Stay [Chapter 5] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Previous Chapter

Hari itu jadwal Sena hanya padat di dalam kantor saja. Tidak ada jadwal perjamuan atau memantau hotel-hotel di bawah naungan Oh Corp. Dia hanya mengikuti beberapa meeting, lalu berakhir di meja kerjanya untuk memeriksa semua berkas yang masuk hari itu.

Tapi justru karena lebih banyak di kantor lah, dia jadi lebih cepat bosan.

Belum rampung tugasnya, pukul 3 sore dia sudah berlarian keluar dari ruangannya menuju meja Jungkook. Jungkook juga tak kalah sibuknya dari dia. Dia lebih banyak mendapat telepon dari banyak orang untuk meminta konfirmasi yang tentu saja berkaitan dengan Sena.

Pria itu terlihat baru saja selesai berbicara dengan seseorang di telepon begitu Sena duduk manis di hadapannya.

“Besok kau akan sangat sibuk, Nyonya,” ujar pria itu sembari menuliskan sesuatu di buku daftar besar.

Sena hanya mengangguk malas sambil menopang dagu, mengamati asisten tampannya yang sedang serius bekerja. “Kau tidak lapar?”

“Ini sudah masuk jam makan siang?” tanya Jungkook yang masih tetap sibuk dengan buku daftar besarnya.

“Sudah lewat malah. Ya ampun, kau ini bekerja sampai lupa waktu ya. Pasti sebelum bekerja di sini kau juga seperti itu,” balas Sena sedikit kesal.

“Sejak tadi banyak yang menghubungiku, meminta konfirmasi apakah kau bisa menerima tawaran mereka atau tidak. Memangnya di saat seperti itu makanan terlihat jauh lebih penting?”

Gadis itu mendengus. “Tapi kau tetap tidak boleh melewatkan makan. Aku tidak mau punya suami yang sakit-sakitan nanti.”

Jungkook pun langsung menutup buku daftar itu begitu selesai menulis. Seperti sudah diprogram sebelumnya. Dia akan menyimpan bolpoinnya di tempat pensil, melepas kacamata dan menyimpannya di dekat tempat pensil, lalu berdiri sembari menggenggam tangan Sena.

Kaja. Aku malas mendengar ocehanmu yang panjangnya sudah seperti rel kereta api itu.”

Sena mendengus geli sambil memukul lengan Jungkook sebelum mengikuti kemana Jungkook pergi.

Mereka tidak malu untuk bergandengan tangan saat jalan-jalan di lorong kantor.

Padahal nyaris semuanya tidak tahu kalau Sena dan Jungkook berpacaran. Hanya Oh Sehun saja yang tahu. Itu pun setelah dia tak sengaja melihat Sena mencium pipi Jungkook tepat di depan mata kepalanya sendiri. Sekali lagi peraturan ‘tidak boleh berkencan dengan sesama rekan kerja’ dilanggar secara terang-terangan oleh putrinya sendiri. Pemegang Oh Corp di masa depan.

Sejoli itu tetap hepi sambil bercengkrama ria sampai kaki mereka berhenti di café perusahaan. Mereka mengambil makan dari gerai, lalu duduk di meja yang kosong.

“Kenapa kau hanya mengambil segitu? Yaa, bagaimana nanti kalau kau jatuh sakit? Aku akan ambilkan lagi.”

Jungkook langsung menahan tangan Sena yang akan beranjak ke gerai untuk mengambil tambahan lauknya.

“Tidak perlu. Ini sudah cukup.”

Sena mengerucutkan bibirnya sebal. “Pasti karena uang di dompetmu sekarang menipis ‘kan? Memang apa salahnya sih kalau aku berniat mentraktirmu?”

Jungkook menggeleng. “Aku tidak akan terima traktir dalam bentuk apa pun darimu. Aku lebih baik makan dengan porsi sedikit atau tidak sama sekali daripada kau traktir.”

Gadis itu menatap Jungkook sedih. “Kenapa sih kau begitu keras kepala? Aku melakukan ini hanya agar kau tidak jatuh sakit, Kook-a. Kita selalu pulang larut malam. Bagaimana kalau kau jatuh sakit karena tidak kuat dengan rutinitas ini?”

Jungkook sudah mulai menyantap makanan sederhananya ketika Sena menceramahinya panjang lebar. “Jangan pikirkan aku. Ini sudah biasa buatku.”

“Kook-a….”

“Cepat habiskan makananmu. Aku yakin pasti sekarang banyak klien yang menghubungiku.”

Tahu bahwa bicara dengan Jungkook hanya akan sia-sia saja, Sena pun akhirnya menyerah. Dia mulai meraih sendoknya, menghabiskan makanan yang diambilnya. Sesekali dia menyuapi Jungkook dengan makanannya yang untungnya mau diterima oleh Jungkook meski hanya sekali.

Jungkook masuk ke ruangan Sena pukul sepuluh malam sembari membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh gadis itu.

Ia menggeleng pelan melihat atasannya ketiduran dengan kepala di atas meja.

Dengan hati-hati dia menyimpan berkas-berkas yang dibawanya ke sisi kanan gadis itu, bergabung dengan sisa berkas yang belum dicek oleh Sena.

Pantas tidak ada keributan apa pun yang dibuat Sena. Biasanya kalau sudah masuk waktu-waktu seperti ini, gadis itu akan mendatanginya sambil memaksanya makan di luar. Ternyata dia sudah mampus duluan.

Ia pun mengusap pelan rambut pendek Sena, kemudian dengan hati-hati mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style menuju sofa paling panjang yang ada di ruangan ini. Berhati-hati juga saat membaringkannya.

“Ngh….”

“Sssst, gwaenchana,” bisiknya saat gadis itu menggeliat tak nyaman. Dia dengan cepat melepas jas-nya, untuk membungkus bagian atas tubuh Sena dengan benda itu.

Sekali lagi diusapnya rambut navy black kekasihnya.

Setelah Sena sudah lelap di tempat barunya, ia pun beranjak ke meja gadis itu. Berniat merapikan semuanya saja toh setelah ini sudah tidak ada pekerjaan lagi. Dia mengembalikan semua alat tulis ke tempatnya. Menata ulang kertas-kertas yang ditata sembarangan oleh Sena. Membuang hal-hal yang tidak penting ke keranjang sampah. Dan mematikan laptop gadisnya.

Namun pergerakannya terhenti saat dia melihat apa yang sedang terpampang di layar laptop Sena.

Foto seorang pria.

Bukan Jungkook.

Bukan juga Sehun.

Tapi….

.

.

.

Min Yoongi.

Entah kenapa dada Jungkook rasanya sesak sekali.

Ternyata benar, Sena belum sepenuhnya melupakan pria itu.

Lalu kalau memang benar, apa arti dari semua ini? Kenapa tiga tahun lalu Sena membiarkannya masuk ke dalam kehidupan gadis itu?

Ia melirik gadisnya yang sedang tidur dengan tatapan meminta jawaban.

Tapi tentu saja gadis itu tidak akan menjawab, karena dia sedang tidur dan tidak melihat tatapan itu.

Jungkook pun menghela napas. Berusaha mengosongkan dadanya dari rasa sesak yang sangat ia benci.

Tanpa mengulur waktu lagi dia segera mematikan nyala laptop itu, kemudian memasukkannya ke dalam tas Sena.

Pukul 3 pagi, Sena akhirnya bangun juga. Dia mendapati dirinya dalam pelukan sebuah jas hitam. Dihirupnya aroma yang menguar dari jas itu untuk memastikan siapa pemilik jas ini. Dan dia tersenyum begitu lebar saat aroma itu memenuhi kepala dan rongga dadanya.

Puas tersenyum-senyum, akhirnya dia sadar juga kalau dia sedang tidur di kantornya. Buru-buru dia beringsut duduk begitu mengingat seseorang.

“Kook-a—”

Pandangannya langsung jatuh pada seonggok manusia yang ketiduran dalam posisi duduk di sofa lain. Kedua kaki orang itu terbuka lebar, kedua lengan di atas lengan sofa, kepalanya mengarah ke atas dengan mulut terbuka lebar.

Menyadari siapa itu, Sena kembali tersenyum.

Ia pun beranjak menghampiri pria itu sambil membawa jas hitam tadi.

Dengan hati-hati dia membalut tubuh pria itu dengan jas.

Namun karena keseimbangannya yang masih belum sempurna –karena bangun tidur, tahu-tahu dia terdorong ke depan dan jatuh menimpa pria itu.

Otomatis, Jungkook pun bangun.

Matanya yang masih setengah terbuka menatap Sena yang sedang menatapnya kaget dengan bingung.

“Ah maaf membangunkanmu.”

“Oh … hm … gwaenchana….” Jawab Jungkook setengah sadar sambil meluruskan kedua kakinya. Dia masih berusaha membuka matanya untuk membalas tatapan Sena yang masih menempel padanya.

“Kalau begitu tidur lagi saja.”

“Kau mau kemana?”

Sena yang awalnya akan menarik diri pun gagal setelah Jungkook merangkul pinggangnya dan memaksanya untuk duduk di atas paha kirinya. Bahkan saat pria itu masih setengah sadar saja kekuatan otot tangannya tidak main-main.

Jungkook kembali tidur setelah menyandarkan kepala Sena di dadanya yang sedang berdetak teratur.

Dan Sena mencoba menikmati itu.

Entah sejak kapan dia menyukai semua hal yang berkaitan dengan Jungkook.

Aromanya, detak jantungnya, tangannya yang besar, mata yang memancarkan kepastian, wajah tampannya saat sedang serius. Ia menyukai semuanya.

Jadi, apakah itu artinya dia telah berhasil melupakan Yoongi?

Tch, mana mungkin.

Buktinya tadi saja dia iseng-iseng membuka website pribadi Agust D.

Pria itu sudah jarang muncul di sns. Dikarenakan tahun ini dia sudah mulai masuk wajib militer. Sehingga akun-akunnya otomatis terbengkalai begitu saja.

Sena hanya ingin melihat gallery foto pria itu di website. Tanpa ada keinginan menyimpannya karena takut Jungkook akan berpikiran yang tidak-tidak karena Jungkook tahu password laptopnya—

Oh tidak.

Sena kemudian tersadar kalau dia ketiduran dalam kondisi laptop menyala. Dan lagi, dia sedang melihat foto Agust D.

Cepat-cepat dia menoleh ke belakang untuk mengecek keberadaan laptopnya.

Semoga saja belum disentuh Jungkook.

Tapi sial. Mejanya sudah bersih dan tertata rapi.

Wae?”

Dia pun sontak menoleh begitu merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Matanya menatap cemas pada Jungkook yang sedang asyik mengelus pipinya dan menatapnya dengan mata mengantuk.

“Kau mencari apa? Aku di sini,” katanya sembari mengecup lembut pipi Sena.

Sena mencoba mencari kekecewaan di wajah Jungkook namun hampir 30 detik mencari dia sama sekali tidak menemukan itu di sana. Jungkook menatapnya fokus dan penuh kepastian seperti biasanya meskipun kelopaknya agak malas untuk dibuka lebar.

Jadi ia pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Kook-a….”

“Um?”

“Kau … kau yang membereskan mejaku?”

“Hm.”

“Juga … laptopku?”

“Hm.”

Hanya satu suku kata tiap pertanyaan, itu sungguh membuat Sena makin panik.

“Jadi … kau … melihat … itu?”

Jungkook pun tak mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Hanya menatap Sena lurus tanpa merubah ekspresinya.

“Kalau iya kenapa?”

Sena pun menelan ludah. Otomatis dia membuang pandangan untuk menghindari tatapan Jungkook.

“I-itu tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh. Aku hanya ingin melihat fotonya saja. Tidak lebih. Aku benar-benar sudah tidak pernah menghubunginya lagi, tidak iseng datang ke apartemennya lagi, pokoknya sudah tidak pernah melakukan sesuatu yang berkaitan dengannya lagi. Aku bahkan tidak menyimpan fotonya. Aku—”

Kecupan di bibirnya berhasil membungkam mulutnya. Tidak ada unsur apa pun di dalamnya. Sekian detik kemudian Jungkook sudah menarik wajahnya lagi, mengacak-acak rambut Sena dengan gemas.

“Hm, aku akan mempercayai ucapanmu, Sena. Gwaenchana. Aku tidak akan marah padamu hanya karena masalah seperti itu.”

“Benarkah?”

“Hm. Kau tahu, aku selalu memegang ucapanku. Kau lapar? Mau cari makan dulu?”

Sena mengangguk sedikit ragu.

Dan Jungkook menghadiahinya kecupan lagi.

TBC

Advertisements

13 responses to “Stay [Chapter 5] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Jungkook kecewa tapi dia masih bisa nahan, untung sena cepat-cepat menjelaskan nya, jungkook juga percaya sama sena. Makin romantis aja mereka.

  2. Astagaaa senaa knp iseng sih???
    Kasian jungkook, segitu udah so sweet banget senaa
    Lepasin aja yoongi mah, orang dia pergi gitu aja hehe

  3. Aku baca ini pagi-pagi, eh sena sana jungkook udah dapet kecupan aja:’v. Semangat ka buat next chap nya, di tunggu updaten nyaa

  4. yakin sena? kalau tiba2 yonggi dtng gmn? secara dia udh lebih dr 5 tahun di industri musik, udah boleh pacaran kali sm agensinya, wkwkwk.

  5. astaagggaa klo jungkook caranya gini maahhh meleleh laahh sebagai sena. ngga usah nunggu yoongi, dia juga kan belum pasttii mending sma yg pasti pasti ajaa. hehe

  6. Anyeong, aku baru nemu ff ini, dan langsung aku baca. Entah kenapa baca chapter ini aku menitikkan air mata. Mungkin aku alay :’) tp aku sakit karena jungkook.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s