“Ophelie” #4 by Arni Kyo

Ophelie (3)

Ophelie #4

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan || Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Chanyeol | Mark Tuan | Wu Kimi | Choi Haera | Kim Minseok | Byun Baekhyun | Park Jinyoung | Kim Taehyung | Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Multi Chapter

“hal yang benar-benar menguasai kita adalah kebiasaan yang sudah tertanam dalam diri kita” – Wu Kimi

Read other chapter : 1, 2, 3

MV Part 1

~oOo~

“kenapa kau mencalonkan diri sebagai ketua dewan siswa?”. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari belakang Kimi. Terkejut, bangun dari tidur singkat tanpa mimpi nya ditaman belakang. Kimi menoleh.

“bisakah tidak muncul tiba-tiba?”. Protes Kimi kepada Mark – orang yang menanyainya tadi. Saat itu kelas Kimi sedang pengambilan nilai lari jarak pendek. Setelah mendapat nilai, Kimi malah melarikan diri kesini. Kepalanya terasa sedikit pusing.

Mark menggeleng sambil berjalan mendekat dan duduk disamping Kimi. “kau belum menjawab pertanyaanku”.

“pertanyaan tidak penting macam apa itu?”. raut wajah Kimi tampak malas.

“kenapa? Kupikir itu pertanyaan yang ada dibenak semua orang”.

“semua orang?”.

“mungkin sebagian”.

Kimi tersenyum miring, dipikirnya Mark juga bisa bercanda. Kimi berdehem, menggumamkan sesuatu yang entah apa, dengan jari telunjuk diletakkan dibibir. “iseng”. Jawab Kimi kemudian. Mark tidak merespon, malah menatap intens pada Kimi. “kenapa menatapku seperti itu?”.

“pikirkan jawaban yang lebih serius lagi”. Mark menepuk-nepuk puncak kepala Kimi. Sebenarnya ia ingin terbahak. Hanya saja ia bingung bagian mana yang lucu?

“aku tidak menjawab pertanyaan tidak penting dengan serius”. Umpat Kimi sambil memanyun-manyunkan bibirnya.

Tiba-tiba Mark menarik tangan Kimi, meletakkan sesuatu ditelapak tangan Kimi kemudian menutup tangan Kimi membentuk sebuah kepalan. Mark berdiri dari tempat duduknya dan pergi. Kimi membuka kepalan tangannya.

Sebuah kertas kecil.

Bertuliskan. ‘fighting’.

“ya ~ terima kasih, Markeu”. Ujar Kimi setengah teriak karna Mark sudah cukup jauh. Mark hanya menoleh, tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Kimi menyebut nama Mark ntuk pertama kalinya setelah lebih dari dua bulan mereka saling kenal.

Kepala Sekolah dan Guru Shin menatap Yeonsung seakan memaksa gadis itu untuk menandatangani surat yang ada dihadapannya. Pulpen telah ditangannya, Yeonsung menandatangani surat yang disodorkan oleh Guru Shin tadi. Sebelumnya Yeonsung telah membaca dengan seksama isi surat itu.

Surat Pengunduran Diri

“setelah ini kau bisa pergi”. Ujar Guru Shin lalu menarik surat itu dan memberikannya kepada wakil kepala sekolah untuk diarsipkan.

songsaengnim, gamsahamnida”. Hanya itu yang diucapkan oleh Yeonsung sebelum beranjak dari meja kepala sekolah.

Guru Ok menunggunya diluar. Pria itu menghampiri Yeonsung setelah Yeonsung keluar dari ruangan. “aku sudah berusaha agar kau tidak dikeluarkan, maafkan aku tidak bisa mencegah mereka”.

“tidak apa-apa, saem, kau sudah melakukan yang terbaik untukku”. Ujar Yeonsung dengan mata berkaca-kaca. Oh – sebenarnya ia ingin menangis, tapi kenapa airmatanya enggan keluar?

“aku akan mengantarmu kekelas untuk mengambil tas dan barangmu diloker”. Guru Ok berjalan didepan sementara Yeonsung mengekor.

Untuk sampai dikelas, Yeonsung harus melewati kelas Luhan terlebih dahulu. Dilihatnya kedalam kelas 2-A, Luhan tengah mencatat dimejanya. Syukurlah pria gila itu belajar, pikir Yeonsung. Lalu kelas Kimi, kelas itu kosong. Hingga sampai didepan kelasnya, Guru Ok membuka pintu.

Kelas telah dimulai, pelajaran bahasa Inggris. Guru Ok memanggil Guru Kang yang tengah mengajar untuk keluar sebentar. Guru Ok mengatakan yang sebenarnya terjadi, Yeonsung dipersilahkan masuk untuk mengambil tas dan barang-barangnya diloker belakang.

songsaenim, gamsahamnida. Aku senang selama pelajaranmu belangsung”. Yeonsung membungkuk pada Guru Kang. Wanita berkacamata itu mengangguk sambil tersenyum ramah seperti biasanya. Setelah menepuk pundak Yeonsung, ia kembali kedalam kelas.

“kau akan masuk ke sekolah lain? Aku akan membantumu untuk bisa masuk sekolah lain dengan nama yang bersih”. Guru Ok menawarkan.

“t-tidak, saem. Aku akan berusaha sendiri. Terima kasih sudah banyak membantuku”.

Guru Ok mengangguk. Sayang sekali sebenarnya harus mengeluarkan seorang murid dengan nilai yang tinggi. Tapi nilai yang tinggi dapat dikalahkan dengan dana yang tinggi. Orang tua murid yang menuntut punya dana yang tinggi. Memaksa pihak sekolah harus mengambil keputusan drop out. Lagipula Yeonsung masuk dengan jalur beasiswa.

Dan juga tuduhan yang diajukan pada Yeonsung memiliki bukti. Dimata mereka Yeonsung memang bersalah.

“aku senang tapi songsaenim tidak perlu mengantarku sampai ke gerbang. Aku membawa suratnya jadi bisa keluar dari gerbang”.

“baiklah, hati-hati. Langsung pulang kerumah”.

Yeonsung membungkuk sekali lagi. Kakinya mulai melangkah pergi dengan pelan melewati koridor. Dari jendela, Yeonsung dapat melihat Luhan sedang mengerjakan soal di papan tulis dengan lancar. Tak ingin menonton kemampuan Luhan berlama-lama, Yeonsung mempercepat langkahnya.

Siapa sangka Luhan malah keluar dari kelas untuk menyusul Yeonsung.

“Yeon’ah, kau mau kemana?”.

Yeonsung menoleh, Luhan sudah berada disampingnya. “pulang”.

“aku ikut”.

“tidak!”. Yeonsung menahan tangan Luhan karena pria itu hendak kembali kekelas. Bisa ditebak jika Luhan ingin mengambil tas nya juga. “tidak boleh. Aku harus pergi ke desa karena halmeoni meninggal. Tadi pihak sekolah mendapat telpon”.

Luhan mengurungkan niatnya setelah mendengar alasan Yeonsung menggendong tasnya. “begitu ya? Aku turut berduka. Tapi berapa lama kau akan pergi?”.

“lima hari. Ah, mungkin satu minggu”. Jawab Yeonsung. Ia dapat melihat raut kekecewaan diwajah Luhan. “kenapa? Kau saja tidak masuk sekolah satu minggu”

Luhan terkekeh, menggaruk kepalanya. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya. Menyodorkan ponsel itu kepada Yeonsung. “masukkan nomor ponselmu”.

Mau tak mau Yeonsung melakukan apa yang Luhan minta. Setelah selesai, tanpa sengaja Yeonsung melihat wallpaper diponsel Luhan. Poto saat dirinya berciuman –ralat– dicium Luhan didekat lapangan. “darimana kau mendapatkan poto ini?”.

“seseorang memotret adegan itu lalu disebarkan ke SNS”. Jawab Luhan dengan santai. Luhan menyeringai. Ah, Yeonsung sudah lama sekali tidak melihat senyuman iblis itu.

“aku harus pergi sekarang”. Yeonsung mengembalikan ponsel Luhan. Tangannya terangkat, tadinya hendak melambai tapi ia malah menepuk bahu Luhan. “belajarlah dengan baik dan jangan membuat onar terus”.

“kau sedang menasihatku, Yeon’ah?”.

Yeonsung menggeleng. “bye”.

Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Luhan membiarkan Yeonsung pergi begitu saja. Tanpa mengadari tas punggung Yeonsung mengembung karena diisi buku dari lokernya. Luhan tidak mencurigai hal itu dan percaya.

Oh – Yeonsung pasti akan kembali.

Segera.

Luhan hanya perlu menunggu.

Lagipula Luhan sudah punya nomor ponsel Yeonsung, jadi ia bisa menelpon jika ingin mendengar suara gadis itu. Luhan berdiri didekat jendela koridor, melihat kebawah. Yeonsung berjalan cukup cepat hingga ia sudah berada tepat didepan gerbang. Luhan dapat melihat Yeonsung menunjukkan sesuatu pada penjaga gerbang. Tak lama gerbang dibuka dan gadis itu pergi.

Sejak tadi Luhan memeriksa kontak di ponselnya, sambil tangan kanannya memegang sumpit. Keningnya berkerut. Luhan memeriksa lagi, lagi dan lagi. Tapi ia tidak bisa menemukan nomor ponsel Yeonsung. Apakah gadis itu berbohong dan berpura-pura memasukkan nomornya ke ponsel Luhan?

Sebuah pengingat bordering diponsel Luhan.

“apa ini?”. gumamnya sambil membuka pengingat itu.

‘Luhan, aku tidak bisa berkencan denganmu. Yeonsung’

“ck! Gadis ini benar-benar. Beraninya dia menipuku”. Umpat Luhan, ingin tertawa karena berhasil dibohongi Yeonsung. Ingin marah tapi kepada siapa yang harus melampiaskan perasaannya?

“kau ini kenapa? Sejak tadi seperti orang frustasi”. Tanya Minseok. Luhan tak menjawab malah menyantap makan siangnya dengan cepat. Memasukkan semua makanan hingga mulutnya penuh. “ya! Makan pelan-pelan”.

“kau ingat berita yang kemarin Baekhyun’ah?”. Taehyung bertanya dengan mimic serius.

“berita yang mana?”. Baekhyun ikut memasang mimic serius.

Taehyung menelan makanannya sebelum menjawab. “ada anak SMA tewas karena tersedak makanan saat makan siang”. Jawabnya.

Plakk

Minseok memukul kepala Taehyung dengan mudahnya. Sadar Taehyung sedang menyinggung siapa saat ini. tapi diluar dugaan, Luhan malah diam saja. Setelah makanannya habis ia beranjak tanpa berpamitan dengan teman-temannya.

“ish… dia itu selalu pusing karena Yeonsung. Seperti tidak ada gadis lain saja”. Celetuk Taehyung setelah Luhan pergi.

“biarkan saja. Habiskan saja makan siang mu lalu minum susu”. Balas Baekhyun. Percuma Taehyung membicarakan Luhan karena Luhan akan tetap pada pendiriannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “anak satu ini juga, selalu saja diam saat orang lain mengobrol”. Baekhyun menyindir Mark.

Mark menatap sejenak pada teman-temannya kemudian melakukan hal yang sama seperti yang Luhan lakuan.

“uh, oppa, aku membuat bekal untukmu”. Ujar Haera sambil menyodorkan sebuah kotak bekal yang dibungkus dengan kain motif polkadot.

“terima kasih, tapi kau tidak perlu repot-repot begini, Haera’ya”.

Haera menggeleng cepat. “sudah kukatakan aku akan membuatkan bekal untukmu. Jadi makanlah dengan baik”. Ucapnya dengan wajah tersipu. Jinyoung menatap kotak bekal yang kini berada ditangannya.

“baiklah, aku akan menghabiskannya”.

“ah, apa oppa ingin kutemani makan?”.

Jinyoung memutar otak agar bisa menghindari tawaran Haera. “tidak, tidak usah. Aku akan makan saat aku ingin. Jadi kau kembai saja kekelas sekarang”. Tolak Jinyoung. Haera menurut saja pada apa yang Jinyoung katakan.

Jinyoung bernapas lega. Setelah memastikan Haera benar-benar pergi. Jinyoung melangkah cepat menuju lantai dasar lalu keluar dari gedung sekolah. Ada tempat lain yang ia tuju. Setidaknya tempat itu aman untuk memakan bekal dari Haera.

Setibanya ditempat tujuan, taman belakang. Jinyoung menemukan Kimi disana. Ia tersenyum menyeringai. Tanpa merasa canggung, Jinyoung mendekat dan langsung meletakkan bokongnya dikursi yang sama dengan Kimi.

“aku sedang tidak ingin diganggu”. Ujar Kimi dengan suara lemas.

“percaya diri sekali. Memangnya siapa yang ingin mengganggumu?”. Balas Jinyoung tak mau kalah.

Kimi menoleh, menatap Jinyoung dengan tatapan membunuh. Perutnya terasa sakit. Pinggangnya terasa sakit. Kepalanya juga terasa sakit. Pre-menstruasi syndrome. “ya ~ apa yang kau bawa?”. Tanya Kimi seperti seorang preman yang akan merampok korbannya.

“oh, ini. entahlah aku juga belum membukanya”. Jinyoung buru-buru membuka bungkusan itu. setelah kain pembungkus terbuka, Kimi langsung merampas kotak bekal dan membukanya tanpa-ijin-terlebih-dahulu.

“whoa… seperti ini, sebaiknya aku cicipi untuk memastikan tidak ada racun”. Kimi segera menyendok nasi goreng kimchi. Kepalanya mengangguk. Lidahnya merasa tidak asing dengan makanan ini. “ibumu yang memasak?”. Tanya Kimi.

“bukan. Habiskan saja jika enak. Jangan tanyakan siapa yang memasak, tidak penting”. Jawab Jinyoung seraya menepuk-nepuk pundak Kimi.

Sebenarnya sejak tadi Kimi merasa lapar. Tapi tidak bernafsu untuk makan dikafetaria karena disana sangat ramai. Hari ini ia sedikit sensitive. Mulutnya disumpal dengan nasi jadi ia tidak berkata apapun lagi.

“mminyum”. Ujar Kimi dengan mulut penuh.

Untung Jinyoung mengerti apa yang Kimi inginkan. Bodoh sekali ia lupa membawa air minum. Pasti saat ini Kimi sulit menelan makanannya. Jinyoung bangkit untuk membeli minuman dimesin otomatis.

Sekotak susu stroberi diletakkan begitu saja di dinding pembatas. Jinyoung melihat susu kotak itu. mengambilnya, memeriksa bungkusnya, dan memeriksa tanggal kadaluarsa. “siapa yang meninggalkan ini disini, ya? Tapi sepertinya masih bagus”. Jinyoung bicara sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa susu kotak itu kepada Kimi.

Sesaat sebelumnya…

Setelah menyelesaikan makan siangnya. Mark bergegas pergi ke taman belakang. Tapi ia menghentikan langkahnya saat melihat Jinyoung sedang menemani Kimi makan disana. Mark meletakkan susu kotak stroberi kesukaan Kimi di dinding pembatas. Lalu pergi.

Malam itu dirumah petak. Beberapa anggota sedang berkumpul. Seperti Baekhyun dan Taehyung, saat itu sedang karaoke sambil berjoget tidak jelas. Minseok dan Luhan sedang bermain catur,  meskipun sejak tadi Luhan tidak konsentrasi. Jinyoung tidak melakukan apapun dan hanya berbaring dishofa. Mark baru saja tiba, duduk disebelah Minseok, lalu mengambil minuman kaleng milik Minseok tanpa ijin.

“bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menyukai gadis yang sama?”. Ujar Mark dengan suara yang sedikit keras.

“ada apa? Datang langsung marah seperti ini?”. tanya Minseok.

Mark mendengus. “kau pasti ingat kan jika kita tidak boleh menyukai gadis yang sama? Itu janji kita sama SMP dulu”.

“berisik!”. Luhan berteriak seraya menggebrak meja. Cukup keras hingga anak catur sedikit bergeser dari tempatnya. Untung saja meja itu terbuat dari kayu. “kau sendiri melanggar. Kau mendekati Yeonsung juga, kan? Kau pikir aku tidak tahu?!”. Luhan berdiri menantang.

Mark terkejut awalnya. Iapun berdiri, hendak menentang ucapan Luhan tentang dirinya. “aku tidak ada hubungan apapun dengan Yeonsung. Kami berteman”. Balas Mark.

Menyadari ada keributan, Baekhyun berhenti bernyanyi. Dijitaknya kepala Taehyung yang masih bernyanyi tidak jelas. Kedua orang itu diam dan melihat, perang dingin antara Luhan dan Mark.

“sudahlah, Luhan’ah, Markeu. Jika Bangyong datang habis kalian berdua dihajar olehnya”. Minseok berusaha melerai kedua orang itu. tampak jelas Luhan dan Mark memang sedang dalam emosi yang tinggi.

“jangan dekati Yeon-ku lagi”.

“kau tidak ada hubungan apapun dengannya, jangan berpikir untuk melarangnya berteman dengan siapapun”.

Luhan semakin marah mendengar ucapan Mark. Tentang dirinya yang tidak memiliki hubungan dengan Park Yeonsung. Luhan tidak bisa menahannya, sejak tadi ia ingin mengamuk. Akhirnya Luhan melayangkan sebuah pukulan kearah Mark.

“ya! Luhan! Hentikan”. Minseok menarik Luhan.

Sudut bibir Mark berdarah. Ia tidak tinggal diam. Dan membalas pukulan Luhan. “kau kira aku tak bisa membalas?”.

Keributan terjadi. Luhan dan Mark bergulat sedangkan teman-temannya kecuali Jinyoung membantu memisahkan. Jackson tiba dilokasi. Dengan kaki panjangnya, Jackson menendang Luhan dan Mark agar terpisah dari pergulatan itu.

“apa-apaan kalian berdua ini?!”. teriak Jackson seraya berkacak pinggang.

Hening.

hyung, kenapa lama sekali”. Protes Bambam ketika melihat Jackson dan Luhan tiba. Tadi ia disuruh menunggu sementara Jackson menjemput Luhan. Ada hal penting yang harus Luhan lihat.

“kunyuk ini bergulat dengan Mark”. Jawab Jackson masih kesal mendapati dua temannya berkelahi.

Luhan mendengus dengan ucapan Jackson barusan. “apa yang ingin kalian tunjukan padaku?”. Tanya Luhan. Sejauh penglihatannya, tempat ini ada didekat pemukiman dan bangunan yang berdiri didepan mereka sekarang adalah tempat bermain billiard.

Bambam menarik Luhan untuk menunduk. Mereka mengintip dari jendela. “itu – itu Park Yeonsung kan? Dia bekerja disini”. Bambam menunjuk seorang gadis dengan rok mini yang sedang menemani beberapa orang bermain billiard.

Luhan mengerutkan keningnya. Barkali-kali ia melihat, dilihat dari sudut manapun gadis itu memang Park Yeonsung. Hatinya terasa mendidih melihat Yeonsung bersama orang-orang yang entah datang darimana. Luhan beranjak dan hentak pergi.

“jangan coba-coba pergi dan menariknya keluar. Kau tidak ingin babak belur dikeroyok orang-orang itu, kan?”. Jackson menarik baju Luhan agar pria itu tidak pergi.

Luhan diam saja.

“sudahlah, Lu, kami berdua sudah setuju kau tidak mengejarnya lagi. Dia bukan gadis baik-baik”. Ujar Jackson.

“benar, hyung. Aku melihat segalanya sebelum kalian datang tadi”. Bambam memasang wajah ngeri. Ia berdesis. “kami memberitahukan ini sebagai teman”.

Luhan terpengaruh.

Sebenarnya hati nya terasa sakit harus melihat langsung apa yang dikerjakan oleh Yeonsung.

Oh.

Gadis itu membohonginya berkali-kali lipat.

Gadis itu mempermainkannya seperti Luhan berada diatas roller coaster.

Jadi, Yeonsung bohong soal pergi ke desa karena neneknya meninggal? Yeonsung bohong memasukan nomor ponselnya. Pikiran tentang dirinya bercampur-aduk dikepala Luhan kini. Jika mengingat pertama kali mereka bertemu, Luhan tidak menampik pendapat Jackson. Mereka bertemu di diskotik. Memangnya ada orang baik-baik pergi kesana sampai mabuk berat? Tidak ada.

Seminggu berlalu.

Luhan berusaha keras untuk melupakan tentang perasaannya pada Yeonsung. Dan ia masih belum mengetahui yang terjadi sebenarnya. Ia juga tidak mencaritahu mengapa Yeonsung belum masuk sekolah.

Saat itu, Luhan hanya duduk dipinggir lapangan melihat teman-temannya bermain bola. Mark datang menghampiri Luhan.

Luhan melengos.

“aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, hingga harus membuatmu duduk disini bukannya mengejar bola dilapangan”. Ujar Mark.

Luhan diam saja.

“dua hari sebelum Yeonsung pulang saat jam pelajaran itu, dia mendapat masalah dengan Im Yoonju. Aku melihat kejadiannya. Aku mencegah pertengkaran antara mereka. Yang kudengar dari seseorang, Yoonju sempat mengeroyok Yeonsung ditoilet”. Jelas Mark. Diletakkannya sebuah kaleng minuman soda diantara mereka.

Luhan ingin tidak peduli. Tapi ia tetap mendengarkan cerita Mark.

“pendapat orang mengenai Yeonsung, mungkin tidak benar. Jangan terpengaruh. Kau harus mencaritahunya sendiri. Tanyakan pada Im Yoonju, apa yang sebenarnya terjadi”. Mark berdiri, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. “ini sudah lebih dari seminggu, dan Yeonsung belum bersekolah lagi. Kau tidak peduli?”.

“jika kau benar-benar menyukainya. Aku yakin orang lain tidak bisa mengubah perasaanmu”.

Mark pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut. Luhan baru menoleh. Heran mengapa Maark bersikap begitu? Mungkinkah Mark benar-benar menyukai Yeonsung? Pikir Luhan.

Ekor matanya menangkap sebuah kaleng minuman didekatnya. Luhan mengambil kaleng itu, diatasnya tertempel sebuah kertas.

‘Yeon – 010 2548 3528’

Luhan memasuki ruang ganti untuk cheers leaders. Sontak para gadis disana berteriak histeris. Tapi wajah Luhan biasa saja, ia masuk kesini bukan tidak sengaja. Didepan pintu ia bisa membaca tulisan jika ini ruang ganti cheers leaders. Lantas kenapa?

“kenapa kau datang kemari? Ingin mengintip, ya?”. Celetuk salah seorang dari mereka.

Luhan masuk sambil menatap satu persatu wajah para gadis disana. “Im Yoonju?”. Setibanya ia dihadapan Yoonju. Berhasil membuat gadis itu menelan ludah, gugup. “aku ingin bicara dengannya, bisa kalian pergi dari sini?”.

Yoonju mengkode pada teman-temannya untuk keluar. Karena ia ketua cheers leaders, jadi anggotanya menurut saja. Pintu tertutup rapat. Luhan bergerak untuk mengunci pintu itu dari dalam.

“ada apa mencariku?”. Tanya Yoonju sedikit tersipu.

Luhan tak menjawab, malah memepet tubuh Yoonju ke loker. Luhan hanya bisa menyeringai ketika Yoonju malah memejamkan matanya. “apa yang kau lakukan pada Yeonsung?”.

Yoonju membuka kembali matanya. Menatap Luhan dengan kesal. Yoonju menggeleng, sikapnya benar-benar sombong. “tidak ada. Dia yang memulai perkara denganku, jadi sekarang dia mendapatkan akibatnya”.

“kudengar kau yang memimpin fanclub-ku? Lalu kenapa kau melakukan hal yang buruk pada gadis yang kusukai?”. Luhan memainkan rambut Yoonju yang belum sempat dikuncir.

“karena aku tidak suka kau dekat dengan gadis manapun. Itu menyebalkan. Dan Yeonsung bukan gadis yang baik untukmu”.

Braakk

Luhan memukul loker tepat disebelah kepala Yoonju. Gadis itu terkejut, memejamkan matanya karena takut. “sebagai penggemar kau tidak berhak mengatur kehidupkanku. Bubarkan fanclub-ku. Lalu kau harus minta maaf pada Yeonsung saat aku membawanya kembali ke sekolah”. Desis Luhan.

Kaki Yoonju terasa lemas. Luhan pergi meninggalkannya. Gadis itu merosot lalu terduduk dilantai. Saat Luhan keluar, semua anggota cheers masuk langsung menghampiri Yoonju.

“jika kau menambahkan nilai yang ini dengan –“. Penjelasan Kimi terputus ketika ponsel milik Haera berdering. Kala itu mereka sedang berada di Yaja untuk belajar bersama. Kimi menunggu –lagi– hingga Haera selesai membalas pesan diponselnya. “dengan dua maka akan mendapatkan hasilnya”.

“aku tidak mengerti, Kimi’ah”. jawab Haera.

Kimi menghelas napas berat. Ia menutup bukunya dengan kasar. Kemudian menatap Haera. “bagaimana kau bisa mengerti jika sejak tadi kau hanya bermain ponsel?”.

Haera memanyunkan bibirnya dengan pipi yang dikembungkan. “bisakah kau kerjakan saja tugasku, seperti yang sering Yeonsung lakukan?”.

“aku bukan Yeonsung! Aku ingin kau mengerti agar bisa mengerjakan ujian nanti”. Jawab Kimi sedikit berteriak. Tidak peduli teman-temannya protes karena suaranya yang berisik.

“kau memarahiku hanya karena ini? kau kan tahu aku tidak sepandai kalian berdua. Mau kau jelaskan sampai besok pun aku tidak akan mengerti”. Haera tak mau kalah. Tidak terima Kimi memarahinya dan tidak mau membantunya mengerjakan tugas.

Kimi mengurut keningnya, bibirnya berdesis. “ya ~ Choi Haera. Jika kau mengatakan hal itu lagi, aku jadi malas berteman denganmu”.

Haera diam saja.

Ponselnya berdering lagi. Sebelum Haera sempat mengambil ponselnya, Kimi telah lebih dulu mengambil benda itu, membuka dan membaca pesan yang masuk diponsel Haera.

“kembalikan, Kimi’ah”.

“oh, jadi kau punya pacar sekarang? Pantas saja sikapmu aneh sekali belakangan ini”. desis Kimi dengan senyum meremehkan.

Haera buru-buru menyimpan ponselnya yang berhasil ia rebut kembali. Ia menggigit bibirnya, tak suka dengan cara Kimi barusan. “memangnya kenapa kalau aku punya pacar? Aku bukan kau yang tidak peduli soal hubungan”. Ujar Haera.

Kimi menganga. Haera mengatakan hal yang menyinggung dirinya. Setelah itu Haera pergi begitu saja. Jujur saja, Kimi tidak ingin marah pada Haera, jika saja saat ini mereka tidak sedang belajar. Tapi Haera seolah mengabaikannya yang bersusah payah menjelaskan jawaban soal.

Kimi tak suka itu.

Dan Haera membandingkan dirinya dengan Yeonsung.

Oh – Kimi paling tak suka dibandingkan seperti itu.

Chanyeol datang kerumah Yeonsung tepat saat Yeonsung ingin pergi bekerja di minimarket malam ini. Chanyeol mengatakan jika ayahnya, Pengacara Park ingin bertemu. Sebenarnya Yeonsung malas untuk bertemu dengan Pengacara Park. Pasti akan membahas tentang dirinya yang dikeluarkan dari sekolah –lagi.

Saat tiba dirumah Pengacara Park, pasangan suami-istri itu telah menunggu Yeonsung diruang keluarga. Yeonsung mengambil posisi duduk dikursi seberang berhadapan dengan Pengacara Park.

“tadi aku kembali ke sekolahmu untuk mengurus masalah mu. Mereka tidak memberikan kesempatan. Aku sudah mencobanya berulang kali”. Ujar Pengacara Park.

“sudahlah, ahjussi. Kau tidak perlu repot-repot mengurus persoalan sekolah ku. Aku akan mencari sekolah lain saja”. Jawab Yeonsung pelan.

“kau sudah satu minggu lebih tidak pergi sekolah, Yeon’ah”. timbal ibu Chanyeol.

“kenapa kau tidak memberitahu kami saat kau disuruh mendatangkan orang tua ke sekolah waktu itu?”. tanya Pengacara Park.

Yeonsung berpikir sejenak. “aku tidak tahu harus memberikan surat itu kepada siapa. Aku tidak ingin mendatangkan ayahku”.

“kami wali mu Park Yeonsung”.

Yeonsung menunduk. Ingin menjawab yang sebenarnya ia rasakan, tetapi tak ingin menyakiti perasaan keluarga baik hati yang telah mengurusnya selama ini. jadi ia diam saja.

“aku harus bekerja. Bisakah aku pergi sekarang?”.

Dan – Yeonsung telah tumbuh sebagai gadis keras kepala.

Minggu pagi

Setelah memaksa Guru Ok untuk memberikan alamat rumah Yeonsung. Luhan bergegas pergi ke alamat yang diberikan oleh Guru Ok. Menempuh perjalanan menggunakan sepedanya, Luhan menengok dengan seksama tiap nomor rumah dipemukiman itu. akhirnya ia menemukan rumah yang cocok dengan alamat yang diberikan.

Luhan memarkirkan sepedanya didepan pagar. Pagar rumah itu kira-kira dua meter. Pintu pagarnya tertutup rapat. Disamping pintu pagar terdapat papan nama.

‘Kediaman Pengacara Park’

Luhan mengerutkan keningnya. Jadi ayah Yeonsung pengacara?

Tangannya terulur untuk memencet bel. Belum sampai telunjuknya menyentuh bel, pintu pagar terbuka. Pria tinggi dengan pakaian olahraga keluar dari dalam sana. Luhan menaikkan sebelah alisnya. Itu adalah Park Chanyeol.

Muncul satu lagi pertanyaan dibenak Luhan. Jadi, Chanyeol dan Yeonsung bersaudara?

“apa yang kau lakukan didepan rumahku?”. Tanya Chanyeol tak suka.

“aku mencari Yeonsung”.

Chanyeol tertawa pelan. “Yeonsung tidak tinggal disini. Darimana kau mendapatkan alamat rumah ini?”.

“lalu dimana Yeonsung tinggal? Jangan coba-coba untuk membohongiku”.

“aku tidak berbohong. Dia memang tidak tinggal disini. Ini rumahku”. Jawab Chanyeol sambil melipat tangannya.

Luhan muak harus berhadapan dengan Chanyeol. Sejak awal ia memang tak suka dengan ketua dewan siswa ini. Luhan berbalik, memutar sepedanya dan melangkah.

“apa yang terjadi pada Yeonsung – semuanya salahmu”. Celetuk Chanyeol. Luhan menghentikan langkahnya. “kau masih berpikir jika kau pantas menemuinya lagi? Karena kau dia mendapatkan kesialan. Yeonsung tidak seharusnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi karena kau”.

Luhan menyeringai. Tanpa menoleh pada Chanyeol, Luhan menjawab. “karena itulah aku harus meminta maaf kepadanya untuk menebus kesalahanku. Dan aku berjanji akan membawanya kembali kesekolah”.

Guru Shin sejak tadi hilir mudik keluar masuk dari ruangan Kepala Sekolah. Mereka jadi panic saat empat murid yang tak terduga memaksa untuk bertemu dengan Kepala Sekolah. Berbagai alasan telah diutarakan pada empat orang itu tapi mereka tetap menunggu didepan ruang kepada sekolah.

Sajangnim, bagaimana? Mereka tetap ingin masuk”. Ujar Guru Shin.

“katakan saja aku tidak ada ditempat”. Jawab Kepala Sekolah.

Guru Shin kembali keluar. Saat itu pula empat murid berandalan menerobos masuk. Luhan, Minseok, Baekhyun dan Taehyung. Keempatnya langsung duduk dishofa seraya melihat-lihat isi ruangan kepala sekolah.

“aku akan pergi rapat setelah ini. silahkan bicara”. Ucap Kepala Sekolah sedikit gugup.

“aku ingin siswi bernama Park Yeonsung dikembalikan ke sekolah. Dia tidak bersalah. Masalah yang melibatkan dirinya adalah kesalahanku”. Luhan mengawali pembicaraan.

“kami tidak bisa melakukan itu. mengembalikan murid yang sudah di drop out adalah hal mustahil”. Timbal Guru Shin.

Luhan menyikut lengan Baekhyun. Baekhyun berdehem sebelum mulai berbicara. “kudengar liburan musim panas nanti ada olimpiade Taekwondo. Tapi aku tidak ingin ikut. Lelah sekali harus membawakan piala untuk sekolah. Benar, kan, Taehyung’ah?”.

“benar, hyung. Aku ingin liburan ke pantai saja daripada harus pergi olimpiade”. Balas Taehyung menyetujui perkataan Baekhyun.

“kalian berdua harus mengikuti olimpiade, jangan bermain-main”. Ujar Kepala Sekolah.

Luhan menyikut lengan Minseok, menurut scenario seharusnya Minseok langsung mengucapkan dialognya. “ah, kalau tidak salah appa berencana untuk membangun sekolah seni. Tapi gedung di Incheon belum jadi, mungkin gedung ini bisa dipakai”. Ujarnya.

“bagaimana kalau membuka usaha hiburan saja? Seperti game center?”. Tambah Baekhyun.

game center itu ide yang bagus, Minseok’ah ~ katakan pada appa kita”. Taehyung bersemangat menjalankan perannya.

Luhan tersenyum pada Kepala Sekolah. Pria bermarga Lee itu tahu betul jika ini adalah scenario yang dibuat oleh Luhan. Agar bisa membawa kembali Yeonsung kesekolah. Kepala Sekolah menyandarkan tubuhnya dikursi.

“aku akan mengirimkan artikel tentang sekolah ini ke wartawan. Mengeluarkan murid dalam sekali rapat, bukankah itu tidak adil? Seharusnya pihak sekolah memberikan peringatan terlebih dahulu, lalu memberikan masa percobaan. Jika murid yang bersangkutan tetap melanggar, maka barulah ia dikeluarkan”. Ujar Luhan panjang lebar, dilemparkannya beberapa lembar kertas bertuliskan artikel yang ia ketik semalam, lengkap dengan poto kepala sekolah.

“Luhan’ah”.

“memangnya apa yang dilakukannya hingga harus dikeluarkan? Apakah dia membunuh murid? Apakah dia mencuri perlengkapan disekolah? Melecehkan guru atau semacamnya? Aku yang membuatnya berada dalam masalah. Jadi biarkan aku saja yang menerima konsekuensinya”. Tambah Luhan lagi.

Guru Shin geram mendengar ucapan Luhan. “anak ini benar-benar…”.

“ada apa, songsaenim? Aku mengatakan yang sebenarnya. Jika mau silahkan pukul aku dengan tongkat ajaib mu itu”.

“baiklah. Kami akan mengembalikan Park Yeonsung ke sekolah. Tapi tidak dengan beasiswanya. Saat dia kembali, dia menjadi murid biasa tanpa beasiswa”.

Yeonsung baru pulang setelah tengah malam. Minimarket tempatnya bekerja baru tutup, jadi ia baru bisa pulang. Memasuki halaman rumahnya, Yeonsung dapat mendengar ayahnya tertawa bersama seseorang. Tampaknya mereka sedang menonton pertandingan sepak bola. Rasanya Yeonsung ingin keluar lagi dari halaman rumahnya daripada harus bertemu dengan teman ayahnya.

Tapi ia terlalu lelah.

Oh – kasurnya telah menunggu didalam kamar. Selimutnya juga telah siap memeluknya malam ini.

Akhirnya Yeonsung memilih untuk masuk. Betapa terkejutnya ia. Pemandangan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Terjadi.

Luhan duduk didepan televisi bersama Park Jongwon. Mereka terlihat akrab dan berteriak bersama saat gol dicetak oleh tim kesayangan mereka.

“kau sudah pulang? Masuklah”. Sapa ayahnya terdengar ramah.

“kau – apa yang lakukan disini? Bagaimana bisa –“.

Yeonsung tak bisa mengusir Luhan karena ayahnya membela dan bersikeras agar Luhan tetap disini. Bahkan saat Yeonsung memasak ramyun untuk mereka bertiga, Luhan mengawasi pergerakan Yeonsung. Eeerr… rasanya tidak bebas.

“bagaimana kau bisa akur dengan appa-ku?”.

“ayahmu menyukaiku karena aku membawa satu dus beer untuknya”.

“kau menyogoknya. Cih… dasar aneh, disogok satu dus beer saja mau”. Dengus Yeonsung.

Luhan menyumpit ramyun yang masih berada didalam panci diatas kompor. Tanpa dosa ia memakan ramyun itu. “susah sekali menemukanmu. Kau harus membayar karena telah berbohong tentang memasukan nomor ponselmu”. Ujar Luhan.

“aku sedang membayarmu sekarang”. Yeonsung tersenyum sekilas. Diketukannya sumpitnya kepanci ramyun.

“ini saja tidak cukup! Aku mendapatkan nomor mu, tapi aku takut kau mengganti nomormu jika tahu aku menelponmu”.

“senang sekali kau sadar”. Yeonsung mematikan kompor, mengangkat panci lalu diletakkan diatas meja. “setelah makan, pulanglah. Aku ingin istirahat”. Titah Yeonsung.

Luhan segera duduk dikursi meja makan. Ayah Yeonsung bergabung dengan mereka. Selama acara makan itu, Yeonsung seperti orang bodoh yang harus mendengarkan obrolan dua pria tidak waras tentang bola.

Seusai makan, Yeonsung langsung mencuci piring. Luhan membantunya. Ya, membantu mengacak-acak pekerjaan Yeonsung. Sejak tadi ia hanya bermain dengan busa seperti anak kecil yang baru memegang busa sabun.

“Luhan’ah, pulang saja sana!”. Usir Yeonsung.

Bukannya beranjak pergi. Luhan malah semakin asik bermain dengan busa dan air. Menimbulkan percikan air. Ingin sekali rasanya Yeonsung mencelupkan kepala Luhan kedalam air cucian piring. Sabar. Sabar.

“besok kembalilah sekolah”.

“kau gila!?”.

Tanpa sadar Yeonsung berteriak begitu keras. Hampir saja ayahnya terbangun. Ditolehnya kearah ruang tamu, ayahnya bergerak menggaruk perutnya yang mulai buncit dengan mata terpejam. Jongwon masih tertidur pulas. Yeonsung melepas sarung tangan karetnya. Memutar tubuhnya sambil berkacak pinggang menatap Luhan.

“aku serius. Tujuan utamaku datang kemari adalah untuk memberitahumu jika kau diterima lagi disekolah kita”.

Yeonsung memutar bola matanya. “bagaimana bisa? Pasti kau pelakunya. Lagipula darimana kau mengetahui rumahku?”.

Luhan mengangguk bangga. “kau tidak perlu menanyakan itu, yang penting kau sekolah lagi. Aku mendapatkan alamatmu dari Haera”. Jawab Luhan sambil mencuci tangannya dengan air bersih.

“aku tidak ingin kembali kesekolah itu”.

Jawaban yang membuat Luhan kecewa. Ditangkupnya wajah Yeonsung. Matanya menatap dalam kemata gadis itu. “turuti aku kali ini saja. Kau pikir akan pergi ke sekolah mana lagi?”.

“Lu~”.

“aku tidak menerima penolakan untuk masalah yang ini. besok aku akan menjemputmu. Jika kau tidak ingin pergi, maka aku akan menyeretmu kesekolah”. Ancam Luhan.

Yeonsung diam saja.

Dengan cepat Luhan mencium gadis itu. ciuman yang sedikit menuntut dari sebelumnya. Tak ada penolakan dari tubuh Yeonsung. Untuk pertama kalinya. Yeonsung merasakan jantungnya berdegup tak teratur saat Luhan menyentuhnya. Bahkan bibirnya bergerak membalas ciuman Luhan. Dalam ciumannya Luhan tersenyum senang, Yeonsung membalas perlakuannya. Tangan gadis itu dilingkarkannya keleher Luhan. Sedangkan Luhan memeluk pinggangnya.

Kraakk

Suara mengejutkan itu membuat keduanya tersadar dan langsung menyudahi ciuman mereka. Yeonsung menoleh kesumber suara. Rupanya kaki ayahnya yang tertidur menendang kaleng minuman. Yeonsung menjadi salah tingkah. Ia beringsut melepaskan pelukannya dari leher Luhan.

“kau menyukainya ya?”. Goda Luhan.

“apa?”.

“tadi kau menggigit bibirku. Tidak apa-apa kalau kau suka, kau bisa menggigitku lebih keras”.

Oh – wajah Yeonsung rasanya terbakar. Benarkah ia melakukan itu? astaga! Pasti sekarang Luhan girang sekali.

“pulang saja, Lu, ini sudah malam”. Yeonsung mendorong-dorong Luhan agar pergi.

Luhan ahlinya mengelak. Dengan cepat ia membalikan tubuhnya, menangkap Yeonsung kedalam pelukannya. “baiklah, baiklah, aku tahu kau pasti khawatir padaku”. Luhan mengecup pipi Yeonsung. “ingat besok aku akan menjemputmu”.

“terserah kau saja”.

Akhirnya Luhan melepaskan pelukannya. Jika saja saat ini tidak ada ayah Yeonsung – oh jika saja. “aku pulang sekarang. Selamat malam, Yeon’ah”. Luhan berpamitan. Iapun melangkah kearah pintu rumah Yeonsung.

Saat akan memasang sepatunya, Yeonsung menarik ujung baju Luhan. “kau boleh menelponku”. Ujar Yeonsung pelan.

Luhan tersenyum senang, diusapnya pipi Yeonsung. “baiklah akan kulakukan dengan senang hati”.

Sesaat setelah Luhan pulang. Yeonsung mengunci pintu rumahnya. Lalu berlarian memasuki kamarnya, ponselnya berdering. Nomor baru menelponnya. Segera Yeonsung mengangkat telpon itu. suara Luhan menyahut dari seberang sambungan telpon.

“cepat sekali”.

“aku merindukanmu”.

“telpon aku saat kau sudah sampai dirumah, bodoh”.

“aku merindukanmu, Yeon’ah”.

Yeonsung terkekeh geli. Bisa dibayangkannya saat ini Luhan berjalan seperti orang gila sambil mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang. Yeonsung hanya merasa senang. Entah karena ia akan kembali ke sekolah. Atau karena kehadiran Luhan. Atau mungkin ia mulai merasakan suka pada Luhan.

Yeonsung belum yakin untuk menjawab.

Kimi masih sibuk dengan beberapa tugas. Memeriksa ulang. Memeriksa ulang. Dan memeriksa ulang. Kimi sadar jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Makanya ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengerjakan tugas saja. Tapi tindakannya salah. Justru sekarang ia semakin pusing.

“memangnya kenapa kalau aku punya pacar? Aku bukan kau yang tidak peduli soal hubungan”.

Kata-kata Haera beberapa hari lalu mengganggu pikirannya.

“ya ~ aku bukan tidak peduli. Tapi itu sedikit merepotkan, jadi pacaran bukan prioritasku, bodoh”. Umpat Kimi.

“Haera’ya, aku merindukanmu. Datanglah keapartemen”.

Pesan diponsel Haera yang sengaja Kimi baca waktu itu kembali terbayang dibenaknya. Kimi menggelengkan kepalanya. Sayang sekali Haera segera merebut ponselnya kembali, jadi Kimi tidak sempat membaca nama kontak si pengirim.

“apa yang telah kau lakukan, Haera’ya?”. Kimi masih terus mengumpat kesal.

“kenapa kau mencalonkan diri sebagai ketua dewan siswa?”.

Tiba-tiba Kimi berhenti menulis. Pertanyaan dari Mark kembali terngiang ditelinganya. Kimi memangku tangannya. Diliriknya kertas kecil pemberian Mark yang ia tempelkan dipapan memo.

“haruskah aku berusaha agar menang?”. Kimi mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Pasangan itu melakukan segalanya tanpa kecanggungan. Terlihat jika mereka sudah sering hingga bisa begitu akrab seperti saat ini. tanpa merasa canggung, Haera memeluk Jinyoung yang berbaring disebelahnya.

“Haera’ya, sudah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya kurasakan”. Ujar Jinyoung sembari bangkit dari tempat tidur.

Haera melakukan hal yang sama. Wajahnya berbinar. Mungkin Jinyoung akan mengatakan jika ia mencintai Haera. Mungkin saja. “apa itu oppa?”.

“Aku menyukai gadis lain”. Jawab Jinyoung. “bersamamu selama ini hanya untuk bersenang-senang. Kupikir kau akan menjauh setelah beberapa hari bersamaku. Aku tidak menduga jika kau malah semakin dekat”.

Haera hanya tersenyum getir. “karna aku menyukaimu. Kau kejam sekali mengatakan hal itu kepadaku”.

Jinyoung menatap Haera. “berhentilah mengejarku, aku sudah menyukai gadis lain, Haera’ya”.

Haera mendekatkan wajahnya, ingin mencium Jinyoung, tapi Jinyoung buru-buru menjauh. Haera diam. Waktu itu ia tidak sengaja membuka ponsel Jinyoung dan memeriksa galeri ponsel tersebut. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan. Jinyoung menyimpan poto Kimi, bahkan ada poto Jinyoung bersama Kimi ditaman belakang. Haera tak ingin membahas perkara poto, jadi ia memilih diam saat melihat poto itu.

“siapa?”.

“kau tidak perlu tahu”.

“kurasa aku mengenalnya”.

TBC

“Yeon’ah, kau akan kesekolah, kan?”.

“jangan bandingkan dirimu dan Kimi”.

“aku memungutnya dijalan depan sekolah kita”.

“bagaimana kau bisa jadi seperti ini, Haera’ya?”.

“siapa sebenarnya ahjumma ini?”.

“Jikapun aku mau, pasti aku terpaksa dan merasa kasihan padamu”.

#OMAKE

WK : Luhan’ah, apa yang ingin kau lakukan sekarang?

LH : melakukan tes pertukaran otak

WK : dengan siapa?

LH : bukan aku. Tapi kau. Kau, Mark dan Jinyoung. Aku penasaran, siapa yang kau sukai?

WK : (melempar mic kearah Luhan) sekian omake episode ini ^^

Just For Your Information!

Yaja adalah tempat untuk melakukan self-study oleh para siswa di sekolah. Tempat belajar untuk kelas 1 & 2 tutup jam 9 malam. Sedangkan tempat belajar untuk kelas 3 tutup jam 11 malam.

Advertisements

25 responses to ““Ophelie” #4 by Arni Kyo

  1. Jinyoung ngeselin banget. Pake mainin haera segala. Kimi kesel sama yeounsung gara2 deket sama mark? Ohmygod! Konfliknya banyak banget. Akhirnya yeongsung bisa sekolah lagi

  2. Yeah. Ini si Luhan diem” merhatiin interaksi Yeon sama Mark. Unch unch.. Hanhan kiyowo banget. 😍😍

  3. aku dari awal sukka bgt dgn karakter Kimi n Mark! mreka suit suit banget deh haha…. Eh ikut brsedih n kcewa pas Yeonsung di DeO 😦 tp terus dibuat ketawa dengan ulah empat serangkai segerombolan anak2 pembuat onar yg ‘sialnya’ punya pengaruh bsr utk skolah yg bisa nyelamatkan Yeonsung… huhu lega….. tp jengkel deh sma Haera msa’ diajarin mlah gitu… terus aduh it kok ad keakuran yg trjd antara Lu dg appanya Yeon?Aaah jungkir balik bca ini! 😀 trnyata bnr punya feeling ql Ophelie 4 bkln dipost wkkk 😀

    • hoho XD di D.O dia karna dia ngga ada koneksi disekolah unn, untung dibantuin sama Luge dah ahaha… cieee KiMark shipper ><
      hehe… ini rada telat dri jadwal sih unn, harusnya kemaren di update tp terkendala kuota T-T

      thanks for read and comment :3

  4. Kalo Kimi sama Mark nanti persahabatannya Mark sama Jinyoung gimana? Kalo Kimi sama Jinyoung nanti kasian haera.. duh kasian Kimi serba salah deh..
    Ditunggu ya thor next chapternya..
    Fighting!!!!

  5. Yelahhh yeonsung udah mulai suka sama luhan, bahagia banget ruh si luhan wkwk. Cepet jadian aja deh hihi

  6. aduhh kasian haera padahal udah ngerelain segalanya buat jinyoung, auu konflik jinyoung ama mark udah mulai membara nihh…
    luhan ama yeonsung makin sweet dehh, semoga mereka gk pisah2 lagi

    fighting next chap nya 😍😍

  7. Kiiwwww akhirnya yeonsung udah mulai suka gtu sma luhaan, aku seneng deh jadinya liat pasangan ini..
    Tapi aku juga kesel sma jinyoung, klo emang dia sukanya sma kimi knpa harus mempermainkan haera coba secara mereka kan sahabatan, tapi jujur aku lebih suka moment kimi sama mark deh, dan aku harap kimi sukanya sama mark biar dapet akibatnya tuh si jinyoung..

  8. Luhan and the genk hebat ya bisa ngancam kepala sekolah #woahh ^^

    Kimi akrap sama Jinyoung, tp akrab juga sama Mark.. jadinya ya gituu.. cinta segi tiga antara Mark-Kimi-Jinyoung dan Haera-Kimi-Jinyoung.. nah jadi dapat disimpulkan yg jadi masalahnya ada di Kimi (kesimpulan macam apa ini hhe)

    nah lagi disini mark kayaknya nyindir jinyoung tp yg merasa malah luhan tentang gak boleh suka sama gadis yg sama diantara genk mereka #hadehh berantem deh kan…

    lagi Luhan dan Yeonsung yg kembali mesra sampe bikin meleleh (-;

    Dan diakhiri sama jinyoung yg jujur sama perasaannya tpi kenapa kayaknya persahabatan ketiga cewek disini akan semakin renggang karna cowok..

    Sekian dan terimakasih mimin ,, keep writing & fighting !!
    (jgn heran aku komen trus dari td disetiap partnya.. karna baru baca dan dipastikan akan diselesaikan sampe yg ke-7 hari ini hhe)

  9. Bener apa yg dibilang sama Luge harusnya gk sekeras itu. Wajar sekarang lebih berkuasa uang dari pada otak dan hati nurani, jadi Luge sma Yeonsung blm jadi ni kapan jadinya .. jinyoung kok jahat amat si ? Padahal tampang kyk dia itu good boy bgt aku sempet shock pas tau dia ternyata bad boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s