Stay [Chapter 19] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Karena telah menjadi keluarga Oh, Jimin yang awalnya hanyalah seorang pemuda lulusan jurusan modern dance yang bekerja sebagai koreografer di sebuah agensi kecil pun diputuskan untuk ikut bekerja di perusahaan Oh Corp. Sehun tidak setega itu untuk menjadikan Jimin sebagai batu loncatan Sena. Baginya Jimin sudah menjadi anaknya sendiri dan dia rasa memperlakukan secara adil adalah sesuatu yang bijaksana. Tapi karena Jimin belum punya pengalaman sama sekali di perusahaan, maka Sehun menyuruhnya untuk bekerja dari bawah dulu, yaitu sebagai karyawan biasa. Namun, karena kedatangan Jimin bertepatan dengan jadwal cuti Heejoo, maka Jimin pun langsung diangkat menjadi manajer bidang SDM.

Dia tidak tahu, kalau bekerja di sana akan mempertemukannya dengan gadis imut tapi konyol yang ditemuinya di Sungai Han beberapa waktu lalu. Jung Yeonha, menatapnya dengan mata berbinar-binar saat gadis itu berdiri di depan mejanya.

Ahjussi! Kau bekerja di sini juga?”

Jimin memindai gadis itu dari atas ke bawah. Rambut diikat rapi, kaos sweater abu-abu, rok span selutut, sepatu tinggi warna hitam, dan wajah yang dipoles make up.

Manis.

Buru-buru dia menggeleng pelan.

Yeon mengerutkan dahi bingung.

“Kenapa kau kemari?” tanyanya sok wibawa.

“Oh itu, aku ingin menyerahkan ini. Hasil wawancara kerja kemarin. Dari limapuluh orang, hanya seperlima diantaranya yang masuk kategori layak untuk menempati kursi kosong di Departemen HRD. Kami berencana untuk mengadakan seleksi lanjutan. Tapi sebelum itu, kami ingin meminta izin pada Tuan … Jimin-nim, ya Park Jimin-nim untuk pengadaan seleksi lanjutan.”

Jimin meraih dokumen itu, membuka-bukanya sebentar lalu menutupnya lagi. “Apakah harus dengan izinku dulu?”

“Tentu saja. Kau adalah manajer utama di Departemen HRD.”

Sebenarnya Jimin tidak tahu apa-apa saja yang harus dilakukannya sebagai manajer. Bahkan sejak tadi saja dia hanya sibuk membuka-buka dokumen di meja tanpa tahu apa yang harus diperbuat.

Tapi mengingat siapa orang yang diajaknya bicara sekarang, sebisa mungkin jangan perlihatkan kalau dia tidak tahu apa pun.

“Oke, lakukan saja.”

Jimin berharap gadis itu segera pergi dari hadapannya.

Akan tetapi, yang ada gadis itu malah menatapnya balik, seperti menunggu sesuatu.

“Apa? Apa lagi? Aku sudah mengizinkanmu. Kenapa tidak segera pergi?”

Yeon meraih dokumen itu, membukanya lalu didorongnya mendekat pada Jimin. “Tanda tangannya.”

Jimin mendadak terbatuk begitu menyadari kebodohannya. Dia pun segera meraih bolpoin dan menorehkan tanda tangannya di bawah tulisan, Manajer SDM sekalian menuliskan namanya. Begitu selesai, Yeon pun menarik dokumen itu lagi.

Tapi gadis itu tidak segera pergi.

Wae?” Kali ini Jimin sudah sangat kesal. Pergilah, kenapa masih berdiri di sini, pikirnya.

Tiba-tiba gadis itu mencondongkan badannya ke depan. Jimin menarik badannya ke belakang. Tapi dia tertarik lagi ke depan karena Yeon menarik kerah kemejanya. Dia bisa merasakan tangan gadis itu bergerak di sana.

Yaa, kau mau apa? Ini bukan tempat yang pantas untuk melakukan itu, eo?”

Jimin sungguh tidak tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu. Dia sedang berusaha menjauhi gadis itu dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Tapi dia bisa merasakan tangan gadis itu yang sibuk di sana.

Yaa, kau ini sedang apa sih?”

“Beres! Nah, begitu ‘kan keren.”

Jimin langsung menghela napas lega setelah gadis itu menjauh darinya.

“Kau pasti kesulitan memakai dasi karena perban di tanganmu ‘kan? Aigoo, manajer SDM sementara ini benar-benar.”

Jimin pun meraba-raba dasinya. Iya juga, dia baru sadar kalau dasinya tadi sedikit tidak rapi karena tangan kanannya yang masih dibalut perban. Jadi barusan gadis itu memperbaiki dasinya? Boleh juga.

“Ekhem. Terima kasih.”

Yeon tersenyum lebar. “Sama-sama, Ahjussi. Kalau begitu aku permisi dulu, annyeong.”

Jimin hanya mengangkat tangannya kaku untuk membalas lambaian ceria Yeon.

Cih, gadis itu, gumamnya sambil tersenyum tipis.

Wae?” tanya Soomi setelah mencoblos kotak susu pisangnya dengan sedotan. Dia baru saja pulang dari kuliahnya menempuh gelar doctor. Ya, dia sekarang menempuh S3 di usianya yang ke 25. Tidak di luar negeri seperti teman-temannya yang lain, tapi di Korea. Dia suka Korea.

Taehyung yang duduk di sampingnya, juga sedang memegang sekotak susu pisang, hanya memandangnya dengan seksama. Gara-gara jadwal kuliah Soomi yang padat belum dengan pekerjaan Soomi sebagai dosen, kesempatan mereka untuk bertemu makin kecil. Dia sangat merindukan gadis ini.

“Bagaimana kuliahmu?” tanyanya kemudian.

“Hm, lancar.”

Taehyung mengangguk. Sedikit kecewa sebenarnya. Dia ingin Soomi menjawab lebih dari itu, setidaknya dengan menanyakan bagaimana kabarnya, atau bertanya balik soal kerjaannya sekarang. Dia sadar betul kalau Soomi adalah tipe gadis yang dingin. Justru karena itulah dia tidak ingin melepaskan Soomi.

“Kerjamu?” tanyanya lagi.

“Baik.”

“Kabarmu?”

Soomi berhenti menyedot minumannya. Dia pun menjauhkan sedotan itu dari bibirnya, menyimpan lengannya di atas paha. Lalu menoleh pada Taehyung.

“Aku baik-baik saja.”

Taehyung tersenyum. “Baguslah.”

Giliran Soomi yang mengamati Taehyung dengan seksama. Sejujurnya sudah lama sekali dia tidak memperhatikan Taehyung sedetail ini. Kantung matanya yang makin hitam dan besar, mata yang sayu, wajah kusut, rambut sedikit berantakan, tubuh yang makin kurus, pakaian yang dipakai ala kadarnya.

Tanpa mengatakan apa pun, dia membuang pandangannya ke depan lagi. Kembali menyesap susu pisangnya.

“Kau lapar?” Suara Taehyung terdengar lagi. Sekarang dia sibuk membongkar kotak susu itu sebelum melemparnya ke tempat sampah.

“Belum.”

Arasseo.”

Hubungan yang seperti sesi wawancara, begitulah yang mungkin akan dikatakan oleh orang-orang. Hanya bertanya, jawab, tanya, jawab, dan selesai.

Soomi melakukan hal yang sama pada kotak susu kosongnya sebelum melemparkannya ke tempat sampah. Tapi dia tidak seberuntung Taehyung. Kotak susunya justru jatuh sebelum sampai di tong sampah.

Pfft! HAHAHAHA! APA-APAAN ITU?! BURUK SEKALI! HAHAHAHA!”

Soomi berdecak kesal melihat tawa heboh Taehyung. Apa sih yang lucu, pikirnya. Namun setelah melihat bagaimana lepasya Taehyung tertawa, entah kenapa dia ingin tersenyum. Dipukulnya pelan lengan pria itu. “Yaa, tertawamu.”

Taehyung sampai memukul-mukul pahanya sendiri saking kerasnya dia tertawa. Lalu setelah itu, setelah dia merasa puas, direngkuhnya Soomi dalam pelukan.

Bogosipda.”

“Hm. Nado bogosipda,” balas Soomi sambil memeluk balik Taehyung.

“Ah senangnya mendengar itu.”

Soomi hanya tersenyum.

“Bisakah kau lebih aktif bicara saat bersamaku? Tidak apa-apa menjadi bawel, aku suka. Aku juga ingin berkomunikasi denganmu.”

“Hm, akan kucoba.”

Taehyung pun menarik tubuhnya. Kedua tangannya masih melingkari pinggang Soomi, lengan Soomi juga masih ada di lehernya. Entah kapan mereka pernah saling bertatapan dengan jarak sedekat ini. Mungkin ini adalah yang pertama kalinya?

Diletakkannya tangan besarnya di kepala Soomi. Mengusapnya pelan. “Kerja bagus, Lee Soomi. Kau telah melakukan pekerjaanmu dengan baik. Kau juga sudah kuliah dengan rajin. Kau adalah yang terbaik. Lee Soomi, kkaepjjang!

Soomi terkekeh pelan. Dia memukul-mukul bahu Taehyung sebelum memeluknya lagi.

Mungkin hanya Taehyung yang tidak tahu.

Kalau sebenarnya Soomi sangat bersyukur memilikinya.

Jinie: Sudah makan?

Lalisa: Sudah. Kau?

Jinie: Aku baru saja selesai rekaman T^T lapar T^T

Lalisa: Selalu saja begitu -_-

Jinie: Hehe, kau makan apa tadi?

Lalisa: Salad.

Jinie: Selalu saja begitu -_-

Lalisa: Jangan meng-copy kalimatku :3

Jinie: Dasar sapi :p

Lalisa: Lebih baik sapi daripada babi sepertimu :p

Jinie: Babi tapi tetap suka ‘kan? >.<

Lalisa: Dalam mimpimu.

Jinie: Aaaaah kau tidak seru :3 Ya sudah, aku akan berpacaran dengan Ariana Grande setelah ini :p

Lalisa: Terserah. Aku juga akan berpacaran dengan Mario Maurer besok :p

Jinie: Aigoo … Mario Maurer mana mungkin mau dengan sapi kurus sepertimu :p

Lalisa: Kau pikir Ariana Grande mau dengan babi pink macam kau?

Jinie: Kalau Ariana Grande tidak mau denganku, Kehlani juga boleh ^_^

Lalisa: Yak! STOP IT! -_- Kalau kau berani dekat-dekat dengan Kehlani, kubunuh kau

Jinie: >.< >.< Sapi kurus sedang cemburu wow wow wow Dia tidak mau babi pink tercintanya dekat-dekat gadis seksi karena dia tidak seksi

Lalisa: YAK! BERANI KAU PADAKU? AWAS SAJA! PULANG-PULANG KAU TIDAK AKAN DAPAT JATAH!

Jinie: #evilsmirk jatah apa hayoo ~~ ulululu

Lalisa: Tunggu saja kau nanti.

Jinie: Tenang saja, aku akan menunggumu meskipun membutuhkan waktu 1000 tahun lamanya :”) Kucinta kamuh sapi kurus :* Nanti malam makan daging ya ^^ Biar nanti aku bisa memanggilmu Tyrex cantik :*

Lalisa: Kau juga jangan lupa makan

Jinie: Kalau aku tidak lupa makan kau akan mengganti namaku menjadi apa?

Lalisa: ‘Babi pink sudah makan’

Jinie: -_- pintar sekali kamu, Nak #tepuktangan pantas kucinta kamu :*

Lalisa: ^_^

Jinie: Ya sudah ya, aku ada sesi pemotretan sebentar lagi #bersamaRihana #evilsmirk Saranghae-yo uri Lalisa  :*

Lalisa: Segeralah kembali ke Korea. Kuburanmu sudah kupersiapkan. J

Seokjin tersenyum simpul saat membaca pesan terakhir yang dikirim Lisa. Dia mengusap-usap layar ponselnya yang memperlihatkan ruang chat-nya dengan Lisa.

Saat dia akan mengetik balasan, seseorang tiba-tiba menegurnya.

“Seokjin-a, bersiaplah sekarang.”

Ne.”

Mendadak pikirannya blank, Seokjin pun memutuskan untuk tidak membalas pesan itu.

Sementara itu di waktu yang sama di Korea, Lisa juga sedang memandangi ruang chat-nya dengan Seokjin. Sekarang dia sedang berada di sebuah kafe. Menyesap Americano setelah menghabiskan salad-nya. Makan siang, dia kemari untuk makan siang di sela-sela pekerjaannya sebagai seorang desainer. Sebenarnya pekerjaan ini membuatnya penat dan lelah. Namun ajaibnya, hanya karena chatting dengan Seokjin, rasa penat dan lelahnya pun hilang. Energinya serasa telah kembali segar lagi seperti pagi tadi. Tidak mau berlama-lama di sana, dia pun segera pergi setelah mengantongi ponselnya dan membayar bill di kasir.

TANG!

Bunyi dua kaleng bertumbukkan pun terdengar. Dua orang yang melakukan itu lantas menyesap kaleng soda mereka masing-masing.

Setelah dirasa cukup, Sena pun menyimpan kalengnya di dekat kaki bangku.

Dia mengayun-ayunkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang. Seperti anak perempuan yang sedang duduk manis menunggu ibunya datang.

“Jadi, kapan kau akan melamarku?”

“Nanti.”

“Nanti?! Hari ini?!” Sena langsung menoleh dengan shock. Nanti katanya?

Jungkook menggeleng. “Rahasia.”

Sena pun mengerucutkan bibirnya sebal. Kembali dia menghadap depan, tapi kini dengan kedua lengan terlipat di perut. “Kita sudah berpacaran selama empat tahun. Bagiku waktu selama itu sudah cukup untuk kita saling mengenal. Aku ingin segera menyandang margamu di namaku. Jeon Sena, aigoo cantik sekali nama itu.”

“Sena Jeon, itu jauh lebih cantik.”

“Tapi itu ‘kan sama saja.”

Jungkook menggeleng tak setuju. “Pengucapan Jeon Sena seperti nama seorang pegulat. Andwae, kau adalah Nyonya Sena Jeon.”

“Ah … maja. Kurasa memang jauh lebih baik Sena Jeon.”

Jungkook mengangguk. Setelah sodanya habis, dia pun menginjak kaleng itu sebelum melemparkannya ke tong sampah. “Masih banyak yang belum kupersiapkan, jadi, tunggu saja.”

“Memangnya apa yang sedang kau persiapkan?” tanya Sena penasaran.

“Banyak,” balas Jungkook sembari merebahkan kepalanya di atas paha Sena. “Cincin, tempat tinggal, barang-barang, pokoknya banyak. Aku tidak mau menikah tanpa persiapan. Itu akan sulit untuk kita berdua nantinya.”

Sena tersenyum. Dia menyelipkan rambutnya di belakang telinga, sebelum mengusap-usap rambut Jungkook. “Padahal aku hanya menanyakan soal lamaran. Yaa, kau bisa memikirkan itu setelah melamarku. Lagi pula, belum tentu ‘kan aku akan menerima lamaranmu.”

“Kau berniat menolakku?”

Gadis itu menggendikkan bahu. Tersenyum jahil. “Aku tidak yakin. Tapi bisa saja ‘kan?”

“Akan terdengar aneh kalau kau menolakku padahal kau yang memintaku melamarmu.”

“Nah, itu kau sudah tahu. Jadi kesimpulannya, aku akan menerimamu. Apa pun yang terjadi.”

Jungkook mendadak terdiam. Sena yang awalnya tersenyum dengan begitu riangnya, berubah mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Aku tidak tahu kalau takdirku dan kau adalah menjadi kita.”

Sena kembali tersenyum. “Cheesy sekali kata-katamu. Ini benar Jungkook-ku?”

“Kupikir di hari saat kau menghampiriku bersama Jimin, adalah hari pertama dan terakhir kita bertemu….”

“Ternyata?” sambung Sena sedikit tak sabaran.

“Takdir memberiku kesempatan kedua untuk bertemu denganmu lagi. Kita ditempatkan di kelas yang sama selama tiga tahun.”

“Lalu?” Sena mengusap-usap pipi Jungkook yang terasa kasar di tangannya. Dia suka kulit kasar Jungkook.

“Kupikir kita akan terpisah jauh setelah lulus dari SMA. Lagi-lagi, takdir memberiku kesempatan. Kita kuliah di kampus yang sama, apartemen yang sama.”

Kali ini Sena memilih untuk tidak menyahut. Bibirnya terus mengulum senyum sambil memainkan jari jemarinya di permukaan wajah Jungkook.

“Perasaan yang awalnya dimulai dari rasa kagum … cinta remaja … lalu kini berkembang menjadi rasa membutuhkan. Kalau saja hari itu kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Mungkin aku tidak akan menjalankan hidupku dengan baik. Kau tahu sendiri ‘kan? Usiaku terlalu muda untuk berjuang hidup sendiri di dunia ini. Aku yang tidak punya pengalaman apa pun, aku yang hanya bermain-main sebelumnya lalu tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus hidup sendiri. Itu adalah saat yang paling berat untukku. Aku ingin menangis, aku ingin berteriak, aku ingin menyumpahi Tuhan, aku ingin membunuh orang-orang yang sudah membunuh keluargaku, aku ingin … ingin melakukan segalanya yang kubisa untuk meluapkan emosiku. Tapi, semua itu tidak bisa kulakukan karena kehadiranmu sudah menyegel semua keinginan itu. Sejak hari itu aku menjadi sangat membutuhkanmu, Sena.”

Jungkook tersenyum, tapi tidak dengan matanya. Sena menyeka air yang mengalir turun dari sudut mata Jungkook. Dia juga sebenarnya ingin menangis. Tapi sebisa mungkin dia tahan. Sementara itu Jungkook meraih tangannya. Mengusapnya lembut, kemudian mengecupnya lama.

“Persiapkan dirimu, Sena. Aku akan melamarmu dalam waktu dekat ini.”

TBC

Advertisements

17 responses to “Stay [Chapter 19] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Diawal terkesan sama jimin yeonhee trus lisa sama jin, but tetep aja cerita di bagian akhir chap ini lebih manis banget kayak lolipop
    Ga sabaar liat sena dilamar jungkook
    Suwer deh kata” jungkook yg “persiapkan dirimu sena” itu beribu makna bgt kayaknya #lebay
    Eonni hebat deh bikin alurnya, suka ♥♥♥

  2. Jimin ketemu lagi sama yeon. Pertanda takdir, kan? Hihihi julukan antara lisa sama jin lucu. Sapi kurus sama babi pink. Duhh soomi kenapa sih ngga aktif gitu? Kasian taehyungnya pengen diperhatiin lebih. Jungkook mah selalu mikir ke depan dulu sebelum bertindak sesuatu. Tapi yang di akhir part ini bikin sedih. Jungkook emang strong namja deh. Makin loveeee

  3. Jimin ketemu lagi t cewek,takdir jimin mngkn hehehe…babi pink sm sapi kurus benar2 lucu…kookie,benar2 hebat..pantas sena jatuh cinta…kabar yoongi sm sehyun gimana ya..yoongi persiapkan dirimu untuk sehyun…

  4. whooaaaah akhirnya jungkook mau lamar sena juga, jimin akhirnya menemukan calon tambatan hati yg baru cieee…. seokjin sm laisa juga makin sweeet,

  5. whooaaaah akhirnya jungkook mau lamar sena juga, jimin akhirnya menemukan calon tambatan hati yg baru cieee…. seokjin sm laisa juga makin sweeet, salah masukin id komen

  6. Goodbye Yoongiii 😂😂😭😭
    #nangis bombay
    Kumohon jangan ungkit” yoongi lagi. Daku tak siap jika harus bertemu yoongi kembali 😭😭😭 wkwk #mah ngopo

  7. “Pengucapan Jeon Sena seperti nama seorang pegulat. Andwae, kau adalah Nyonya Sena Jeon.”
    Jeon sena = john cena (eh ia njiir mirip 😀 ) kaporit gue sama mbak amber di WWE btw.
    udah lah cepet nikah aja ntar biar cpet punya anak trus anaknya dijodohin deh sama anak aku + yoongi. hahh :v (bangunkan gue pliseu). bye.

  8. Jungkook mau ngelamar sena dalam waktu dekat. Walaupun gaya berpacaran tehyung sama soomi agak membosankan tapi meeekaa berdua saling mencintai. Jimin ketemu lagi sama yeon moga aja berjodoh jimin sama yeon. Tinggal nunggu kish cinta yoongi lagi deh.

  9. yang baru patah hati skaligus dapat pengganti (jimin n yoongi)selamat :-):-):-)

    buat taehyun klo nanya singkat padat jelas.tapi klo ketawa ga ketulungAn bikin aku ketawa
    konyol abiz

    jungkook ayo lmar sena dah ga sabar tuh…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s