My Allergic, Your Baby’s Breath and Our Summer – Angelina Triaf

Angelina Triaf ©2017 Present

My Allergic, Your Baby’s Breath and Our Summer

Kim Hongin (Boys24) with You | Fluff, Slice of Life | G | Ficlets

0o0

[1]

Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya banyak cerita yang belum sempat dikenang dengan baik olehku. Misalnya saja saat pertama kita bertemu. Kau ingat, tidak? Waktu itu langit sangat cerah dan aku menggerutu sebal lantaran kulitku yang tiba-tiba berubah kemerahan dengan sangat cepat.

Mungkin bagimu agak aneh melihat laki-laki yang mudah sekali terserang alergi. Uh, aku pun sering merasa bahwa ini memalukan―ralat, sangat.

Tapi kenapa? Ah, hal ini sebenarnya ingin kutanyakan padamu sejak awal. Kenapa kau datang saat itu padaku? Ya, jika kau ingin bilang kalau kau datang karena saat itu aku tengah berada dekat dengan toko bunga milikmu maka aku akan terus meminta alasan lainnya.

Takdirkah? Sepertinya bukan. Karena kautahu? Sebenarnya ada satu hal lagi yang membuatku alergi lebih parah daripada sinar matahari.

Bunga putih pecil menyebalkan yang waktu itu tengah kau genggam ketika menghampiriku.

0o0

[2]

Keinginanku berkembang menjadi seandainya saja aku terlahir sebagai pahlawan super yang kebal terhadap apa pun. Tapi nyatanya bukan, karena musim panas ini semakin menyebalkan saja rasanya. Aku sedikit penasaran, sebenarnya. Dari mana kau mempelajari senyum itu? Kulihat selalu saja sama dari hari ke hari.

Beruntungnya menjadi dirimu karena bisa selalu bercengkerama dengan bunga-bunga itu. Jujur saja, pertama kali aku mengira bahwa kau adalah sejenis gadis penyendiri yang lebih memuja bunga ketimbang bergaul dengan teman-teman sebaya kita.

Tapi, lagi-lagi aku kembali berpikir atas semua ini. Kenapa aku justru menganggap hal-hal yang kau lakukan itu sebagai suatu kelumrahan? Mengucapkan selamat pagi pada mereka saat pertama kali kau membuka toko. Mengajak bicara saat kau akan menyiram atau memangkas dedaunan mereka yang telah layu. Bernyanyi lagu kesukaanku saat kau tengah merangkai bunga putih kecil kesayanganmu itu.

Tunggu. Lagu kesukaanku?

Dan kenapa kau sangat menyayangi benda kecil menyebalkan itu?

0o0

[3]

Kau bilang kalau sebaiknya aku tak mengunjungimu tiap hari dengan alergi menyebalkanku ini.

Kau ingin tahu, Nona? Aku bahkan telah menolak sepuluh ajakan teman-temanku untuk berlibur ke pantai hanya demi alasan konyol satu ini. Bahkan aku rasanya sudah kebal dengan rasa gatal dan ruam kemerahan tipis di kulitku akibat pancaran sinar mentari musim panas.

Sungguh konyol, dan rasanya sangat aneh. Aku tak bisa menghentikan semua ini begitu saja. Salahkan dirimu, karena memang dari awal semua ini salahmu.

Perlu diingat bahwa aku bukan tipe lelaki yang suka disalahkan, bukan pula seseorang yang mengamini perihal ‘Jika wanita menabrak tembok, maka temboknya yang harus minta maaf’. Salahkanlah dirimu yang datang padaku, tersenyum padaku dan menanyakan keadaanku dari awal kita bertemu.

Iya, pokoknya ini semua salahmu.

0o0

[4]

Kali ini kau bercerita perihal arti dari tiap-tiap bunga―lagi. Sialnya, mungkin hari ini adalah batas toleransiku yang terakhir. Aku harus segera ke dokter sebelum semua ini semakin parah, sebelum kau tahu bahwa alergiku ini bukan hanya perihal sinar matahari semata.

Semua yang kudengarkan darimu mungkin hanya akan masuk telinga kiri lalu terpental jauh sebelum sempat masuk ke gendang telingaku yang satunya. Untungnya mataku masih bisa fokus menatapmu, melihat bagaimana dirimu dengan pancaran mata tulus itu masih merangkai bunga untuk pernikahan seseorang tiga hari lagi. Ah, kuingat kemarin kau sempat berkata betapa menyenangkannya melihat upacara pernikahan, apalagi dengan dekorasi dan bunga-bunga yang ada di sana.

“Kau tahu mengapa aku sangat menyukai bunga ini, Hongin?”

Seperti biasa, kau berkata tentang keunggulan bunga putih menyebalkan itu. Inilah yang membuatku semakin tak mengerti mengapa orang-orang mau mengambil risiko untuk merasakan sesuatu yang tak mereka sukai demi orang lain.

“Apa bagusnya bunga putih kecil jelek itu―”

“Namanya baby’s breath, Hongin.”

“Iya, apa pun itu.”

Tanpa sadar aku sudah menggaruk-garuk lenganku dan duduk seperti orang bodoh yang mendengarkannya mendongeng.

“Aku menyukai baby’s breath ini karena ia melambangkan―”

“Melambangkan cinta sejati yang tak pernah berakhir. Aku sudah hafal di luar kepala.”

Dan juga dirimu yang akan tersenyum padaku seperti itu. Ya, apakah pernah kukatakan kalau aku telah hafal keseharian ini di luar kepala?

“Itu satu. Alasan lainnya adalah karena baby’s breath ini telah mengantarkanku pada seseorang yang selama ini aku cari. Seseorang di musim panas.”

Matanya menatapku, dan mataku pun melihat lurus ke arahnya. Mau tahu apa yang ada di dalam pikiranku saat ini?

Sepertinya alat pendengaranku menjadi sedikit bermasalah. Seharusnya aku bisa mendengar kalimat semacam ‘aku mencintaimu’ yang biasanya para gadis ucapkan setelah memberikan kode pada lelaki di hadapannya. Tapi nyatanya hanya senyum manis itu yang lagi-lagi ia perlihatkan padaku.

Drama sialan. Alergi sialan. Musim panas menyebalkan.

Baby’s breath―ah, sudahlah. Banyak mengumpat tidak baik bagi kesehatanku.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s