Keep Blowing Up – Angelina Triaf

Angelina Triaf ©2017 Present

Keep Blowing Up

Vernon (Seventeen) & Umji (GFriend) | Surrealism | G | Ficlet

Ada kalanya kita harus sadar bahwa sesuatu yang berlebihan tak akan pernah baik. – mintulli

0o0

Permainan bermula ketika Umji dengan ceria berlari ke arah Vernon, memberinya satu bungkus balon tiup yang isinya cukup banyak dengan warna bervariasi. Saling menganggukkan kepala, mereka berdua berlomba untuk siapa yang bisa paling cepat meniup balon-balon tersebut, dengan ukuran yang besar tentunya.

Umji berhasil menyelesaikan tiga buah ketika dilihatnya Vernon sudah membuat sebanyak delapan, sangat besar hingga mampu menutupi gunung di belakang mereka. Itu baru satu balon berwarna merah, belum lagi balon-balon lainnya yang beterbangan ditiup angin. Vernon bahkan tak memedulikan saat balon hijaunya terbang menggelinding menuju gurun pasir atau ketika melihat balon putih dan biru miliknya mengapung di lautan.

Balon milik Umji yang memiliki tekanan udara lebih besar bahkan mampu membuat pohon-pohon di sekeliling mereka tumbang begitu saja, menyebabkan kekacauan yang sama sekali tak membuat mereka berhenti untuk melanjutkan permainan. Mulut mereka masih terus meniup, bahkan tak menyadari jika badai besar sebentar lagi datang.

Sudah tak terlihat lagi balon-balon di lautan. Balon di gurun pasir pun bernasib malang; terkubur oleh pasir sehingga membentuk sebuah bukit besar di tengah wilayah itu. Pohon-pohon yang tumbang pecah dengan sendirinya, kayunya ikut menggelinding lantaran angin besar yang membawanya.

“Kak Vernon! Untuk yang kali ini jangan terlalu besar, karena banyak angin!” teriak Umji, karena bicara pelan dirasa percuma lantaran suara gemuruh dari langit―pertanda badai akan benar-benar datang.

Mungkin karena tidak dengar atau bisa jadi karena Vernon tak terlalu peduli, ia masih terus meniup balonnya sampai ukuran yang amat besar. Belum mau berhenti, ia masih saja meniup balon merah muda itu, membuat Umji membelalak dan refleks melepas tiupan balon terakhir dari mulutnya.

Balon terakhir Umji terbang, menghilang di balik awan hitam. Suara udara yang keluar dari kulit balon itu menyatu dengan gemuruh langit, membuat angin semakin kencang bertiup.

“Kak Vernon, hentikan!”

Bingung untuk apa yang harus ia khawatirkan; balonnya yang mengeluarkan banyak angin di udara berselimut awan hitam atau Vernon yang masih terus meniup balon miliknya.

“Kak, itu terlalu besar! Hentikan!”

Umji merangkak untuk mencapai Vernon, berusaha setidaknya memukul bahunya agar pemuda itu berhenti meniup.

“Kak!”

Duar!

Kepala Umji terasa berputar, pandangannya kabur. Ia diam sejenak, berusaha menangkap suara-suara di sekitarnya.

Dasar, anak-anak nakal!

“Apa?” gumamnya pelan, hingga akhirnya bisa membuka mata dan mendapati Bibi Min yang menatapnya dengan pandangan sebal.

Dilihatnya lagi sekeliling, ada beberapa orang yang menatapnya takut-takut. Tangannya meraba lantai, ia rasakan pecahan kaca yang menyentuh telapak tangan―hampir-hampir membuatnya berdarah.

“Sudah kubilang ‘kan untuk berhenti main-main dengan balon? Kalian berdua selalu saja membuat pengunjung museum ketakutan. Aku bahkan harus menelepon beberapa satpam untuk membantu mengamankan sektor D dari pecahan kaca bingkai kalian.”

Omelan khas ibu-ibu yang sudah kebal untuk Umji terima masih terus bergema di penjuru ruangan ini. Namun bukan hal itu yang masih membuat Umji terdiam.

“Kak Vernon mana?” Akhirnya ia bangun, berdiri semampunya karena ledakan tadi rasanya membuat seluruh syarafnya mati rasa.

“Kabur, seperti biasa. Mungkin ia bersembunyi di sektor lain dan mengajak anak-anak di sana bermain―ya Tuhan, atau setidaknya jangan sampai ia mengganggu keheningan malam milik Vincent dan menggoda Monalisa lagi!”

Tahu-tahu Bibi Min pergi meninggalkan Umji, berlari dan menghilang di balik belokan sebelah kanan ruangan.

“Kok, aku ditinggal .…”

Pandangannya kembali pada lantai, terdapat genangan air dengan beberapa ranting juga dedaunan serta tanah berpasir yang sudah berubah menjadi lumpur. Pecahan kaca juga masih teronggok di sana, nyatanya petugas kebersihan maupun satpam seperti yang dibilang Bibi Min tadi belum datang ke sektor D ini.

Butuh beberapa detik, sampai Umji kembali pada kesadaran penuh dan ingin sekali menjambak rambut Vernon atas kekacauan yang dibuat oleh pemuda itu.

“KAK VERNON SIALAN, DASAR MENYEBALKAN!”

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s