa sadar sekali lagi memeluk tubuh Byul erat, “Maafkan aku, Byul…”

Di dalam kesenduan, keduanya saling merengkuh tubuh satu sama lain. Seolah tak ingin malam ini menjadi yang terakhir dan hari esok masih memberi harapan baru bagi lelaki dan perempuan itu. Sepasang manusia yang dilanda pilu; terpaksa memilih antara mempertahankan cinta atau justru melepas rasa sakit akibat kesalahan satu pihak.

“Byul, maafkan aku karena tak pernah bisa menjadi lelaki yang kauidamkan seumur hidupmu,” dia berbisik getir, jemarinya bergerak membelai helaian anak rambut perempuan yang sebentar lagi mungkin tak akan menyandang gelar pasangan hidupnya tersebut lagi. “Maafkan aku lantaran terlalu banyak mengecewakanmu.”

Manik kelam tajamnya menyusuri wajah pucat Byul, sang istri. Matanya sudah bengkak lantaran terlalu lama menangis; dan dirinyalah si pengecut yang membiarkan hal itu terjadi.
“Maafkan aku, Byul.”

 

“Maafkan aku.”

  

“M—maaf…”

  

Entah sudah keberapa kalinya bibirnya menguraikan permintaan yang sama, tetapi lelaki itu cukup tahu bahwa apa yang diucapkannya tidak akan semudah itu memperbaiki segalanya. Suatu bidang yang sudah ditancapkan paku lantas benda tersebut dicabutkan darinya masih akan terus menyisakan lubang—sama halnya dengan hati perempuan itu, yang telah disakitinya sedemikian rupa.

 

Hun…”

 

Samar-samar, terdengar perempuan itu memanggil namanya.

 

“Peluk aku.”

  

Tanpa banyak bicara, sepasang manusia itu kembali menyatu dalam keheningan yang sarat akan kehangatan, sesuatu yang telah begitu lama mereka cari pada diri satu sama lain. Meresapi makna perjuangan yang mereka lakukan dalam satu dasawarsa terakhir, mengingat kembali atas dasar apa lelaki dan perempuan itu rela meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki hanya untuk bisa bersama. Perempuan itu memohon demi sepersekian detik yang ada—begitu pula lelaki itu. Namun, tiada seorang di antara keduanya yang tahu bahwa rindu itu masih ada.

 

Perempuan itu terlalu larut dalam sakit hati, hingga dia lupa bahwa dirinya begitu mencintai sosok itu. Lelaki itu.

               

Lelaki itu terlalu berputus asa atas kesalahannya, hingga dia lupa bahwa dirinya harus memperjuangkan sosok itu lebih keras lagi. Perempuan itu.

  

Rindu itu masih ada. Cinta itu masih bertahan. Kendati demikian, sempat dirundung oleh amarah dan rasa bersalah mendalam yang membuat mereka lupa untuk apa mereka saling mengikrarkan janji dulu. Kesalahan lelaki itu memang begitu besar, tetapi perempuan itu juga tidak bisa menepis kasih sayangnya terhadap pasangan hidupnya yang satu itu; ayah dari anak-anaknya, juga belahan jiwanya.

Melebihi amarahnya, perempuan itu memiliki cinta yang jauh lebih besar dari apa pun untuk sang suami, Oh Sehun namanya.

“Aku selalu merindukanmu dan aku bahagia karena kau kembali, Hun. Dan kumohon jangan pernah pergi lagi; jangan tinggalkan aku juga anak-anak kita di masa mendatang, karena kami akan selalu mencintaimu dan kuharap kau akan merasa cukup dengan hal itu.”

Sebelah telapak tangannya membelai lembut pipi lelaki itu, “Kita akan berjuang bersama dan kau tidak perlu khawatir akan kebutuhan finansial keluarga kita ke depan. Aku tak pernah memintamu menjadi novelis paling sukses yang meraih jutaan Won, cukup jadi dirimu sendiri,”

“Tetaplah di sini bersama keluarga kita, Hun.”

“Jadilah ayah yang akan selalu ada bagi anak-anak. Kita akan berusaha sebaik mungkin membesarkan mereka menjadi sosok yang jauh lebih hebat dari kita di masa depan nanti. Dan jikalaupun suatu hari kau mengkhawatirkan sesuatu, aku akan selalu ada untuk mendengarkan,” kehangatan merambati pembuluh lelaki itu tatkala mendengar perempuan itu berujar, “kita bisa memulai semuanya dari nol kembali.”

“Dan ingatlah satu hal, Hun. Tempat ini selalu bersedia menantimu untuk pulang setiap hari—hingga akhir embusan napas kita nanti, saat kau dan aku tinggal berupa debu belaka.”

  

“Aku mencintaimu…”

 

“Dan cinta tak pernah egois dalam memberi maaf.”

   

Fin

March 29th 2017

 

     

Author’s Note

Hai, semua. It actually takes courage for me to post this fic after such a very long hiatus I had for about half and a year and here I am now, posting something which is considerably weird. Jujur, kenapa aku nekad buat menulis satu postingan lagi di sini adalah karena aku kangen menulis fiksi dan pastinya berinteraksi dengan banyak teman di sini. Setahun setengah vakum karena kesibukan di sekolah, suatu hari sehabis USBN (yang baru selesai minggu lalu), aku iseng untuk buka situs ini dan aku seketika kena baper attack sekaligus kangen attack dengan rutinitasku yang dulu di sini, terutama pastinya saling berkenalan dengan banyak reader dan teman-teman penulis di sini. I’ve just missed you all so much.

Banyak hal yang terjadi setahun belakangan juga, terlepas dari kegiatan di sekolah yang super padat, aku beneran sangat kurang produktif karena kalau bisa dihitung, karyaku yang betul-betul bisa dihitung dikerjakan dengan serius itu cuma satu dan itu pun translating project dari satu fanfiction yang salah satu temen dekatku share dan hasilnya pun cuma sebagai konsumsi pribadi. Termasuk juga kejadian di mana aku tanpa sengaja ketemu satu akun Wattpad yang isinya serius hasil copy-paste karyaku dengan cuma ganti nama cast :’)

Ah, yaudah deh. Stop jadi melankolisnya, by the way, perkenalkan namaku Ayu, 99 liner. Untuk ukuran dunia fangirling-an aku sadar betul kok kalo aku tua, haha. Terima kasih sebelumnya untuk segelintir reader yang udah sabar luar biasa sampai berhasil mencapai tahap akhir dari tulisan random ini. Bagi kamu yang mungkin tertarik untuk baca tulisanku yang lain, bisa diklik di bagian khusus tulisanku deh, cukup klik bagian all post by ayuserlia kok. (Ini bagian dari sok promosi sesungguhnya, haha)

Aku sengaja nulis ini karena aku kangen lho, like seriously. Sebelum mungkin nantinya, planning-ku untuk pensiun sepenuhnya dari dunia fanfiction sewaktu kuliah nanti kira-kira di pertengahan kedua tahun ini beneran terealisasikan. So, let’s keep having fun together until the due date, okay.

My best wishes are for you all and see you again!

Advertisements

43 responses to “[Oneshot] That Man and That Woman – by A.S. Ruby

  1. Akuuu nangiss mewekkk bodo amat masih kerja 😭😭😭😂😂😂 , ini kerennn bgt aku ikutan syedihh masakk 😭😭😭

    • Haha, jangan mewek dong, you weren’t supposed to do that. Anyway, thank you sudah membaca 😀

  2. “Saat kita hanya tinggal debu belaka… Karena cinta tak pernah egois dalam memberi maaf” so Beautiful….. Huaaa gulung-gulung bacanya… Keren sekali cerita ini, konsep dan konfliknya pas bgt.. Berasa diiris-iris bacanya… Pesannya bs ditangkap. Kata-katanya bagus bgt. Good! 😀

    • Wah, thank you banget ya sudah membaca cerita random ini :’) Review kamu itu beneran worth it buat aku yang udah setahun lebih ngga nulis fiksi lagi. Once again, thank you ya 😀 ❤

  3. Wow!! Bahasanya bagus banget 😀😀😀
    Alurnya juga bagus. Wah pokoknya semuanya bagus deh 👍👍👍

  4. Nangis 😭😭
    Ceritanya bagus banget, diksi yang author pake’ rapiiiii banget. Sederhana tapi feel-nya dapet. Keren 👍

  5. Aku udh kepikiran bakalan sad ending, dan ternyata yeay mereka kumpul lagi. Ditunggu next series dan ff lainnya😄

    • Awalnya aku niat buat bikin sad ending sih, biar alurnya flow, tapi ujung-ujungnya ngga tega, haha.
      Thank you ya sudah membaca dan selamat menunggu series lainnya, haha 😀 ❤

  6. Walaupun akhirnya mereka rujuk(?) tetep aja ga rela ga tau kenapa :’
    .
    .
    .
    .
    btw Aku reader baru! salam kenal kak!

    • I know the feeling, soalnya pasti sakit banget kan, tapi terkadang kita punya beberapa pilihan dalam hidup.
      Anyway, thank you for reading ya 😀 Salam kenal kembali, Diffi

  7. Bahasanya bagus, indah, alur maju mundur nya juga unik. Tapi ko bacanya jadi kesel ya hahaha mengingatkan pada cerita perselingkuhan yang lagi viral ituu.

    • Jangan bilang kalo maksud kamu si ay* t***-t*** sama ra*** a****? Haha
      Thank you ya sudah membaca, Ayum 😀

  8. Ketika baca ini pas jam 1 dini hari… Mewek gaje di kasur:”))
    Good writing, dongsaeng😊😊

    • Thank you for reading and commenting ya kak 😀
      Jangan lupa mampir ke postinganku yang selanjutnya ya, hehe

  9. Welcome back, Ayu. Kita seumuran, dan ya aku rasa gak terlalu tua kok untuk dunia fangirl (terlepas dari bentar lagi mau lulus). Aku baper pas pertama baca judul karna ngingetin aku sama Ost Secret Garden mana melow2 gitu lagi. Nyambung aja sama cerita ini. Pertama gak ngerti kenapa mereka pisah, taunya Sehun selingkuh dan ya aku rasa jarang bgt yang nyangkutin keadaan ekonomi (secara aku biasanya baca ff Sehun-nya kaya, dingin, dan ganteng). Kasian juga klo mereka harus pisah, mana Byul lagi hamil. Sehun mikirnya sampe mana, sih? Untung Byul lebih milih mulai dari nol lagi. Oh Sehun, beruntung sekali dia. Tetap berkarya, Ayu.

    • Hai, Fatin.
      Thank you very much for welcoming me back. Lama banget aku ngga nulis fiksi lagi, dan sewaktu muncul sedikit inspirasi, cerita inilah yang muncul. Alurnya itu terinspirasi dari feel yang muncul dari lagunya Banda Neira “Sampai Jadi Debu” yang menggambarkan dua orang yang nyaris pisah tapi mereka mikir kembali alasan awal mereka jatuh cinta, as simple as that, judulnya juga diambil dari fokus di fic ini, tentang that man and that woman, sampai kamu bikin aku sadar judulnya juga sama dengan ost Secret Garden yang kebetulan sama-sama mellow juga, haha.
      Aku ngga bilang Sehun kere alias miskin lho ya, he’s just financially not stable enough to afford his family here. Faktor profesinya sebagai penulis yang masih muda di sini juga berpengaruh sih, rasanya lebih realistis aja buat aku.

      Anyway, thank you for commenting, Fatin. Support-nya kamu itu beneran memotivasi aku 😀

    • Awalnya juga kepingin bikin sad ending, tapi ujung-ujungnya ngga tega, haha. Anyway, thank you for reading 🙌😀

  10. Diksi yang kamu pake bener2 Bagus banget. Aku sebagai pembaca sampe bener-bener ngerasa masuk ke dalam ceritanya. Ngerasain gimana sedih beratnya jadi byul dikhianati. Dan bikin nangis juga tengah malem gini. Suka banget asli tulisan kamu bener-bener bermutu dan gak asal-asalan. Berbakat banget…

  11. Sumpah parah ini ceritanya bagus banget dan aku baru baca 😂 sebenarnya aku lagi searching ff dan ga sengaja baca ff ini. Gaya penulisannya keren banget dan aku suka 😍 Keep writing and fighting for your education ✊ Line kita sama 😂 *gaada yg nanya sok penting banget*

  12. Nyesek banget, aku baca sequelnya duluan jadi kesel sendiri sama sehun
    Pengkhianatan emang nyakitin banget tapi pengkhianatan itu tetep bisa dimaafkan untuk waktu pertama kali ataupun berkali”, bodoh emang maafin pengkhianatan tapi itu kebanyakan fakta dunia real
    Dan author ini sukses memyampaikan
    Good job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s