Stay [Chapter 20] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Maaf, aku akan sedikit terlambat hari ini.

Itulah sebaris kalimat yang baru saja muncul di layar ponsel Sena dari kontak Kook. Sena yang baru saja sampai di kantornya pun menghela napas. Padahal dia ingin sekali mengajak Jungkook sarapan bersama pagi ini. Dipandanginya kotak makan yang sudah siap sedia di atas mejanya.

Oke, akan kutunggu. Hati-hati di jalan ya ^^

Begitu dia mengantongi ponselnya lagi, mendadak perasaannya berubah aneh. Dia pun menggeleng pelan, berusaha mengabaikan perasaan itu.

Sudah hampir jam makan siang, tapi asistennya belum juga datang. Sena menggigit bibirnya panik. Dia tidak sedang duduk di mejanya, tapi duduk di meja Jungkook. Di sana dia terus-terusan melihat pintu, berharap Jungkook akan segera muncul karena sebentar lagi dia akan ada pertemuan penting dengan eksekutif dari perusahaan Eropa.

Dan begitu jam makan siang telah lewat, Sena menyerah untuk menunggu Jungkook lebih lama dan memutuskan untuk pergi duluan ke tempat pertemuannya dengan si eksekutif.

Saat menunggu lift, tiba-tiba ponselnya berdering.

Kook

Bibirnya merekah sebelum mengangkat panggilan itu.

Yaa, kau ini kemana sebenarnya? Kau sudah sarapan? Kita ada pertemuan pen—”

“Apakah ini dengan keluarga Jeon Jungkook?”

Suara ini bukan suara Jungkook, tapi seorang wanita.

Feeling buruk itu kembali mengganggunya.

Dia mengangguk ragu-ragu. “Y-ya. Saya, keluarganya.”

“Tuan Jeon Jungkook baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di bawah penanganan dokter. Bisakah Anda datang ke rumah sakit sekarang?”

TING!

Lift akhirnya sampai. Begitu pintu terbuka lebar, Sena terduduk begitu saja di lantai. Dua orang yang ada di lift itu, tak lain adalah Jimin dan Yeon, membelalak begitu melihat Sena jatuh.

“Sena-nim! Kau baik-baik saja?” buru Yeon sambil berjongkok dan membantu Sena berdiri.

Wae? Apa ada sesuatu yang baru saja terjadi?” kini Jimin yang ikut bertanya juga membantu Sena untuk berdiri.

Sena menoleh pada Jimin, wajahnya tampak begitu pucat. “Jimin-a … Jungkook….”

“Jungkook kenapa?”

Terdengar suara-suara dari ponsel Sena yang masih tersambung dengan ponsel Jungkook. Jimin pun segera merebut benda itu dari tangan Sena.

“Apa yang terjadi?”

“…”

“Apa?! A-anda yakin?”

Tidak memercayai pendengarannya, Jimin pun melihat kontak yang muncul di ponsel Sena. Dia menghela napas, lalu menempelkan layar itu ke telinganya lagi.

“Saya mengerti. Terima kasih.”

Setelah sambungan itu terputus, secara alami Jimin menyimpan ponsel itu di sakunya. Dia pun menatap Sena yang masih pucat seperti seseorang yang kehilangan arah dan tujuan. Diraihnya gadis itu, membenamkan wajah Sena di dadanya. Pelukannya makin mengerat ketika tubuh Sena mulai bergetar.

Yeon yang melihat semua itu, hanya bisa diam dan menatap Sena sendu.

“Kau kembalilah ke mejamu. Ada urusan penting yang harus kulakukan,” kata Jimin padanya.

“Bolehkah aku membantumu?”

Jimin menggeleng. “Tidak perlu. Ini urusan keluarga.”

Yeon akhirnya mengangguk meski tak rela. “Baiklah. Kalau begitu aku permisi.”

Setelah Yeon pergi, Jimin pun mendorong pelan tubuh Sena tapi masih dalam jangkauan lengannya. “Kita pergi ke rumah sakit sekarang?”

Sena yang sudah berurai air mata hanya mengangguk lemah.

Jimin pun memeluknya lagi.

Jungkook mengalami kecelakaan saat akan pergi ke kantor. Sebuah mobil yang tidak mematuhi rambu lalu lintas, melintas dengan kecepatan tinggi saat Jungkook melajukan motornya. Karena kecepatan yang cukup tinggi dan Jungkook yang tidak tahu kalau ada mobil menghampirinya, kecelakaan pun terjadi. Jungkook terlempar jauh, sementara itu helm-nya sedang dalam keadaan tidak terpasang dengan baik sehingga bagian tubuh yang terluka paling parah adalah kepala.

Intinya, Jungkook divonis mengalami gegar otak.

Saat ini Sena sedang duduk di kursi, menghadap ranjang di mana Jungkook berbaring setelah keluar dari UGD. Jimin tidak ada di sana. Dia sedang sibuk mengurusi administrasi.

Sebenarnya ini sudah dua jam sejak Jungkook dipindahkan ke ruang rawat. Air mata Sena sudah mengering. Dia hanya duduk di sana, mengamati kepala Jungkook yang diperban, sambil memegang erat sebuah kotak cincin.

Kotak cincin itu berasal dari seorang suster. Yang datang padanya sambil membawa tas Jungkook. “Ini barang-barang milik pasien, Nona.”

Jadi bisa disimpulkan bahwa, Jungkook datang terlambat karena ingin membeli cincin ini.

Tubuhnya bergetar lagi.

Dia ingin menangis, tapi air matanya tidak bisa keluar lagi.

Diraihnya tangan Jungkook, menggenggamnya erat.

Bahkan di saat-saat seperti ini, Sena masih menghawatirkan apakah Jungkook sudah sarapan atau belum. Padahal seharusnya dia menghawatirkan dirinya sendiri yang telah melewatkan sarapan dan makan siang. Karena sebentar lagi malam akan datang.

Jimin pun muncul tak lama kemudian sambil membawa kantong plastik berisi makanan.

“Sena, makanlah dulu.”

Sena menggeleng pelan. “Aku tidak selera.”

“Tapi kau belum makan apa pun sejak pagi tadi.”

Jimin tahu itu karena semalam Sena pulang ke rumah. Di saat yang lain sarapan, Sena justru sibuk membuat bekal untuk dirinya dan Jungkook.

“Jungkook juga belum makan apa pun sejak pagi,” balas Sena dengan suara serak.

Jimin menghela napas. Disimpannya kantong plastik itu ke atas nakas sebelum meraih kursi lain untuk duduk di sebelah Sena.

“Jungkook sudah pasti tidak mau melihatmu sakit karena tidak makan, Sena.”

“Aku juga tidak mau melihat Jungkook sakit.”

Jimin sudah kehilangan akal. Sulit sekali untuk membujuk gadis keras kepala seperti Sena. Dia akhirnya menyerah dan membiarkan gadis itu untuk kali ini.

Tak sengaja matanya bertumbukkan dengan benda berbentuk kotak di tangan Sena. “Itu … cincin?”

Sena mengangguk meskipun dia tidak melihat ke arah mana Jimin melihat.

“Jadi dia datang terlambat karena itu?”

Sena mengangguk lagi.

Jimin menatap Sena sendu. Pasti hal itu sangat mengejutkan Sena. Hari di mana seharusnya Sena berbahagia mendapat kejutan berupa lamaran, ternyata justru menjadi hari yang paling sendu karena Jungkook masuk rumah sakit. Jimin bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan Sena. Karena dia pernah merasakannya juga.

Takdir terkadang begitu kejam.

Sena pun perlahan membuka kotak cincin berwarna merah itu. Melihat sebuah cincin berlian yang entah kenapa sanggup membuatnya berdebar. Dia pun mengeluarkan cincin itu, menyimpan kotaknya di dekat Jungkook, lalu memasang cincin itu ke jari manisnya.

Pas. Cincin itu sangat pas di jarinya.

“Cantik,” sahut Jimin yang sejak tadi memperhatikan.

Sena tersenyum. “Hm. Cantik sekali.”

Dia melihat cincin itu dari segala jenis sudut pandang. Dilihat dari mana pun, cincin itu memang cantik dan cocok untuknya. Jungkook benar-benar pintar memilih cincin.

Namun tiba-tiba Sena menyadari sesuatu.

Tidak seharusnya dia memakai cincin itu sekarang.

Buru-buru dia pun melepas benda itu dari jarinya.

Ternyata, tepat saat itu juga Jungkook akhirnya sadar dari pingsannya.

“Sena….”

Gadis itu langsung mendongak begitu mendengar pria yang dicintainya memanggil. “Kook-a….”

“Aku di mana?”

Sena lekas bangkit. Dia mengecup lama pipi Jungkook sebelum memberikan jawaban. “Kau ada di rumah sakit.”

Wae?

“Mungkin pasien akan mengalami amnesia ringan. Tidak usah khawatir, amnesia jenis ini hanya akan membuatnya melupakan kejadian sebelum dia mengalami kecelakaan.”

Kalimat dokter kembali terngiang di kepalanya. Dia tersenyum. Mengusap-usap rambut Jungkook sambil menyembunyikan kotak cincin itu ke dalam sakunya. “Kau mengalami kecelakaan saat akan pergi ke kantor, Kook-a.”

“Benarkah?”

Sena mengangguk dengan penuh keyakinan. “Hm. Gwaenchana, kau baik-baik saja.”

“Kau juga baik-baik saja?”

“Hm. Aku juga baik-baik saja.”

Jungkook meraih tangan Sena, menciumnya lembut. “Syukurlah aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu.”

Sena mendengus geli. Dia mencubit kecil pipi Jungkook sebelum membiarkan seorang dokter –yang baru saja dipanggil Jimin untuk memeriksa pria itu.

Selesai pemeriksaan, dokter dan suster pamit pergi. Begitu juga dengan Jimin.

“Aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada rapat penting yang harus kuhadiri. Kau tidak apa-apa ‘kan sendirian di sini?” tanya Jimin pada Sena sambil sesekali melihat arlojinya.

Sena mengangguk. “Gwaenchana.”

“Hubungi aku kalau terjadi apa-apa.”

“Hm.”

“Oke, aku pergi sekarang, eo? Jangan lupa makan.”

Sena mengangguk. Jimin menepuk lengan Sena dua kali sebelum beranjak.

Tapi Sena meraih lengannya sehingga dia urung pergi dari sana. Dia pun menoleh sambil memberikan tatapan ‘apa lagi’ pada gadis itu.

“Terima kasih banyak untuk hari ini.”

Senyum di wajah Jimin pun mengembang. Balas menggenggam tangan Sena. “Tidak perlu berterima kasih pada saudaramu sendiri. Memang itulah yang harus kulakukan sebagai saudaramu.”

Sena juga tersenyum. Dia menggoyang-goyangkan tautan tangan mereka pelan. “Hati-hati di jalan.”

“Hm. Aku pergi dulu ya. Annyeong.”

Sena melambai saat Jimin berlarian menyusuri lorong rumah sakit. Begitu bayangan Jimin telah hilang, ia pun segera kembali ke ruangan Jungkook. Dia tersenyum lebar saat bertemu tatap dengan Jungkook yang sepertinya sedang memindai ruang rawatnya.

“Kau lapar? Mau makan sekarang?”

“Hm.”

“Oke, ayo kita makan sekarang.” Sena pun melepas dan menggantung coat-nya di punggung kursi sebelum membantu Jungkook untuk duduk.

Awalnya Jungkook tampak baik-baik saja.

Tapi setelah beberapa detik duduk, Jungkook tiba-tiba mengeluh kesakitan. Dia terus memegangi kepalanya. Sena yang tidak tahu apa pun ikut duduk di hadapan Jungkook. Memegang kedua pergelangan tangan Jungkook agar tidak menekan kepala terlalu kuat.

Wae? Wae? Kau merasa pusing?”

Saat Jungkook akan menjawab, tahu-tahu dia merasa mual dan membuat gerakan ingin muntah. Tapi tidak ada apa pun yang keluar karena perutnya dalam keadaan kosong.

Terlalu sakit mungkin, pria itu langsung menggapai Sena, memeluknya, dan meletakkan kepalanya di bahu sempit gadis itu. Suara desisannya masih terdengar. Lagi-lagi Sena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia membalas pelukan Jungkook, mengusap punggung pria itu untuk memberikan setidaknya sedikit ketenangan.

“Kepalaku sakit….”

“Tidak apa-apa. Itu hanya efek dari benturan saja. Mau berbaring lagi?”

Shireo. Kau tidak akan makan kalau aku tidak makan.”

Sena tersenyum tipis. Apakah Jungkook tahu kalau dia juga belum makan seharian ini? Menyadari perhatian Jungkook meskipun sedang dalam kondisi seperti ini, bagaimana dia tidak tersentuh?

Setelah Jungkook sudah tidak merasa pusing lagi, mereka pun makan. Sena memakan makanan yang dibelikan Jimin. Sementara Jungkook memakan hidangan dari rumah sakit. Sebenarnya Jungkook sangat menolak bubur tapi karena kondisinya yang sedang tidak memungkinkan untuk memilih, akhirnya dia terpaksa juga memakan itu. Meskipun sedikit cemberut saat disuapi Sena.

“Tidur sini,” kata Jungkook sambil mengosongkan ruang di sebelah kanannya, meminta Sena untuk berbaring di situ selesai mereka makan.

Tapi Sena menggeleng. “Kau saja. Aku kalau tidur bahaya.”

Jungkook juga menggeleng tak setuju. “Aku tidak akan mati meski kau tendang sekalipun.”

Sena tersenyum miring sambil memukul lengan Jungkook. “Shireo. Aku bisa tidur di sofa.”

“Kalau kau malu tidur denganku, aku akan tidur di sofa dan kau di sini.”

Yaa. Kau ini bicara apa? Yang pasien di sini itu kau.”

“Tapi aku tidak mau melihatmu tidur di sana. Bagaimana kalau kau jatuh sakit setelah ini?”

“Tidak usah pikirkan aku. Pikirkan dulu kondisimu.”

“Kurasa aku mengalami kecelakaan bukan karena aku menghawatirkan diriku sendiri.”

“Ya, kau sama sekali tidak punya kekhawatiran pada dirimu sendiri. Masih baik ya, dari kecelakaan itu kau hanya mengalami benturan keras di kepala. Ah tidak, itu sudah tidak baik lagi. Beruntungnya kau tidak mengalami amnesia parah atau mati muda karena kecelakaan ini. Justru karena kau tidak menghawatirkan dirimu sendiri, itulah yang membuatku khawatir. Aku tidak mau ditinggal lagi. Apa tidak cukup hanya dua orang saja yang meninggalkanku? Haruskah kau juga?”

Jungkook pun akhirnya terdiam. Matanya bergerak-gerak kecil saat bertukar pandang dengan Sena. Sekarang dia sadar. Akibat dari ketidakpeduliannya pada dirinya sendiri nyaris saja membuat Sena kena imbasnya juga. Dia tidak bisa bayangkan jika dia terluka sangat parah bahkan meninggal karena kecelakaan itu. Apa yang akan terjadi pada Sena nanti kalau dia pergi?

“Sekarang tidurlah.” Sena pun mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengecup dahi Jungkook yang dibebat perban tebal. “Aku tidak apa-apa. Aku akan menjaga diriku tetap sehat. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu dulu. Istirahatlah.”

“Kalau begitu, pakai selimut ini.” Jungkook pun melucuti selimut yang dipakainya dan menyerahkannya pada Sena. “Sebentar lagi musim dingin. Tolong jangan sakit.”

Sena menerima selimut itu dengan senang hati. “Arasseo.”

Jalja.”

“Hm. Kau juga.”

“Kemarikan tanganmu.”

Sena pun mengulurkan tangannya seperti yang Jungkook mau. Dan Jungkook mencium tangan itu. “Maafkan aku untuk hari ini karena sudah membuatmu cemas.”

“Kau tidak perlu meminta maaf untuk itu.”

“Aku janji, aku akan lebih memedulikan diriku sendiri dan tidak akan membuatmu takut ataupun cemas lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu, Sena.”

TBC

Advertisements

16 responses to “Stay [Chapter 20] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Kookieee kasian bgt..jangan ada scene sedih lg ya thor…semoga jongkook cepat sembuh…yoongi gmana kabarnya sm sehyun..ditunggu

  2. Cekik aku kak. Cekik akuuuuuu 😂😂😂😂😂
    Andwaeeeeee.. Kalau perlakuan jk manis gini gimana aku ga mupon dri Yoongi. #paan sih yang di manisin siapa yg melting siapa 😂😂😂

  3. btw tadikan katanya kook kena amnesia ringab, kalau dia ga amnesia sm sena, jadi penasaran dia amnesia sama siapa ya di chapter selanjutnya pasti kejawab :3

  4. Untung jungkook gak kenapa-kenapa, padahal mereka lagi berbahagia tapi ada aja kejadian yang gak di inginkan terjadi dalam hubungan mereka. Sena sama jungkook fighting ya dalam hubungan kalian , semoga happy ending untuk semua cast dalam cerita ini

  5. OMO!!Uri Kookie untung gak parah kecelakaanx dan gk amnesia berat kyk d sinetron al*y itu kkkk

    Terharu pas tau jk telat k kantor smpe kecelakaan gra* hbis ngambil cincin buat ngelamar sena, kpan ya Allah gua dpat jodoh kyk dedek kookie.heheh

  6. Hahaha.. kirain jungkoook bkal parah.. ternyata enggak..
    Km emg punya ciri khas ya.. konflik ceritax ga bkal parah2.. ending2x pasti manis..
    Eehh tp bner manis kah? Ato ad twist lgi nih??
    Hahaha

  7. gue : ya tuhan kasih aku satu laki2 seperti jeon jungkook
    god : want it? 3 dollars.
    dasar kelinci bongsor hobi bnget lu bkin anak orang lumer(?) . sungguh kuk gra2 lu akhir2 ini gue sering nghayal jd pacar lu. hahaha *najis . tp gk apa2 ya ngehayal kn enak, gratis lagi 😀 . oh ya,semoga endingnya berada di jalan yang benar(?) 😀 😀

  8. aku deg-degan tau bacanya,jungkook kecelakaan aku kira jungkook melupakan sena karena dia kena amnesia ringan, tp ternyata engga syukurlah semoga jungkook cepat sembuh….

  9. aku deg-degan tau bacanya,jungkook kecelakaan aku kira jungkook melupakan sena karena dia kena amnesia ringan, tp ternyata engga syukurlah semoga jungkook cepat sembuh….

  10. Sempet khawatir dan deg deg an kalo sampai jungkook terluka parah tapi senengnya gak sampek parah deh dan masih engingat sena :). Makin sweet aja mereka, si sena juga makin cinta dan perhatian ke kookie :D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s