[CHAPTER 22] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Action–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Kembalinya Se-Hun ke London dengan meninggalkan ibu dan adiknya di Korea menandakan dimulainya kembali misi yang sempat tertunda karena keberadaan Hee-Ra beberapa waktu lalu.

 

Sasaran awal mereka adalah Louis Parker beserta anak buahnya, namun kali ini dipersempit, dimana hanya Louis Parker-lah yang akan menjadi target mereka.

 

Tentu saja untuk melakukan itu, Se-Hun dan kawanannya harus cukup bekerja keras, mengingat betapa banyak bodyguard yang selalu mengelilingi pemuda kaya berusia tiga puluh satu tahun itu.

 

Setelah Daniel berhasil mendapatkan jadwal Louis, mereka segera meluncur ke tempat yang akan dituju pria itu. Sebuah Restoran elit bergaya Eropa klasik yang telah di-booking oleh Louis semalaman hanya untuk berfoya-foya. Yah, ia memang sangat suka membuang uang untuk pesta, toh kekayaannya juga tak akan habis hanya untuk hal seperti ini.

 

“Buatlah kebakaran seolah-olah akibat arus listrik,” gumam Se-Hun dalam mobil. Ia menerawang dari balik jendela, “walau sudah mem-booking seluruhnya, Louis akan menempati ruang VIP.”

 

Daniel dan Kevin yang duduk di kursi depan mengangguk bersamaan, sementara Jasmine dan tiga orang lainnya berada di mobil lain.

 

“Rael dan Alea yang akan melakukannya, mereka sangat pintar dalam memanipulasi hal seperti ini,” ucap Kevin meyakinkan.

 

Se-Hun mengangguk, kali ini pandangannya terfokus ke arah Daniel. “Jangan lupa matikan semua CCTV, kita tidak boleh sampai ketahuan.” Ia berhenti sebentar sebelum kembali mengeluarkan suara. “Oh ya, apa kau sudah menemukannya?”

 

Daniel langsung mengerti, ia buru-buru mengangguk. “Ya, aku sudah menemukannya. Setelah ini kau bisa langsung melihatnya.”

 

Ia tahu Daniel memang sangat profesional dan bisa diandalkan. Kepiawaiannya memang tak perlu diragukan lagi, tak salah bila organisasi memberikan predikat terbaik dari yang terbaik pada Daniel sebagai hacker. Ia bisa meretas dan mendapat informasi dengan cepat melalui kedua tangannya.

 

Tidak butuh waktu lama, Rael dan Alea terlihat sedang berjalan ke arah Restoran mengenakan seragam pegawai. Yah, mereka akan menyamar sebagai salah satu staff di tempat itu. Mereka tidak perlu terlalu memperlihatkan diri di depan staff lainnya, yang penting langsung mengerjakan apa yang telah diperintahkan dan semuanya selesai.

 

Sementara Rael tengah menyalakan api, Alea mengunci pintu keluar maupun masuk ke ruang VIP dan memastikan Louis Parker berada di sana. Tidak lama kemudian kepulan asap serta kobaran api mulai terlihat. Kedua orang tadi segera berlari menyelamatkan diri serta meninggalkan sekumpulan staff yang tengah kebingungan dibuatnya.

 

Se-Hun tersenyum puas. Ia tidak perlu susah payah hanya untuk hal sekecil ini. Keberhasilan Alea untuk mengunci pintu patut diacungi jempol, gadis itu pasti harus melangkahi beberapa bodyguard Louis yang tengah berjaga, tapi hebatnya dia berhasil.

 

Well, kita hanya perlu menunggu berita kematian Louis menjadi headline sebentar lagi. Pasti seluruh kota akan gempar karenanya.

 

 

 

 

Untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menjalankan misi, berpesta di salah satu klub malam sepertinya tidak masalah. Sementara yang lain tengah asik minum dan beberapa menari, Se-Hun nampak serius dengan Daniel. Pria berambut pirang itu tengah menunjukkan sebuah folder pada Se-Hun.

 

File yang sangat diinginkan oleh pria itu.

 

“Semua ada di sini, kau bisa membacanya,” gumam Daniel sambil memberikan laptopnya pada Se-Hun.

 

Segera Se-Hun menerima uluran laptop dari Daniel dan mulai membuka satu persatu file yang ada dalam folder tersebut.

 

Matanya membulat, pria itu memang cukup berbeda dengan empat belas tahun lalu, tapi ia masih bisa mengenalinya dengan kesamaan mata mereka. Ah, mungkinkah dia melakukan operasi plastik dan mengubah identitasnya? Kalau iya, bukankah pria itu tidak memiliki banyak uang? Tidak, mungkin saja uang yang diberikan Bruce dulu digunakannya dengan cukup baik hingga bisa seperti ini.

 

“Dia mengubah identitasnya beberapa tahun terakhir, dia juga harus melakukan operasi plastik karena kecelakaan.

 

Se-Hun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Daniel. “Dan terakhir kali ia terlihat berada di Bandara New York? Apa kau tahu ke mana dia akan pergi?” tanyanya penuh antusias.

 

Kali ini Daniel menaikkan kedua pundaknya bersamaan. “Ya, lihatlah di file yang berikutnya. Mungkin kau akan sedikit terkejut.”

 

Terkejut?

 

Se-Hun mengerutkan keningnya, kenapa ia harus terkejut?

 

Tak mau mengulur waktu lebih lama, Se-Hun segera membuka file selanjutnya. Dibacanya pelan-pelan setiap kata dalam file tersebut, sampai kemudian matanya benar-benar terbelalak.

 

Hei!

 

Apa yang dilakukan orang itu?

 

“London? Untuk apa dia kemari?” Se-Hun bertanya pada diri sendiri, suaranya lebih tinggi daripada sebelumnya. Ia menengok ke arah Daniel. “Apa ada kabar baru lagi? Apa kau tahu kenapa dia ada di sini? Brengsek. Ini benar-benar aneh.”

 

“Hei, hei, calm down,” ujar Daniel berusaha menenangkan Se-Hun. Ia memang tidak tahu pasti siapa pria yang ada dalam file tersebut dan apa hubungannya dengan Se-Hun, tapi melihat ekspresi yang tergambar dari mimik mukanya, Daniel yakin mereka memiliki masa lalu yang kelam.

 

“Bukankah kalian berada di kota yang sama? Kenapa kau tidak menemui dan bertanya langsung padanya?”

 

Oh yeah! Ide bagus, tapi bodoh.

 

“Bertemu dengannya? Aku tidak yakin bisa menahan puluhan atau bahkan ratusan umpatan keluar dari mulutku saat melihatnya secara langsung.”

 

Well…” Daniel memutar bola matanya. “Kau bisa memikirkannya besok. Kenapa sekarang kita tidak berpesta saja?” Ia melirik ke arah Jasmine yang tengah asik menari dengan Alea. “Kurasa, aku ingin menikmati malam ini dengan Alea. Dia gadis yang mempesona.”

 

Ya, ya, ya, Se-Hun mengerti. Ia menggerakkan dagu sebagai tanda memberi izin Daniel untuk beranjak. Kedua matanya masih fokus ke layar laptop, lagipula Daniel juga tidak meminta kembali laptopnya. Ia keluar dari folder tersebut dan masuk ke folder lain. Ia ingin melihat rekaman CCTV saat sedang mengerjakan misi di Restoran tadi. Tentu saja mematikan CCTV Restoran bukan berarti mematikan CCTV dalam hal yang sebenarnya. Daniel hanya melakukan hacking pada CCTV Restoran tersebut dan mengambil alih agar terhubung ke laptopnya.

 

Namun rasa ingin tahunya malah beralih pada sebuah rekaman CCTV yang diambil beberapa hari lalu, tepatnya di St Mary’s Hospital. Jasmine muncul dalam rekaman, ia nampak begitu senang. Matanya menyipit, Se-Hun berusaha mengamati siapa pria yang tengah menjadi sasaran Jasmine. Wanita itu mengucapkan beberapa kata sebelum akhirnya menyuntikkan cairan ke dalam infus.

 

Beberapa detik kemudian, setelah Se-Hun mulai menyadari kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, matanya membulat sempurna, jantungnya seolah berhenti berdetak kala pikirannya teringat akan kamar Shin Jae-Woo.

 

Ya, benar!

 

Nama Rumah Sakit yang tertera juga sama, bahkan beberapa menit setelah Jasmine meninggalkan pria itu tergolek lemas tak berdaya, seorang wanita nampak masuk dari pintu dan langsung berlari sambil berteriak histeris.

 

Tunggu dulu!

 

Se-Hun yakin seratus persen bila ia mengenal wanita yang tengah menangis histeris dalam CCTV. Ia tahu, ia sangat tahu bila wanita itu adalah Kang So-Hee. Itu berarti? Lelaki yang dibunuh Jasmine adalah Shin Jae-Woo? Ayah angkatnya?

 

Mungkinkah ini alasan kenapa Jasmine merahasiakan targetnya? Apakah ini yang menyebabkan Jasmine menggunakan softlens dan berdandan seformal itu?

 

Brengsek!

 

Se-Hun tak bisa membiarkannya! Berani-beraninya Jasmine membunuh anggota keluarganya? Berani-beraninya Jasmine membuat Hee-Ra menangis! Gadis itu harus menerima akibatnya!

 

Amarah yang meluap membuat Se-Hun tak mengindahkan aturan, ia menutup laptop Daniel dengan keras dan membantingnya ke sofa. Wajahnya merah padam, mencoba menahan kemungkinan untuk mengeluarkan puluhan umpatan dari mulutnya.

 

Jasmine yang masih tampak menikmati menari di lantai dansa langsung ditarik paksa oleh Se-Hun. Berkali-kali gadis itu menolak dan mencoba melepaskan diri, ia tak mengerti kenapa Se-Hun berlaku sekasar ini.

 

Puluhan pertanyaan yang sama terus mengalir dari bibir Jasmine kala Se-Hun terus menyeretnya untuk naik ke atap, sayangnya pria itu tak menjawab sedikitpun. Ia hanya menengok sebentar dan melemparkan tatapan membunuh pada Jasmine.

 

Oh ya ampun, Jasmine takut sekarang. Pikiran negatifnya perihal kemungkinan Se-Hun telah tahu bila ayah angkatnyalah yang menjadi target Jasmine tiba-tiba masuk. Ia menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya di dorong begitu saja ke dinding.

 

“Apa yang kau lakukan?!” teriaknya pada Se-Hun.

 

Pria itu menajamkan pandangannya pada Jasmine, kemudian mencekiknya menggunakan tangan kanan. “Kau pikir aku bisa terus-terusan dibodohi? Kau pikir aku tidak tahu bila kaulah yang membunuhnya!”

 

Sialan!

 

Se-Hun benar-benar telah mengetahuinya!

 

Tenang Jasmine, kau harus tenang. Kau pasti bisa mengatasi semua ini, batin Jasmine.

 

“A-aku tidak tahu ap-pa yang ka-u bica-rakan,” jawabnya terputus-putus karena Se-Hun terus mengencangkan cekikannya pada leher Jasmine.

 

“Katakan! Katakan padaku siapa yang menyuruhmu untuk melakukannya!”

 

Jasmine terus berusaha menghindar. Ia tidak akan bunuh diri. “Ak-ku benar-benar tid-ak ta-hu!”

 

“Kau pikir aku akan mempercayainya?” Se-Hun makin murka, ia mengeluarkan pistol dari balik saku dan menempelkannya tepat di samping kepala Jasmine, sementara tangan kanannya masih mencekik gadis itu. “Katakan padaku siapa yang menyuruhmu melakukannya, Jasmine Rochester.” Ia berhenti sebentar, matanya berkilat, “atau kau ingin menggantikan orang itu untuk membalaskan dendam ini? Aku tidak segan-segan membunuhmu, kau tahu?”

 

Jasmine tidak ingin mati sekarang. Ia berusaha melonggarkan cekikan Se-Hun dan mulai mengeluarkan suara, “A-lexan-der Jo-nes,” ucapnya putus-putus.

 

Nama itu?

 

Se-Hun membelalakkan matanya, Alexander Jones bukanlah pria biasa, ia cukup dekat dengan Shin Jae-Woo, mereka bahkan bekerja sama untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan.

 

Teman terdekatmu memang musuh paling berbahaya. Se-Hun melepaskan leher Jasmine dan menjauhkan pistol dari kepala gadis itu. Ia memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya, “Kau selamat hari ini, Jaze. Sekali lagi kau membahayakan keluargaku, jangan harap aku akan memberimu kesempatan untuk hidup,” ujarnya lalu pergi begitu saja.

 

 

 

 

Sehari berlalu tanpa Se-Hun rupanya terasa lebih lama. Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum Hee-Ra sempat terbangun dari tidurnya, pria itu sudah pergi. Kang So-Hee bilang Se-Hun ada urusan kantor mendadak sehingga mau tak mau harus pulang ke London.

 

Sementara ia akan menyusul pulang besok, seorang diri. Well, setelah memikirkannya beberapa kali, Kang So-Hee memilih untuk menetap di Korea lebih lama, beliau akan tinggal bersama Kang So-Ah dan putranya di sini, sedangkan Hee-Ra harus kembali ke London untuk menyelesaikan kuliahnya.

 

Awalnya Hee-Ra sempat tak setuju pada pilihan ibunya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saja sang ibu butuh waktu untuk menenangkan diri.

 

Ponselnya berdering, pasti dari Jong-In.

 

Hee-Ra segera meraih benda kecil itu dari meja dan duduk bersandar headboard. Wajah Jong-In muncul di layar, pria itu tengah bertelanjang dada dan keringat terlihat mengucur di tubuhnya.

 

“Aku baru selesai latihan, kau pulang hari ini, kan?” tanyanya.

 

Hee-Ra mengangguk. “Hm. Aku merindukanmu.”

 

Jong-In mengukir senyum manis di bibirnya. “Aku lebih merindukanmu. Ah, kau ingat pria yang mengundangmu menari di pestanya waktu itu?”

 

Pria? “Louis Parker?” Hee-Ra mengerutkan kening.

 

Jong-In langsung berseru, “Ya, benar. Baru saja ada berita di televisi kalau dia meninggal dalam kebakaran hebat di restoran.”

 

Ekspresi Hee-Ra berubah serius, ada sedikit rasa terkejut dalam pikirannya, tapi entah mengapa dia merasa hal itu memang akan terjadi. Maksudku, sejak melihat seseorang yang mirip dengan Se-Hun di pesta waktu itu, Hee-Ra memiliki firasat hal buruk akan terjadi pada Louis.

 

Tunggu dulu, sebenarnya Hee-Ra sangat yakin bahwa pria di pesta itu memang Se-Hun. Ia hanya berusaha mengelaknya. Hee-Ra menggigit bibir bawahnya selama beberapa saat, mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau akan  menjemputku nanti?”

 

“Tentu.” Jong-In terdiam selama beberapa saat, ia mendekatkan layar ponsel ke wajahnya dan berbisik, “Aku senang melihatmu sudah bisa tersenyum seperti tadi,” lanjutnya.

 

See you later.” Ia berhenti sejenak dan melambaikan tangan, “Aku harus berkemas, pesawatku berangkat jam sembilan,” lanjutnya yang sedetik kemudian memutuskan video call.

 

Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Jong-In, Hee-Ra tidak langsung berkemas. Ia mencari kontak Se-Hun dan menulis beberapa patah kata di pesan.

 

‘To : Oh Se-Hun

 

Aku pulang hari ini. Kau tidak perlu menjemputku ke airport, aku akan pulang bersama Jong-In.’

 

 

 

 

Se-Hun berhenti di salah satu club malam. Rambut pirang palsu, kaos oblong, tahi lalat palsu di sekitar dagu dan sebuah kaca mata rupanya mampu membuat Se-Hun nampak berbeda.

 

Ia melangkah yakin melewati dua orang bodyguard yang yang telah berjaga di depan pintu. Kedua matanya menelusuk ke seisi ruangan remang-remang, seorang pria berjas hitam yang tengah asik bersenda gurau dengan beberapa wanita di ujung sana adalah sasarannya.

 

Se-Hun tahu melakukan hal ini sendirian di tempat ramai sangat beresiko, tapi amarah juga dendamnya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tega-teganya Alexander membunuh Shin Jae-Woo!

 

Perlahan ia mendekat ke bar, duduk tepat di samping Alexander tanpa disadari olehnya. Untuk mengalihkan perhatian, Se-Hun mulai mengeluarkan suara untuk memesan minuman, sementara tangan kanannya menarik gelas Alexander secara perlahan. Sebelumnya ia memastikan bila Alexander benar-benar sibuk dengan jalang di sekelilingnya. Ia tidak ingin rencananya gagal.

 

Something to drink, sir?” tanya seorang bartender.

 

Bombay Sapphire.”

 

“Okay.”

 

Begitu sang bartender nampak sibuk dengan kegiatannya, Se-Hun mulai beraksi. Ia mengambil sesuatu dari saku dan mengubah posisi duduknya agak miring. Tangannya sengaja menyiku gadis yang tengah berdiri di samping kiri Alexander hingga ia berbalik dan menatap Se-Hun.

 

Gadis itu memberikan senyum nakalnya begitu menyadari ada pria tampan yang sedari tadi dianggurkan. Ia selangkah maju, membiarkan pahanya menempel dengan lutut Se-Hun.

 

Alone, dear?” tanyanya dengan nada menggoda.

 

“Oh?” Sandiwara dimuali. Se-Hun mengedipkan sebelah matanya, “Bila kau mau menemani, maka aku tak akan sendirian,” balasnya tak kalah menggoda.

 

Sekali jalang tetaplah jalang, gadis itu langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Se-Hun. “Bahkan aku tidak masalah bila harus menemanimu sampai pagi, sayang.”

 

Lihatlah, betapa mudahnya memengaruhi jalang murahan seperti dia. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Se-Hun. Tangan kanannya merengkuh erat pinggang gadis itu dan sesekali mengelusnya, sementara tangan kirinya sibuk memasukkan serbuk yang barusan diambilnya dari saku ke minuman Alexander.

 

“Mendekatlah, wangimu sangat menakjubkan,” godanya yang sedetik kemudian telah melahap bibir gadis itu tanpa basa-basi.

 

Untuk mengakhiri aksinya, Se-Hun memberikan sedikit sentuhan di paha gadis itu. Ia mengelusnya pelan lalu melepaskan ciuman. “Biarkan aku menghabiskan minumanku dan kita akan bermain sampai pagi.”

 

Ia menjauhkan gadis itu dari tubuhnya lalu mengambil minuman yang baru saja ditaruh di bar. Kedua matanya tak pernah lepas dari sosok Alexander yang tengah mengambil minuman di sampingnya. Ah, Se-Hun tidak sabar untuk mendengar berita kematian Alexander. Lima belas menit setelah meneguk habis minuman itu, bisa dipastikan pria keparat di depannya ini akan mati keracunan.

 

Soal barang bukti, Se-Hun tak perlu khawatir. Ia sudah meminta Daniel untuk mengamankan CCTV, persis seperti yang dilakukan Jasmine dulu. Tapi baiklah, Se-Hun harus segera pergi. Ia tak mau berada di sini saat si keparat itu mati.

 

Dalam satu tegukkan, Se-Hun menghabiskan minumannya dan merangkul gadis yang kelihatannya sudah tak sabar untuk menghabiskan malam bersama pria tampan di hadapannya ini. Ah, sebenarnya Se-Hun sedang tak ingin melakukannya, ia akan meninggalkan jalang ini di hotel nanti. Tentu saja setelah memaksanya untuk meneguk banyak minuman sampai mabuk dan membiarkan gadis itu sendirian di kamar.

 

 

 

 

Kembali menginjakkan kaki di London rupanya membuat Hee-Ra cukup senang. Ia menarik koper sembari membaca berita melalui ponsel. Keningnya mengerut, kali ini ada dua headline panas yang membuatnya tak habis pikir.

 

Bagaimana tidak? Louis Parker dan Alexander Jones meninggal dalam waktu yang berdekatan. Otaknya berputar sedikit lebih cepat, mengingat kalau Alexander adalah salah satu mitra bisnis sang Ayah.

 

Hal ini membuat Hee-Ra merasa janggal, kenapa para pengusaha itu bisa meninggal dalam waktu yang sangat dekat? Apakah ada sesuatu di balik semua ini? Apakah meninggalnya Shin Jae-Woo juga termasuk di dalamnya?

 

“Kau memegang ponsel tapi tidak menjawab panggilanku?”

 

Ia memutar cepat, mendapati sosok Jong-In tengah melemparkan tatapan protes sambil memegang ponsel di telinga.

 

“Jong-In?” Hee-Ra meringis, “Maaf, aku terlalu asik membaca berita,” sesalnya kemudian.

 

“Dan melupakanku?” Pria itu menurunkan ponselnya dan berjalan ke arah Hee-Ra. “Kemarilah, aku ingin memelukmu.”

 

Seharusnya Hee-Ra langsung berlari dan menenggelamkan diri dalam pelukan Jong-In. Tapi kakinya terasa tak seperti dulu. Ia malah berjalan pelan dan memeluk pria itu seolah tak terjadi apapun, seolah mereka tidak saling merindu.

 

Welcome home, babe. Aku merindukanmu,” kelu Jong-In. Ia berkali-kali memberikan kecupan pada kening Hee-Ra, menandakan betapa besarnya rasa rindu yang mendera.

 

Sementara Hee-Ra hanya memejamkan matanya. Dalam hatinya bergemuruh perasaan ingin segera pulang. Se-Hun tak membalas pesannya dan hal itu membuatnya kesal.

 

Jong-In melonggarkan pelukannya. “Ibumu?”

 

Ah, Hee-Ra lupa memberitahu Jong-In kalau Kang So-Hee tidak ikut pulang. “Mama akan tinggal di Korea lebih lama.”

 

Mendengar jawaban Hee-Ra, ekspresi Jong-In berubah. “Tunggu, jadi kau hanya tinggal berdua dengan Se-Hun?”

 

Mengangguk dua kali. “Aku sudah biasa seperti itu.”

 

“Terbiasa? Ayolah, aku tidak bisa membiarkan kalian hanya tinggal berdua dalam satu rumah.”

 

“Aku tidak merasa ada yang salah.” Hee-Ra menggeleng, ia mengusap lengan Jong-In. “Saudaraku tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya sendiri. Kau tidak perlu secemas itu.”

 

“Tapi tatapan memuakkannya berkata kalau dia ingin memakanmu hid—“

 

Sstt,” Hee-Ra menutup mulut Jong-In dengan jari telunjuknya. “Percayalah padaku, dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk.”

 

Jong-In menyerah. Ia memutar bola matanya dan berakhir meraih koper Hee-Ra kemudian berjalan mendahului gadis itu. Hee-Ra tahu Jong-In cemburu pada Se-Hun, sejak awal keduanya memang tak pernah bisa akur.

 

Sepanjang perjalanan, Jong-In tak mengatakan apapun. Ia hanya melirik ke arah Hee-Ra sesekali, bibirnya memberengut, masih kesal pada keputusan Hee-Ra. Sebenarnya kalau gadis itu mau, Jong-In bersedia tinggal di rumah Hee-Ra untuk berjaga-jaga, tapi nampaknya Hee-Ra memberikan kepercayaan yang tinggi pada Se-Hun. Mengesalkan sekali.

 

Sesampainya di depan gerbang rumah Hee-Ra, Jong-In segera membantu kekasihnya untuk mengeluarkan barang bawaan. Ia mendengus beberapa kali sebelum akhirnya Hee-Ra memberikan sebuah kecupan manis di pipi pria itu.

 

“Pulanglah, kau benar-benar tak perlu khawatir. Aku aman di rumahku, Kim Jong-In.”

 

“Berjanjilah kau akan menghubungiku kalau terjadi sesuatu. Pukul saja Se-Hun kalau dia be—“

 

“Ssstt, sudah kukatakan semuanya akan baik-baik saja.” Hee-Ra memotong ucapan Jong-In lalu membalik badan pria itu dan mendorong punggungnya agar masuk ke mobil. “Pulanglah, aku tahu kau kurang tidur. Aku tak akan membangunkanmu sampai nanti malam.”

 

“Tap—“

 

“Aku masuk dulu, ingat kau harus langsung tidur setelah sampai di rumah!” teriak Hee-Ra yang tengah berlari masuk ke rumahnya.

 

Jong-In hanya bisa mendesah berat. Ia kalah. Tidak ada pilihan selain melakukan apa yang disuruh Hee-Ra. Pria itu segera menyalakan mesin mobil dan melaju kembali. Well, apa yang diutarakan Hee-Ra memang benar. Kemarin setelah pulang latihan Jong-In tidak tidur karena terlalu asik bermain game sampai-sampai ada lingkaran hitam di matanya.

 

Setelah mendengar suara mobil Jong-In menjauh, Hee-Ra segera mengunci gerbang dan masuk ke rumah. Sudah pukul dua siang, tapi rumah begitu sepi. Mungkinkah Se-Hun berada di kantor?

 

Namun matanya mendapati sosok lelaki tengah terbaring di sofa. Ia masih mengenakan sepatu dan mantel. Hee-Ra tersenyum simpul, ia meninggalkan kopernya begitu saja dan duduk di samping pria itu.

 

“Aku pulang,” bisiknya lirih.

 

Dilihatnya raut lelah Se-Hun. Ia pasti bekerja sehari suntuk kemarin sampai-sampai tertidur seperti ini. Hee-Ra mengusap kening pria itu lembut dan kemudian beralih untuk melepaskan sepatu yang masih dikenakan Se-Hun.

 

Saat berniat menaruh sepatu Se-Hun di rak, tubuhnya yang kala itu baru berdiri tiba-tiba ditarik hingga terjatuh di dada Se-Hun. Hee-Ra terkejut, matanya bertemu dengan mata Se-Hun yang entah sejak kapan telah terbangun.

 

“K-kau?”

 

Jantungnya berdebar terlalu cepat hingga Hee-Ra takut Se-Hun dapat mendengarnya. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Ia membiarkan Se-Hun mencengkeram lengannya erat-erat.

 

Namun segalanya segera kembali, Hee-Ra berusaha melepaskan diri dan bangun, tapi Se-Hun rupanya jauh lebih kuat. Ia tak mau melepaskan Hee-Ra dan memaksa gadis itu untuk tetap diam di tempatnya.

 

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”

 

“Tidak.” Se-Hun menggeleng, ia menekan tengkuk Hee-Ra agar gadis itu semakin mendekat ke arahnya. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Shin Hee-Ra.”

 

Belum sempat Hee-Ra membalas ucapan Se-Hun, pria itu telah lebih dulu menarik Hee-Ra dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. Tidak peduli akan keterkejutan Hee-Ra maupun situasi yang terasa aneh, Se-Hun terus melanjutkan kegiatannya.

 

Sementara Hee-Ra yang terlalu terkejut hanya bisa membelalakkan matanya tanpa mampu bergerak. Ia tidak menolak, ia benar-benar merasa bahwa tubuhnya bersedia menerima Se-Hun.

 

Ini salah, ini keliru, tapi bukankah perasaan tidak pernah salah?

 

Sungguh, Hee-Ra tak tahu harus mengambil langkah bagaimana.

 

 

TO BE CONTINUED

Halo~

Aku cuma mau ngasih pengumuman kalau Part 23 nanti bakal di password karena ada adegan 18+ . Jadi, buat kalian yang mau baca bisa dm ke twitter/facebook aku kalau part 23 udah aku post:)

Advertisements

63 responses to “[CHAPTER 22] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Jaze takut mati juga ya ternyata padahal kalau matiin orang senang banget. Cie.. Heera pulang langsung kangen2nan sama Sehun.
    Maaf kak, baru coment di chapter ini. Bacanya ngebut dari 1-22. Next chapter bakal di protect. Yah..

  2. yaawlah,,,, aku baca ff ini dri chp 24 masak ?? wkwkk dan stlh bacanya aku langsng kepikiran dan yaah you catch me skrg aku mau lnjut baca dlu yaaa

  3. Omo! Sehun, liat tempat, apa? 😂😂😂 Like bgt sama
    Kai, mungkin perasaan Kamu benar 😏.
    Wah, Ayah Sehun masih hidup, ya? Aku kira udah gak ada, eh malah di London juga? 😲
    Jasmine, bersyukurlah karena Kamu udah kesekian kalinya gak jadi dibunuh Sehun 😏😄.
    Organisasinya emang keren buat pilih dan didik orang, ya? Masih penasaran sama chap sebelumnya, siapa mereka? 😩.

  4. *like bgt sama moment HunRa ^^… Mereka itu udah punya takdir hidup bahagia bersamaaaa *reader ngarep bgt 😊.
    Itu coment Aku yg diatas kepotong, Kak authoor.. Dan semoga Kakak gak bosen-bosen baca coment Aku yg sering kali borongan dengan kata yang mungkin tidak dimengertii, karena Aku bacanya di mode offline, sekedar menghemat *maklum jajan bulan puasa menurun 😂, jadi comentnya sekali post 😉😘. @sekilas info 😚.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s