Stay [Chapter 6] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Previous Chapter

Jungkook dan Sena diterima di kampus yang sama, namun dengan jurusan yang berbeda. Sena diterima di jurusan Manajemen, sementara Jungkook di jurusan seni musik.

Gedung fakultas mereka sangat berjauhan.

Tapi siapa sangka, ternyata tempat tinggal mereka malah berada di bawah atap yang sama.

Sena menggaruk rambutnya yang sudah dia tata dengan baik saat melihat batang hidung Jungkook di lift yang akan mengantarkannya ke lantai satu.

Pria itu juga menatapnya dengan mata membola lebar. “Sena?”

Sena hanya nyengir. Kemudian melangkah masuk ke dalam lift kosong itu. Dia berdiri tepat di sebelah Jungkook.

Jungkook masih memandangnya bingung meskipun lift mulai bergerak turun.

“Aku benar Sena. Berhenti memandangku seperti itu,” cicit Sena kemudian karena merasa risih diperhatikan terus menerus oleh Jungkook.

Jungkook yang semula berkirim pesan dengan teman satu jurusannya lantas mengabaikan itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ketertarikannya sekarang sudah teralih pada gadis berambut panjang berantakan navy black ini.

“Kau tinggal di sini juga?”

“Hm. Kau?”

“Aku juga. Aku di lantai delapan.”

“Ah. Aku tidak tahu.”

Selama lift itu bergerak turun, pandangan Jungkook pada Sena tetap tidak berubah.

Dia terkejut melihat batang hidung Sena di apartemen ini.

Dia pikir Sena akan memilih apartemen lain yang jauh lebih mahal tarifnya karena memang apartemen ini adalah yang paling murah di sekitar kampus. Juga fasilitasnya yang kurang memadai dan memang tidak menyediakan unit yang besar.

Nyatanya gadis itu justru berada di sini bersamanya.

Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Atau takdir?

TING!

Denting lift yang menandakan bahwa lift telah sampai di lantai satu pun otomatis memutar kepala Jungkook ke depan. Memperlihatkan senyum tipisnya yang benar-benar tidak bisa ia tahan. Mereka berdua pun keluar bergantian dari lift itu.

Mereka hanya perlu berjalan kaki untuk sampai kampus. Dari gerbang depan, fakultas Jungkook sudah terlihat di sejauh mata memandang, yang itu artinya Jungkook harusnya berhenti duluan dan masuk gedung fakultasnya. Tapi, dia malah terus berjalan di belakang Sena, mengikuti gadis itu hingga gadis itu sampai di gedung fakultasnya. Kakinya baru berhenti mengayun saat dilihatnya Sena yang sudah bertemu dengan temannya dan masuk ke gedung manajemen sambil berbincang-bincang. Ketika punggung Sena menghilang ditelan gedung itu, ia pun berbalik dan pergi ke gedung fakultasnya sendiri.

Malamnya, Jungkook tidak tahu apakah Sena sudah pulang atau belum. Dia memutuskan untuk kembali duluan saja ke apartemen dan saat itulah dia bertemu dengan gadis itu yang tengah menunggu lift. Dengan senyum mengembang ia pun menghampiri Sena.

“Kau pulang malam juga?”

Sena yang awalnya melamun pun tersentak begitu mendengar suara pria di sebelahnya. Dia menghela napas lega setelah melihat bahwa pria itu ternyata Jungkook. “Kau mengagetkanku, jinjja. Ya, aku pulang malam. Bukannya semua semester satu memang begitu? Ah rasanya badanku pegal sekali.”

Pintu lift pun akhirnya terbuka lebar. Mereka masuk ke dalamnya, dengan Sena yang memencet angka 5 dan dilanjutkan oleh Jungkook angka 8.  Pintu lift tertutup kembali.

“Kenapa kau memilih tinggal di apartemen ini?” tanya Jungkook saat lift itu baru saja sampai di lantai 1.

“Hanya ingin saja. Aku lebih suka apartemen yang kecil daripada yang besar. Toh aku hanya butuh kamar dan kamar mandinya saja, tidak perlu beli yang besar-besar.”

“Kau boleh datang ke tempatku kalau sedang bosan,” tawar Jungkook sambil menyandarkan punggungnya pada dinding lift.

Sena mendengus geli. “Aku benar-benar akan datang saat bosan. Hari ini aku hanya ingin mandi dan tidur.”

“Hm. Kau boleh datang kapan pun sesuka hatimu.”

Lift pun sampai di lantai 5.

“Aku duluan ya. Good night.”

Jungkook hanya mengangguk sambil tersenyum tipis ketika Sena melambai dan beranjak keluar dari lift. Matanya terus mengikuti lambaian rambut Sena hingga pintu lift tertutup kembali.

Esoknya mereka bertemu lagi di lift.

Padahal Jungkook sudah kesiangan. Dia sama sekali tidak berniat untuk menyamakan jam keberangkatan mereka ke kampus dengan keterlambatannya ini. Dia benar-benar terlambat bangun karena semalaman dia mengerjakan tugasnya dan baru tidur pukul 3 pagi.

Ternyata Sena juga sudah menunggu lift turun dengan tidak sabaran. Dia buru-buru masuk ketika lift telah sampai di lantainya. Langsung sibuk memoles wajah sambil berkaca di cermin dinding lift ketika lift mulai bergerak turun.

“Kau juga kesiangan?” tanya Jungkook sok berbasa-basi.

“Hm. Aku baru tidur jam tiga jadi aku tidak bisa bangun pagi seperti biasa.”

Tanpa sepengetahuan Sena, Jungkook tersenyum tipis. Kita sama lagi.

Sena sama sekali tidak sungkan untuk berdandan di depan Jungkook. Setelah mengaplikasikan make up di wajahnya, ia pun menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Aroma sitrus. Ia tidak tahu kalau Jungkook menghirup dalam-dalam aromanya dan menyimpannya di dalam hati dan sudut pikirannya. Pria itu berusaha bersikap cool saat Sena berdiri di sampingnya –selesai ber-make up menunggu pintu lift terbuka.

Dan begitu pintu terbuka, Sena langsung melesat keluar dengan cepat menyalip Jungkook. Pria itu hanya menggeleng pelan. Padahal dia juga sama terlambatnya, tapi semenjak melihat gadis itu rasa terburunya pada keterlambatannya hari ini menghilang begitu saja. Dia malah melangkah dengan santai keluar dari lift sembari mengeluarkan payung lipat dari tasnya.

Perkiraan cuaca hari ini hujan. Jungkook sempat menonton pemberitaan perkiraan cuaca kemarin saat dia mengambil jeda dalam mengerjakan tugasnya.

Dan benar saja, hujan sedang mengguyur Seoul ketika dia sampai di teras gedung apartemen.

Lucunya, dia melihat Sena masih di sana. Menyumpah-nyumpah kecil karena dia lupa membawa payungnya.

Dengan senyum tipis yang merekah malu-malu di wajahnya, ia pun berdiri di samping gadis itu sembari menyembunyikan payung lipatnya di belakang tubuh.

“Kenapa tidak segera berangkat?”

“Aku lupa membawa payung. Aish, kalau kembali ke kamar sekarang bisa-bisa aku makin terlambat. Sial. Kenapa sih harus lupa di saat-saat seperti ini?”

Gerutuan itu terdengar lucu di telinga Jungkook. Dia pun mengeluarkan payungnya dari persembunyian. Membukanya lebar, lantas merangkul bahu Sena sebelum menarik gadis itu turun ke bawah guyuran hujan.

Rangkulannya makin kuat seiring mereka mengikis jarak menuju kampus.

Sena mendongak. Melihat payung transparan yang melindungi mereka sekaligus profil pria yang sedang merangkulnya saat ini.

Jungkook pun melihat ke bawah dengan otomatis. Kedua alisnya terangkat sambil mengulum senyum tipis.

Ekspresi itu seketika menghapus semua kecemasan Sena pada mata kuliah pagi ini. Ia terkekeh. Meninju pelan perut Jungkook sebelum mengalihkan pandangan ke depan lagi.

Jungkook sangat menyukai reaksi itu. Ia makin mendekatkan gadis itu padanya agar tidak terkena cipratan air hujan.

Kemudian sampai juga mereka di gedung jurusan Sena.

Dengan berat hati Jungkook melepas rangkulannya begitu gadis itu telah menginjakkan kaki di bawah atap gedung.

“Akhirnya sampai juga,” lega Sena sambil mengatur rambutnya sekali lagi.

“Masuklah, ini sudah hampir pukul sepuluh.”

“Ah ya, benar. Ya sudah ya, aku duluan. Terima kasih payungnya. Annyeong.”

Jungkook hanya melambai ketika Sena sudah berlarian pergi memasuki gedung tersebut.

Hari demi hari pun berlalu. Setiap berangkat dan pulang kuliah, Jungkook dan Sena selalu bertemu di dalam lift. Seolah lift itu diciptakan hanya untuk dipakai oleh mereka berdua.

Jungkook selalu ada di dalam lift lebih dulu saat mereka akan berangkat ke kampus. Dan Sena sering berdiri di depan pintu lift lebih awal di jam pulang kuliah mereka.

Sampai akhirnya Sena tidak menemukan batang hidung Jungkook di mana pun.

Awalnya dia pikir, “ah … mungkin Jungkook sedang tidak ada kuliah hari ini” atau “pasti dia pulang lebih akhir”. Sehingga dia tidak mempermasalahkan ketidakhadiran pria itu di dalam lift.

Namun sampai tiga hari berlalu, Jungkook tetap saja tidak kelihatan di mana pun.

Sena mulai khawatir.

Dia pun memutuskan untuk mengunjungi unit tempat tinggal pria itu untuk memastikan.

Dipencetnya bel unit itu berulang kali sampai telunjuknya pegal sendiri. Anehnya, tidak ada respon apa pun dari pintu yang tertutup rapat itu.

Ia pun menggigit bibirnya. Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada pria itu sehingga dia memilih meninggalkan apartemen?

Untuk memastikan, dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi kontak bernama Kook.

Panggilan pertama ditolak.

Panggilan kedua ditolak.

Panggilan ketiga….

“Hm?”

Sena langsung menghela napas lega mendengar suara pria itu. “Ternyata kau masih hidup. Yaa! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau tidak sedang di apartemen? Dimana kau sekarang? Apa telah terjadi sesuatu?”

“Ah maaf. Aku tidak sempat memberitahumu.”

Feeling Sena mendadak tidak enak. “Jadi benar sudah terjadi sesuatu?”

“Ya. Orangtuaku meninggal tiga hari lalu. Dan kakakku … dia koma di rumah sakit sampai sekarang.”

Bahu Sena langsung jatuh. “Meninggal?”

“Hm. Maaf tidak memberitahumu. Aku sedang terburu-buru jadi—”

“Dimana kau sekarang?” Tanpa menunggu Jungkook selesai bicara, gadis itu langsung memberinya pertanyaan. Dia sendiri berlarian masuk ke dalam lift dan buru-buru memencet tombol angka 5.

“Ah aku sedang di rumah sakit Gwangju.”

“Kirimkan alamatnya padaku setelah ini. Aku akan ke sana hari ini juga.”

“Apa? Yaa, kau tidak usah lakukan itu. Aku mungkin akan kembali minggu dep—”

“Kirimkan padaku atau aku akan membencimu selamanya, Kook-a. Aku tidak menerima penolakan, oke? Kutunggu pesanmu dalam sepuluh menit. Kalau sampai lebih dari sepuluh menit kau tidak mengirimkan alamatnya, aku akan pergi mencari lokasinya sendiri.”

“Tapi—”

“Kutunggu pesanmu.”

Sena langsung memutuskan sambungan tepat saat lift sampai di lantai 5. Cepat-cepat dia masuk ke unitnya. Menge-pack semua baju-baju ke dalam koper dan beberapa benda penting seperti laptop, charger laptop dan ponsel ke dalam ranselnya. Setelah semua siap dan pesan Jungkook pun telah sampai, dia langsung pergi ke bandara untuk berangkat ke Gwangju menggunakan pesawat terbang.

Dua jam kemudian, sampailah Sena di kota itu. Dia memesan taksi untuk mengantarkannya ke alamat yang diberikan oleh Jungkook. Selama perjalanan tak henti-hentinya dia menggigit bibirnya karena terlalu cemas pada segala hal. Apa yang sebenarnya terjadi sampai orangtua Jungkook meninggal dan kakaknya masuk rumah sakit? Apakah Jungkook baik-baik saja?

Dia segera turun dari taksi sesampainya di rumah sakit besar Gwangju.

Tanpa merasakan sedikit pun lelah, dia berjalan terburu-buru memasuki gedung rumah sakit, bertanya pada resepsionis ruangan kakak Jungkook, lalu melesat ke sana setelah mendapat jawaban.

Dia sama sekali tidak peduli pada tatapan orang-orang yang aneh melihatnya membawa ransel dan koper seperti akan pergi berlibur.

Dia langsung membuka pintu ruang rawat Jeonghan, kakak Jungkook.

Di sanalah terlihat pemandangan yang cukup sukses membuat kakinya mendadak lemas.

Dia menatap sendu pada seorang pria yang membalik badan padanya –yang sejak tadi membelakanginya.

Baru tiga hari berlalu tapi Jungkook sudah tampak begitu kurus.

Sena kembali melangkahkan kakinya.

Wasseo?”

Tidak cukup dengan tubuhnya yang kurus yang sudah membuat orang menatapnya prihatin, suaranya juga terdengar begitu bergetar dan memaksa.

Sena melepaskan cekalannya pada tuas penarik kopernya. Tetap melangkah ke depan sampai dia mampu meraih Jungkook dengan kedua lengannya. Dibenamkannya wajah pria itu di bahu kecilnya, berharap dengan begitu Jungkook mau menumpahkan semua yang sudah ditahannya sejak berhari-hari lalu.

Tapi Jungkook tidak menangis. Dia hanya membisu sambil menghembuskan napas-napas berat.

Sena tahu, pasti ini sangat berat bagi Jungkook.

Karena Sena juga pernah merasakannya. Ketika ibunya meninggal beberapa tahun lalu akibat kecelakaan pesawat.

Tapi dia masih memiliki ayahnya yang bisa membuatnya tenang. Sedangkan Jungkook? Sudah orangtuanya meninggal, sekarang kakaknya pun terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan ¾ tubuhnya yang dibalut oleh perban tebal. Sanak saudara lain? Sena tidak yakin. Jungkook pernah cerita kalau dia masih punya seorang bibi di Busan. Tapi entahlah, apakah bibinya itu peduli atau justru sebaliknya pada nasib keponakannya yang bahkan belum menginjak usia dewasa ini.

Jungkook pun mendorong pelan tubuh Sena setelah puas membuang semua bebannya meskipun tidak dengan jalan menangis.

Matanya yang sayu dengan kantung hitam di bawahnya, didukung pipi yang makin tirus dan wajah yang tak lagi bersinar, menatap tepat di manik mata kecokelatan milik Sena dengan sorot lemah. Kedua tangannya masih ada di pinggang gadis itu. Hanya berdiam di sana tanpa ada kemauan sedikitpun untuk mengeksplor tubuh itu. Karena memang fokusnya sedang tidak di sana.

Jungkook bahagia melihat Sena berdiri di depannya saat ini.

Karena dia memang butuh gadis itu sekarang.

Setidaknya dengan kehadiran Sena, Jungkook bisa menyadari bahwa di dunia ini dia tidak sendirian.

Meskipun dia tahu kalau Sena bukanlah siapa-siapanya.

Setelah sekian hari akhirnya dia tersenyum. Senyum yang hanya membentuk satu garis lurus di wajahnya.

“Terima kasih sudah datang.”

Sena mencuri kesempatan menangis hari ini meskipun seharusnya kesempatan itu adalah milik Jungkook. Ia pun memeluk Jungkook dengan erat. Menggantikan laki-laki itu untuk menangisi semua peristiwa yang telah terjadi. Sebaliknya, Jungkook menenangkannya untuk berhenti menangis.

TBC

Advertisements

16 responses to “Stay [Chapter 6] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Pertemuan kembali yang manis. Kasihan banget jungkook, untung sena ada untuk menghibur jungook.

  2. ko rada bingung.. stiap chapny gk nyambung.. apa dri wktu prom SMA itu flashback gtu… trz chap brikutnya hari sekarang trz chap slnjtny flashback lgi gtu? rada gk mudeng ma HSG book 2😂😂

    • bingung yak ._. emang ngebingungin, soalnya yang nulis juga bingung ._. haruskah aku menambahkan kata ‘flashback’ biar ngerti?

  3. Jungkook 😍😍😍
    Oh tidak aroma” akan berpaling ini. 😂😂😂
    Yoongi dimana kak? Wkwk

  4. ohhh jadi ini alasan knp jungkook di masa depan kesannya kayak orang kurang ekonomi gt pas chapter makan siang dikantor, (padahal inget di chapter 2 katanya ortu jungkook itu manager)

  5. Kok di HSG 2 ini sedih ya…q kira alumni bangtan semuanya orang berada, bukannya menghina jongkook ya :p…si abang yoongi ngak ada kabar, merindukan si abang hiksss…kabar soekjin, namjoon, hoesoek, jimin dan V gimana ya??

  6. Sediiih kasian jungkook 😦
    Untung sena perhatian ya, pantes jungkook sayang banget deh ke sena
    Semoga sena jungkook langgeng ampe nikah deh hehe
    Ditunggu kelanjutannya eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s