Stay [Chapter 14] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Satu tahun kemudian, berita-berita bahagia pun mulai terdengar.

Hoseok akhirnya menjadi seorang ayah.

Namjoon dan Jenny bertunangan.

Seokjin telah melebarkan sayap karirnya menjadi solois go international.

Hubungan Taehyung dan Soomi mulai ada kemajuan. Soomi sudah memberikan lampu hijau pada Taehyung.

Irene dikabarkan menikah dengan Bogum, kekasihnya.

Lisa telah sukses menjadi seorang fashion desaigner.

Heejoo sedang hamil anak Chanyeol.

Lalu dari Sena dan Jungkook sendiri….

“Aku memutuskan menikah dengan ibu Park Jimin.”

YE?!”

Sena dan Jungkook pun saling pandang. Itu adalah berita paling mengejutkan daripada berita-berita yang lain di tahun itu.

“Ayah serius?” tanya Sena memastikan. Jungkook yang ada di sampingnya juga menatap Sehun penasaran.

“Hm. Sebelum Jongsoo meninggal, dia mengamanahiku untuk menikah dengan istrinya. Kau tidak keberatan menjadi saudara tiri Jimin, ‘kan?”

Sebenarnya bukan itu yang membuat Sena terkejut setengah mati. Dia terkejut karena ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Padahal Sena sudah menyuruh ayahnya untuk menikah lagi beberapa bulan setelah kematian ibunya. Tapi ayahnya menolak dengan alasan tidak mau menggantikan Daena dengan siapa pun. Sena juga tidak mau memiliki ibu lain. Tapi dia lebih tidak tega kalau ayahnya harus hidup sendiri di masa tua nanti.

“Aku tidak keberatan menjadi saudaranya. Aku hanya tidak percaya saja Ayah memutuskan menikah lagi.”

“Kau juga tidak keberatan kalau nanti Jimin akan menjadi saudara iparmu?” tanya Sehun pada Jungkook yang sejak tadi hanya menyimak.

“Hm. Saya tidak akan keberatan, itu keputusan Anda, Presdir.”

“Kubilang panggil aku ‘ayah’.”

Ne, Abeoji.”

“Dan jangan terlalu formal padaku. Kita sedang membahas masalah diluar pekerjaan, jadi kau harus bersikap seperti anakku sendiri. Mengerti?”

Ne.”

“Kapan kalian berdua akan menikah?”

Jungkook dan Sena pun saling pandang lagi. Sena juga melayangkan tatapan penuh tanya. Yang selalu dibalas tatapan penuh kepastian oleh Jungkook.

“Setelah Ayah menikah. Kami akan menyusul,” balasnya sambil menatap Sehun yakin.

Sebaris senyum pun terbentuk secara otomatis di wajah Sena. Seperti anak yang tidak tahu tata krama –atau bisa dibilang memang begitu, Sena pun menarik leher Jungkook dan mencium pipi Jungkook lama. Sehun sampai berdecak tak percaya.

“Selalu saja memulai duluan. Mirip sekali dengan ibumu waktu muda.”

Sena terkekeh geli. Jungkook tersenyum malu.

Sekeluar dari kantor presdir, mereka bukannya kembali ke meja masing-masing. Tapi Sena mengajak Jungkook untuk kabur. Jungkook mau tak mau ikut saja, toh dia asisten Sena. Gadis itu melemparkan sebuah kunci padanya yang langsung diterimanya dengan baik. Mereka pun pergi ke suatu tempat dengan mobil Sena.

“Kemana?” tanya Jungkook selaku sopir.

“Wolmido.”

“Kenapa ke sana?” tanya Jungkook lagi sambil mengendalikan setir ke jalan menuju Wolmido.

“Menghabiskan waktu bersamamu,” jawab Sena sambil menatap Jungkook yang sedang fokus menyetir.

“Harusnya kau memintanya di akhir pekan saja. Banyak tugas yang harus kau selesaikan hari ini, Nyonya.”

Sena selalu merasa geli dan senang setiap kali Jungkook memanggilnya ‘Nyonya’. Karena itu –menurutnya adalah ungkapan dari hati Jungkook kalau sebenarnya Jungkook ingin memilikinya secara utuh.

“Tapi aku ingin berkencan dengan asistenku sekarang.”

Jungkook berdecak kecil. “Selalu saja semaunya sendiri.”

Gadis itu hanya tersenyum dan memukul pelan Jungkook saat pria itu mengedipkan sebelah mata padanya.

Sampailah mereka di pantai Wolmido. Nyaris sore hari, benar-benar waktu yang tepat. Sena langsung berlarian mendekati bibir pantai begitu melepaskan flatshoes-nya di dekat Jungkook. Dia tidak peduli Jungkook terus memanggilnya karena sembarangan meninggalkan sepatu. Dia malah asyik bermain-main dengan ombak. Yang akhirnya membuat Jungkook harus menghampirinya sambil membawa sepasang sepatu berwarna cokelat tersebut.

Yaa, hati-hati,” pekik Jungkook saat dia melihat Sena berlarian mundur untuk menghindari ombak yang akan melahap kaki telanjangnya dan nyaris menabrak orang lewat.

Sena justru berteriak histeris sendiri. Seperti anak kecil.

Kalau sudah begitu Jungkook hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum.

Dia memutuskan duduk tak jauh dari tempat Sena bermain untuk mengisi kembali energinya yang sempat terkuras karena menyetir. Dilepaskannya jas hitam yang sedari tadi terus melekat di tubuhnya. Menyisakan kemeja baby blue yang bagian lengannya dilipat sampai siku, berniat mengekspos lengannya yang berotot mungkin. Sesekali sambil melakukan itu dia mengawasi Sena, takutnya Sena akan menabrak orang atau parahnya terjungkal sendiri karena terlalu antusias bermain. Dikeluarkannya ujung kemejanya dari celana, juga mengendurkan dasinya yang terlalu mengikat leher. Sempurna sudah, pria tampan.

“Kook-a!! Mataharinya terbenam!!”

Teriakan Sena yang menggema kemana-mana itu sukses membuat Jungkook mendongak. Dia menatap gadisnya sebentar yang sedang menunjuk matahari terbenam, kemudian dia pun ikut melihat matahari terbenamnya sendiri. Untuk beberapa detik dia dibuat terpana dengan proses kembalinya matahari ke peraduan. Sebelum berpaling lagi pada Sena yang baginya tampak 1000 kali lebih cantik dari pemandangan itu sendiri. Rambut panjangnya berkibar pelan. Menunjukkan setengah wajahnya yang bersinar terkena pantulan sinar senja.

Mungkin Sena sadar kalau sedang diperhatikan. Dia pun menoleh pada Jungkook dengan senyum lebarnya yang manis. Lalu berteriak, “Cantik ‘kan?!”

Jungkook ikut tersenyum. Mengangguk. “Cantik sekali.”

Sena pun membuat heart sign besar. “Saranghae!!!”

Yang kemudian dibalas Jungkook dengan tingkah serupa. “Nado saranghae.”

Sena pun berlarian ke arahnya. Tahu-tahu melompat dan BRUK! Gadis itu malah tertawa saat melihat Jungkook yang meringis kesakitan di bawahnya.

Yaa, itu bahaya. Kau bisa membunuhku,” ujar Jungkook sembari menyamankan posisinya.

“Tapi akhirnya tepat sasaran juga ‘kan?” balas Sena sambil membersihkan rambut Jungkook dari pasir-pasir pantai.

“Kau ini memang beda.” Jungkook pun mengangkat tubuh mereka agar terduduk di atas pasir, bukannya berbaring. Dia membiarkan Sena membersihkan rambutnya yang memang penuh dengan pasir-pasir putih.

“Setelah ini ayo pulang.”

Shireo,” balas Sena cepat. “Aku masih ingin di sini.”

“Sudah tidak ada yang bisa dilihat lagi sekarang.”

“Siapa bilang. Ada kok. Ini, aku sedang melihatnya.”

Jungkook mendengus geli. “Kau ini.”

Tatapan Sena mendadak berubah serius. “Kook-a.”

“Hm?”

“Kau benar tidak mau melakukannya sekarang?”

“Melakukan apa?”

“Hal yang selalu dilakukan oleh sepasang kekasih. Kau tahu ‘kan … itu….”

Jungkook butuh waktu untuk menemukan apa maksud dari kata-kata Sena. Dia rasa dia sudah pernah mencium gadis itu, memeluk juga sudah pernah. Lalu apa yang dimaksud?

Apakah….

Jungkook menghela napas. Membuang pandangan kemana pun.

“Terkadang tidak semua hal yang dilakukan orang lain harus kita lakukan juga. Aku tidak mau. Itu tidak akan menjadi indah lagi saat waktunya tiba.”

“Tapi Kook-a … aku….”

Jungkook kembali menatap gadisnya lagi. Mengusap pelan permukaan bibir kemerahan Sena dengan ibu jarinya. “Sebelumnya kau sudah pernah berciuman dengan Yoongi ‘kan? Ciuman kita … bukan ciuman pertamamu ‘kan? Bagaimana? Apakah rasanya sama seperti kau berciuman dengan Yoongi?”

Sena menggeleng pelan. Rasanya sungguh tidak sama. Sensasinya pun berbeda. Ciumannya dengan Jungkook tidak semenyenangkan ciumannya dengan Yoongi.

“Itulah kenapa aku tidak mau. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Aku akan berusaha untuk menjagamu tetap begini sampai waktunya tiba.”

Pipi Sena pun merona. Dia memukul-mukul pelan dada Jungkook sambil menatap pria itu malu-malu. “Ah kau ini … ini yang membuatku kesal. Kau terlalu pintar mengambil perasaanku, Jungkook-a.”

“Jantungmu sedang berdetak cepat sekarang?” tanya pria itu sambil merangkul pinggang Sena dengan satu tangan.

“Sangat.” Sena ikut merangkul leher Jungkook.

“Seberapa cepat?” Dahi mereka saling menempel.

“Secepat kau berkedip.” Sena pun memejamkan mata.

“Kenapa kau menutup mata?”

“Menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Pangeran menciumku.”

“Bukannya Nyonya yang selalu mencium duluan?”

Sena berdecak. “Sekarang aku sedang berusaha bersabar.”

“Sayangnya itu sia-sia. Aku lebih suka di sini.”

Sena hanya bisa mendengus geli saat dia merasakan bibir Jungkook menyentuh keningnya. Memang lokasi favorit seorang Jeon Jungkook ada di sana.

“Aku tidak suka bermain lidah. Menggelikan.”

Sena hanya bisa memukulnya kalau Jungkook sudah mulai bicara begitu.

Mereka terlalu betah berada di sana sampai-sampai tidak sadar kalau langit berubah mendung. Mereka baru menyadari itu setelah air langit mulai berjatuhan. Buru-buru Jungkook meraih jas-nya untuk digunakan sebagai payung bagi mereka. Keduanya berlarian ke mobil yang lokasinya jauh sekali dari pantai.

Konyolnya, saat akan memasuki mobil, Jungkook sama sekali tidak menemukan kunci mobil di saku celananya. Dia bahkan mengecek semua saku bajunya. Tapi nihil, dia sama sekali tidak menemukan kunci mobil Sena.

“Kenapa?!” tanya Sena sedikit berteriak untuk menyaingi suara hujan.

“Kau membawa kuncinya?!”

“Tidak! Bukannya kau yang bawa?!”

Sekali lagi Jungkook mengecek semua saku pakaiannya. “Tidak ada!”

“Kau menjatuhkannya?!”

“Kurasa begitu!”

“Lalu kita harus bagaimana?!”

Jas itu sepenuhnya diberikan pada Sena. Jungkook tidak peduli meski dia kehujanan. Kalau tidak begini, dia akan kesusahan mencari tempat berteduh terdekat. Dan di sanalah dia menemukan sebuah tempat.

“Kau tidak keberatan kita menginap semalam?!” tanyanya pada Sena.

“Di mana?!”

“Hotel!”

Sena tidak begitu mendengar kata Jungkook karena dia sibuk menyuruh Jungkook untuk masuk ke bawah naungan jas hitamnya agar tidak begitu kehujanan. “Kau bisa sakit nanti! Tadi apa katamu?!”

“Kita menginap di hotel dulu hari ini! Hotel milik ayahmu!”

“Oke! Tidak masalah!”

Mereka pun memutuskan meninggalkan mobil itu di sana dan pergi menuju hotel terdekat. Untungnya itu adalah hotel di bawah naungan Oh Corp. Mereka pun memesan satu kamar dengan 2 tempat tidur.

Dan di sinilah mereka.

Jungkook menatap prihatin jas-nya yang sudah berat karena penuh dengan air. Dia dan Sena masih berdiri di lorong pintu hotel karena baju mereka yang terus menetes. Keduanya sedang menunggu pelayan hotel membawakan baju ganti untuk mereka.

“Rambutmu basah sekali, Kook-a,” ujar Sena sambil mengusap-usap cepat rambut lepek Jungkook sampai airnya bermuncratan kemana-mana.

“Setelah ini mandilah duluan,” lanjutnya.

Jungkook pun menoleh. Memperhatikan Sena yang juga sama basah kuyupnya seperti dia. Tapi ada satu bagian yang membuat matanya tertarik melihat ke sana. Menyadari bagian apa itu, dia pun buru-buru membuang pandangan, mengusap tengkuk sebentar sebelum menutupi tubuh Sena dengan jas basahnya.

Sena sendiri kelabakan menerima jas itu karena Jungkook memberikannya tanpa melihatnya.

“Lain kali pakailah baju yang lebih tebal.” Hanya itu yang Jungkook katakan sebelum beranjak membukakan pintu bagi pelayan hotel yang datang membawa bathrobe, handuk dan makanan.

“Tunggu di sini sebentar,” katanya pada si pelayan hotel. Dia menutup pintu usai mengambil bathrobe dan handuk. Diberikannya satu setel bathrobe pada Sena, sekalian handuk yang ia sampirkan di rambut basah gadis itu.

“Kau duluan yang mandi,” ucapnya sambil membukakan pintu kamar mandi yang berada tepat di belakang Sena. Dia mendorong pelan tubuh gadis itu, lalu menutup pintunya lagi. Dan dia menyuruh si pelayan hotel untuk membawa kereta makanan ke dalam ruangan tersebut.

Selesai Sena mandi, giliran Jungkook yang mandi. Melihat bibir Jungkook yang pucat, Sena sempat khawatir. Dia membiarkan Jungkook mandi dulu, sementara dia sendiri menelepon pihak hotel untuk mengantarkan vitamin. Vitamin itu datang tepat saat Jungkook keluar dari kamar mandi.

“Ada apa?” tanya pria itu begitu melihat Sena datang dari pintu.

“Aku meminta vitamin.”

“Untuk?”

“Untukmu.” Sena pun mengulurkan tangannya untuk menjangkau pipi Jungkook yang dingin. “Bibirmu pucat. Aku khawatir kau sakit nanti.”

“Khawatirkan juga dirimu sendiri,” balas Jungkook seraya menempelkan telapak tangannya di dahi Sena. “Dahimu hangat.”

Sena tersenyum tipis. “Tapi kau jauh lebih penting, Kook-a.”

“Kau dua kali jauh lebih penting, Nyonya.”

Gadis itu menghela napas. “Selalu saja seperti itu.”

“Kalau begitu kita berdua harus makan vitamin itu bersama-sama. Kaja, waktunya makan malam.”

Sena menurut saja saat Jungkook menggandengnya menuju tempat di mana makan malam mereka berada. Jungkook yang membeli itu. Menu makan malam lengkap yang mungkin akan membuat perut mereka buncit malam ini.

“Semua ini pasti mahal.”

“Tidak usah pikirkan uang. Makan saja,” balas Jungkook sembari menyuapi kimchi ke mulut Sena.

Sena mengunyahnya sambil menatap Jungkook sebal. “Harusnya kau simpan saja uang itu untuk dirimu sendiri. Kau tidak mengerti artinya aku? Kau bisa memanfaatkanku untuk membeli semua makanan ini.”

Jungkook juga mengunyah kimchi-nya. Tapi dia bisa menyeringai meskipun mulutnya penuh. “Konyol. Aku tidak sebrengsek itu. Kau tidak suka kutraktir makan dengan uang yang kuhasilkan dengan keringatku sendiri?”

“Ya bukan begitu. Hanya saja….”

“Hanya saja?”

“Kau masih punya tanggungan lain yang lebih penting daripada mentraktirku makanan mahal seperti ini. Kau harusnya pindah ke apartemen yang lebih besar. Beli mobil. Pergi melakukan hobimu. Jalan-jalan keliling dunia. Pokoknya bersenang-senanglah dengan hasil keringat yang kau dapat. Aku masih bisa membeli semua ini sendiri.”

Jungkook sibuk mengunyah saat mendengarkan Sena mengoceh. Dia bahkan memotong kecil-kecil daging steak di piring Sena juga menuangkan minuman anggur ke gelas gadis itu.

“Tempat tinggal asalkan bisa melindungiku dari hujan dan panas itu sudah cukup. Aku masih punya motor, kenapa harus beli mobil? Hobi? Aku masih melakukan hobiku. Kau mungkin tidak tahu kalau setiap pulang dari kantor aku akan berada di depan komputer lama-lama demi mengikuti turnamen game tiap harinya. Tapi aku akan melupakan game-ku kalau kau ingin aku bersamamu. Dan untuk jalan-jalan keliling dunia, aku tidak suka melakukannya sendiri. Aku ingin jalan-jalan bersamamu. Nanti. Kalau kita sudah menikah.”

Sena tercenung sebentar. Ia baru sadar kalau hidup Jungkook sangat sederhana, tidak sepertinya yang selalu ingin mewah dalam hal apa pun. Kentara sekali perbedaan antara dia dengan Jungkook. Bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersatu namun saling melengkapi satu sama lain.

“Habiskan, setelah ini minum vitamin dan tidur,” kata Jungkook sembari meletakkan satu pil vitamin di dekat gelas air mineral Sena. Dia mengusap-usap kepala gadis itu sebelum melanjutkan makannya.

TBC

Advertisements

11 responses to “Stay [Chapter 14] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. i’m jungshook!!! sena ya tuhan km minta ‘itu’ ? ahh untung si kuki imannya tebel ya. pacarable sekali km jeon. sempurna sudah, pria tampan. eh eh btw gue first kah?. ya ampun sbnernya gue bingung mau komen apa lagi. heyyy ternyata kita sama2 98L ya. tp km udah kuliah udah bisa nulis ff lah gue *kocurhat? (hla yo mbuh) . ah pkoknya joha ff kmu ya . semangat terus say. sekian komen unfaedah dr gue. kkeut.

  2. Demi Tuhan. Anjaaaay.. Ini manis banget kak.
    Kalau gini caranya aku bakal belok ke #team JK. Wkwkwk
    Eh tapi kalau yoongi muncul labil ku kumat lagi 😂😂😂😂

  3. Jungkook kau begitu menghargai sena. Enak banget yah jadi sena setelah yoongi sekarang jungkook tapi jungkook lebih so sweet dibandungkan yoongi.

  4. Wowwwwww…jongkook keren…setelah beberapa chapter agak melow,skrng sdh mulai yg ceria…thor bikin moment sena berantem ky yoongi dl tp ne versinya sm jongkook..sena emng ngak tau malu,maunya cium duluan terus..untung appa sehun ngk marah sm sena..

  5. Hello~
    Amu sbenernya bukan reader baru dsini..
    Cuma kalo buat ff ini, aku jadi reader baru ㅋㅋㅋ
    Udah lama ga cek website ini, pas cek nemu ff ini. Dan daebakkk . Walau aku belum baca dari awal aku langsusng suka. 😄☺😊

    Salam kenal ya buat author nya~~ 😀 ❤

  6. Jatuh cinta deh sama jungkook nih, manis banget sumpaaaahh
    Bolehlah punya cowo kek jungkook wkwk
    Btw nungguin banget deh sena sama jungkook nikah hahaha
    Semangat eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s