Stay [Chapter 24] #HSG Book 2 ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || Teen || chaptered

Sequel dari Hello School Girl 

Terinspirasi dari: Missing You (Lee Hi), Say You Won’t Let Go (James Arthur), Treat You Better (Shawn Mendes), When I Fall in Love (Bolbbalgan4), Wish You Were Here & My Happy Ending (Avril Lavigne)

Cast: Oh Sena (OC), Oh Sehun (EXO, cameo), BTS Member, EXO member, Yoon Hee Joo (OC), etc.

**

Hello School Girl

Chapter 1

Previous Chapter

Tanggal pernikahan mereka telah ditentukan. Keduanya sudah sepakat untuk menikah dalam waktu dekat. Sehun pun merestui dan menyetujui keputusan mereka. Hanya terhitung hari lagi Sena akan mengganti marganya dengan marga Jeon.

Hari-hari sebelum pernikahan, mereka sibuk mengurusi keperluan pernikahan dan menyebarkan undangan. Semua teman SMA mereka diundang. Juga teman sejurusan Sena, teman sejurusan Jungkook dan relasi bisnis Oh Corp. Pernikahan ini akan digelar dengan sangat mewah karena banyak eksekutif yang akan datang untuk memberi selamat pada pewaris tunggal Oh Corp sekaligus untuk menyambut seorang direktur baru yaitu Jeon Jungkook yang rencananya akan menjadi tangan kanan Sehun dalam menjalani perusahaan.

Jimin turut berkontribusi dalam pernikahan ini sebagai penanggung jawab acara. Daripada kedua calon pengantin, dialah yang paling sibuk. Karena dia harus benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, demi saudara dan sahabatnya. Dia menyebar undangan ke rumah teman-teman SMA-nya. Mengontak para wedding organizer, menyiapkan lokasi yang cukup untuk diisi semua tamu undangan, mencarikan butik untuk gaun dan jas kedua pengantin, dan lain-lain. Sampai-sampai dia lupa makan.

Kalau sudah begitu, pasti Yeon akan mati-matian mengomelinya.

Yah … faktanya, Jimin berkencan dengan gadis imut tapi konyol itu. Baru seminggu sih, tapi kelakuan Yeon padanya sudah seperti mereka telah berpacaran lama. Yeon itu tukang mengomel, tidak seperti ibunya, Hyemin yang dari sononya sangat kalem sampai-sampai membuat orang sungkan untuk menggertaknya. Ah, kenapa jadi membahas Jimin dan Yeon?

Harusnya saat ini kita membahas tentang bagaimana Sena bersikeras memberikan undangan pernikahannya sendiri pada Yoongi. Tampak gadis itu tengah mondar-mandir mengikuti Jungkook yang tengah merajuk. Dia sudah mengutarakan keinginannya itu dan sesuai dugaan, Jungkook menolak.

“Ayolah Kook-a, sekali saja. Ini yang terakhir, aku janji.”

Jungkook tetap menggeleng. “Kubilang tidak, ya tidak.”

Sena mengerucutkan bibirnya. Dia mengekor saat Jungkook pergi menuju kulkas. “Aku bersumpah tidak akan ada yang terjadi. Hanya memberikan ini saja. Plisss, sekali saja.”

“Kau bisa suruh Jimin memberikannya,” balas Jungkook cuek sambil meneguk air dingin di sebuah botol.

“Jimin tidak mau menemuinya. Kau ‘kan tahu sendiri bagaimana mereka saat terakhir kali mereka bertemu?” Sena mencoba berdalih. Padahal sebenarnya Jimin oke-oke saja. Toh dia bisa mengirimkan undangan itu lewat jasa pengiriman karena Yoongi tinggal di Amerika.

“Memang apa peduliku?” ketus pria itu sembari memasukkan kembali botol itu ke dalam kulkas lalu bergegas menuju sofa di ruang tengah Sena. Berniat melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.

“Kook-a~~ Jebal~~ Sekaliiii saja aku—”

Sena tersentak saat tiba-tiba Jungkook berhenti dan langsung berbalik padanya. Jarak mereka terlalu dekat. Dia pun mendongak. Bertemu pandang dengan Jungkook yang tengah menatapnya tajam penuh intimidasi.

“Beritahu aku, kenapa kau sangat ingin bertemu dengannya? Hanya karena ingin memberikan undangan? Jimin bisa melakukannya, toh dia juga sedang di Amerika ‘kan? Atau jangan-jangan, kau sudah membuat janji dengannya? Di belakangku?!”

Nada suara Jungkook yang meninggi spontan menggetarkan tubuh Sena. Jungkook tidak pernah membentaknya seperti ini, dan sekarang Jungkook melakukannya. Mata pria itu nyalang, dan tampak mengerikan sama seperti saat mereka menghadiri reuni kecil sebelum pernikahan Jenny-Namjoon. Entah kenapa dia takut sekali, takut melihat Jungkook seperti ini. Kini dia merasa kondisinya seperti seekor kelinci kecil yang sedang berhadapan dengan serigala yang marah. Sekali saja bergerak, habis sudah.

Takut-takut Sena menelan ludahnya.

Konyol. Bahkan sudah dibentak pun sifat keras kepalanya masih ada.

“A-aku memang menyuruhnya untuk datang ke Korea. Tujuanku hanya ingin memberikan undangan ini secara langsung. Dan … dan … dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. T-tidak bolehkah?”

Sebut saja Sena idiot padahal IQ-nya 140. Sudah tahu Jungkook tidak memperbolehkannya, demi apa sekarang malah menanyakannya lagi.

Pria itu hanya bisa menyeringai tak percaya. Sebegitu inginnyakah calon istrinya ini bertemu dengan Yoongi? Tidak tahukah Sena kalau dia tengah berusaha mati-matian untuk menjauhkan Sena dari jangkauan pria bermarga Min itu?

Makin tak tahu diri, Sena mengulurkan tangannya. Mencengkram ujung kemeja Jungkook, menarik-nariknya pelan. “Kumohon Kook-a, sekali saja. Aku pastikan tidak ada apa pun yang akan terjadi di antara kami. Tolong percayalah padaku.”

“Aku? Mempercayaimu? Yang benar saja,” desah Jungkook lelah. Kembali ditatapnya tajam gadis di hadapannya ini. “Aku tahu kau seperti apa, Sena. Kau pikir aku bisa memercayaimu begitu saja? Hanya berdua dengannya? Hah. Andwae. Sekali tidak, tetap tidak.”

“Kook-a~~” Sekarang Sena mengeluarkan jurus keduanya. Aegyo. Dia memang paling bisa bertingkah kekanak-kanakkan tiap kali membujuk seseorang. Bibirnya manyun, matanya membulat minta dikasihani, tangannya menggoyang-goyangkan ujung baju Jungkook ke sana kemari.

Berhasil. Jungkook pun menghela napas, mengaku kalah. Dia mengangguk pasrah. Memaksa tangan Sena untuk lepas dari bajunya, berbalik dan langsung duduk di depan layar laptopnya lagi.

Diamnya Jungkook entah kenapa membuat Sena merasa tak enak hati. Dia pun segera menghampiri pria itu, duduk di sampingnya. Seperti halnya dia tadi yang mencoba mendapat persetujuan Jungkook, sekarang dia ber-aegyo untuk mengambil perhatian pria itu.

“Kook-a, kau marah? Jangan marah, kau jadi jelek kalau marah. Kita ‘kan mau menikah, apakah kau ingin tampil jelek di hari pernikahan kita? Kook-a, jawab aku. Kau sengaja mendiamkanku?”

Jungkook tak bergeming sama sekali meskipun Sena mengguncang tubuhnya. Dia tetap menatap lurus pada layar laptopnya. Mau berusaha mencerna tulisan-tulisan itu seperti apa pun, dia akan tetap kalah karena Sena sanggup menyedot seluruh konsentrasinya bagaikan lubang hitam.

Tak ada jawaban dari Jungkook, Sena pun merebahkan kepalanya di paha pria itu. “Kalau kau tidak mau bicara padaku, tidak apa-apa. Aku akan terus mengoceh sampai kau mau meladeniku.”

Jungkook hanya membiarkan paha kirinya dipakai sebagai bantal sementara tangan kirinya dibuat mainan. Matanya masih bergerak-gerak kecil dengan pandangan lurus pada laptop. Baris per baris kalimat dipahaminya benar-benar. Berusaha untuk menjejalkan semua itu ke memorinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menggerakkan roda tetikus. Sayang sekali. Semua itu tidak berhasil karena Sena benar-benar mengoceh ria di pangkuannya.

“Kau tahu siapa cinta pertamaku? Dia adalah Yoo Kihyun.”

Jungkook nyaris kalap kalau dia tidak sadar sedang dalam mode apa sekarang.

“Dia itu tampan, suaranya bagus, baik lagi. Kau pernah lihat sendiri ‘kan? Aku pernah dekat dengannya. Sampai-sampai seluruh sekolah heboh melihatku berjalan berdua dengannya. Wah … di hari itu aku merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia.”

Sena mendongak. Mencoba menebak apakah Jungkook bereaksi atau tidak. Dia merengut kala mendapati fakta kalau Jungkook terlihat sangat santai. Padahal yang sebenarnya, Jungkook sedang mati-matian menahan emosinya.

“Tapi gara-gara istrinya Latte Oppa, dia berubah menjadi orang yang berbeda. Padahal waktu itu hampir saja aku berkencan dengannya. Sial.”

Jungkook melepaskan pegangannya pada tetikus, menggunakan tangan kanannya untuk menutupi rahang bawah. Sena tidak boleh tahu kalau giginya sedang bergemerutuk tegang sekarang.

“Tapi ya sudahlah. Toh setelah itu Yoongi datang. Aku sudah menyukainya bahkan sebelum mengetahui kalau dia adalah pria. Aku berharap Yoonji yang kusuka adalah pria, bukan wanita. Dan Tuhan sepertinya mengabulkan permintaanku itu. Dia benar-benar seorang pria. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu?” Sena lagi-lagi mendongak. Tersenyum tipis saat mendapati urat di leher pria itu timbul ke permukaan. “Sama bahagianya seperti saat kau melamarku.”

Jungkook pun memperlihatkan sedikit rasa marahnya. Pria itu memukul lutut kanannya sekuat tenaga dengan kepalan tangannya. Tapi dia masih tidak mau bicara, itulah yang membuat Sena melanjutkan ceritanya.

“Akhirnya aku tidak perlu takut akan berubah menjadi lesbian gara-gara menyukainya. Aku mengungkapkan padanya kalau aku menyukainya. Dan kau tahu bagaimana reaksinya?” Sena tersenyum miris sebelum melanjutkan. “Dia berusaha mati-matian menjauhkanku darinya. Banyak sekali alasan yang dia katakan. Tapi mata tidak pernah bisa berbohong. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana dia mencintaiku jauh lebih besar dari aku mencintainya. Bahkan hal sekecil itu saja selalu membuatku luluh.”

Napas Jungkook terdengar gusar. Sekarang dia telah berada di puncak kesabarannya. Dalam hati dia memohon pada Sena untuk tidak melanjutkan ceritanya. Dia tidak mau kalap, tidak kalau itu bisa saja menyakiti Sena.

Sialnya Sena sama sekali tidak sanggup mendengar kata hatinya.

“Karena selalu luluh itulah aku juga mati-matian mempertahankannya. Aku tidak peduli meskipun kami tidak akan pernah bisa bersatu, yang penting dia mengizinkanku untuk terus mencintainya. Aku yakin, meskipun dia menolak, sebenarnya dia sangat menginginkan itu. Cih, pria itu. Terkadang aku merasa begitu lucu saat berhadapan dengannya. Sekarang dia mendorongku pergi, tapi besoknya dia memelukku dengan erat. Dia sangat sulit dibaca.”

Sena terkesiap saat tangan Jungkook yang sejak tadi dipakainya sebagai mainan tiba-tiba mencekal tangannya kuat. Hanya butuh beberapa detik sampai dia merasakan sakit yang mencekik di bagian tangannya itu. Reflek dia pun mendongak, membalas tatapan Jungkook yang ternyata juga sedang menatapnya tajam. Seolah melarangnya untuk bicara lebih jauh lagi.

Tapi Sena tidak mau berhenti, karena Jungkook belum juga bicara padanya. Meski sambil meringis, dia tetap melanjutkan ceritanya. “Setelah itu … ssshhh setelah itu kau datang dengan maksud membantuku untuk melupakannya. Aku mencoba untuk tak menggubrismu, karena kupikir … kupikir itu akan sia-sia. Tapi ssshh berita meninggalnya kedua orangtuamu berhasil membuatku seketika melupakan Yoongi. Awalnya jujur, itu hanya sebuah perasaan iba, simpatik dan bersalah. Lalu setelah aku selalu bersama denganmu, menemanimu melewati hari-hari berat selama hampir dua tahun, akhirnya aku sadar. Perasaanku padamu masih ada, Kook-a. Kau … kau tahu maksudku ‘kan? Aku suka dengan tatapan meyakinkanmu. Yoongi tidak memilikinya. Kihyun juga tidak. Hanya kau saja yang memiliki tatapan seperti itu padaku. Bahkan meskipun kau sudah kukecewakan berkali-kali.”

Perlahan cekalan di tangan Sena berangsur mengendur. Si pemilik tangan kekar itu kini hanya menggenggam tangan Sena lembut, seperti yang dia lakukan biasanya. Sorot matanya pun tidak lagi tajam seperti awalnya. Mata itu berubah sendu.

“Darimana kau belajar mengetahui jenis tatapan orang? Kenapa kau bisa dengan mudahnya menyimpulkan begitu?”

Sena menggendikkan bahu. “Insting seorang wanita sangat tajam, Kook-a. Aku ini pembaca mata yang baik.”

Jungkook tersenyum miring, merasa sedikit konyol mendengar pernyataan itu dari mulut gadisnya. “Dasar aneh.”

“Aku benar-benar sudah melupakannya, Kook-a. Tidak bisakah kau membiarkanku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya? Semua cerita butuh epilog, dan aku ingin membuat epilog itu besok. Kumohon, biarkan aku sekali ini saja. Ya?”

Jungkook teramat menyayangi Sena, dan dia tidak mau siapa pun merebut Sena darinya. Sena itu sudah seperti pengganti ibunya yang telah tiada, keluarga untuk dia yang sebatang kara. Tidak bolehkah Jungkook bersikap sedikit egois, demi kebahagiaannya sendiri?

Sena boleh meminta apa pun darinya. Tapi tidak dengan bertemu Yoongi atau Kihyun lagi. Dua orang itu adalah pantangan. Hanya akan menjadi racun kalau Sena memintanya. Tidak, Jungkook tidak mau lagi mengalah pada mereka. Dia juga ingin bahagia. Dan satu-satunya hal yang dia inginkan di dunia ini hanyalah Sena, cinta pertamanya.

Ia pun mengecup dahi Sena lama. Matanya dan mata itu kembali beradu. “Baiklah, kau boleh menemuinya. Dan ini adalah yang terakhir kalinya.”

Secercah senyum bak sinar mentari pagi pun muncul di wajah Sena. Gadis itu langsung menarik tubuhnya untuk duduk, menatap Jungkook lekat, memastikan apakah Jungkook serius dengan kalimatnya barusan.

Pria itu mengangguk. Lemah. “Temui saja dia.”

Tiga kata itu otomatis membuat Sena berjingkat padanya dan memeluknya erat sekali sambil memekik senang. Dia ikut tersenyum melihat senyum gadis itu. Tapi hanya dia yang tahu bagaimana perihnya dada kirinya saat melihat keceriaan gadisnya.

Dia cemburu.

TBC

Bisakah kalian luangkan waktu sedikit buat milih tokoh cewe? tolong ya, dari 8 ini pilihkan peran yang pas untuk Sena, Heejoo, Woohyun (istri hoseok), Yeon, Soomi sama Sehyun. 

Kalo aku sih, 1. Heejoo, 2. Yeon, 3. Sena(1), 4. Woohyun, 5. Sena (2), 6/7 Sehyun, 8. Soomi. Nah aku bingung, kira2 Sena sama Sehyun itu yang mana yang cocok? Sena ‘kan kugambarkan angkuh, Sehyun tuh tomboy & suka pake ikat ponytail. Kira2 lebih cocok yang mana nih?

Advertisements

11 responses to “Stay [Chapter 24] #HSG Book 2 ~ohnajla

  1. Naaah kan. Aku jg kak. Sena yg 3. Atau 6. Ekekeke
    Kalau yg lain nya mah manut ajaaa 😂😂
    Oooh ottokae. Merreka mau nikah.

  2. Mereka sebentar lagi akan nikah, tapi jungkook masih takut kalo sena berpaling darinya. Gak bisa milih karakter wanita nya yang mana ?

  3. Aaa aku sama dengan kamu paling suka kalo sena no. 5
    Umm btw map baru komen tapi aku slalu ngikutin karyamu bahkan sering buka blog kamu thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s