Know You by slmnabil

123311633

You’ve become so damaged that when someone wants to give you what you deserve, you don’t know how to respond.

Adalah lucu ketika kita ingat bagaimana terjadinya awal mula namun tidak begitu yakin apa yang kita lalui di prosesnya. Tahu-tahu aku sudah mengenal sisi gelapmu, tahu-tahu aku jatuh cinta dengan itu.

Kau adalah satu di antara taburan bintang redup di angkasa. Kau adalah bunga yang kelopaknya rusak sebelah. Kau adalah kupu-kupu yang kehilangan sayapnya. Kau adalah porselen yang tak sengaja tersenggol, jatuh menjadi kepingan, dan disatukan dengan perekat yang tak pernah kering.

Mereka semua ditinggalkan, mengharap belas kasih, memegang asa erat-erat. Namun, setelah sekian lama mereka—kau—lupa bahwa kau sedang menanti.

Dan ketika aku memberikan hatiku, kau tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.

Kau tidak pernah berpikir bahwa kau sudah cukup. Padahal aku bisa memberitahumu apa saja yang ada dalam dirimu, yang membuatku jatuh cinta setiap detiknya.

Kau memperlakukan anjing tetangga dengan baik. Kau mengetahui takaran gula yang pas untuk kopi pagi. Kau tahu berapa lama harus menunggu sebelum membalik panekuk agar matang sempurna. Kau bisa memotong rambut sendiri dengan rapi. Kau tahu cara membetulkan selot rumahku—kita—yang selalu macet setiap Senin sore. Kau tahu kapan harus mengeraskan volume televisi dan kapan membuatnya tanpa suara. Kau pandai bersikap manja namun tidak menyebalkan. Kau tahu bagaimana membuatku betah berlama-lama menciummu.

Kau pantas, sangat pantas dicintai,

tapi kau pikir aku berbohong.

Pernah sekali kau terbangun pukul tiga dini hari. Kau mengenakan kemejaku yang berserak di samping nakas, lantas menuangkan wine dan duduk bersandar pada kursi malas di pelataran. Kau meriap rambutmu dan membiarkan angin laut menerbangkannya.

Aku bisa mendengar dengusan lelah napasmu beradu dengan embusan angin, entah bagaimana. Aku mampu menangkap suara tangismu tertahan, yang enggan membuatku terbangun karena mendengarnya.

Aku bisa menghampirimu, memelukmu, dan mengatakan bahwa kau akan baik-baik saja. Namun, aku tak pernah melakukannya karena aku tahu bahwa aku saja tidak cukup untuk menutupi luka yang kau miliki di mana-mana, yang ditinggalkan siapa-siapa, yang tidak berniat kembali melakukan apa-apa.

Aku heran mengapa.

Hari ini adalah ulang tahunmu yang kedua puluh empat. Aku menyalakan dua puluh empat lilin dan menunggumu di depan pintu kamar mandi.

Saat kau selesai dan menunjukkan diri dalam balutan handuk dan rambut yang airnya masih menetes-netes, kau menatapku sejenak sebelum menyunggingkan senyum tipis dan meniup dua lilinmu.

“Dua saja,” kau bilang seraya mengecup pipiku, “merayakan sisa umurku yang dua tahun lagi.”

Aku bergeming dan mungkin akan bergeming selamanya kalau kau tidak kembali dan meniup sisa nyala lilinmu.

Just kidding, Sweet.”

Aku berharap begitu, tapi aku juga tahu kenyataannya takkan begitu.

Kita berdebat tentang banyak hal. Aku membuatkanmu alasan untuk melakukannya, mau tak mau. Lucu, kau wanita pertama yang menjadikanku banyak bicara dalam menjalani hubungan. Atau bukan, apa pun itulah namanya.

“Peralatan masak perlu diganti,” ujarku seraya menimbang-nimbang antara perabot dari kayu atau stainless steel.

“Iya,” katamu—meletakkan kembali barang di tanganku dan beberapa yang lain dalam keranjang belanja—”tapi tidak semua.”

Kini aku beralih pada barang di dua rak setelahnya. “Kita perlu vas bunga baru.”

Kau praktis menggeleng tidak setuju. “Iya, tapi tidak sekarang.”

“Astaga, katakan saja kau setuju untuk sekali ini. Hitung-hitung membuatku senang,” protesku.

Lantas kau tersenyum, maju selangkah, lalu mengulas ujung bibirku dengan kepunyaanmu.

“Banyak jalan menuju Roma.”

Dan kau pikir aku tidak tahu kau akan mengatakan itu? Ji Ryung, kita berdebat nyaris tiga kali dalam sehari.

“Ini salah satunya,” ujarku seraya memasukkan porselen putih ke keranjang belanja.

Ada saat-saat di mana kau tampaknya tidak punya permasalahan. Tidak ada orang untuk diumpat, tidak ada keadaan untuk dikeluhi, tidak ada dengki untuk digerogoti, pun tak ada hidup untuk disesali.

Seperti hari ini.

Sejak senja, kau membuat konter dapur sebagai batas wilayah antara kau dan aku. Aku sama sekali tidak diizinkan mengganggu kesenanganmu untuk mencoba resep-resep baru, meski ujung-ujungnya akulah yang diganggu untuk mencicipi semua itu.

Namun, ada juga saat-saat di mana kau tampak mau mati saja. Yang juga seperti hari ini.

Kau kembali bangun pukul tiga dini hari, menuang wine, dan berharap hari ini tidak pernah terjadi.

Advertisements

4 responses to “Know You by slmnabil

  1. Iki piye bil lanjutane :(( mengapa ku jadi keyvoh akut apa bikos posternya ayang sehun wkwkwkw. Anyway mangat nulisnya biiil, ku cinta deskripsimu yg pendek-pendek namun jelas :”)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s