Stay [Chapter 22] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Puas berada di Sungai Han, Jungkook mengajak Sena ke taman bermain.

Jangan bayangkan taman bermain besar seperti Lotte World.

Taman bermain yang dimaksud di sini adalah taman bermain anak-anak.

Taman bermain itu tampak sepi saat mereka datang. Wajar, sudah hampir siang, biasanya anak-anak sudah malas bermain-main di sana.

Jungkook menjatuhkan kantong plastik itu sembarangan sebelum menarik Sena untuk mencoba wahana di sana satu persatu.

Sena ogah-ogahan mengikuti langkah Jungkook.

Karena jujur, dia tidak pernah sekalipun menjejakkan kaki di taman bermain. Dari kecil bahkan.

“Ayo naik!” teriak Jungkook yang sudah berada di puncak permainan tangga majemuk. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Sena naik. Tapi Sena menggeleng dengan bibir mengerucut.

“Aku tidak bisa.”

“Kau pasti bisa! Ayolah! Ambil tanganku!”

Shireo. Kau bisa jatuh nanti.”

Jungkook pun menghela napas. Dia segera turun. Tahu-tahu mengangkat Sena dari belakang, mendekatkan gadis itu pada tangga majemuk.

“Kyaaa! Kook-a! Shireo!”

Kedua kaki Sena berhasil menapak di besi tingkat dua, sementara tangannya memegang erat besi tingkat enam. Dia segera berdiri di sana sebelum Jungkook melepaskannya.

“Nah, bisa ‘kan? Sekarang ayo naik.”

Sena menggeleng cepat. “Bagaimana kalau dia ambruk? Bagaimana kalau aku tergelincir? Shireo!!! Huwaaa!! Aku tidak mau berdarah!!”

“Kau tidak akan berdarah.”

Tapi Sena masih menggeleng. Bibirnya manyun, menatap memohon pada Jungkook untuk menurunkannya.

“Sena, percayalah padaku. Kau tidak akan berdarah. Tidak akan tergelincir. Benda ini juga tidak akan ambruk. Kaja, naiklah sekarang.”

“Eungg~~ aku takut.”

Jungkook pun melingkarkan lengannya di pinggang Sena. “Sekarang coba naikkan satu tanganmu.”

Sena menaikkan satu tangannya. Sedikit gemetar sebenarnya saat melepaskan pegangan.

“Naikkan juga satu kakimu.”

Takut-takut gadis itu menaikkan satu kakinya.

“Aaah!”

Dia memekik takut saat kakinya melewatkan tingkat besi dan nyaris saja masuk ke dalam ruang kosong. Jungkook reflek mengeratkan rangkulannya.

“Huwaaa! Aku takut!! Bagaimana kalau kakiku tersangkut di sini? Hiks, eomma bogosipda.”

Jungkook tersenyum kecil. Dia tidak tahu kalau Sena takut pada hal seremeh ini. Padahal anak-anak paling suka bermain di sini dan tidak punya ketakutan apa-apa, tapi Sena? Sudah 24 tahun tapi masih harus dibantu naik.

“Sekarang lakukan hal yang sama pada tangan dan kaki satunya.”

“Sudah! Aku mau turun!”

“Kau yakin tidak mau duduk-duduk di atas bersamaku?”

Shireo! Di atas tidak ada tempat duduk? Bagaimana caraku untuk duduk? Aaaa!!! Pokoknya turunkan aku sekarang!!”

Jungkook menggeleng pelan. Terkadang kejeniusan Sena tidak berguna dalam beberapa hal. “Ya sudah, sekarang lepaskan saja peganganmu.”

“Nanti aku jatuh bagaimana?”

“Tidak, kau tidak akan jatuh. Lihat? Aku sedang memelukmu. Kau memilih untuk melepaskan sekarang atau nanti turun sendiri.”

“Benar ya? Kulepas sekarang nih.”

“Ya, lepaskan saja.”

Dan begitu Sena melepaskan cekalannya pada besi tangga majemuk, Jungkook pun menurunkan gadis itu hingga kakinya menapak tanah. Gadis itu menghela napas lega begitu dia merasakan kakinya telah berada di atas tanah. Jungkook baru sadar kalau sejak tadi Sena berkeringat dingin karena dipaksa berdiri di sana. Merasa bersalah sebenarnya, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Sena yang menyadari tawa itu langsung menghadiahi Jungkook dengan pukulan.

Nappeun namja. Bukannya minta maaf malah tertawa, dasar.”

Jungkook lekas menyudahi tawanya. Meraih tangan mungil Sena untuk berada dalam genggamannya. “Bagaimana kalau bermain jungkat-jungkit saja? Kau tidak takut ‘kan?”

“Tapi aku pasti akan selalu berada di atas.”

Jungkook tertawa lagi, merasa setuju dengan pernyataan Sena barusan. Tentu saja, Jungkook memang lebih berat dari Sena. Berat Sena hanya 48 kg, sementara dia 60 kg.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

“Aquarium?”

“Hm?”

Sena mengangguk serius. “Aquarium. Aku ingin melihat ikan.”

“Setelah itu makan ikan, otte?”

Call.”

Jungkook pun mengecup bibir Sena kilat sebelum mengajak gadis itu pergi ke aquarium yang ada di kawasan Seoul.

Sena memang tampak lebih antusias daripada saat berada di taman bermain. Dia dengan semangatnya menunjuk ikan-ikan yang lalu lalang di aquarium besar itu. Terkadang menanyakan jenis ikannya pada Jungkook. Sena jadi tampak seperti anak kecil yang tidak pernah diajak kemari. Dan memang itu kebenarannya. Melihat Sena yang seantusias ini, entah kenapa Jungkook jadi teringat lagi pada hari di mana dia bertemu dengan Sena untuk pertama kalinya. Bahkan meski itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, dia tetap masih bisa mengingatnya secara detail. Dan hatinya pun masih mengingat caranya berdebar kala melihat wajah antusias itu lagi.

Tidak seperti Sena yang pemberani. Jungkook terlampau malu untuk mengungkapkan rasa cintanya dengan ciuman atau pelukan di depan umum. Dia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kecil saat Sena mengadu kalau ada hiu di dalam aquarium itu.

Puas berkeliling di aquarium, seperti janjinya, Jungkook pun mengajak Sena makan ikan di restoran yang berdiri di dekat wahana itu. Sebenarnya restoran dengan bahan olahan ikan yang terbaik di Korea Selatan adalah di Busan, di tempat kelahirannya. Tapi karena tidak mungkin mengajak Sena sekarang ke Busan, maka dari itu mereka makan di salah satu restoran di Seoul.

“Kook-a, kenapa kau mengajakku ke taman bermain anak-anak tadi?”

“Hm … kenapa ya? Aku hanya suka dengan anak-anak.”

“Tapi di sana tidak ada anak-anak.”

“Aku juga ingin kembali merasakan kebahagiaan anak-anak. Kebahagiaan di mana uang dan jabatan tidak berlaku untuk mereka.”

Sena terenyuh mendengarnya. Dia pun memasukkan nasi ke dalam mulutnya, mengunyah dengan lahap.

“Jadi kau merasa tidak bahagia sekarang?”

Jungkook menggeleng. Dia menarik sebuah tisu untuk membersihkan sekitar bibir Sena yang belepotan kuah. “Aku bahagia. Tapi bahagia yang rumit.”

Wae?

“Terkadang aku merasa bahagia karena memiliki uang, tapi di sisi lain aku tidak bahagia karena kondisiku yang sebatang kara saat ini. Aku juga merasa bahagia karena memilikimu, tapi di sisi lain aku takut pada banyak hal. Entahlah. Sekarang ini bahagia dan dan tidak bahagia tidak ada bedanya.”

“Tidak seperti anak-anak yang merasa dirinya menjadi yang paling bahagia di dunia padahal hanya diberi sebatang lollipop,” sambung Sena di sela-sela kegiatannya mengamati Jungkook.

“Hm. Itulah maksudku. Kebahagiaan orang dewasa tidak sesederhana itu.”

Gadis itu tersenyum miris. Dia mengambil termos air untuk mengisi gelas Jungkook yang kosong. “Apakah kau mengingat sesuatu sebelum kau kecelakaan?”

“Aku hanya ingat kalau pagi itu aku belum makan sama sekali.”

“Tidak ada yang kau ingat lagi selain itu? Bagaimana kecelakaanmu mungkin?”

Jungkook menggeleng. “Sama sekali tidak ada. Entahlah, setiap kali aku mencoba mengingatnya, kepalaku akan sakit.”

“Kalau begitu jangan diingat.”

“Apa mungkin kecelakaan itu ada hubungannya dengan cincin di lacimu?”

Sena otomatis berhenti mengunyah. Dia menatap sup di mangkuknya sebentar, mencoba berpikir sejenak sebelum melanjutkan kembali kunyahannya. Tidak mungkin dia menutupi ini terlalu lama. “Ya. Dua hal itu saling berhubungan.”

“Kau belum menjawab siapa pria yang memberimu cincin itu.”

Kali ini Sena tidak menyahut. Dia pura-pura tidak dengar dan sibuk dengan makanannya.

“Sena….” panggil Jungkook sedikit memohon.

Gadis itu menghela napas. Dia tidak bisa berlama-lama mendiami Jungkook. “Nanti. Sekarang aku tidak mau membahas apa pun yang berpotensi menghancurkan kencan kita. Bukannya kau sendiri yang bilang untuk tidak memikirkan apa pun?”

Jungkook juga menghembuskan napasnya dari mulut. “Arasseo. Mian.”

Mereka tidak langsung pulang setelah makan. Keduanya memutuskan untuk bermain di game center. Segala macam permainan mereka coba. Sampai-sampai sore hari baru mereka keluar dari sana. Sena tidak keluar dengan tangan kosong, melainkan menggendong boneka Eevee yang diperoleh Jungkook saat bermain mesin boneka.

Hari hampir senja. Lelah berjalan-jalan terus, akhirnya mereka pun pulang juga. Sena bilang dia ingin menonton film bersama Jungkook di apartemennya, dan Jungkook menyetujui itu. Turun dari bus, mereka masuk ke mini market tadi pagi untuk membeli makanan ringan yang lain. Sepertinya Jungkook memang sangat suka dengan makanan ringan. Buktinya pria itu membeli banyak sekali padahal hanya dimakan berdua.

“Aku sedang ingin menonton film Thailand,” kata Sena saat mereka sudah duduk di sofa depan sebuah layar proyektor. “Lisa merekomendasikan May Who padaku. Katanya bagus.”

“Kedengarannya menarik. Coba saja,” jawab Jungkook yang sejak tadi sibuk memilih-milih snack.

Sena pun bergegas menuju kamarnya, mengambil flashdisk pemberian Lisa yang disimpannya di laci, lalu kembali ke samping Jungkook, mencolokkan benda itu di lubang laptop yang tersedia. Menghabiskan sedikit waktu untuk mencari file-nya, akhirnya film yang dia ingin tonton itu pun muncul juga di layar proyektor. Dia mengatur volumenya dalam level maksimal.

Direbahkan tubuhnya dengan nyaman di dada Jungkook.

“Wah … seperti anime ya?” komentar pria di sampingnya dengan mulut sibuk, maksudnya sibuk mengunyah makanan.

“Oh! Bubble tea!” pekik Sena tiba-tiba. “Itu minuman kesukaan ayah.”

Jungkook hanya terkekeh pelan. Dia mencomot satu potong makanan ringannya dan memasukkannya ke dalam mulut Sena.

Yeppeo,” sahut Jungkook ketika melihat grup cantik di dalam film itu.

Sena mendengus. Tapi dia tidak berkomentar apa pun dan malah berkata, “ya ampun dia tampan sekali!! Heol heol! Andai orang Korea!”

Jungkook menyeringai. “Aku juga pintar olahraga sepertinya. Hah, dan aku punya pentil.” (Disarankan untuk menonton May Who biar paham)

PLAK!

Jungkook menatap gadisnya kesal. “Kenapa kau menamparku?”

“Dasar mesum,” seloroh Sena sambil merebut jajan itu untuk dikuasai sendiri.

Jungkook berdecak.

Mereka tenang untuk beberapa saat.

Sampai akhirnya Jungkook tertawa terpingkal-pingkal. Di sampingnya Sena hanya mematung dengan mulut terbuka lebar. Dia tidak percaya kalau di film yang diberi Lisa ada adegan yang waaaah … ya meskipun masih dalam taraf normal. Yang menceritakan si tokoh pria yang tidak sengaja melihat dalaman si tokoh wanita saat si wanita menendang bola.

Sena langsung tersadar begitu adegan telah berganti. Langsung saja dipukulnya Jungkook ala kaum Indian. Dia tidak percaya kalau Jungkook bisa tertawa selepas itu karena adegan mendekati mesum itu.

“Aduh sakit.”

Gadis itu pun menyudahi pukulannya. Dia tidak protes saat Jungkook meraih bahunya dan mencium pipinya lembut.

“Itu bukan apa-apa untuk laki-laki. Gwaenchana, aku tidak akan seperti itu.”

“Justru aku makin khawatir setelah kau bicara begini.”

Jungkook tertawa lagi. Dia mengusap rambut Sena sambil menggesekkan hidungnya di sana. “Hanya pria brengsek saja yang melakukan itu.”

“Kau tidak pernah menggambarku yang seperti itu ‘kan?”

“Hm.”

Sena langsung menoleh. Ditatapnya Jungkook, menyelami mata pria itu berusaha mencari kebohongan. “Serius?”

“Hm. Aku hanya pernah menggambar, kalau kita sedang berpegangan tangan. Tidak ada yang seperti itu.”

Perlahan namun pasti, senyum di wajah Sena pun mengembang. “Baguslah.”

Senyum di wajah Jungkook juga ikut terbentuk. Dia membiarkan Sena mengambil makanannya, sementara dia mengambil makanan yang lain.

Tidak salah mereka menonton film itu. Karena film itu mereka tidak pernah berhenti tertawa. Tahu-tahu snack yang dibeli sudah ludes sebelum filmnya selesai.

Sena dengan nyaman bersandar di dada kekasihnya. Sudah hampir satu setengah jam mereka menonton itu, entah kenapa dia merasa bosan. Peduli amatlah dengan kelanjutan kisah May dan Pong. Dia hanya ingin menikmati momen ini bersama Jungkook, hanya berdua.

Sepertinya Jungkook sadar kalau Sena sudah bosan dengan jalan cerita filmnya. Ia pun melingkarkan lengannya di sepanjang bahu Sena. Matanya tak lagi menatap pada layar proyektor. Sempurna menatap ciptaan Tuhan paling indah yang ada di sampingnya.

Sebenarnya Jungkook sangat menyayangkan rambut Sena. Kenapa harus dicat ke warna seperti itu? Kenapa Sena harus menambahkan warna itu di antara warna aslinya? Toh dia juga sama saja. Sama-sama mengganti warna rambut tepat setelah kelulusan SMA. Tapi dia mengganti warna rambutnya tanpa alasan, kalau Sena….

Ia menghela napas. Bodoh kalau dia tidak tahu alasan kenapa Sena mengecat rambutnya ke warna seperti ini.

Jangan pernah lupakan fakta kalau Jungkook pernah melihat wajah asli Yoongi saat SMA. Waktu itu Yoongi juga mengecat rambutnya ke warna itu.

Gara-gara Yoongi, Jungkook yang awalnya tidak masalah dengan warna apa pun, mendadak punya kebencian tersendiri terhadap warna kolaborasi navy black. Entahlah, kenapa warna itu tampak menyebalkan untuknya. Sialnya, justru Sena mengganti rambutnya ke warna itu dan sering sekali memakai blouse berwarna navy.

Bolehkah dia jujur kalau dia sangat benci ketika Sena menggunakan warna itu?

“Sebentar lagi malam akan berganti hari, Kook-a. Tidakkah kau ingin menyelesaikan kencan ini dengan pillow talk?”

“Kau ingin membicarakan sesuatu?” tanya balik Jungkook sambil menatap ke bawah. Tepat pada netra Sena yang sedang menatapnya juga.

“Hm. Banyak hal yang ingin kubicarakan.”

“Kalau itu maumu, oke. Ayo kita lakukan.”

“Tapi sebelum itu, bagaimana kalau mandi dulu? Kau bau sekali sekarang.”

Jungkook terkekeh kecil. Dia mengusap-usap rambut Sena dengan gemas sebelum beranjak. Sambil menuju kamar mandi, dia berceloteh lantang berniat menggoda gadis itu. “Sebenarnya Nyonya jauh lebih bau dariku. Aigoo bau ikan.”

Sena yang mendengarnya hanya berdecak sambil mencari nomor kontak restoran ayam langganannya.

TBC

Nb: Sena itu aku banget, readers :”) Aku emang ngga pernah ke aquarium (eh pernah sih sekali doang pas masih kecil), ngga pernah main2 di tangga majemuk (takut gueh), tingkahku rada freak (klo gemes ke orang mesti pingin peluk/cium), jadi maafkan :”) dan Jungkook di sini digambarkan sebagai cowo idaman akuh :”D maafkan juga kalo cheesy banget T^T tapi aku lebih suka cowo suweg kutub macam Yoongi :”) Kok malah curhat se .__. 

Advertisements

12 responses to “Stay [Chapter 22] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Kencan mereka sangat sempurna, tapi apa yang mau dibicarakan sama sena ? Jungkook juga belum ingat tentang cincin itu jadi sedih deh pas jungkook gak jadi ngasih cincin itu ke sena gegara kecelakaan.
    Fighting terus thor.

  2. Tangga majemuk ap sii thor? Ga ngerti…
    Abs ini mreka bicarain mslh serius lg kan?
    K ngerasa agk aneh sm jln2 tiba2 nya
    Jungkook yg tb2 nyium.. pdhl kan biasax d kening..
    Ayo nanti slh lgi ya?

  3. Aduuuhh mereka bikin envy siih
    So sweet banget
    Suka sekaleh pokoknya sama jalan ceritanya
    Big love buat eonni

  4. Benar2 so cheesy kak
    Jdi tmbah ngefans sma bunny :*
    Jdi gk sabar liat reaksi kookie klau tau cincin itu dri dia

  5. Yg bahagia sehabis kencan..moment romantisnya banyakin thor..yoongi sm sehyun mana ya..trus gmna jimin sm cewek baru..penasaran thor..

  6. si kuki abis amnesia jadi keju(?) gini ya. serasa ada manis-manisnya. btw mas gula belum muncul. oke sabarr ntar klo mncul langsung pamar aku ya mas. *muntahpaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s