Stay [Chapter 3] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Previous Chapter || Chapter 3

Merekrut asisten baru bukannya mendapat jadwal yang lebih singkat, dia justru harus terima saat jam-jam santainya makin berkurang karena jadwal yang sangat padat. Salahkan Jeon Jungkook yang sudah membuat hidupnya seperti ini. Juga ayahnya yang turut memperburuk suasana. Harusnya waktu itu dia tidak usah memecat si manekin. Bahkan jadwal yang dibuat si manekin tidak sampai semengerikan ini. Dia bahkan sampai telat makan karena jadwal-jadwalnya.

Tahu-tahu sudah pukul 11 malam dia bertahan dengan berbagai berkas yang harus ditandatangani dan mulai merasa lapar karena belum makan malam sejak sore tadi. Ia pun segera melepar bolpoinnya sembarangan. Berdiri, mengambil langkah seribu keluar dari kantor dan duduk kembali di kursi yang berhadapan dengan seorang pria berkacamata yang sedari tadi sibuk membaca berkas.

“Aku lapar~”

“Kau sudah selesaikan semua tugasmu?” tanya pria itu cuek. Dia membalik halaman berkasnya dengan tenang.

“Masih ada sedikit lagi. Tapi aku lapar sekali sekarang.”

“Selesaikan dulu.”

“Kook-a~~ Aku lapar … aku belum makan apa pun sejak sore tadi.”

Pria itu membenarkan letak kacamatanya, lantas menorehkan tinta di atas kertas berkas itu. “Aku juga sama.”

“Maka dari itu, ayo cari makan dulu.”

Jungkook menumpuk berkas yang sudah selesai dia teliti di sebelah kirinya. Ia pun menyimpan kembali bolpoin ke dalam tempat pensil, kemudian menatap Sena lekat-lekat.

“Kau mau makan sekarang tapi lembur, atau makan nanti tapi pulang sebelum pukul duabelas?”

Gadis itu meraih tangan Jungkook, mencubit-cubitnya kecil sambil cemberut. “Berkasnya banyak sekali. Kalau tadi sore kau tidak memberiku jadwal pertemuan dengan Angelo Grup, aku mungkin bisa menyelesaikannya sebelum jam sepuluh. Ini salah siapa coba?”

Jungkook menghela napas. Benar juga. Dia memberi Sena jadwal pertemuan dengan eksekutif perusahaan itu dari pukul 6 sore sampai 8 malam untuk menggantikan Sehun yang sedang perjalanan bisnis ke Swedia sampai minggu depan. Gara-gara itulah mereka melewatkan makan malam karena sudah dibombardir dengan segudang berkas yang harus dicek dan ditandatangani hari ini juga. Sebenarnya berkas-berkas itu adalah untuk Sehun juga. Tapi karena alasan perjalanan bisnis itu, semua berkas pun dialihkan pada Sena. Hitung-hitunglah belajar menjadi calon presdir.

Pria itu pun melepas kacamatanya dengan tangannya yang bebas, kemudian bangkit sambil menggenggam tangan Sena. “Kaja. Kita makan dulu.”

Kedua mata gadis itu langsung berbinar. Ia pun memekik riang. Menimbulkan senyum tersendiri di wajah Jungkook.

Mereka hanya makan samgyetang di warung tenda dekat gedung Oh Corp.

Sebenarnya Sena ingin membayar bill-nya. Tapi Jungkook melarangnya dan membayar bill mereka. Untung saja mereka tidak tambah macam-macam jadi uang yang dikeluarkan dari dompet tipis Jungkook pun tidak begitu banyak.

Selesai makan, Sena bilang dia ingin jalan-jalan dulu sambil minum kopi. Jungkook toh menurut saja untuk menghindari perdebatan panjang lebar dengan gadis keras kepalanya itu.

Gadis itu menelusupkan jari-jari kecilnya ke sela-sela jari manly Jungkook. Dia tersenyum tipis ketika pria itu balas menggenggamnya erat.

“Tanganmu pas sekali di tanganku,” ujarnya sambil menyesap sedikit kopi hitamnya.

Jungkook memasukkan tangan mereka ke dalam saku jas-nya. “Mungkin ini yang disebut jodoh.”

Sena terkikik geli. “Kau ini bisa saja.”

Mereka berhenti dan duduk setelah menemukan bangku kayu kosong yang ada di taman.

Lampu taman yang sedikit remang menambah romantis suasana malam itu. Dengan angin tenang musim semi yang mengelus permukaan kulit mereka.

“Kook-a, nanti, kau mau datang ke apartemen? Kita makan ramen.”

Jungkook mendengus geli mendengar kata-kata Sena. Meskipun ini pertama kalinya dia pacaran, dia tahu apa maksud kalimat itu.

“Jadi kau sudah bisa melupakan Yoongi?”

Di saat nama itu masuk ke gendang pendengarannya, ekspresi Sena pun langsung berubah. Dia langsung menghabiskan sisa kopinya dalam sekali teguk.

“Hei, kau tahu? Byun Baekhyun pemilik BBH Corp memintaku untuk menikah dengan sepupunya. Dan kau tahu siapa sepupunya? Dia adalah Kim Taehyung.” Sena dengan alami langsung membelokkan pokok pembicaraan. Ia meletakkan gelas kosong miliknya di sisi lain, kemudian mendekatkan diri pada Jungkook, menyandarkan sebagian tubuh serta kepalanya di tubuh padat pria itu.

“Kenapa begitu? Urusan bisnis?” tanya Jungkook yang juga melupakan apa yang sudah dikatakannya beberapa detik lalu.

“Hm. Dia ingin perusahaan ayahku dan perusahaannya menjadi satu.”

“Lalu?”

“Aku menyuruh Taehyung untuk segera menikah dengan kakakku.”

Jungkook terkekeh mendengar penuturan tak terduga dari bibir Sena. Dia tahu betul siapa kakak yang dimaksud Sena. Tentu saja bukan kakak kandung. Sena adalah anak tunggal. Kakak yang dia maksud adalah Lee Soomi, sepupunya yang sampai saat ini masih lajang dan sedang menyelesaikan studi S2 di Hanyang. Dalam ketidaksengajaan, Taehyung pernah bertemu dengan Soomi. Yang kemudian membuat Taehyung jatuh cinta dan mengejar Soomi kemana pun Soomi pergi. Padahal, Soomi paling tidak suka membangun hubungan dengan dongsaeng.

Setelah kopi milik Jungkook habis, mereka pun kembali ke kantor. Menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung, lalu pulang tepat pukul 1.

Mereka berdua turun ke basement menggunakan lift. Gedung itu sudah benar-benar sepi ketika mereka pulang. Karena yah … peraturan di sini semua karyawan harus pulang maksimal pukul 12 malam. Sehun membuat peraturan itu agar para pekerjanya tidak stress dan tetap melakukan performa yang baik selama bekerja. Tapi Sena sepertinya benar-benar tidak bisa dikekang dengan peraturan seperti itu.

Sena pergi ke kantor dengan mobil, sementara Jungkook dengan sepeda motor besar. Kendaraan mereka di parkir bersebelahan. Atas keinginan siapa lagi itu kalau bukan Sena. Dia itu ke semua orang memang manja.

“Ke apartemenku ya,” pinta gadis itu setelah mereka sampai di dekat kendaraan masing-masing.

“Untuk apa malam-malam begini?” tanya Jungkook cuek sambil memasang helm-nya.

“Untuk apa lagi menurutmu?”

Jungkook pun mengangkat kaca helm-nya sampai mata dan hidungnya terlihat. “Kau tidak lelah seharian ini?”

Sena menyandarkan hampir seluruh tubuhnya pada mobilnya. Menggaruk kepalanya sampai rambut bob-nya berantakan. “Maka dari itu ayo ke apartemenku. Pijat aku.”

Jungkook memutar bola mata jengah sambil menggeleng pelan. “Arasseo. Ayo.”

Di saat Jungkook mau beranjak menaiki motornya, tiba-tiba Sena menahan lengannya. Dia menoleh dan memberi tatapan ‘apa lagi’ pada gadis yang sudah dipacarinya sejak lama.

“Naik mobilku saja ya? Motormu tinggalkan di sini. Toh kau akan menginap malam ini.”

Sekali lagi Jungkook hanya bisa menuruti keinginannya. Dia pun melepaskan helm itu, memasukkannya ke jok belakang mobil Sena. Diraihnya kunci mobil dari tangan Sena sekalian mencuri ciuman di bibir gadis itu. “Sesuai maumu, Nyonya Jeon. Sekarang masuklah.” Dia membuka pintu di samping kemudi dan memberikan gestur pada Sena untuk segera masuk. Gadis itu sendiri juga mencium Jungkook sebelum masuk ke mobilnya.

Jungkook memutari depan mobil untuk masuk ke kursi bagian kemudi. Dia memasang sabuk pengamannya dan milik Sena sebelum melajukan Audy itu ke sebuah kawasan apartemen.

“Aaa~ sakit~ pelan-pelan saja~”

“Ini sudah pelan.”

“Ke kiri sedikit. Ya itu! Aaaa!”

“Bisakah kau tenang sebentar, Nyonya? Aku bahkan tidak mengerahkan seluruh tenagaku.”

“Jangan kuat-kuat! Aaaa!! Appo!!

Jungkook menggeleng pelan.

Kalau orang lain mendengarnya pasti mereka akan salah paham.

Saat ini mereka sudah ada di apartemen Sena, lebih tepatnya di kamar gadis itu, dengan Sena yang sedang berbaring telungkup dan Jungkook yang duduk di sampingnya, memijatnya.

Ya, memijat. Pijat eksklusif dari Jeon Jungkook.

“Sudah selesai,” ujar pria itu sembari menarik tangannya kembali. Membiarkan Sena membalik badannya, tetap mendesis lirih sambil menggeliat kecil.

“Ya ampun sakit sekali … aku benci kerja.”

Jungkook menopang dagunya di atas lututnya sambil mengamati wajah tanpa make up gadisnya. “Kau bahkan tidak mengangkut barang-barang berat dengan punggungmu. Banyak mengeluh sekali.”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Memangnya duduk itu tidak melelahkan? Punggungku rasanya sudah kaku gara-gara duduk berjam-jam.”

“Kurasa kau juga tidak suka jalan kemana-mana. Buktinya kau merengek ingin pulang terus selama memantau hotel.”

“Aaaah kau ini. Tidak seru.”

“Selagi kau masih punya ayahmu dan perusahaan, bukankah kau seharusnya lebih bersyukur? Bagaimana jadinya kalau dua hal itu direnggut darimu? Akan jadi seperti apa lagi keluhanmu itu, huh?”

Nada bicara Jungkook yang terdengar tajam dan serius itu otomatis membuat Sena berhenti mengerang. Dia balas menatap Jungkook dengan mata melebar. Kali ini Jungkook sepertinya sedang tidak main-main dengan ucapannya barusan.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakkan, Sena. Kau sudah duapuluh tiga tahun.”

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas perut, sambil mengangguk pelan.

Jungkook menghela napas. Ia pun membanting tubuhnya di samping Sena yang sesaat membuat ranjang itu bergoyang pelan. Ia menyelipkan kedua lengannya di bawah bantal. Mulai memejamkan mata.

Melihat perubahan sikap Jungkook, Sena pun dirundung perasaan bersalah.

Apa yang dikatakan Jungkook itu benar adanya. Dia memang masih kekanak-kanakkan.

Masih suka mengeluh karena hal-hal remeh, padahal orang yang seharusnya lebih banyak mengeluh di sini adalah Jungkook.

Gadis itu pun berbalik ke sebelah kanan, menghadap Jungkook yang napasnya mulai teratur.

Entah Jungkook sudah lelap atau belum, dia pun meletakkan lengan kirinya di atas perut datar pria itu, memeluknya erat. Dihirupnya dalam aroma Jungkook yang memang selalu wangi. Entah sejak kapan dia menyukai aroma Jungkook.

Perlahan namun pasti, ia pun memindah kepalanya dari bantal ke dada pria itu.

Suara detak jantung Jungkook terdengar sangat teratur di telinganya. Dia tersenyum tipis, dan ikut-ikutan memejamkan mata.

Limabelas menit setelahnya, usai Sena benar-benar jatuh tidur, Jungkook pun membuka matanya. Memindahkan lengan kirinya ke bahu gadis itu, mengusapnya lembut.

Kemudian ia pun memindahkan kepala Sena ke bantal, menjauhkan lengan kurus itu dari tubuhnya, menyelimuti gadisnya, mengecup dahinya sebentar, lalu keluar dari ruangan tersebut.

Sena terbangun setelah mendengar bunyi alarm ponselnya. Dia lekas mematikan suara dari benda itu, lantas beranjak keluar dari kamar sambil menggaruk rambut.

Begitu sampai di ruang tengah, ia mendapati Jungkook masih tidur di sofa tanpa selimut. Ujung bibirnya pun terangkat. Dia kembali lagi ke kamar, beberapa detik kemudian keluar sambil membawa selimut.

Ia membentangkan selimut itu sampai menutupi ¾ tubuh Jungkook, yang hanya menyisakan leher dan kepalanya saja. Sementara dia sendiri, beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.

Sena ingin membuat menu sarapan yang mewah tapi bergizi untuk Jungkook. Dia tahu, pasti pria itu hanya makan-makanan instan atau tidak makan sama sekali di pagi hari. Untuk itu, selagi Jungkook ada di sini, kenapa dia tidak menjamunya dengan baik?

Tanpa memikirkan rambutnya yang masih seperti sarang burung, ia pun mulai sibuk memasak dalam balutan apron warna oranye-nya. Mungkin dia hanya akan membuat bibimbab dan sup kacang hari ini. Karena bahan yang dimilikinya di lemari pendingin terbatas. Salahkan dia yang terlalu sibuk di kantor sehingga lupa mengisi ulang bahan-bahan makanannya.

Suara berisiknya di dapur mungkin membuat Jungkook terganggu. Pria itu menggeliat. Memaksa kedua mata bulatnya untuk terbuka. Merentangkan tangan tinggi-tinggi sambil menguap lebar. Dahinya mengerut saat melihat selimut yang sudah membungkus badannya. Seketika itu juga dia menoleh ke asal suara, pada keributan lain yang dibuat Sena di sana.

Masih dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, ia pun segera bangkit dari sofa dan beranjak menuju dapur. Di sanalah dia bisa melihat gadisnya dengan rambut berantakan sedang membelakanginya. Asyik sendiri dengan dunianya tanpa sekalipun menyadari siapa yang sedang menghampirinya dan memeluknya tiba-tiba. Beruntung Sena sedang tidak memegang pisau atau memegang yang lain saat Jungkook memberinya surprise.

“Kau sudah bangun?” tanya gadis itu sembari mengusap lembut pipi Jungkook yang bertengger santai di bahunya.

“Hm. Mwohae?

“Aku sedang memasak sarapan untukmu. Sarapan spesial.”

Pria itu tersenyum tipis. Makin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Sena. “Jinjja?”

“Hm. Selama kau ada di sini aku akan selalu membuatkanmu makanan yang bergizi.”

“Ah terima kasih banyak.”

Sena menepuk-nepuk pipi Jungkook sebelum mengecupnya sekilas. “Bisa kau tunggu di meja saja? Sebentar lagi supnya selesai.”

“Hm. Atas perintah nyonya.”

Sena terkekeh geli mendengar ucapan Jungkook.

Setelah pria itu duduk manis di kursi meja makan, Sena pun datang tak lama kemudian dengan panci yang menguarkan kepulan asap. Aromanya yang khas langsung membuat Jungkook tersadar penuh. Dia langsung mendekatkan mangkuknya pada panci. Mengambil tiga sendok sup sampai mangkuknya penuh dengan sup kacang. Tanpa harus menunggu Sena selesai dengan kegiatannya, dia langsung menyantap sup tersebut.

Sena menggeleng pelan melihat tingkah Jungkook. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air sebelum diletakkannya di dekat Jungkook. Sampai pria itu selesai makan dia hanya berdiri di sebelah meja. Ternyata melihatnya makan saja sudah membuatnya kenyang.

“Kau suka?” tanyanya setelah Jungkook menghabiskan satu porsi sup.

Pria itu mengusap sekitar bibirnya. Mengangguk pelan sebelum menghabiskan segelas air. “Ini sup kacang paling enak yang pernah kucoba.”

Sena terkekeh. Mencubit gemas pipi Jungkook sebelum akhirnya duduk di kursi lain. “Jadi tidak sia-sia aku ikut kursus memasak tahun lalu.”

“Cantik, cerdas, baik, pewaris perusahaan, pintar memasak, setelah aku sudah benar-benar mapan aku akan menikahimu secepatnya.”

Gadis itu tertawa geli dengan pipi merona merah. Dia juga menuangkan sup-nya dari panci ke mangkuk sebelum memakannya. Sementara itu Jungkook memutuskan untuk mandi usai menghabiskan bibimbap-nya.

TBC

Advertisements

10 responses to “Stay [Chapter 3] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Waww sena jadi sama jungkook nih? Yoongi nya kemana ih? 😁 jangan sampe yoongi balik lagi dan bingung mau pilih mana wkwk i aku ga bisa ga fokus ke daddy nya sena -uri sehunnie 😘😘 wkwk

  2. Sukaaak mereka berdua
    Saling sayang satu sama lain ♥♥♥
    Sikap jungkooknya dewasa banget, dan sena kayak yg nurut bgt gitu sama jungkook
    Penasaran banget deh sama kelanjutan mereka berdua
    Btw sena udh sepenuhnya move on blm ya??
    Sanagat ditunggu kelanjutannya eonni

  3. Manis kisah cinta mereka, disini juga gak ada lagi pihak yang tersakiti. Semga belum ada masalah diantara mereka .

  4. aku baca part ini berulang kali loh saking manisnya, yaampun bayangin mata kooki-a yg penuh kepastian bikin melting :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s