“Ophelie” #2 by Arni Kyo

Ophelie (2)

Ophelie #2

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan || Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Chanyeol | Mark Tuan | Wu Kimi | Choi Haera | Kim Minseok | Byun Baekhyun | Park Jinyoung | Kim Taehyung | Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Multi Chapter

“banyak orang yang berubah dingin, karena mereka ingin menutupi luka masa lalu” – Yeonsung

Read other chapter : 1

MV Part 1

~oOo~

Alasan pihak sekolah tidak bisa mengeluarkan murid berandalan seperti Luhan, Minseok, Jinyoung, Baekhyun, Mark dan Taehyung karena mereka semua berpengaruh bagi sekolah. Terutama Minseok, ayah dari pria bermata single eyelid itu adalah pemilik gedung sekolah. Dari Minseok pula-lah teman-temannya aman meskipun berkelakuan buruk. Luhan si jenius, ia adalah asset sekolah karena ber-IQ tinggi. Ayah Jinyoung sendiri merupakan penyumbang dana tertinggi untuk sekolah. Baekhyun dan Taehyung adalah atlet bela diri. Sedangkan Mark pintar dibidang fisika.

Seperti pada malam hari ini, mereka semua berkumpul di diskotik milik Bangyong. Sebenarnya tidak semua dari mereka minum alcohol atau merokok. Baekhyun dan Mark, mereka tidak minum alcohol atau merokok.

“aku masih penasaran seperti apa gadis yang disukai Luhan”. Celetuk Jackson.

“dia bukan tipe-mu, jangan melihatnya kau tidak akan tertarik”. Jawab Luhan dengan wajah sombong.

Jackson berdecak kesal. Baru kali ini Luhan menyembunyikan gadisnya, sebelumnya ia selalu bangga dan pamer. Diujung sana, Bambam dan Jinyoung sedang sibuk mencari gadis yang akan menemani mereka malam ini. Menggunakan aplikasi khusus, mereka dapat memilih dan langsung memesan gadis yang mereka inginkan.

“Luhan sungguh tergila-gila dengan gadis itu”. ujar Taehyung sambil menggelengkan kepalanya.

Baekhyun mengangguk setuju. “tapi dia selalu membuat gadis itu ketakutan”.

Umpatan Taehyung dan Baekhyun membuat Luhan berdecak kesal. Tapi ia tidak peduli dengan kedua temannya, yang menurutnya datang entah dari planet mana. Jadi jangan dengarkan ucapan dua orang itu.

“bagaimana kalau yang ini? tarifnya juga tidak mahal, dan sepertinya dia belum pernah bermain dengan kita”. Bambam menyarankan seorang gadis yang potonya berada dideretan paling bawah.

Jinyoung tersenyum mesum, sambil menepuk-nepuk kepala Bambam. “ya ~ matamu jeli sekali”. Jinyoung pun memberikan ponselnya kepada Baekhyun untuk memberi penilaian. Ya, biasanya mereka selalu memesan satu orang saja jadi semua harus setuju sebelum memanggil gadis tersebut. Tidak semua dari mereka suka bermain dengan gadis, tapi persetujuan tetap harus diambil.

“aku setuju saja”. Jawab Baekhyun.

Ponsel sampai ke tangan Taehyung. Taehyung menyipitkan matanya melihat poto gadis itu, beberapa kali ia menjauh-mendekatkan ponsel itu. persepsinya tetap sama.

“Luhan, bukankah ini Yeonsung?”.

Luhan beringsut melihat ponsel tersebut. Membuat temannya yang lain melakukan respon yang sama. Apalagi Jackson yang sejak lama penasaran bagaimana wajah Yeonsung.

“benar, ini Yeonsung”. Minseok bersuara yakin.

“wahh… lumayan juga. Wajahnya menjual”. Imbuh Jackson. “harganya juga murah”. Tambahnya lagi.

Luhan mendidih. Ingin sekali ia merontokkan gigi Jackson agar tidak bisa bicara lagi mengenai Yeonsung-nya. Yang terpenting sekarang, adalah menemukan siapa yang telah berani-beraninya mengunggah poto Yeonsung ke situs gadis panggilan ini? bodoh sekali karena ia belum mempunyai nomor ponsel Yeonsung, jadi ia tidak bisa bertanya langsung.

“aku harus memastikan kebenarannya. Ya ~ pinjami aku uang tunai untuk memesannya”. Pinta Luhan.

Minseok memberikan dompetnya. Ah, temannya itu memang terbaik. Minseok tak banyak bicara, tapi terlihat jelas jika ia mendukung hubungan Luhan dan Yeonsung. Setelah memeluk Minseok sekilas, Luhan bergegas pergi. Menemui mucikari yang berniat menjual Yeonsung. Karena ia tidak membawa kendaraan, jadi Bambam mengantarnya menggunakan sepeda motor.

“tapi, aku penasaran dimana Luhan bertemu pertama kali dengan Yeonsung itu?”. Tanya Jackson sepeninggal Luhan.

Baekhyun menjentikkan jarinya. “tentu saja disekolah, menurutmu dimana lagi?”. Jelas Baekhyun.

“bagaimana bisa Luhan begitu terobsesi pada seorang gadis seperti itu, ya?”. Taehyung angkat bicara.

“jadi Yeonsung itu gadis panggilan?”. Tanya Bambam polos saat perjalanan menuju lokasi.

Plak plak

Luhan memukuli kepala Bambam yang memakai helm. Sejak tadi ia ingin memukul orang. “aku tidak tahu. Jangan bicara sembarangan dulu”.

Bambam mengangguk. “tapi bagaimana kalau memang itu pekerjaannya?”.

“aku yakin dia tidak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan yang kuat”.

Ditempat lain, dirumah sederhana Yeonsung.

Gadis itu mengurung diri dikamar. Mengerjakan tugas sekolah. Menyumbat telinganya dengan earphone. Tak peduli diluar sana ayahnya sedang menggedor-gedor pintu kamarnya yang terkunci.

“ya!! Keluar kau, anak sialan! Appa-mu ini lapar, bagaimana bisa kau mengabaikan orang tuamu. Kurang ajar!”.

Ponsel Jongwon berdering. Ia menghentikan aksinya menggedor pintu kamar Yeonsung dan beralih pada ponselnya. Jongwon menyeringai bahagia. Seseorang ingin memesan putrinya, ya, Jongwon lah yang telah mengunggah poto Yeonsung ke situs terkutuk itu.

Jongwon pergi keluar rumahnya agar dapat menelpon calon pelanggan. “yeoboseyo? Ya, ya, kau ingin ditemani jam berapa? Kalau sekarang, dia sedang tidak bisa karena sedang menemani tamu lain”. Bohongnya.

tidak apa-apa. Aku ingin bertemu dulu denganmu agar bisa negosiasi harga”.

“negosiasi? Tidakkah itu adalah harga yang pas?’. Ujar Jongwon sambil tertawa.

bagaimana jika aku akan membayar uang muka nya dulu. Agar dia tidak dipesan oleh orang lain lagi”.

Jongwon menarik napas. Mendengar kata ‘uang’ membuatnya bersemangat. Akhirnya Jongwon menyetujui tawaran pelanggannya tersebut. Mereka menentukan tempat bertemu, mengenai Yeonsung, mungkin ia akan merusak pintu kamar putrinya.

Bambam mengembalikan ponsel Luhan usai menelpon Jongwon. Urusan seperti ini ia ahlinya, maka Luhan menyuruhnya. Luhan bersyukur karena mengajak Bambam. “nanti kau tidak usah ikut menghajarnya, biar aku sendiri”.

Yeonsung akhirnya membuka pintu kamarnya saat pagi hari. Biasanya pagi hari setiap ia akan berangkat sekolah, ayahnya dalam keadaan terlentang didepan televisi. Bau alcohol menyeruak dari mulut terbuka pria itu. jadi Yeonsung bisa leluasa bergerak tanpa takut ayahnya akan memukulnya atau semacamnya.

Tapi, pagi ini berbeda. Tepat saat Yeonsung membuka pintu kamarnya. Sebuah tangan melayang memukul kepalanya hingga tubuh kecilnya terhuyung dan jatuh.

“sialan!”. Hardik ayahnya.

“aakh! Appa –“. Yeonsung hanya bisa menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

Pria tua itu berkacak pinggang. Terdengar napasnya menderu. “beraninya kau – beraninya kau menyuruh temanmu untuk menghajarku!”. Jongwon berjongkok didekat Yeonsung yang ketakutan setengah mati. “lihat. Lihat bagaimana ia menghajarku habis-habisan!”.

Takut, Yeonsung melirik wajah ayahnya. Babak belur.

“siapa, siapa nama anak sialan itu, ya?”. Jongwon berdiri sambil mengingat nama bocah yang menghajarnya semalam.

sudahlah Luhan, dia sudah terkapar. Ayo pergi”.

“Luhan. Ya, kalau tidak salah namanya Luhan”. Jongwon menoleh lagi pada Yeonsung, menendang gadis itu.

Yeonsung tersentak mendengar nama yang disebutkan oleh ayahnya. Oh – benarkah Luhan yang melakukannya? Bagaimana bisa Luhan melakukan hal itu kepada ayahnya?

“ya! Lakukan sesuatu! Dia siapa? Pacarmu? Kau tidur dengannya sampai-sampai dia mau menghajarku karena membelamu?!”.

Sebuah pukulan hendak menghantam Yeonsung lagi. Untunglah saat itu Chanyeol datang. Perasaannya benar, maka pagi ini ia berniat untuk menjemput Yeonsung karena khawatir. “ahjussi, geumanhae!”. Chanyeol menahan Jongwon.

“biarkan aku menghajar anak itu! ya! Park Yeonsung, nama keluarga yang kau pakai selamanya adalah nama dariku. Bagaimanapun aku adalah appa mu! Kau tidak bisa menghindari itu!”.

Yeonsung beranjak meninggalkan tempat itu. meninggalkan Chanyeol yang tadi datang menyelamatkannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana agar bisa sampai disekolah dengan cepat. Dan berharap Luhan sudah berada disekolah saat ia tiba.

Derap langkah gadis itu menyusuri koridor. Menaiki tangga dan berjalan dengan penuh emosi. Oh, jika saja kalian bisa melihat sekujur tubuhnya dipenuhi api amarah. Ia benar-benar sudah tidak peduli dengan cara orang memandangnya sekarang. Sekuat tenaga ia menahan rasa nyeri dikepalanya, langkahnya semakin berat akibat emosi yang menguasainya.

Kelas Luhan telah ramai. Kehadiran Yeonsung dalam keadaan yang berantakan membuat kelas hening mendadak. Matanya gelap hanya melihat Luhan yang kala itu sedang bermain catur. Luhan menatap Yeonsung, bingung. Saat ia akan tersenyum, tiba-tiba Yeonsung melesat kearahnya. Menarik buku tebal yang sedang dibaca oleh si ketua kelas.

Bukk

Bukk

“bagaimana bisa…”. Yeonsung terus memukuli Luhan dengan buku membabi-buta. Luhan tidak siap dan tidak melawan. Luhan berjalan mundur menjauh, tangannya ia gunakan sebagai tameng agar terhindar dari pukulan gadis itu.

“yak! Park Yeonsung! Kau ini kenapa?!”. Luhan berteriak. Yeonsung tidak peduli dengan teriakan Luhan dan terus memukul Luhan. Berkali-kali meski ditanggis oleh Luhan. Suasana gaduh membuat murid lain yang berkeliaran diluar berdatangan untuk menonton kejadian itu. “hentikan, Yeonsung!!”.

“ya! Ada apa dengan gadis ini?!”. Minseok berniat menahan Yeonsung, jika tidak akan membuat Luhan tersulut emosi juga.

“jangan ikut campur!”. Yeonsung berteriak. Dengan kakinya menendang meja dan kursi agar tak ada yang mendekat. Tatapannya penuh kebencian pada Luhan.  Mark menyusup diantara murid lain untuk bisa masuk kekelas itu. sementara Kimi dan Haera mengintip dari jendela. Luhan terpojok diloker dibelakang kelas. Ia shock dengan keadaan Yeonsung. Tidak mengerti mengapa tiba-tiba gadis ini mengamuk padanya. “bagaimana bisa kau melakukan hal itu kepada appa ku?!”.

Luhan tersadar, jadi karena ayahnya? Oh.

“orang seperti appa mu memang pantas diberi pelajaran!”. Balas Luhan sambil mendengus.

Yeonsung meremas kerah kemeja Luhan. “pantas katamu!? Kau lah yang pantas untuk dihajar, Luhan. Kau – secuilpun kau tidak pantas untuk menyentuh keluargaku dengan tangan kotormu itu! keluargaku adalah urusanku! Kau pikir kau itu siapa? Kau datang tiba-tiba, mengusikku lalu mengurusi keluargaku. Kau bahkan tidak mengerti penderitaan”.

Luhan terenyuh.

Yeonsung masih membela ayahnya meski ayahnya akan menjualnya dengan harga murah.

“Park Yeonsung!”. Diluar kesadarannya Luhan mendorong Yeonsung dengan keras. Gadis itu menghantam lantai dengan keras. Tangannya meraih papan catur yang masih tergeletak diatas meja.

“yak! Luhan!”. Minseok menahan Luhan. Yeonsung hanya melihat sekilas saat Luhan berjalan kearahnya, mungkin akan membalas memukul. Yeonsung menutup matanya.

Prakk

Papan catur itu terbelah dua. Menghantam punggung Mark yang entah kapan menjadi tameng pelindung Yeonsung, sementara Yeonsung bersimpuh dilantai. Mark meringis merasakan perih dipunggungnya. Membuat Yeonsung tersadar, ia membuka matanya. Mark malah tersenyum padanya.

Diluar sana, Kimi menganga melihat adegan dramatis itu. “ya ~ sepertinya sudah berakhir. Tidak seru sekali. Harus nya Yeonsung menghajar Luhan dengan lebih keras”. Komentarnya. Tak sadar ucapannya itu menarik perhatian. Terutama teman-teman Luhan. “ayo pergi saja. Pertarungannya seri”. Kimi mengamit tangan Haera.

“tapi, Yeonsung –“.

“sudah tidak apa-apa”.

Kimi dan Haera pun pergi meninggalkan lokasi perkelahian. Mereka berpapasan dengan Chanyeol yang tengah berlari menuju kelas tersebut. Kimi dan Haera menoleh bersamaan. Diantara kerumunan orang, tampak seorang Jinyoung tersenyum kearah kedua gadis itu.

Mark membantu Yeonsung berdiri. Terlihat jika gadis itu shock pada respon Luhan. Sampai-sampai ia tidak berani melihat Luhan lagi. Minseok memberi kode agar Mark membawa Yeonsung segera keluar dari kelas.

“Yeonsung”. Panggil Luhan lirih. Hendak mengejar, tetapi Minseok menahannya. Luhan terduduk dikursi, menatap papan catur malang yang kini terbelah menjadi dua bagian. Luhan menggeram kesal.

Tadi ia hampir memukul Yeonsung dengan benda itu. Jika saja – jika saja Mark tidak melindungi Yeonsung. Mungkin kini kepalanya berdarah karena Luhan.

“ya ~ ikut denganku keruang konseling”. Ujar Chanyeol. Si ketua dewan siswa berdecak melihat keadaan kelas yang berantakan. Chanyeol bukan tidak tahu kalau lawan Luhan berkelahi adalah Yeonsung. Tapi untuk sekarang ia akan membawa Luhan terlebih dahulu.

Siang hari, Mark berpikir untuk tidur siang dikursi taman tempat biasa. Mark tidak pernah menduga akan bertemu lagi dengan Kimi ditempat itu. Gadis itu, selalu melakukan hal yang sama. Mendengarkan musik dengan earphone nya sambil membaca komik.

Mark berdehem, tapi tak digubris oleh Kimi.

Jelas saja karena Kimi sedang konsentrasi membaca, dan musik yang ia dengarkan volumenya hampir penuh. Mark duduk disebelah Kimi.

“bagaimana rasanya menjadi pahlawan?”.

“apa?”.

Kimi melepaskan earphone-nya. Tersenyum penuh arti kepada Mark. “tadi aku melihatmu melindungi Yeonsung”. Jelas Kimi.

Mark memiringkan kepalanya, senyuman konyol menghiasi wajahnya. “aku reflek melakukan itu. karena aku tahu Luhan tidak akan segan menghajar orang, sekalipun itu perempuan”.

Kimi mengangguk. Ia memutar tubuhnya agar menghadap pada Mark. “kau tahu, jika saja benda itu tadi adalah pisau atau semacamnya, kurasa kau tidak akan disini lagi. Jangan bodoh”. Ujar Kimi, ia melanjutkan acara membacanya.

“benar juga, sih. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa tubuhku bergerak sendiri”.

“hah ~ Yeonsung itu memang seperti itu. terkadang dia sok kuat, padahal sudah kuajarkan cara melumpuhkan pria. Terburuk darinya adalah sikapnya yang tidak peduli itu, tidak terbuka pada orang lain, dia juga tidak suka urusannya diurusi. Makanya dia sampai mengamuk”. Oceh Kimi panjang lebar. “apa sih yang Luhan lakukan padanya?”.

“bagaimana denganmu?”.

Kimi menoleh. “aku?”

“aku ingin mendengar juga tentang dirimu”.

Kimi tertawa renyah. Pertanyaan Mark sedikit aneh menurutnya. Kimi berpikir sejenak sebelum menjawab. “aku tidak tahu. Yang kulihat saat aku sedang bercermin adalah aku cantik”.

Mark terkekeh mendengar jawaban Kimi. “aigoo…”. Ia menarik hidung gadis itu hingga memerah. Kimi tidak terima, membalas dengan memukul punggung Mark. Tiba-tiba pria itu meringis.

“kenapa? Aku memukulmu terlalu keras, ya?”. Kimi terkejut. Ia teringat kejadian tadi. “kau terluka. Pasti karena hantaman papan catur tadi”.

Mark menggeleng.

Kimi langsung memaksa Mark berdiri dan mengikutinya. Kimi membawa Mark keruang kesehatan. Disana sepi seperti biasa. Mark sempat menolak karena tak ingin merepotkan. Rencananya sepulang sekolah, ia akan minta bantuan Minseok atau Baekhyun yang merupakan teman serumahnya untuk mengobatinya. Sebenarnya, Taehyung juga teman serumahnya, tapi bocah itu tidak akan mau karena tak suka bau obat.

“ah, sial sekali dokter sekolah tidak ada”. Umpat Kimi saat memeriksa obat didalam lemari kaca. Mark melihat gerak-gerik Kimi yang tampak kebingungan. Ia terkekeh. “kau tunggu disini, aku akan ke toilet sebentar. Aku titip ini”. Kimi meletakkan komik dan mp3 player nya didekat Mark.

Mark hanya meng-iya-kan ucapan Kimi, ia tahu Kimi akan mencari dokter karena tidak tahu harus memakai obat yang mana.

Sreek

Tirai dibelakang Mark terbuka. Mark yang terkejut sontak menoleh, ia lega karena itu bukan perbuatan hantu. Melainkan sosok Yeonsung yang ternyata sejak kejadian tadi berbaring disana. Yeonsung bangun dari tidurnya, ia mendekat dan duduk disebelah Mark.

“kau terluka? Biar kulihat”.

“tidak. Aku tidak apa-apa”.

“ey, mana mungkin tidak apa-apa setelah dipukul dengan papan catur”. Yeonsung beranjak, ia mengambil toples saleb yang waktu itu dipakai Luhan untuk mengobatinya. Cih… lagi-lagi ia mengingat pria gila yang menyebalkan itu. Yeonsung kembali dengan toples saleb ditangannya.

“kau yakin itu obat yang benar?”. Mark ragu, tapi ia malah membuka kemejanya, dan duduk membelakangi Yeonsung.

Yeonsung berdehem menjawab. “aku pernah memakai saleb ini, tadi juga aku memakainya”. Bekas pukulan ayahnya mulai Nampak membiru didekat pelipis Yeonsung.

Yeonsung merasa miris melihat luka lebam dipunggung Mark. Karna dirinya. Sambil mengoleskan saleb, Yeonsung merutuki dirinya sendiri. Mengapa orang lain harus terluka karena aku?

Sepanjang perjalanan menuju ke ruang kesehatan, Kimi menggumamkan nama saleb yang harus ia pakaikan pada Mark. Setelah berhasil menemui dokter sekolah dan bertanya, Kimi berbegas kembali.

Tapi…

Saat akan memasuki ruang kesehatan. Kimi melihat siluet seseorang sedang melakukan hal yang seharusnya ia lakukan –mengobati luka Mark– dari balik tirai putih. Tirai tidak tertutup sepenuhnya jadi Kimi dapat melihat orang itu. Yeonsung.

“hmm… syukurlah”.

Kimi mengurungkan niatnya untuk masuk keruang kesehatan.

“terima kasih, tadi telah melindungi ku. Jangan lakukan itu lagi”. Ujar Yeonsung. ‘aku tidak memerlukan bantuan orang lain’ tambahnya dalam hati.

“ya, aku memang seharusnya melindungi yang lemah. Terima kasih juga telah mengobatiku”. Mark tersenyum meski Yeonsung tidak melihatnya karena posisi pria itu menghadap ke tembok.

Yeonsung mengambil perban dan plester. Agar saleb yang sudah ia olehkan tidak mengenai baju Mark, jadi Yeonsung menutup luka dipunggung Mark. Setelah selesai, Mark kembali memakai kemejanya.

“ah, namaku –“.

“aku sudah tahu namamu. Aku Mark Tuan, aku bisa menjadi temanmu”.

Mata Yeonsung mengerling menatap dengan senyuman tipisnya dan anggukan kecil. Pantas saja jika Luhan menyukai gadis ini. batin Mark.

Sepulang sekolah, Mark mencari Kimi karena harus memberikan komik dan mp3 player yang Kimi tinggalkan diruang kesehatan tadi. Mark juga heran mengapa gadis itu tidak kembali lagi, padahal Mark menunggunya. Untung saja ada Yeonsung disana menemaninya mengobrol, jadi ia tidak seperti orang bodoh menunggu Kimi kembali.

Mark berhasil menemukan Kimi, tetapi gadis itu nampak sedang bersama orang lain. Tak ingin mengganggu, Mark memutuskan untuk membawa pulang barang milik Kimi.

Sejak pertengkaran antara Yeonsung dan Luhan yang menggegerkan seantero sekolah, Luhan tak lagi mendekati Yeonsung. Banyak penggemar Luhan yang berbahagia karena hal itu, mereka juga mengutuk perbuatan brutal Yeonsung terhadap Luhan. Yeonsung tidak peduli. Justru merasa lega, Luhan tak lagi berkeliaran disekitarnya.

Sudah lebih dari seminggu.

Bukan hanya Luhan yang kini tak ada di dekatnya. Tetapi juga Kimi. Yeonsung memaklumi karena memang Kimi sibuk dengan clubnya. Haera pun sekarang tidak pernah mencarinya. Yeonsung memaklumi juga, Haera memiliki guru privat. Untuk apa mencarinya lagi?

Tinggallah Yeonsung sendirian.

“itu dia gadis kasar yang waktu itu memukul Luhan”.

“terlihat dari wajahnya yang dingin dan sombong”.

“dia tidak tahu diri, beraninya memukul Luhan”.

Umpatan beberapa orang saat Yeonsung melintas didepan mereka. Bukan Yeonsung namanya jika sampai ia menggubris ucapan orang tentang dirinya. Jika bukan Yeonsung, mana bisa orang lain bertahan saat ada yang membicarakan mereka.

Yeonsung duduk dengan tenang, menikmati makan siangnya yang terasa benar-benar nikmat. Tak ada Luhan yang biasanya selalu memandanginya ketika makan. Sambil membaca buku pelajarannya, berusaha mengalihkan fokusnya daripada harus mendengar umpatan orang.

“lihat, itu Yeon-mu, dia sendirian”. Celetuk Baekhyun. Minseok segera menyikut tangan Baekhyun, hingga sendok berisi kuah sup tumpah  ke celana Baekhyun. “ya ~ ya ~ ya ~ apa masalah mu!?”.

“makan saja. Makan”. Ujar Minseok tanpa dosa. Baekhyun berdecak.

Luhan seakan tidak melihat Yeonsung. Ingin sekali ia kesana dan menemani Yeonsung makan. Tapi teringat ucapan Yeonsung untuk tidak mengganggunya lagi. Jadi Luhan menahan diri untuk mendekati gadis itu.

“biasanya dia bersama kedua temannya, tapi sekarang selalu sendirian. Mungkin orang takut berteman dengannya”. Ujar Taehyung. “ternyata dia mengerikan. Aku lihat bagaimana ia menyerang Luhan. Buk buk buk”. Taehyung mempraktekan adegan yang ia ingat saat perkelahian terjadi.

Luhan memukul kepala Taehyung dengan sendok nya. “Berisik. Makan saja”.

Taehyung mencibir sebal. Saking sebalnya ia menelan tumpukan besar nasi disendoknya hingga hampir tersedak. Baekhyun yang merasa kasihan pada temannya pun menyodorkan minuman. Diam-diam Luhan melirik Yeonsung ketika temannya tidak melihat kearahnya. Gadis itu – duduk dengan tenang saat hampir semua orang menggunjingkan dirinya.

Yeonsung hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa Luhan memukuli ayahnya? Bagaimana bisa Luhan mengenal ayahnya? Apa yang ayahnya lakukan hingga Luhan harus memukulnya? Baiklah, kemungkinan ayahnya hendak mencuri atau semacamnya. Tetapi kenapa ayahnya bisa tahu jika Luhan adalah teman Yeonsung?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus saja menghantui.

Seharusnya aku tidak usah gegabah dan langsung menyerangnya. Tapi jika aku bertanya, belum tentu Luhan akan menjawab. Anggap saja, pukulanku kepada Luhan adalah balasan. Karena Luhan penyebab ayahku memukulku. Ya, kau tidak salah Yeon’ah.

Telinga Yeonsung sudah panas karena umpatan orang-orang. Ia memutuskan untuk beranjak pergi. Padahal tadi ia sudah berencana untuk kuat, tetapi… entah mengapa… rasanya menyakitkan. Dan tatapan jijik orang kepadanya, seolah mengatakan ‘pergi saja sana’ Yeonsung semakin tidak betah.

Choi Haera.

Anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya Choi Haesoo sudah menginjak jenjang perkuliahan. Berbeda dengan kakaknya yang selalu berprestasi, cantik dan populer. Gadis dengan wajah bulat seperti boneka itu tidak memiliki prestasi seperti kakaknya. Cantik namun tidak sepopuler kakaknya saat SMA.

Ibunya selalu memaksa Haera untuk belajar. Alasannya karena malu dengan ibu-ibu lain. Saat berkumpul dikelompoknya, ibu Haera terus berbohong mengenai prestasi anaknya disekolah.

“Yeon’ah, bantu aku mengerjakan tugas ini. ah, kepalaku rasanya pecah memikirkan masalah yang ini”. ujar Haera sambil melingkari soal yang tidak bisa ia kerjakan sendiri. Dengan sabar Yeonsung mengajari temannya.

“kau hanya perlu mengingat bagian ini, dengan begitu kau akan mudah mengerjakannya”. Jelas Yeonsung sambil menuliskan hal penting untuk Haera ingat.

“Kimi’ah, aku lupa mencatat rumus jadi aku tidak bisa mengerjakan ini”.

Kimi membaca sejenak soal yang Haera lingkari. Lalu berdehem, sudah pasti ia mengerti harus bagaimana. “sebenarnya tidak perlu rumus karena disoal yang ini kau bisa melihat rumusnya dalam bentuk angka”.

Selalu seperti itu. Haera merasa beruntung memiliki dua teman yang bisa mengajarinya dengan bahasa sehari-hari, bukan seperti guru. Walaupun terkadang Yeonsung kesal karena Haera yang tidak mengerti dengan cepat.

Ah, jika mengingat semua itu, Haera merasa rindu dengan kedua sahabatnya.

Kini Haera duduk didekat lapangan. Dari sini ia dapat melihat Kimi yang mondar-mandir didekat ruang dewan siswa, sibuk sekali. Dan Yeonsung dilantai dua sedang menulis sesuatu, yang Haera yakini adalah soal puzzle matematika.

“ah, sebenarnya kalian berdua kenapa?”. Gumam Haera. Mendesah lesu menyadari jika mulai ada jarak diantara mereka bertiga.

Haera mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang ia kenal. Tidak mengenal, sih, hanya saja Haera tahu wajah pria itu saat pertengkaran Luhan dan Yeonsung. Haera tersenyum, ia memberanikan diri untuk mendekat.

Haera hanya duduk disebelah Jinyoung. Sungguh. Haera tidak menyangka jika Jinyoung akan menyapanya dengan senyuman. Kala itu Jinyoung sedang menonton teman-temannya bermain bola dilapangan. Ia sendiri tidak bermain dan hanya memberi support.

“kau tidak ikut bermain?”. Tanya Haera iseng.

“seperti yang kau lihat. Lagipula yang bermain semuanya anak kelas 2”. Jawab Jinyoung dengan nada yang ramah. Haera pikir tidak apa-apa jika mengajaknya mengobrol, tidak seperti senior yang lain.

“tapi setahuku siswa yang itu anak kelas 3”. Haera menunjuk kearah Baekhyun yang sedang ditendang oleh Luhan karena gagal mencetak gol. Baekhyun berlarian sambil tertawa.

Jinyoung terkekeh melihat kelakuan temannya. Apalagi Baekhyun dan Taehyung, dua alien itu adalah moodbooster dikelompok mereka. “ah, kalau dia tidak usah dianggap. Bahkan jika kau menganggapnya bukan murid sekolah ini tidak akan apa-apa”.

“ah, sunbae mana boleh begitu”.

“mana boleh bagaimana?”.

Jinyoung menoleh dan menatap Haera. Saat itulah tatapan mereka bertemu. Haera tertegun, Jinyoung memang sangat tampan dengan mata membentuk eyesmile saat tersenyum dan bibir sexy nya selalu menyunggingkan senyuman mempesona.

“ah, tidak, tidak”. Haera segera mengelak.

“baiklah, sepertinya mereka sudah akan bubar. Aku duluan ya”. Jinyoung berdiri sambil memasukkan tangannya kesaku celana.

sunbae, tunggu”. Haera pun berdiri, dengan keberanian yang ia kumpulkan. Ia bertanya nomor ponsel Jinyoung.

“Kimi, ada yang mencarimu”. Ujar Kim Sejoon – teman sekelas Kimi yang baru saja masuk keruangan.

“siapa?”.

Sejun mengangkat kedua bahunya. Siapa gerangan yang mencari Kimi? Dan kenapa pula orang yang memilik keperluan tidak masuk saja kekelas dan menemui langsung? Kimi malas untuk berdiri, ia baru saja duduk dibangkunya setelah mondar-mandir. Kimi dapat melihat seseorang mengintip dari jendela. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui orang itu.

“ada apa?”. Kimi menemukan Mark di depan pintu kelasnya.

Mark menyimpan tangannya ke belakang badannya. “maaf baru menemuimu sekarang, kemarin aku mencarimu tapi sepertinya kau sibuk. Ngomong-ngomong kemarin kau kemana? Kenapa tidak kembali keruang kesehatan?”.

Kimi memutar matanya, berpikir sejenak jawaban apa yang akan ia berikan. “ah, aku lupa jika kau tertinggal diruang kesehatan”. Jawab Kimi sambil terkekeh aneh.

“baiklah, kalau begitu”. Mark mengeluarkan tangannya. Menyodorkan sesuatu kepada Kimi. Sebuah kotak kado berwarna merah lengkap dengan pita berwarna putih diatasnya. Kimi mengernyitkan keningnya. Hendak membuka kado itu, tapi Mark melarangnya. “aku membungkusnya seperti ini agar tidak ketahuan, barang-barangmu berbahaya”. Bisik Mark.

“ah, aku mengerti. Terima kasih ya”.

Keakraban keduanya sukses membuat warga kelas salah paham. Mark memberi Kimi kado. Oh – beberapa gadis heboh. Lalu Mark membisikkan sesuatu yang sepertinya rahasia. Mungkin mereka akan berkencan sepulang sekolah. Pikir para gadis itu.

“sampai jumpa nanti”. Mark melambaikan tangannya. Kimi mengangkat tangannya seolah membalas lambaian Mark. “nah, ayo kita kembali kekelas”.

“eh?”. Yeonsung yang kebetulan lewat sambil membaca buku terkejut. Mark memegang kedua bahunya, mendorongnya hingga sampai dikelas 2-C. “apa-apaan kau ini, aneh”. kata-katanya menyuarakan protes tetapi bibirnya tertawa.

“selamat belajar”. Mark juga melambaikan tangannya kepada Yeonsung..

Kimi menyaksikan semua adegan itu dari depan pintu kelasnya. Barulah ia tersadar saat Guru Lee ingin memasuki kelas.

Lapangan sekolah menjadi tempat yang cukup menarik perhatian saat Jinyoung turun ke lapangan untuk bermain bola. Selama ini ia tidak pernah bermain karena tidak pandai menendang bola. Sering kali Mark mengajaknya bermain tapi ia tidak mau, kali ini entah ada angin apa Jinyoung bermain bola.

“aishh… apa-apaan mereka itu, berisik sekali”. Komentar Kimi pada gerombolan gadis-gadis yang meneriaki Jinyoung. Berbeda dengan Kimi, Haera malah menoleh dan tersenyum melihat Jinyoung. Tapi Kimi menarik Haera agar berjalan lebih cepat.

Tiba-tiba…

Bola melayang kearah Kimi dan Haera. Tanpa sempat menghindar, bola itu terjatuh diatas jus gelas yang Haera pegang. Sontak Haera berteriak terkejut, bajunya jadi basah terkena air jus. Melihat hal itu, Jinyeong menghampiri Haera.

“maaf, aku tidak sengaja. Akan kubersihan”. Jinyoung hendak mengelap seragam Haera, tapi tertahan oleh Kimi.

“ya ~ kau gila ya? Jika tidak bisa bermain bola, jangan main. Menyusahkan saja”. Desis Kimi dengan suara sinis dan tatapan datar.

“aku sudah bilang jika aku tidak sengaja. Kenapa kau yang marah?”.

Kimi berdecak, dengan senyuman sinis khasnya, Kimi melepaskan kasar tangan Jinyoung. “kau masih bertanya kenapa aku marah?”.

“Kimi’ah, sudahlah aku tidak apa-apa”. Haera menghentikan Kimi sebelum terjadi keributan lagi. Baru beberapa minggu setelah keributan yang dibuat oleh Yeonsung dan Luhan, ia tak ingin lagi-lagi temannya membuat keributan.

Berkelahi dengan laki-laki.

Oh, sungguh! Itu sedikit mengerikan dan terkesan kasar sekali.

“kau juga gila, ya? Jangan membela pria tengik ini”. protes Kimi tak rela temannya mengalah begitu saja. Haera menggeleng, matanya melirik Jinyoung –pria itu memasang wajah bersalah.

“sudahlah, ayo kita pergi”.

Dengan perasaan kesal, Kimi menuruti Haera karena gadis itu menariknya untuk pergi. Sekali lagi Kimi menoleh dan menatap wajah menyebalkan. Tak mengerti mengapa Jinyoung malah tersenyum seperti orang idiot yang baru saja dimarahi. Benar-benar menyebalkan.

Menjelang malam ketika Jinyoung baru tiba di apartemennya. Diapartemen sederhana dengan satu kamar tidur dan kamar mandi, Jinyoung tinggal bersama Jackson dan Bambam. Kedua temannya yang notabene adalah warga asing, Jinyoung memutuskan untuk mengajak mereka tinggal bersama. Sebelumnya ia tinggal sendirian diapartemen.

Terkadang, Jinyoung pulang kerumah jika ingin.

Temannya yang lain yang melakukan hal yang sama adalah Minseok. Apartemen Minseok lebih besar jadi bisa menampung hingga enam orang.

Jinyoung menghela napas. Lelah sehabis sekolah –ralat– sehabis pergi ke game center. Ia berdiri didepan pintu apartemen, memasukkan kata sandi apartemennya.

Klik

Pintu terbuka. Jinyoung melangkah masuk, didepan pintu masuk tergeletak berantakan dua pasang sepatu. Jinyoung memungut sepatu itu lalu memasukkanya kedalam lemari sepatu yang sudah disediakan.

“ya! Bukankah sudah sering kukatakan untuk merapikan barang-barang busuk kalian? Menyebalkan sekali harus aku yang selalu merapikan tempat ini”. protes Jinyoung seraya melemparkan tasnya ke shofa.

Diatas shofa, seorang Bambam berpenampilan tidak biasanya. Pria itu meringkuk sambil memeluk bantal shofa, hanya mengenakan celana pendek. Jackson yang melihat Jinyoung marah, meletakkan jari telunjuknya kebibir agar Jinyoung diam.

“heh? Kenapa dia?”.

“habis ditolak oleh gadis yang ia suka”. Jawab Jackson dengan suara pelan.

Jinyoung berdecak. Ditatapnya wajah kosong Bambam lalu terkekeh mengejek. Bambam adalah anggota termuda dikelompok itu. jadi semua hyung nya menyayanginya. “kuberitahu, jika kau menyukai seorang gadis lalu ditolak. Maka kau punya dua pilihan. Pertama, cari gadis lain yang lebih baik. Kedua, berjuang untuk membuatnya membalas perasaanmu”. Jelas Jinyoung.

Bambam diam dengan raut wajah sedih, ia menggelengkan kepalanya.

“aish… bocah ini”. desis Jinyoung. Ia pun beranjak meninggalkan kedua temannya. Memasuki kamar untuk mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.

Ponsel Jinyoung berdering.

Nomor baru.

“Jinyoung’ah, ada telepon!”. Pekik Jackson.

“biarkan saja”. Balas Jinyoung dari kamar mandi. Mendengar jawaban itu, Jackson tidak berinisiatif mengangkat telpon tersebut. Tapi tiba-tiba Bambam bergerak, meraih ponsel Jinyoung. Panggilan terputus sebelum sempat diangkat.

hyung, bukankah Jinyoung punya banyak stock gadis? Mungkin aku bisa dapat satu untuk menghibur?”. Ujar Bambam sambil menatap Jackson.

Ponsel Jinyoung berdering lagi.

Dengan cepat Bambam mengangkat telpon tersebut.

yeoboseyo?”.

Suara perempuan.

Bambam diam terlebih dahulu. Menunggu si penelpon berbicara lagi.

yeoboseyo? Jinyoung oppa, ini aku, Haera”.

Didalam kamar mandi. Jinyoung menatap wajah tampannya sendiri dicermin. Melihat setiap sisi yang terpahat diwajahnya. Jinyoung tersenyum mengakui dirinya tampan.

ya ~ kau gila ya? Jika tidak bisa bermain bola, jangan main. Menyusahkan saja

“cih… sekarang aku tahu apa yang Luhan rasakan”. Ujar Jinyoung. Tangannya meraih sikat gigi. “tapi aku tidak akan bermain seperti si bodoh Luhan”. Jinyoung tertawa licik sambil menunjuk-nunjuk bayangannya dicermin dengan sikat gigi.

Cuaca sejuk dimusim semi membuat Wu Kimi membolos kelas dan duduk ditaman belakang sekolah. Cahaya matahari menembus pepohonan. Angin musim semi membawa dedauan pohon itu terbang kesegala penjuru disekolah. Suasananya sangat mendukung hingga matanya mengantuk.

Sejenak ia memejamkan matanya sambil bersandar dibangku taman.

Klik

Klik

Suara aneh membuat Kimi kembali membuka matanya. Didepannya seseorang sedang berpoto dengan backround dirinya yang tengah tertidur dikursi taman. Kimi beringsut bangun.

“ya! Kau tidak bisa mengambil poto sembarangan. Dan – ponsel? Kau tidak bisa menggunakan ponselmu saat jam pelajaran”. Omel Kimi sewot.

Jinyoung tersenyum licik pada Kimi. “aku tidak mengambil potomu. Dan aku tidak menggunakan ponsel saat jam pelajaran”. Balas Jinyoung. Kimi memutar matanya kesal, menadahkan tangannya. “apa?”.

“berikan ponselmu”.

“kenapa aku harus memberikan ponselku padamu?”.

Kimi mendengus. Percaya diri bisa merebut ponsel Jinyoung, dengan santai ia hendak merebut benda itu dari tangan Jinyoung. Siapa sangka jika Jinyoung lebih peka. Jadi Kimi tidak berhasil merebut benda itu.

“ya! Aku peringatkan kau, jangan mencari masalah denganku, sialan”.

“tidak mau. Pakai saja ponselmu sendiri”. Jinyoung mengangkat tinggi-tinggi ponselnya. Gadis itu tidak menyerah, meloncat-loncat agar bisa mengambil ponsel milik Jinyoung. Kepalanya terasa pusing karena mendongak.

Kimi kehilangan keseimbangannya dan tersungkur ketanah.

Oh – Jinyoung menertawakannya. “apa yang kau lakukan? Menangkap kodok atau semacamnya?”.

Kimi segera berdiri, membersihkan telapak tangan dan lututnya. Untung saja Ia memakai kaos kaki panjang hingga lututnya tidak terluka. “ya! Beraninya kau menertawakanku”.

Angin berhembus semakin kencang, menimbulkan bunyi pohon yang dahannya bergesek diterpa angin. Daun kering ikut berjatuhan.

Tiba-tiba…

Plukk

Ah, apa yang terjatuh dikepala Jinyoung barusan? Rasanya sedikit sakit dan… basah.

“apa – apa yang menimpa kepalaku?”. Tanya Jinyoung panic namun tak berani memegang sesuatu yang basah itu.

Kimi terpingkal. Ia ingin menjawab tapi… ayolah, kejadian barusan terlalu lucu untuk tidak ditertawakan. “sebentar… aku tidak bisa berhenti tertawa”. Kimi memegangi perutnya sendiri.

Jinyoung mengernyitkan keningnya, sesuatu yang dingin mengalir menuruti kepalanya hingga sampai ke pelipis. Jinyoung memberanikan diri untuk menyentuh sesuatu – cairan itu dengan jemarinya. Lalu mengendus cairan kuning yang menempel dijarinya.

“astaga. Kau terkena batunya karena menertawakanku. Rasakan serangan telur dadar itu”. Kimi semakin terpingkal sampai ia tak mampu berdiri lagi.

Apalagi melihat wajah konyol Jinyoung dan sarang burung yang masih menghiasi kepala pria itu. Kimi tak bisa mengatasi tertawanya sendiri. Tadinya Jinyoung ingin marah karena sarang burung sialan yang tiba-tiba menimpa kepalanya.

Tetapi…

Melihat Kimi tertawa seperti ini, Jinyoung pun ikut tertawa.

Beberapa menit akhirnya Kimi berhasil meredakan sindrom tertawanya. Sedangkan Jinyoung tidak membiarkannya pergi begitu saja. Malah meminta Kimi untuk membantu membersihkan bekas telur yang tadi terjatuh diatas kepalanya.

“harusnya tadi sekarang aku menuangkan minyak sayur lalu menggoreng telur ini bersama kepalamu”. Ujar Kimi sambil membersihkan rambut Jinyoung menggunakan air dari keran.

Jinyoung mengangkat kepalanya. “jangan bicarakan itu, kau seperti kanibal”.

“aish… baiklah, menunduk saja menunduk”. Dengan kasar Kimi mendorong kepala Jinyoung agar menunduk lagi. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dari jendela dilantai atas.

“terima kasih, Kimi’ah”.

“apa? Bagaimana kau tahu namaku?”. Kimi terkejut saat Jinyoung tiba-tiba menyebut namanya. Bahkan belum berkenalan sejak mereka bertemu waktu itu. Jinyoung menunjuk tag nama Kimi. “ah, begitu”.

Jinyoung mengangguk. “soal kejadian dilapangan waktu itu –“.

“sudahlah, aku tidak marah padamu lagi karena Haera tidak marah”.

Haera? Ah, Jinyoung baru teringat soal gadis itu. Bambam mengatakan jika seseorang bernama Haera menelponnya. Karena terlalu lelah, jadi Jinyoung membiarkan Bambam yang menemani Haera ditelpon.

Luhan memasuki sebuah Coffee Shop bersama seorang gadis. Gadis itu menggandeng erat lengan Luhan. Cuaca yang semakin dingin diminggu malam yang ramai ini, sangat cocok untuk meminum segelas kopi hangat.

“selamat datang. Silahkan memesan”. Sapa si pelayan kafe. Gadis dengan tag nama Minji itu membelalakan matanya. Ia cukup terkejut karena tamu yang datang adalah Luhan. Meskipun Luhan tidak mengenal Minji, tapi Minji adalah salah satu penggemar Luhan dan teman-teman.

“aku ingin es Americano”. Ujar Luhan kepada pelayan.

“ey, kau masih menyukai es Americano”. Gadis yang bersama dengan Luhan mencubit pipi Luhan gemas.

“akh! Baby, jangan. Kau akan merusak wajah tampan ku”.

Luhan dan gadis nya berbicara dengan bahasa Mandarin. Minji tidak mengerti, tetapi ia tidak salah dengar Luhan memanggil gadis cantik itu dengan sebutan ‘Baby’.

“aku ingin creamy late, dan waffle”.

“baiklah, silahkan tunggu sebentar”. Hampir saja Minji kehilangan fokus saking terkejutnya. Luhan dan gadis itu menuju ke salah satu tempat duduk didekat kaca yang menghadap kejalan. Sesekali Minji melirik kearah dua orang yang terlihat mesra itu. iapun berinisiatif untuk memotret momen itu dan mengunggahnya ke media sosial.

Minji02 Luhan bersama seorang gadis, sepertinya dia berasal dari Tiongkok. Aku mendengar Luhan memanggilnya ‘Baby’. Kutebak jika gadis itu adalah kekasihnya. Mereka juga mesra sekali. (video menyusul)

Minji menuliskan pada kirimannya di media sosial. Lalu menandai teman-temannya. Belum sampai satu menit, kiriman itu sudah dikomentari dan diunggah ulang.

SarangCho kau mengeditnya?

LoliMei jadi Luhan dan Yeonsung benar-benar berakhir? Wah, rasakan! Gadis itu terlalu besar kepala hanya karena Luhan mengejarnya.

KSJ9_ kau yakin Luhan memanggilnya ‘Baby’?

Sejoon_33 aku tidak peduli

Mini.Min segera unggah video. Aku penasaran.

Pinkcandy gadis manapun yang berada didekat Luhan, aku tidak suka

Luhan tidak sadar jika dirinya saat itu tengah direkam oleh pekerja kafe. Jadi ia tidak canggung harus bercengkrama dengan gadis yang ada dihadapannya ini. Bahkan ia dengan antusias membuka mulut karena ‘Baby’ ingin menyuapkinya wafflel.

Minji mengunggah video yang ia dapatkan. Merasa sangat bangga karena berhasil memata-matai Luhan.

Yeonsung menatap pantulan dirinya dicermin. Sorot mata tajam yang menatap penuh selidik, make up tebal tidak seperti biasanya ditunjang dengan pakaian ketat serta sebuah jaket kulit berwarna merah. Yeonsung tersenyum pada dirinya sendiri.

Diatas tempat tidurnya yang berantakan, terkapar butiran obat berwarna putih.

Sebuah pesan dari aplikasi obrolan online masuk ke ponsel nya saat ia sedang mengaplikasikan lipstick pink ke bibirnya. Yeonsung melirik ponselnya lalu menekan tombol ‘buka’. Pesan dari Haera, temannya.

Luhan berkencan dengan gadis lain. Kau sudah tahu?’.

seseorang mengunggah poto dan video ini’.

Yeonsung melihat dengan seksama poto dan video yang dikirim oleh temannya itu. ‘lalu kenapa?’. Balas Yeonsung.

jadi kau dan Luhan benar-benar tidak ada hubungan?’.

tidak’.

Haera tidak membalas lagi pesannya. Yeonsung melirik jamnya, tidak peduli dengan isu yang disebarkan oleh orang-orang tentang Luhan. Yeonsung hanya ingin pergi malam ini. setelah menyemprotkan parfume, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.

TBC

“lalu kenapa kau datang kesekolah dalam keadaan seperti ini?”.

“sudah lama sekali aku tidak menjewer telingamu itu, Luhan”.

“dia terlalu besar kepala diawal, menolak Luhan akhirnya sekarang jadi stress”.

“pembullyan disekolah. Wahh… ini disebut kekerasan atau pemerkosaan, ya?”.

“darimana kau tahu alamatku?”.

“berkencanlah denganku”.

#OMAKE

YS : antara Yeonsung dan Kimi, karakter siapa yang lebih kau suka?

MT : aku tidak suka keduanya.

WK : kau pilih tangan atau kaki?

MT : aku pilih tangan karena aku tidak ingin makan menggunakan kaki.

WK : kalau begitu kau akan berjalan dengan tangan beberapa hari ini (pasang kuda-kuda untuk menendang kaki Mark)

Just For Your Iinformation!

Tahun pelajaran di bagi menjadi dua semester :

Semester I : awal Maret – pertengahan Juli

Liburan musim panas : pertengahan Juli – akhir Agustus

Semester II : akhir Agustus – pertengahan Februari

Liburan musim dingin : akhir Desember – awal Februari

Ujian semester II dan kelulusan : awal Februari – pertengahan Februari (satu minggu)

Liburan pendek : pertengahan Februari – awal Maret

Advertisements

19 responses to ““Ophelie” #2 by Arni Kyo

  1. wah… di part ini banyak adegan berkelahinya… uuu ngeri byangin Luhan mw mkulin papan catur ke prmpuan ckckck…. *sini dek Luhan, biar noona ajarin ilmu sopan santun* #plak 😛 😀 Uuh pelik ini ceritanya, ada yg sdg saling mengenal, ada yg sdg mengejar, dan parahnya lagi ada kesalahpahaman dan kecemburuan, such a great combination conflicts! 😀 Ya ditgu next nya 😉

    • hehe XD iya unni, dia memang emosian sekali… jewer saja kupingnya >< baiklah next chapt di update secepat mngkin (gimme 5 days) 😀

      thanks for reading and comment 😉

  2. ceritanya agak complicated sih, tapi aku sukaaa 😍😍. fighting ya eonni,ditunggu lanjutannya…

    Btw siapa sih “baby”, jadi penasaran….
    aku ninggalin jejak dikit ya eon, ini aja nyempetin baca padahal lagi UN. buat nambah moodboster hehe

    • yesyes memang complicated smpe yg bikin jg bingung gmna cara selesaiin masalah mereka hahaha XD
      wahh lg UN ya, fighting buat kamu ><

      thanks for read and comment 😉

  3. Ya ampuuun luhan udah diluar kendali untung aja ada mark yg ngelindingi yeonsung, tapi aku kangen banget sumpah sma sikap jailnya luhan ke yeonsung dan aku kangen momen luhan mengganggu yeonsung..
    Kembalikan hubungan mereka dong thor..
    Waahh bau2 perkelahian ini, kimi suka ke mark begitupun mark (sepertinya), jinyoung suka ke kimi, haera suka sama jinyoung dan kayaknya bakal terjadi kesalahpahaman dan kecemburuan..

  4. Wah makin seru aja..
    disini kayaknya ayahnya yeonsung menjual yeonsung trus Luhan pura2 beli dan malah hajar ayah yeon.. nah ayah yeonnya jadi marah deh sama yeonsung trus yeonsung marah sama luhan.. ini ngapa jadi ajang hajar-menghajar (?) kekeke.. ini Mark suka sama Kimi kah? Jinyoung juga? trus Heera suka ma Jinyoung. Nah Kimi nya suka sama siapa? kayaknya sama Mark juga karna dia kayak jealous gitu pas Mark nolong Yeonsung, maybe..
    Anyway keep writing min..

  5. Baru chapter awal udah marahan aja Luhan sama Yeonsung, ngmng” WK itu siapa ya ? Trus aku penasaran si Jinyoung jadinya suka sam Heera atau Kimi wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s