[Chaptered] Finding The Secrets of The Universe – by A.S. Ruby

Finding The Secrets of The Universe (COVER)

Presented by:

A.S. Ruby

   

Main Cast: Byun Baekhyun & Park ‘Yoo’ Yoojin (OC) || Genre: AU, Life, and the others will be revealed soon || Rating: T/PG-16 (for several bad languages and the sensitive topics used here) || Length:  Chaptered | 3,6k+ words

  

Disclaimer

Inspired by several books and articles I’ve read in my entire life; this story is presented for you all who come here to read this writing. I own nothing except the poster and the story line; there’s no money-making here of course.

  

.

  

.

Ada manusia yang hendak lari dari kehidupannya lantaran merasa bosan menjalani hidup. Ada pula manusia yang hendak lari dari kehidupannya lantaran merasa tak sanggup menjalani hidup. Rasa muak selalu muncul, pertanyaan-pertanyaan mengenai untuk apa kehidupan diciptakan pun tak mampu dibendung.

.

Mungkin semesta masih tak hendak berbagi rahasianya; mungkin dua jenis manusia yang muak akan hidup mereka tersebut tidak akan mampu menyibak rahasia itu sendirian. Mungkin mereka harus bahu-membahu dalam menemukan rahasia itu. Untuk apa mereka diciptakan, untuk apa mereka hidup.

.

  

  

“Sialan.”

Sepasang manik gelap itu memandang lurus ke depan, menelusuri setiap lekuk refleksi wajah pucat tanpa ekspresi di dalam cermin. Seharusnya dia sudah tahu sejak dulu; setidaknya dia seharusnya lebih berhati-hati dalam bertindak sebelum segalanya menjadi terlambat seperti ini.

“Perempuan tolol…”

Park Yoojin bersumpah dengan segenap jiwa dan raganya bahwa dirinya menyesal—mengapa harus sekarang?

Intuisinya terus bertanya, mencari satu jawaban pasti di antara kegamangan yang tengah singgah di hatinya. Laki-laki biadab itu. Andai saja Yoo berhasil menemukannya, dirinya bersaksi akan langsung menghabisinya hingga tak berkutik, mencincangnya sampai keparat itu kehilangan bentuk fisiknya sebagai manusia—dasar setan…

“Bodoh, Yoo…”

Sekujur tubuhnya bergetar, buku-buku jemarinya mulai memutih. Diagnosis dokter yang disampaikan kepadanya kemarin bukanlah apa-apa kalau saja tanda lain itu tidak muncul hari ini. Serendah apa pun martabatnya di mata orang lain, atau bahkan keluarganya sendiri, Yoo sama sekali tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Terserah orang lain mengatainya jalang murahan ataupun apa, biarkan mulut gegabah mereka berkicau sesuka hati, tetapi Yoo tidak peduli.

Dia masih punya hati.

Dua garis merah itu memberi pertanda ada satu kehidupan lain yang kini bercokol di dalam dirinya. Tuhan menitipkan satu nyawa tepat di rahimnya, sementara di sisi lain, Yoo juga tidak bisa menampik keberadaan ancaman lain yang kini semakin kuat merongrong tubuhnya: virus sialan yang ditularkan biadab bernama Oh Sehun itu—seorang pemuda yang baru saja mati sebulan lalu lantaran AIDS yang dideritanya; seorang maniak seks bebas. Sialnya pula, Park Yoojin merupakan satu dari sekian banyak perempuan bodoh yang kerap memenuhi hasratnya beberapa tahun belakangan.

Belum cukup menyedihkankah?

Ah, jangan lupa untuk mencatat diagnosis dokter bahwa virus sialan itu sudah menjangkitinya selama hampir lima atau enam tahun belakangan. Persis sewaktu dirinya pertama kali terjerumus ke dalam dunia tanpa batas serta moral itu, dan dengan bodohnya, sosoknya yang masih berusia delapan belas terbuai dengan kenikmatan semu yang diberikan si keparat Sehun kepadanya.

Tolol, dia sudah lama sakit—betul-betul lama—tetapi baru sekarang kesadaran mengentakkannya.

Terlebih lagi, sekarang dirinya hamil. Tiga bulan; dan ayah dari bayinya pun sudah mati. Oh Sehun namanya.

Malang betul nasibnya. Haruskah Yoo mati sekarang juga menyusul Sehun agar mereka bertemu di dunia yang entah bagaimana bentuknya itu? Agar Yoo bisa memberi biadab itu pelajaran, atau pula setidaknya dapat meninggalkan seluruh masalahnya di dunia. Tetapi itu tindakan tolol, Yoo tahu itu. Andai saja dirinya mati, beberapa jam setelah dikubur tubuhnya akan segera membusuk, kulitnya mengelupas, dan…

Bayinya juga akan mati.

Membunuh dirinya sendiri artinya juga membunuh jiwa tak bersalah yang satu itu.

  

Ø

  

“Hei, Baekhyun, jangan lupa membeli pasta gigi sepulang bekerja nanti!”

“Ya,” hanya gumaman itu yang bisa dikeluarkannya pagi itu, seperti rutinitas biasanya, pagi-pagi sekali di hari Senin, Baekhyun memulai harinya selaku penjaga kasir di sebuah minimarket di dekat stasiun.

Pukul dua siang nanti dia akan lanjut berkuliah, beberapa bulan lagi dirinya akan dilantik menjadi seorang sarjana. Dengan itu, artinya dia dapat segera mendapat pekerjaan lebih baik dan pekerjaan yang lebih baik akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik—mayoritas manusia di muka Bumi ini jelas akan berkata demikian. Kebahagiaan hanya diukur dengan uang. Hanya saja, belakangan ini Baekhyun tidaklah berpikir seperti itu.

Namun, entahlah.

Pekerjaannya masih terlalu banyak jika hanya digunakan untuk memikirkan hidupnya yang semrawut hari ini.

“Jangan lupa membeli pasta untuk makan malam juga! Aku yang akan memasakkan sausnya malam ini, kau tinggal berbelanja saja!”

Seketika, baru saja dia mengiyakan pesanan yang dikatakan Minseok, Kyungsoo tiba-tiba muncul dari balik pintu memberi cengiran lebar.

“Kau mau bolognaise atau carbonara? Dan, ya, jangan lupa membeli apel juga kalau begitu! Aku lupa jika Minseok Hyung sedang diet baru-baru ini—kau tidak keberatan, kan, Baek?”

Menganggukkan kepala sekali seraya menyedekapkan kedua lengannya di bawah dada, Baekhyun membalas, “Ya, ya. Ada lagi yang ingin kalian pesan sebelum aku berangkat bekerja? Aku tahu kalian berdua sedang libur, tetapi bukan berarti kalian tidak bisa melangkahkan kaki keluar apartemen sebentar, kan? Jangan bertingkah seperti mamalia yang sedang berhibernasi seperti ini…”

Sejenak, Baekhyun terdiam, lantas menghela napas panjang, “Omong-omong, kau tidak alergi dengan tanah atau angin di luar, kan, Kyung?”

“Selalu saja aku…”

Mengeluh adalah suatu kebiasaan harian Byun Baekhyun.

“Maksudku begini, Kyungsoo…”

Raut muka Kyungsoo, penghuni termuda apartemen mereka, seketika berubah begitu menyadari sikap keberatan Baekhyun yang disampaikan kepadanya, “Oke, oke. Maafkan aku, Baek…”

“Aku tidak bermaksud membuatmu, ugh…”

Kyungsoo mulai tampak kebingungan, “Maaf…”

Kata “maaf” biasanya merupakan jurus terampuh Kyungsoo untuk membungkam mulut Baekhyun yang senantiasa mengomelinya setiap pagi. Selalu saja ada yang salah dan memberatkannya; Do Kyungsoo selalu salah dan Byun Baekhyun selalu benar.

“Maafkan aku, Baek.”

Hyung, Kyungsoo…” Baekhyun memberi penekanan pada bagian awal sahutannya. “Sudah berapa kali kau kutegur? Secara teknis, aku lebih tua setahun darimu. Panggil aku hyung sebagaimana kau memanggil Minseok dengan sebutan yang sama.”

“Oke, maaf,” Kyungsoo menggaruk kulit kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Jadi begini, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyusahkanmu, Baekhyun Hyung. Hanya saja, kau tahu, semuanya pasti lebih praktis, bukan? Kita berbagi tugas bersama, Hyung. Kau yang berbelanja, aku yang memasak…”

“Dan Minseok Hyung yang bermain game. Tepat sekali, bukan?”

Baekhyun memutar kedua bola matanya tak sabar, bibirnya bergerak mencibir, “Aku sudah hafal taktik yang kauterapkan selama ini, Kyungsoo. Kali ini aku memang mengalah, tapi tidak di lain kesempatan nanti. Kau tidak boleh terus bertapa di dalam apartemen seperti ini, percayalah kau akan terpaksa berinteraksi dengan banyak orang ke depan nanti.”

“Aku punya banyak teman di kampus,” secepat kilat Kyungsoo membantah ucapannya, “aku hanya sedang libur, itu saja.”

“Terserah kau punya banyak teman di kampus atau tidak, tapi kau bahkan tidak mengenal Bibi Song yang tinggal di bawah apartemen kita, kan?”

Sungguh, Baekhyun tak habis pikir mengapa dia menghabiskan begitu banyak waktu dalam konversasi tak berguna ini, tetapi kelakuan Kyungsoo terkadang sungguh berhasil membuatnya nyaris hilang akal. “Sekali kau muncul dua minggu lalu, beliau bertanya kepadaku perihal identitasmu…”

Oh, Byun Baekhyun,” sebisa mungkin Baekhyun meniru suara serak Bibi Song yang kerap mengetuk pintu apartemen mereka dan memberikan kimchi sawi buatannya untuk pemuda itu. “Siapa anak pendek bermata bulat yang baru keluar saat aku tiba tadi? Apakah dia masih bersekolah? Siapa dia? Saudaramu, adikmu, sepupu jauhmu, atau…

Kali ini, justru Kyungsoo yang beralih peran menjadi seseorang yang nyaris hilang akal dengan sikap Baekhyun yang agak sedikit—tidak, maksudnya sangat—cerewet.

“Sekarang bisakah giliran kau yang diam, huh? Semalam kau sudah mengomeliku soal Bibi Song yang secara kebetulan sekali belum kukenal itu. Tetapi begini, kau dengar aku, kalau saja kau segera berangkat dan berhenti menggerutu seperti seorang wanita yang mau datang bulan, aku akan segera memperkenalkan diri kepada Bibi Song, oke,”

Baekhyun mendelik tak sabar, sama sekali tak mau mengalah.

“Tetapi begini, Kyung…”

“Sudahlah, Baek. Satu jam lagi minimarket tempatmu bekerja dibuka, jangan sampai terlambat hari ini,” seketika Minseok muncul kembali, tangan kanannya menggenggam sehelai handuk kecil untuk mengelap peluh di wajahnya. Seperti biasa, dia berlatih mengangkat dua barbel ukuran sedang lagi hari ini. “Jika kau terus meladeni Kyungsoo, sampai kiamat pun kalian tidak akan berhenti bertengkar.”

Kyungsoo langsung menanggapinya mantap, “Tepat sekali.”

Baiklah, terserah.

Jika Minseok sudah berbicara sebagai orang tertua di antara mereka, Baekhyun sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. “Kalau begitu sampai jumpa nanti malam. Pasta gigi, pasta spageti, ataupun pasta lainnya; aku akan membawanya selepas kuliah. Jika ada yang kurang, kirim saja pesan nan—”

“Oke. Sampai nanti, Baek!”

Kebiasaan Minseok untuk selalu memotong rangkaian keluhan Baekhyun di pagi hari.

Begitu bangga Minseok, sekali lagi, berada di pihaknya, Kyungsoo menimpali ucapan selamat tinggal untuk Baehyun ceria, “Dah, Baekhyun Hyung!”

  

Baekhyun menganggukkan kepalanya tak sabar; terserah.

  

Ø

  

Membosankan.

Satu kata itu rasanya sudah cukup menggambarkan kehidupan seorang Byun Baekhyun yang serba biasa. Atensi mana yang akan tertarik dengan sosoknya? Jawabannya tidak ada dan, mungkin, akan selalu tidak ada. Lantaran Byun Baekhyun hanyalah seorang mahasiswa rantau asal Bucheon biasa yang menjalani hidupnya secara pas-pasan di kota metropolitan bernama Seoul.

Wajahnya tidak jelek, sungguh. Hanya saja, perempuan mana yang akan tertarik padamu jika kau tidak punya segepok uang di tangan? Berhenti bicara soal cinta sejati, pemuda melarat bernama Byun Baekhyun yang satu ini tidak akan mempercayai benda yang satu itu. Perempuan zaman sekarang itu sama saja; tidak ada bedanya.

Terlalu materialistis. Terlalu hedonis.

Apa pun sebutannya itu.

“Hei, Baek…”

Suara berat Chanyeol seketika mengejutkan Baekhyun tatkala jarum menunjukkan pukul setengah sebelas malam di kampus mereka. Ada praktek materi biokimia yang harus keduanya selesaikan dalam waktu dekat dan kebetulan sekali bahwa hanya Chanyeol dan dirinyalah yang terakhir kali menetap di laboratorium.

“Masih memikirkan penyusunan awal skripsimu belakangan ini, ya?” Chanyeol memulai konversasi mereka sembari mendekap kedua lengan di bawah dada, “Percayalah, kau akan berhasil. Jika kau berusaha keras, kurasa tidak ada yang mustahil…”

“Aku tahu,” Baekhyun berujar samar, “hanya saja aku sedang memikirkan akan melakukan apa setelah tamat nanti. Maksudku, aku memang akan mencari pekerjaan dan berupaya mendapat penghasilan tetap yang memadai, tetapi setelah itu apa?”

Hening sejenak, sebelum Baekhyun melanjutkan kalimatnya, “Manusia dilahirkan, tumbuh, disekolahkan, bekerja, ada kalanya berkeluarga, lalu mati…”

“Memang begitu siklusnya, kan. Mustahil bagi manusia untuk hidup selamanya, kau dan aku jelas bukan dewa,” Chanyeol menanggapinya santai, meskipun tersisip kesan serius di setiap penekanan kata yang diutarakannya. “Apa yang tengah kita tempuh sekarang juga salah satu langkah untuk bertahan hidup ke depan. Kau belajar dan lantas menjadi sarjana, semuanya dilakukan untuk mendapat pekerjaan yang mampu menjamin hidupmu, akan jauh lebih baik apabila kau bisa kaya-raya.”

“Tetapi aku kurang mendapati esensinya. Aku merasa seolah ada sesuatu yang disembunyikan oleh semesta mengenai jalan hidup manusia.”

Sepasang manik bundar milik lawan bicaranya tampak semakin bundar mendengarnya berbicara demikian, “Apa maksudmu?”

Jemari Byun Baekhyun bergemeletuk di atas meja laboratorium yang baru mereka bereskan tadi. Pandangannya terpatri pada sejumlah tabung reaksi yang baru mereka cuci, “Aku hanya sedang memikirkan apakah standar kebahagiaan hidupku sebagai manusia hanya dihitung dari seberapa kaya aku. Atau justru, adakah unsur lainnya?”

“Hei, tapi bukankah kau yang selama ini memberitahuku motivasi utamamu belajar adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik? Katanya kau bosan menjadi seorang penjaga kasir terus-menerus, setelah menyelesaikan kuliahmu di jurusan biomedik ini, kau bisa saja mendaftarkan diri ke berbagai perusahaan besar—pamanku punya salah satu kolega di Busan, kau dan aku bisa mendaftar ke sana…”

Chanyeol terus berujar panjang lebar, menceritakan rencananya meskipun sudah puluhan kali rasanya Baekhyun mendengar si jangkung yang satu ini mengutarakan hal yang sama kepadanya. Jika sudah kelewat bersemangat, Baekhyun tahu betul yang dapat dilakukannya dalam menghadapi Chanyeol hanyalah sekadar mengalihkan pandangannya terhadap objek lain yang sekiranya menarik, berpura-pura mendengarkan sahabatnya yang antusias.

“Hei, Baekhyun,”

“A—apa?” Terkejut, Baekhyun tergagap menyahut Chanyeol yang tiba-tiba saja menepuk pundaknya.

“Kau tidak berniat pulang, huh?”

Setelah sekitar setengah jam mendengarkan penuturan Chanyeol—walaupun sesungguhnya dirinya tidak betul-betul mendengarkan—mereka pun memutuskan untuk menyudahi aktivitas percobaan mereka kali ini. Malam kian larut, Baekhyun seketika teringat akan dua rekan seapartemennya yang pasti sudah tidur sekarang; Kyungsoo jelas akan mengomelinya saat membuka pintu lantaran terpaksa bangun nanti, tetapi mau bagaimana lagi? Toh, ini risiko tinggal bersama mahasiswa tingkat akhir sepertinya, kan.

Penat.

Baekhyun sungguh tak sabar menanti kejutan hidup ke depan nanti—itu pun jika ada.  

Lelah.

Namun terkadang, otaknya nyaris meledak memikirkan hidupnya yang terlalu konstan dan nyaris serba pasif, dan hal yang paling diinginkannya saat ini hanyalah tidur dengan nyenyak.

Berjalan bersama Chanyeol menyusuri kampus yang temaram, Baekhyun seketika berharap diberi kemampuan ajaib untuk berpindah tempat dalam satu kejapan mata. Dia hanya ingin segera pulang; ke apartemennya tentu saja.

  

Ø

  

Suatu kebetulan yang luar biasa sekali bahwa langit malam Kota Seoul tampak cerah malam ini. Tidak—kali ini bukan karena lampu-lampu terang yang dipancangkan di atas tanah, melainkan lantaran bintang-bintang diberi peluang untuk bersinar lebih kemilau pada kesempatan ini. Pandangannya sempat terpatri ke atas sana sesaat, memandang langit biru beludru, sebelum dirinya memutuskan untuk menatap kembali ke depan dan berjalan lagi.

Merapatkan jaket kulitnya, Yoo terus menukar langkah menelusuri trotoar tanpa arah dan tujuan yang pasti. “Kurang ajar…”

  

“Tidak tahu diuntung…”

  

Entah sudah berapa kali bibirnya meluncurkan berbagai makian, ditujukan kepada setiap orang yang telah mengkhianatinya dan menghancurkan hidupnya. Yang pertama, si tolol Oh Sehun yang diyakininya telah berkubang di neraka, lalu Kim Jongin dan Jung Soojung yang ternyata tak lebih dari pecundang yang sama sekali tak mau membantunya begitu Yoo memberitahukan mereka bahwa dirinya hamil, dan sejumlah temannya yang lain juga sama saja—tak lebih dari sekadar penjilat.

Lantas, bagaimana dengan keluarganya?

Oh, bedebah soal mereka.

Dia sudah tidak punya keluarga lagi semenjak hari itu, lima tahun silam, lelaki tua congkak itu mendepaknya dari rumah; mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki seorang putri bernama Park Yoojin yang masih hidup dan bernapas. Putrinya sudah mati semenjak gadis itu memutuskan untuk mempermalukan keluarga, begitu kata si congkak tersebut.

  

Dirinya memperoleh kesialan lantaran manusia yang seharusnya menjadi orangtuanya tersebut justru berkelakuan lebih buruk dari binatang—dan Yoo tidak akan membiarkan darah dagingnya sendiri mendapatkan kesialan yang sama.

    

Tidak akan.

  

Matanya lantas bergerak menyusuri bagian bawah tubuhnya sendiri, kemudian naik menatap bagian perut, “Kau harus kuat di dalam sini, Nak. Kita harus tetap saling mendukung satu sama lain, Ibu akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Ibu percaya bahwa kau kuat…”

Rasanya aneh bagi Yoo berujar seperti ini, terutama lantaran dirinya sama sekali tidak melihat sosok lawan bicaranya sekarang. Meskipun dirinya juga tahu betul bahwa bayi itu ada di dalam sana; sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.

Semenjak peristiwa menghilangnya Oh Sehun dan sampainya kabar bahwa biadab itu telah mati dan membusuk lantaran penyakit paling menjijikkan sedunia tersebut, AIDS yang dipicu oleh HIV, hidup Yoo hancur dikarenakan setiap orang langsung bergegas menjauhinya. Meninggalkannya seolah-olah dirinya hanyalah sampah masyarakat yang tidak patut dikasihani dan mendapatkan pertolongan. Hidupnya dilingkupi ketidakpastian; bagaimana dirinya akan bertahan, apakah akan ada pertolongan suatu saat nanti.

Yoo kini dihinggapi ketakutan—sebab penyakit ini dapat membunuhnya kapan saja.

Meskipun sesungguhnya, masih ada secercah harapan yang mampu menguatkan Yoo menghadapi ketakutannya sendiri. Yaitu suatu fakta bahwa dia, seorang perempuan bernama Park Yoojin yang terbuang, akan menjadi ibu apabila bayi ini berhasil dilahirkan dengan selamat di dunia. Sesuatu yang pada awalnya sama sekali tidak dapat dipercaya; bahkan oleh dirinya sendiri.

Park Yoojin menjadi seorang ibu.

Ada banyak hal serta petualangan yang hendak dilakukannya di dunia, tetapi menjadi orangtua sama sekali tidak pernah terbayangkan di dalam benaknya, barang sedetik pun. Memberikan kesempatan bagi suatu individu untuk menghirup oksigen, menikmati sinar matahari, menatap dunia, juga menjalani asam-garam kehidupan suatu saat nanti.

Entah gerangan apa yang membuatnya memutuskan untuk mempertahankan bayi ini. Mungkin lantaran dirinya tahu persis perasaan seorang anak yang tak dianggap sama sekali oleh manusia jahannam yang seharusnya mengayominya. Mungkin juga disebabkan nalurinya sebagai seorang manusia untuk melindungi darah dagingnya sendiri—atau justru perasaan bertanggung jawab, kasihan, atau apa pun itu.

Ketika Yoo memiliki kesempatan besar untuk membunuhnya, dirinya justru mempertahankan eksistensi makhluk kecil yang sedang berkembang di rahimnya kini. Tanpa tahu bagaimana ke depan nanti; bagaimana dia akan membesarkan anak ini, memberikannya perhatian juga penghidupan yang memadai—membesarkannya sendiri atau justru memberikannya ke panti asuhan, entahlah.

Yang cukup Yoo ketahui saat ini hanyalah fakta bahwa dirinya mulai mencintai bayi ini, dan sungguh, perasaan itu tulus datang dari dirinya sendiri.

Yoo mencintainya bahkan jauh sebelum perempuan itu mampu melihat sosok makhluk kecil yang satu itu; dan perasaan ini merupakan satu-satunya cinta yang pernah hadir seumur hidup seorang Park Yoojin  dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun semenjak dirinya dilahirkan di dunia.

Yoo mulai mencintai bayinya. Mungkin pula sepenuhnya mencintainya.

Entah mengapa perempuan itu mulai yakin akan kata hatinya.

Seraya mengusap perutnya sendiri, mencari segelintir kekuatan yang masih menjejaki dirinya, Yoo bergumam pelan, “Ibu percaya kita berdua akan baik-baik saja.”

  

Ø

  

Hari itu Senin—lagi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas ketika Baekhyun bergegas keluar sembari mengunyah roti panggang yang dibuatkan Kyungsoo pagi itu. Hari ini akan jadi hari normal lainnya, tentu saja dia paham betul akan perkara yang satu ini. Setelah dua minggu lamanya berupaya menemukan makna dalam hidupnya, pun akhirnya Baekhyun menyerah juga. Lantaran terkadang, sifat konstan memang merupakan bagian dari hidup, dan pada titik tertentu, Baekhyun berusaha menikmati apa yang ada padanya kini. Seperti saat ini.

“Jangan lupa membeli apel Minseok Hyung, Baek,” suara Kyungsoo terdengar sayup-sayup saat Baekhyun mengikat tali sepatunya, membuat Baekhyun menghela napas panjang lantaran bocah itu tak pernah serius menganggapnya lebih tua dengan berbicara lebih hormat padanya.

Jangan bertengkar dengan Kyungsoo, Baekhyun memperingati dirinya sendiri.

“Oh, dan pasta untuk nanti malam juga!”

“Kau mau bolognaise atau carbonara nanti?!”

Bahkan menu makanan mereka pun selalu sama; terjadwal setiap malam. Bolognaise atau carbonara untuk Senin malam, jjangmyeon untuk Selasa malam, dak galbi untuk Rabu malam, dan seterusnya. Seperti seorang ibu rumah tangga, Kyungsoo mengatur segala sesuatu yang mereka makan di bawah atap apartemen ini.

  

Semuanya pasif. Seluruhnya konstan. Begitulah hidup seorang Byun Baekhyun.

  

Lantas, begitu Baekhyun tiba di minimarket tempatnya bekerja, tanpa banyak basa-basi dengan Jongdae, rekannya, yang juga baru tiba, dirinya pun memutuskan untuk segera mengganti pakaiannya dengan seragam kerja. Shift-nya untuk bekerja hari ini adalah selama dua belas jam, dan selepas itu, Baekhyun harus segera kembali untuk menyusun bagian awal skripsinya yang baru direvisi lagi.

  

“Ini kembalian, Anda.”

   

“Terima kasih sudah berkunjung.”

                 

“Sampai jumpa lagi, Tuan.”

                 

“Jangan lupa berkunjung kembali, Nyonya.”

  

Salah satu unsur utama yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang bekerja di bagian kasir adalah keramah-tamahan. Baekhyun paham betul soal itu. Sudah sekian jam dirinya dan Jongdae berjaga di minimarket, matahari pun mulai terik dengan cahayanya yang tampak memantul tajam dari luar. Seorang perempuan muncul dari balik pintu, wajahnya tak terlihat jelas lantaran penutup kepala yang membayangi wajahnya. Sosoknya yang kelihatan sedikit ganjil mau tak mau memicu Baekhyun untuk memperhatikannya dalam diam—siapa dia?

                

Ø

  

Apa yang bisa dibeli dengan lima ribu Won?

Yoo mendesah pelan mendapati persediaan uangnya di dompet kian menipis setiap harinya. Tinggal empat puluh ribu Won untuk beberapa hari ke depan dan dia harus betul-betul berhemat jika ingin bertahan hidup. Hanya lima ribu Won untuk hari ini, Yoo menganggukkan kepala berupaya meyakinkan diri; uang sekecil itu harus bisa memenuhi kebutuhan hidupnya hari ini, bagaimanapun caranya.

Sesungguhnya Yoo agak kurang enak badan saat memasuki bangunan minimarket yang berdampingan dengan sejumlah toko di daerah Distrik Sungai Han tersebut. Sudah dua minggu lamanya tidurnya menjadi tak teratur, terkadang Yoo bahkan terpaksa beristirahat di sudut taman tanpa perlengkapan memadai. Tanpa selimut atau pula bantal, Yoo melepas rasa lelah selama beberapa jam bersama angin malam yang menusuk tulang. Jika ada yang bertanya kepadanya bagaimana rasanya menjadi seorang tunawisma, Yoo jelas akan menjadi salah satu narasumber terbaik dalam memberi jawaban.

“Selamat datang…”

Bahkan, Yoo sama sekali tidak mempedulikan dua orang pekerja yang menyapanya saat pertama kali masuk ke dalam sana.

Di hadapan kedua manik matanya kini berjejer sederetan bahan makanan yang disediakan pihak minimarket. Ada berbungkus keripik aneka jenis, makanan ringan dalam kemasan, juga buah, susu, yoghurt, dan lainnya. Perutnya otomatis berbunyi, menandakan betapa kelaparannya Yoo yang belum makan apa pun semenjak tadi malam.

“Soda?”

Yoo menggelengkan kepalanya. Tidak baik bagi dirinya, juga bayinya, mengkonsumsi soda dalam keadaan seperti ini.

Fokusnya masih terus terpusat pada beberapa jenis minuman yang berderet di lemari pendingin. Ada banyak pilihan yang bisa diambilnya tentunya; jus, yoghurt, air mineral, atau apa pun itu asalkan sesuai dengan isi kantungnya.

“Susu?” Yoo bergumam kepada dirinya sendiri, teringat bahwa mungkin bayinya membutuhkan nutrisi lebih tinggi melalui susu.

Mengambil sekotak susu, pandangannya lantas beredar ke sudut ruangan, sejumlah jenis roti yang tampaknya masih baru tersusun rapi di sana. Bukan suatu ide yang buruk juga apabila dia memutuskan untuk mengkonsumsi jenis makanan yang satu itu hari ini.

“Uangmu masih cukup, Yoo…” dia berbisik pelan pada dirinya sendiri.

Yoo sedang berupaya meraih sebungkus roti tatkala tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan. Pandangannya memudar, kepalanya dilanda pening hebat—Yoo tahu betul bahwa hal ini bukanlah pertanda yang baik.

“Tolong…”

Bibirnya bergetar hebat, berusaha untuk bersuara.

“Tolong aku…”

Namun, tenggorokannya terasa tercekat.

“Tolong…”

Semakin lama, Yoo semakin tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.

  

“H—hei, Nona!”

   

Suara terakhir yang didengarnya adalah milik seorang lelaki muda. Sosok itu berlari mendekatinya saat terakhir kali Yoo memandangnya dengan penglihatan yang mulai mengabur. Ada kepanikan yang tersirat jelas dari caranya berbicara; memanggil-manggil Yoo untuk tetap mempertahankan kesadarannya.

  

“Nona…”

                 

“Nona, bangun…”

   

 Ø

  

Byun Baekhyun tak pernah membayangkan bahwa hari ini tidak akan menjadi hari normal lainnya bagi dirinya kali ini. Seorang gadis seketika tak sadarkan diri di tempatnya bekerja, dan tanpa pikir panjang, Baekhyun pun memutuskan untuk bergegas melarikan perempuan muda itu ke rumah sakit terdekat; meninggalkan minimarket dan memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada Jongdae untuk menjaga tempat tersebut.

Wajah perempuan muda itu tampak semakin pucat tatkala Baekhyun memasukkannya ke dalam taksi, memohon kepadanya untuk tetap sadar meskipun dirinya tahu betul permintaannya itu nyaris mustahil.

“Ayolah…”

Beberapa tetes peluh mengaliri dahinya, bahkan musim semi tak lagi terasa menyejukkan setiap saat Baekhyun memikirkan betapa kritisnya kondisi gadis yang berada di pangkuannya sekarang. Beberapa kali dia memutuskan untuk menegur, bahkan nyaris memarahi, supir taksi yang ditumpanginya agar membawa mereka lebih cepat—sebab wajah perempuan itu kian pucat, raut wajahnya semakin tak hidup, dan Baekhyun takut.

Takut dia tak mampu bertindak lebih cepat.

“Hei, kau dengar aku, kan?”

Tak ada sahutan sama sekali, meski Baekhyun mendapatinya masih bernapas.

  

Ø

  

“Perempuan ini beruntung karena kau membawanya lebih cepat. Jika kau terlambat sedikit saja, kita tidak bisa memastikan bagaimana nasibnya sekarang.”

Tegang. Baekhyun menarik napas dalam-dalam ketika mendengar seorang dokter berusia paruh baya di hadapannya mulai menjelaskan kondisi perempuan itu. Lidahnya kelu membayangkan rasa sakit yang dihadapi oleh sosok itu; sedikit saja terlambat, dia bisa mati.

“Lalu,” sempat terjadi jeda sejenak sebelum Baekhyun lanjut mengutarakan pertanyaannya, “tindakan apa yang bisa dilakukan terhadapnya sekarang?”

Sang dokter merapatkan kesepuluh jemarinya, tampak berpikir sekilas sebelum melanjutkan, “Yang jelas, penting bagi kita untuk menjaga kestabilan kondisinya kini. Terutama bayinya.”

“D—dia hamil?”

Baekhyun nyaris terjungkal ke belakang mendengar pernyataan yang baru disampaikan kepadanya tersebut. Bagaimana mungkin satu kehidupan baru justru tumbuh di dalam tubuh sekurus dan seringkih itu? Baekhyun masih ingat jelas betapa pucatnya perempuan yang belum dikenalinya itu, betapa lemahnya dia berjalan sendirian memasuki minimarket tempatnya bekerja—dan tidak ada seorang pun yang menjaganya?

“Dia memang sedang hamil. Trimester awalnya baru saja terlewati, usia kandungannya sekarang sudah mencapai sekitar tiga setengah bulan,” muncul hening sejenak, Baekhyun sadar betul bahwa lelaki paruh baya berjas putih bersih itu kini menatapnya dalam, “tetapi kondisinya serta kandungannya sama sekali tidak kuat. Perempuan ini juga mengalami malnutrisi, tubuhnya betul-betul kekurangan gizi dalam waktu lama. Namun demikian, satu hal yang tersulit adalah,”

“Ada apa, Dokter?”

Nada suaranya meninggi, Baekhyun sama sekali tak mampu menyembunyikan  rasa panik dari caranya berbicara.

“Perempuan ini positif terkena AIDS dan penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya juga berisiko besar tertular.”

Rasanya seperti disirami seember besar air es tatkala kalimat itu meluncur begitu saja, lantas mencapai pendengaran Baekhyun yang kini membungkam. Tubuhnya mati rasa, seluruh sendinya seolah meleleh dan berbaur bersama darahnya yang mulai mendidih. Tidak adilkah dunia terhadap perempuan yang satu ini?

Bertahun-tahun belajar pada bidang studi biomedik, Baekhyun paham betul apa itu AIDS dan bagaimana sistem penyakit itu bekerja. Penyakit AIDS adalah salah satu pembunuh terkejam di dunia, seperti musuh dalam selimut yang membunuhmu diam-diam, secara perlahan dan pasti. Ketika bagian imunmu diserang dan dirusak fungsinya, kau tidak akan pernah mati secara langsung lantaran penyakit itu, tetapi AIDS yang akan mengundang banyak penyakit untuk menetap di tubuhmu. Menggerogotimu hingga kau tidak mampu lagi bertahan hidup.

“Untuk saat ini, belum ada metode kedokteran yang mampu menyembuhkan penyakit ini.”

Ingin sekali Baekhyun bertanya lebih jauh, tetapi lidahnya sama sekali tak hendak bergerak.

“Perempuan ini sedang sekarat, Tuan.”

Baekhyun tahu persis soal itu.

  

To be Continued

  

Author’s Note

Hai. It’s Ayu.

Setelah sekitar dua minggu lebih, aku pun memutuskan untuk kembali ke sini lagi untuk posting satu fic baru yang sejujurnya terinspirasi dari materi biologi yang aku pelajari di sekolah sebagai anak yang entah kenapa terlempar ke bidang IPA semasa SMA-nya; biology is still better than physics or chem though. 

Dan jujur, cerita ini juga muncul dari rasa concern-nya aku terhadap realita sosial masyarakat kita, atau bahkan dunia, sekarang. Di mana ngga jarang para dewasa muda atau bahkan remaja itu terlibat pergaulan bebas yang ujung-ujungnya membawa mereka ke jalur hidup yang cenderung berisiko membahayakan diri mereka sendiri. Tapi gimanapun juga, aku juga merasa bahwa penting buat kita untuk meninjau masalah sosial ini dari berbagai perspektif, dan hal inilah yang sedang aku usahakan bawa di dalam fanfic ini. Ada juga beberapa poin tentang makna hidup yang terinspirasi dari sejumlah buku yang pernah aku baca dan diskusikan isinya dengan salah satu temen deketku; and voila, this very weird fic is made!

Anyway, thank you juga buat temen-temen pembaca yang kemarin sudah berkunjung atau bahkan berkomentar di fanfiction perdanaku tahun ini yang judulnya “That Man and That Woman”. Terima kasih untuk tanggapan yang sudah diberikan, they’re all so so so worthy to me. Mohon doanya juga untuk temen author kamu yang aneh ini supaya hasil ujiannya yang lalu, terutama UNBK-nya, maksimal, ya—dan yang paling utama, urusan PTN dilancarkan. Amin.

Last but not least, my best wishes are for you all and see you again!

    

.

Advertisements

32 responses to “[Chaptered] Finding The Secrets of The Universe – by A.S. Ruby

  1. Awalnya aja uda seru gituuuu. Agak berat tapi genrenya thor, harus benar2 dibaca biar paham..wkwkwk.
    Di tunggu part brikutnya..

  2. Wah! Keren ff nya..tema yg diangkat jg anti mainstream jdix penasaran sm chapter selanjutnyx 😀
    Ditunggu yah kak chapter 2nya

  3. Chapter satu nya aja udah keren gimana chapter selanjutnya. Nanti baehkyun akan ngelakuin apa yah, apa dia akan ngerawat yoon ? Atau membiarkannya aja ? Pokoknya ditunggu kelanjutannya.

  4. Pertama nemu ff ini di TL wp… Sebenarnya ide ceritanya cukup umum, tapi kakak hebat bisa eksekusi dengan diksi yang bagus… Kata-katanya juga ngalir jadi enak bacanya, enjoy bgt tau2 udh TBC gtu 😄 ditunggu kelanjutannya kak.. Penasaran apa yg akan baek lakukan selanjutnya sama yoo 😄 keep writing kaak

    • Thank you for reviewing 😄 Entah kenapa lagi kepingin aja gitu nulis sesuatu tentang hidup, makin nambah umur, esensi hidup itu makin dipertanyakan, dan akhirnya jadi deh fanfic luar biasa absurd ini, haha.
      Once again, thank you ya 💕🙏

  5. Menurut aku cara penyampaian kata nya bagus tpi agk berbelit sih menurut aku,menurut aku loh ini😆tapi keseluruhan fanfic nya bagus nambah wawasa juga buat yang gk tau tentang aids😊aku suka ff nya thor👍👍

    • Haha, it’s okay. Setiap orang punya preference-nya masing-masing kan 😁 Thank you for reading and commenting ya 😄💕

    • Wah, thank you ya 😄 Ya mau gimana lagi, karakter yang cocok jadi bad boy di sini mah Sehun, haha

  6. Aku jarang nemu fic yg cast nya mengidap AIDS-penyakit mematikan. Dan jugaa, main cast disini Baekhyun ~ ♥. Ga hanya itu juga, terkandung di dalam fic ini :v , yaitu motivasi hidup. Awesome.
    ” Tidak adilkah dunia terhadap perempuan yang satu ini?” bener bgt kutipan itu. Betapa malangnya Yoo 😞
    Sehun disini bkn cowok baik”-jelas bgt :v
    Waiting for next chapt ^^

    • Haha, iya sih. Entah kenapa aku terinspirasi buat menulis tentang penyakit ini karena paling banter karakter di banyak fiksi (bahkan film) umumnya kena kanker. I mean like, there are still a lot of them dan kita harus aware juga terhadap AIDS ini. Ditunggu aja deh nasib si Yoo sama Baek di sini ya, hehe.
      Anyway, thank you sudah membaca 😄💕

  7. Baekhyun disini jadi orsng susah ya, dan ketemu sama yoo yang lagi sekarat gitu. Ayo baek bantuin dia

  8. sumpah ini keren banget. jujur aku sebenerya kurang suka sm ff yg genrenya berat2, tp ini bener2 beda, ada pelajaran yg bisa diambil dr ff kamu. bacanya juga enak, bahasanya mudah dicerna.
    aku reader baru chin, slam kenal dan kita sama, semasa sma aku juga anak ipa 😁
    pokoknya semangat terus buat author.

  9. AIDS. Tema yang nggak asing tapi it’s been long time aku gak baca dan dengan adanya fic ini aku tau bahwa pengetahuanku dan pembaca lainnya bakalan nambah. Terimakasih udah share ceritanya, semoga cerita ini bisa menginspirasi semua pembaca untuk lebih peduli lagi terhadap bahaya AIDS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s