“Ophelie” #3 by Arni Kyo

Ophelie (5)

Ophelie #3

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan || Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Chanyeol | Mark Tuan | Wu Kimi | Choi Haera | Kim Minseok | Byun Baekhyun | Park Jinyoung | Kim Taehyung | Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Multi Chapter

“hubungan terseksi didunia adalah persahabatan antara seorang lelaki dan seorang perempuan” – Mark Tuan

Read other chapter : 1, 2

MV Part 1

~oOo~

Chanyeol melangkah cepat menuju kelas 2-C yang terasa begitu jauh. Kaki panjangnya berderap diantara siswa yang berlalu-lalang. Ditangannya membawa susu kotak. Anggotanya melaporkan sesuatu yang mengejutkan hari ini. Yeonsung datang kesekolah dengan aroma alcohol melekat di dirinya. Jadi ia datang untuk memastikan.

Chanyeol tiba dikelas, saat Yeonsung dengan santainya tidur sambil mengangkat kakinya keatas meja. Mata gadis itu terbuka ketika Chanyeol mendekat. Sebuah senyuman yang berbeda terukir diwajahnya.

“ikut aku”.

“tidak mau”.

“Park Yeonsung!”.

“apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?!”.

Chanyeol mengipaskan tangannya. Benar. Yeonsung memang bau alcohol. Melihat gesture Chanyeol, Yeonsung hanya terkekeh sambil meniup-niupkan napasnya kearah Chanyeol. “hentikan!”. Bentak Chanyeol.  “Kau pilih ikut denganku atau kepala sekolah? Ingat beasiswamu, Yeon’ah”. bisik Chanyeol.

Terpengaruh dengan omongan Chanyeol, Yeonsung beringsut meninggalkana kelas diikuti oleh Chanyeol dibelakangnya.

Chanyeol membawa Yeonsung keruang dewan siswa. Setelah mengusir semua anggota yang berada diruangan itu. Seperti anak kecil, Yeonsung menyedot susu kotak yang diberikan Chanyeol seakan tidak lepas lagi.

“kau minum obatmu?”.

Yeonsung mengangguk.

“lalu kenapa kau datang kesekolah dalam keadaan seperti ini?”.

Yeonsung diam saja.

“kendalikan dirimu, Yeon’ah. hari ini, jangan masuk kelas jika kau tidak ingin beasiswamu dicabut”. Chanyeol berdiri untuk mengambil selimut dari dalam lemari. “berbaring saja disini sampai jam pulang”.

“baiklah”.

Setelah mendengar jawaban singkat dari Yeonsung. Chanyeol meninggalkan gadis itu, meski dengan perasaan khawatir. Chanyeol mengintip dari jendela sebelum benar-benar pergi. Yeonsung meletakkan susu kotaknya dimeja, berbaring dengan hati-hati lalu menutupi kakinya dengan selimut.

“dia tidak mabuk lagi”. Gumam Chanyeol. “tapi kenapa tingkahnya seperti itu?”.

“Baby, tempat mana yang ingin kau kunjungi hari ini?”. Tanya Luhan saat dimeja makan, menyantap sarapannya. Hari ini ia rela tidak masuk sekolah. Karena kedatangan sepupu nya dari Tiongkok secara tiba-tiba.

Angela Baby. Gadis cantik yang usianya diatas Luhan satu tahun. Mereka sangat akrab sejak kecil, Luhan adalah anak satu-satunya yang sedari dulu menjadi pusat perhatian. Dibanding dengan sepupunya yang lain, ia paling akrab dengan Baby.

“uh, aku ingin pergi kesemua tempat yang menyenangkan. Sudah lama aku tidak berkencan denganmu”. Jawab Baby lalu tertawa.

Seorang wanita paruh baya datang dan meletakkan telur mata sapi ditengah meja makan. Lalu ia sendiri duduk disamping Luhan. “jangan terlalu dekat lagi dengannya, Baby, Luhan sudah punya pacar”. Imbuh wanita itu – ibu Luhan.

“benarkah? Ah, bocah ini tidak memberitahuku tentang hal itu”. dengus Baby. Sedangkan Luhan hanya tersenyum-senyum malu. “kenalkan padaku sebelum aku kembali ke Beijing”. Pinta Baby.

Mendadak nasi yang dikunyah Luhan menjadi sulit ditelan. Luhan meminum beberapa teguk air putih. Mengenalkan Yeonsung kepada Baby? Itu hal mustahil untuk sekarang. Bertemu dengan Luhan saja, Yeonsung enggan. Apalagi sejak kejadian waktu itu, belum ada dari mereka yang menegur ataupun meminta maaf. “tidak bisa”.

“kenapa? Jahat sekali. Kau akan menyimpannya untukmu sendiri?”. Seru Baby dengan wajah tak percaya.

“nanti jika sudah waktu nya akan kukenalkan. Kau kembali saja ke Beijing tanpa bertemu dengannya”.

“kau benar-benar minta dihajar, ya?”. Baby menarik lengan bajunya hingga kebahu. “sudah lama sekali aku tidak menjewer telingamu itu, Luhan”.

Melihat Baby beranjak dari tempat duduknya, Luhan beringsut. Ia bersembunyi dibelakang ibunya. Baby menyerah, terus mengejar Luhan. Mereka berlarian mengitari meja makan. Ibu Luhan yang hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua anak itu. sudah lama sekali rumahnya tidak ramai seperti ini. ayah Luhan juga sering pergi ke luar negeri, jadi rumah ini begitu sepi.

Jam makan siang

Tadi Chanyeol menyuruhnya untuk diam di ruang dewan siswa hingga jam pulang. Tapi, sekarang Yeonsung malah mengantri untuk makan siang dikafetaria. Keberadaannya menjadi sorotan, ia berantakan dan bau alcohol. Yah, walaupun baunya tidak semenyengat tadi pagi.

“lihatlah, gadis itu pasti jadi gila karena Luhan membuangnya dan sekarang Luhan punya pacar baru”.

“aku sudah lihat potonya, bahkan pacar Luhan jauh lebih cantik dari dirinya”.

“dia terlalu besar kepala diawal, menolak Luhan akhirnya sekarang jadi stress”.

Yeonsung melirik kearah sekelompok anak yang tengah membicarakannya. Lirikan mata yang mengerikan itu berhasil membuat sekelompok gadis itu berhenti bicara dan melihat kearah lain.

ahjumma, tolong beri aku banyak sup. Aku sedang bernafsu untuk menghirup sup”. Pinta Yeonsung dengan sedikit aegyo pada petugas yang membagikan makanan dipantry.

“aish… gadis ini”. desis petugas itu sambil melakukan apa yang Yeonsung pinta.

“kau tahu kan aku ini siswi yang pintar, jadi aku harus makan yang bergizi agar otakku tidak lemah”. Tambah Yeonsung.

Wanita itu tertawa mendengar kata-kata Yeonsung. “pergilah, pergilah”.

Yeonsung tersenyum manis sebelum melangkah pergi, belum sampai dilangkah ketiga, senyumannya pudar. Berganti dengan wajahnya yang sinis. Yeonsung berjalan kearah meja dimana kelompok gadis yang tadi membicarakannya.

“aku boleh duduk disini?”. Tanya Yeonsung.

“kenapa harus disini? Aish… pergi saja cari tempat lain!”. Tolak seorang gadis – Im Yoonju yang sepertinya propokator dari kelompok ini.

Yeonsung memasang wajah murung. “sayang sekali, padahal aku juga ingin ikut membicarakan Luhan itu”. ujarnya. Yeonsung beranjak pergi. Tapi kakinya tersandung kekursi. Membuat piring makan yang ia bawa tumpah ketubuh Yoonju.

“kyaaa!! Panas!”. Pekik Yoonju. Sup dari piring Yeonsung memasahi tubuh Yoonju. Suara nyaring Yoonju membuat seantero kafetaria menoleh kearahnya.

Yeonsung tersenyum miring. “ups… sorry”. Ujar Yeonsung pelan.

“dasar kau – jalang!”. Yoonju mengangkat tangannya, hendak melayangkan sebuah pukulan kearah Yeonsung. Tapi seseorang menahannya. Tanpa mengedipkan matanya, Yeonsung menoleh kearah orang itu – Mark. “yak! Lepaskan aku!”.

“jika kau menamparnya, maka kau sama saja jalangnya”. Desis Mark sambil melepaskan tangan Yoonju. Kini ia beralih memegang tangan Yeonsung dan membawa gadis itu pergi dari sana sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Kimi terkekeh melihat kejadian itu. lagi-lagi Yeonsung membuatnya terkejut, sikapnya yang tidak bisa ditebak itu. Kimi merasa penasaran, ingin bertanya langsung kepada temannya itu tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Apalagi Yeonsung bersama Mark sekarang.

“apa yang barusan?”. Tanya Yeonsung dalam perjalanan melarikan diri dari kafetaria bersama Mark.

“apa?”. Mark menghentikan langkahnya lalu menoleh.

“yang barusan ‘maka kau sama saja jalangnya’, ya ~ kau menyebutku jalang?”. Yeonsung melipat tangannya, pipinya dikembungkan, dengan tatapan manja

Mark menghela napas berat. “tidak seperti itu –“.

“lalu seperti apa? Kau pikir aku ini bodoh, ya? Jika bukan denganku, maka dengan siapa kau menyamakan jalangnya gadis itu tadi? Kalimat mu itu”. Yeonsung memutar matanya sebal. “heol ~ sudahlah, terima kasih membawaku pergi dari sana”.

Mark mengedipkan matanya beberapa kali. Ia sampai termangu melihat tanggapan Yeonsung. “ya ~ ya ~ kau ini kenapa? Park Yeonsung, tunggu!”.

“jangan mengikuti ku, aku akan pergi ke toilet”.

Yeonsung keluar dari bilik toilet setelah beberapa duduk disana tanpa melakukan apapun. Ia membasuh tangan dan wajahnya lalu melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Matanya membelalak saat mendapati tiga orang dengan gesture menantang berdiri dibelakangnya.

Yeonsung mengabaikan ketiga orang itu.

Salah seorang dari mereka memulai, menjambak rambut Yeonsung hingga gadis itu terdongak. “yak! Lepaskan!”. Bentak Yeonsung menggema didalam toilet.

“aku akan melepaskanmu jika kau melepaskan pakaianmu”. Ujar seorang lagi yang berdiri disamping gadis yang menarik rambut Yeonsung – dia Yoonju.

“apa!?”. Tubuh Yeonsung dihempaskan ke dinding dengan keras. Kini ia terpojok dikeliling tiga orang gadis yang bertingkah seperti preman. “apa-apaan ini? kau lesbi atau semacamnya?”.

Plakk

Yoonju menampar Yeonsung. “aku memang sudah lama ingin menghajarmu. Kau terlalu sombong, kau pikir karena Luhan menyukaimu aku tidak akan berani melakukan ini kepadamu?!”. Yoonju menarik dasi Yeonsung hingga terlepas.

“brengsek”. Desis Yeonsung. Ia tak suka lagi-lagi dirinya dikaitkan dengan Luhan, Luhan dan Luhan. Yeonsung mendorong Yoonju dengan keras, ia menduduki tubuh gadis yang telah terbaring dilantai.

Yeonsung tak segan untuk menghajar Yoonju.

Tetapi kedua teman Yoonju berhasil menarik Yeonsung dan memegangi Yeonsung dengan kuat. Yoonju kembali bangkit. “aku beri satu kesempatan agar kau berlutut dan minta maaf kepadaku. Jika tidak aku akan menelanjangimu”.

“tidak. Tidak akan pernah!”. Jawab Yeonsung, gemetar.

“cih… kau benar-benar jalang, Yeonsung, jadi kau ingin telanjang agar semua laki-laki menyukaimu”. Yoonju mulai melepaskan satu-persatu kancing kemeja Yeonsung. “kau membuatku bau sup hari ini, aku akan memakai seragammu”. Tambah Yoonju.

Klik

Klik

Klik

Ketiga gadis itu dan Yeonsung menoleh kesumber suara. Didepan bilik toilet, Kimi berdiri santai sambil memotret adegan itu. Kimi tersenyum penuh arti. “tidak apa-apa. Teruskan saja. Lalu setelah ini kalian akan terkenal di SNS”. Kimi memutar ponselnya, sudah siap untuk mengunggah gambar yang ia dapat ke SNS.

“yak! Wu Kimi –“. Yoonju hendak melawan. Dipikirnya Kimi bisa digertak dengan ancaman.

“pembullyan disekolah. Wahh… ini disebut kekerasan atau pemerkosaan, ya?”. Kimi tertawa pelan seraya menunjuk kearah Yeonsung yang berantakan dengan kancing kemeja yang sudah terbuka sebagian.

“cih… menyebalkan sekali, baru mencalonkan diri sebagai ketua dewan siswa kau sudah sok berkuasa”. Yoonju melepaskan tangannya dari Yeonsung. Ia memberi kode pada kedua temannya untuk pergi.

“terserah padaku”. Kimi menyimpan kembali ponselnya lalu berjalan ke wash tafle, mencuci tangannya. Diliriknya Yeonsung yang tampak kesal sambil memasang kembali kancing kemeja nya.

“aku tidak akan mengucapkan terima kasih”. Ujar Yeonsung pelan.

“sudahlah. Aku mengambil gambar adegan tadi karena posisinya bagus dan ini bisa kugunakan untuk mendapat suara saat voting ketua dewan siswa nanti”. Setelah menjawab, Kimi berlalu begitu saja.

“jadi kau belum berpacaran dengan gadis itu?”. Baby tak percaya dengan ucapan Luhan barusan. Saat ini mereka sedang duduk berdua dikamar Luhan sambil menonton. Luhan mengangguk. “ada apa dengan wajah murungmu itu?”.

Luhan memutar tubuhnya menghadap Baby. “aku hanya bingung. Dia itu gadis yang aneh. aku menciumnya, dia marah lalu menamparku”. Luhan mengelus pipinya teringat saat Yeonsung menamparnya didekat lapangan.

“memangnya kau menciumnya dimana?”. Baby semakin penasaran untuk mendengarkan cerita soal orang yang Luhan suka.

“dibibir”. Jawab Luhan dengan cepat.

“maksudku lokasinya. Dirumah atau ditaman, atau entah itu dimana”. Baby mulai geram, baru kali ini ia mendengar Luhan ditolak oleh seorang gadis dan mendapat tamparan? Oh, tragis sekali. Pikir Baby.

“oh – didekat lapangan sekolah saat jam istirahat”.

Plakk

Baby memukul kepala Luhan keras-keras. Kali ini ia benar-benar geram. Baby berdiri sambil mondar-mandir didepan televisi. “ah, bocah ini memang benar-benar… astaga! Aku tidak tahu jika ternyata kau ini bodoh”. Umpat Baby.

“ya! Kenapa kau memukulku juga? Memangnya salah?”.

“tentu saja salah!”. Baby kembali duduk. Baiklah, lupakan tentang kebodohan Luhan mendekati Yeonsung itu. “tidak semua gadis suka diperlakukan seperti itu. dari awal saja kau sudah salah memperlakukannya”.

“tapi, saat pertama bertemu di diskotik dia terima saja saat kucium”.

Baby menepuk keningnya sendiri. Frustasi. “situasi dan waktu yang berbeda, lagipula saat di diskotik mungkin dia dalam keadaan tidak sadar”.

Luhan mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan oleh Baby. Ia saja yang terlalu terburu-buru ingin memiliki Yeonsung hingga tidak berpikir jika Yeonsung nyaman atau tidak ia perlakukan seperti itu.

“para gadis itu menyukai hadiah, kau bisa memberinya boneka atau apa yang kira-kira ia sukai. Lalu kencan romantis, makan malam diatas kapal atau candle light dinner. Gadis juga menyukai kejutan dan kata-kata romantis seperti puisi atau lagu”. Jelas Baby.

Luhan mengingat dengan pasti apa yang Baby katakan. “aku tidak tahu kalau harus sesulit ini. biasanya jika aku menyukai seseorang, ia akan menyukaiku juga lalu kita berpacaran”.

Baby menepuk-nepuk pundak Luhan. “kali ini kau harus merasakan yang namanya berjuang sendiri mendapatkan cinta”.

“lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kami tidak saling bicara beberapa minggu ini karena sesuatu”.

“aku punya ide”. Baby menjentikkan jarinya. “begini saja, aku akan membantumu memilihkan hadiah yang cocok untuknya. Tapi hadiah itu harus kau beli dari online shop ku”. Ujar Baby seraya menaik-turunkan alisnya.

Sepupunya tercinta ini memang bisa saja membuatnya tersenyum mengembang. Luhan mengacungkan jempolnya tanda setuju. “sepertinya ide bagus. Bisakah kita pilih hadiahnya sekarang?”. Luhan bersemangat.

Baby mengambil ponselnya dengan cepat. Membuka galeri di ponselnya untuk ia tunjukkan pada Luhan. Baby juga menyarankan beberapa hadiah yang mungkin akan Yeonsung sukai. “jadi dia suka warna apa? Merk apa yang disukainya?”

“aku tidak tahu. Sepertinya dia juga tidak terlalu fokus dengan merk tertentu. Carikan saja barang yang bagus tapi tidak tampak terlalu mahal”.

Malam ini Jinyoung merasa sangat bosan. Entah kenapa, ia hanya merasa tiba-tiba tidak berselera. Tadinya ia pergi ke rumah petak dan berkumpul bersama temannya yang lain. Tapi ia malah pergi karena bosan.

Jinyoung melangkahkan kakinya menuju apartemennya. Jinyoung terkejut melihat seorang gadis berdiri didepan pintu apartemennya. Gadis itu – Haera menyadari kedatangan Jinyoung langsung menoleh dan melambaikan tangannya.

“kau – apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Jinyoung.

“aku hanya mampir, tadi aku membuat sup ayam ginseng jadi aku kesini untuk memberikan ini”. Haera mengangkat bekal yang ia bawa terbungkus rapi dengan kain motif bunga.

Jinyoung mengangguk. Lalu ia membuka pintu apartemennya. “masuk dulu saja jangan langsung pulang”. Ajak Jinyoung. Haera mengangguk sambil mengikuti Jinyoung masuk ke dalam apartemennya.

Haera mengedarkan pandangannya. Dapat dilihat diatas shofa terdapat beberapa baju yang diletakkan begitu saja. Juga ada banyak bekas minuman kaleng diatas meja. “sedikit berantakan disini, duduk saja dimana kau nyaman”. Suruh Jinyoung sambil berjalan ke dapur.

“kau tinggal sendiri?”.

“tidak. Ada dua makhluk tidak tahu diri tinggal bersamaku”. Jawab Jinyoung seraya terkekeh. “ingin minum apa?”.

“apa saja”.

Jinyoung memilih untuk mengambil beer kaleng. Dibawanya kepada Haera bersama beberapa camilan. Lalu Jinyoung sendiri duduk disebelah Haera, memeriksa apa yang dibawa oleh gadis itu.

“darimana kau tahu alamatku?”.

“kau sendiri yang memberikannya kepadaku, oppa”. Jawaban Haera membuat Jinyoung menoleh terkejut. Benarkah? Kapan? Jinyoung tidak ingat. “waktu aku mengirim pesan kepadamu, kau membalas dengan mengirim alamatmu”. Tambah Haera menyadari jika Jinyoung tidak ingat.

Ah.

Begitu rupanya. Sekarang Jinyoung yakin jika dua makhluk tak tahu diri itulah yang harus bertanggung jawab atas ini semua. Jinyoung hanya mengangguk. Mengalihkan perhatian Haera dengan mencicipi masakan Haera lalu memujinya. Yah, memang masakannya pantas dipuji karena rasanya enak.

“silahkan diminum”. Tawar Jinyoung.

“ya”. Tangannya mengambil sekaleng minuman yang disediakan oleh Jinyoung. Sebenarnya ia belum pernah mencoba minuman seperti ini. Merasa penasaran dengan rasanya, jadi Haera dengan cepat mencoba minuman itu. “rasanya – aneh”.

Jinyoung terkekeh mendengar komentar Haera. Jinyoung memegang tangan Haera, lalu mengarahkan kaleng yang dipegang gadis itu agar Haera kembali mencoba untuk minum. “coba seteguk lagi maka kau akan merasakan minuman ini enak”.

Mau tak mau Haera menuruti perkataan Jinyoung. Menenggak minuman itu. Satu kaleng. Dua kaleng. Tiga kaleng. Hingga Haera merasa pusing, ia mulai mabuk. Haera tidak sadar sudah jam berapa sekarang? Dan entah sejak kapan kakinya berada diatas paha Jinyoung?

“wahh ~ Jinyoung oppa ada banyak”. Ujarnya mulai menunjuk-nunjuk bayangan Jinyoung yang ia lihat. Tanpa aba-aba Jinyoung malah mencium gadis mabuk itu. Haera tidak diam saja, ia membalas ciuman Jinyoung.

Ponsel Haera bordering. Tapi Haera tidak menggubris telpon yang masuk. Telpon dari ibunya.

Biarkan aku bersenang-senang malam ini, kau selalu menyuruhku belajar. Itu membosankan. Pikir Haera.

Kimi melirik jam tangannya. Hampir bel masuk tetapi Haera belum juga datang. Ia menunggu temannya itu datang didepan gerbang bersama Yeonsung. Berbeda dengan Kimi, Yeonsung sejak tadi hanya diam, tak lupa dengan wajahnya yang selalu tampak bosan. Kimi mulai menebak-nebak apa yang dipikirkan Yeonsung hingga ia harus berdiri disini menunggu Haera.

“kemana gadis itu?!”. umpat Kimi.

Dari kejauhan Haera muncul, ia baru saja turun dari mobil antar-jemputnya. Haera melihat kedua temannya berdiri didepan gerbang, tapi ia malah memalingkan wajahnya. Bisa ditebak pasti kedua temannya itu marah padanya.

annyeong”. Sapa Haera setibanya dihadapan Kimi dan Yeonsung.

“kau semalam kemana sampai orang tuamu harus datang kerumahku untuk mencarimu”. Tanya Yeonsung langsung pada intinya.

Haera tampak takut untuk menjawab. Benar dugaannya. Belum lagi tatapan benci Yeonsung kepadanya. Rasanya Haera ingin menangis.

“bisakah kita bicarakan ini ditempat lain saja, ini tempat umum, Park Yeon”. Ujar Kimi sama tak sukanya dengan sikap Yeonsung.

Yeonsung memutar matanya. Ia berdecak. “sudahlah, lupakan. Yang penting kan Haera sudah muncul”. Balas Yeonsung sambil berbalik meninggalkan tempat itu. “memangnya dia anak kecil. Menyebalkan sekali aku harus terlibat”. Umpat Yeonsung.

Haera dan Kimi yakin sekali Yeonsung sengaja tidak memelankan suaranya agar Haera dapat mendengar umpatannya. Haera jadi merasa bersalah kepada teman-temannya. Ia tidak berpikir jika orang tuanya akan mendatangi rumah temannya untuk mencarinya. Sejak dulu memang ibu Haera tidak suka dengan Yeonsung, karena tahu riwayat ayah Yeonsung yang seorang kriminal.

“hah ~ abaikan saja dia”. Kimi mengibaskan tangannya didepan Haera. “Haera’ya –“. Mata jeli Kimi menangkap tanda merah dileher putih Haera. Kimi hendak menyentuh tanda itu.

Haera menepis tangan Kimi dengan cepat. “mian ~ aku harus ke kelas sekarang”. Haera meninggalkan Kimi, gadis itu masih menatap Haera yang berjalan semakin menjauh dengan hati penuh pertanyaan.

Sepulang sekolah

Yeonsung berjalan pelan sambil menatapi amplob putih yang ia pegang. Teringat tadi saat guru konseling memberikannya ini. sebuah surat peringatan dan besok orang tua atau walinya harus datang untuk bertemu dengan kepala sekolah dan orang tua murid lainnya. Kekacauan yang dibuat Yeonsung beberapa hari lalu membuatnya harus bertanggung jawab.

“bagaimana ini?”. gumam Yeonsung frustasi.

Ia tak ingin memberikan surat itu kepada ayahnya. Dan ia juga tidak mungkin memberikan surat itu kepada walinya, Pengacara Park. Masih tidak tahu harus melakukan apa, jadi Yeonsung memilih untuk menyimpan surat itu didalam tasnya.

“Park Yeonsung!”. Panggil Chanyeol dari gedung seberang. Yeonsung membelalakan matanya. Chanyeol pasti tahu tentang hal ini, jadi Yeonsung memutuskan untuk berlari menjauh agar Chanyeol tidak mengejarnya.

Langkahnya terhenti sebelum sampai didepan gerbang. Ayahnya berdiri didepan gerbang sambil menengok kedalam sekolah, mencari dirinya. Yeonsung berdecak kesal dan memutar arah. Mungkin ada jalan lain yang bisa ia gunakan untuk keluar dari sekolah ini tanpa bertemu Chanyeol ataupun ayahnya.

“ya ~ kau mau kemana?”. Tanya Mark yang kebetulan berpapasan dengan Yeonsung. Langkah Yeonsung jadi tertahan karena Mark berdiri didepannya.

“Yeonsung!”. Panggil ayahnya. Oh – ayahnya berhasil menemukan dirinya.

Mark menengok ke arah pria paruh baya yang memanggil Yeonsung barusan. “orang itu memanggilmu”. Ujar Mark.

“aku tidak ingin bertemu dengannya”. Yeonsung melewati Mark dengan cepat tanpa menatap pria itu. Mark melihat sikap aneh Yeonsung, ia berpikir jika ahjussi yang tadi memanggil Yeonsung adalah orang jahat. Jadi ia mengikuti langkah Yeonsung.

Mark membantu Yeonsung keluar dari belakang sekolah. Tempat dimana ia sering masuk ketika datang terlambat, dan pergi ketika ia bosan disekolah.

“ya ~ siapa orang itu tadi? Kenapa dia memanggilmu, sepertinya penting”.  Mark mengikuti Yeonsung setelah mereka berhasil memanjat tembok belakang sekolah.

Yeonsung tampak enggan menjawab, jadi Mark berhenti bertanya. Teringat perkataan Kimi waktu itu kalau Yeonsung tak suka urusannya dicampuri.

“kau belum berbicara dengan Luhan lagi? Sebenarnya, Luhan melakukan hal itu kepada ayahmu bukan tanpa alasan. Aku juga sebenarnya tidak ingin mengatakan ini kepadamu, tapi kalian sama-sama keras kepala”. Oceh Mark panjang lebar.

“aku tidak mau bicara denganmu lagi jika kau mengatakan hal yang tidak penting tentang masalah waktu itu”.

Mark memasuki sebuah perpustakaan umum. Menengok ke kanan dan kiri, menimbang-nimbang harus pergi kebilik mana terlebih dahulu. Lalu ia memilih untuk pergi ke kiri, disana ia dapat melihat deretan buku yang dipajang. Mark menarik salah satu buku hingga membuat celah untuk melihat ke lorong sebelah.

Mark tersenyum melihat Kimi sedang menyandarkan punggungnya. Gadis itu selalu dengan gaya yang sama. Memakai earphone sambil membaca komik. Wajahnya tampak serius seolah dia sedang berada dalam cerita.

“Kimi’ah”.

Bukan Mark yang memanggil Kimi barusan. Melainkan orang lain. Mark bertanya-tanya siapa gerangan orang itu? dari suara yang tidak asing, Mark mengenal suara ini. tak lama Jinyoung muncul sambil membawa sebuah buku. Jinyoung menarik earphone Kimi.

“kau tidak lelah membaca sambil berdiri?”.

“kakiku sudah keram, kenapa kau lama sekali?”. Umpat Kimi.

Jinyoung tersenyum polos. Jadi rupanya Kimi menunggunya yang tadi mengatakan akan mengambil beberapa buku sebentar. “Ayo duduk saja disebelah sana”.

Kedua orang itu pergi ke tempat duduk yang berderet di dekat jendela. Mark hanya bisa mengintip dari balik lemari buku. Sepertinya Kimi dan Jinyoung hanya belajar bersama. Jadi Mark memutuskan untuk berkeliling perpustakaan. Ia tak ingin bergabung lalu bertingkah sok dekat dengan Kimi. Meskipun Jinyoung adalah teman dekatnya.

Setelah ia puas berkeliling. Mark kembali ke tempat dimana Kimi dan Jinyoung duduk tadi. Gadis itu tampak duduk sendiri. Mark bergegas mendekat, langsung duduk disebelah Kimi layaknya pengunjung lain.

Kimi menoleh. “kau –“.

“kenapa?”.

“tidak apa-apa. Kebetulan sekali bertemu disini”. Jawab Kimi lalu kembali membaca.

Mark sedikit memutar tubuhnya menyerong kearah Kimi. “kau sendirian kesini?”.

“tadinya bersama seseorang, tapi dia sudah pergi. Lalu aku sendirian. Kemudian kau muncul, jadi aku berdua lagi”.

Jawaban itu berhasil membuat Mark tertawa, sayang sekali ia harus menahan diri untuk tidak tertawa lebih keras lagi. Mengingat ini adalah perpustakaan. “begitu ya”. Kimi menggelengkan kepalanya, heran mengapa Mark bisa tertawa hanya karena kalimatnya.

“aku sedang diperpustakaan. Kenapa ka uterus menelpon?”. Jinyoung berbicara dengan orang diseberang telpon. Alasan yang membuatnya harus pergi meninggalkan Kimi diperpustakaan. Sejak tadi Haera menelponnya. “oh, begitu. Baiklah, tunggu aku”.

Jinyoung melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Karena apartemennya tidak jauh dari perpustakaan umum, jadi ia memilih untuk jalan kaki. Haera menelponnya mengatakan jika sekarang ia berada diapartemen Jinyoung.

Ah, gadis itu sudah tahu kata sandi apartemennya, jadi ia bisa masuk begitu saja. Jinyoung berharap Bambam dan Jackson tidak ada disana. Mereka berdua pasti akan mengganggu acaranya dan Haera.

Jinyoung memasuki apartemen tepat saat Haera meletakkan panci diatas meja makan. Suasana seperti ini membuat Jinyoung merasa sudah menikah. “kau tidak perlu repot-repot seperti ini”.

“aku tidak merasa direpotkan. Oppa, kau kan sudah kelas 3, jadi pasti sibuk belajar makanya aku memasak makan malam untukmu sebelum kau kembali ke sekolah”. Ujar Haera sambil mengambilkan nasi untuk Jinyoung.

“baiklah. Aku berterima kasih kau peduli padaku”.

Haera meletakkan semangkuk nasi didepan Jinyoung. Lalu memasukkan sup ke mangkuk lain. “besok aku akan membawakanmu bekal saja, jadi aku tidak akan datang ke apartemenmu”.

Jinyoung mengangguk dan mulai menyuap nasi. “kau baik sekali”. Lengan lurus Jinyoung mengusap pipi Haera gemas. Sukses membuat Haera tersipu, pipinya jadi memerah. Setelah Jinyoung menyelidiki tentang Haera dibantu oleh Taehyung, Jinyoung tahu jika Haera memang sudah menyukainya bahkan sejak kelas 1.

Setelah mendengar cerita dari Mark, alasan mengapa Luhan memukuli ayahnya. Yeonsung merasa benar-benar marah sekarang. Yeonsung pergi ke tempat ayahnya sering minum-minum, tapi ayahnya tidak ada disana. Gadis itu segera berlarian kerumahnya. Membuka pagar berkarat didepan rumahnya dengan kasar lalu menuju pintu rumah.

Yeonsung menghentikan langkahnya. Sedikit takjud dengan apa yang ia lihat. Ayahnya duduk bersimpuh didepan lemari yang memajang poto ibu Yeonsung. Park Jongwon duduk sambil menimun soju, ia juga meletakkan soju disamping poto itu.

appa”.

Jongwon menoleh. “Yeon’ah, kau sudah pulang. Kenapa kau berlari saat aku memanggilmu disekolah tadi?”.

“aku tidak mendengarmu memanggilku”. Jawab Yeonsung dengan sinis. “aku tahu kenapa temanku sampai memukuli appa. Kenapa appa melakukan itu kepadaku?”.

Jongwon diam, melihat putrinya berdiri dihadapannya dengan tatapan penuh kebencian. “Yeon’ah, eommamu –“.

“kenapa tiba-tiba eomma? Selama ini kau tidak peduli dan selalu menyiksanya hingga akhirnya ia meninggal”. Potong Yeonsung dengan tangan mengepal. Jika mengingat saat ibunya akan meninggal, Yeonsung tak bisa menahan emosinya. “kau bahkan tidak hadir dipemakamannya”.

“aku sangat menyayangi Lee Soyeon, karna itulah aku cemburu padanya. Soyeon berselingkuh dengan Pengacara Park”. Lirih Jongwon seperti akan menangis.

“tidak! Kau tidak menyayangi eomma, kau cemburu bukan karena sayang tetapi karena kau tidak percaya padanya”. Yeonsung menarik napas berat.

Mendadak Jongwon berdiri, mencengkram erat kedua lengan Yeonsung. “benar. Aku tidak percaya padanya. Kau ingin tahu kenapa aku berusaha menjualmu? Setiap kali aku melihatmu, kupikir kau bukan putriku”.

appa”.

Luhan pergi ke sekolah hari ini, akhirnya, setelah satu minggu ia tidak masuk karena ada sepupunya berkunjung. Baby telah kembali ke Beijing kemarin sore. Pagi ini, Luhan dengan semangat mengayuh sepedanya menuju sekolah. Satu minggu, pasti banyak hal yang telah ia lewatkan.

Ngomong-ngomong ia juga merasa rindu dengan suasana sekolah dan seseorang.

Sambil mengayuh sepeda, Luhan mulai menyanyi mengikuti lagu yang ia dengarkan dari ponselnya. Luhan berhenti karena lampu hijau untuk menyebrang belum menyala. Jalanan tampak ramai.

Diseberang sana, bis yang mengantar penumpang berhenti di halte. Yeonsung turun dari bis lalu berdiri sejenak di halte. Ia melihat Luhan diseberang jalan.

“Luhan!”. Panggil Yeonsung reflek.

Luhan menoleh, tersenyum lalu melambaikan tangannya. Saking bahagia karena Yeonsung memanggilnya, Luhan mengayuh kembali sepedanya. Tidak melihat disebelah nya ada mobil yang sedang melaju kearahnya. Yeonsung melihat mobil itu, ia hendak berteriak memperingati Luhan. Tetapi sebuah bis berhenti didepan Yeonsung.

Yeonsung dapat melihat beberapa orang disekitar sana berlarian kearah Luhan tadi. Yeonsung panic, ia segera berlari melewati bagian belakang bis. Dijalan raya, Luhan terkapar.

“Luhan!”. Yeonsung berlari kearah tubuh itu tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam. Beberapa orang hanya melihat tanpa melakukan apapun. “bagaimana ini?! ya! Jangan mati dulu. Aku belum minta maaf kepadamu, sialan!”. Yeonsung menekan dada Luhan, memberikan pertolongan pertama.

Luhan tidak merespon.

Kemudian Yeonsung menunduk, menempelkan telinganya didada Luhan. Jantungnya masih berdetak. Tiba-tiba Yeonsung merasakan sepasang tangan merangkulnya.

“yah ~ bogoshipeo”. Lirih suara itu, tepat-ditelinga-Yeonsung yang menempel didada Luhan.

Yeonsung beringsut bangun. Merasa malu sekali. “ya! Kau berpura-pura? Tsk! Menyebalkan”. Yeonsung menghujani Luhan dengan pukulan geram. Luhan malah terkekeh tanpa dosa. Gadis itu bangkit, Luhan pun melakukan hal yang sama.

ahjussi, terima kasih telah bekerja sama”. Ujar Luhan sambil membungkuk pada sopir mobil yang tadi akan menabraknya.

Ah, ternyata pria tua itu tahu Luhan tidak terluka dan hanya berpura-pura. Yeonsung heran, dibayar berapa pria itu hingga mau membantu Luhan? Tadi saat Yeonsung menunduk untuk memeriksa detak jantung Luhan, ternyata Luhan membuka matanya dan memberi kode agar tidak memanggil ambulans.

“ya! Tunggu aku”. Luhan menuntun sepedanya, mengikuti Yeonsung menyebrang jalan. “kau mengkhawatirkanku, hm, hm?”. Luhan mencolek-tolek pipi Yeonsung.

“bagaimanapun juga aku ini manusia”. Desis Yeonsung.

“kupikir kau malaikat”. Canda Luhan

“lakukan itu lagi, maka aku akan benar-benar membunuhmu”.

Yeonsung melangkah semakin cepat. Luhan tersenyum senang. “ah, bukankah tadi kau bilang ingin minta maaf”.

Langkah Yeonsung terhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Luhan. Setelah ia pikirkan lagi dan lagi belakangan ini, akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf jika bertemu Luhan. “ya, aku minta maaf karena memukuli mu dikelas waktu itu. aku sudah tahu kebenarannya”.

Luhan tersenyum sambil mengangguk. “permintaan maaf diterima dengan syarat”.

“syarat?”.

“berkencanlah denganku”.

Mark melangkah masuk ke dalam bis. Sebenarnya bis sudah penuh, mungkin karena banyak orang yang hampir telat jadi memaksa untuk ikut daripada harus telat. Terpaksa Mark harus berjejal dengan penumpang lainnya sambil berdiri. Diantara sekian banyak penumpang, Mark mengenal satu orang. Mark melangkah untuk mendekati orang itu – Kimi, meski sulit karena harus melewati penumpang lainnya.

“Kimi’ah”. panggil Mark yang saat itu telah berdiri dibelakang Kimi.

“oh? Kau – naik bis juga”. Dengan susah payah Kimi memutar tubuhnya. Ia bersandar ditiang bis.

Tiba di halte berikutnya, bis berhenti beberapa penumpang turun. Tapi tak membuat penumpang yang belum sampai merasa lega. Ada penumpang lain yang masuk.

“ya! Jangan mendorong!”. Teriak orang-orang dibelakang. Pasti mereka berdesakan masuk ke dalam bis. Keributan dibelakang menimbulkan gelombang dorongan hingga ke depan. Tak terkecuali Mark.

Dengan sigap Mark memegang tiang yang dijadikan Kimi sebagai tempat bersandar agar tidak jatuh. “aish… kenapa orang-orang ini?”. dengus Mark sedikit sebal. Tanpa ia sadari jika jaraknya dan Kimi begitu dekat. Mark menoleh pada Kimi, gadis itu hanya menatapnya dengan mata membulat.

Dorongan terus terjadi, apalagi saat bis membelok. Mark menggunakan tubuhnya agar Kimi tidak terdesak diantara orang-orang ini. sambil sesekali melirik keatas, dimana wajah Mark tampak kewalahan tapi tetap bertahan.

Bis berhenti dihalte selanjutnya.

Tanpa sengaja, Jinyoung yang saat itu sedang berdiri di halte melihat Mark dan Kimi didalam bis yang berhenti. Dengan posisi seperti itu… eeerrr, Jinyoung jadi sedikit sebal.

oppa, kita naik bis yang ini?”. Haera menarik tangan Jinyoung. Pria itu menahannya.

“bis nya sudah penuh. Kita tunggu yang lain saja”. Jawab Jinyoung. Ia memilih untuk tidak melihat lagi kearah bis yang kembali melaju.

Tadi saat ia sedang menunggu bis, tiba-tiba mobil mewah berhenti dihadapannya dan Haera keluar dari mobil itu. ya,  gadis itu sengaja, tidak ingin diantar sampai kesekolah agar bisa pergi bersama Jinyoung yang ia temui dihalte.

“tapi sebentar lagi bel masuk berbunyi. Apa sempat?”. Tanya Haera.

“jika kau takut telat kenapa harus pergi bersamaku? Tadi kan sudah bagus kau diantar dengan mobil pribadi”. Oceh Jinyoung. Entahlah, ia merasa kesal. Haera menunduk. “ah, maaf, aku tidak bermaksud”.

Haera diam saja.

“kalau kita telat maka ikut saja denganku ke apartemen. Aku tahu kau pasti takut pulang ke rumah”. Jinyoung memberi solusi. Bisa gawat jika gadis manja seperti Haera menangis disini.

Senyuman Haera mengembang. “baiklah”.

Mereka turun dari bis setelah bis berhenti di halte. Kimi memukul lengan Mark sambil tertawa pelan. “ya ~ kau punya punggung yang kuat, ya?”.

“punggungku – kenapa?”.

Kimi melipat tangannya. Menatap intens kearah Mark. “waktu itu kau melindungi Yeonsung dengan punggungmu, dan tadi kau –“. Kimi mendadak diam. Wajahnya memanas jika mengingat posisi mereka di bis tadi.

“tadi aku?”. Mark malah membungkukan tubuhnya, ingin melihat sejajar dengan wajah Kimi. Oh – Kimi takut wajahnya jadi merah. Memalukan. “Kimi’ah, aku kenapa?”. Mark semakin senang menggoda Kimi.

“awas”. Kimi menarik Mark hingga pria itu berdiri disebelahnya. Mark berdiri terlalu ditengah hanya karena ingin berhadapan dengan Kimi.

Beberapa mobil pribadi membelok menuju gerbang sekolah mereka. “ada acara apa sampai-sampai banyak mobil yang datang?”. Mark bertanya-tanya.

“entahlah”. Kimi menggeleng pelan. Ia juga tidak tahu apa yang membuat mobil-mobil itu memasuki sekolah seperti iring-iringan pengantin.

Kedatangan mobil-mobil pribadi dihalaman sekolah membuat banyak siswa heran. Sesuatu pasti telah terjadi. Terlihat orang yang keluar dari masing-masing mobil, sepasang suami istri dengan setelan mewah. Beberapa anak memanggil dan berlari kea rah orang tua mereka.

Ruang rapat telah dipenuhi oleh orang tua murid yang datang pagi itu. mereka ingin menyampaikan protes dan tuntutan kepada sekolah.

“gadis itu memukul putriku, bagaimana bisa aku diam saja”. Seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Im Yoonju menyuarakan protesnya. Sedangkan Yoonju memeluk ibunya.

“murid itu terlalu arogan. Kami tidak ingin anak kami juga menjadi korban kekerasan yang ia lakukan nantinya”. Imbuh orang tua yang lainnya.

“benar. Jika tidak ditindak lanjuti, kejadian ini pasti akan terulang”.

Keadaan diruangan itu menjadi sangat ribut. Guru yang ada disana berusaha menenangkan orang tua yang mengamuk. Anak mereka juga tak tinggal diam dan melaporkan apa saja yang sudah Yeonsung lakukan. Memukul Luhan, berciuman disekolah, hingga datang ke sekolah dalam keadaan mabuk dan banyak lagi.

Yeonsung memasuki ruangan itu. mendadak suasana jadi hening. Semuanya menoleh kearah gadis yang berdiri kaku didepan pintu. Sendirian.

“permisi”. Yeonsung membungkuk. Guru Ok segera membawanya duduk didepan.

“dimana orang tua atau wali mu, Park Yeonsung?”. Tanya guru pembimbing konseling. Guru Shin yang terkenal killer. Luhan dan kawan-kawan saja malas menghadapi Guru Shin.

“mereka semua sibuk, jadi aku mewalikan diriku sendiri”. Jawab Yeonsung.

Guru Shin berdecak kelas, bahkan Yeonsung menjawab tanpa menengok padanya. Kepala Sekolah, Lee Hyukjae mengangkat tangannya agar Guru Shin tidak marah. Para ibu-ibu menatap benci kearah Yeonsung.

“jadi ini gadis yang melukai putriku? Cih… kupikir dia benar-benar luar biasa. Ternyata tidak lebih cantik dari Yoonju-ku”.

omo ~ lihatlah caranya menatap. Terlihat jika dia memang arogan”.

“harap tenang. Sebelum menuduhnya yang bukan-bukan, sebaiknya kita dengarkan secara langsung apa yang akan dikatakan Yeonsung tentang dereta kejadian yang dituduhkan”. Kepala Sekolah angkat bicara.

Yeonsung berdiri. “aku tidak melakukan kesalahan”.

“kau memukulku, Park Yeonsung!”. Teriak Yoonju.

“karena kau yang memulai, kau mengeroyokku untuk kesalahan yang tak kulakukan padamu”. Balas Yeonsung lagi. Berusaha tetap tenang.

eomma, gadis itu benar-benar mengerikan”. Rengek Yoonju pada ibunya.

“jika aku memang bersalah, maka aku akan menerima konsekuensinya”.

Para guru yang berada disana saling menatap. Ucapan Yeonsung barusan membuat para guru berpikir jika Yeonsung memang tidak bersalah. Apalagi Guru Ok yang berlaku sebagai wali kelas 2-C.

“sebelum itu – tidakkah seharusnya kau minta maaf kepada putriku?”. Sahut ibu Yoonju.

“sudah kubilang aku tidak melakukan kesalahan. Kenapa aku harus meminta maaf?”. ucap Yeonsung sedikit lantang.

Brakk

Ibu Yoonju memukul meja dengan keras. Jika saja Yeonsung berdiri didekatnya, pasti ia lah sasaran pukulan itu. “aku minta rapat komite sesegera mungkin untuk menindaklanjuti gadis ini”.

Rombongan orang tua pergi dari ruangan itu tanpa mendengaran guru yang ada disana terlebih dahulu. Apalagi orang tua Yoonju, mereka tidak ingin berdamai dengan Yeonsung. Akhirnya rapat dilakukan saat itu juga. Dan Yeonsung disuruh menunggu diluar ruang rapat. Setelah 30 menit rapat selesai, Guru Shin memanggil Yeonsung.

“kami sudah membicarakan masalah ini dan mengambil keputusan”.

Entah kenapa, kalimat itu membuat Yeonsung sedikit gugup. Ia bahkan tak berani mengangkat kepalanya. Guru Shin menyodorokan selembar kertas kepada Yeonsung. Yeonsung tersenyum.

TBC

“songsaengnim, gamsahamnida”.

“masukkan nomor ponselmu”.

“bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menyukai gadis yang sama?”.

“bagaimana kau bisa akur dengan appa-ku?”.

“telpon aku saat kau sudah sampai dirumah, bodoh”.

“aku tidak bisa terus berpura-pura. Aku menyukai gadis lain”.

#OMAKE

YS : Jinyoung sunbae, sebenarnya siapa yang kau sukai? Kimi atau Haera?

JY : aku menyukaimu

YS : Luge!!! (pergi)

WK : ya ~ Park Jinyoung! Berhenti menggoda gadis!

JY : aku suka es krim coklat

WK : Markeu, ayo kita beli susu kotak (pergi)

Just For Your Information!

  • Musim Semi dimulai sejak akhir bulan Maret sampai awal bulan Mei.
  • Musim Panas dimulai pada bulan Juni hingga Agustus, dan puncak musim panas adalah bulan Agustus.
  • Musim Gugur di Korea dimulai pada bulan September hingga bulan November.
  • Musim Dingin di Korea biasanya dimulai antara bulan Desember hingga bulan Februari, dengan suhu terdingin yang muncul pada bulan Januari
Advertisements

23 responses to ““Ophelie” #3 by Arni Kyo

  1. Luhan udah masuk sekolah lagi, dan yeayy dia makin akrab sama yeonsung. Hasil rapatnya gimana tuh? Yeonsung aman kan?

  2. aaa ternyata bner kan…. klo ada yg 2 org teman yg sma2 suka dg seorang gadis, Kimi!!?! huooo ksian Mereka, kasian Heera, ksian Kimi n kasian jg Mark n Jinyoung! aduh Luhan unyu’ banget deh yg pura2 it…. wkkkk 😛 aaah! tmbah seru ceritanya!! Next nya ditunggu…. 😀 😉

    • kasihan semuanya wkwkw ditunggu aja chapter selanjutnya unni… duhh unni ini ngikutin dri chapter 1 :3 aku seneng masaaaa….

      thanks for read and comment ^^

  3. njirrr kirain luhan beneran kecelakaan, eh ternyata cuma pura pura.

    jinyong sama mark suka kimi? trus heera gimana? diakan suka sama jinyoung.
    di tunggu next nya

  4. rada kesel dikit sih sama pertemanan yeonsung hyera kimi kayak cuman petemanan yang cuman nyarik untung aja

  5. tanda tanda ni luhan ama yeonsung #ciee

    karna sibuk jadi gk pernah buka skf, eh sekalinya buka eonni kyo udah update sampe part 4 jadi semangat nih…
    makin lope2 ma eonni kyo ❤❤

  6. Nah nah Haera apa yg kau lakukan dengan Jinyoung?? wah knapa Jinyoung jahat skali memanfaatkan Haera pdhal sukanya sama Kimi .-.
    Luhan Libur sminggu cuma karna sepupunya datang,daebakk #prokprok #lanjutkan hhe.. aktingnya jga meningkat smpe Yeonsung khawatir gituu.. makin akur ya kalian berdua hihihi..
    Nah kapan ini tiga sahabat akrab lagi (Kimi-Haera-Yeonsung) ??

    keep fighting min 🙂

  7. Seneng deh tu Luhan disamperin sama Yeonsung, jadi jawabannya apa kok gk dikasi tau siii… ada cint segi4 semoga pertemanan Heera sama Kimi gk bakal rusak krna cowok..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s