Stay [Chapter 15] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Sehun benar-benar melangsungkan pernikahannya dengan Hyemin, ibu Jimin. Yang hadir ke acara itu tidak banyak. Hanya relasi-relasi Oh Corp dan teman-teman dekat Sehun saja. Sena, Jungkook dan Jimin juga hadir di sana.

Jimin mendengus geli saat melihat Sena. Tahu-tahu dia tertawa keras. Sena dan Jungkook yang tidak tahu apa-apa hanya bisa saling pandang dan menggendikkan bahu tak tahu.

“Dunia ternyata sangat sempit ya,” ujarnya setelah puas tertawa. “Aku tidak percaya sekarang kita menjadi saudara.”

“Kau harus percaya, karena sekarang kau tidak punya kesempatan untuk merebutnya dariku,” balas Jungkook sambil menggandeng tangan Sena.

Jimin berdecak. “Mwoya. Itu sudah berlalu lama sekali. Aku masih percaya kalau Yoonji pasti akan kembali suatu saat nanti.”

Sekali lagi Jungkook dan Sena saling pandang. Spontan mereka menutup mulut, berusaha untuk tidak kelepasan tertawa. Ternyata alasan Jimin masih menyendiri sampai sekarang adalah karena Yoonji. Kawan-kawan senasibnya yang juga pecinta Yoonji seperti Hoseok dan Taehyung saja sudah berhasil move on, padahal mereka belum tahu kalau Yoonji sebenarnya adalah Yoongi. Jungkook dan Sena sepakat untuk tidak memberitahu Jimin kebenarannya.

Yaa, carilah gadis yang lain. Kau hanya akan menghabiskan waktu kalau menunggunya.” Karena Yoonji tidak akan pernah kembali sampai kapan pun, batin Sena.

“Menunggu sesuatu yang tidak pasti hanya akan menyakitimu,” tambah Jungkook.

“Terserah apa kata kalian. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan menyerah padanya.”

Jungkook dan Sena yang tak bisa membantu banyak hanya bisa menggendikkan bahu sambil tersenyum misterius.

Setelah acara pernikahan, keluarga Oh sepakat untuk makan malam bersama di rumah. Jungkook juga ikut serta. Karena dia adalah penanggung jawab dari semua tetek bengek pesta pernikahan. Sebagai ucapan terima kasih, Sehun mengajaknya untuk ikut makan malam.

Meskipun baru menikah, suasananya tidak seperti pengantin baru. Sehun sudah berusia 51 tahun, Hyemin 48. Bukan saatnya untuk romantisan-romantisan lagi seperti pengantin baru. Hyemin sibuk memindahkan makanan dari pantry ke meja makan dibantu oleh Sena. Sementara Sehun, Jungkook dan Jimin menunggu di meja makan.

Sena tersenyum geli melihat ayahnya yang begitu canggung saat menerima mangkuk nasi dari Hyemin. “Ayah, tidak bilang terima kasih pada eomma?”

“Terima kasih,” kata Sehun kaku.

“Ehey … masa hanya begitu? Yang romantis dong. Seperti ‘terima kasih, yeobo’ atau ‘terima kasih banyak, cintaaa~~’.”

Sehun berdecak sambil mencubit gemas pipi Sena. “Sudah lama tidak tinggal di rumah sekarang kau jadi menyebalkan ya?”

“Aaaa~ sakit~”

Sehun langsung menarik tangannya begitu Hyemin menyuruhnya untuk berhenti. Wajahnya kembali kaku saat matanya tak sengaja bersitatap dengan Hyemin yang sedang tersenyum geli.

Setelah semua makanan telah siap, mereka pun mulai makan. Suasana di meja makan itu tampak hangat dan sedikit heboh. Siapa lagi si pembuat kehebohan kalau bukan Sena. Berkali-kali tersedak tidak membuatnya kapok. Entah dia mengomentari sikap ayahnya yang terlalu kaku, memuji masakan ibu tirinya, mengusili Jimin atau mengocehkan hal-hal tak penting pada Jungkook.

Selesai makan, Sehun dan Hyemin memutuskan untuk tidur duluan. Seharian ini membuat tubuh mereka lelah. Sementara itu, Sena dan Jungkook yang dipaksa menginap pun memilih untuk menonton TV bersama Jimin.

Yaa, mulai hari ini panggil aku oppa,” ucap Jimin tiba-tiba yang duduk tepat di sebelah kanan Sena.

Shireo. Aku lebih tua darimu. Kau harusnya memanggilku nuna.”

Jimin memutar bola matanya jengah. “Lebih baik tidak usah keduanya. Gadis sepertimu tidak pantas dipanggil nuna.”

“Apa kau bilang?!”

Jimin buru-buru mengambil bantal untuk membentengi dirinya. “Aniya. Aku tidak bilang apa pun.”

“Awas kau.” Setelah mengancam Jimin dengan pelototannya, dia pun menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Jungkook. Tersipu-sipu ketika Jungkook mengusap rambutnya.

Jimin melihat itu dengan prihatin. “Kurasa sebentar lagi giliran kalian yang akan menikah.”

Jungkook maupun Sena tersenyum lebar.

“Ah molla. Aku mengantuk. Aku tidur duluan, eo? Awas kalau kalian berbuat yang tidak-tidak di sini.”

Sena langsung mengambil bantal dan melemparkannya pada Jimin. “Kekasihku tidak semesum dirimu, Chim!”

Sepeninggal Jimin, Jungkook mencium lama puncak kepala Sena, lalu kembali mengusapnya. “Sekarang giliran kita yang membahas pesta pernikahan. Kau ingin kita bertunangan dulu atau langsung menikah?”

“Eum … enaknya bagaimana ya….” gumam Sena sambil mengangkat kepalanya. Bersitatap dengan Jungkook secara intens. “Kalau … langsung menikah?”

“Kau tidak ingin pamer cincin dulu pada teman-temanmu?”

Gadis itu menggeleng. “Aku tidak ingin punya cincin. Aku hanya ingin memilikimu.”

Jungkook mendengus geli. Dia mengusap lembut pipi putih Sena. “Seberapa besar kau ingin memilikiku?”

Manhi. I want you many many.

“Sepertinya aku pernah dengar itu di suatu tempat.”

“Oh ya?”

“Hm. Lalu aku mendengarnya dari Nyonya.” Jungkook pun menyentil ujung hidung Sena, kemudian mereka pun tertawa.

“Baru juga ditinggal sebentar,” celetuk Jimin dari belakang. Dia berniat pergi ke dapur untuk mengambil minum ketika dia melihat sejoli itu sedang bermesraan berdua.

“Kau tidak akan bisa begini bersama Yoonji, Park Jimin,” sahut Sena, berniat menggoda balik Jimin.

“Aku tidak berniat begitu dengannya,” balas Jimin sambil menjulurkan lidah.

“Hah! Terserah ya, yang penting aku sudah memperingatkanmu.”

Fokus Sena kembali pada Jungkook begitu Jimin telah kembali ke kamar. Dia tersipu karena terus diperhatikan oleh pria itu. Mengatasi rasa malunya, ia pun menangkup wajah Jungkook dan menggerakkannya ke kanan kiri dengan gemas.

“Jangan melihatku seperti itu. Kau membuatku malu.”

Dibalas oleh Jungkook dengan perlakuan serupa. “Wajahmu ini … too beautiful to handle.”

Uri Kookie bisa bahasa Inggris!!”

“Kau pikir aku bodoh sepertimu?”

“Tapi kau tetap suka ‘kan?”

“Siapa bilang?”

My beloved man, Jeon Jungkook-sshi.”

AigooUri Sena bisa bahasa Inggris juga ternyata.”

“Pacarnya siapa dulu?”

“Kook.”

Pfft! HAHAHAHA!! Kook katanya, hahahahaha!!”

Jungkook pun melepaskan tangkupannya dari wajah Sena dan membiarkan gadis itu terpingkal-pingkal sendiri sambil berguling-guling di dekatnya. Heran, sebegitu lucukah dia menyebut dirinya sendiri dengan nama itu?

Tapi terserahlah. Yang penting Sena bisa tertawa keras karenanya. Dia membiarkan gadis itu tetap tertawa, sementara dia meraih kaki Sena dan meletakkan di atas pahanya. Sambil mendengarkan tawa yang terdengar lucu di telinganya itu, dia pun memijat telapak kaki Sena dengan lembut. Mungkin Sena membutuhkan ini, karena seharian ini gadis itu memakai high heels. Sena terus mengeluh kakinya sakit selama acara, namun gadis itu menolak saat disuruh ganti sepatu karena perannya di pernikahan ini cukup besar –yaitu sebagai keluarga dari Sehun.

Puas tertawa, Sena pun meraih bantal di dekatnya dan menyelipkannya di belakang kepala. Dia sangat menikmati pijatan Jungkook.

“Kau juga bekerja sebagai pemijat?” tanya Sena dengan seringaian di wajahnya.

“Tidak. Wae?”

“Tidak apa-apa. Aku suka sekali dengan pijatanmu … orangnya juga.”

Jungkook tersenyum geli. “Dasar.”

“Aaa nyaman sekali. Aku jadi mengantuk.”

“Tidur saja.”

“Hm.”

Baru beberapa detik setelah itu, Sena sudah mendengkur. Ia pun menyudahi pijatannya. Lalu mengangkat gadis itu ala bridal style, membawanya menuju sebuah kamar. Kamar bernuansa oranye. Setelah membaringkan Sena dengan nyaman, ia pun melihat-lihat sebentar.

Kamar Sena meskipun sudah lama tidak ditempati, tetap kelihatan rapi dan penuh. Buku kuliah masih tampak bertumpuk-tumpuk di sebelah sebuah buffet. Lalu baju-baju menggantung di sebuah lemari tanpa pintu. Secara alami Jungkook menghampiri lemari itu. Dia memilah-milah baju-baju itu seperti akan memakainya. Padahal dia hanya melihat-lihat saja. Setidaknya meskipun itu hanya sebagian kecil dari yang dipunyai Sena, Jungkook jadi tahu bagaimana selera berpakaian gadisnya. Yang bisa dia simpulkan, Sena menyukai baju-baju berdesain simple tapi dengan warna yang bervariasi. Hampir mirip dengannya, bedanya dia suka desain simple juga warna yang dominan hitam putih.

Berpindah ke foto-foto Sena yang terpajang lengkap di sebelah lemari. Dari Sena masih bayi sampai Sena lulus SMA. Semuanya tersedia di sana. Dia tidak bisa menahan tawanya melihat Sena berusia kira-kira 2 tahun dalam gendongan ayahnya. Jauh sekali dari Sena sekarang. Pipinya gembul, badannya gemuk, leher sampai berlipat-lipat, sangat-sangat luar biasa untuk dilihat. Untung tawanya tidak sampai membangunkan Sena. Kalau Sena bangun, kesimpulannya, dia mati.

Tapi setelah itu ekspresinya berubah saat melihat foto-foto yang lain. Dia tersenyum seperti seorang ayah yang sedang bernostalgia melihat pertumbuhan putrinya. Sejak kecil Sena memang sudah cantik. Gadis itu punya senyum lebar yang akan membuat matanya terpejam. Sejak kecil juga sepertinya Sena memang langganan juara. Dia selalu memegang piala, atau piala berbentuk kalung, entahlah apa sebutannya itu. Jadi tidak aneh juga kalau Sena di balik tingkah absurd-nya adalah gadis yang jenius.

Anehnya, di foto-foto masa kecil sampai SMP, tidak ada satupun teman yang berfoto dengannya. Baru ketika SMA saja Sena berfoto dengan trio berisiknya, lalu di bangku kuliah ada fotonya bersama Heejoo. Apakah mungkin Sena tidak punya teman di masa kecilnya? Sama sepertinya?

Dia pun menoleh ke belakang, pada Sena yang terlelap nyaman di bawah selimut.

“Jadi itu kenapa waktu itu kau bilang mencari teman? Kau juga tidak punya teman?”

Sena menggeliat sedikit. Ia tersenyum tipis.

Puas melihat-lihat foto Sena. Dia pun beralih pada meja belajar Sena. Sudah pasti isinya kalau bukan buku ya alat tulis. Tapi bagaimana di bagian lacinya? Dia membuka satu persatu laci meja itu. Di laci pertama isinya penuh dengan bolpoin-bolpoin kosong. Di laci kedua penuh dengan post it yang sudah diremas-remas sampai tak berdaya. Diambilnya satu persatu kertas itu, membacanya sambil duduk di kursi meja belajar tersebut.

“Ulangan harian matematika hari sabtu.”

Deadline pengumpulan laporan Biologi hari selasa jam tujuh pagi di meja Hana seonsaengnim.”

“Beli kado untuk ulang tahun Lisa.”

“Jangan lupa beli apel untuk makan malam.”

“Beli kado untuk ulang tahun Irene.”

First anniversary Irene-Bogum di taman Sungai Han.”

Chicken Delivery xxxx-xxxx-xxx”

Sebenarnya semua itu adalah hal-hal yang tidak penting. Menyerah membaca semua, Jungkook pun mengembalikan semua post it itu lalu membuka laci ketiga. Mungkin di sanalah laci yang memang sengaja diperuntukan untuk menyimpan barang-barang penting. Ada buku harian, buku sketsa dan lain-lain. Tanpa pikir panjang Jungkook langsung mengeluarkan semua benda itu ke meja.

Buku harian tampak sangat menarik perhatiannya. Dengan ganas dia pun langsung membuka buku bersampul toska bergambar kucing itu.

Menarik.

Bisa dibilang, buku ini adalah rekam jejak kehidupan Sena di masa SMA.

Di halaman pertama saja, Jungkook sudah dibuat tersipu.

…… teman pria pertama yang kukenal adalah Jeon Jungkook. Wah … dia tampan. Awalnya aku iseng-iseng mendekati dia. Untung aku sedang bersama Jimin, jadi tidak akan ketahuan kalau aku punya niat lain mendekatinya. Eh ternyata dia berasal dari kota yang sama dengan Jimin. Bagus! Keberuntungan memang selalu berpihak padaku. Jadi aku tidak perlu berlagak sok centil untuk tahu siapa namanya. Sumpah! Dia lucu seperti bunny!!! Kyaaaaak!! >< Aku suka wajah imutnya! Suka suka suka!!…..

Sebegitu sukanya ya … lucu, batin Jungkook sambil membaca halaman selanjutnya.

…… apakah aku boleh suka Jungkook? Apakah boleh? Ya ampun >< bagaimana bisa ada pria yang setampan dan seimut itu?!!! Jimin sampai kalah imut! Seokjin sampai kalah tampan! Oh my!! Tolong sadarkan diri ini ><

Jungkook tidak menyangka kalau Sena masih terus membahas tentangnya sampai di halaman 10. Kentara sekali kalau Sena begitu menyukainya. Entah menyukai dalam arti apa, mungkin kagum? Karena setelah itu, buku harian itu dipenuhi dengan cerita-cerita tentang Kihyun.

Sebenarnya Jungkook malas membacanya, tapi dia juga penasaran.

Melting mendengar suara Kihyun oppa ><

Akhirnya di-notice juga >< Kyaaaak!!

LOL LOL LOL ternyata Kihyun oppa itu selain tampan, punya suara bagus, freak juga ternyata LOL

Astaga aku emo :”) Kupikir dia adalah anak dari orang kaya, ternyata…. Ya ampun oppa ><

Tidak kuat dengan semua itu, Jungkook pun melewati semua halaman tentang Kihyun juga tentang Yoongi hingga akhirnya sampai juga di halaman terakhir.

The end of my high school story. Goodbye Kihyun oppa :”) Goodbye Yoongi oppa :”) & Goodnight Jeon Jungkook ^_^

Tertanggal beberapa hari selang graduation day mereka.

Jungkook mengerutkan dahinya.

Kenapa padanya goodnight tapi yang lain justru goodbye?

Apa maksud dari goodnight?

Dia tahu, arti goodnight adalah selamat malam.

Tapi … kenapa selamat malam?

Apakah ada maksud tertentu di balik tulisan ini?

Mungkinkah Sena sudah memikirkan hubungan mereka sejak hari itu?

Mencoba membayangkannya saja sudah membuat senyum Jungkook merekah. Dia pun segera menutup buku itu, lalu membuka buku sketsa.

Ternyata benar-benar tidak ada yang menarik di sana. Hanya gambar-gambar yang tidak begitu jelas maksudnya. Nyaris dia menutup buku itu sebelum matanya menangkap suatu gambar yang tampaknya dibuat dengan sungguh-sungguh.

Gambar side profile seorang pria!

Butuh kejelian total untuk memahami siapa pria yang digambar oleh Sena ini.

Maklum, bukan gambar professional.

Tapi Jungkook adalah seorang penggambar professional.

Dia bisa mengambil kesimpulan, siapakah pria yang digambar oleh Sena ini.

Dan itu adalah….

Jeon Jungkook.

Ya, dirinya.

Dia tidak bohong.

Serius kalau dia bilang gambar itu adalah gambarnya.

Yoongi bermata sipit, Kihyun bermata sipit. Dan di gambar ini, si pria memiliki mata lebar.

Sena selalu mendeskripsikan Kihyun sebagai madu dan Yoongi diibaratkan cabai. Lalu di sini, tepat di bagian leher si pria, ada gambar kecil lambang dari playboy, alias kelinci.

Siapa lagi yang bermata lebar dan disebut kelinci oleh Sena?

Sudah pasti itu Jeon Jungkook!

See? Sepertinya sejak dulu mereka sudah ditakdirkan bersama.

Sena yang diam-diam menyukai Jungkook.

Jungkook yang terang-terangan menyukai Sena.

Meskipun sempat sulit bersatu, tapi mereka selalu melengkapi.

Saat akan mengembalikan semua barang itu ke tempat semula, tiba-tiba saja Sena terbangun.

“Kook-a….”

Jungkook pun reflek menoleh. “Hm? Kenapa bangun?”

“Kau sedang apa?” tanya gadis itu sambil menyibak selimutnya, ingin turun.

“Tidak sedang apa-apa,” dusta Jungkook yang dengan cepat mengembalikan buku-buku itu ke dalam laci. Sayangnya, secepat apa pun, tetap kelihatan oleh mata mengantuk Sena. Gadis itu langsung membelalak.

“K-kau baca semuanya?”

Jungkook segera menghampiri Sena setelah menutup laci. “Mungkin.”

Sena mendadak panik. Dia menatap Jungkook dan meja belajarnya secara bergantian. “Yaa … itu … itu … aaaaa!! Kenapa kau membuka laci mejaku tanpa seijinku?!!”

Bukannya merasa bersalah, Jungkook malah cengengesan lucu. Dia pun langsung berbaring di ranjang Sena. Berguling-guling dengan santainya lalu berhenti begitu menabrak Sena.

“Jadi waktu itu kau mendekatiku bukan karena tahu kalau aku adalah orang Busan tapi ingin berkenalan denganku?”

Reflek Sena pun memukuli Jungkook dengan pipi merona. “Molla molla molla!! Dasar lancang!”

Jungkook menangkap pergelangan tangan Sena lalu menariknya sampai gadis itu terbaring di sebelahnya. Memeluknya dengan posesif dan menciuminya sampai bosan.

“Kenapa tidak bilang sejak awal kalau kau sudah menyukaiku sejak lama? Kau sengaja menyembunyikan ini dariku? Bermain rahasia-rahasiaan?”

Meskipun sudah dibuat tersipu, Sena tetap tidak membiarkan Jungkook baik-baik saja karena sudah lancang membuka privasinya. “Memangnya tidak boleh punya rahasia? Nanti juga kau akan tahu. Aku berniat memberitahumu setelah kita menikah.”

“Kenapa harus menunggu kita menikah dulu?”

Sena pun mengusap pipi Jungkook. “Aku harus memastikan dulu apakah kau akan meninggalkanku seperti mereka atau tetap bersamaku sampai akhir. Aku tidak mau kecewa untuk ketiga kalinya. Aku takut kalau kau akan meninggalkanku setelah kau tahu semuanya. Aku khawatir kau akan berpikiran kalau aku adalah gadis yang mudah setelah kau mengetahui semua itu. Semua harapanku, fantasi masa depanku, semuanya sudah kupercayakan padamu, Kook-a. I won’t let you go.”

Jungkook tercenung untuk sesaat. Ya, dia tidak tahu apa pun tentang Sena. Ini jujur dia katakan. Dia tidak tahu kalau Sena mencemaskan soal itu. Karena dia pikir, hanya dia yang mencemaskan soal hubungan mereka. Dia terlalu takut Sena akan kembali pada Yoongi, tanpa menyadari kalau sebenarnya Sena juga takut ditinggalkan olehnya. Semua bukti itu sudah bisa membuktikan kalau Jungkook adalah pria yang egois. Dia memikirkan dirinya sendiri, tapi mengabaikan orang lain. Terlebih orang lain itu adalah Sena, kekasihnya.

Sekarang dia sadar kalau dia terlalu dingin dalam hubungan ini.

“Maaf, aku tidak tahu. Maaf juga sudah lancang. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Aniya. Kau tidak salah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak tahu karena aku tidak pernah mengungkapkannya. Aku ingin pengertianmu, tapi aku bahkan tidak mengatakan apa pun. Kita sama, Kook-a. Kita impas.”

Jungkook pun memajukan wajahnya, mengecup lembut dahi Sena. “Aku akan memperlakukanmu lebih baik lagi dari hari ini, Sena. Aku janji.”

“Hm. Kupegang janjimu. Sekarang tidurlah. Matamu merah, kau pasti lelah seharian ini ‘kan?”

“Sedikit.”

“Bohong. Cha! Sekarang pejamkan matamu. Jangan pedulikan tempat. Yang penting tidur saja. Haruskah kuberi fanservice sebelum tidur?”

“Hm, peluk aku.”

Arasseo.”

Setelah mendapat apa yang dia minta, Jungkook langsung tidur beberapa detik kemudian. Tidur yang sangaaaat nyenyak. Sampai-sampai mustahil untuk dibangunkan dengan cara apa pun. Toh siapa juga yang mau membangunkan? Sena juga ikut tidur tak lama kemudian.

TBC

Advertisements

9 responses to “Stay [Chapter 15] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Uuuuhhhh manisnyaaa
    Suka suka suka suka suka ^_^
    Sempet lucu sama ayah sena alias sehun di awal cerita
    Tapi lebih kebaperin pas moment jungkook liat diary sena, jungkook menang telak lah, bahagia banget pasti jungkook nih
    Ya ampun eonni cepet bikin mereka nikah dong
    ♥♥♥♥😊😂😂👏👏👏👏👏👏

  2. Ternyata sena dari awal memang suka sama jungkook tapi gak berani ngungkapin nya. Cepat menikah ya kalian berdua.

  3. Wah ternyata slama ini ada cinta rahasia,,,,sena ternyata suka sama jongkook secara diam2..wah sena kamu hebat…mochi jd saudara tiri sena, jd cerita baru…kasian jg mochi yglain sdh pd move on,mochi msh nunggu yoonji…

  4. ternyata banyak yg di rahasikan sena tentang masa lalunya dan jungkook udah tau, makin kesini mereka makin so sweeeeeet……

  5. oke fix yoongi, ntar klo misalkan kondangan ke acara nikahannya sena + jungkook jgn lupa ajak gue. biar ntar gue sekalian “nyumbang” lagu KANDAS. Hhhaa *njirmenistakanbias

  6. Oke fix. Sena bener” udah mupon.
    Daaaan seperrti nya aku jg harus bener” merelakan sugar oppa pergi dari hsg 2 ini. Good bye Yoongi… #nangis bombay 😭😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s