Breath: Illusion

I’m exhausted. Could you please hold my hand once more?

Previous: EternitySeparationBruise

aiveurislin’s © 2017 ; Lee Taeyong & Ahn Hanra ; a series [740 words] ; Kingdom-AU!, Angst, Hurt/Comfort, Dystopia, & War ; for parental guidance


Petang beranjak menua. Sejalan dengan waktu tanpa pandang bulu memulai hari baru, tertatih-tatih kala menyingsing subuh. Tak kuhitung berapa menit yang kuhabiskan dengan mendekam di tempat ini. Sejak insiden itu, yang kulakukan hanya mengurung diri, mematung di hadapan cermin yang mematut sosok semu diriku. Ironi yang kuhadapi seakan meyakinkanku jika firman Tuhan merupakan satu kutukan telak untukku.

Sekon berikutnya, jemariku berintuisi membuka keran wastafel, berharap gemericik air mampu meredam percikan konfrontasi yang bersemayam dalam benakku, tak lupa menyelipkan sedikit harap bahwa tamparan air akan mengaratkan rantai yang membelenggu imajiku. Namun, harus kuakui jika semua usaha itu sia-sia. Aku kembali mematung di hadapan cermin. Lamat membisu, jemariku perlahan tergerak mengusap perlahan gurat wajahku yang sudah mengusut lantas otakku berkonklusi untuk pergi.

Sepasang tungkaiku merajut langkah gontai mencetuskan satu destinasi yakni ruang pribadiku. Hening seketika menyergapku saat memasuki ruangan ini. Aku merasa aneh. Tak akan ada lagi sosok yang akan menungguku di sini, menanyaiku tentang kegiatanku hari ini, dan berlakon sebagai pelepas lelah dan penat saat aku berkeluh-kesah. Sejamang, kubiarkan ragaku kian terkucil pun membatu dengan tumpuan pijakan. Lantas beranjak mencetus almari pakaian dan berpaling membuka jas hitamku dan menyampirkannya asal lantas bergerak menuruni dada membuka ikatan simpul dasi dan satu persatu kancing kemeja. Kemudian meraih setelan jas yang sudah dipersiapkan pun memakainya.

Anganku melanglang buana, menggemuruhkan segumpal asa. Pada titik ini, serembrumku sudah lelah berkonklusi. Kupijat pelan pelipisku saat pening menyergapku seketika itu. Sepasang manikku kembali memanas. Bayangan mengenai absensi Hanra menakutiku, membuat semangat menyongsong esok dalam sekejap lesap. Aku kehilangan kepercayaan diriku untuk melihat megahnya matahari esok hari.

Lee Taeyong, aku mencintaimu.

Aku menoleh, berpaling pada cermin besar di dekatku dan menemukan sosok Hanra terpagut di sana. Darahku berdesir cepat alih-alih lumbung paruku memasok oksigen yang kian minim jumlahnya. Refleks, aku menoleh ke belakang. Ia di sana, duduk di atas ranjangku seperti malam-malam sebelumnya. Namun bedanya, tak kutemukan sebuah buku dipangkuannya, seperti yang biasa ia lakukan.

“Hanra….”

Atensiku terarah padanya dengan segala kontradiksi yang melingkupi logika. Ia bangkit, lekas mendekat padaku sambil mengulas setarik senyum. Namun entah bagaimana aku dapat melihat seberkas sinar kedukaan menyelimuti sepasang obsidiannya. Bukan perangai arogansi disertai sedikit kenaifan yang biasa kulihat dari sosok itu.

“Ini pasti mimpi, ‘kan?”

Tak dapat kupungkiri bahwa ada sedikit rasa bahagia yang membuncah walaupun logikaku masih menyangkal eksistensinya saat ini. Namun dalam diam, aku masih berharap akan presensinya. Bagiku, tak masalah jika dunia mengutukku pun mengharamkanku untuk sekadar berpijak di planet ini. Semua itu bukanlah sebuah permasalahan asalkan eksistensi Hanra masih kudapati.

Tatapan kami saling menubruk membentuk seutas bujur. Gadis itu menelungkup wajahku dengan kedua tangan mungilnya, merasakan kehangatannya saat kulit kami saling bersentuhan. Untuk kesekian kalinya, aku tenggelam dalam ilusi yang mencitra dari obsidian kelam itu. Lantas kuraih kedua lengannya pun pula kurengkuh ia dalam dekapanku. Jemariku mengelus pelan surai legamnya. Ini benar-benar Ahn Hanra-ku.

Terhitung sudah tujuh sekon keheningan itu berlakon parsial, kulepas rengkuhanku guna menatap parasnya sekali lagi pada detik ke delapan. Untuk beberapa saat. Sepasang obsidian Hanra mulai kehilangan fokus objek pandang diikuti lidahnya yang semakin kelu menguapkan patahan kata.

“Kenapa, Ra?” kalimat retorika itu mengudara kala arah matanya berubah gusar, mengimplikasi keraguan yang tersirat dari gurat wajahnya.

“Kau harus hidup dengan baik,” kalimat itu seakan mengisyaratkan aku untuk mencari biduk yang ditahan lidahnya. Kulihat air mata mulai membentuk suatu aliran di pipinya. Tubuhnya kini bergetar kecil, alih-alih wujud upayanya menahan letupan amarah yang mendesak keluar.

“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?”

“Kau pasti bisa melewatinya. Kau mampu bertahan, Lee Taeyong. Karena suatu hari nanti, semuanya akan berlalu,” genggaman tangannya mulai melemah, sejalan dengan siluetnya yang mulai memudar.

Dia menghilang.

“Tidak, Ahn Hanra.”

Konfrontasi dalam benakku kian menyeruakkan batas kesabarannya. Kantung mataku pun kini telah penuh, bersiap mengumbar kembali likuid yang kian mendidih di dalam sana. Sayup tangisku samar-samar kembali terdengar pilu. Naluriku dikungkungi beruntai aksara yang membuat lidahku seakan mati rasa. Aku pun tak dapat membayangkan bagaimana cara agar bisa bebal menahan semua hal itu. Logikaku hanya terisi perihal Ahn Hanra dan dia telah menjelma menjadi duniaku.

Menyedihkan.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, susah payah kutopang ragaku. Cermin seakan menyombongkan diri, mengolokku saat kupandang pantulan diriku di sana. Betapa bodohnya aku yang baru menyadari jika ini semua maya. Semua citraan ini semu dan yang tersisa hanya eksistensiku yang dikungkungi kutukan itu. Ahn Hanra telah pergi, meninggalkan sebuah lubang penyesalan yang menganga yang membekas untuk seumur hidupku.

–to be continued.


notas;

ini masih kehitung minggu ‘kan? hehe, maaf update-an nya telat lagi. minggu lalu aku study tour ke Bali dan baru pulang pas weekend, jadi musti istirahat dulu dan setelahnya malah sakit #huhuhu. InsyaaAllah minggu depan update-an nya lancar lagi. terima kasih masih setia  ngikutin seri ini 🙂

oh ya, aku mau minta pendapat kalian aja. aku harap kalian bisa jujur biar aku tahu poin-poin apa aja yang bisa aku pertimbangkan. jadi gini, menurut kalian apa seri ini bahasanya terlalu berat? Kalau semisal iya, nyaman ga untuk kalian? apa aku perlu memerbaiki gaya bahasaku untuk seri selanjutnya? tolong dijawab yaa sejujur-jujurnya 😀

daan ada satu spoiler lagi buat kalian. ‘Breath’ bakal berakhir di seri ke delapan. yeay! dan kita udah setengah jalan menuju ending 😀

kindly drop comments after reading this. I’ll appreciate you as soon as possible. Thank you!

Sincerely yours,

aiveurislin.

Advertisements

3 responses to “Breath: Illusion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s