The Red Line [3rd] – pramudiaah

Cast: Byun Baekhyun (EXO), Oh Sehun (EXO), Jung Hyerin (OC)

Genre: Highschool!AU

PG-17

1st || 2nd || 3rd

***

Baekhyun berusaha keras mengembalikan segenap kewarasannya. Ia jauhkan bibirnya dari milik Hyerin. Logika memintanya untuk berhenti saat ini juga, atau semuanya akan benar-benar terlambat. Namun, Hyerin sepertinya tidak sependapat. Gadis itu justru kembali meraih tengkuknya dan mengecup bibirnya berkali-kali. Tidak, Baekhyun bisa gila.

“Panas..”

Baekhyun bisa mendengar gumaman Hyerin. Seketika, Baekhyun tersadar bahwa mencumbui seorang gadis yang sedang berada di bawah pengaruh obat perangsang adalah perbuatan paling jahat. Maka, kali ini ia benar-benar menarik diri dari rengkuhan Hyerin. Meski harus dengan perjuangan agak keras, ia akhirnya bisa bangkit dari sofa.

“Ini benar-benar gila,” napas Baekhyun masih terengah. Ia kemudian menyentuh bibirnya sendiri; tidak menyangka bahwa dirinya bisa mencium Hyerin seliar tadi.

Baekhyun merasa bahwa dirinya sudah gila. Selama ini ia selalu berhasil menahan godaan apa pun meski dirinya hidup di dunia paling gelap sekalipun. Tapi, baru saja pertahanan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun itu dihancurkan oleh seorang gadis seperti Jung Hyerin. Tidak bisa dipercaya. Padahal dirinya tidak menaruh rasa tertarik pada gadis itu barang sedikit pun. Jadi, bagaimana bisa ia seceroboh ini?

Baekhyun mengusap dahinya yang berair, lantas menelan ludah dengan susah payah. Perhatiannya masih tertuju pada Hyerin yang kini menggeliat ke sana ke mari seperti cacing kepanasan. “Tidak, tidak!” Baekhyun menggeleng keras; berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Ia lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Hyerin.

***

Hyerin membuka matanya perlahan. Sejenak ia seperti tidak mampu mengingat apa pun, termasuk di mana ia berada sekarang. Namun setelah mengerjap beberapa kali dan mengedarkan pandangan, ia kemudian ingat bahwa dirinya sedang berada di rumah Baekhyun. Tepatnya, di kamar Baekhyun.

Hyerin berusaha bangkit dari sofa, namun terduduk kembali lantaran kepalanya terasa sangat berat dan pandangannya seperti berputar-putar. Ia pun hanya bisa bertanya-tanya mengapa kepalanya bisa sepusing ini.

Sesaat kemudian, ia berhasil bangkit dari sofa dan berniat untuk mencari Baekhyun. Ia hanya ingin bertanya pada Baekhyun apakah dirinya bisa menggunakan kamar mandi di kamar itu atau tidak. Namun, setelah berkeliling ke seluruh penjuru kamar, ia tidak menemukan keberadaan pemuda itu di mana pun.

Well, itu artinya, ia tidak perlu meminta izin Baekhyun untuk memakai kamar mandi di sana dan  dirinya bisa bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

.

Setelah selesai merias diri dan memakai seragam lengkap, Hyerin pun melangkah keluar dari kamar mandi Baekhyun. Namun betapa terkejutnya ia begitu mendapati Baekhyun sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Astaga!” gadis itu melonjak ke belakang.

“Setelah keluar dari rumah ini, aku tidak mau melihatmu berada di sekitarku lagi,” ujar Baekhyun dingin.

“Kenapa?” tanya Hyerin dengan ekspresi bingung.

Baekhyun menghela napas, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Jung Hyerin, dengar. Aku benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Kim Seulbi, jadi kau harus berhenti menguntitku, oke?”

Hyerin memandang Baekhyun sinis. “Dan kau ingin aku percaya, begitu?”

Baekhyun memutar bola matanya, bosan. Sudah ia duga bahwa bernegosiasi dengan Hyerin bukanlah perkara yang mudah, dan sudah bisa dipastikan bahwa gadis itu tidak akan memercayai apa pun yang ia katakan.

“Oke,” Baekhyun memutuskan sesuatu. “Kalau kau tidak bisa membuktikannya dalam waktu satu bulan, maka kau harus menyerah. Bagaimana?”

Hyerin tampak memikirkan tawaran itu sebentar; menimbang-nimbang apakah dirinya bisa menemukan bukti dalam waktu sesingkat itu. Tapi kemudian, “Deal,” ujarnya mantab, lantas mengulurkan tangannya ke arah Baekhyun.

Pandangan Baekhyun kemudian jatuh pada tangan Hyerin yang terulur, dan serta merta memori tentang kejadian semalam—ketika gadis itu meraih tengkuknya dan kemudian menciumnya—kembali mengusik pikirannya. Apa dia tidak ingat apa pun?

Dengan ekspresi dingin, Baekhyun kemudian menepis tangan Hyerin yang terulur, lantas berbalik dan meninggalkan gadis itu.

“Apa-apaan dia?” Hyerin lantas cemberut sembari memandangi telapak tangannya.

***

Baekhyun menghentikan langkahnya, lalu berbalik demi menatap Hyerin yang kini berdiri sekitar lima meter dari posisinya. Baekhyun menghela napas tidak percaya; ia tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar akan menguntitnya. Hei, ini bahkan masih pagi!

Ya! Jung Hyerin! Kalau kau memang mau menguntitku, seharusnya kau tidak melakukannya secara terang-terangan!” ujar Baekhyun setengah berteriak.

“Jadi menurutmu aku harus sembunyi?” balas Hyerin bingung, namun lantas mendesis sinis. “Kau bahkan tahu kalau aku mengikutimu, jadi apa gunanya bersembunyi?”

Baekhyun menggeram pelan, benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia sudah kehabisan ide untuk membuat Hyerin menyingkir dari pandangannya. Kehidupannya sudah cukup damai sebelumnya, jadi ia tidak ingin seseorang seperti Hyerin masuk ke dalam dunianya. Singkatnya, Baekhyun tidak ingin orang lain mencampuri urusannya.

Tapi, hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menghela napas, lantas kembali melanjutkan langkahnya untuk ke halte bus.

Hyerin tidak tinggal diam. Ia pun setengah berlari untuk bisa berjalan sejajar dengan Baekhyun. “Hei! Byun Baekhyun! Apa kau memang selalu naik bus?” tanya Hyerin penasaran. Ia hanya heran mengapa dirinya sering mendapati Baekhyun naik bus sementara di rumah laki-laki itu berjejer banyak mobil mewah.

Lantaran tidak mendapati respons, Hyerin pun kembali melontarkan pertanyaan. “Kau tidak bisa menyetir, ya?”

Baekhyun serta merta memandangnya tajam, sedikit tersinggung. “Apa kau sekarang penasaran dengan kehidupan pribadiku?”

Hyerin langsung menggeleng. “Tidak, tentu saja tidak! Kenapa aku harus penasaran padamu?” balasnya ketus.

“Kalau begitu, jangan tanyakan apa pun padaku,” ujar Baekhyun datar, lalu ia berjalan dua kali lebih cepat. Meninggalkan Hyerin agak di belakang.

Ya! Baekhyun-ssi!”

.

Bus arah ke sekolah sudah melaju, tepat ketika Baekhyun dan Hyerin baru menginjakkan kaki di halte. Tak ingin lebih lama menunggu, Baekhyun lantas berlari tergesa-gesa mengejar bus itu dan meneriaki supirnya untuk berhenti.

Hyerin yang kebingungan pun hanya bisa ikut berlari. Ia heran mengapa mereka harus mengejar bus itu sementara mereka bisa saja menunggu bus selanjutnya. “Hei! Byun Baekhyun! Tunggu aku!” Hyerin terengah-engah menyusul langkah Baekhyun. “Dasar tidak peka sama sekali!” keluhnya dengan napas pendek-pendek.

Namun Hyerin bisa bernapas lega lantaran bus itu akhirnya berhenti setelah ia berlari sejauh lima puluh meter lebih. Dengan napas yang belum stabil, ia pun melangkah masuk ke dalam bus dengan susah payah. Dan matanya langsung terbelalak begitu mendapati sesaknya kondisi di dalam bus; tidak ada kursi kosong yang tersisa dan banyak penumpang terpaksa harus berdiri.

Hyerin bahkan hampir terjungkal ke belakang saat sang supir kembali melajukan bus. Namun, seseorang merengkuh pinggangnya hingga ia bisa kembali berdiri tegap. Hyerin baru akan mengucapkan terimakasih saat seseorang itu tiba-tiba berbicara,

“Seharusnya kau menunggu bus selanjutnya saja.”

Hyerin lantas mendongak, dan mendapati bahwa orang yang baru saja menolongnya adalah Baekhyun. Hyerin mencoba menarik diri dari pemuda itu, namun posisinya tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Bus itu terlalu penuh dan sesak akan penumpang, yang ada malah tubuhnya semakin terdorong ke arah Baekhyun karena desakan dari penumpang lain.

Tiba-tiba saja bus terguncang, hingga membuat para penumpang yang berdiri ikut terguncang ke kanan dan ke kiri. Refleks Hyerin memegang lengan Baekhyun erat-erat agar tidak terjatuh.

Di sisi lain, Baekhyun terkejut saat Hyerin memegang lengannya. Posisi mereka yang berhadapan saja sudah membuatnya tidak nyaman, apalagi jika Hyerin harus berpegangan padanya. Terlebih, saat Hyerin mendongak dan menatapnya polos; bayangan peristiwa semalam kembali hinggap di kepalanya. Lalu, pandangannya jatuh pada bibir gadis itu. Ia masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana ketika bibir itu menyentuh bibirnya.

“Jung Hyerin,” panggil Baekhyun dengan suara rendah.

“Huh?” Hyerin mengerjap bingung.

Baekhyun menatap Hyerin agak lama, sebelum berbicara, “Apa tadi malam kau langsung tidur begitu aku meninggalkanmu?” Baekhyun masih penasaran akan satu hal, dan ia ingin segera mengonfirmasinya.

Hyerin tampak berpikir sebentar, lalu menggeleng. “Sebenarnya, aku mengambil beberapa minuman di kulkas. Aku tidak langsung memberitahumu karena kau bilang kalau kau tidak mau bicara padaku tadi malam,” ungkap Hyerin, lantas nyengir.

Baekhyun terkesiap sejenak. Sekarang ia benar-benar yakin bahwa Hyerin tidak ingat apa pun terkait peristiwa semalam. Baekhyun harus mengakui bahwa dirinya merasa lega. Ia tidak tahu apa yang akan Hyerin lakukan padanya jika gadis itu tahu soal ciuman semalam.

“Baguslah,” gumam Baekhyun.

“Apa kau bilang?”

Baekhyun menggeleng. “Aku tidak bilang apa pun,” balasnya lalu mengedikkan bahu.

Hyerin masih menatap Baekhyun curiga.

Ditatap seperti itu, Baekhyun tentu saja merasa tidak nyaman. “Kenapa menatapku begitu?”

“Aku yakin kau mengatakan sesuatu.”

Baekhyun hanya mengedikkan bahu, lantas mengalihkan pandangannya ke jendela bus. Tapi beberapa detik kemudian, ia kembali memandang Hyerin. Gadis itu sedang memandang keluar jendela sembari bergerak tidak nyaman di dalam rengkuhannya.

Sebuah senyuman tersungging di bibir Baekhyun.

***

“Hei! Jung Hyerin!”

Hyerin dan Baekhyun baru akan memasuki gedung sekolah, saat seseorang meneriakkan nama Hyerin dengan lantang.

Hyerin lantas menoleh dan mendapati Oh Sehun sedang berlari ke arahnya.

Sehun mengatur napasnya sebelum berbicara, “Jung Hyerin, kenapa kau tidak menjawab telepon dariku?” tanyanya dengan napas masih terengah. “Kenapa kau menelponku semalam? Apa terjadi sesuatu?”

“Huh?” Hyerin mengerjap bingung. Ia langsung mencari-cari ponselnya di dalam tas. Begitu menemukannya, ia lantas membukanya dan di sana tertera 5 panggilan tak terjawab dari Sehun, 3 tadi malam dan sisanya pagi ini.

Hyerin lantas memandang Sehun agak lama, tertegun. “Apa kau khawatir padaku?”

“Tentu saja,” balas Sehun langsung. “Apa ibumu mengusirmu lagi?”

Baekhyun yang sebelumnya tidak tertarik dengan perbincangan mereka pun, akhirnya ikut menoleh dan menatap Hyerin dengan sedikit terkejut. Seingatnya, gadis itu tidak pernah mengatakan apa pun padanya terkait ‘ibu’ dan ‘diusir’.

Hyerin menunduk sedih dan mengangguk. Ia hendak berbicara lebih banyak, namun kemudian ia ingat bahwa Baekhyun juga berada di sana, jadi ia mengurungkan niat untuk bicara soal ibunya. “Nanti saja kuceritakan soal itu,” ujar Hyerin kemudian.

Baekhyun pun sadar bahwa dirinya sedang berada di posisi orang ketiga. Maka, ia menyahut, “Kalian ingin bicara berdua saja? Baiklah, aku tidak akan mengganggu.” Dengan itu, Baekhyun pun melenggang pergi.

“Sejak kapan kau dekat dengan laki-laki aneh itu?” tanya Sehun tiba-tiba, selepas kepergian Baekhyun.

“Huh?” tanya Hyerin memastikan. “Aku tidak dekat dengannya,” lanjutnya lagi.

Sehun bersedekap, memandang Hyerin dengan tatapan mengintimidasi. “Ini sudah ketiga kalinya aku melihat kalian bersama, dan kau masih bilang kalau kalian tidak dekat?”

“Tapi kami memang tidak sedekat itu, kok. Aku tidak bohong.” Hyerin mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Sehun untuk tidak perlu khawatir.

“Hyerin-a,” panggil Sehun, dengan nada lembut. “Jangan dekat-dekat dengannya.”

“Kenapa?” tanya Hyerin heran.

“Aku dengar dia sering membuat masalah. Kau bisa ikut terkena masalah kalau terus berada di dekatnya,” balas Sehun lagi. Ia tulus mengatakannya; ia mengkhawatirkan Hyerin.

Melihat itu, senyum Hyerin pun mengembang. “Apa kau khawatir padaku?”

“Harus berapa kali kukatakan kalau aku memang khawatir?” ujar Sehun sedikit sebal.

“Baiklah,” balas Hyerin dengan senyum semakin terkembang. “Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

Sehun akhirnya ikut tersenyum, lantas mengacak-acak gemas rambut Hyerin. “Kurasa makin hari ponimu makin pendek,” goda Sehun, lalu melenggang pergi dengan santainya.

Hyerin terkesiap mendapati perlakuan manis dari Sehun. Ia kemudian menyentuh poni dan rambut sebahunya. Ia pun tidak bisa menahan senyum. “Ya! Oh Sehun! Tunggu aku!” Lalu Hyerin mengikuti langkah Sehun dengan cerianya.

***

“Hei! Jung Hyerin! Kau kenapa?” Hayoon hanya bisa keheranan memandang Hyerin yang kini sedang mengeluarkan buku-buku dari dalam tas sembari bernyanyi kecil.

Hyerin pun menoleh dan menggeleng. “Aku tidak kenapa-kenapa, kok.”

“Jelas sekali kalau kau sedang bahagia.” Hayoon mencibir.

“Apa kelihatan sekali?” tanya Hyerin penasaran.

Hayoon pun mendecih. Persis seperti yang sudah ia perkirakan. Menurutnya, mudah sekali membaca seorang Jung Hyerin. Lantas, bagaimana bisa gadis itu begitu terobsesi untuk menjadi seorang detektif di saat ia bahkan tidak bisa berpura-pura sedikit pun?

“Hyerin-a, aku penasaran sekali apa yang kau lakukan sepulang sekolah belakangan ini,” ujar Hayoon mengganti topik pembicaraan. “Kau selalu pulang dengan terburu-buru. Apa terjadi sesuatu?”

Hyerin tidak langsung menjawab; tampak berpikir sebentar. Ia bimbang apakah dirinya harus memberi tahu Hayoon soal Baekhyun, atau tidak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan misinya secara diam-diam tanpa melibatkan orang lain. “Hayoon-a, bukankah kau tahu kalau akau harus kerja paruh waktu?” balas Hyerin berusaha menyembunyikan kebenarannya. “Bosku akan memecatku kalau aku datang terlambat.”

“Benarkah?” tanya Hayoon tidak yakin.

Hyerin mengangguk, lalu memutus kontak mata dengan Hayoon. Ia berharap gadis itu akan berhenti menanyainya soal itu.

“Kau mencurigakan,” gumam Hayoon, memandang Hyerin tajam.

***

Kepala Baekhyun masih tergeletak malas di atas meja saat guru Kim mengakhiri pelajaran dan keluar meninggalkan kelas. Tak lama setelah itu, ia melihat Hyerin berdiri dari bangkunya. Baekhyun yakin sembilan puluh persen bahwa gadis itu akan menghampiri dirinya dalam waktu hitungan detik.

Tapi ternyata dugaannya salah. Alih-alih menghampirinya, gadis itu malah berjalan ke luar kelas. Baekhyun pun bertanya-tanya. Kenapa? Apa dia sudah menyerah?

.

Baekhyun berjalan malas menyusuri kantin untuk mencari tempat duduk. Kali ini ia membawa nampan makanannya sendiri dan bukannya meminta-minta seperti biasa. Dari kejauhan, ia bisa melihat Hyerin, Hayoon, dan Sehun duduk di satu bangku.

Tapi alih-alih bergabung bersama mereka, Baekhyun malah memilih untuk duduk di bangku lain. Ia pun mendudukan diri di hadapan seorang laki-laki yang makan sendirian saja di meja itu.

“Apa kau tidak punya teman? Kalau begitu sama, aku juga,” ujar Baekhyun tanpa basa-basi.

Laki-laki di hadapan Baekhyun pun mendongak, lantas memandang Baekhyun malas.

“Apa kau tidak makan sayuran?” Baekhyun kembali bertanya saat mendapati sayuran di piring laki-laki itu tidak tersentuh sama sekali. “Kalau begitu aku akan memakannya,” lanjut Baekhyun lagi, lantas mencomot sayuran itu dengan tangannya.

Laki-laki itu merasa terganggu dan menatap Baekhyun tajam. “Apa kau tidak mengenalku?” tanyanya kemudian.

Baekhyun lantas menghentikan kegiatan makannya demi menatap laki-laki di hadapannya. “Apa aku harus mengenalmu?” balasnya cuek.

Laki-laki tadi berdecak. Ia benar-benar tidak habis pikir. “Aku ketua kelasmu, tahu.”

Baekhyun menghentikan kegiatannya mengunyah makanan, demi mengenali wajah laki-laki di hadapannya. “Apa mungkin kau Kim Dong…”

“Kim Jongdae,” koreksi laki-laki itu, kemudian berdecak sekali lagi. “Kau bahkan tidak mengenali ketua kelasmu sendiri. Aku penasaran apa saja yang kau lakukan selama di kelas.”

Baekhyun menampilkan ekspresi terkejut barang sebentar, sebelum kemudian kembali mengunyah makanan sembari mengedikkan bahu tidak peduli.

***

Ya! Oh Sehun! Apa kau tidak sadar kalau Hyerin belakangan ini bertingkah aneh?” tanya Hayoon di sela acara makan siang mereka.

Hyerin yang juga berada di sana langsung mendelik tajam pada Hayoon. Ia tidak habis pikir kenapa Hayoon perlu mengadukannya pada Sehun secara terang-terangan begitu.

Sehun pun menghentikan aktivitas makannya barang sejanak untuk memandang Hayoon di seberang meja, baru kemudian menatap Hyerin di hadapannya. “Aku juga tidak tahu kenapa, tapi kurasa ada hubungannya dengan laki-laki bernama Baekhyun itu,” balas Sehun pada Hayoon, namun pandangannya tidak beralih dari Hyerin.

“Baekhyun? Murid aneh di kelas kami itu?”

Sehun mengangguk. “Tiga kali aku melihat mereka sedang bersama-sama,” lanjut Sehun, masih belum mengalihkan atensinya dari Hyerin.

“Apa yang Hyerin lakukan dengan murid—”

Hyerin langsung menghentakkan sumpitnya ke atas nampan makanan. “Ya! Apa kalian tidak lihat kalau orang yang sedang kalian bicarakan ada di sini?”

“Astaga!” pekik Hayoon tiba-tiba. Ia lalu menunjuk ke arah meja yang berselang beberapa meja dari mereka.

Refleks Sehun dan Hyerin mengikuti arah telunjuk Hayoon. Dan di detik berikutnya, Hyerin hanya bisa terbelalak saat mendapati Baekhyun sedang melambaikan tangan ke arahnya. Sementara Hayoon menganga takjub, Sehun justru menampilkan raut wajah tidak suka.

Hyerin mengalihkan pandangannya dari Baekhyun, lalu memejamkan matanya sejenak. “Dia benar-benar gila,” keluhnya. Ia kemudian mencoba mengabaikan semua itu dengan melanjutkan aktivitas makannya.

Di lain sisi, Hayoon dan Sehun hanya bisa menatap Hyerin dengan puluhan pertanyaan bersarang di dalam kepala mereka. Terlebih Sehun, entah mengapa ia benar-benar tidak suka apabila laki-laki bernama Baekhyun itu berkeliaran di sekitar Hyerin.

“Apa ini?” Hyerin menjerit ketika mendapati kecambah di dalam makanannya. Demi Tuhan, ia benar-benar benci kecambah. Well, sekarang mood-nya benar-benar kacau karena Baekhyun dan kecambah itu.

Sehun tertawa geli melihatnya. Menggunakan sumpit, ia pun dengan sabar memindahkan kecambah dari makanan Hyerin ke piringnya, lalu memakannya. “Kalau kau tidak suka pada sesuatu, katakan padaku. Aku akan memakannya.”

Hyerin lagi-lagi tertegun dengan perlakuan Sehun. Meski pemuda itu sudah sering kali melakukannya, tetap saja rasanya membahagiakan setiap kali Sehun memperlakukannya dengan manis.

“Tsk, kalian seperti orang pacaran saja,” cibir Hayoon, sedikit sebal lantaran ia merasa seperti orang ketiga.

Hyerin lantas tersipu malu, sementara Sehun tertawa kecil.

“Pacaran apanya? Hyerin sudah seperti adikku,” ujar Sehun kemudian.

Hyerin serta merta terdiam, begitu juga dengan Hayoon.

Tepat setelah itu, seorang gadis menghampiri meja mereka. “Sehun-a, bisa kau bantu aku?”

Hyerin dan Hayoon menatap bingung kedatangan gadis itu, sementara Sehun langsung berdiri karena khawatir. “Jung Soojung, ada apa?”

Gadis bernama Soojung itu hampir menangis, matanya memerah. “Ayahku masuk rumah sakit karena serangan jantung. Bisakah kau antarkan aku dengan sekutermu? Kumohon, aku harus ke sana sekarang juga.” Kini gadis itu terisak.

Dengan mata kepalanya sendiri, Hyerin bisa melihat Sehun menarik tangan Soojung dan membawa gadis itu pergi.

Hyerin bisa melihat wajah khawatir Sehun. Mungkin selama ini dirinya salah sangka; ia pikir Sehun hanya akan menampilkan raut khawatir itu di hadapannya, namun nyatanya di depan gadis lain juga.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hayoon tiba-tiba. Ia khawatir karena raut wajah Hyerin langsung berubah drastis.

Hyerin mengangguk, lantas memaksakan senyum. “Memangnya aku kenapa?” balasnya, lalu melanjutkan aktivitas makannya meski ia sudah tidak berselera sama sekali.

***

Baekhyun bersiul kecil sembari menaiki undakan tangga satu per satu. Di saat murid-murid lain berhambur untuk masuk ke kelas karena bel masuk baru saja berbumyi, ia malah berencana untuk tidur di atap sekolah.

Di belokan tangga, ia berpapasan dengan Hyerin. Baekhyun kebingungan mendapati gadis itu baru saja dari atap.

Namun yang membuatnya lebih bingung, Hyerin mengabaikannya dan hanya memandang kosong ke depan; seperti tidak melihatnya sama sekali.

Baekhyun hendak memanggil gadis itu, namun ia urung melakukannya. Bukankah seharusnya ia senang karena itu berarti Hyerin tidak akan mengganggunya hari ini?

***

Di minimarket, Hyerin menata makanan ringan di rak makanan. Lalu, ia beralih pada rak peralatan mandi dan menata barang-barang di sana.

Sejak sepulang sekolah hingga saat ini, ia masih saja terbayang wajah khawatir Sehun di kantin siang tadi; lalu bagaimana cara Sehun berbicara pada Soojung dan menggenggam tangan gadis itu. Hyerin kemudian menghela napas. Mungkin selamanya ia hanya akan menjadi seorang teman bagi Sehun, tidak pernah lebih.

Ia lalu beralih ke meja kasir saat seorang pelanggan hendak membayar barang belanjaannya. Setelah menghitung jumlah belanjaan orang itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik, Hyerin pun berujar dengan sopan, “Totalnya sepuluh ribu won, Tuan.”

Hyerin pun mengangkat kepalanya untuk memandang pelanggan di hadapannya. Namun serta merta ia terdiam. Ia tidak begitu yakin, tapi sepertinya ia pernah melihat pemuda itu di suatu tempat. Hyerin kemudian menelengkan kepalanya untuk mengamati wajah pemuda itu lebih saksama.

Pemuda itu mengulurkan lembaran uang pada Hyerin. Namun begitu pandangan keduanya bertemu, pemuda itu kembali menarik uangnya. “Bukankah kau gadis yang waktu itu?” tanyanya.

Ah, sekarang Hyerin ingat. “Benar!” Hyerin menjentikkan jarinya. Rupanya ia tidak salah mengenali orang. “Kau laki-laki yang memukuli Baekhyun waktu itu, kan?” Hyerin mengangguk-angguk, meyakini tebakannya sendiri. “Siapa namamu… Park… Chen…” Hyerin berusaha mengingat-ingat nama yang pernah Baekhyun sebut tempo hari.

Pemuda itu kemudian memasukkan uangnya kembali ke dalam saku jaket dan membawa kantong belanjaannya begitu saja.

Hyerin tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat pemuda itu kabur tanpa membayar lebih dulu. Ia buru-buru beringsut ke luar dari meja kasir dan mengejar pemuda itu sampai ke luar minimarket.

“Hei, Park Chanyeol! Kau harus membayarnya dulu! Yaa!” Hyerin berteriak sekeras-kerasnya. Ia kemudian terkejut sendiri lantaran dirinya berhasil mengingat nama pemuda itu.

Hyerin tentu tidak bisa membiarkan pemuda itu kabur begitu saja. Ia lalu melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah pemuda bernama Chanyeol itu dengan kuat.

Dan, tepat sasaran. Sepatu Hyerin tepat mengenai kepala Chanyeol hingga pemuda itu jatuh terjerembab ke depan. “Sial!” Chanyeol mengumpat.

Hyerin buru-buru menghampiri Chanyeol dan memukuli Chanyeol dengan sepatunya yang sebelah lagi. “Mati kau! Mati! Mati! Aku akan membunuhmu!” Hyerin memukuli badan Chanyeol sekuat-kuatnya.

“H-hei! Apa yang kau lakukan? Hentikan!” Chanyeol hanya bisa menyilangkan tangan di depan kepala agar sepatu Hyerin tidak mendarat di wajahnya.

“AKU AKAN MEMBUNUHMU!” Hyerin benar-benar kalap.

“Oke oke, aku akan bayar!”

“Sudah terlambat! Bayar saja di neraka!”

.

Hyerin memandang lemas sepatunya yang kini rusak sebelah, lalu beralih menatap Chanyeol yang duduk di sebelahnya. Wajah pemuda itu tak lebih baik dari sepatunya; ada memar di mata dan di sudut bibirnya.

“Apa yang kau lakukan pada sepatumu? Kau bilang itu milikmu satu-satunya,” kata Chanyeol sebelum meneguk minuman kalengnya.

Hyerin mengangguk lemas. “Padahal aku baru akan gajian minggu depan,” balas Hyerin sedih. Tapi kemudian ia mendelik tajam ke arah Chanyeol. “Ini semua gara-gara kau! Kalau saja tadi kau membayar belanjaanmu dulu, aku pasti tidak akan berbuat anarkis dan mengorbankan sepatuku!” teriaknya tepat di depan wajah Chanyeol.

“Memangnya aku menyuruhmu memukul pakai sepatu?”

“Kalau saja tadi aku memukulmu pakai batu, mungkin sekarang kau sudah benar-benar berada di neraka,” balas Hyerin ketus.

Chanyeol langsung memandang Hyerin ngeri.

“Apa kau benar-benar wanitanya? Aku tidak begitu yakin,” ujar Chanyeol tiba-tiba.

Hyerin menoleh tajam. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Apa kau benar-benar pacar Baekhyun?”

“Huh?” Hyerin ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. “Pa-pacar siapa?”

“Maksudku, kupikir kau pacar Baekhyun karena Baekhyun rela berhadapan dengan kami hanya untuk menyelamatkanmu,” balas Chanyeol sedikit tidak yakin. “Apa kau.. bukan pacarnya?”

Hyerin hendak menyangkalnya dengan tegas, namun ia tampak berpikir sebentar. “Apa Baekhyun tidak pernah punya pacar sebelumnya?”

“Kenapa kau malah bertanya padaku? Aku itu tidak pernah akur dengannya, tahu!”

“Sudah, jawab saja!” Hyerin mengangkat tangannya.

Chanyeol refleks menjauhkan tubuhnya lantaran takut Hyerin akan kembali memukulnya dengan sepatu. “Oke, oke,” Maka, ia tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan gadis itu. “Aku tidak pernah melihat dia bersama seorang wanita sebelumnya, jadi aku berpikir bahwa dia tidak normal atau semacamnya.”

Hyerin tertegun, tampak berpikir.

***

Hyerin berjingkat-jingkat kedinginan lantaran hanya memakai sandal tipis yang ia dapat dari meminjam bosnya. Ia kemudian berjalan mengendap-endap untuk memasuki gedung sekolah. Benar, ia terlalu gengsi untuk pulang ke rumah dan berbaikan dengan ibunya. Jadi, ia memutuskan untuk menginap di sekolah malam ini. Karena besok adalah hari minggu, maka tidak akan ada yang menangkap basah kegiatannya esok hari. Bagus sekali.

Hyerin berhasil menerobos masuk melalui pintu samping tanpa ketahuan oleh penjaga yang sedang berpatroli di sekitar gedung sekolah.  Ia pun bergerak cepat di koridor demi mencari tangga yang akan membawanya ke atap sekolah.

Namun, saat sedang terburu-buru, ia menabrak sesuatu di belokan koridor. Hyerin seketika menjerit dan terjungkal ke belakang, sementara sesuatu itu tetap berdiri kokoh.

Ya! Jung Hyerin! Apa yang kau lakukan di sini?”

Hyerin yang semula menutup matanya lantaran ketakutan, akhirnya membuka matanya perlahan, dan menemukan Baekhyun kini berdiri di hadapannya. Ia kemudian berdiri, lantas memandang Baekhyun heran. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya setengah berbisik.

“Aku tadi ketiduran di atap sekolah,” balas Baekhyun sekenanya.

“Kau bisa kena masalah kalau tertangkap oleh penjaga sekolah.”

“Kau pikir kau tidak akan terkena masalah kalau ketahuan?” Baekhyun mencibir. “Lagipula apa yang kau lakukan malam-malam begini di sekolah?”

Hyerin menunduk sedih. “Aku tidak bisa pulang ke rumah, tahu.”

Baekhyun terdiam sebentar, lantas memandang Hyerin sedikit prihatin. “Apa benar… kau diusir oleh ibumu?” tanyanya ragu.

Hyerin hendak menjawab, tetapi kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu seseorang berteriak, “Ada seseorang di sana?”

Baekhyun dan Hyerin saling berpandangan.

“Apa yang harus kita—”

Tangan Baekhyun langsung membungkam mulut Hyerin, lantas ia menarik gadis itu untuk bersembunyi bersamanya.

Baekhyun menarik Hyerin ke sebuah ruangan, lalu mendorong gadis itu ke balik pintu dan membiarkan pintu itu sedikit terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sementara Baekhyun langsung memposisikan diri di depan Hyerin dengan tangan masih membungkam mulut gadis itu.

Suara langkah kaki terdengar makin jelas dan sekarang hanya menyisakan beberapa meter dari posisi mereka.

Hyerin menahan napasnya, sementara Baekhyun mengawasi penjaga sekolah itu melalui celah pintu yang ada. Namun beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki itu akhirnya perlahan menjauh. Keduanya pun membuang napas lega.

Pandangan Hyerin kemudian tidak sengaja jatuh pada wajah Baekhyun. Meski tidak begitu jelas lantaran pencahayaan yang kurang memadai, ia masih bisa melihat figur pemuda itu. Dan tiba-tiba saja, tangannya terangkat untuk menyentuh bibir Baekhyun.

Baekhyun yang terkejut karena merasakan sesuatu menyentuh bibirnya pun, akhirnya menunduk untuk menatap Hyerin. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya, lalu menjauhkan tangannya yang membungkam gadis itu.

Hyerin belum juga tersadar. Ia masih fokus mengamati wajah Baekhyun, terutama bibirnya. Entah mengapa, ia merasa de javu dengan situasi mereka sekarang.

Hyerin seketika tersadar dan menarik tangannya. Ia terkejut sendiri mendapati memori yang berkelebat di dalam kepalanya. Seperti mimpi, ia merasa pernah memandang Baekhyun sedekat ini sebelumnya dan saat itu dirinya-lah yang menarik pemuda itu untuk mendekat.

Tidak. Hyerin menggeleng kuat. Ia merasa bahwa mimpi yang pernah dialaminya itu benar-benar liar.

“Kenapa?” Baekhyun heran melihat perubahan mimik wajah Hyerin.

Hyerin langsung menutup mulutnya sendiri. Sekarang ia mengingat semuanya. Meski pun ia sendiri merasa tidak yakin, namun peristiwa itu tergambar jelas di dalam kepalanya. Sangat jelas. Saat ia menarik Baekhyun dan mencium pemuda itu; saat Baekhyun kemudian membalas ciumannya. Tidak. Hyerin tidak sanggup membayangkannya lebih lanjut.

“Hei! Jung Hyerin! Kau kenapa?” tanya Baekhyun bingung.

Hyerin masih syok. Ia tidak tahu apakah potongan peristiwa di dalam kepalanya itu hanya mimpi belaka, ataukah itu benar-benar terjadi padanya. Sekarang ia tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita.

Ya! Byun Baekhyun,” panggil Hyerin kemudian. “Apa kau pernah menciumku?”

“Huh?” Baekhyun tersentak.

.

To Be Continued

Advertisements

53 responses to “The Red Line [3rd] – pramudiaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s