Stay [Chapter 4] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Previous Chapter

Esok harinya adalah hari kelulusan. Semua siswa kelas 3 SMA Bangtan beserta wali mereka datang ke sekolah untuk melangsungkan acara tersebut. Sena tentu saja bersama ayahnya, Oh Sehun. Meskipun kata ayahnya dia tidak bisa lama karena ada kepentingan bisnis, tapi setidaknya Sehun datang untuk melihat anaknya mendapat diploma.

Selesai acara kelulusan, para siswa bebas melakukan apa pun. Mau pulang langsung boleh, mau berfoto dulu dengan teman-temannya juga boleh, mau membuat pesta sendiri juga boleh.

Kelas 3-1 sepakat membuat pesta.

Sayangnya Sena terlalu malas untuk ikut pesta itu. Dia lebih memilih menyendiri di atap sekolah. Bertemankan angin, mentari, dan sampah-sampah yang sudah mengkarak bertahun-tahun lamanya.

Ia mengangkat kepalanya melihat langit biru yang begitu cerah. Sayangnya hatinya sedang tidak secerah itu.

Dia rindu Yoongi.

Sudah sebulan sejak hari itu dia tidak lagi melihat batang hidung Yoongi secara langsung. Sekalipun. Dia hanya bisa melihat wajah tampan pria itu di layar. Dari akun sns pribadinya, video-video yang diunggah olehnya, fancam yang bertebaran di Youtube. Hanya dari sanalah dia bisa mengetahui kabar Yoongi, kalau Yoongi itu baik-baik saja. Sangat baik malah.

Sepertinya Yoongi memang bertekad untuk tidak kembali ke Korea dalam waktu dekat.

Sena sudah berkali-kali datang ke apartemennya. Tapi tempat itu selalu kosong. Hanya benda-benda mati yang menyapanya ketika dia berkunjung. Biasanya dia tidur-tiduran di sofa kesayangan Yoongi sambil mengingat hari di mana ketika Yoongi dalam keadaan mabuk memintanya untuk datang. Dia selalu menyesal. Harusnya dia menikmati saat-saat itu kalau tahu akhirnya mereka akan terpisah seperti ini. Tapi takdir seolah berkata lain. Mau seburuk apa pun yang terjadi di masa lalu, inilah jalan yang terbaik bagi mereka.

Pergi ke jalan masing-masing. Menjauh dari kenyataan bahwa mereka pernah merajut sebuah kisah yang manis bersama-sama.

Ia pun reflek menoleh ketika ketukan sepatu terdengar berhenti di sebelahnya.

Jeon Jungkook.

Mwohae?” tanya pria itu yang juga ikut-ikutan menumpukan kedua sikunya di atas pagar pembatas rooftop.

“Kau sendiri kenapa kemari?”

Jungkook langsung mengalihkan pandangan. “Aku malas sekali berada di sana. Tidak ada yang menarik.”

“Ah … begitu.”

“Kau sering datang ke sini?”

“Hm.”

“Apa kau sedang memikirkan Agust D?”

Sena tersenyum miring. Menunduk, memperhatikan jari-jarinya yang saling beradu ragu. “Memang siapa lagi pria yang ada dalam hidupku selain dia dan Kihyun?”

“Ah, benar juga. Namaku tidak pernah ada dalam daftar.”

Gadis itu tersenyum sendu. “Mian, Kook-a. Aku benar-benar tidak bisa berkencan denganmu. Kau tahu, sulit sekali berpaling pada yang lain saat kau masih memikirkan orang itu. Kumohon sekali pengertianmu.”

“Hm. Aku selalu mencoba mengerti dan memahamimu sejak tiga tahun lalu.”

Sena menghela napas lelah. “Kau bahkan sudah tahu bagaimana sikapku ke Heejoo tapi kenapa kau tetap saja bersikeras menyukaiku. Semudah itukah kau berpaling dari Yoonji.”

“Kau tahu, sulit sekali berpaling pada yang lain saat kau masih memikirkan orang itu. Bukannya kau sendiri yang bilang barusan?”

Sena mendengus geli. “Terserahlah.”

Jungkook pun menarik dirinya. Berdiri tegap, dengan kedua tangan masuk dalam saku celana. “Perasaanku padamu tidak akan berubah sampai kapan pun, Sena. Aku akan menunggu sampai kau mau menerimaku. Kumohon kau tidak akan merasa terbebani dengan ini. Aku pergi duluan, annyeong.”

Sebelum Sena sempat mengatakan apa pun, tungkai panjang Jungkook sudah bergegas meninggalkan rooftop. Gadis itu hanya bisa menatap pintu penghubung rooftop dengan tangga dengan perasaan yang bercampur aduk.

Dia merasa bersalah pada Jungkook. Tapi di satu sisi dia juga belum ingin menghapus nama Yoongi dari hatinya.

Jungkook itu lahir dan tinggal di Busan. Namun setelah ayahnya ditugaskan di Seoul, Jeon sekeluarga pun memilih pindah ke Seoul. Bertepatan itu Jungkook harus masuk SMA. Dan dia masuk ke SMA Bangtan.

Meskipun bukan satu-satunya dari Busan, Jungkook tetap merasa minder saat harus berbaur dengan anak-anak Seoul yang terkenal gaul dan kebanyakan dari kalangan berada. Padahal keluarga Jungkook tidak miskin-miskin amat. Ayahnya bekerja sebagai manajer di suatu perusahaan kosmetik, sementara ibunya punya sebuah restoran makanan laut di Busan –yang terpaksa diserahkan pada bibi Jungkook karena kepindahan mereka ke Seoul. Jungkook adalah anak bungsu di keluarga. Dia memiliki seorang kakak laki-laki yang sebentar lagi akan lulus kuliah dari studinya dalam bidang seni rupa.

Di tengah krisis ‘kesendirian’-nya itu, seorang gadis cantik dengan rambut hitam tebal berantakan tiba-tiba menghampirinya sambil menggandeng seorang laki-laki. Gadis itu tersenyum ramah saat mereka bertemu pandang. Yang hanya bisa dia balas dengan tatapan bingung.

“Hai. Apa kau berasal dari Busan?” tanyanya langsung ke poin tanpa harus berbasa-basi dulu dengan perkenalan dan sebagainya.

Jungkook mengangguk ragu.

Gadis itu tampak puas. Dia pun langsung menarik laki-laki yang bersamanya untuk berdiri lebih dekat dengan Jungkook. “Dia ini juga dari Busan. Namanya Park Jimin. Dia keponakan dari teman ayahku. Pamannya bilang dia ini dari Busan dan sedikit pemalu, jadi aku mencarikannya teman yang sama-sama berasal dari Busan. Tebakanku tidak salah, ternyata kau benar orang Busan. Berkenalanlah.”

Jimin dan Jungkook saling berpandangan dengan canggung. Bingung siapa yang harus memulai, dan memulai dari mana dulu.

“Kenapa hanya diam saja? Ayo berkenalan,” seru si gadis itu tak sabaran.

Tapi dua laki-laki itu tetap saling diam.

Gemas melihat mereka, akhirnya gadis itu pun menautkan tangan Jimin dan Jungkook secara paksa.

“Nah. Begini. Oh ya, karena kau sudah tahu namanya, kenapa kau tidak menyebutkan siapa namamu?”

Bukannya menatap Jimin, Jungkook malah menatap gadis itu. “Namaku Jeon Jungkook.”

“Ow? Jungkook, nama yang bagus,” respon gadis itu dengan matanya yang berbinar-binar.

Otomatis tautan tangan kedua pria itu pun berakhir.

“Ya sudah, kalian berbicanglah saja berdua. Aku juga mau mencari teman. Ah ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Oh Sena. Dari Seoul. Salam kenal, Jungkook-sshi.”

Jungkook hanya mengangguk karena dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Gadis itu terlalu bersemangat di matanya. Setelah mengucapkan annyeong, gadis itu pun pergi begitu saja dan meninggalkannya hanya bersama Jimin.

Jungkook pikir itu adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka.

Nyatanya, mereka justru ditempatkan di kelas yang sama.

Matanya membola lebar melihat Sena di kelas 1-1, begitu juga Sena yang menutup mulut takjub melihatnya.

“Wah Jungkook-sshi … kita bertemu lagi.”

Jungkook sekali lagi hanya mengangguk kecil. Entah ya, kenapa dia sulit sekali menggerakkan ujung bibirnya untuk tersenyum pada gadis itu? Padahal di Busan, dia tidak sekaku seperti sekarang ini.

Sapaan Sena tidak berhenti sampai di situ. Gadis itu dengan gencarnya langsung memperkenalkan Jungkook pada tiga teman perempuan yang ditemuinya selama upacara penerimaan siswa baru. Yaitu Irene Bae yang berasal dari Daegu. Jenny Kim yang berasal dari Selandia Baru. Dan Lalisa dari Thailand. Anehnya dia bisa tersenyum meskipun sedikit pada mereka padahal mereka sama-sama wanitanya seperti Sena.

Mungkin di saat itu Jungkook belum sadar kalau sebenarnya dia mulai menyukai Sena.

Dia benar-benar baru menyadari itu setelah Sena mengenal Kihyun.

Entah kenapa dia tidak suka saja dengan cara Sena mengagumi kakak kelas mereka itu. Terlebih setelah skandal hubungan antara Heejoo dan seorang guru mereka tersebar, Sena tampak begitu patah hati dengan sikap Kihyun yang lebih membela Heejoo ketimbang gadis itu sendiri. Sungguh, Jungkook ingin sekali menarik Sena pergi dari sekolah ini, bahkan kalau bisa dari negara ini sekalian untuk menjauhkan gadis itu sejauh-jauhnya dari jangkauan Kihyun.

Ya … setelah skandal itu, Jungkook akhirnya sadar kalau rasa tidak senangnya pada Kihyun selama ini ternyata karena dia menyukai Sena. Dia hanya tidak mau gadis itu banyak menceritakan tentang Kihyun pada teman-temannya, atau memekik senang setelah Kihyun melakukan sesuatu yang keren untuknya, karena itu sangat mengganggunya. Dia benci Sena mengagumi pria itu, menangis karena pria itu, tertawa karena pria itu, semuanya. Dia hanya ingin Sena melihatnya saja.

Egois sekali bukan?

Tapi begitulah adanya. Jungkook tanpa sadar mulai haus akan perhatian Sena padanya. Dia bahkan tidak peduli pada sikap-sikap buruk Sena setelah Kihyun lulus SMA. Mau gadis itu membully Heejoo atau anak-anak lain seperti apa pun, dia tetap akan melihat sisi baiknya Sena saja. Meskipun, terkadang dia sebal juga melihat tingkah Sena yang terlalu berlebihan pada anak-anak tersingkir seperti Heejoo.

Sayangnya hati Sena seperti sudah keras begitu Kihyun lulus. Dia sudah tidak peduli lagi pada perasaan siapa pun. Mungkin hanya perasaan ketiga temannya saja yang ia pedulikan, sisanya? Masa bodoh. Bahkan dia tidak segan mempermainkan perasaan para pria yang menyukainya demi menghibur dirinya sendiri. Termasuk Jungkook yang selalu dimanfaatkannya setiap jam olahraga.

Dan begitu Yoonji datang, Jungkook awalnya tidak mau ikut-ikutan yang lain untuk berpaling pada Yoonji.

Namun melihat sikap Sena yang makin lama makin tidak mengacuhkannya, ia pun berusaha untuk menyukai Yoonji. Meskipun akhirnya rencananya itu gagal total bahkan sebelum dia tahu kalau Yoonji ternyata hanyalah identitas palsu dari seorang Agust D saja.

Jujur, perasaannya sudah terpaku pada Sena.

Dia bahkan tidak peduli lagi begitu mendengar bahwa Sena telah jatuh hati pada Agust D.

Toh dia juga diuntungkan dengan kepergian Agust D ke Amerika setelah mereka lulus.

Sekali lagi, dia merasa beruntung telah dilahirkan sebagai seorang Jeon Jungkook yang tidak pernah pergi seperti dua pria yang sangat dicintai gadis itu.

TBC

Hati-hati suka Jungkook :v 

Advertisements

13 responses to “Stay [Chapter 4] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Ottokae ottokae ottokae.
    Akankah aku bakal kembali ngebias dedek junjun 😄😄😄
    Kita nantikan kelanjutannya. 😍😍😍

  2. Jungkook bener bener hebat bisa nahan perasaan bertahun tahun gitu 😊 sena kurang peka wkwkw, ih aku nungguin scene daddy sehun padahal 😂 wkwk next next yoongi belum keluar yak?

  3. Uh kemaren Yoongi bagaikan Superhero, nah searang Jongkook yang bagaikan Superhero. Otoke otoke? Bikin kugundah uy 😦 😀 😀

  4. kukiii maygat. kmaren udah sukses bkin aku berpling sama si agus masa skarang mau brpling lg sama si kuki. mayagt bunny kuuu …sisain gue satu cwok kya gtu yawlaa..
    btw, thor aku tresna with koe lh. crita km itu ringan kya prmen kapas, manis kaya senyum yoongi, lawak kaya si alien ,gmesin kaya si kuki dan msih bnyak lg lahh.. fast update pula.. ahh 사랑한다…♡♡

  5. Kookie slma itukah kau menyukai sena,wah hebat bgt ne cowok…akhhh q takut jatuh cinta sm jungkook,padah dia bias q sama ky yoongi…yoongi ngak ada kabar sama sekali,q merindukan yoongi hiksssss..

  6. Flashback ke massa sma mereka, ke massa jungkook mulai menyukai sena. Jungkook tahan banget ya memendam perasaan nya ke sena dan dia sudah kebal.

  7. Waaah jungkook setialah suka sama sena
    Jungkook seneng tuh penantiannya ga sia”, akhirnya mereka kan pacaran hehe
    Semoga langgeng deh sena jungkook
    Eonni terbaik sudah ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s