Stay [Chapter 23] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Seperti yang Sena minta, mereka pun melakukan pillow talk untuk menutup kencan mereka hari itu.

Jungkook sudah tampak segar dengan pakaian tidurnya. Bukannya dia sengaja membawa baju tidurnya saat pergi kencan. Kalian tahulah bagaimana Sena. Gadis itu sudah seperti ibu kandung Jungkook. Meskipun Jungkook jarang menginap di apartemennya, dia tidak ragu untuk membeli satu setel baju tidur, satu setel baju santai, sepasang sepatu dan sepasang sandal rumah untuk pria itu. Yang tidak Jungkook suka, Sena membelikan semua itu bukan dengan seleranya. Apa-apaan baju tidur bermotif kelinci? Apa-apaan juga membelikan kaos pendek bermotif garis-garis horizontal? Sena pikir dia ini buronan atau apa? Sepatu juga. Dia ini bukan penyuka sepatu fantofel. Daripada fantofel kenapa Sena tidak membelikannya Timberland saja? Sandal rumah pun Sena tidak membelikannya yang biasa, malah bermotif kepala kelinci. Oh plis.

Untungnya dia sayang, jadi hal seperti itu bisa dia tolerir.

Saat masuk ke kamar, di sanalah dia melihat Sena sudah berbaring sambil bermain ponsel. Langkah kakinya membuat gadis itu menoleh. Tahu-tahu ponsel itu jatuh ke wajah Sena hingga menimbulkan bunyi ‘tuk’ yang keras.

Dia tidak bisa membantu dan hanya terkekeh melihat pemandangan itu.

“Makanya, jangan bermain ponsel dengan posisi seperti itu,” peringatnya sebelum memasukkan kakinya ke dalam selimut, sementara posisinya sekarang adalah duduk dengan menyandarkan punggung di kepala ranjang.

Sena mengusap hidungnya yang berdenyut karena bagian pertama yang kena adalah ujung hidungnya. “Habisnya kau lama sekali.”

Mian, perutku tadi tiba-tiba bermasalah.”

“Aku sudah memesan ayam untuk makan malam kita. Mungkin dia akan datang sebentar lagi,” kata gadis itu sambil duduk dan menyimpan ponselnya di atas nakas.

“Hm. Jadi … apa yang ingin kau bicarakan?”

Pertanyaan Jungkook yang terkesan terburu-buru itu entah kenapa bisa dengan mudahnya menyebabkan perubahan di wajah Sena. Gadis itu memperhatikan dengan teliti bagaimana imutnya Jungkook saat sedang memeluk sebuah bantal. Tapi sekarang bukan itu yang sedang ingin bahas. Ia pun menghela napas. Menggeser duduknya dengan pelan-pelan sampai lengannya dengan lengan Jungkook saling bersinggungan.

“Apa kau tidak ingin bicara padaku juga?”

“Soal?”

“Apa saja. Aku ingin mendengar kau bicara.”

Di titik ini Jungkook mulai menyadari kalau ada sesuatu yang kurang beres dengan Sena. Gadisnya tidak pernah ah maksudnya jarang bersikap pasif seperti ini. Biasanya Sena akan berceloteh duluan seperti burung beo dan tidak akan berhenti kalau Jungkook tidak mencium bibirnya. Tapi sekarang….

Ah mungkin Sena menyadari itu, pikirnya.

“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin menanyakan soal cincin itu.”

Sena mendesah. Cincin lagi. Kenapa Jungkook begitu gencar menanyakannya? Tidak bisakah Jungkook melupakannya saja jadi Sena tidak perlu teringat pada hari yang mengerikan itu?

Tapi mau bagaimana pun, Jungkook harus tahu soal ini secepatnya.

“Ya, cincin itu memang punya keterkaitan dengan kecelakaanmu.”

Jungkook menatapnya, menunggu.

“Kau membawa cincin itu saat kecelakaan terjadi.”

Pria itu terperangah. “Bagaimana bisa cincin itu ada padaku?”

Sena mengangguk, padahal bukan itu yang Jungkook minta dari pertanyaannya. “Cincin itu adalah milikmu. Bukan milik pria lain.”

Jungkook tampak termenung sebentar, berpikir. Mau dinalar seperti apa pun, dia sangat tidak percaya kalau cincin itu adalah miliknya. Lalu kenapa Sena tidak memberitahunya sejak awal? Kenapa gadis itu justru membuatnya berspekulasi yang tidak-tidak?

“Tapi aku benci cincin itu, Kook-a. Karena cincin itu, kau hampir kehilangan nyawa.”

Sekarang Jungkook mulai mengerti kenapa Sena waktu itu melempar cincin itu tanpa pikir panjang.

Namun yang dipikirkannya saat ini bukan itu.

Dia penasaran, apa maksudnya dia membeli cincin waktu itu?

Mungkinkah dia berniat melamar Sena hari itu? Lamaran penuh kejutan?

Kesadarannya kembali ke dunia nyata saat mendengar suara bel dari pintu. Sena buru-buru turun dari ranjang. Mungkin pesanan ayamnya sudah datang. Sementara itu, Jungkook sendiri, bergegas mendekati mantelnya untuk mengambil sesuatu dari sana.

Kotak cincin.

“Akhirnya ayamnya datang juga,” seru Sena saat masuk dan menutup pintu kamar yang otomatis membuat Jungkook menyembunyikan kotak itu di saku celana baju tidurnya.

“Oh? Sudah datang?” tanyanya seolah dia terkejut, padahal tidak.

Sena mengangguk. Tidak peduli kenapa Jungkook bisa berdiri di sana. “Ayo makan ini sambil bicara lagi.”

Jungkook hanya mengangguk dan mengikuti kemana Sena pergi. Mereka memakan itu di atas tempat tidur, sambil duduk saling berhadapan. Sepertinya Sena sudah kelaparan setengah mati. Terbukti dari bagaimana rakusnya gadis itu saat menghabiskan para paha ayam. Dia hanya menggeleng pelan sambil sesekali membersihkan sekitar bibir Sena yang belepotan minyak.

Setelah habis beberapa potong paha, Sena baru sadar kalau Jungkook terus membersihkan bibirnya. Tidak pakai tisu, tapi menggunakan tangan. Melihat betapa mengkilatnya ibu jari kanan Jungkook sekarang, pasti dia makan terlalu bersemangat. Buru-buru dia pun mengambil tisu basah dari atas nakas.

“Kemarikan tanganmu,” perintahnya sambil menengadahkan tangan.

Jungkook hanya menurut. Sambil mengunyah ayamnya, dia memperhatikan bagaimana gadisnya membersihkan ibu jarinya sampai tidak berminyak lagi.

“Maaf sudah membuat tanganmu seperti ini.”

“Yang seperti ini tidak perlu minta maaf.”

Sena menggeleng tidak setuju. “Tanganmu jadi kotor karenaku.”

Habis daging satu paha, Jungkook pun memasukkan tulangnya ke sebuah plastik yang telah Sena sediakan. “Kau makan dengan lahap sekali,” katanya dengan niat mengalihkan topik pembicaraan.

Sena juga meraih tangan Jungkook yang sebelah kanan. Membersihkan bekas minyak dengan tisu basah, begitu juga yang dia lakukan pada tangannya sendiri.

“Aku sudah membahas tentang cincin itu. Bagaimana denganmu? Kau tidak ingin membahas yang lain.”

“Aku tidak suka warna rambutmu.”

Tangan Sena yang sedang membersihkan tangannya sendiri, reflek berhenti bergerak, seperti di-pause mendadak. Perlahan dia pun mengangkat kepalanya.

Tepat saat itu juga Jungkook menatapnya lurus.

“Bisakah kau mengembalikan warna rambutmu ke warna hitam? Aku tidak suka melihat ada unsur Yoongi dalam dirimu. Ini sudah tujuh tahun, Sena. Masihkah kau memikirkannya?”

Sena meremas bekas tisunya sambil membalas tatapan Jungkook. Dia rasa apa yang sudah dia tunjukkan selama ini masih kurang di mata Jungkook hanya gara-gara warna rambutnya. Jujur, dia tidak terima mendengar Jungkook bicara begitu. Oh plis, ini sudah 7 tahun. Sudah tidak ada alasan lagi bagi Sena untuk memikirkan pria bermarga Min itu. Dia sudah memilih Jungkook. Dia telah mematenkan hatinya pada pria itu. Ayahnya juga sudah merestui hubungan mereka. Hanya tinggal menunggu kapan Jungkook akan meminangnya.

Dia pun menghela napas. Memasukkan tisu itu ke dalam plastik, lalu menurunkannya ke lantai bersama kotak ayam yang sudah kosong.

“Lagi-lagi kau meragukanku, Kook-a.”

Jungkook terdiam. Hanya mengamati Sena yang sedang sibuk mengambil kaleng soda untuk mereka berdua.

“Aku sudah benar-benar tidak menaruh perasaan lagi padanya. Kalau aku masih menyukainya, kenapa juga aku bertahan sejauh ini denganmu? Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Dan kau masih ragu soal perasaanku?”

Dia menerima begitu saja satu kaleng soda yang sudah dibuka tutupnya dari Sena. Tidak seperti Sena yang langsung meminum sodanya. Kaleng itu hanya dipegang di tangan.

“Aku akan mengganti warna rambutku besok kalau kau menginginkannya,” putus Sena saat itu juga. Dia juga membalas tatapan pria itu. Dengan lembut dan penuh kepastian. Jika Jungkook selalu memberikan tatapan itu selama 4 tahun terakhir ini, ijinkan dia melakukan hal yang sama untuk detik ini saja. Dia hanya ingin, Jungkook memercayai perasaannya dan tidak meragukannya lagi.

Jungkook pun menghabiskan soda itu dalam sekali tarikan napas.

Sena mengamati dengan seksama bagaimana adam apple pria itu bergerak ke atas dan ke bawah dengan cepat. Dahinya mengerut. Menatap heran Jungkook yang sepertinya sedang menginginkan sesuatu.

Dan benar saja.

“Aku masih lapar. Maukah kau membuatkanku ramen?”

Dapur dalam keadaan berisik malam itu karena seorang gadis dalam balutan apron oranye tengah sibuk mondar-mandir mengurusi satu jenis masakan. Seorang pria sebayanya tampak sedang menyaksikan dari meja konter. Ia menopang dagu dengan tangan kanan, sedangkan ujung jari tangan kirinya sibuk mengetuk-ngetuk meja itu.

Sejak Sena berada di sini –begitu juga dengan dia, dia sama sekali tidak melepaskan pandangan dari siluet gadis itu. Meskipun sering diberi punggung, tapi tak apa. Dia suka melihat Sena sibuk memasak. Baginya, Sena memasak itu dua kali lebih seksi daripada Sena yang sedang bekerja. Peluh gadis itu terus bercucuran, tubuh langsingnya bergerak ke sana kemari tanpa henti, bibir yang terkadang meracau sendiri, dan wajah yang fokus dengan banyak rencana di sana. Dia tidak akan bisa mendapati pemandangan ini di luar kegiatan memasak.

Tak lama kemudian ramen ala Oh Sena pun terhidang di depan matanya. Dia menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari sana. Iseng-iseng mendorong badannya ke depan untuk mencium aroma tubuh Sena yang semanis jeruk namun bercampur kecutnya keringat. Jitakan di kepala menjadi hukuman akan tingkah isengnya itu. Tapi dia tidak marah. Justru mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Sena yang menyeringai heran.

“Kau ini ada apa sih hari ini?” tanya gadis itu sambil mengulurkan sumpit padanya.

Jungkook menerimanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Sena. Dia langsung mencoba ramen tersebut menggunakan sumpit. Tidak perlu diragukan, makanan buatan Sena memang selalu yang terbaik. Bahkan ramen saja rasanya seperti sup ayam favoritnya. Padahal Sena tidak membubuhkan kaldu ayam di makanan ini.

“Tiba-tiba mengajakku kencan, tidak menolak saat kusuruh memakai baju itu. Katakan padaku. Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?”

Mungkin saat ini Jungkook sedang bergaya pura-pura tidak dengar. Dia terus memakan sepanci ramen itu sampai habis. Padahal seharusnya ramen itu untuk porsi tiga orang tapi Jungkook menghabiskannya dengan enteng seolah ramen itu hanya untuk porsi satu orang. Meskipun Sena meringis karena diabaikan pria itu, tapi di satu sisi dia juga merasa senang melihat Jungkook yang begitu lahap. Mungkin begini ya perasaan seorang ibu saat melihat anaknya makan dengan baik, pikirnya.

Tidak mau menyisakan setitik pun kuah di panci itu, Jungkook pun menempelkan mulutnya pada pinggiran panci dan menyesap kuah ramen sampai habis tak bersisa. Disekanya sekitar bibirnya yang basah sekaligus berminyak karena kuah itu. kemudian kalimat konyol pun keluar dari bibirnya.

“Berapa harganya?”

Sena menatapnya heran, lalu tertawa. “Mwoya? Kenapa tingkahmu jadi seperti ini—”

“Beritahu aku berapa harga ramen ini, Nyonya. Aku ingin membayarnya.”

“Kook-a….”

“Berapa?” sahut Jungkook tak sabaran. Dia bahkan sudah memasukkan satu lengannya ke dalam saku celana, seperti benar-benar akan mengeluarkan uang.

Sena pun menghela napas. Oke, untuk kali ini dia akan mengikuti alur permainan Jungkook.

“Dihitung dari semua bahannya, totalnya sepuluh ribu won.”

Jungkook mengangguk mengerti. “Maaf, boleh dibayar selain tunai dan kartu? Aku sedang tidak membawa dompet sekarang.”

Sena makin berkerut tak mengerti. Kali ini apa lagi maksudnya. “Kalau tahu begitu kenapa tanya segala sih? Kau ini—”

Sebuah telunjuk di depan bibirnya lah yang spontan membuat kalimat Sena terpotong. Gadis itu menatap si pemilik jari tak mengerti. Kali ini dia tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan pria itu.

“Jawab saja. Boleh atau tidak?”

Untuk kesekian kalinya, Sena menghela napas lagi. “Ya, boleh.”

Seulas senyum puas pun terbentuk di wajah Jungkook. Awalnya Sena tidak tahu kenapa. Tapi begitu pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Di saat itulah dia mengerti maksud permainan ini dan senyum itu.

Sebuah kotak cincin membuatnya tercengang. Dia menatap kotak itu dan yang memegang secara bergantian. Berusaha menebak apa yang sebenarnya terjadi. Saking terkejutnya dia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.

“Kook-a….”

Jungkook masih memamerkan senyum gigi kelincinya. Dia membuka kotak itu, mengambil cincin berdesain sederhana dengan satu berlian di tengahnya, kemudian menyematkan benda itu ke jari manis Sena.

Lagi-lagi terasa pas. Tidak kebesaran juga tidak kekecilan.

Pria itu memandang tangan Sena dengan terkesima. Dia tidak tahu kalau efek cincin akan membuat tangan Sena makin cantik. Wajar, Sena paling tidak suka memakai aksesoris, apalagi aksesoris tangan. Dia mengelus tangan itu dengan lembut.

“Sudah kubilang kalau hari ini adalah hari bahagia kita ‘kan? Aku tidak akan membiarkanmu memakai cincin lama, meskipun cincin itu jauh lebih cantik dari cincin ini. Karena aku juga tidak mau, kau mengingat lamaranku dengan ingatan buruk seperti itu. Bagaimana? Maukah kau menikah denganku?”

Perlahan kedua mata Sena pun memerah. Dia menutup bibirnya yang gemetar karena tersentuh. Ketika matanya berkedip, air matanya pun lolos.

Jungkook yang melihat air mata itu pun tersenyum sambil menghapusnya. “Kenapa malah menangis?”

Sena menggeleng pelan. Kemudian, dia pun meraih leher Jungkook dan mencium pria itu tepat di bibir. Hanya sekelebat memang, tapi itu sudah sanggup mewakili jawaban Sena, sehingga tidak perlu Jungkook menanyakannya lagi.

“Kau hanya perlu bahagia Sena. Jangan menangis lagi seperti sebelumnya.”

TBC

Advertisements

10 responses to “Stay [Chapter 23] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Yooooooongiiiiiii… Apa kabar kamu nak kalau kamu liat mereka berdua.
    Andwaeeee.. Pupus sudah hati yoongi. Sini peluk adek om yong. 😍😍😍
    Oke. Tinggal nunggu mereka menikah.

  2. Ohmygod!!! Gilakkk! Jadi ini tujuan kookie ngajak kencan sena? Dia udah inget kalo mau nglamar sena di hari pas dia kecelakaan? Ngalarnya pake cincin baru lagi. Gilakk lo kookie! Bisa nggak sih nggak romantis?? Authornya mahh paling bisa bikin readers deg2 ser sama sena-kookie. Favorite dahhh! Seneng deh akhirnya kookie nglamar sena. Nah tinggal nentuin tanggal terus resmi dehh. Love you author😘💕💕💕💕💕💕

  3. Finally!!! Sumpah senang bget kak pas kook ngelamar sena
    Wah kookie maniisss bget carax ngelamar sena, anti mainstream kkkk
    Cepetan nikah gih dan buat little bunny heheh

  4. Sumpah lamaran paling sweet ahh jungkookie kenapa manis sekali sihh. Gak sabar liat mereka nikah, yah walaupun masih mengharapkan bang suga tapi gpp lah yang penting mereka bahagia 🙂

  5. Akhirnya jungkook ngelamar sena dan sebentar lagi mereka akan menikah. Apa kabar dengan yongi ? Apa dia bisa move on dari sena ?

  6. Jd itu maksud jongkook hari bahagia,q pikir cm kencan,eh trrnyata si maknae mau ngelamar sena…
    Abang yoongi g mana kabarnya sm sehyun…sdh sembuh ngak sih dr sakitnya,jangan lama2 ya thor ne si abng d simpan…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s