Stay [Chapter 21] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Sena sama sekali tidak memberitahukan perkara cincin itu pada Jungkook. Justru kotak cincin itu dia sembunyikan di tempat yang mungkin tidak bisa Jungkook jangkau. Yaitu di sebuah laci kecil yang tergabung menjadi satu dengan benda-benda lain di lemari baju apartemennya.

Biarlah. Dia tidak akan mengungkit soal itu pada Jungkook. Mungkin hanya waktu yang bisa membuat Sena mengungkapkannya, atau Jungkook sendiri yang akhirnya mengingat momen itu. Yang pasti, untuk sekarang, lupakan kalau Jungkook mengalami kecelakaan karena cincin itu.

Dia hanya tidak mau mereka saling menyalahkan diri sendiri karena peristiwa ini.

Cukup. Hanya dia saja yang tahu.

Dua minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Jungkook sudah diperbolehkan pulang. Tapi, cedera di kepalanya masih belum sepenuhnya sembuh. Jungkook tidak boleh melakukan kegiatan apa pun yang itu berpotensi memperparah cederanya selama minimal 3 bulan. Waktu yang lama memang, tapi mau bagaimana lagi? Sena juga tidak memperbolehkan Jungkook untuk naik sepeda motor, toh sepeda motor Jungkook juga sudah rusak karena kecelakaan itu. Jadi, mau tidak mau, Jungkook harus mau diantar jemput Sena.

Asisten tapi diantar jemput atasannya.

Sungguh aneh tapi nyata.

Dua minggu awal, Jungkook membiarkan Sena yang menyetir.

Tapi setelah itu, Jungkook-lah yang menyetir.

Karena dia sadar, Sena makin hari tampak makin kelelahan. Sudah pasti itu semua karena kerjaan, ditambah kegiatannya mengurusi Jungkook juga berangkat pagi-pagi dan pulang tengah malam karena mengantar jemput dia.

Dan benar saja, saat mereka selesai kerja dan berniat pulang ke tempat tinggal masing-masing, Sena jatuh pingsan di basement. Jungkook langsung membawanya pulang ke apartemen, apartemen Sena. Sebenarnya pingsannya gadis itu tidak lama. Ketika dalam perjalanan di mobil, Sena siuman. Tapi karena kondisinya yang lemah, dia hanya bisa mengerang dan bergerak sedikit. Jungkook mempercepat laju mobil itu untuk segera sampai di apartemen.

Begitu sampai di basement gedung apartemen Sena, Jungkook pun keluar dari mobil sambil menggendong gadis itu ala bridal style. Hal yang paling menyebalkan bukanlah berat badan Sena. Justru Sena terasa begitu ringan baginya. Tapi, hari itu lift dalam keadaan rusak. Alhasil, Jungkook pun harus menaiki berpuluh-puluh tangga untuk sampai di unit Sena.

“Sakit….” lenguh Sena untuk kesekian kalinya. Jungkook yang saat itu baru mencapai lantai tiga pun otomatis berhenti untuk membenahi letak Sena dan mencium dahi gadis itu.

“Bertahanlah sebentar lagi.”

Sesampai di unit Sena tinggal, Jungkook pun segera menuju kamar gadis itu setelah melepas sepatunya –tanpa menggantinya dengan sandal rumah. Direbahkannya gadis itu di ranjang, menyelimutinya sampai bahu sebelum mulai beraksi mencari kotak obat.

Semua lini di kamar Sena dia cek dengan teliti. Termasuk juga lemari gadis itu.

Tahu-tahu dia membuka laci kecil di lemari itu.

Benar, kotak obat ada di sana.

Dan dia juga melihat kotak lain.

Kotak cincin.

Matanya mengerjap-ngerjap untuk sesaat. Berusaha mencerna apakah benar itu kotak cincin sungguhan atau bukan. Karena penasaran setengah mati, dia pun mengambil kotak itu juga. Sayangnya, sebelum dibuka, Sena tiba-tiba memanggil. Ia pun memutuskan untuk menyimpan kotak itu di sakunya sebelum menghampiri gadisnya.

“Badanmu panas sekali,” katanya setelah menempelkan tangannya di dahi gadis itu.

“Aaah … sakit….” erang Sena sambil meraih tangan Jungkook.

Jungkook pun mengukur suhu tubuh Sena dengan bantuan termometer. Setelah itu dia menyiapkan segala hal untuk menurunkan suhu tubuh Sena yang tinggi. Mulai dari kain kompresan, air kompresan, obat dan lain-lain. Sepertinya Sena hanya demam, pikirnya.

Semalaman penuh Jungkook berada di sana untuk memantau kondisi Sena. Dia tidak tidur, lupa makan dan hanya duduk di sebelah ranjang Sena sambil memandangi gadis itu.

Di saat Sena sudah bisa tidur lelap, dia pun mengisi kesempatan itu untuk membuka kotak cincin yang ditemukannya tadi.

“Ternyata cincin sungguhan,” gumamnya. Diambilnya cincin itu, mengusap bagian berliannya dengan hati-hati.

“Siapa yang memberinya ini? Kenapa hanya disimpan? Cantik. Sesuai dengan Sena,” lanjutnya sambil meraih tangan Sena dan memasangkan cincin itu di sana.

Anehnya, meskipun dia berpikir kalau cincin itu adalah pemberian pria lain, dia tidak punya perasaan kecewa atau sejenisnya. Entahlah, dia juga tidak mengerti dengan perasaannya. Kenapa dia justru tersenyum melihat cincin itu di tangan Sena padahal –dia berpikir kalau itu dari pria lain?

Bahkan dia tidak melepas cincin itu sebelum menutup kotaknya. Dia hanya suka melihat cincin itu berada di tangan Sena, yah … meskipun dari pria lain.

Paginya, saat Sena bangun, gadis itu mendapati Jungkook tertidur dalam posisi duduk di sampingnya. Kepala Jungkook berada di atas ranjang, dengan tangannya yang memegang tangan Sena. Gadis itu tersenyum. Dia balas menggenggam tangan itu. Mengusap-usap bagian punggungnya pelan. Sampai dia menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal di tangannya.

Sebuah cincin.

Matanya membelalak lebar.

Dipandanginya Jungkook dengan wajah tercengang.

Bagaimana bisa? Begitu pikirnya.

Apa mungkin dia menemukannya di laci?

Saat itu juga, Jungkook bangun. Pria itu mengerjap-ngerjap sejenak untuk beradaptasi dengan suasana. Setelah nyawanya telah terisi penuh, dia pun mengangkat kepalanya, terkejut melihat Sena yang sudah bangun lebih awal.

“Sudah merasa baikan?” tanyanya sambil berdiri. Otomatis tangan Sena jatuh dari tangannya, yang membuatnya melihat tangan itu.

Cincin berlian itu.

“Kau mengambilnya di laci?” tanya Sena begitu melihat kemana Jungkook melihat.

“Hm. Aku menemukan itu saat mengambil kotak obatmu.”

“Kenapa kau memasangnya di jariku?”

Jungkook beralih menatap Sena. Dia meraih tangan itu, lalu duduk di tepi ranjang. “Karena itu cincinmu. Bukankah seseorang memberikan itu padamu untuk kau pakai?”

Mendengar kata ‘seseorang’, entah kenapa Sena tidak bisa menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca. “Ya … kau benar.”

Dan Jungkook cepat tanggap usai melihat kaca-kaca tipis mata Sena. Dia membungkuk sampai sikunya bertumpu pada permukaan tempat tidur, salah satu tangannya memegang erat tangan Sena, tangannya yang lain mengusap rambut gadis itu. “Wae?

Air mata gadis itu pun berhasil lolos. “Aku juga tidak tahu,” balasnya serak.

“Kau pasti sangat takut ‘kan, kalau aku mengetahui ini? Gwaenchana, kalau memang itu adalah pilihanmu, aku juga turut bahagia. Uljima….”

Bukan itu, Kook-a. Bukan itu. Batin Sena bicara. Bibirnya serasa kelu untuk bicara karena entah kenapa perasaannya mendadak sakit karena cincin itu. Harusnya cincin itu memberikan kenangan terindah, tapi entah bagaimana justru berubah menjadi kenangan yang paling menakutkan dalam hidup Sena. Karena cincin ini, Jungkook hampir saja kehilangan nyawanya. Apakah dia bisa mengatakan itu pada Jungkook? Mengatakan bahwa cincin inilah yang menyebabkan Jungkook kecelakaan?

Sena segera melepaskan tangannya dari Jungkook, dan melepas cincin itu buru-buru dari jemarinya. Jungkook melihat semua itu dengan tatapan tak mengerti dan … perasaan kecewa yang aneh.

“Aku tidak suka cincin ini.” Tanpa pikir panjang Sena langsung melemparnya ke sudut kamarnya hingga terdengar bunyi benturan keras.

Bunyi itu entah kenapa langsung membuat telinga Jungkook berdengung. Dia bahkan tidak bisa mendengar kalimat yang diucapkan Sena meskipun jarak mereka sangat dekat. Reflek ia membungkam kedua telinganya. Sialnya suara dengung itu masih ada bahkan membuat kepalanya sakit. Dia berusaha menahan rasa sakit itu dengan menggertakkan bibirnya. Tidak cukup, dia pun mengerang. Belum cukup lagi, dia meraih ujung seprai tempat tidur Sena dan meremasnya kuat. Dan masih belum cukup, dia memukul-mukul kepalanya dengan kepalan tangan.

Sena segera menahan pergelangan tangan Jungkook untuk tidak memukul terus menerus. Dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan Jungkook karena Jungkook terus berusaha untuk melepaskan diri dan memukuli kepalanya lagi. Jungkook memberinya tatapan memohon, tapi dia menggeleng dengan tegas.

Sekian menit kemudian, akhirnya Jungkook pun menyerah. Dia tidak peduli meskipun telinganya terus berdengung. Kedua tangannya melemas. Dibiarkannya Sena duduk dan memeluknya. Meski sakit, sebisa mungkin dia mencoba menikmati suara itu.

Sementara Sena sendiri, menepuk-nepuk pelan punggung Jungkook, sambil menggerakkan badannya ke kanan kiri. Seperti sedang menimang seorang anak.

Mianhae. Saranghae….”

“Akhir pekan nanti, ayo kita berkencan.”

Sena yang sedang sibuk mengecek semua berkas yang dibawa Jungkook pun, otomatis mengangkat kepalanya. “Kencan?”

“Hm. Kita habiskan waktu seharian untuk kita berdua saja? Bagaimana?”

Sena tersenyum tipis, lalu kembali membaca berkas di tangannya. “Wae? Tumben tiba-tiba sekali.”

“Mari kita berkencan, tanpa memikirkan pekerjaan, tanpa memikirkan kondisi kepalaku, tanpa memikirkan uang, pokoknya tanpa memikirkan apa pun. Ayo kita buat hari itu menjadi hari yang paling bahagia. Bagaimana?”

Sena masih tersenyum-senyum, dengan mata yang terfokus ke berkas. Sayang sekali, mau dibaca berkali-kali pun tulisan di sana tidak akan masuk ke kepalanya. Karena kepalanya kini penuh dengan sorakan bahagia hatinya.

“Oke. Mari kita lakukan itu.”

Sena yang sedikit tomboy, pada hari itu memutuskan memakai sebuah dress imut tanpa lengan berwarna atas hitam dan bawah cokelat emas kotak-kotak. Ada sebuah pita di bagian pinggangnya. Rambutnya diikat ponytail, sementara kakinya dibalut dengan sepatu Oxford berwarna vintage.

Pilihan yang salah.

Karena begitu Jungkook datang, Sena harus kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil coat. Karena sekarang sudah masuk musim dingin.

Jungkook sendiri memakai setelan musim dingin yang simple. Tapi se-simple apa pun, pakaian yang dipakai Jungkook tidak akan kelihatan sederhana, jatuhnya bukan terlihat ingin pergi kencan, tapi seperti seorang artis yang akan bepergian ke luar negeri. Sena memberinya dua jempol atas fashion Jungkook hari itu. Terlebih rambutnya di cat ke warna hitam, warna aslinya.

“Rok-mu itu astaga. Kau ingin menggoda siapa di sana, huh?” omel Jungkook begitu mereka berada di dalam lift. Tanpa mengindahkan ucapan Jungkook, Sena pun memencet tombol angka 1 di dinding lift.

“Bagaimana menurutmu? Dress-ku cantik ‘kan?”

Jungkook mengamati Sena yang sedang pamer di depannya dengan prihatin. Jujur dia tidak suka dengan pakaian itu karena setengah paha Sena terekspos begitu saja. Dia lebih suka Sena memakai setelan biasanya. Ripped jeans, blouse putih polos dan snapback hitam bahkan jauh lebih baik daripada fashion Sena sekarang.

“Tidak.”

Sena mendengus. Dia pun berdiri di sebelah Jungkook dengan tenang, mengamati angka di bagian atas pintu lift yang terus berubah-ubah.

Tiba-tiba saja Jungkook menarik ujung coat yang dipakainya sampai membuatnya berdiri di hadapan pria itu. Matanya mengerjap-ngerjap bingung saat Jungkook mengancingi satu persatu kancing coat-nya lalu mengikat perutnya dengan tali coat tersebut hingga dress cantiknya tidak kelihatan sama sekali.

“Nah, sekarang baru cantik,” kata pria itu sambil mengusap-usap rambut navy black Sena.

Sena tersenyum geli sebelum meraih leher Jungkook dengan kedua tangannya dan menciumnya tepat di bibir.

TING!

OMO!

Keduanya reflek menoleh ke asal suara. Terdapat seorang ibu muda yang sedang menutupi mata anak perempuan yang sedang digendongnya. Sena dan Jungkook tersenyum bodoh, sebelum membungkuk meminta maaf dan beranjak keluar dari lift.

Aigoo anak muda.”

Keduanya masih bisa mendengar suara wanita itu meskipun mereka sudah berada cukup jauh dari lift. Sena tidak bisa menahan diri untuk tidak terbahak-bahak. Jungkook juga tertawa, tapi tidak seheboh gadis di sampingnya.

Sena pun menggamit lengan Jungkook. Menggesek-gesekkan sisi kepalanya ke lengan pria itu. “Kita baru saja membuat satu kenangan. Berciuman di lift dan dilihat oleh ibu-ibu.”

Jungkook hanya terkekeh. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku. Mengajak Sena untuk masuk ke sebuah mini market.

“Aku belum sarapan. Ayo kita beli kimbap segitiga dan memakannya di bus.”

Jungkook mengatakan sendiri kalau dirinya belum sarapan, entah mengapa hal sekecil itu saja sudah membuat Sena senang bukan main. Dia pun dengan semangat berlarian menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa potong kimbap segitiga di sana. Sementara Jungkook pergi ke sisi snack, mengambil snack banyak-banyak untuk dimakan mereka di bus.

Mereka bertemu lagi di meja kasir.

“Karena aku namjachingu-mu, maka aku yang akan bayar,” kata Jungkook sebelum Sena mengobrak-abrik tas tangannya. Dia segera mengeluarkan dompet dari saku. Mengeluarkan sebuah kartu lalu menyerahkannya pada si petugas.

Untuk kali ini, Sena membiarkan. Toh waktu itu mereka sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan uang.

Setelah mendapatkan satu kantong plastik besar berisi belanjaan mereka, mereka pun segera bergerak menuju pemberhentian bus.

“Yakin naik bus?” tanya Sena begitu mereka duduk di kursi tunggu.

“Kau mau jalan kaki?” tanya balik Jungkook yang sedang sibuk memilih-milih snack untuk mereka makan sekarang.

“Kenapa tidak naik mobilku?”

“Kau mau kita tidak bisa bermesra-mesraan?”

Sena mendengus geli. Apa-apaan itu. Jadi maksudnya Jungkook memilih naik bus ketimbang mobil karena ingin bermesra-mesraan dengannya? Bolehkah dia terbang ke langit sekarang?

Meskipun sedang berada di tempat ramai, kebiasaan Sena yang suka ‘gerak cepat’ tidak akan bisa ditahan. Dia mengalungkan salah satu lengannya di leher Jungkook, menariknya dan mencium pipinya lama. Bahkan setelah puas mencium, dia masih memberikan tambahan fanservice berupa usapan di rambut hitam Jungkook.

Jungkook juga tidak merasa risih. Dia sudah sangat sangat biasa dengan tingkah laku Sena yang satu ini. Tidak di depan Sehun, tidak di depan Jimin, terkadang juga di depan para karyawan yang lain. Sungguh luar biasa. Dia tidak menyangka kalau gadis yang disukainya sejak bangku SMA ini adalah gadis yang unik dalam penyampaian rasa sayangnya.

Mereka langsung menaiki bus yang berhenti pertama. Keduanya memilih duduk di dua kursi belakang. Sena ingin duduk di dekat jendela, jadi Jungkook membiarkan gadisnya menempati tempat itu, sementara dia berada di antara Sena dan jalan kecil di tengah-tengah bus.

Bunny harus makan wortel yang banyak,” kata gadis itu sambil membuka satu bungkus kimbap segitiga. “Harusnya kau bilang padaku kalau kau belum sarapan, jadi aku bisa membuatkanmu kimbap dengan banyak wortel.”

Jungkook membuka mulutnya saat Sena mengarahkan kimbap segitiga itu padanya. Dia menggigit satu ujung dalam ukuran besar, lalu mengunyahnya dengan pipi menggembung lucu. “Aku tidak mau berkencan dengan gadis bau dapur.”

“Haha, bau dapur.” Sena terus tertawa sambil menyuapi Jungkook lagi. “Kalau seorang gadis itu bau dapur, berarti dia adalah perempuan yang pantas dinikahi. Dia rela tubuhnya bau dapur, asalkan orang-orang yang dicintainya merasakan kebahagiaan dari makanan yang dibuatnya. Justru kau harus meragukan gadis-gadis yang selalu wangi parfum setiap waktunya. Mereka itu pemalas, ke dapur saja tidak mau.”

Tiba-tiba Jungkook merangsek maju, mengendus bau tubuh Sena dengan aksi yang cukup berlebihan. “Aku mencium bau merica dari parfummu. Berarti kau adalah gadis yang pantas dinikahi.”

Mendengar itu, Sena tertawa lagi. Dia memukul-mukul dada Jungkook sebelum menyuapinya potongan terakhir. “Kau ini adalah bunny yang pintar. Tidak salah aku menyukai international playboy sepertimu.”

“Aku penasaran kenapa kau menyebutku international playboy. Aku ini bukan playboy. Kekasihku juga baru kau.”

Molla. Karena kau kelinci mungkin. Kelinci itu lambang playboy. Jadi kesimpulannya, kau adalah playboy. Dan karena wajahmu yang sangat tampan ini. Kau bukan hanya playboy biasa, tapi sudah bertaraf internasional.”

“Alasan macam apa itu?” Jungkook mendengus. Dia mengambil kaleng soda dari kantong plastik. Dia tidak tahu kalau sejak tadi kantong plastik itu terus berguncang. Dan begitu dia membukanya, soda itu langsung muncrat ke kursi di depannya dan hampir mengenai wajahnya. Sontak dia pun melongo dengan mata membulat lucu.

Konyolnya Sena justru terbahak. Jungkook menoleh, masih dengan ekspresi seperti itu. Makin heboh saja tawa Sena. Dia memukul-mukul lengan Jungkook, beralih mencubit pipi pria itu, lalu menyudahi tawanya dengan ciuman lembut di bibir.

“Kau terlalu lucu, Kook-a. Aku gemas.”

Jungkook hanya memanyunkan bibirnya sebelum menghabiskan soda itu.

Bus itu membawa mereka ke Sungai Han.

Jungkook langsung menggandeng Sena ketika mereka sampai di sana.

Sungai Han tampak ramai. Pantas, sekarang adalah akhir pekan.

Sena dan Jungkook adalah satu dari sekian pasangan yang datang kemari.

Bergandengan tangan, bercanda berdua, tertawa bersama.

Bahkan belum cukup dengan makanan ringan yang mereka bawa, mereka masih membeli es krim di tengah perjalanan. Sena sebenarnya suka rasa cokelat, tapi dia tertarik dengan rasa cherry. Jadi dia pun mengambil yang cherry, sementara Jungkook rasa cokelat.

“Aku tidak pernah berkencan seperti ini sebelumnya. Joha!”

Jungkook menoleh. Dia tersenyum melihat Sena yang sedang menikmati es krim sambil berjalan riang seperti anak-anak.

“Jadi aku yang pertama?”

“Hm. Kau adalah orang pertama yang mengajakku kencan imut seperti ini.”

Jungkook mengusap rambut Sena gemas. “Aku juga. Ini pertama kalinya aku mengajak gadis tomboy kencan imut.”

Sena terkikik geli. Kemudian menghabiskan es krim-nya dengan tenang.

Setelah es krim mereka habis. Mereka pun memutuskan duduk-duduk di sebuah bangku. Sepertinya mereka tidak bosan untuk berpegangan tangan. Jungkook membuka salah satu makanan ringan berbahan dasar cokelat. Mereka memakan itu bersama.

“Kau tidak terlihat seperti manajer sekarang,” kata pria itu sambil mengambil minuman botol dari kantong plastik.

“Kau juga tidak terlihat seperti asisten manajer,” balas Sena yang menatap Jungkook lamat-lamat. Dia menyingkirkan rambut Jungkook yang nyaris menutupi mata pria itu.

“Kau lebih suka berkencan di luar atau di dalam ruangan?” tanyanya seraya menyandurkan botol itu kepada Sena, sementara tutup botol berada di tangannya.

“Di mana pun aku suka, asal itu bersamamu,” balas Sena sambil menerima botol itu dan meminumnya sedikit.

“Aaah aku tidak suka jawaban wanita,” keluh Jungkook yang kini menutup kembali botol itu. “Katakan saja yang sejujurnya. Aku butuh kejujuranmu, Sayang.”

Sena mendadak geli sendiri mendengar kata terakhir yang diucapkan Jungkook. “Jangan panggil aku seperti itu ah. Geli.”

Jungkook terkekeh. “Kau memanggilku Kook-a, aku juga ingin memanggilmu dengan panggilan kesayangan.”

“Tapi aku tidak suka kata itu.”

“Lalu kau suka apa?”

“Nyonya,” balas Sena dengan mata berbinar. “Aku suka setiap kali kau memanggilku ‘nyonya’.”

Jungkook tersenyum lebar. “Serius kau ingin kupanggil seperti itu?”

“Hm. Serius.”

“Tidak merasa terlalu formal?”

Aniya, karena aku calon Nyonya Jeon. Panggil saja aku begitu ya? Ya?”

Jungkook pun mengangguk, mengalah. “Arasseo, Nyonya.”

Sena langsung memekik senang. Dan seperti biasa, kalau hormon oksitosinnya sedang mencapai level maksimal, gadis itu pasti akan melancarkan serangan yang sanggup membuat Jungkook kewalahan. Seperti seorang ibu yang memaksa mencium anak laki-laki remajanya di depan umum. Ya begitu, antara malu, senang dan kesal Jungkook harus menerima ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Tidak jarang orang-orang yang lewat dan tak sengaja melihat mereka mendengus kesal bahkan ada juga yang memekik iri.

TBC

Advertisements

10 responses to “Stay [Chapter 21] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Cekik aku kak cekik aku.
    Couple baru makin lama makin anget. 😂😂
    Apakabar tetangga sebelah #yoongi

  2. Uh… sena gak kenal tempat ya ? Selalu melakukan itu dimana aja dan jungkook terima aja. Nyonya jeon atau nyonya min ? Tapi lebih cocok nyonya jeon dong.

  3. so sweet bikin iri, mana yoongi- yoongi mana , atau jimin juga boleh aku butuh mereka berdua.. gigit selimut greget lihat sena sama jungkook …..

  4. Aigoo!!Couple ini tmbh lama tmbah maniiss aja 🙂 jdi gemes sndri
    Kpan nih kookie ngelamar sena lg?mdah-mdahan gk ada hambatannya lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s