“Ophelie” #5 by Arni Kyo

Ophelie (4)

Ophelie #5

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan || Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Chanyeol | Mark Tuan | Wu Kimi | Choi Haera | Kim Minseok | Byun Baekhyun | Park Jinyoung | Kim Taehyung | Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Multi Chapter

“saat menjalin hubungan, maka akan muncul 2 keputusan. Keputusan mengakhiri hubungan. Dan keputusan menikah. Mana yang menjadi takdir kita?”. – Choi Haera

Read other chapter : 1, 2, 3, 4

MV Part 1

~oOo~

“kurasa aku mengenalnya”.

Jinyoung tersenyum penuh arti. Kemudian pria itu berdiri, memakai kembali bajunya. Sejujurnya, Jinyoung mulai merasa risih saat Haera berkunjung ke apartemennya terus-menerus. Ini semua salah Bambam yang telah memberikan alamat apartemennya. Jinyoung bukan tidak tahu jika Haera juga berhubungan dengan Bambam.

“aku antar kau pulang. Setelah itu jangan berkunjung kesini lagi. Kita berteman saja”. Ujar Jinyoung dingin.

Haera meremas rambutnya sendiri. Mulai menangis keras. Ia menunduk frustasi. “Wu Kimi. Ini semua karena dia!”. Pekik Haera.

“Kimi tidak bersalah”.

“kami berteman. Bagaimana mungkin kau menyukai temanku dan melampiaskan nafsumu padaku?!”.

“itulah bedanya dirimu dan Kimi”.

“aku tidak peduli. Aku akan tetap bersamamu meski kau menyukai bahkan berpacaran dengan gadis lain”.

Jinyoung bingung bagaimana harus mengatakannya agar Haera mengerti. Dalam hatinya menyesal telah bermain-main dengan gadis ini. Jinyoung duduk di ujung tempat tidurnya.

Hening.

Ponsel Jinyoung yang diletakkannya dimeja penyimpanan berdering. Dengan cepat Haera bergerak untuk mengambil ponsel itu. “kembalikan, Haera!”. Bentak Jinyoung.

“tidak. Bukankah sudah kukatakan saat bersamaku, kau tidak boleh memakai ponsel?”.

“astaga”. Jinyoung berdesis. Dicengkramnya erat pergelangan tangan Haera.

oppa!”. Haera enggan melepaskan ponsel Jinyoung. Sekilas ia melihat penelpon yang muncul dilayar ponsel itu. Kimi.

Jinyoung menarik paksa ponselnya dari genggaman Haera. Berhasil. Ia bangkit dan menjauh. “kau sudah lihat sendiri, kan?”. Jinyoung menyeringai.

“aku tidak akan membiarkan Kimi merebutmu dariku”.

Haera menatap dengan penuh kemarahan. Jantungnya memacu dengan cepat. Haera beringsut dari atas tempat tidur. Membuka pintu kamar dengan kasar dan membanting pintu itu. Bambam dan Jackson yang saat itu sedang makan, hanya bisa menganga sambil saling menatap. Jackson berdecak.

Jinyoung keluar dari kamarnya setelah Haera pergi dari apartemennya. Dengan santainya ia bergabung dengan Bambam dan Jackson.

“kalian bertengkar?”. Tanya Bambam

“aku membuangnya”. Jawab Jinyoung seolah tak terjadi apapun. Ia bahkan ikut menyumpit jajangmyun milik Jackson. “dia sedikit membosankan”.

“berhentilah mempermainkan gadis. Nanti kau terkena karma”. Peringat Jackson.

Jinyoung tertawa renyah. “aku akan berhenti setelah ini. setelah aku berhasil mendapatkan Kimi”. Jawabnya. “Bambam’ah, kau bisa mengambil Haera jika mau. Aku tahu kau suka padanya”. Ujar Jinyoung.

Bambam diam. Sedangkan Jackson menatap Bambam, pria itu tersenyum polos. Berharap Jackson tidak menghajarnya.

“eishh… kunyuk satu ini juga! Ada apa dengan kelompok ini sebenarnya?!”. Jackson membanting sumpitnya.

hyung ~”.

“kalian berlomba-lomba menyukai gadis yang sama, lalu berkelahi seperti singa kelaparan berebut daging. Memalukan! Aku harus melaporkan ini pada Bangyong”. Jackson mengoceh dengan suara keras.

yebeoseyo?”

kenapa menyuruhku menelpon? Jika tidak penting kuakhiri”.

Jinyoung menatap keluar jendela apartemennya. Diantara beribu lampu yang menyala diluar sana. Salah satunya berasal dari rumah Kimi. “coba kau lihat keluar jendela sekarang”. Titah Jinyoung. Dapat didengarnya suara pergerakan Kimi diseberang.

tidak ada apa-apa”.

“kau tidak melihatku? Aku sedang memperhatikanmu dari apartemenku”. Jawab Jinyoung sambil terkekeh tidak jelas.

kututup, ya?”.

“tunggu”. Cegah Jinyoung. “selamat malam, Wu Kimi. Sa –“. Belum sempat Jinyoung menuntaskan ucapannya, telpon terputus. Kimi benar-benar mematikan sambungan telponnya. Jinyoung menatap layar ponselnya, oh – bahkan ia mengganti layar depan ponsel nya dengan poto Kimi. “Saranghae”. Ujarnya.

Keesokan paginya.

Yeonsung baru selesai memakai almamaternya. Diluar sana Luhan dengan berisiknya membunyikan lonceng disepedanya. Ah, pria itu benar-benar menjemputnya. Lonceng sepeda berhenti, kemudian terdengar suara pagar berkarat dirumah Yeonsung dibuka.

“Yeon’ah, kau akan kesekolah, kan?”. Teriak Luhan sambil melangkah masuk seperti ini adalah rumahnya sendiri.

Suara berisik Luhan berhasil membangunkan ayah Yeonsung yang semalam terkapar didepan televisi. “aish… anak ini – ada apa pagi-pagi berteriak seperti anjing gila?”. Protes Park Jongwon.

abeoji, Yeonsung akan pergi sekolah lagi hari ini. jadi aku menjemputnya”. Jawab Luhan.

Ah. Luhan memanggil ayah Yeonsung dengan sebutan ‘ayah’ pula.

Mata Park Jongwon langsung terbuka lebar. Ditatapnya Luhan yang kini sedang berjongkok disampingnya. “benarkah?”.

“tentu saja benar. Aku yang membantunya kembali kesekolah”. Luhan mengangkat dagunya, bangga atas apa yang ia lakukan untuk Yeonsung. “tapi, ada sedikit masalah dan Yeonsung belum tahu”.

“apa? Apa masalahnya?”.

“Yeonsung tidak mendapatkan beasiswanya lagi. Jadi dia harus membayar uang sekolah”. Jawab Luhan dengan suara pelan. Takut Yeonsung akan mendengar. “jadi aku minta tolong kepadamu. Kau harus membantunya mencari biaya. Setuju?”.

Jongwon diam. Menatap wajah dan tangan Luhan yang terulur untuk bersalaman bergantian. Membayar biaya sekolah, ya? Jongwon bahkan tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Saat sekolah dasar, Yeonsung dibantu oleh pamannya. Lalu saat SMP, Jongwon masuk penjara jadi ia tidak tahu-menahu soal urusan sekolah putrinya.

“apa yang harus kulakukan?”.

“tentu saja bekerja, abeoji”.

“Kau ingin tahu kenapa aku berusaha menjualmu? Setiap kali aku melihatmu, kupikir kau bukan putriku”.

Jongwon ingat pernah berkata seperti itu kepada Yeonsung. Haruskah ia melakukan ucapan Luhan, membantu Yeonsung membiayai sekolahnya? Sedangkan rasa cemburunya masih tinggi bahkan setelah istrinya meninggal.

Jongwon masih berpikir jika Yeonsung bukan putrinya.

Yeonsung keluar dari kamarnya. Sedikit mengintip. Sudah lama tidak memakai seragam sekolah. Rasanya seperti ia memakai seragam ini saat kelas 1 dulu.

“ah, kau sudah siap?”. Luhan berdiri menghampiri Yeonsung. “senang sekali melihatmu kembali memakai seragam”. Ujar Luhan.

“aku merasa aneh”.

“ini hadiah karena kau kembali ke sekolah”. Luhan menyodorkan sebuah paper bag kepada Yeonsung. Gadis itu tidak merespon malah menatap Luhan, bingung. Luhan mengambil isi paper bag itu. “tada!”.

Sebuah tas gendong. Berwarna putih. Tengkorak berpita dari bahan almunium menempel didepan tas itu.

“wahh”.

Luhan menunjukkan tas miliknya. Bentuk yang sama dengan warna hitam. Tetapi tengkorak milik Luhan tidak berpita. Yeonsung tertawa geli. “couple”. Ucap Luhan lalu berpose bak model.

“apa-apaan? Ya! Kau tidak malu memakai barang pasangan?”. Yeonsung mendengus. Oh – seumur hidup, baru kali ini ia memiliki barang pasangan dengan lelaki. Biasanya ia hanya punya barang yang sama dengan Kimi dan Haera.

Luhan berdehem sambil tersipu-sipu. “iya sih, tapi karena denganmu aku tidak akan malu”. Jawab Luhan. “aishh… cepat masukan barang-barangmu ke tas ini. lalu kita berangkat”.

Yeonsung melakukan apa yang Luhan inginkan. Memindahkan buku-buku nya kedalam tas pemberian Luhan. Kemudian mengendong tas itu dipunggungnya. Luhan merangkulkan tangannya dibahu Yeonsung.

abeoji, bagaimana penampilan kami? Cocok, kan?”. Tanya Luhan.

Ayah Yeonsung mengacungkan dua jempolnya sambil tertawa. Luhan membalas dengan mengacungkan jempolnya juga. Yeonsung senang melihat ayahnya tertawa seperti sekarang. Bahkan saat Luhan menarik Yeonsung keluar dari rumah, Jongwon masih tertawa melihat kelakuan Luhan.

“berpegangan, aku akan mengebut”. Suruh Luhan.

“jika kau mengebut maka aku akan mencekikmu”. Ancam Yeonsung . tapi ia tetap berpegangan dipinggang Luhan.

Luhan mulai mengayuh sepedanya. Yeonsung sempat melihat ayahnya berdiri didepan pintu sambil melambaikan tangan padanya.

Haera tiba disekolah. Saat turun dari mobil yang mengantarnya. Saat itu pula ia menjadi perhatian banyak orang. Keadaannya sedikit berantakan. Matanya bengkak. Bibirnya pucat. Bahkan saat menatap Haera seperti zombie yang kelaparan dan siap menyerang.

Memasuki gerbang sekolah. Haera melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat selamanya. Jinyoung sedang bergurau dengan Kimi sambil berjalan dikoridor. Bibir Haera gemetar, airmatanya kembali turun.

Haera tidak melihat dan mendengar, sepeda Luhan melaju kearahnya. Haera tidak peduli. Jika Luhan tidak mengerem, bisa-bisa ia menabrak Haera.

“aishh… ada apa sih dengannya?”. Dengus Luhan.

“siapa?”. Tanya Yeonsung dari belakang. Yeonsung menoleh mencari orang yang diumpatkan oleh Luhan.

“itu – gadis aneh”. jawab Luhan sekenanya. Walaupun berada dikelas yang sama dengan Haera, Luhan tidak ingat nama gadis malang itu.

Yeonsung menemukan Haera berjalan dengan cepat sambil menunduk. Kening Yeonsung berkerut. Ada apa dengan Haera? Pikirnya. Luhan kembali melajukan sepedanya hingga ke tempat parkir.

Yeonsung turun dari sepeda terlebih dahulu. Pandangannya menyapu seisi sekolah. Ia rindu tempat ini. Luhan menggenggam tangan Yeonsung. “kajja”. Ajak Luhan

“Lu –“. Yeonsung tampak ragu untuk melangkah lebih jauh lagi. Ia melepaskan tangannya dari genggeman Luhan. “seperti ini”. Yeonsung menyelipkan jemarinya diantara jemari Luhan.

Luhan tersenyum padanya. Genggaman yang erat adalah saat jemari mereka saling mengait. “aku tidak akan melepaskan tanganmu, Yeon’ah. jadi tidak perlu khawatir”.

Belakangan ini, Haera sering datang ke sekolah dengan keadaan yang mengejutkan. Pihak sekolah sampai mengkhawatirkannya. Haera seperti mayat hidup. Menanggapi hal yang terjadi pada Haera, pihak sekolah menyuruhnya untuk istirahat dirumah. Tapi Haera tetap kekeuh untuk pergi sekolah.

“uh, oppa. Aku membuat ini untukmu”. Haera menyodorkan bekal buatannya pada Jinyoung.

Jinyoung menghelas napas. Tak tahu harus bagaimana mengatakannya, Haera tetap ingin bersama Jinyoung. “Haera’ya, berhenti mendekatiku. Aku ini bukan pria yang baik untukmu”.

“mungkin rasanya sedikit aneh karena aku terburu-buru saat membuatnya”.

“Haera’ya, hentikan”.

Haera tersenyum tipis. Tatapannya kosong. “Kimi. Apa dia pernah melakukan hal ini padamu?”.

“jangan bandingkan dirimu dan Kimi”. Desis Jinyoung.

“Kimi bahkan tidak bisa memasak”.

Plakk

Praaang

Jinyoung melemparkan bekal ditangan Haera kelantai. Ia sadar ini sedikit kasar. Untungnya mereka saat itu berada di atap sekolah, jika tidak pasti situasi ini telah menjadi perhatian. “kubilang cukup, Haera’ya, tidak perlu mendekatiku lagi”.

Jinyoung berjalan pergi.

Sepulang sekolah, Haera menemui Yeonsung dikelasnya. Gadis itu sedang belajar dimejanya, mengejar ketinggalan selama ia tidak masuk. Haera lega karena temannya masih berada dikelas. Keadaan kelas telah kosong.

“Yeon’ah”. lirih Haera.

Yeonsung mengangkat kepalanya, tersenyum lalu kembali menunduk menatap bukunya. “ada apa? Kau ingin aku mengajarimu tugas? Tapi sekarang aku sedang sibuk”. Ujar Yeonsung.

Haera duduk dikursi didepan Yeonsung. “tidak. Aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu”.

“ya, katakan saja. Aku akan mendengarkanmu”.

“aku menyukai seseorang. Aku ingin menjadi kekasihnya. Jadi aku membiarkan dia melakukan apa yang ia inginkan dan memberikan segalanya. Tapi dia mengkianatiku”. Ujar Haera dengan suara gemetar.

Yeonsung menghentikan kegiatannya sejenak, ditatapnya Haera dengan lekat. “segalanya? Maksudmu?”.

“aku tidak tahu kalau dan sebodoh itu, Yeon’ah. dan Kimi –“.

“Yeon’ah”. Luhan datang memotong pembicaraan Haera. Pria itu membawa kantong plastic ditangannya. Ia segera duduk disebelah Yeonsung. Sejak hari Yeonsung kembali sekolah, Luhan memaksa agar pindah kekelas 2-C dan kursinya disebelah Yeonsung.

“oh? Kau sudah kembali”. Sambut Yeonsung.

“tentu. Aku membeli vitamin untukmu”. Luhan memberikan vitamin untuk Yeonsung. “cepat selesaikan pekerjaanmu, lalu makan malam”.

Yeonsung mengangguk. Luhan terus menggoda Yeonsung yang sedang belajar, hingga Yeonsung melupakan Haera yang belum selesai bercerita. Haera menatap tak suka pada pasangan itu. tanpa pamit ia beranjak pergi.

“Haera’ya”. Panggil Yeonsung. Haera berhenti melangkah. “ceritakan saja ditelpon nanti malam”. Sambung Yeonsung.

“ya”. Balas Haera kemudian melangkah kembali. Kini ia merasa benar-benar sebagai pengganggu.

“kenapa dia?”.

“entahlah, aku tidak begitu mendengar dia bicara apa tadi”.

Semuanya benar-benar menjadi kacau. Saat ketiga sahabat menempuh jalan mereka masing-masing. Tak ada tegur sapa meski berpapasan. Yeonsung sering bersama Luhan belakangan ini. Kimi sibuk untuk mempersiapkan diri, hari ini voting pemilihan ketua dewan siswa baru akan dilakukan di aula sekolah.

Aula telah dipenuhi oleh para siswa, terutama siswa kelas 1. Mereka datang untuk melakukan pemilihan ketua dewan yang baru. Pemilihan dilaksanakan setelah mendengar pidato visi & misi masing-masing kandidat.

Pemilihan dan pengumuman suara terbanyak dilakukan pada hari yang sama.

“Kau gugup?”. Tanya Mark. Entah muncul darimana dan tahu darimana ia jika Kimi ada dibelakang aula sekarang. Sendirian. Menyandarkan bokongnya di meja bekas.

“tidak juga, aku sudah bersiap untuk saat seperti ini”. jawab Kimi dengan penuh percaya diri.

Mark mengangguk. Yakin dengan kemampuan Kimi. Mereka diam untuk beberapa saat. Mark meletakkan tangannya diatas tangan Kimi, sontak gadis itu menarik tangannya terkejut. Kimi tidak sempat menyadari keadaan, Mark sudah memegang lengannya dengan tangan kanan. Tangan kiri Mark menggenggam tangan kanan Kimi. Mark menempelkan bibirnya ke bibir Kimi.

Kepala Kimi terasa pusing saat itu juga!

Tadinya ia ingin menikmati dulu saat seperti ini, uumm… 1 menit? Tidak! Tidak bisa! Bagaimana jika ada yang melihat? Hancur sudah reputasinya sebagai calon ketua dewan siswa.

Kimi segera mendorong Mark.

“maaf”. Ucap Mark pelan.

“aku harus pergi”. Kimi lupa jika tangannya masih berada digenggaman Mark. Jadi ia tidak bisa pergi sebelum Mark melepaskannya. “Markeu”.

“aku mungkin jahat. Tapi aku tidak ingin kau menjadi ketua dewan siswa”. Ujar Mark.

Kimi tersentak mendengar ucapan itu. dengan keras ia menarik tangannya. Kimi marah. Tanpa menanyakan alasan Mark tidak mendukungnya, Kimi pergi begitu saja. Dipikirannya sekarang, Mark sengaja melakukan hal yang membuat konsentrasinya buyar.

Kimi’ah. Mark tidak seperti itu.

Jinyoung membawa kantung plactik berukuran sedang ke belakang sekolah. Setelah pemungutan suara dan pengumuman terpilihnya ketua dewan siswa yang baru, ia langsung mengirim pesan kepada Kimi. Mereka akan bertemu dibelakang sekolah sore ini. Jinyoung melihat Kimi sudah menunggunya. Segera ia berlari menghampiri Kimi.

“whoa… ketua dewan siswa yang baru”. Ujar Jinyoung. Kimi tersenyum lebar padanya. “aku bawa sesuatu”.

Jinyoung mengambil sesuatu dari dalam kantung plastik. Segenggam putik bunga sakura ia hamburkan dari atas kepala Kimi.

“whoa…”. Kimi mengadahkan tangannya ketika putik-putik bunga itu memandikan dirinya.

congratulation, congratulation, terpilihnya Wu Kimi jadi Ketua Dewan Siswa baru”. Jinyoung mulai bernyanyi sambil pertepuk tangan riang. “congratulation, congratulation”. Jinyoung menarik tangan Kimi, mengajaknya untuk menari berputar-putar.

Kimi merasa senang bisa merayakan kemenangannya.

“selamat, ya, aku bangga padamu”.

Tiba-tiba Jinyoung memeluknya. Kimi terdiam.

“t-terima kasih, sunbae”. Kimi bergerak mendorong Jinyoung pelan. Ia jadi sangat canggung sekarang. “bunga ini, kau dapat darimana?”. Kimi mengalihkan pembicaraan.

“aku memungutnya dijalan depan sekolah kita”.

Kimi mengangguk. Tak menyangka, orang dari luar kepanitiaan pemilihan yang pertama mengucapkan selamat kepadanya adalah Jinyoung. Sekarang ia jadi tidak yakin jika Mark akan mengucapkan selamat. Toh Mark tak ingin ia menang. Menyebalkan sekali.

“Jinyoung sunbae jjang!”. Ucap Kimi. Jinyoung membungkukan tubuhnya, mengacak-acak rambut Kimi dengan gemasnya.

“besok jika kau tidak sibuk, bagaimana kalau kita pergi makan? Aku ada kenalan yang membuka restoran baru”. Tawar Jinyoung.

Kimi berpikir sejenak. Ingin bertanya apakah ini sebuah kencan atau hanya makan bersama? Tapi ia tidak enak untuk bertanya. “aku beritahu besok, karna aku belum bisa memperkirakan jadwal”.

Seseorang memungut ponsel yang tergeletak didekat tangga. Dinyalakannya ponsel itu. Terkunci. Tak habis akal, ia melihat jejak jari untuk membuka pola diponsel itu dengan cara melihat dari sudut bawah ponsel. Dengan mengikuti jejak jari dilayar, kunci ponsel itu terbuka.

Layar depan menunjukkan poto Haera. Ya, itu adalah ponsel Haera.

Sementara itu Haera panic mencari ponselnya. Berulang kali ia memeriksa tas nya, loker nya bahkan mencari ditempat yang tadi ia kunjungi. Tapi nihil. Saat akan kembali kekelas, Haera melihat Yeonsung baru keluar dari kelasnya setelah semua siswa pulang.

“Yeon’ah”.

Orang yang dipanggil mendekat pada Haera. Tapi dengan wajah tak bersahabat. “oh, ada apa Haera’ya?”.

“jika tidak keberatan bisa aku meminjam ponselmu sebentar? Aku kehilangan ponselku jadi aku ingin menelpon nomorku”. Jelas Haera.

“ah, aku tidak bawa ponsel”. Jawab Yeonsung. Tak lama suara dering panggilan berbunyi, Yeonsung menggigit bibirnya. Dirogohnya raku almamaternya. “milik Luhan. Jika kau ingin pakai, silahkan”. Ujar Yeonsung sambil menyodorkan ponsel yang ia klaim milik Luhan.

Haera menatap temannya sejenak. Kemudian menggeleng. “maaf sudah mengganggumu”. Ujar Haera.

“um, iya. Kau belum ingin pulang?”. Tanya Yeonsung sambil mengangkat telpon masuk tadi. Haera menggeleng. “kalau begitu aku duluan ya, aku banyak pekerjaan”. Pamit Yeonsung.

Haera diam saja. Ditatapnya punggung Yeonsung yang berjalan semakin menjauh darinya. Dipunggung itu Yeonsung menggendong tas couple yang diberikan Luhan. Haera turut senang Yeonsung telah bisa menerima Luhan.

Gempar!

Malam ini SNS menjadi benar-benar gempar. Hujatan demi hujatan datang ke akun sosial media milik Haera. Akun itu dengan sengaja mengirim poto telanjang dirinya sendiri. Poto telanjang Haera. Beberapa poto telah dipotong sehingga tidak diketahui siapa orang yang ada disebelah Haera saat itu.

Teman-temannya bertanya, kenapa Haera berani menyebarkan poto aibnya sendiri?

Bahkan kabar buruk ini telah sampai ke orang tua Haera. Ibunya mendatangi kamar Haera, gadis itu tengah meringkuk kaku diatas tempat tidur. Tak tahu apa yang terjadi. Ponselnya hilang saat semua ini terjadi.

“anak sialan!”. Amuk ibunya sambil memukuli Haera. Tak ada perlawanan. Ibunya terus berteriak, menangis, memarahi Haera. “apa yang telah kau lakukan? Kurang ajar! Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seorang pelacur!”.

eo-eomma, wae – wae geurae?”. Haera menangis ketakutan. Sungguh! Tak mengerti kenapa ibunya memukulinya dan berkata kasar kepadanya.

Ibunya melemparkan ponsel ke hadapan Haera. Mata Haera membulat melihat gambar yang terpampang dilayar ponsel itu. “jangan mengelak! Haera’ya, katakan padaku siapa pria yang menidurimu?!”.

Haera menatap ibunya yang saat itu mencengkram erat kedua lengannya. Raut terluka, kecewa, dan marah terlihat diwajah ibunya. Haera mengutuk dirinya sendiri. Bukannya menjawab, ia malah menangis sekeras mungkin.

Keesokan harinya disekolah. Haera tetap memberanikan dirinya untuk datang. Meskipun setiap orang yang melihatnya mencemooh, menatapnya jijik, dan mengumpatkan dirinya. Haera tetap berjalan menuju gedung sekolah. Kepalanya terasa pusing. Ditatapnya langit pagi, terlalu terang hingga matanya terasa perih. Airmata mulai turun dari matanya.

Dikelas, meja dan kursinya dicoret dan ditempeli lembaran uang.

Baru saja Haera akan duduk, wali kelasnya masuk kekelas dan mengajaknya untuk keluar dari kelas. Haera diamankan keruang guru. Para guru sempat menginterogasinya tapi Haera tak mengatakan apapun.

Hari pertama Kimi bertugas sebagai ketua dewan siswa. Hati itu pula ia direpotkan. Benar-benar repot, hingga ia harus pergi berkeliling sekolah untuk melepaskan berbagai gambar Haera yang ditempeli oleh orang tak bertanggung jawab.

“bagaimana kau bisa jadi seperti ini, Haera’ya?”. Kimi menatap sedih tumpukan gambar itu. “kau itu memang bodoh. Saking bodohnya kau terjebak sendiri seperti ini”. umpat Kimi.

Dengan kasar ia melempar gambar-gambar itu ke kotak sampah. Tindakan Kimi membuat anggota yang berada diruang dewan siswa diam.

“cari lagi, mungkin masih ada gambar yang tersisa”. Titah Kimi.

“baiklah, ketua”.

“dan aku minta kalian untuk tidak mengunggah ataupun membagikan gambar-gambar itu disosial media”. Ujar Kimi, tangannya menekan pinggang dan mengurut leher belakangnya. “ini menyangkut nama sekolah”. Tambahnya.

Jam pelajaran dimulai.

Luhan memegang tangan Yeonsung sekilas untuk menyadarkan gadis itu dari lamunanya. Sejak pelajaran dimulai, Yeonsung tidak konsentrasi. Jujur saja ia memikirkan keadaan Haera. Tapi ia tidak bisa menunjukkan perasaan itu secara langsung.

“kau melamun. Guru Lee memanggilmu untuk mengerjakan soal dipapan tulis”. Ujar Luhan.

“ah, baiklah”. Yeonsung beringsut berdiri dari kursinya. Berjalan dengan pasti kedepan kelas. Membaca soal matematika yang tertulis dipapan tulis beberapa saat lalu menulis jawabannya.

Brakk

Pintu kelas terbuka dengan keras. Seisi kelas mengalihkan pandangan mereka kepintu kelas. Disana, berdiri seorang wanita paruh baya – ibu Haera. Ditatapnya seisi kelas yang bingung dengan kehadirannya disini. Wanita itu menemukan targetnya. Dengan cepat langkah kaki itu mengampiri Yeonsung. Menampar dan menjambak gadis itu.

“yak! Ahjumma!”. Luhan berlari ke depan kelas. Menarik ibu Haera menjauh dari Yeonsung. “ada apa dengan ahjumma ini?!”. Luhan menyembunyikan Yeonsung dibelakang tubuhnya.

“minggir kau! Biar aku beri pelajaran gadis sialan itu! dia telah mempengaruhi putriku untuk berbuat buruk”. Teriak ibu Haera histeris. Keadaan kelas jadi sangat ribut. Dari arah koridor terdengar suara derap langkah beberapa orang berlarian kearah kelas.

Kimi dan anggotanya tiba dikelas untuk mengamankan keadaan.

“siapa sebenarnya ahjumma ini?”. tanya Luhan pada Yeonsung. Yang ditanyai hanya diam, menatap takut pada ibu Haera yang mengamuk dikelas.

“sejak awal aku tak suka putriku bergaul denganmu! Kau yang mengubah putriku! Gadis rendahan sepertimu –“.

Kimi bersama anggotanya menahan ibu Haera. Wanita itu terduduk lemas sambil menangis. Akhirnya ia dibantu anggota dewan siswa untuk pergi dari kelas itu. menemui putrinya diruang guru. Sebelum pergi, Kimi sempat menoleh pada Yeonsung yang bersembunyi dibelakang Luhan.

Ruang guru menjadi gaduh karena kehadiran ibu Haera. Tak peduli dengan guru yang melihat, ibu Haera memarahi putrinya. Tak segan untuk memukul dan memaki putrinya sendiri.

“Nyonya, kumohon tenanglah”. Guru Shin berusaha menenangkan wanita itu. “jangan memukulinya seperti itu”.

“apa kau sudah punya anak? Apa kau bahkan tahu rasanya menjadi aku sekarang ini?”. oceh ibu Haera. Guru Shin menggeleng pelan. “anak ini… tidak tahu diri. Dia benar-benar membuat malu keluarga!”.

Haera hanya diam dan menunduk.

“kami akan berusaha menemukan pelaku penyebarkan poto itu”. ucap Kimi pelan.

“sudahlah. Aku sendiri yang mengambil poto itu lalu menyebarkannya”. Jawab Haera. Semua orang yang ada disana, menatap Haera tak percaya.

Kimi melangkah hendak mendekati Haera. Tapi langkahnya terhenti karena ibu Haera kembali bergerak. Merangkak gemetar mendekati putrinya. Wanita itu mengguncangkan tubuh Haera. “kenapa? Kenapa kau melakukan itu?”.

Setelah beberapa saat, keadaan sedikit tenang. Siswa lainnya disuruh untuk kembali kekelas mereka, kecuali ketua dan wakil dewan siswa yang tetap berada disana. Ibu Haera kini memilih diam dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba Haera bergerak pergi dari ruangan itu. tak ada yang mencegah gadis itu, jad Kimi mengejarnya. Takut Haera melakukan hal yang tidak diinginkan.

“ya! Kau mau kemana?”.

“ke kelas. Eomma bilang nilaiku harus tinggi semester ini”.

Kimi menarik Haera, tubuh itu terlalu lemah sampai tak bisa melawan. Kimi menarik napasnya. “aku akan membantu sebisaku untuk menemukan orang yang mengunggah potomu. Aku percaya bukan kau pelakunya”.

Haera menepis tangan Kimi darinya. Tanpa sengaja ia melukai tangan Kimi, cincin yang dikenakan Haera menggores kulit Kimi hingga berdarah. “aku pelakunya”.

Kimi berdesis, Haera bahkan tidak peduli telah melukainya. Kimi mendengus kesal. “aku memaklumi jika kau bodoh. Tapi menjadi murahan, bukankah itu keterlaluan, Haera’ya? Tadi aku melemparkan gambar-gambarmu kekotak sampah. Sekarang aku melihatmu, tak ada bedanya dengan melihat gambar menjijikan yang memenuhi kotak sampah”.

Kalimat Kimi barusan berhasil membuat Haera tersentak. Oh – sahabatnya menyamakannya dengan sampah.

hyung ~ buka pintunya. Sejak tadi kau tidak keluar dari kamar, apa ada masalah?”. Suara Bambam terdengar diiringi ketukan pintu dikamar Jinyoung. Jinyoung kala itu berdiam diri diatas tempat tidur.

Sejak tersebarnya poto tidak senonoh Haera, Jinyoung menjadi stress. Hari ini ia tidak sekolah. Bahkan untuk mandi dan makanpun tidak ia lakukan.

“Jinyoung’ah, beri tanda jika kau masih hidup didalam sana! Jika tidak, akan kudobrak pintu ini!”. teriak Jackson.

Oh – bahkan kedua temannya tidak pergi sekolah hari ini karena khawatir pada Jinyoung. Tak lama terdengar suara gebrakan dipintu kamar, sepertinya Jinyoung melemparkan buku atau semacamnya kearah pintu.

Pukul 3 sore.

Kemarin ia mengajak Kimi pergi sore hari setelah pulang sekolah. Seharusnya sekarang ia mendapat jawaban. Lantas Jinyoung membuka ponselnya, menelpon Kimi. Suara gadis itu terdengar sedikit pelan dari biasanya.

“soal tawaran ku kemarin, sebaiknya kita tunda dulu”. Ucap Jinyoung.

ne, aku minta maaf tidak memberi kabar padamu karena aku benar-benar sibuk hari ini”. sahut Kimi.

“yasudah, jangan lupa makan malam mu”.

Telpon berakhir setelah Jinyoung mendengar Kimi berdehem dari seberang sana. Jinyoung memejamkan matanya. Pikirannya bercampur aduk. Kemungkinan setelah ini ia tidak akan bertemu dengan Kimi lagi.

Kalau sampai Haera mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya.

Malam hari dihalte bis. Yeonsung duduk sendirian menunggu bis yang akan membawanya pulang kerumah. Selagi menunggu, ia bergerak membuka ponselnya. Dicarinya nama Haera di deretan kontak ponselnya. Kemarin Haera ingin meminjam ponselnya untuk menelpon, karena ponsel Haera hilang.

Jadi hari ini Yeonsung berniat untuk menelpon nomor Haera.

andwae”. Ucap Luhan dingin setelah berhasil merampas ponsel Yeonsung dari tangan gadis itu.

Yeonsung beringsut berdiri, marah atas kelancangan Luhan. “kembalikan!”.

Bukannya melakukan permintaan Yeonsung. Luhan malah memasukkan ponsel itu ke saku celananya. “jangan bodoh. Kau bisa saja terlibat, memangnya kau mau dipukul lagi oleh ahjumma itu?”. oceh Luhan.

Yeonsung diam saja. Ia kembali duduk. Luhan duduk disampingnya. Tangan pria itu mengusap pipi Yeonsung yang tadi terkena tamparan. “aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang”.

Luhan menarik gadis itu kedalam pelukannya. “jangan lakukan apapun, Yeon’ah. jika kau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam”.

Dalam dekapan Luhan, Yeonsung mengangguk pelan. Hatinya tergerak ingin membantu dan menguatkan Haera saat ini, tapi disisi lain ia merasa takut apalagi melihat tindakan ibu Haera tadi pagi. Yeonsung jadi trouma harus berurusan dengan keluarga itu.

“maaf aku menghindarimu”.

“tidak apa-apa, sekarang aku sudah menemukanmu”.

Tadi Yeonsung sengaja menghindar dari Luhan yang sudah dipastikan akan mengantarnya pulang. Dipikirnya jika ia sendirian ia bisa pergi kerumah Haera atau sekedar menelpon Haera. Tapi ternyata Luhan dengan cepat menemukan dirinya.

Angin musim semi pergi. Tergantikan dengan angin musim panas di bulan Juni. Terik matahari menemani sibuknya para siswa SMA mempersiapkan ujian. Seragam telah berganti jadi seragam musim panas.

Sementara teman-temannya sibuk bersiap untuk ujian, Haera yang malang dikurung dikamarnya. Jendela kamarnya disegel dengan kepingan kayu dari luar rumah. Haera tidak bisa melarikan diri. Bahkan saat Kimi datang untuk berkunjung, gadis itu tidak diperbolehkan masuk ke kamar. Hanya bisa berbicara dari luar kamar. Tapi tetap saja Haera tidak menyahut.

Haera hanya bisa meringkuk diatas tempat tidur. Matanya bengkak, tubuhnya sedikit kurus dari biasanya. Sepeninggal Kimi, Haera bangkit dari tempat tidurnya. Diambilnya sebuah kamera digital dari laci.

Kamera itu mereka saat Haera duduk didepan piano dikamarnya.

Jemarinya mulai menekan tuts piano.

Kimi baru sampai dihalaman depan rumah Haera saat suara piano terdengar. Kimi menoleh ke jendela kamar yang sudah tersegel itu.

Rasa sakit yang menusuk dada
Walaupun begitu kebohongan telah tertumpuk
Suara bisikan yang manis
Membuat perasaan ini tetap tidak dapat dihentikan

Walaupun aku berada disampingmu, itu adalah malam yang menggelisahkan
Biarkan aku mendengarkan ikrar yang paling utama itu
Aku ingin melihat senyuman itu, aku akan memaafkan segalanya
Kapan pengkhianat akan pulang?

Aku takut ketika aku menjadi sayang
Aku terluka karena menjadi sayang
Tanpa mampu menjadi sebuah kenangan, ku menengadah ke langit
Yang sangat menyilaukan sehingga tangisan ini jatuh

Sore hari, Kimi kembali ke sekolah. Ia ingin mengajak Yeonsung untuk mengunjungi Haera. Tapi Yeonsung menolak dengan berbagai alasan. Baiklah, Kimi memaklumi mungkin Yeonsung takut dengan ibu Haera.

Kimi bukan tidak melihat Mark berjalan kearahnya sekarang, tapi ia hanya pura-pura tidak melihat. Bahkan saat Mark duduk disebelahnya, Kimi diam saja.

“selamat telah menjadi ketua dewan siswa yang baru. Mungkin aku yang terakhir mengucapkan selamat, benar-benar telat, ya?”. Ujar Mark.

“hanya ingin mengatakan itu? aku sibuk, jadi –“.

“tidak. Aku tidak bermaksud mengganggumu”. Mark mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah earphone, diletakkannya benda itu ditelinga Kimi. “kau memang sibuk, tapi beginilah Kimi yang kukenal”. Mark memberikan mp3 player ke tangan Kimi.

“Markeu”.

“sekarang kau tahu kenapa aku tidak ingin kau menang dalam pemilihan ketua dewan siswa yang baru, Kimi’ah”.

Mark menatap teduh pada gadis itu. Kimi menunduk, memejamkan matanya cukup lama. Lalu tertawa pelan. “kau peramal? Kau memprediksi yang akan terjadi dimasa depan?”.

Kimi menyandarkan tubuhnya ke kursi taman. Begitu juga dengan Mark. Mereka menatap langit terang sore itu. awan kekuningnya bergerak pelan diatas sana. Kimi ingat apa yang Mark katakana saat mereka bertemu pertama kali.

“Mark Tuan. Menurut ramalanku, kau akan bertemu lagi denganku”.

Ujian telah berlalu. Hari ini nilai para siswa akan diberitahukan melalui pengumuman. Luhan sangat bersemangat untuk melihat nilainya. Karena ia bertaruh dengan Yeonsung. Jika nilai Yeonsung berada dibawahnya, maka gadis itu harus pergi kencan dengannya saat liburan musim panas tiba.

“kutebak nilaimu ada dibawahku, Yeon’ah. sudahlah kau menyerah saja”. Goda Luhan.

“berisik. Kenapa kau heboh sekali?”.

Luhan tertawa-tawa tidak jelas. Sejak Yeonsung dekat dengan Luhan, sejak saat itu pula Yeonsung jadi lebih sering berkumpul dengan teman-teman Luhan. “menurutmu kemana kita harus pergi?”.

“Lu, hentikan. Oh Tuhan, apa kalian tahu cara menghentikan anak ini bicara?”.

Minseok berpikir sejenak, lalu menggeleng. “tidak ada, biarkan saja dia sampai diam sendiri”. Jawab Minseok.

Yeonsung beralih melihat Baekhyun dan Taehyung yang sedang bermain game. Kedua makhluk aneh itu tak menjawab, hanya mengacungkan jempol tanda setuju pada perkataan Minseok. Luhan ber-high five dengan Minseok.

“kalian mempermainkan ku”. Yeonsung kesal. Lantas beranjak dari tempat duduknya.

“Yeon’ah, mau kemana?”. Luhan terlihat ingin mengikuti Yeonsung.

“toilet. Jangan mengikutiku, kau mesum!”.

Luhan mengangguk mengerti. Jika Yeonsung tidak kembali dalam 10 menit maka ia akan menyusul ke toilet. Mudah saja, pikir Luhan.

Yeonsung tidak benar-benar pergi ke toilet. Ia melarikan diri, mencari ketenangnan. Ia memang sudah bisa menerima Luhan, tapi untuk pergi kencan dengan pria itu? Oh – Yeonsung merasa sedikit ragu. Jadilah sekarang Yeonsung melangkahkan kakinya menuju belakang aula. Belum sampai dibelakang aula, langkahnya berhenti. Ada orang dibelakang sana.

Yeonsung mengintip dari balik dinding.

Ternyata itu adalah si ketua dewan siswa – Wu Kimi dan Mark. Saat itu Kimi duduk diatas meja, sedangkan Mark dikursi didepan Kimi. Mereka tampak akrab. Yeonsung mengerutkan keningnya. Selama ini Yeonsung tidak pernah melihat mereka seakrab itu.

Keduanya tampak bahagia bersama. Kimi menguncir rambut Mark. Mark menggenggam kedua tangan Kimi lalu diletakkanya tangan Kimi ke pipinya. Mark menarik gemas hidung Kimi. Gadis itu menepis tangan Mark. Tiba-tiba Mark berdiri dan mencium Kimi.

Ya. Mencium Kimi.

Mata Yeonsung terbelalak. Seperti ia baru pertama kali melihat adegan ciuman.

Yeonsung menyudahi acara mengintipnya. Digenggamnya ujung rok sekolahnya dengan erat. Akhirnya ia pergi dari sana sebelum Mark dan Kimi memergokinya sedang mengintip. Dan sebelum Luhan patroli mencari dirinya.

Selama sebulan ini, Haera terus-terusan mencoba untuk bunuh diri. Menenggak cairan pemutih. Haera berpikir benar-benar mati saat itu juga. Tapi ia malah terbangun di rumah sakit. Haera mulai lagi dengan melukai dirinya sendiri. Itu juga tidak bisa membunuhnya, lagi-lagi dokter menyelamatkannya.

Haera merasa muak. Merasa tak ada seorangpun yang menyukainya setelah potonya tersebar di internet. Kakak perempuannya juga sering menghujatnya jika mengantarkan makanan untuknya kekamar. Haera benar-benar ingin mati.

Teringat dengan obat anti-depresi yang ia dapatkan dari dokter waktu itu. Haera meminumnya.

“aku sangat buruk. 1 butir obat tidak akan cukup”. Ucapnya, sambil mengeluarkan semua obat itu dari botol obat. Haera menghitung butiran obat ditelapak tangannya, ia tertawa. Kemudian menenggak obat itu.

Semenit terlalu lama untuk reaksi obat. Haera merasakan jantungnya bergedup tak terkendali hingga dadanya terasa sakit.

“Haera’ya”. Ibunya memasuki kamar untuk mengantarkan makan malam. Nampan yang dibawa ibunya terjatuh mendapati Haera tergeletak tak berdaya dilantai. Mulutnya mengeluarkan busa, Haera mengalami kejang dan mata yang menjadi putih.

Ambulans datang menjemput Haera. Bertepatan saat Jinyoung tiba didepan rumah Haera. Jinyoung bersembunyi dibalik masker dan topinya. Dapat dilihatnya Haera dibawa dengan brankar dan dimasukan ke dalam ambulans. Jinyoung mengikuti ambulan itu.

“Yeon’ah, tada!!”. Luhan memamerkan brosur Lotte World didepan Yeonsung. Yeonsung kalah telak. Luhan berada di posisi ke-satu, sedangkan dirinya di posisi ke-tiga. Mark yang berada di posisi ke-dua.

“kau tidak perlu seheboh itu, Luhan’ah”. ujar Yeonsung.

Dua hari lagi liburan musim panas. Pertengahan bulan Juli yang menyenangkan bagi Luhan. Tanpa ijin ia berbaring, dengan paha Yeonsung sebagai bantalnya. “bagaimana kalau kita pergi besok?”.

“ya ~ orang-orang melihat kita. Bangunlah”. Protes Yeonsung. “tsk! Besok belum libur”.

“kenapa harus menunggu libur? Bahkan hari ini kita bisa pergi”. Jawab Luhan dengan-tetap-berbaring. Luhan memejamkan matanya. Langit sedikit mendung memasuki musim hujan bulan Juli.

Yeonsung menatap wajah itu, pahatan yang sempurna. Ada kekhawatiran yang muncul dalam hati Yeonsung. Tentang dirinya yang sebenarnya, dapatkah Luhan menerima nanti? Untuk saat ini ia tak memberitahukan apapun karena masih tak percaya dengan perasaan Luhan maupun perasaannya sendiri.

Hujan mengguyur kota malam hari. Haera tengah duduk didekat jendela ruang rawat nya dirumah sakit. Ibunya berpamitan pulang untuk mengambil beberapa baju milik Haera. Lima hari yang lalu ia dibawa kesini –lagi. Karena overdosis. Sialnya, dokter berhasil mengeluarkan obat yang ai tenggak.

Ceklek

Pintu terbuka. Haera menoleh, mengira ibunya kembali lagi karena hujan yang cukup lebat. Ternyata tidak! Bukan ibunya yang datang, melainkan Jinyoung. Pria itu masuk keruangannya, dipelukannya terdapat sebuket bunga.

“bagaimana kabarmu?”. Tanya Jinyoung. Diletakkannya buket bunga itu dimeja. Disana terdapat buket bunga lain, dilihatnya nama si pengirim bunga ‘Kimi’.

“bagaimana menurutmu?”. Haera balik bertanya. Keadaannya terlalu lemah hingga ia harus duduk dikursi roda.

Jinyoung berjalan mendekati Haera. Dibukanya masker yang menutupi separuh wajahnya. Oh – Haera merindukan wajah itu, Haera merindukan senyuman itu, Haera merindukan segalanya. “aku tidak mengacaukannya. Kau sendiri yang mengacaukannya, Haera’ya”.

“aku tahu. Aku tidak mengatakan tentang dirimu pada mereka”.

“kenapa kau melakukan itu? apa yang sebenarnya kau harapkan dariku? Bukankah aku sudah memperingatimu?”.

Haera diam sejenak. Jika ia mengatakan bukan pelaku yang menyebarkan potonya, tak akan ada yang percaya. Poto tersebar pertama di akun pribadinya. Ponselnya sampai saat ini tidak ditangannya. “kupikir kau menyukaiku. Aku terus menyukaimu. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan”.

Jinyoung mengela napas berat. “kau benar-benar membuatku marah. Jangan pikir setelah kecerobohanmu yang hampir membuatku mati berdiri, aku mau kembali padamu. Jikapun aku mau, pasti aku terpaksa dan merasa kasihan padamu”.

“aku tidak akan membuatmu kembali padaku, oppa”. Haera tersenyum dalam tangisnya.

“aku percaya dengan perkataanmu”. Jinyoung kembali memakai maskernya. “aku membawakanmu bunga lily putih. Kuharap kau suka”. Ujar Jinyoung sebelum pergi dari ruangan itu.

Haera melirik bunga yang bersebelahan dengan buket pemberian Kimi. Haera tertawa seperti orang gila. Pipinya telah basah karena airmatanya terus-terusan turun.

[Bunga lily putih dinegara Amerika dan Eropa digunakan sebagai lambang pemakaman. Bunga ini dilambangkan sebagai bunga untuk mengutarakan rasa simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Bahkan dengan baunya yang mengingatkan pemakaman dinegara sana, hingga ada produsen yang membuatkan parfum dengan wangi bunga lily yang bertema pemakaman]

Rasa sakit yang tertinggal dalam dada
Cahaya yang melewati celah pepohonan mengoyahkan kenangan
Hari itu yang bercahaya
Sampai sekarangpun aku menyukainya

Ketika aku berbalik kebelakang itu adalah pagi yang sepi
Dimanakah kehangatan dari jari-jari yang saling terjalin
Jika itu alasan dari kesepian, aku mengerti meski aku
Menutup mata berpura-pura tidak melihatnya

Walaupun tidak dicintai aku ingin mencintai
Jika aku mencintai maka menjadi tidak dicintai
Perasaan mengalir tanpa tempat untuk dituju
Aku tak dapat bergerak karena terlalu sangat menyakitkan

Ket : lirik lagu di dalam FF : Namida no Riyuu ost School Days anime.

TBC

“bodoh. Kau itu memang bodoh”.

 “Yeon’ah, jangan selingkuh dariku. Aku ini sempurna untukmu”.

“dan pada akhirnya kita menjadi egois”.

“kami akan segera menikah”.

“bagaimana caramu peduli?”.

“apa kau bahkan mencintaiku, Lu?”.

#OMAKE

HR : annyeonghaseyo, Haera imnida. MC Omake episode ini (V sign) Taehyung’ah, menurutmu siapa heroine dalam cerita ini?

TH : aku bahkan tidak tahu jika di cerita ini ada pengedaran narkoba (Taehyung mengira Heroin jenis narkoba)

WK : Haera’ya, bukankah sudah kukatakan jangan bicara dengan orang gila.

YS : hati-hati, gila itu menular.

(HR, WK, YS pergi dari lokasi)

TH : Baekhyun hyung, siapa pengedar narkoba dicerita ini?

BH : kau sudah minum obatmu, Taehyung’ah?

Just For Your Information!

Ujian sekolah di Korea dilaksanakan pada bulan Maret, Juni, September dan November. Lalu ujian kenaikan dan kelulusan dilaksanakan pada Februari selama 1 minggu. Rata-rata semua sekolah melaksanakan ujian dihari yang sama.

Advertisements

38 responses to ““Ophelie” #5 by Arni Kyo

  1. hahaha…. salvok bca Omake nya hahaha tgh mlm gini post y? untung ketawaku ga ada bunyinya ahihihi 😛 Eh, salah… mustinya hrs bersimpati du dg keadaan Haera y… ah! biarpun t smw krn kslhnnya sndiri.. sbnrnya mrk ber-3 it brtman pake cap ap sih smpe2 hub.x renggang bgt gituh?Eh! awalnya mkir keras knp Mark ngelarang Kimi jd Dewan Siswa,pas Mark masangin earphone itu,lgsg terenyuh alamakz sweet sekali mreka berdua 😛 ud gtu dbkin shock juga ps Yeon liat mrka kissing *sokpolos* 😛 ad Typo ya dek 😉

    • iya di post tengah malam karena ada hotspot terkonek ke laptop :v wkwkw

      mereka berteman karna saling menguntungkan aja sih… emg gitu cara mereka berteman unni XD

      hhihi… maklumin typo karna itu dah kecapean plus ngetik sambil merem unn :3

      thanks for read and comment ^^

      • Well… adek author Arni Kyo, how to get pw for part 6 ? 😅😅 ga punya email or bm or ig kamu… 😂

      • punya sih unn.. cma aku dah terlanjur kasih riddle buat dapetin passwordnya…
        itu angka diubah kehuruf dgn metode keyboard hp jadul unn… gampang kok ^^

  2. Siapa sihh yang ngambil handphone haera??? Kan kasian haeranyaa. Persahabatan mereka renggang gitu jadinya. Nahhh itu ahjuma stresss tiba2 dateng nyalahin yeonsung. Ngeselin banget sih. Thor, cara penulisan diperhatikan ya? Ada typonya hihihi

    • seseorang yg tdk bertanggung jawab pastinya yg mungut ponsel Haera :v

      iyaiya, aduhh banyak bgt ya typo di chapter ini :”v

      thanks for read and comment ^^

  3. Yaampun gue ksihan bgt ama si haera tapi mau gimana lagi slah dia juga sih ngapain nyimpen foto kek gituan di hpnya,, kenapa haera nggk jujur ajh sih!? Hm kira2 ntu holang yg nyebarin siapa yh? Oke next ching hwaitinggg

  4. Gilaaaa…. Jiyoung kq jahat baget c…..
    Trus kq sahabat2 nya jga ga terlalu niat buat ngedukung haera yah….

  5. Makin complicated kak.
    Aaaaah. Jinyoung jahat banget 😭😭😭
    Kira” siapa yang nyebarin foto haera? Jangan” malah kimi. #eeeeh #absurd 😂😂

  6. Yahhh gue telat tau kk arni cb nulis ff lagi 😭 kangen yeonsung luhan couple maaf ya kk baru komen baru baca ff nya 😭

  7. Kenapa Jinyoung jahat banget sih sama Haera kan kasian haera..
    Sebenernya yeonsung,Kimi,haera tuh sahabatan nggak sih kok saling cuek sama urusan sahabatnya.. terus siapa lagi yang nyebarin fotonya haera.. duh konflik dimana-mana deh!!
    Pengen cepet baca chapter selanjutnya!!
    Semangat thor!!! Chapter selanjutnya ditunggu!

  8. Kasian Haera ga ada teman curhat,, 😥 dia lagi marah sama Kimi.. dan Yeonsung juga sibuk sama Luhan ajaa.. Haera pasti stress deh ditambah lagi ada yg nyebar foto yg membuat dia makin terpojokkan.. dan dengan tidakbertanggung jawab Jinyoung ngasih bunga lily putih 😥 Sebenarnya Haera juga salah sih karna terlalu terobsesi karna cinta tapi kasian dia kayak gaada yg peduli gtuu… Tapi sahabatnya juga gabisa disalahkan karna klau yeonsung sudah dipastikan dia takut ketemu ibunya Haera.. nah Kimi ? Dia posisinya gatau klau Haera suka jinyoung dan Jinyoung suka dia,, jadinyà Haera marah sama Kimi seperti tnpa alasan kalau dari sudut pandamg Kimi sendiri.. Duhh ribet dehh pokoknya sama bingung ini ceritanya bakal gimanaa..

    and Cukhae buat Kimi yg kepilih jadi ketua dewan dan sepertinya udah jadian sama Mark (ini karna ada adegan Yeonsung lg ngintip Kimi dan Mark lagi mesra2an… masih praduga sementara)

    dan lagi siapa yg menemukan ponsel Haera sebenaranyaa… ??

    keep Fighting min!!!

  9. Jahatnyaa Jinyoung, aku rasa Haera gk berlebihan dgn cara pengen bunuh diri. Secara gk langsung hidup dia aja udah berantakan keluarganya gk mau nerima so sad.. berharap akhir yg baik bust Haera
    Omakenya selalu menghibur wkwkwk

  10. aku reader baru nih . gils seru banget baper sama haera jinyoungnya ya ampunnnn penasaran selanjutnya.

    Btw aku mau nanya pass chpter 6 apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s