Stay [Chapter 18] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Sejak tadi Jimin hanya sibuk membuka dan menutup kotak cincin di tangannya. Matanya memandang lurus ke depan. Pada hamparan Sungai Han yang diabaikannya karena pikirannya sedang tidak ke sana.

Darah di tangannya sudah mengering. Mungkin darahnya sudah lelah untuk mengalir keluar lagi, karena pemiliknya tidak sekalipun memedulikannya.

Dia sangat antusias ketika pergi ke toko perhiasan untuk mencari cincin yang pas juga cantik untuk Yoongi. Padahal dia tidak tahu bagaimana selera Yoonji. Dia juga tidak tahu berapa diameter jari Yoonji. Karena yang ada di pikirannya saat itu, dia hanya ingin membelikan cincin yang cantik untuknya.

Tapi … mendadak dia merasa konyol begitu menyadari bahwa Yoonji yang dicintai dan ditunggunya sejak lama ini ternyata adalah seorang pria tulen.

Jadi dia mencintai seorang pria?

Jadi dia ingin melamar seorang pria?

Tidak mungkin.

Perasaannya benar-benar tak karuan begitu menyadarinya. Dia sangat marah. Semua orang di sana dia salahkan. Bahkan gelas yang tak bersalah pun dia remukkan sampai pecah. Kalau restoran itu adalah miliknya, mungkin dia akan menghancurkan seluruh isi restoran itu dengan tangannya sendiri.

Tapi yang sebenarnya terjadi, dia bukan marah pada orang-orang. Bukan juga pada Yoongi.

Tapi pada dirinya sendiri.

Ia begitu membenci dirinya yang terlalu naïf.

Ditutupnya kotak cincin itu yang tak sadar dia biarkan terbuka dalam waktu lama.

Sekarang cincin ini sudah tidak berguna lagi. Tidak akan ada yang menerima benda ini. Jadi untuk apa dia simpan lama-lama? Kenapa tidak dibuang saja?

Ketika dia berdiri dan bersiap melempar kotak cincin itu ala pelempar permainan bisbol, tahu-tahu seseorang merebut benda itu darinya dan duduk di kursi tersebut.

“Wah … cantiknya. Kenapa dibuang?”

Dia pun langsung menoleh. Dahinya spontan mengerut. Seorang wanita?

Wanita atau yang boleh kita sebut gadis itu, mendongak, membalas tatapan Jimin dengan berbinar juga penuh tanya.

“Itu bukan urusanmu. Kemarikan,” balas Jimin dingin sambil berusaha merebut kotak itu namun gagal karena gadis itu sangat gesit.

“Ah wae? Cincinnya terlalu bagus. Sayang kalau dibuang.”

“Tolong kembalikan. Sekarang juga.” Kali ini Jimin mempertegas permintaannya. Dia tidak memaksa merebut lagi, tapi berusaha bersabar dengan menengadahkan tangannya di depan wajah gadis itu.

Gadis itu cemberut. Dengan berat hati, dia pun mengeluarkan kotak cincin yang dia sembunyikan di belakang tubuh lalu meletakkannya di atas tangan Jimin. Eit! Siapa bilang dia akan memberikannya dengan mudah. Dia menarik benda itu lagi ketika Jimin akan menyentuhnya.

“Buatku saja ya? Ya? Daripada dibuang. Jebal~~

Jimin menatap gadis itu tak mengerti. Mereka tidak saling mengenal tapi kenapa gadis ini begitu mudahnya bertingkah imut di depannya. Ah ya sudahlah, akhirnya dia pun merelakan benda itu.

“Aaaa!! Terima kasih banyak!! Akhirnya aku dapat juga kado ulangtahun!”

“Kado ulangtahun?”

Gadis itu tampaknya jauh lebih tertarik pada cincin yang kini di jari manisnya ketimbang pertanyaan Jimin. Mata bulatnya berbinar-binar senang. Ia terus mengamati cincin dengan berlian kecil di bagian tengahnya sambil tersenyum-senyum.

Menyerah berdebat panjang lebar dengan gadis asing itu, Jimin pun kembali duduk. Dia mengacak-acak rambut belakangnya dengan tangan kanannya dan di saat itu juga dia merasakan sakit yang luar biasa di tangannya itu. Yang benar saja. Dia lupa kalau tangan kanannya terluka. Atau mungkin bisa dibilang dia baru sadar kalau tangannya terluka separah itu?

Gadis di sampingnya segera meraih tangannya dan memandangi luka itu secara teliti. Tiba-tiba dia menoleh pada Jimin. “Kau barusan melukai tanganmu dengan kaca?”

Jimin mengangguk, wajahnya pahit karena menahan sakit yang luar biasa.

“Kenapa kau hanya membiarkannya?! Yaa, kita ke klinik sekarang!” Tanpa menunggu persetujuan Jimin dulu, gadis itu langsung menyeretnya pergi ke klinik terdekat. Di sana Jimin segera mendapat pertolongan pertama. Ternyata ada pecahan kaca berukuran sangat kecil yang masuk ke dalam permukaan daging tangannya. Pantas Jimin terus merasakan nyeri di bagian situ. Setelah melakukan pembedahan kecil-kecilan, Jimin pun akhirnya keluar dari klinik itu dengan keadaan tangan terbalut perban tebal. Sampai-sampai dia tidak bisa mengepalkan tangannya saking tebalnya perban tersebut.

“Jangan coba-coba melepaskan perban itu, eo? Kau harus turuti kata dokter. Baru boleh dibuka setelah empat hari, sebelum itu jangan.”

Jimin memandangi gadis itu aneh. “Kenapa kau bersikap seperti ini? Memang apa urusanmu kalau perban ini kulepas?”

Gadis itu pun balas menatap Jimin aneh. “Kau tidak suka diperhatikan? Yaa, sebegitu putus asakah dirimu gara-gara ditolak oleh kekasihmu? Kau boleh putus asa, sedih, de el el. Tapi perhatikan juga dirimu sendiri. Perempuan di dunia ini banyak, banyaaaak sekali. Jangan hanya gara-gara ditolak satu orang, lalu kau merasa dunia ini kiamat begitu saja. Itu pemikiran bodoh, tahu? Meskipun orang-orang tidak peduli pada hari ulang tahunku, aku tidak berpikir kalau aku akan mati hari ini. Karena aku percaya pasti ada seseorang, meskipun satu, yang akan mengingat ulang tahunku dan memberiku hadiah. Lihat, apa yang kupikirkan benar ‘kan? Yah, meskipun kau tidak mengenalku, tapi karenamu aku mendapat hadiah ulang tahun. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”

Jimin hanya diam di tempat ketika gadis itu berceloteh panjang lebar tanpa titik dan koma. Belum lagi air pancur yang bermuncratan ke wajahnya. Oh ya ampun gadis ini.

“Oh ya, aku belum tahu siapa namamu. Kenapa kita tidak berkenalan dulu?”

Jimin memutar bola matanya jengah. Terlambat, kenapa tidak dilakukan sejak tadi saja pikirnya.

“Park Jimin.”

“Song Hye Kyo.”

“Hah?”

Gadis itu tertawa sendiri sebelum mengoreksi kata-katanya. “Jung Yeonha. Panggil saja Yeon.”

“Berapa usiamu?”

“Hm? Aku?”

“Memang siapa lagi orang yang kuajak bicara di sini?” sinis Jimin seakan ingin memakan Yeon saat itu juga.

Yeon terkikik geli sebelum menjawabnya menggunakan jari-jari tangannya, 20.

“Hah, pantas saja.”

“Kau?”

“Panggil aku ahjussi,” balas Jimin cuek sambil berlalu meninggalkan Yeonha.

“Eh? Kau sudah tigapuluhan?! Sudah beristri?! Jadi … kau baru saja bercerai dari istrimu?! Ini cincin mantan istrimu berarti?! Ahjussi! Tolong jawab aku!!”

“Sssshhh.”

“Sakit ya? Tahan sebentar.”

“AKH!”

“Maaf maaf, kelepasan. Aku janji sekarang akan lebih lembut lagi. Tahan.”

“Aaaa~ sakit! Hentikan! Biar saja tetap seperti ini. Sial, sakit sekali.”

Sena hanya membiarkan Jungkook berbaring sambil mendesis-desis kesakitan. Dia sendiri mengembalikan kain kompres itu ke baskom. “Kalau begitu tidur saja. Akan kuobati setelah kau tidur.”

Tapi Jungkook tidak setuju dan malah menarik Sena untuk ikut berbaring di ranjang itu. “Kau juga tidur. Awas kalau kau coba-coba bangun tengah malam.”

Tatapan tajam Jungkook membuatnya meringkuk ketakutan. Karena tatapan itu mengingatkannya pada kejadian tadi di restoran. Jungkook yang mendadak berubah menjadi orang lain yang sangat mengerikan.

Melihat Sena yang menghindari tatapannya membuat Jungkook merasa bersalah dan ia pun menghela napas. Dipeluknya tubuh gadis itu dengan erat tapi lembut, dan mengecup dahinya lama.

Nappeun saram aninde. Kau tidak perlu takut padaku.”

Tapi Sena masih agak takut-takut saat mencoba berkontak mata dengan Jungkook. Sekali lagi Jungkook hanya bisa menghela napas pasrah.

“Kalau kau memang penasaran dan ingin menanyakan sesuatu, tanyakan saja. Aku akan menjawabnya asalkan dengan begitu kau tidak akan takut lagi padaku.”

Sena menggigit bibir bawahnya sambil mencengkram kemeja putih Jungkook yang ternodai warna merah darah. “Apa yang terjadi sampai kalian berkelahi seperti itu? Kau bukan tipe orang yang gampang memukul dari yang kutahu selama ini, Kook-a. Tolong beritahu aku kenapa kau sampai memukulnya.”

“Tidak bolehkah aku melakukan itu demi menjaga milikku?”

Ye?” Sena pun mendongak. Akhirnya dia berani juga menatap tepat ke manik mata Jungkook.

“Dia ingin merebutmu dariku. Aku tidak bisa diam saja dan membiarkannya melakukan itu. Aku tak suka ketika seseorang berusaha menyentuh milikku. Apalagi itu kau.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak akan membiarkannya merebutmu dariku. Kau hanya harus bersamaku. Titik.”

Sekali lagi ada kilat-kilat mengerikan di kedua mata Jungkook. Sena tak bisa menghindar. Satu hal yang bisa dia lakukan hanyalah menelan ludahnya dan berusaha kelihatan baik-baik saja namun gagal total.

Jungkook sangat teliti bahkan pada hal yang sangat kecil. Dia pun menyuruh Sena memejamkan mata dengan mengecup mata gadis itu. “Kalau memang takut, pejamkan saja matamu seperti ini. Itu akan lebih baik daripada menghindari tatapanku. Maaf Sena. Mulai sekarang aku akan menjadi orang yang mungkin sangat mengerikan untukmu. Tapi percayalah, aku melakukan ini bukan untuk menyakitimu. Aku akan berusaha membahagiakanmu sebisaku. Akan kujadikan kau wanita terbahagia di dunia ini.”

Manis dengan bayang-bayang pahit, adalah apa yang tengah dirasakan oleh Sena kini. Dia seolah melayang di udara ketika mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Jungkook. Tapi di satu sisi, ada sepetak paku yang telah membayanginya di bawah. Jungkook benar-benar berbeda sekarang. Sangat berbeda.

Dalam keadaan babak belur, Yoongi berusaha keras untuk kembali ke apartemennya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sesekali dia mendesis kesakitan. Perjalanannya tampak lancar-lancar saja, sampai akhirnya moncong mobilnya menabrak bagian belakang sebuah mobil yang berhenti karena lampu merah. Beruntung dia baik-baik saja. Tapi mobilnya dan mobil itu….

Seorang gadis berambut panjang ikat ponytail keluar dari mobil itu. Dia tampak pucat sambil berlarian ke belakang mobilnya. Ia shock berat ketika menyadari bahwa bagian belakang mobilnya sudah nyaris hancur. Gadis itu mengerang kesal. Lekas dia menoleh ke mobil Yoongi, tepat ke mata Yoongi yang setengah bengkak.

Dok dok dok!

Yaa! Keluar kau sekarang!”

Tahu-tahu gadis itu sudah berdiri di depan pintu mobil Yoongi.

Yoongi pun menarik turun jendelanya. “Wae?

Gadis itu mengalami shock untuk kedua kalinya ketika melihat wajah Yoongi yang senasib dengan bagian belakang mobilnya. Tapi beberapa detik kemudian dia sadar. Tidak seharusnya dia menghawatirkan wajah pria itu. Karena yang harus dilakukannya sekarang adalah meminta ganti rugi atas kerusakan pada mobil barunya itu. Ya, mobil yang baru saja ditabrak oleh Yoongi adalah mobil yang baru dibelinya kemarin.

“Aku memintamu keluar, bukan membuka jendela!”

Yoongi tiba-tiba mengeluarkan dompetnya dari saku lalu mengambil selembaran kertas yang dia ulurkan pada gadis itu.

Menyadari kertas apa itu, gadis ikat ponytail itu mendadak marah. Yang benar saja. Di mana letak sopan santunnya? “Yaa! Kau meremehkanku?! Di mana letak sopan santunmu?!”

Yoongi juga ikut-ikutan kesal. “Kau meminta ganti rugi ‘kan? Ini. Ambil.”

Gadis itu tiba-tiba mengambil kertas itu dan menyobeknya kecil-kecil lalu hilang tertiup angin. “Kau pikir semua hal bisa diselesaikan dengan uang? Minta maaflah dulu!”

Malas berdebat terlalu lama dengan gadis asing itu, Yoongi pun segera turun dari mobilnya. Namun….

Bruk!

“K-kau baik-baik saja?”

Yoongi mendesis kesakitan di dalam pelukan gadis itu. Dia tidak sadar kalau salah satu pergelangan kakinya cedera. Baru terasa sakitnya ketika dia turun dari mobil dan langsung limbung ke arah gadis itu.

“Aish! Kali ini kumaafkan kau, Ahjussi. Bersyukurlah karena kau sedang tidak baik-baik saja sekarang.” Dengan telaten, gadis itu pun memapah Yoongi memasuki mobilnya. Setelah menelepon seorang temannya untuk mengambil mobil Yoongi, dia pun mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.

“Kau adalah orang kedua yang mendapat kesempatan untuk mencoba mobil baruku ini,” celoteh gadis itu sambil menyetir dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Yoongi tidak memberinya respon apa pun. Dia sibuk sendiri menahan sakit yang sangat di beberapa titik tubuhnya.

Mungkin tidak betah dengan suasana hening, gadis itu pun menyalakan pemutar musik mobilnya.

Lagu Agust D pun terdengar di seluruh penjuru mobil.

Yoongi spontan menoleh. Menatap gadis itu dan pemutar musik mobil secara bergantian.

“Itu….”

Wae? Seleraku ketinggalan jaman sekali ya?”

Yoongi menggeleng. Tapi gadis itu tidak melihatnya.

“Yah … tidak aneh sih. Orang-orang juga bilang begitu. Aku memang tidak suka mengikuti tren. Aku lebih suka sesuatu yang kuno daripada yang kekinian. Seperti lagu ini. Sudah hampir satu dekade dan aku masih sangat menyukainya sampai sekarang.”

“Kau tahu siapa penyanyinya?”

“Tentu. Sama dengan judul lagunya. Dia adalah Agust D. Wae?”

Yoongi menggeleng lagi. Lalu membuang pandangan ke depan. Mendengarkan kembali lagunya sekarang entah kenapa membuatnya ingin kembali ke masa-masa itu. Masa di mana dia sangat-sangat bersemangat sampai-sampai tak ada hal apa pun di dunia ini yang bisa menghentikannya. Masa ketika dia belum mengenal evil berwujud Sena.

“Oh ya. Aku Lee Sehyun. Kau?”

“Min Yoongi.”

“Ah, namamu sangat persis dengan nama asli Agust D. Sayangnya kalian sama sekali tidak mirip.”

Yoongi langsung menoleh dengan mata memicing. Tidak mirip katanya? Bagaimana bisa satu orang, satu tubuh tapi tidak mirip? Ah … Yoongi sadar sekarang. Jelas Sehyun tidak mengenali wajahnya. Karena sekarang kondisi wajahnya jauh dari kata baik-baik saja. Siapa pun juga tidak akan sadar kalau itu adalah Min Yoongi, Agust D.

Sesampai di rumah sakit, Sehyun pun membawa Yoongi ke ruang UGD. Setelah diperiksa dan diberi penanganan pertama, Yoongi pun sudah diperbolehkan pulang.

Yaa, kau serius tidak mau dirawat?” tanya Sehyun saat mereka kembali ke mobil dengan salah satu lengan Yoongi di lehernya.

“Hm.”

“Tapi bagaimana kalau kakimu tidak sembuh-sembuh.”

“Bukan urusanmu ‘kan?”

Gadis itu mendengus. Dingin sekali, pikirnya. “Oke, aku tidak akan ikut campur urusanmu lagi. Tapi kau berhutang padaku, eo?! Kerusakan mobil, biaya bensin kesini, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau melunasi semua itu.”

“Bukannya kau sudah menyobek cek yang kuberi?”

Sehyun berhenti, otomatis Yoongi juga ikut berhenti. Sehyun menatapnya tajam, yang dibalas dengan datar-datar saja oleh Yoongi. Momen ini … Yoongi merindukannya. Ketika dia sedang kesakitan sepulang dari Chicago, dan Sena membantunya berjalan menuju asrama, hari di mana Sena mengungkapkan perasaan, mencium pipinya….

Mendadak wajah Sehyun berubah menjadi wajah Sena.

Ah … Sena … aku merindukanmu….

Entah setan apa yang merasuki Yoongi. Dia memajukan wajahnya pelan-pelan. Memiringkan kepala. Meraih kepala belakang gadis itu dan….

“Mau apa kau ha?”

Tahu-tahu sebuah tangan sudah menutupi bibirnya. Juga wajah Sena yang hilang dan tergantikan oleh wajah Sehyun. Gadis itu masih menatapnya garang. Seolah mengatakan, “berani macam-macam, kubegal kau”. Reflek dia meloncat ke belakang dan BRUK!

“Akh!”

Sehyun menggeleng prihatin. “Tidak bisakah sekali saja kau tidak menyusahkanku, Tuan? Kau membuat malam ini menjadi malam yang panjang untukku.”

Puas mengomel, Sehyun pun membantu Yoongi berdiri lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju mobil berwarna pink yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada.

TBC

Advertisements

8 responses to “Stay [Chapter 18] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Jadi yoongi bakal berpaling ke sehyun? Andwaeeeee 😭😭😭😭
    Jangan hilangkan sena dari hati yoongi.

  2. akhirnya jimin bertemu dengan aku(?) eh jung yeonha maksudnya, yoongi juga bertemu denganku(?) sehyun-sehyun oke, makin suka….

  3. Akhirnya kan jimin sama yoongi ketemu cewek baru lagi yang kayaknya bakal jadi jodoh mereka besok. Karakter ceweknya aku sukaaa. Haduhhh my kookie, kenapa harus cemas sih? Sena uda mentok ke kamu. Jangan berbuat aneh2 yang nantinya bisa bikin konflik napa?

  4. Jimim sm yoongi ketemu cewek baru…asyikkkk…wah sehyun sifatnya mirip sena, yoongi sm sehyun aja..thor mau mnta tolong, hehehe…q slalu nunggu FH, q penasaran sm sena & 7 pangeran,q nunggu setiap untuk FH,semoga cepat d publish

  5. Ya ampun semoga sehyun jadi cewenya yoongi deh, kasian yoongi klo ngejomblo
    Tapi kok sena jadi takut sama jungkook ya??semoga mrk baik” aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s