Stay [Chapter 7] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (John Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Previous Chapter

Genap 20 usia Sena dan Jungkook saat Jeonghan, kakak Jungkook dinyatakan meninggal setelah kurang lebih dua tahun hanya terbaring koma di ranjang rumah sakit.

Sena datang ke pemakaman bersama Soomi, Heejoo dan tiga teman SMA-nya. Jimin, Namjoon, Taehyung, Hoseok juga Seokjin yang telah debut sebagai solois dan aktor pun juga datang. Semuanya memakai pakaian serba hitam. Menyemarakkan suasana berkabung itu sekaligus menemani Jungkook yang hanya sendirian dibantu oleh bibinya dan Mingyu.

Jungkook benar-benar kurus.

Sena yang dua tahun terakhir selalu bersamanya tahu persis apa yang membuat Jungkook bisa sekurus ini.

Pria itu tetap melanjutkan kuliah. Untuk menunjang biaya kuliahnya, dia mempergunakan uang sewa rumah keluarganya. Ya, dia memutuskan untuk menyewakan rumah itu pada orang lain, dan dia memilih untuk tetap tinggal di apartemen mungilnya. Lalu untuk biaya makan sehari-hari atau keperluan lainnya, akan dia dapat dari kerja serabutannya setiap hari. Biasanya, setiap hari minggu Jungkook akan pergi ke Gwangju untuk menemani kakaknya.

Kurang tidur, kurang makan, beginilah jadinya Jeon Jungkook sekarang. Teman-teman SMA-nya sampai tidak bisa mengenali dirinya lagi karena perubahan dirinya yang begitu besar.

Jungkook tersenyum pada satu persatu dari mereka. “Terima kasih sudah mau datang.”

Jimin sebagai teman pertama Jungkook sekaligus teman rusuh Jungkook, menatap Jungkook dengan begitu prihatin. Dia bukan orang yang gampang untuk dibohongi dengan senyum seperti itu.

Yaa, makanlah yang banyak setelah ini,” kata Seokjin sembari menepuk-nepuk bahu Jungkook.

“Hm, kau terlihat seperti mayat hidup sekarang,” sambung Hoseok.

“Kau bisa datang ke rumahku kalau butuh makan. Eomma akan dengan senang hati memasakkan sesuatu untukmu,” timpal Namjoon.

Sena yang berdiri di sisi lain Jungkook hanya bisa tersenyum sendu. Begitu banyak yang menghawatirkan Jungkook, bukan hanya dia seorang.

Jungkook tersenyum geli. Konyolnya senyumnya ini malah membuat dia mendapat makin banyak tatapan simpatik. Jimin yang sudah tidak tahan akhirnya memeluknya. Diikuti Taehyung, Namjoon, Hoseok dan yang terakhir Seokjin. Kelima pria itu berusaha menguatkan Jungkook yang malah cengengesan lucu seperti bayi yang tidak tahu apa pun. Yang ada bukan Jungkook yang menangis, melainkan mereka. Satu persatu dari para pria itu pun pamit pulang dengan mata basah.

Irene, Lisa, Jenny, Heejoo dan Soomi –kakak Sena, justru sudah menangis sejak tadi. Mereka juga ikut-ikutan memeluk Jungkook. Lalu pamit untuk pulang duluan.

Menyisakan Sena yang memang masih ingin di sana sampai Jungkook benar-benar mau kembali ke Seoul.

“Kau tidak pulang?” tanya pria itu sambil menggandeng Sena untuk duduk di sebuah bangku panjang.

“Aku akan pulang kalau kau juga pulang.”

“Aku sendiri tidak tahu kapan aku akan pulang.” Jungkook melepas jas-nya, kemudian membalutkannya ke tubuh Sena yang hanya memakai dress.

“Kalau begitu aku akan tetap di sini sampai kau pulang.”

Andwae, pulanglah duluan.”

Sena dengan tegas menggeleng, yang akhirnya membuat Jungkook menyerah dan membiarkan gadis itu terus bersamanya.

Hari itu, setelah upacara kematian selesai, Jungkook terpaksa membawa Sena ke tempat dia menginap. Yang tidak lain tidak bukan adalah motel. Sebenarnya bisa saja Jungkook mengantar Sena dulu ke Seoul hari itu juga, tapi dia tidak mau ambil konsekuensi karena hari sudah terlalu malam.

Maka dia membawa gadis itu ke sana.

Tentu saja bukan dengan maksud yang buruk.

Dia baru saja berduka, jadi mana mungkin dia membawa Sena ke motel untuk melakukan hal-hal laknat.

“Ganti bajumu, lalu tidur. Kau bisa tidur di ranjang. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang.”

“Sudah kubilang aku tidak akan pulang kalau kau tidak pulang.”

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Bukannya kau juga sedang magang di perusahaan ayahmu?” Jungkook menghampiri sebuah sofa. Menyimpan dasi dan tasnya di sana, tetap membiarkan kemeja putih melekat di badannya namun dengan bagian lengan yang dilipat sampai siku.

“Pokoknya aku akan terus bersamamu, titik.”

Jungkook pun membalikkan badan. Ditatapnya gadis dalam balutan jas hitamnya yang berdiri tak jauh darinya. Mata gadis itu bengkak. Pasti karena menangis seharian ini. Padahal Jungkook sudah bilang untuk tidak menangis karena memang tidak ada yang harus ditangisi.

“Kau sudah seharian di sini, Sena. Sudah waktunya bagimu untuk pulang.”

Entah kenapa kedua mata Sena kembali tergenang oleh cairan bening. “Kau bahkan belum makan seharian ini, Kook-a. Bagaimana mungkin aku pulang sementara kau di sini … hiks … sendirian. Aku tidak mau meninggalkanmu. Neomu shireo. Tolong biarkan aku menemanimu….”

Pria itu menghela napas. Dia mengayunkan tungkainya untuk mendekat. Mengusap pipi Sena yang basah yang sejak pagi tadi terus menangis untuknya.

Sena bukan menangis karena kematian Jeonghan.

Dia menangis karena Jungkook.

Jungkook yang menolak makan. Jungkook yang menolak untuk istirahat. Jungkook yang tetap tersenyum pada semua orang padahal harusnya dia menangis hari ini.

Tak bisa menahan diri, Sena pun memeluk Jungkook dengan erat. Melepaskan semua air mata yang benar-benar sulit untuk ditahannya hari ini.

Setelah puas menangis, Sena pun memutuskan untuk mandi. Sebelum itu dia memaksa Jungkook untuk beli makanan. Mau tak mau pria itu keluar juga untuk mencari makanan di saat Sena mandi.

Dia kembali tepat ketika Sena baru keluar dari kamar mandi. Dengan memakai baby doll kebesaran bermotif bintang.

“Kau beli soju juga ‘kan?”

“Hm. Hanya dua botol.”

“Bagus, itu sudah cukup.”

Soju itu murni pesanan Sena. Katanya, karena mereka sudah memasuki usia 20 tahun, dia ingin merayakannya dengan minum soju bersama Jungkook. Toh Jungkook juga tidak protes. Dia hanya ikut apa yang Sena mau karena tidak ingin berdebat panjang lebar dengan gadis keras kepala itu.

Mereka menghabiskan jajangmyeon dulu, baru menikmati Soju.

“Sebenarnya aku ingin minum soju pertama bersamamu. Sayang sekali, waktu itu kau terlalu sibuk. Jadi aku memutuskan untuk minum soju pertama dengan Soomi,” ujar Sena sembari mengamati gelas kecil soju yang ada di tangannya.

“Hm. Aku minum soju pertama bersama Namjoon setelah tak sengaja bertemu dia di Sungai Han. Aku juga maunya begitu, minum soju pertama bersamamu di apartemen. Tapi … aku benar-benar tidak punya waktu.”

Sena menghela napas. Lalu ia pun meneguk segelas soju itu dalam sekali tarikan napas.

“Kalau saja kau tidak menolak bantuan dari ayahku, kau tidak akan jadi seperti ini, Kook-a. Apakah kau benar-benar tidak mau menerimanya juga? Setidaknya kau bisa tidur tenang di malam hari karena uang itu.”

Berbeda dengan Sena, Jungkook menghabiskan soju-nya sedikit demi sedikit.

“Ayahku tidak mengajariku untuk melakukan itu, Sena. Aku tidak mau berhutang apa pun pada orang lain. Selagi aku masih sehat dan semua alat gerak tubuhku lengkap, kenapa aku harus bergantung pada orang lain? Aku bisa mencari uang sendiri untuk kehidupanku sendiri.”

Jungkook benar-benar sangat mirip seperti Yoongi dan Kihyun, begitulah yang ada di pikiran Sena. Tiga pria ini punya tipe yang sama. Sama-sama keras kepala kalau sudah urusan uang.

Sena pun menuangkan soju lagi ke gelasnya kemudian meminumnya sekali tarikan napas. Lagi, dia mengisi gelasnya dan meminumnya. Masih kurang, dia pun meminumnya langsung dari botolnya.

Yaa. Jangan seperti itu. Nanti perutmu sakit. Yaa!

Jungkook terpaksa menarik botol itu dari Sena sebelum gadis itu menghabiskan sisanya. Sena pun langsung berteriak marah dan meminta kembali botol itu. Namun Jungkook terus menjauhkannya.

Tiba-tiba saja Sena merasa mual dan dia pun berlarian ke kamar mandi.

Mendengar suara orang muntah, Jungkook lekas menyusulnya.

Dia mengambil semua rambut Sena, mengarahkannya ke belakang sambil memijat pelan tengkuk gadis itu.

“Lain kali jangan minum seperti itu lagi. Nanti perutmu bisa-bisa bermasalah.”

Sena pun berkumur setelah puas mengeluarkan semua isi perutnya. Dia terengah-engah usai menutup keran wastafel.

Masih terasa pijatan lembut tangan Jungkook di tengkuknya. Ia pun memejamkan mata sebentar untuk menikmati sentuhan itu.

“Sekarang waktunya tidur. Kaja.”

Bangun di sebuah motel Gwangju, Sena mendapati dirinya berbaring di ranjang sendirian. Jungkook ada di sebuah sofa panjang yang tidak jauh dari lokasi ranjang ini. Pria itu masih terbuai dalam mimpi, meskipun Sena tahu kalau Jungkook pasti tidak nyaman dengan tempatnya karena sofa itu meski panjang tetap kekecilan untuk ukuran dia. Belum lagi dia tidak memakai selimut karena hanya ada satu selimut di sini yang dipakai olehnya.

Dia terbangun setelah mendengar suara ponselnya.

Segera diambilnya benda itu yang semalam ia simpan di atas nakas.

Ada dua panggilan tidak terjawab. Dan dua-duanya berasal dari kontak yang sama.

Oppa

Siapa lagi Oppa yang dimaksud kalau bukan Yoongi. Dia belum mengganti nama kontak itu sampai detik ini.

Dahinya berkerut.

Padahal sudah dua tahun lebih Yoongi tidak pernah menghubunginya dan sekarang tiba-tiba meneleponnya.

Apakah ada sesuatu yang tidak diinginkan juga seperti kasusnya Jungkook?

Memikirkan kemungkinan itu, dia pun turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi untuk menelepon balik nomor tersebut.

Menunggu sekian detik, akhirnya panggilan tersambung.

Oppa gwaenchana?

“Hm. Wae?

Aneh.

Sena tidak merasakan getar apa pun lagi di hatinya saat mendengar suara berat yang seharusnya dia rindukan itu. Mungkinkah….

Dia buru-buru menggeleng.

“Ah tidak. Aku hanya penasaran kenapa kau tiba-tiba meneleponku.”

“Oh itu … ya … aku mau tanya, benarkah keluarga Jungkook sudah meninggal? Ayah … ibu dan hyung-nya?”

Sekarang Sena tahu kenapa Yoongi menghubunginya. Dia tersenyum tipis sambil mengangguk. “Ya, kakaknya baru saja meninggal kemarin. Tapi orangtuanya sudah dua tahun yang lalu.”

“Ah … aku tidak tahu. Seokjin memberitahuku kalau semua anggota keluarganya selain dia sudah meninggal. Tolong sampaikan rasa berdukaku padanya ya?”

“Hm. Akan kusampaikan nanti.”

Jeda sebentar.

Sena menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin watafel. Matanya yang sipit itu seperti tenggelam di balik kantung matanya yang bengkak, rambut berantakan, wajah kusut, benar-benar bukan Sena biasanya.

“Kau bagaimana? Kabarmu.”

“Aku baik. Oppa?”

“Hm, nado. Kau masih sering datang ke apartemenku?”

“Sudah tidak lagi sejak orangtua Jungkook meninggal.”

“Ah … kudengar kau sekarang satu kampus dengan Jungkook.”

“Hm. Juga satu apartemen dengannya.”

“Baguslah. Lalu sekarang kau di mana?”

“Aku masih di Gwangju, bersama Jungkook. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dalam kondisi seperti itu. Kalau kau mau tahu, dia sekarang tampak sangat berbeda dari saat kau terakhir kali bertemu dengannya. Mungkin kau sudah dengar ceritanya dari Seokjin.”

“Begitu ya … hm … kau memang gadis yang seperti itu, Sena.”

“Kau sendiri sekarang di mana?”

“Aku di Amerika. Mungkin akan menetap di sini setelah ikut wamil dua tahun nanti.”

“Wah … ternyata kau sudah tua ya.” Sena terkekeh dengan bayolannya sendiri.

Yoongi di seberang sana juga tertawa ringan. “Baru juga dualima. Aku bahkan belum pantas dipanggil ahjussi.”

“Tapi aku sudah memanggilmu ahjussi di usiamu yang ke duapuluh dua.”

“Itu karena kaunya saja yang menyebalkan.”

Mereka tertawa lagi. Kemudian Sena tersenyum setelah menyadari bahwa mereka masih punya sense seperti ini bahkan setelah lama tidak bertemu lagi.

“Sena….”

“Hm?”

Bogosipda.”

DEG!

Raut muka Sena pun berubah.

“Haha, aku masih saja memikirkanmu sampai saat ini. Sebenarnya aku mencoba untuk melupakanmu dengan tidak menghubungimu lagi. Tapi ternyata itu sia-sia saja. Bukannya menghubungi Jungkook, aku malah menghubungimu.”

Sena masih bergeming.

“Tapi kurasa kau tidak merasakan hal yang sama padaku. Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu merasa bersalah lagi.”

“Apa kau masih di sana, Sena?” tanya Yoongi setelah dia tidak mendengar suara apa pun dari Sena.

“Ya. Aku masih di sini.”

Keurae. Kurasa pembicaraan ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Bukankah kita juga sudah berjanji untuk saling melupakan satu sama lain? Salam untuk Jungkook, eo? Kuharap dia tidak membenciku lagi. Annyeong.”

Sambungan sudah diputus bahkan sebelum Sena menjawab. Gadis itu masih bergeming dalam beberapa detik sebelum menarik turun ponselnya.

Benar-benar tidak ada perasaan menggelitik setelah dia mendengar suara Yoongi.

Jadi benarkah dia sudah melupakan pria itu?

Ia pun menghela napas panjang.

Kemudian dia berbalik untuk keluar dari kamar mandi.

Ketika membuka pintu, wajah Jungkook yang baru bangun tidur pun terpampang nyata di depan matanya.

Mereka berdua saling melempar pandangan terkejut.

Tak berapa lama kemudian Sena tersenyum lebar. “Aigoo … tidurmu nyenyak?”

Jungkook pun lambat laun mengulum senyum juga. “Bagaimana denganmu?”

“Aku juga. Mungkin jauh lebih nyenyak darimu.”

“Baguslah. Kita akan pulang nanti. Segera bersiap-siap, eo?”

“Hm. Kau mau pakai kamar mandinya?”

“Ya, perutku mendadak mulas,” jawab Jungkook sembari mengelus perut ratanya.

“Oke. Aku akan packing barang dulu sambil menunggumu.”

Sena pun maju dua langkah, meraih leher Jungkook dengan kedua tangannya dan mengecup pria itu tepat di bibir. Tanpa berbicara apa pun lagi dan hanya tersenyum tipis, dia berjalan melewati pria itu dan bergegas mendekati tas-nya. Mulai berbenah.

Jungkook sendiri terpaku untuk beberapa menit.

Kemudian dia menggaruk tengkuknya canggung sembari memasuki kamar mandi.

TBC

Advertisements

15 responses to “Stay [Chapter 7] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Ini mah sena sudah beneran ngelupain yoongi dan berpaling ke jungkook baguslah kasian kalo sampai sena menunggu tanpa kepastian. Toh sudah ada yang pasti ngapain masih tunggu yag gak pasti 😀

  2. Andwaeeeeee… Yoongi udah dilupain 😂😂😂
    Yoongi..apa yang kamu lakukan ke sena itu jahat!! #hsg2

  3. Akhirnya yoongi muncul meskipun lwt telpon…mengobati kerinduan q pd yoongi..hihihi..yg dicium bibirnya malu2..:p

  4. itukan cuna ditelfon ga ada rasa lagi, kalo ketemu gmn coba sena kekekek.. aaah aku dr kmrn malam buka wordpressmu terus nunggu update-an HSG 2, baper liat kook-a :3

  5. Waah sena beneran udah move on lah haha
    Yoongi terima ya sena udh lupain kamu
    Kasian jungkook, untung sena selalu nemenin

  6. Annyeong, aku reader baru eon, maaf baru komen.
    Jadi ini sena bener2 udah lua sama yoongi dan bener2 jatuh cinta sama jungkook. Berharapnya sih kaya gituu. Berharap ending nya sena-jungkook.

  7. mungkin’kah 2x sena sudah gak mencintai yoongi lagi, dan dia coba memberi harapan sm jungkook…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s