Bangtan House [#3 Rumah No. 3] ~ohnajla

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2

Kebalikan dari rumah nomor 1 yang sangat berisik oleh teriakan para nuna, rumah nomor 3 justru gaduh karena ulah para laki-laki. Dimulai dari anak pertama Park Jimin, kedua Park Jihoon, lalu Park Jaejun, ada lagi Park Jisoo dan yang terakhir adalah Park Jeno. Keluarga ini adalah gudangnya para lelaki imut. Saking banyaknya anak, orangtua mereka sampai lelah.

Jimin sebagai yang tertua tentu punya peran lebih dari seorang kakak.

Di satu kondisi dia harus mengambil peran ayah.

Di sisi lain dia juga perlu mengambil peran ibu.

Apalagi kalau orangtua mereka sedang ada urusan keluar kota. Sempurna sudah beban seorang Park Jimin. Terlebih badannya terlalu kecil untuk disebut Hyung oleh Jihoon atau Jaejun.

Jimin berusia 17 tahun, Jihoon 14, Jaejun 11, Jisoo 8 tahun dan Jeno masih 2 tahun.

Usia itu adalah usia tersibuknya. Di mana orangtuanya sering pergi keluar kota sementara meninggalkannya sendirian bersama 4 adik-adiknya itu.

Dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan sarapan adik-adiknya. Belum lagi adik-adiknya adalah pemilih. Jihoon paling suka dibuatkan Kimbap untuk sarapan. Tapi Jaejun lebih suka ramen. Jisoo selalu sarapan dengan nasi dan omelet. Sementara Jeno minta susu dan bubur.

Pernah karena Jimin terlambat bangun, dia hanya membuat satu jenis sarapan yaitu sandwich yang kemudian berakhir dengan adik-adiknya yang tidak mau berangkat sekolah.

Untung sayang, kalau tidak sudah pasti dia akan menendang mereka ke bulan.

Tapi meskipun dia bangun pagi, bukan berarti dia akan sampai di sekolah tepat waktu. Dia selalu terlambat. Langganan sepertinya. Guru kedisiplinan sampai kesal melihat wajahnya terus menerus. Taehyung saja sudah malas berangkat sekolah bersamanya lagi. Selalu saja tidak tepat waktu.

Di sekolah pun dia banyak tidur. Anehnya, nilai-nilai ulangannya selalu lebih tinggi beberapa poin dari Taehyung. Kalau Taehyung dapat nilai 3 untuk Bahasa Inggris, dia dapat 4. Lumayan kan?

Alasan kenapa dia tidur di sekolah karena di rumah dia akan sibuk mengurus adik-adiknya. Jihoon selalu curi-curi kesempatan datang ke rumah Namjoon untuk PDKT dengan Jarim. Pantas, dua anak itu memang seusia, satu sekolah lagi. Pasti ada saja alasannya.

Hyung, aku mau ke rumah Jarim,” seru Jihoon sambil memakai sepatunya. Baru saja pulang sekolah, dia sudah tampak keren lagi dengan baju kasualnya.

“Mau apa ke sana?”

“Belajar kelompok.”

“Jangan pulang malam-malam.”

Ne!!”

Iya, belajar kelompok, tapi hanya mereka berdua saja. Kalau tidak dijemput Jimin, mungkin Jihoon akan menginap di sana sampai besok paginya.

Ada lagi ulah Jaejun dan Jisoo yang sukses membuat kepala Jimin nyaris meledak.

Hyung! Buka pintunya! Yak!

Jimin yang sedang menggendong Jeno pun menoleh begitu mendengar keributan yang dibuat Jisoo pada pintu kamar Jaejun.

Yaa! Kau sedang apa?”

Sekali lagi Jisoo menggedor pintu kamar Jaejun. Lalu menoleh pada mad-hyung-nya. “Jun hyung mencuri pensilku lagi, Hyung. Itu hadiah dari eomma.” Kembali dia menoleh pada pintu itu. “Jaejun Hyung!!!

Karena Jaejun tidak kunjung membuka pintu kamarnya, Jimin pun bertindak. “Yaa, Jun-a. Buka pintunya. Ini Hyung.”

Suara rendah Jimin itu berhasil membuat Jaejun membuka pintu. Karena dia tahu, kalau suara Jimin seperti itu, maka hyung-nya sedang marah.

“Kembalikan pensil adikmu sekarang.”

“Tapi aku tidak mengambilnya.”

“Bohong!” sela Jisoo tiba-tiba. “Memang siapa lagi yang suka mencuri pensilku kalau bukan kau.”

Jaejun melotot pada adiknya itu. Tapi kemudian kepalanya tertunduk begitu melihat wajah dingin Jimin.

“Kembalikan.”

Ne.” Jaejun pun kembali ke kamar, lalu keluar lagi sambil membawa sebatang pensil yang tampak baru dan langsung diserobot oleh Jisoo.

“Sekarang minta maaf.”

“Ah wae? Aku sudah mengembalikannya, kenapa minta maaf segala? Lagi pula aku—”

“Minta maaf.”

Jaejun mengerucutkan bibirnya kesal. Lalu, “Maaf.”

“Yang tulus.”

“Maaaaaa … aaaf!”

“Park Jaejun!”

Jisoo menjulurkan lidahnya pada Jaejun tanpa sepengetahuan Jimin. Yang itu jelas membuat Jaejun kesal tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Jimin sedang memarahinya. Rasanya tidak adil. Kenapa Jimin selalu membela Jisoo daripada dia?

Hyung selalu saja membelanya, sama saja seperti eomma. Hyung jahat!”

BRAK!

Jimin terkejut. Lalu menghela napas. Dia menoleh ke belakang pada Jisoo. “Kembali ke kamarmu.”

Ne!” balas anak itu penuh semangat sebelum melompat-lompat riang memasuki kamarnya.

Sementara itu Jimin sedang menimang-nimang apakah dia harus masuk ke kamar Jaejun atau tidak. Anak itu perlu diajak bicara.

Tepat ketika dia berniat masuk ke kamar itu, tangisan Jeno pun meledak. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menghampiri Jeno yang mungkin kelaparan.

Yang benar saja, esok harinya Jaejun mogok bicara.

Dia tidak mau bicara pada siapa pun. Bahkan pada orangtuanya juga tidak mau. Ditambah lagi dia langsung berangkat sekolah tanpa menyentuh ramennya dulu.

Sudah pasti, Jimin yang kena marah orangtua.

Yaa, adikmu itu kenapa? Kau apakan dia kemarin, huh? Baru sehari ditinggal sudah seperti ini. Bagaimana kalau nanti kalian ditinggal sebulan?”

Jimin tahu, membalas justru akan memperumit masalah, maka dari itu dia hanya diam mendengarkan omelan ibunya. Dan menurut saja ketika dia disuruh menyusul Jaejun untuk menyerahkan kotak makan siangnya.

Jaejun biasanya pergi sekolah naik bus. Jimin naik sepeda kayuh. Dia menyusul adiknya dengan benda itu. Memang jauh dan agak lama, tapi tak mengapa, toh dia tahu kalau Jaejun begini juga karenanya. Jadi dia berniat meminta maaf pada anak itu.

Jimin sampai tepat ketika bel masuk sekolah Jaejun berbunyi. Jaejun masih sekolah dasar ngomong-ngomong, kelas 6. Tidak sulit meminta Jaejun datang oleh bantuan sekuriti.

Jimin melambai ceria begitu melihat batang hidung Jaejun. Namun keceriaannya malah dibalas dengan perlakuan yang sangat menyakitkan. Jaejun berdecak, lalu berbalik dan berlari pergi. Jimin kebingungan. Dia pun mengejar adiknya itu dengan lebih cepat.

“Jaejun-a!”

Aksi kejar-kejaran dua bersaudara itu sontak menjadi sorot perhatian di sekolah tersebut. belum lagi mereka sambil berteriak-teriak.

“Jangan kejar aku!”

Yak! Kau belum sarapan! Aku membawakanmu bekal!”

Shireo! Berikan saja itu pada Jisoo!”

“Jisoo tidak suka sarapan ramen! Jaejun-a!”

HUP! Akhirnya tertangkap juga Jaejun.

“Lepaskan!”

“Tidak, sampai kau mengambil kotak ini.”

Jaejun menatap kotak bekalnya dengan marah lalu memukul kotak itu sampai isinya berantakan di tanah. Jimin tercengang.

Yaa….”

Jaejun melepaskan tangannya paksa dari cekalan Jimin. “Untuk apa aku makan makanan buatanmu lagi?! Kau bahkan lebih memilih Jisoo daripada aku!”

PLAK!

Jimin menutup mulutnya sendiri dengan apa yang barusan dia lakukan. “J-Jaejun-a … maaf, hyung—”

Jaejun menatap Jimin nyalang sebelum mendorong tubuh kakaknya itu lalu dia berlari pergi lagi.

Kini Jimin tidak mengejarnya. Yang ada dia justru melihat tangannya sendiri yang barusan dipakai untuk memukul wajah Jaejun.

Tangan itu baru saja menampar wajah adiknya. Ya, adiknya. Bahkan senakal apa pun dia dulu, ibunya tidak tega menamparnya. Tapi dia? Kenapa dia justru melakukan itu pada adiknya? Yang mungkin tidak benar-benar serius bicara begitu karena Jaejun sebenarnya hanya butuh perhatiannya saja. Ya, anak tengah seperti Jaejun memang jarang diperhatikan oleh orangtua. Jadi tidak salah kan kalau Jaejun ingin perhatiannya?

Hari itu, untuk menebus rasa bersalahnya, Jimin tidak pergi sekolah. Dia tetap tinggal di sekolah adiknya sampai sekolah dibubarkan. Namun pengorbanannya ini layaknya tidak membuahkan hasil.

“Jaejun-a.”

Jaejun, begitu melihat kakaknya di gerbang, langsung berhenti jalan. Sekali lagi wajahnya tampak muram. Dia berdiri di sana sampai Jimin menghampirinya.

“Ayo pulang bersama hyung. Kita cari makan, oke?”

Anak itu menepis tangan Jimin, lalu berjalan cepat menuju gerbang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jimin pun membuntutinya tanpa lelah. “Jaejun-a. Ayo kita cari makan. Kau mau makan Bosam? Jajangmyeon? Atau Chicken? Kalau kau mau Pizza pun akan hyung turuti. Jaejun-a….”

Sekali lagi Jaejun menepis tangan Jimin yang berhasil meraih lengannya.

“Ayo pulang bersama hyung. Jaejun-a!”

TIIIIIN!!

“AWAS!!!”

Jimin buru-buru mendorong punggung adiknya dan….

CKIIIIIT!!

BRAK!

HYUNG!!”

.

.

Hyung!

Jimin yang baru sadar pun langsung menoleh ke asal suara. Belum saja dia melihat wajah seseorang yang memanggilnya, tahu-tahu dia dipeluk.

Tapi Jimin tidak amnesia kok. Dari aroma yang menguar, dia tahu siapa orang yang memeluknya. Dengan senyum tipis, dia pun balas memeluk tubuh kecil itu lebih erat.

Hyung! Kupikir kau mati! Hiks. Kenapa kau pingsan lama sekali sih?!”

Jimin terkekeh. Dia pun mendorong tubuh itu, kemudian menghapus jejak-jejak air mata di wajah Jaejun. “Hyung belum mati. Hyung tidak bisa mati sebelum dimaafkan oleh Jaejun.”

Jaejun cemberut. Dia memukul bahu hyung-nya pelan sebelum memeluk Jimin lagi. “Aku tidak akan memaafkan hyung. Kalau aku memaafkanmu, kau pasti akan mati.”

Sekarang Jimin justru tergelak. Jimin pun mengusap rambut ikal Jaejun dengan sayang. “Kau sudah makan?”

Belum saja Jaejun menjawab, bunyi aneh terdengar di antara mereka.

Sekali lagi Jimin tertawa, Jaejun berdecak.

Lalu bunyi aneh yang sama pun terdengar lagi di sisi lain.

Giliran Jaejun yang tertawa, Jimin berdehem.

“Ternyata kau juga sama saja, Hyung.”

Yak! Ini karenamu ya? Aku tadi tidak berselera makan karenamu.”

“Kalau begitu ayo makan.”

“Kau yang traktir.”

“Ya sudah, mati saja kau, Hyung.”

“Ehey!! Iya iya hyung traktir.”

“Assa!”

Sejak saat itu, Jaejun jadi sangat lengket dengan hyung tertuanya. Selalu makan di luar berdua, jalan-jalan berdua, main game berdua. Bahkan setelah tinggi Jaejun sudah melampaui Jimin, Jaejun tetap manja pada hyung-nya yang satu itu. Meski … terkadang dia usil mengejek tinggi badan Jimin.

Namun semenjak Jimin menikah dengan adik Namjoon yaitu Kim Nami dan tinggal di Bangtan House, Jaejun sudah tidak lagi bergantung pada kakaknya. Dia memutuskan untuk lebih dewasa, seperti kakaknya. Sudah tidak bertengkar lagi dengan Jisoo. Sudah mau jadi ojek adik bungsunya. Pokoknya dia menjadi seseorang yang sama bisa diandalkannya seperti Jimin, jauh lebih bisa diandalkan dari Jihoon yang lebih memilih menjadi ojek cinta daripada ojek untuk Jeno.

TBC

Advertisements

4 responses to “Bangtan House [#3 Rumah No. 3] ~ohnajla

  1. Ngakak tapi terharu juga
    Feel bromancenya dapet banget
    Jadi kangen adek” nan jauh di mato 😦
    Tapi ini ceritanya keren deh

  2. astaga uculnya jimin jadi hyung :”)
    ga kebayang dia gendong adek nya 😂
    antara sedih sama ketawa ini mah 😂
    lanjutkan tor 😂💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s