“Ophelie” #1 by Arni Kyo

Ophelie (1)

Ophelie #1

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan || Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Chanyeol | Mark Tuan | Wu Kimi | Choi Haera | Kim Minseok | Byun Baekhyun | Park Jinyoung | Kim Taehyung | Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Mutli Chapter

“sesuatu yang mudah didapatkan, akan mudah juga untuk dibuang. Lagipula kalau mudah, tidak akan seru” – Luhan

~oOo~

Malam semakin larut. Musik semakin keras. Satu liter, dua liter alkohol diteguk oleh para pelanggan. Sebenarnya bukan tempat yang nyaman untuk dikunjungi oleh orang yang tidak biasa kesini. Tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa, tempat ini benar-benar nyaman.

oppa! Beri aku satu gelas lagi!”. Pinta seorang gadis yang sudah mabuk. Sambil mengetuk-ngetukan kukunya ke cangkir, ia tertawa seperti orang gila. Bartender memberikan segelas beer lagi. Seperti yang gadis itu inginkan.

Jangan ditanya bagaimana keadaannya saat itu? Bau tubuhnya bercampur. Keringat, tumpahan beer yang tidak dapat ia telan semua dan asap rokok. Kini ia tergeletak lemas diatas kursinya, berusaha membuka lebar matanya kala seorang pria duduk dihadapannya. Luhan memesan satu minuman. Lalu melirik gadis mabuk itu.

“ayahku menjual semuanya. Haha… dia membunuh ibuku. Kenapa si tua itu tidak membunuhku juga, ya? Hiks… aku ingin bertemu dengan Tuhan lalu memprotes nasibku…”.

Luhan mengernyitkan keningnya. Anak broken home, ya? Pikir Luhan.

Tiba-tiba gadis itu menegakkan tubuhnya. Menatap intens pada Luhan, meski ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria tampan itu. ia hanya tersenyum penuh arti. Memberi kode agar Luhan mengikutinya ke lantai dansa.

“nakal sekali. Tidak apalah, daripada aku mati kebosanan”. Gumam Luhan.

Park Yeonsung –nama gadis itu, ia selalu datang kesini saat merasa benar-benar stress. Untungnya ia mengenal pemilik diskotik ini jadi ia bisa masuk dengan menggunakan kartu member meskipun ia masih dibawah umur.

Luhan langsung menangkap tubuh mungil Yeonsung setibanya ditengah kerumunan pengunjung yang tengah menari. Tubuh mereka saling menempel tanpa ada jarak. Bahkan Yeonsung tanpa canggung mengalungkan tangannya keleher Luhan. Luhan membalas perbuatan Yeonsung dengan mencium bibir gadis itu. Luhan yakin tidak ada penolakan dari Yeonsung, maka ia semakin memperdalam ciumannya. Melumat dengan penuh hasrat.

Luhan merasa aneh. Sesuatu yang berbeda menghinggapi perasaannya.

Luhan membawa Yeonsung kembali ke meja bar. Menarik tas milik gadis itu lalu mengajaknya duduk dikursi dipojok diskotik. Dengan lancang Luhan memeriksa tas jinjing yang Yeonsung bawa. Ia tahu gadis itu benar-benar mabuk, jadi berniat mencari identitasnya ditas. Ia menemukan kartu pelajar milik Yeonsung.

“Park Yeon-Sung”.

Yeonsung menggandeng lengan Luhan. Bermanja seperti seekor kucing kepada pemiliknya. Luhan menyeringai. Sekali lagi ia menarik dagu Yeonsung untuk memberikan kecupan ringan.

“kau tunggu disini sebentar”. Luhan meninggalkan Yeonsung untuk mengambil air mineral. Sebelum kembali menemui Yeonsung, Luhan berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang lebih dulu karena ada keperluan.

“oh, Luhan, kau sudah ingin pergi?”. Tanya Bang Yongguk, ketua gank mereka yang kebetulan akan berkumpul bersama teman-temannya.

“ya, hyung. Aku janji besok akan berada disini lebih lama”. Jawab Luhan.

Bangyong – sapaan akrab pria berwajah seram itu menarik Luhan, agar Luhan tidak segera pergi. “yaah ~ padahal aku akan mengenalkan seseorang kepadamu. Kau bilang ingin seorang gadis untuk malam ini”. Ucap Bangyong kecewa.

“aku sudah mendapatkan pilihanku sendiri, hyung”. Bisik Luhan.

“benarkah? Pantas saja kau ingin cepat pergi. Kalau begitu selamat bersenang-senang”. Bangyong menepuk-nepuk pundak Luhan.

hyung, berikan saja gadis nya kepadaku”. Pinta Byun Baekhyun.

Luhan meninggalkan teman-temannya yang mulai rebut membicarakan wanita. Karena ini adalah hari terakhir liburan, jadi mereka bersenang-senang di diskotik milik keluarga Bangyong.

Luhan yakin betul terakhir membawa Yeonsung ke kursi mana.

Tetapi…

Gadis itu menghilang saat Luhan kembali ketempat duduk. Luhan menyapukan pandangannya, tapi tak menemukan gadis bertubuh mungil dengan kemeja kebesaran dan hotpants super pendek itu dimanapun.

Pertemuan pertama, gadis misterius itu berhasil membuat Luhan berdebar, kecewa dan penasaran.

Yeonsung terbangun saat jam weker yang ia setel kemarin berdering tepat diatas kepalanya. Ia beringsut bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Yeonsung mematikan jam weker, kemudian menengok kalender yang tertempel didinding.

“kenapa aku tidur dilantai? Sshh”.

Yeonsung mengucek matanya, dilihatnya jarinya menjadi kehitaman karena eyeliner yang semalam ia pakai belum dibersihkan.

“astaga!”. Pekik Yeonsung. Karena semalam ia mabuk, jadi ia lupa jika hari ini ia harus datang ke SMA. Hari pertama ditahun kedua, ia tidak boleh telat.

Segera ia mencuci muka, menggosok gigi dan berpakaian. Wajahnya kembali polos, tanpa make up tebal seperti semalam. Yeonsung hanya mengaplikasikan pelembab bibir ke bibirnya. Sekilas bayangan menghinggapi penglihatannya. Yeonsung menyentuh bibirnya. Hanya perasaanku saja. Pikirnya.

Dimasukkannya dua susu kotak ke dalam tas untuk ia minum diperjalanan. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Yeonsung berangkat kesekolah.

Karena telat, Yeonsung terpaksa harus berlari melewati tanjakan agar bisa sampai disekolah dengan cepat. Digerbang sekolah, Choi Haera telah menunggunya. Berdiri bersama tim sukses dari calon ketua dewan siswa yang baru mencalonkan diri. Gadis melambaikan tangannya kepada Yeonsung. Ia lega melihat Yeonsung datang. Mengingat keadaannya semalam, seperti tidak memungkinkan gadis itu bisa pulih pagi harinya.

Tapi hari ini, Yeonsung bisa kesekolah.

“kukira kau tidak akan datang”. Ujar Haera yang berjalan bersebelahan dengan Yeonsung.

Yeonsung melirik sejenak poster dan banner yang dipegang oleh beberapa orang yang menjadi tim sukses calon dewan siswa. Wu Kimi benar-benar mencalonkan dirinya, pikir Yeonsung.

“kau sudah lihat pembagian kelas?”. Tanya Yeonsung, Haera menggeleng. Gadis ini benar-benar setia kawan, jadi daritadi Haera tidak masuk melainkan menunggu Yeonsung didepan gerbang. “kajja”.

Kedua gadis itu berlari kecil menuju papan pengumuman. Mata Yeonsung langsung terfokus pada deretan nama di kelas Eee Gua, kelas yang lebih mempelajari tentang matematika dan sains. Ia menemukan namanya berada dikelas 2-C.

Berbeda dengan Haera yang panic karena namanya tidak tertera dikelas pilihannya, Moon Gua, kelas yang lebih mempelajari tentang seni bahasa dan sosiologi. “ya ~ kau menemukan namamu?”. Tanya Yeonsung.

Haera menggeleng. “tidak ada. Aneh sekali padahal aku sudah mendaftar untuk kelas moon gua”. Jawab Haera dengan nada panic.

Yeonsung mengerutkan keningnya. Iseng ia mencari nama Haera dideretan kelas Eee gua. Yeonsung menemukannya. “Haera’ya”. Yeonsung menunjuk kelas 2-A dimana nama Haera tercantum.

Haera langsung menganga. Dirogohnya saku jaket yang ia pakai, lalu meninggalkan Yeonsung. Yeonsung tahu Haera pasti akan menelpon ibunya. Nama Haera tiba-tiba tercantum dikelas yang bukan pilihannya, pasti ibunya pelakunya. Yeonsung hendak pergi dari sana tapi sebuah tangan menahannya.

“siapa namamu?”. Tanya orang itu – Luhan.

Yeonsung menoleh kepada Luhan dengan tatapan tak suka. “kenapa aku harus memberitahukan namaku padamu?”.

“aku hanya ingin memastikan kita berada dikelas yang sama atau tidak”. Jawab Luhan seraya menebar senyuman.

Yeonsung melepaskan tangan Luhan dari lengannya. Luhan terkekeh pelan. “sayang sekali kita tidak dikelas yang sama, Park Yeonsung”.

“ya ~”.

Belum selesai Yeonsung berkata, Luhan malah pergi begitu saja meninggalkan Yeonsung yang bingung karena sikap Luhan kepadanya.

Luhan tersenyum bahagia, tidak menyangka jika ia satu sekolah dengan gadis bernama Park Yeonsung. Kemana saja ia selama satu tahun ini, hingga tidak tahu jika ada gadis seperti Yeonsung disekolahnya?

Mendadak neuron otak Luhan dialiri oleh nama Park Yeonsung. Begitu cepat menyebar ke setiap saraf otak jenius Luhan. Belum sampai hitungan hari, Luhan merasa tertarik dan harus memiliki gadis itu.

Ditaman belakang sekolah. Tempat ini cukup sepi karena biasanya anak-anak akan berkumpul dikantin atau lapangan. Kimi melihat kiri dan kanan nya. Aman. Jadi ia mengambil posisi duduk santai sambil membaca komik dan mendengarkan musik dengan earphone-nya.

Brukk

Sesuatu terjatuh didepannya. Saking kagetnya, Kimi sampai melempar komik yang ia pegang kearah benda yang terjatuh tepat didepannya. Ia mengira itu adalah orang yang terjatuh dari atas gedung sekolah. Ternyata hanya sebuah tas. Kimi menoleh kebelakang. Seseorang sedang menaiki dinding.

Mark Tuan terjun dari dinding yang tingginya kira-kira 2 meter. Dibawah sana Kimi telah menunggu sambil menyilangkan tangannya dibawah dada.

“astaga! Kau mengejutkanku!”. Pekik Mark terkejut kala menoleh Kimi telah berada dihadapannya. Tadinya ia sungguh tidak melihat ada orang lain disana, makanya ia melempar tas nya sembarangan.

“kau terkejut? Berarti kita impas”. Ujar Kimi sinis. Ia memungut komiknya kembali, lalu hendak pergi.

Mark menarik lengan Kimi setelah mengambil tas nya yang tadi dijatuhkan dengan menyedihkan. “tunggu”.

“apa lagi?”.

Mark tak menjawab, malah menarik Kimi kebalik semak-semak. Kimi sempat meringis, memberontak. Tetapi Mark malah membekap mulutnya. Mark meletakkan telunjuknya kebibir. Mengintip dari selah semak-semak tempat mereka bersembunyi.

Disana, Chanyeol berdiri sambil menengok sekitar taman. Sebelum akhirnya pergi. Ia hanya memastikan tidak ada anak baru yang membolos dari acara tur keliling sekolah.

“ia sudah pergi”. Mark baru melepaskan tangannya yang membekap Kimi tadi. Kimi dapat bernapas lega sekarang. Meskipun ia merasa jengkel karena sikap pria itu. “Mark Tuan. Menurut ramalanku, kau akan bertemu lagi denganku”. Bisik Mark.

Menggelikan.

Setelah mengucapkan itu, Mark pergi begitu saja. Meninggalkan Kimi yang masih bingung. Mengapa hari ini ia harus bertemu dengan orang aneh macam itu? siapa namanya… eeerrr Mark? Apalah itu. batin Kimi mengomel.

Sudah seminggu ini, Yeonsung terlihat sibuk. Setiap kali Luhan berniat menemuinya dikelas, ia selalu tidak berada dikelas. Sial sekali Luhan tidak bisa membuat Yeonsung berada dikelas yang sama dengannya. Satu hal yang Luhan rasakan adalah rindu.

Oh – ia hampir gila karena terus memikirkan Yeonsung.

Ia merindukan bibir lembut milik Yeonsung. Ingin sekali rasanya ia melakukan berbagai ciuman dengan Yeonsung. She’s a good kisser. Maka saat jam istirahat, Luhan menengok dari lantai dua. Barangkali ia melihat Yeonsung dibawah sana.

“aku menemukanmu”. Luhan segera berlari sebelum Yeonsung semakin jauh, ia harus mengejar gadis itu.

“ya! Luhan! Kau mau kemana?”. Panggil Kim Minseok.

“mungkin menemui gadis yang ia rindukan beberapa hari ini”. jawab Kim Taehyung.

Luhan terengah, senyuman mengembang diwajahnya. Seperti baru saja mendapatkan ikan besar saat memancing. Luhan memegang lengan Yeonsung.  Datar. Wajah gadis itu tanpa ekspresi tetapi matanya menunjukkan jika ia bingung siapa yang menariknya.

“ya ~ tidakkah kau merasa kau masih mempunyai urusan denganku?”.

“aku tidak ada urusan denganmu”.

Luhan mendengus, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “yang benar saja, tidakkah seharusnya kau mengucapkan sesuatu padaku?”.

Yeonsung berpikir sejenak. Matanya berputar ke kiri dan kanan. “ah, aku tahu”. Kalimat itu sontak membuat Luhan merasa bahagia. “darimana kau tahu namaku?”. Ujar Yeonsung. Pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan dihari pertama sekolah.

“bukan itu!”. seru Luhan. Siswa lain jadi menoleh kearah mereka berdua.

“astaga. Kenapa kau marah sekali? Dasar gila”. Yeonsung melotot pada Luhan.

“aish…”.

Luhan menarik wajah Yeonsung. Menempelkan bibirnya ke bibir Yeonsung. Gadis itu diam saja, bukan pasrah melainkan terkejut. Jantungnya berdegup tak karuan, sampai rasanya berhenti berdetak saking cepatnya. Matanya membulat, ia hanya dapat melihat sepasang mata terpejam dihadapannya. Sesuatu yang lembab dan lembut bergerak-gerak dibibirnya. Buku yang dipegang Yeonsung sampai terjatuh.

“apa-apaan mereka? Mereka berciuman!”.

“Luhan mencium seseorang!”.

“panggil ketua dewan siswa”.

“bagaimana bisa Luhan mencium gadis yang tidak seberapa itu!?”.

Umpatan demi umpatan keluar dari mulut orang yang melihat kejadian itu. Ciuman bibir dipinggir lapangan sekolah. Gempar. Keadaan menjadi benar-benar gempar. Menyadari Yeonsung tak akan membalas ciumannya, Luhan menyudahi acaranya.

“kenapa kau menatapku seperti itu?”.

Plakk

Sungguh tak terduga. Yeonsung melayangkan tamparannya kewajah tampan Luhan. Napasnya menderu tak teratur. Yeonsung benar-benar emosi. Luhan mempermalukannya. Perbuatannya itu – keterlaluan.

“kau – mengerikan”. Desis Yeonsung terdengar sinis. Segera ia memungut bukunya yang tadi terjatuh. Lalu melesat pergi begitu saja. Meninggalkan Luhan yang mematung ditempatnya tadi.

Luhan tersenyum menyeringai.

Bukannya berpikir untuk menyerah, Luhan malah semakin tertarik untuk mendapatkan Yeonsung.

Saat akan kembali kekelas, Yeonsung hampir menabrak Chanyeol. Untunglah pria tinggi itu berhasil menangkap Yeonsung hingga ia tidak jadi jatuh kelantai. Chanyeol tersenyum ramah, sebelum ia menyadari jika Yeonsung terlihat panik. Ia sudah lama mengenal Yeonsung, jadi ia tahu jika saat itu Yeonsung sedang merasa takut.

“ada apa? Terjadi sesuatu?”. Tanya Chanyeol khawatir. Yeonsung beringsut melepaskan tangan Chanyeol dari lengannya, ia pun menggeleng. “jangan berbohong”.

“aku tidak apa-apa, oppa. Aku harus kekelas sekarang”. Senyum terpaksa.

“baiklah, hati-hati”. Peringat Chanyeol. Memilih untuk tidak memaksa Yeonsung mengaku, daripada gadis itu mengamuk karena tak ingin bercerita. Jadi Chanyeol melepaskan Yeonsung – seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

Beberapa hari setelah kejadian ciuman didekat lapangan sekolah. Yeonsung menyadari sejak saat itu juga pikirannya dipenuhi oleh pria Tiongkok gila bernama Luhan itu. tetapi Yeonsung selalu mengelak karena tak ingin konsentrasinya terganggu. Bagaimanapun juga, ia harus mempertahankan nilainya agar tidak kehilangan beasiswa disekolah ini.

Yeonsung menggeleng cepat. Menyadarkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh memikirkan Luhan.

Dan soal ciuman itu, Yeonsung bergidik membayangkan kembali kejadian itu.

Entah sengaja atau tidak sengaja. Mendadak Luhan selalu hilir mudik disekitar Yeonsung. Mungkin dirinya yang baru menyadari kehadiran Luhan. Atau mungkin memang pria itu mencari perhatian agar dilihat oleh Yeonsung. Seperti saat ini, padahal jam pelajaran sudah dimulai tetapi Luhan bersama Minseok mondar-mandir dikoridor.

“apa sih maunya?”. Gumam Yeonsung.

Guru Ok yang saat itu sedang menjelaskan pelajaran dikelas 2-C hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Luhan dan kawan-kawan. Mereka terkenal sebagai pembuat onar disekolah.

Mereka tidak seperti kelompok lain yang memiliki nama. Mereka tidak memiliki nama. Beranggotakan Sembilan orang pria, dua orang Bang Yongguk, Jackson Wang yang sudah menginjak bangku kuliah. Bambam dari sekolah lain. Sedangkan enam ada disekolah ini. Luhan, Mark Tuan, Kim Minseok, Byun Baekhyun, Kim Taehyung dan Park Jinyoung atau disapa JR oleh penggemarnya. mereka tidak berada dikelas yang sama, tetapi masih bisa berkeliaran dijam yang sama.

Memasuki kantin. Seperti biasa, Kimi sibuk membaca komik yang sudah ia lapisi dengan buku pelajaran agar tidak diambil oleh guru ataupun ketua dewan siswa, Yeonsung membaca kertas hafalan bahasa Inggris. Haera sibuk berbicara meski tidak didengarkan oleh kedua temannya. Ketiganya berjalan beriringan membawa makanan masing-masing menuju kursi kosong.

Yeonsung bukan tidak menyadari jika disudut sana ada Luhan dan teman-temannya. Ia hanya memilih untuk tetap fokus pada kertasnya meski ia sudah hafal tiap kata yang ia tulis disana. Langsung saja ia berjalan cepat menuju kursi.

“bagaimana jika pulang sekolah nanti kita ke toko buku?”. Tawar Kimi.

Haera menggeleng cepat. “aku tidak bisa. Aku harus mengikuti bimbingan belajar, kalian kan tahu nilaiku jauh tertinggal dari kalian”. Jawab Haera dengan wajah memelas. Memang Haera selalu mendapat nilai terendah, karena itu orang tuanya memanggil seorang guru lulusan universitas luar negeri untuk menjadi guru pembimbing bagi Haera.

Kimi menepuk pundak Haera. “fighting! Kau pasti bisa mengejar kami berdua”. Kimi memberi semangat untuk temannya. “bagaimana denganmu, Yeon’ah? ingin pergi?”.

“tidak. Aku sudah mendapatkan pekerjaan di minimarket dekat rumah. Kau kan tahu aku sudah tidak punya uang lagi”.

“baiklah, sepertinya aku harus pergi sendirian”. Kimi kecewa. Yah, apa boleh buat? Jika semua temannya sibuk, maka ia harus pergi sendiri.

Sepotong daging sapi Hanwoo diletakkan diatas nasi milik Yeonsung. Ia mendongak, melihat siapa yang meletakkan daging itu. lagi – Luhan pelakunya. Sungguh! Ia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu. bisa-bisa ia juga jadi gila jika terlalu sering meladenin orang seperti Luhan.

“apa?”.

“kau kurus sekali, jadi kau harus makan daging agar sedikit berisi”.

“bukan urusanmu. Ambil kembali!”.

Bukannya melakukan apa yang Yeonsung katakan. Luhan malah duduk disebelah gadis itu. Kimi dan Haera hanya bisa saling pandang melihat situasi tersebut. Yeonsung merasa risih saat ia makan, Luhan memandanginya seperti dirinya adalah sebuah televisi.

“bisakah kau berhenti mengusikku?”.

“tidak bisa”.

“oh Tuhan ~ aku harus menaburkan garam kepada orang gila ini”. Yeonsung berdiri, berniat untuk meminta garam ke dapur sekolah. Luhan memegang pergelangan tangan gadis itu. sebuah benda yang ia cari belakangan ini terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah Luhan. Luhan memamerkan benda itu, kartu pelajar milik Yeonsung.

“yak!”.

Luhan menjauhkan tangannya ketika Yeonsung berniat untuk merebut kartu pelajar yang memang kepunyaannya. Yeonsung tak gentar dan terus berusaha. Malah membuat posisinya dan Luhan terlihat ambigu. Diatas tempat duduk yang berbentuk kursi panjang itu, Yeonsung seperti menempel pada Luhan tanpa jarak.

“berhentilah bermain-main dengan temanku. Kembalikan jika itu memang miliknya”. Dengus Kimi mulai geram karena sikap Luhan.

Luhan tertawa licik. Ia bahagia karena berhasil membuat Yeonsung memasang wajah memelas. Kartu pelajar itu adalah identitasnya di SMA ini. jika sewaktu-waktu ia kecelakaan lalu tewas, orang akan tahu kalau ia adalah siswa SMA mana dan tinggal dimana. Jadi Yeonsung masih membutuhkannya.

“kembalikan, Luhan!”. Bentak Yeonsung.

“akan kukembalikan, tapi nanti. Temui aku atap sekolah”. Ujar Luhan. “sendirian”. Bisiknya kemudian.

“kau yakin akan menemuinya?”. Kimi khawatir pada Yeonsung yang memutuskan untuk menemui Luhan sendirian diatap sekolah. Kimi sempat menawarkan diri untuk menemani Yeonsung, makanya ia datang kekelas Yeonsung saat pulang sekolah.

“aku yakin Kimi’ah”. jawab Yeonsung setelah selesai memasukan buku-bukunya kedalam tas. Lalu disampirkannya tas itu kebahunya.

“baiklah kalau begitu”. Kimi menyerah, tidak ingin memaksa agar ikut ke atap sekolah.

Langkah demi langkah kaki Yeonsung menaiki tiap anak tangga. Benar-benar kesal mengapa harus dirinya yang menjadi mainan Luhan? Bahkan dalam waktu singkat, Luhan berhasil membuat Yeonsung stress. Membuat Yeonsung jadi malas untuk pergi ke sekolah. Yeonsung mendorong keras pintu atap. Dipinggir pagar, Luhan berdiri dengan gayanya bak model. Menunggu kedatangan Yeonsung.

“Luhan!”.

“hey, Yeonnie, kau sudah datang”. Luhan menyambut Yeonsung dengan membentangkan tangannya, seolah ingin memeluk Yeonsung.

Demi apapun. Yeonsung cukup terkejut karena ternyata Luhan tidak sendirian disana. Ada tiga orang lainnya. Yeah, siapa lagi kalau bukan teman se-gank nya. Ingin mundur dan pergi saja, tapi kakinya sudah pegal karena menaiki tangga.

“mana kartu pelajarku?”. Yeonsung menadahkan tangannya.

“kau tidak ingin bertanya darimana aku mendapatkan ini?”. Luhan menyeringai. Kartu pelajar milik Yeonsung ia pegang. Yeonsung meloncat seakan bisa mengambil kartu pelajarnya.

“kau menemukannya dijalan?”.

“tidak. Kau benar-benar tidak ingat, ya?”.

Tak ada jawaban dari orang yang ditanyai. Luhan menyerah. Yeonsung tidak main-main. Tampak jelas jika ia tidak ingat dengan kejadian malam itu, bukan berpura-pura tidak ingat. Akhirnya Luhan memaklumi, mungkin karena Yeonsung dalam keadaan mabuk.

“apa sebenarnya yang kau inginkan, Luhan? Kenapa kau seenaknya saja mempermainkanku?”.

“aku menginginkanmu dan aku tidak main-main, Yeonsung”. Jawab Luhan.

“otakmu benar-benar sudah geser”.

Luhan tertawa renyah. Yeonsung benar-benar imut saat marah, menurutnya. Dengan cepat Luhan menarik Yeonsung kepelukannya. “aku akan membuatmu menginginkanku juga. Aku berjanji”.

“lepaskan”. Manik mata Yeonsung menengok kearah teman-teman Luhan menonton dengan santai.

“kenapa? Kau malu karena dilihat oleh teman-temanku? Tidak apa-apa. Mereka tidak akan mengganggu kegiatan kita”. Seolah mengerti kepanikan Yeonsung, Luhan terus menggoda. Saat wajah tampan itu mendekat kewajah Yeonsung. Ia memalingkan wajahnya. Yeonsung ketakutan karena tubuhnya terkunci, pelukan Luhan benar-benar erat. Kakinya terasa lemas, sadar Luhan tak akan melepaskan pelukannya.

“kumohon, hentikan”. Pinta Yeonsung dengan suara lemah.

“baiklah. Mau bagaimana lagi, kali ini saja kau akan kulepaskan. Tapi lain kali, aku tidak akan berbaik hati melepaskanmu”.

Keadaan yang seperti neraka bagi Yeonsung berakhir. Luhan menyelipkan kartu pelajar Yeonsung kedalam saku almamater gadis itu. Yeonsung menarik napas dalam-dalam, ia tidak habis pikir akan menjadi objek menarik bagi Luhan.

“kau milikku, Yeonsung”.

Bambam dan Jackson tiba dirumah petak yang mereka jadikan tempat berkumpul. Mereka membawa berbagai macam camilan dan minuman. Didalam rumah tersebut, sudah ada beberapa anggota yang datang. Minseok dan Baekhyun bertanding bermain playstation. Lalu Taehyung sibuk dengan ponselnya, membalas satu per satu pesan dari gadis-gadisnya. Luhan mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat, sebelum Yeonsung kembali merangsek kedalam otaknya.

“ya ~ kemana Mark dan Jinyoung hyung?”. Tanya Bambam pada Luhan setelah menghitung orang yang datang. Tanpa menoleh sedikitpun, Luhan menggeleng cepat. “cih… dasar aneh”. rutuk Bambam.

“biarkan dia, belakangan ini ia memang sedikit aneh”. sahut Taehyung. “kau tahu, Luhan seperti itu hanya karena seorang gadis. Dia mendadak agresif, terkadang juga jadi sering melamun. Benar-benar aneh”. tambah Taehyung.

“benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa gadis itu”. Jackson menerawang, menurut bayangannya gadis yang disukai Luhan pastilah sexy, cantik, populer, dan kaya.

“jadi benar kau menyukainya, Lu? Kudengar Yeonsung dan ketua dewan siswa kita berpacaran. Aku beberapa kali melihat mereka bersama”. Baekhyun menyahut sambil terus bermain playstation.

Minseok menyikut-nyikut Baekhyun, sengaja bertingkah seolah dia curang. Sebenarnya ia sedang berusaha menghentikan mulut licin Baekhyun. Memberitahu hal yang tidak perlu, apalagi mengenai gadis yang sedang disukai Luhan. Bisa-bisa Luhan menghajar orang lain yang disukai Yeonsung. “ya… ya… jangan curang, sialan!”.

“kau yang curang! Awas kau!”.

Luhan menghentikan kegiatannya menulis. Berpikir tentang apa yang Baekhyun katakan. Luhan percaya. Karena Baekhyun yang berstatus kakak kelas berada dikelas yang sama dengan Chanyeol. Luhan tak dapat membayangkan melihat Yeonsung bersama pria lain.

“aku akan menghajarnya”.

“siapa? Yeonsung?”. Baekhyun menoleh, terkejut ucapan Luhan barusan. Tak peduli lagi dengan playstation, sampai akhirnya Minseok-lah yang menang. Mereka tahu betul watak kasar Luhan. Ia tidak akan segan untuk memukul perempuan.

“bukan, bodoh. Tentu saja pria itu”. jawab Luhan. “aku tidak akan menyakiti Yeon-ku”.

Bambam sampai menganga melihat sikap Luhan. Sungguh mengejutkan. Baru kali ini –dalam kurun waktu lima tahun mereka berteman– ia melihat Luhan menyukai perempuan. Benar-benar menyukai dengan hatinya.

“brengsek satu ini –“. Jackson melemparkan kaleng soda kosong kearah Luhan. Sukses mengenai kepala Luhan. “ia bahkan sudah memakai kata ‘ku’ untuk menyebut nama gadis nya”. Jackson tertawa meremehkan.

“karena dia memang milikku”. Tegas Luhan. Tak lupa ia membalas melemparkan kaleng soda yang tadi mengenai kepalanya. “tidak bisakah kalian mendukungku? Menyebalkan sekali. Aku pergi saja”.

Jinyoung berpapasan dengan Luhan ketika ia baru saja tiba dirumah perkumpulan. “yak! Kau mau kemana?”. Tanya Jinyoung. tapi Luhan malah berjalan melewati Jinyoung begitu saja tanpa menjawab. Ingin rasanya Jinyoung memukul kepala Luhan keras-keras. “aish… sialan”.

Kimi berjalan sambil sedikit meloncat-loncat mengikuti musik yang ia dengarkan. Dimulutnya mengemut permen loli. Kimi baru saja pulang dari bookstore, ya, jam 10 malam. Itulah mengapa Yeonsung ataupun Haera tak bisa menemaninya pergi. Kimi suka lupa waktu jika sudah berada di bookstore. Membaca komik ini dan itu.

“ehh?”.

Langkahnya terhenti. Matanya menangkap seseorang sedang berjongkok didekat tiang listrik. Pencuri? Perlahan Kimi mendekati orang itu. aroma parfum maskulin yang dipakai pria itu memasuki indera penciumannya.

“ya ~ apa yang kau lakukan?”. Tanya Kimi pelan.

“ssh! Aku sedang menonton”. Jawab pria itu – Mark Tuan.

Kimi mengernyitkan keningnya. “menonton apa?”.

Mark menoleh, matanya bertemu pandang dengan mata milik Kimi yang mengedip polos sekaligus bingung itu. “kau lagi. Ramalanku benar, kan? Kita bertemu lagi”. Mark tersenyum manis.

heol ~ lupakan saja, aku akan pulang”.

“tunggu dulu”. Mark menarik Kimi hingga gadis itu pun berjongkok bersamanya didekat tiang listrik. “kau lihat kedua kucing itu, mereka sedang membuat bayi”.

“a-apa?”.

“itu –“. Mark menunjuk dua ekor kucing dilorong tersebut. “jadi seperti itu mereka melakukannya”.

Plakk

Kimi memukul belakang kepala Mark, cukup keras, terbukti Mark hampir tersungkur kedepan karena perbuatan Kimi. Mark hendak marah tetapi Kimi lebih dulu melotot padanya. “kau ini maniak atau apa? Tidak bisakah kau belajar menggunakan sesuatu yang lebih nyata? Kenapa harus menonton kucing?”. Kimi mengoceh seraya berdecak kesal.

Entahlah, ia tiba-tiba saja merasa kesal.

“sesuatu yang lebih nyata – seperti apa maksudmu?”.

Kimi membuka mulutnya hendak menjawab. Tetapi tak ada suara yang ia keluarkan. Malah kini ia menjadi bingung sendiri. Ragu untuk mengatakan sesuatu. Mark menunggu jawaban Kimi. “aishh… terserah kau saja!”. Kimi berdiri, berbalik lalu berjalan pergi. “membayar wanita, atau menonton film biru. Terserah padamu”.

Ucapan itu sedikit pelan, tetapi Mark masih bisa mendengarnya. Lantas pria itu tertawa geli.

Yeonsung menapaki halaman rumahnya yang tidak besar. Tak mencurigai apapun karena memang halaman rumahnya selalu tampak berantakan. Ia memasukan kunci rumahnya kelubang kunci. Tetapi pintu rumah nya tidak lagi terkunci. Takut-takut Yeonsung masuk. Diatas meja didepan televisi, terdapat gelas ramen yang sudah kosong isinya.

“apa-apaan ini?”.

Dengan cepat ia menuju kamarnya. Seorang pria tua tengah membongkar lemari pakaian Yeonsung. Pria itu –ayahnya – sedang menghitung lembaran uang yang ia dapatkan dari tabungan putrinya.

“putriku yang berharga sudah pulang. Seharusnya kau mengucapkan salam”. Ujarnya dengan senyuman yang menurut Yeonsung mengerikan.

“kau mengambil uangku!? Kembalikan!”. Yeonsung masuk kekamarnya. Berusaha merebut kembali uang yang diambil ayahnya. Dengan rengekan menyedihkan, namun belum berhasil mendapatkan kembali uang nya.

“tidak bisa! Kau harus jadi anak yang berbakti, jadi kau harus memberikan uang kepadaku!”.

Yeonsung tak kehabisan akal. Tangannya menggapai sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan ayahnya. Yeonsung menemukan jam weker yang tergeletak dilantai, lalu memukul tulang kering ayahnya. Jam weker itu sampai pecah.

“aakh!!!”.

Melihat ayahnya yang kesakitan sambil memegang kakinya yang terkena pukulan. Segera Yeonsung memunguti uangnya. Tak menunggu lama, Yeonsung berlari meninggalkan rumah. Tetapi ayahnya masih kuat untuk berlari dengan kaki pincang. Aksi kejar-kejaran pun terjadi setelah sekian tahun tidak pernah terjadi. “pergilah!”. Pekik Yeonsung.

“kembali kau, anak sialan!”.

Yeonsung berlari tak tentu arah. Ayahnya terus mengejar bak zombie yang ingin menggigitnya. Sesekali Yeonsung menoleh kebelakang. Ayahnya menghilang. Ia lega, tentu saja. Tapi masih terlalu dini untuk merasa lega. Ayahnya muncul dari belakang, rupanya pria tua itu menemukan jalan lain untuk mendapatkan putrinya. Rambut ikal Yeonsung dijambak dengan keras hingga gadis itu meringis kesakitan. Tangan kasarnya mencekik leher Yeonsung. Menghantamkan tubuh kecil Yeonsung ke dinding.

appa, jangan lakukan ini”. Yeonsung mulai menangis.

“aku tidak akan melakukan ini jika kau sopan kepada orang tua. Kudengar Pengacara Park memasukanmu ke sekolah elit, ibumu pasti meninggalkan uang asuransi yang banyak untukmu”.

Yeonsung menggeleng.

“kau tidak pernah tahu bagaimana aku menderita didalam penjara. Ayolah, berikan saja uangmu, aku butuh itu untuk modal”.

Yeonsung menggenggam erat uang yang ia pegang. Tahu betul jika modal yang ayahnya maksud adalah modal berjudi. Pria itu menarik tangan Yeonsung, sementara cekikannya semakin keras membuat gadis itu melemah. Darahnya tertahan dikepala, hingga penglihatannya buram. Ia menyerah.

Awalnya Yeonsung memang berpikir untuk mati saja.

Yeonsung memilih keputusan untuk melepaskan uangnya. Ia tidak ingin mati karena belum bahagia. Setidaknya ia harus bahagia dahulu sebelum mati menyedihkan.

“gadis pintar. Terima kasih, ya”.

Tubuh lemah itu longsor tak berdaya kelantai. Yeonsung bersandar pada tembok, menatap kepergian ayahnya. Yeonsung mendengus kesal. Tapi ia tidak bisa berteriak lagi, tenaganya sudah habis.

Kediaman Pengacara Park.

Rumah minimalis ini memang selalu sepi. Karena mereka hanya memiliki satu orang putra. Park Chanyeol. Dan putra mereka itu baru pulang mendekati tengah malam. Selalu sibuk dengan sekolahnya, hal yang biasa. Tetapi malam ini, saat Chanyeol pulang, sesuatu yang berbeda ia rasakan.

Yeonsung ada disana sedang menonton bersama ayah dan ibu Chanyeol.

“aku pulang”.

“oh, kau sudah pulang. Cuci kakimu lalu duduk disini bersama kami. Yeonsung membuat kue beras pedas kesukaanmu”. Ujar sang ibu.

Chanyeol bergegas menuju kamar mandi didekat dapur. Melakukan apa yang ibunya suruh. Kemudian bergabung didepan televisi. Sudah lama sekali suasana seperti ini tidak terjadi. Chanyeol merindukan saat-saat seperti ini.

“silahkan, oppa”. Yeonsung memberikan piring berisi kue beras pedas.

“terima kasih”.

“ayah Yeonsung sudah keluar dari penjara. Jadi malam ini kami menyuruhnya menginap disini, karena tadi ayahnya melukai Yeonsung”. Ujar ayah Chanyeol. Hampir saja Chanyeol tersedak mendengar bahwa paman Jongwon sudah keluar dari penjara.

“oh, begitu. Aku tidak masalah dengan itu, ayah, asal Yeonsung aman dari ayahnya”. Jawab Chanyeol.

“mungkin sementara ia akan tinggal disini lagi”. Tambah ibu Chanyeol.

Yeonsung menggeleng cepat. “terima kasih, ahjumma. Tapi aku tidak bisa terus-terusan merepotkan kalian. Aku tidak apa, aku bisa mengatasi ayahku sendiri”. Yeonsung mengepalkan tangannya. “tadi aku hanya belum siap”.

“kau sudah seperti putri kami sendiri, Yeon’ah”.

Saat ayahnya masuk penjara karena kasus pencurian disebuah minimarket, dan ibunya meninggal karena sakit. Yeonsung yang masih berusia 13 tahun kebingungan bagaimana mengurus dirinya sendiri. Maka saat itulah Pengacara Park yang sekaligus tetangga Yeonsung membawanya kerumah. Ia tinggal dirumah Pengacara Park sampai ia berusia 16 tahun.

“separah itu, ya?”.

“apa?”. Manik mata Yeonsung menatap Chanyeol bingung. Ketika itu mereka tengah belajar bersama dimeja makan.

appa-mu”.

Yeonsung tersenyum, ia kembali menulis dibukunya. “kau sudah tahu, oppa. Tak usah bertanya seolah kau orang asing”.

“aku pernah berkata untuk menjadi lebih kuat agar bisa melindungimu. Tetapi sampai saat ini aku tidak bisa melindungimu. Dirumah maupun disekolah”. Chanyeol teringat saat ia melihat Yeonsung seperti orang ketakutan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“bukankah tadi aku berkata jika aku bisa mengatasi appa ku sendiri?”.

“mengatasi, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan? Dengan tubuhmu yang kecil itu, kau pikir kau cukup kuat? Kau tidak bisa memprediksi sesuatu, Yeon’ah. bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi saat kau sedang tidur?!”. Chanyeol menghujani Yeonsung dengan pertanyaan, membuat Yeonsung bingung harus menjawab apa.

Yeonsung menutup bukunya, menyimpan peralatannya kedalam tas lalu meneguk susu yang tinggal setengah. “aku sudah selesai belajar. Aku tidur duluan, oppa. Selamat malam”. Ujarnya sebelum beranjak pergi.

“Yeon’ah”.

Chanyeol ingin menghentikan Yeonsung, mencegah gadis itu pergi. Meskipun ia memiliki perasaannya besar kepada Yeonsung. Tetapi ia tidak bisa melakukannya. Ia hanya tidak biasa menyentuh Yeonsung.

Yeonsung menyunggingkan senyumnya. Sejak pagi hingga jam istirahat siang, ia tidak melihat Luhan sekitarnya. Menyadari Luhan tak akan mengganggunya hari ini, Yeonsung menjadi lebih bebas. Tak ada Luhan yang sering mondar-mandir dikoridor depan kelasnya. Tak ada Luhan yang sering mengganggunya saat makan siang. Ah… menyenangkan sekali.

Tapi, kemana gerangan pria itu?

“ah, sadarlah, Yeon’ah”. Yeonsung mencubit pipinya sendiri. “jangan memikirkannya. Jangan memikirkannya”. Sambil memegang kepalanya sendiri, Yeonsung berjalan menuju lantai dasar. Menuruni tangga dengan cepat.

Tanpa sengaja atau tidak. Entah sadar atau tidak. Yeonsung memang sering terpikir tentang Luhan meski hanya sekilas.

“Yeon’ah!”. panggil Haera. Yeonsung menghentikan langkahnya, dan melihat temannya itu berlari kecil kearahnya sambil membawa kantung plastic berisi makanan ringan. Langsung mengamit lengan Yeonsung ketika sudah berdiri sejajar. “kau mau kemana?”.

“ke toilet”.

“aku ikut”.

Yeonsung menghela napas. Matanya menatap Haera intens. “tugas apa?”. Tanya Yeonsung. Oh, rupanya Yeonsung sadar jika Haera memiliki maksud tertentu. Sebenarnya ia tidak keberatan jika harus mengajari ataupun membuatkan Haera tugas sekolah. Toh, selama ini memang ia selalu melakukan itu untuk temannya.

“ada beberapa. Aku juga akan meminta bantuan Kimi. Tolong, ya”.

Kimi?

“ah, beberapa hari ini aku tidak bertemu Kimi. Sepertinya ide bagus jika kita mengerjakan tugas bersama nanti malam”.

Saat akan kembali kekelasnya, tanpa sengaja Yeonsung melihat Luhan sudah duduk manis didalam kelas. Sepertinya pria itu sengaja duduk menghadap kepintu, karena Yeonsung tahu itu bukanlah tempat duduknya. Berbeda dengan temannya –Minseok– yang sibuk bermain game, Luhan hanya melihat keluar kelas. Senyumnya mengembang saat Yeonsung melihat kearahnya. Berkebalikan dengan Yeonsung yang mendadak suram.

Mengapa Luhan harus muncul? Bagaimana Luhan bisa muncul tiba-tiba? Dia hantu atau siluman?

Pertanyaan yang muncul dibenak Yeonsung.

Melihat Yeonsung melintas didepan kelasnya, rupanya Luhan bergerak untuk menemui gadis itu. Luhan merasa sebal karena pemandangan yang ada didepannya. Chanyeol datang kekelas Yeonsung untuk memberikan sebuah buku. Yeonsung tersenyum lebar. Ya, tidak salah lagi, Yeonsung tersenyum pada Chanyeol.

“aku pinjam Yeon-ku sebentar”. Luhan menarik tangan Yeonsung kasar. Lalu diberikannya buku yang tadi telah dipegang oleh Yeonsung kembali ke Chanyeol.

“ya! Kau gila, ya, sebentar lagi bel masuk berbunyi”. Protes Yeonsung.

“Yeonsung benar. Sebaiknya kalian bicara setelah pulang sekolah nanti”. Tambah Chanyeol.

Luhan tidak peduli. Memangnya Chanyeol siapa maka Luhan harus menuruti kata-katanya? Yeonsung yang merupakan gadis yang ia suka saja, tidak bisa mengendalikan Luhan.

“Yeonsung tidak ingin ikut denganmu, jangan memaksa”. Chanyeol menahan Luhan agar tidak membawa Yeonsung begitu saja. “lepaskan tangannya, dan pergilah”. Suruh Chanyeol.

Luhan tak suka dilarang. Meski kalah tinggi beberapa centi, ia tidak takut dan menantang Chanyeol. Digenggamnya erat kerah kemeja pria itu. Yeonsung tersentak, ia memegang tangan Luhan agar melepaskan tangannya dari Chanyeol. “jangan melarangku, kau tidak punya hak atas Yeonsung!”. Desis Luhan.

“hentikan!”.

“aku punya hak sebagai ketua dewan siswa”. Chanyeol tetap berusaha tenang. Jika ia sampai menghajar Luhan, maka akan merusak reputasinya sebagai orang yang menertibkan teman-temannya selama ini.

Luhan berdecak, meremehkan. “persetan dengan jabatanmu”.

“sudah hentikan!”. Yeonsung mendorong Luhan sedikit menjauh dari Chanyeol. “oppa, tidak apa-apa. Aku akan ikut dengannya”. Ujar Yeonsung. Sebenarnya Chanyeol tidak ikhlas membiarkan Yeonsung pergi, dengan berandalan seperti Luhan. Tapi gadis itu tetap pergi.

Luhan tersenyum penuh kemenangnya. Ia sedikit berlari menyusul Yeonsung dan langsung menggenggam tangan Yeonsung. “lepaskan. Aku akan berjalan sendiri”. Yeonsung berusaha melepaskan tangan Luhan yang menggenggam erat tangannya.

“kau kira aku idiot? Melepaskanmu lalu kau akan kabur?”.

Licik.

Luhan menghentikan langkahnya, begitupula dengan Yeonsung. Mereka tiba didepan perpustakaan. Luhan pintar sekali memilih tempat untuk membuat Yeonsung takut. Lorong ini sedikit gelap karena hari semakin sore dan mendung.

“kau ingin bicara apa?”.

“kau tidak bertanya kenapa sejak pagi aku tidak ada disekolah?”.

“apakah itu penting?”.

Luhan menyeringai. Sebelum Luhan mendapati ada yang berbeda dari Yeonsung hari ini. tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Luhan mengulurkan tangannya menyentuh syal tipis dileher Yeonsung.

“jangan sentuh!”. Yeonsung menepis tangan Luhan.

“kenapa berteriak seperti itu? aku hanya heran kenapa kau harus memakai syal? Konsep? Gayamu?”.

“bukan urusanmu”. Yeonsung melangkah pergi, tapi seperti yang Luhan katakan ia tidak akan melepaskan Yeonsung begitu saja.

“kau menyembunyikan sesuatu dibelakang syal ini?”. Luhan menunjuk syal dileher Yeonsung. Yeonsung memalingkan wajahnya sambil mendengus. “jawab aku. Kau menyembunyikan bekas ciuman atau sesuatu dibelakang sini?”.

“ya!”.

Sebelum Yeonsung menyadarinya, Luhan telah menarik syal itu hingga terlepas. Bekas keunguan tertempel dileher putih Yeonsung. Luhan yang melihat itu, hanya mengernyitkan keningnya. Ingin bertanya mengenai luka memar yang ada dileher Yeonsung, tetapi yang terpenting sekarang adalah mengobati luka itu.

Setelah bersikap kasar dan selalu mengejar Yeonsung. Kali ini apa lagi yang akan Luhan lakukan? Pria itu benar-benar tidak bisa ditebak. Sekarang ia membawa Yeonsung ke ruang kesehatan. Sialnya ruang kesehatan saat itu kosong. Tak ada dokter sekolah ataupun murid yang sakit.

Yeonsung memperhatikan setiap gerak-gerik Luhan. Membuka lemari obat dan mencari sesuatu. Sedangkan dirinya hanya duduk diam diatas kasur sambil melipat tangannya.

“jika kau tidak segera menemukan apa yang kau cari, maka aku akan kembali ke kelas saja”.

“tetap disitu atau aku akan menguncimu disini. Pilih yang mana?”. Luhan bertanya tanpa melihat Yeonsung, ia sibuk membaca label toples obat yang ia temukan. Yeonsung menyerah. Pilihan macam apa itu? tetap disini, ia bersama Luhan. Jika ingin pergi maka ia tetap bersama Luhan.

“kenapa kau mengejarku? Apa yang kau lihat dariku, Lu?”. Tanya Yeonsung pelan. Sekian lama ia ragu untuk bertanya, hari ini akhirnya pertanyaan yang ada dibenak Yeonsung keluar. “padahal banyak gadis lain yang menyukaimu, tapi kenapa harus aku? Aku yang selalu mengabaikanmu”. Yeonsung menunduk.

Luhan membawa toples yang berisi saleb lalu duduk disebelah Yeonsung. “kuberitahu nanti saat kau sudah mengingatku”.

“mengingat apa –“.

Yeonsung terdiam karena Luhan menyibak rambutnya. Kini terlihat jelas luka memar dileher gadis itu. Luhan berdecak, tidak separah yang pernah ia dapatkan. Tapi jika luka ini ada ditubuh seorang perempuan Luhan merasa nyeri melihatnya.

“dimana kau mendapatkan luka ini? kau mencoba bunuh diri?”.

Dipikirnya jika itu adalah luka bekas tali atau semacamnya. Yeonsung mungkin berniat untuk gantung diri makanya mendapat luka dileher. Yeonsung diam saja, tak ingin menjawab pertanyaan Luhan. Ia hanya menatap Luhan yang sedang konsentrasi mengoleskan saleb kelehernya.

Dengan jarak sedekat ini.

“apakah saleb yang kau gunakan padaku aman?”. Tanya Yeonsung penasaran. Wajar saja ia merasa khawatir, karena Luhan tak tampak seperti orang yang mengerti soal kesehatan.

“aku sering memakai ini”. jawab Luhan seraya menegakkan tubuhnya. “kau lihat ini”. Luhan menunjuk bibir bawahnya. “aku mendapatkan luka ini saat berkelahi. Aku juga punya bekas luka disini”. Luhan mengangkat kemeja sekolahnya, memperlihatkan bekas luka diperutnya.

“apa-apaan, kenapa kau menunjukkan itu padaku? Dasar mesum”. Maki Yeonsung.

Luhan terkekeh, ditatapnya mata Yeonsung dalam-dalam. “aku punya banyak bekas luka, karena aku sering berkelahi. Tapi, Yeon’ah, aku tidak akan membiarkan perempuanku mendapat luka apalagi sampai membekas. Rasanya lebih sakit jika melihat perempuanku terluka”.

Jangan sampai luluh, Yeonsung! Jangan!!!

Yeonsung meneriaki dirinya sendiri. Mata teduh Luhan, bahasa yang digunakannya dan suara lembut itu. Sedikit lagi mampu membuat pertahanan Yeonsung hancur. Tidak, tidak boleh, Yeonsung!

“Lu –“.

“dan jangan coba-coba untuk melukai dirimu sendiri”. Sambil menggerakkan jari telunjuknya didepan wajah Yeonsung, Luhan memasang wajah aegyo. “sudah selesai”.

Entah, setan mana yang membuat tangan Yeonsung bergerak untuk menarik Luhan yang hendak mengembalikan toples saleb itu? Luhan menoleh terkejut. Ini pertama kalinya Yeonsung yang memegangnya.

Sekelebat bayangan hinggap dibenak Yeonsung. Suara hingar-bingar yang tidak asing mendadak terdengar ditelinganya. Suasana yang gelap namun penuh dengan lampu berwarna merah, biru dan kuning. Dimana? Dimana aku pernah melihat ini?

“ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?”.

“Lu – terima kasih”.

“aku tidak butuh ucapan ‘terima kasih’”. Luhan kembali menghadap pada Yeonsung. Membungkukan tubuhnya. Dagu Yeonsung ditarik. Sekilas kecupan diberikan oleh Luhan. “daripada bekas luka, sebenarnya akan lebih indah jika bekas kissmark yang bertengger dilehermu”. Ucap Luhan dengan vulgar.

Park Yeonsung”.

kau tunggu disini sebentar”.

Yeonsung diam saja.

Suara itu terngiang ditelinganya. Penuh dengan déjà-vu sampai Yeonsung sendiri merasa takut. Perasaan macam apa ini? Sungguh mengganggu. Ia ingat tapi tidak ingat.

“jangan katakan padaku dimana kita pernah bertemu”.

TBC

“Luhan sungguh tergila-gila dengan gadis itu”.

“jadi Yeonsung itu gadis panggilan?”.

“yak! Park Yeonsung! Kau ini kenapa?!”.

“bagaimana rasanya menjadi pahlawan?”.

“ah, sebenarnya kalian berdua kenapa?”.

#OMAKE

LH : Yeonsung menyebalkan dalam cerita ini

YS : tapi aku menyukai peranku, Lu ~

LH : kau menyukainya?

YS : Ya, sangat menyukainya

LH : kalau begitu aku juga akan menyukainya

Advertisements

31 responses to ““Ophelie” #1 by Arni Kyo

  1. yah hahaha lucu ceritanya, q suka suka banget! lama ga bca ff cast Luhan n nemu dsni! johdda!! 😀 next nya ditunggu ya author, 🙂 😀 fighting!! 😉

    • Hallo ‘0’)~
      ditunggu chapter selanjutnya yaaaa.. apdet soon ><
      hehe… kupunya banyak FF Luhan kok :3

      thanks for reading and comment ❤ 😀

  2. Bagus banget kak. Apalagi main cast nya. Luhaaaaaan 😍😍😍
    Pokoknya ditunggu next chap nya kakak. Semangaaat

  3. Awwww luhan muncul kembali, fresh banget kisah mereka, berharap yeonsung cepet luluh sama kelakuan lihan hihi. Ditunggu nextnya

  4. baby lu comeback, ceritanya bikin greget deh. semoga yeonsung cepet luluh sama baby lu. Jadi gak sabar nunggu kelanjutannya.. Fighting eonni kyo 💪

  5. awww udah lama ngga baca ff luhan, akhir nya ada author yang nulis ff yang cast nya luhan 😁 di tunggu chapter selanjut nya thor, fighting 💪

    • thanks for read and comment ><

      yayaya.. ku jg dah lama ngga nulis FF nih, kebetulan lg ada ide aja makanya apdet lg. ikuti terus seri Ophelie yaaaa

  6. Jiaaaahhh entah kenapa aku paling suka sma luhan yg perannya sebagai bad boy gini apalagi klo udah ngejar2 cewe yg malah mengabaikannya, tapi sebenarnya dia emang tulus dengan perasaannya, karena sebuas apapun luhan klo dia udah jatuh Cinta maka dia akan melunak juga sama pasangannya..
    Dan entah kenapa aku suka sama sifat pemaksanya luhan.. Hhii

  7. Baru baca? nga jga sihh cuma baru komen aja.. hehehe…. bagus ceritanya min .. ditunggu sampe end yaa.. fighting

  8. Omoo .. Luge manis bgt di sini tapi kalau bneran ada yg kyk gitu awalnya aja serem ujung”nya luluh ..
    Aku baru baca ff ini dan bagus semangat utk authornya 😀

  9. Gue jatuhh hatiiii :3 ini ff dari alur dan karakternya gak ngebosenin. Bahasanya enak lagi… dan biarpun panjang, beneran gak kerasa.. kapan tau udah nemu TBC :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s