[Oneshot] Falling – by A.S. Ruby (Side Story of “That Man and That Woman”

falling.jpg

Presented by:

A.S. Ruby

 

Main Cast: Oh Sehun & An Original Character (OC) || Genre: AU, Romance, Hurt, a little piece of Life Lesson, etc || Rated:  T/PG-15 || Length: Oneshot (3,3k+ words)

 

Disclaimer

Inspired by several peculiar love stories written by an Indonesian author, Seno Gumira Ajidarma, this story is made. I own nothing except the poster and the story line; there’s no money-making here of course.

 

.

For you who haven’t read the main story, you could read it by clicking the link below:

“That Man and That Woman”

.

.

 

“In fact, he never truly loved me. No matter how hard I tried. Because his soul and thoughts belonged to someone else that I couldn’t replace.”

 

.

 

Pernahkah kau membayangkan bagaimana rasanya menjadi pihak ketiga?

Sebab itulah yang kurasakan tiap kali aku memandang wajahnya, laki-laki yang sudah membuatku jatuh cinta selama lebih dari satu tahun lamanya.

Aku masih hafal betul bagaimana gurat senyum kerap kali terbentuk di antara dua sudut bibir itu—dulu. Bagaimana bibirnya sontak bergerak cepat seolah tak akan berhenti tiap kali aku menanyainya proses penggarapan novel yang dia kerjakan. Sebagai dua orang yang sama-sama mencintai dunia literatur dengan segenap hati, aku tahu betul bagaimana laki-laki itu menikmati setiap kata yang muncul dari nuraninya.

Percakapan yang bergulir di antara kami memberikan hidup bagiku.

Perlahan-lahan memberiku motivasi untuk bangkit kembali setelah diterpa keterpurukan: seorang ahli kejiwaan menyatakan bahwa aku depresi. Disebabkan oleh kematian calon suamiku yang tewas lantaran kecelakaan teknis di perusahaan kilang minyak tempatnya bekerja. Wu Yifan-ku. Menjelang tiga bulan pernikahan kami yang seharusnya diselenggarakan di Guangzhou, kampung halamannya, takdir justru memanggilnya untuk pergi terlebih dahulu.

Jiwaku otomatis hancur berkeping-keping. Kupikir pergi jauh sejenak dari kehidupan normal akan membuatku merasa lebih baik—dan di sanalah aku bertemu dengan sosoknya. Seorang laki-laki idealis yang membuatku jatuh cinta dengan sikap visionernya, memicu kekagumanku tiap kali dia menceritakan mimpi-mimpinya kepadaku.

Namanya Oh Sehun.

Kami bertemu pada satu-satunya toko buku besar yang terletak di pusat wilayah Jeju. Suatu kebetulan memang kami hendak mengambil buku yang sama, dan tanpa bisa kuhindari sama sekali, ketidaksengajaan itu justru menjadi jembatan perkenalanku dengannya: manusia yang satu itu. Katanya, pada hari pertama kami berkenalan, dirinya adalah seorang novelis—bergelut pada genre filosofi hidup, khususnya.

 

Ø

 

“Bagaimana pendapatmu tentang hidup?”

Pada pertemuan pertama kami setelah berkenalan, dia menanyaiku perihal yang satu itu.

“Life…” Aku menghela napasku perlahan, menatap pandangannya yang selalu berbinar tiap kali membicarakan filosofi suatu aspek. “Sucks, Oh Sehun.”

Kala itu, kuharap dia akan memandangku aneh lantaran jawabanku yang jelas-jelas tidak memenuhi ekspektasinya. Meskipun sesungguhnya, memang, aku hanya sedang berusaha jujur dengan sosoknya—juga diriku sendiri. Hidup sedang tidak ramah kepadaku, calon suamiku sudah pergi ke alam baka, dan kini aku sendirian. Apakah mungkin aku berbual dengan mengatakan bahwa hidup itu indah?

Tidak akan.

Kupandangi bagaimana seulas senyum tipis terbentuk di wajahnya hari itu. Persis seperti rembulan yang bersinar di tengah polosnya langit malam. Di dalam diam, sesungguhnya aku terpana, tetapi kusimpan rasa itu rapat-rapat agar dia tak tahu.

Setidaknya, bukan untuk saat itu.

 

Ø

 

“Hal apa yang kaupikirkan hampir sepanjang waktu?”

Pada konversasi kedua kami, Sehun menanyakan aku persoalan itu.

“Kurasa tentang Yifan. Sudah hampir dua tahun dirinya pergi, tetapi rasanya sulit bagiku untuk merelakannya.”

 

Ø

 

“Apa ketakutan terbesarmu?”

Waktu itu pertemuan ketiga kami. Di tengah pembahasan penggarapan novelnya yang sengaja didiskusikan denganku, Sehun mencetuskan pertanyaan tersebut. Lalu entah mengapa, hal itulah yang justru membuat darahku semakin berdesir melihatnya; diam-diam mempertanyakan bagaimana mungkin ada seseorang yang sepeduli ini terhadap perempuan yang ditinggal mati oleh calon suaminya sepertiku.

“Ditinggalkan, Oh Sehun.”

Aku menganggukkan kepalaku mantap.

“Aku takut ditinggalkan. Lagi.”

 

Ø

 

“Dan kau, apa ketakutan terbesarmu?”

Ketika pertanyaan itu balas tercetus spontan dari bibirku, wajah murah senyum miliknya seketika membeku. Tidak ada lagi pancaran semangat hidup yang selama ini melekat di wajahnya, semuanya musnah begitu saja terlebih begitu aku mengulangi pertanyaanku.

“Bolehkah aku tahu? Ketakutan terbesarmu, Sehun?”

Kuperhatikan bagaimana jemarinya bergemeletuk di atas meja untuk menenangkan diri. Wajahnya yang pada dasarnya sudah pucat tampak semakin pucat tiap kali matanya bertatapan dengan mataku seolah mencari pertolongan.

“Aku takut tidak akan mampu membahagiakan Byul dan Joon.”

“Siapa mereka?”

“Istri dan anak laki-lakiku.”

Pada hari itu, aku menyadari satu hal: andai aku tetap bertekad untuk dapat bersamanya, tidak kecil kemungkinanku menjadi pihak ketiga. Apabila aku tetap bersikeras, akan ada hati perempuan lain serta seorang bocah kecil tidak bersalah yang akan menjadi korban atas ulah tololku.

Tetapi aku terlalu egois, terlalu buta untuk melihat fakta itu.

Sebab yang kuyakini saat itu ialah cinta adalah kodrat bagi setiap manusia. Merupakan hakku untuk jatuh cinta kepada siapa pun—meskipun sosok yang kucintai justru telah menjadi milik seseorang.

 

Ø

 

I loved him. Too much.

I was falling into him.

I’d fallen too deep.

 

Ø

 

Terkadang, aku kerap mempertanyakan apakah memang cinta kerap muncul pada situasi yang salah? Atau cinta itu sendirikah yang salah? Namun demikian, bukankah cinta merupakan kodrat Tuhan yang ditetapkan-Nya kepada umat manusia? Apakah aku lantas harus dipersalahkan sepenuhnya jika aku jatuh cinta pada seseorang yang telah dimiliki hatinya oleh orang lain?

Sebab cinta adalah sesuatu yang berada di luar ambang batas kuasaku. Bukan aku yang memutuskan untuk jatuh cinta kepadanya. Andai aku dapat lari dari perasaanku sendiri, akan kulakukan segalanya untuk menghindar—meski nyatanya, aku tidak bisa.

Aku terlalu mencintainya sampai-sampai aku tak sanggup melepasnya. Egois memang. Namun, bukanlah cinta jika tidak tersisip kehendak untuk memiliki di dalam hatimu. Kedengarannya memang salah bahkan mendekati sifat posesif, tetapi paling tidak, aku bukan seorang pendusta yang mengatakan sesuatu tidak berdasarkan kata hatiku sendiri.

Yang kutahu, aku mencintainya.

Kehadirannya sebentar saja untukku pun sudah lebih dari segalanya.

Laki-laki itu, Oh Sehun, adalah hidupku.

 

Ø

 

“Ada satu hal yang ingin kukatakan kepadamu.”

Hari itu, pada pertemuan kami yang entah telah keberapa kalinya, aku menyatakan pengakuanku kepadanya.

“Kurasa aku mencintaimu.”

 

Ø

 

Aku adalah perempuan yang selama ini hidup dalam kekosongan dan dirinya adalah laki-laki yang merindu.

Oh Sehun selalu berkata bahwa dia merindukan keluarganya; ingin berjumpa dengan Byul juga Joon yang berada jauh di ibu kota sana. Meskipun demikian, sikap keras kepala serta gigihnya mempertahankan dirinya di sini. Janjinya untuk menyelesaikan novel terbaru sekaligus terbaik karyanya adalah sesuatu yang dipegangnya erat, Sehun tidak akan kembali menetap di Seoul jikalau belum berhasil menghidupi mereka dengan keadaan finansial mencukupi.

Pada mulanya, kami hanya berteman. Partner dalam sastra yang kerap bertukar pikiran di Pulau Jeju yang bukan tempat familiar bagi kami; aku kemari untuk lari dari kehidupanku sementara Sehun datang untuk mencari inspirasi terbaik bagi tulisannya.

Namun, satu hal yang kupelajari dari sini: laki-laki dan perempuan tidak selamanya mampu sekadar menjalin hubungan pertemanan. Akan ada gejolak untuk membawa hubungan itu melewati batasan-batasan pertemanan, setidaknya muncul satu rasa pada sebelah pihak—yang mana dalam skenario percintaan ini ialah diriku sendiri. 

 

Ø

 

Aku perempuan yang hidup dalam kekosongan dan dia adalah laki-laki yang merindu.

Ketika kami sama-sama menemukan ketidakberdayaan pada diri masing-masing, dalam suatu kesepakatan tak tertulis, aku dan dirinya memutuskan untuk menjalin hubungan ini. Suatu hubungan yang tentunya akan dilaknat sebagian besar pasangan yang meyakini hubungan teguh antara laki-laki dan wanita. Hubungan yang mungkin akan kau caci lantaran kau tidak tahu persis bagaimana rasanya menjadi aku.

Di dalam banyak cerita, orang ketiga selalu menjadi pihak yang bersalah, tokoh yang terjahat. Itu risiko terbesarku dalam mencintainya dan aku bersumpah berani melakukan apa pun demi kebahagiaanya. Sebab sebagaimana yang kukatakan sebelumnya, Oh Sehun adalah hidupku; satu dari segelintir manusia yang paling kucintai seumur hidup.

Aku tidak peduli orang lain akan berkata apa, bukankah toh tabiat manusia mencaci orang lain sudah biasa terjadi di dunia?

Aku telah jatuh hati padanya—terlalu dalam.

 

Ø

 

Kami adalah dua orang yang hanya berusaha mengisi kehampaan satu sama lain.

Selama satu tahun menetap di Jeju, Sehun hanya kembali ke Seoul setiap tiga bulan untuk bertemu keluarganya: Byul dan Joon. Biasanya dia akan menyiapkan berbagai hal untuk dibawa tiap kali akan berangkat; oleh-oleh dan mainan baru untuk Joon, draft novelnya yang akan didalami dan dinilai oleh Byul yang pecinta sastra juga, dan masih banyak lagi.

Dia menyiapkan segalanya, membuatku mau tak mau mengakui bahwa jauh di lubuk hatinya, Sehun mencintai mereka—lebih dari apa pun.

Jika di Jeju kami nyaris setiap hari menghabiskan waktu berdua, selama di Seoul Sehun justru tidak akan menghubungiku sama sekali kalau memang tidak sungguh penting. Biasanya dia akan menghabiskan waktu dua pekan penuh di sana, menjalani rutinitas hidup yang selalu dirindukannya setiap hari bersama mereka.

     

“Joon sudah semakin besar sekarang.”

     

“Ternyata Joon sudah mau mengkonsumsi sayur. Padahal dulu dia benci sekali.”

   

“Joon sudah bisa menulis namanya sendiri.”

   

Setiap kali kembali dari sana, Sehun seolah mendapatkan energi baru untuk secepatnya menyelesaikan novel karyanya. Ada pancaran kebahagiaan yang menyemburat di wajahnya tiap kali menceritakan perkembangan Joon, anak laki-lakinya, yang baru menginjak umur lima tahun. Oh Joon adalah putra semata wayang mereka yang hanya bisa kulihat wajahnya dari album foto milik Sehun di Jeju belaka; wajahnya adalah perpaduan sempurna antara Sehun dan Byul, istrinya.

“Hei, lihatlah. Joon memberikanku gambar ini sewaktu di Seoul.”

Pada kepulangannya setelah kali ketiga mengunjungi keluarganya, Sehun menghampiriku seraya menunjukkan secarik kertas penuh sketsa warna-warni coretan khas anak kecil.

“Bagaimana menurutmu? Bagus sekali, kan? Joon ternyata sudah pintar menggambar sekarang.”

Kupandangi gambar itu, bibirku mengulum senyum.

Meskipun sesungguhnya, tangisku nyaris pecah.

Goresan pensil warna ini seolah menamparku di tempat. Hatiku sakit menerima fakta bahwa aku tidak akan pernah mampu mendapat hal terbesar yang selama ini kudambakan dari Oh Sehun; menjadi pendamping hidupnya sesungguhnya.

Ada tiga orang yang sedang sedang bergandengan tangan tergambar di sana: seorang laki-laki dewasa, perempuan dewasa, dan seorang bocah cilik yang sedang tersenyum di tengahnya. Tertera pula tulisan Appa, Umma, dan nama Joon di bawahnya. Park Byul adalah ibu dari Joon, putra Oh Sehun, dan posisinya tidak akan pernah terganti sampai kapan pun jua.

Sehun masih terlalu bersemangat memerhatikan gambar putranya sewaktu aku diam-diam menangis di sisinya. Ada dua kalimat lagi yang ditulis Joon di atas gambar itu: Ayo cepat pulang, Appa. Kami merindukanmu.

“Sehun…”

Aku berusaha sebisa mungkin menahan getar suaraku.

“Kau merindukan mereka, kan?”

 

Ø

 

Faktanya adalah Sehun tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Aku bukanlah seorang perempuan yang senang berdusta, tetapi satu hal yang kuakui, Oh Sehun memang merupakan dusta terbesar yang pernah kuperbuat. Dia memang cinta dalam hidupku. Namun sebaliknya, tidak barang sedetik pun dia menjadikanku cinta dalam hidupnya. Mungkin aku yang terlalu naif hingga melupakan hal yang satu ini, terlalu bodoh untuk mendambakan hati seseorang yang telah tertaut pada pelabuhannya sendiri, perempuan itu.

Park Byul namanya.

     

“Bolehkah aku memanggilmu ‘Hun’ saja?”

     

Suatu hari aku pernah bertanya kepadanya, tetapi dia tidak merespon sama sekali. Biasanya, hal itu mengisyaratkan ketidaksetujuannya terhadap permintaanku. Bodoh memang. Seharusnya aku sadar bahwa hanya Byul, istrinyalah, yang berhak memanggilnya dengan nama itu.

     

“Bagaimana kabar Byul di sana? Kau selalu menceritakan tentang Joon, tapi tidak dengannya.”   

     

Bibirnya selalu bungkam tiap kali aku memunculkan nama perempuan itu dalam konversasi kami. Ada rasa bersalah yang tampak mengkilat di matanya tiap kali nama itu hadir.

     

“Baiklah. Jaga Joon baik-baik di sana, aku pasti akan segera pulang.”

   

“Sampai jumpa nanti, Byul. Aku merindukanmu.”

   

“Jaga kesehatanmu.”

   

Tidak jarang pula aku mendapatinya tengah menghubungi Byul di sela-sela pertemuan kami. Wajahnya selalu tampak berbeda tiap kali perempuan itu mengangkat teleponnya, mereka bahkan bisa berbincang berjam-jam lamanya jika sudah membahas topik yang sekiranya menarik. Terkadang mereka saling melepas canda—dan tidak pernah sekalipun aku melihat Sehun tertawa selepas itu selama bersamaku.

     

“Aku akan meneleponmu lagi nanti. Aku mencintaimu, Byul…”

   

“Sampai nanti.”

   

Raganya ada bersamaku, tetapi tidak dengan hatinya. Benar bahwa dia ada di sini bahkan terkadang memelukku sembari mengatakan semuanya akan baik-baik saja, menguatkanku untuk bangkit dari rasa depresiku, memintaku tetap kuat tiap kali aku merasa lemah—Oh Sehun selalu ada untuk hal itu. Secara fisik kami memang terhubung satu sama lain, dia memberikan segala yang mampu diberikannya untukku, tetapi jiwanya adalah suatu pengecualian.

     

“Aku mencintaimu.”

   

Tidak jarang aku mengatakan dua kata itu kepadanya dan dia membalasku dengan satu geming yang sudah cukup menyakitkan.

 

Ø

 

“Halo, Byul…”

Kala itu hubungan kami telah mencapai satu tahun sewaktu aku mendapatinya menelepon Byul kembali. Seharusnya kami sedang menikmati makan malam bersama jika saja Sehun tidak meminta izin padaku untuk ke balkon sejenak, jemarinya sibuk bergerak di atas ponsel layar sentuhnya. Byul lagi. Tanpa harus diberitahukan pun, aku sudah mampu menebaknya; perempuan itu selalu menjadi prioritas dalam hidupnya, terlebih beberapa bulan belakangan.

“Hei, kau sehat, kan? Bagaimana dengan Joon?”

Tak tahan sekadar terpaku sendirian di depan meja makan, aku memutuskan untuk bangkit dan berdiri di ambang pintu balkon tempat Sehun berada. Wajah Sehun tampak begitu serius, sudah lima belas menit percakapannya dengan Byul berlangsung, dan tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan menyudahinya secepatnya.

“Ya, aku pasti akan menjaga kesehatanku. Kau jangan terlalu mengkhawatirkanku, tetaplah fokus menjaga dan membesarkan Joon, Byul. Dan…”

Ada jeda yang sejenak muncul.

“Maafkan aku tidak mampu mendampingimu setiap saat. Maafkan aku karena tidak pernah dapat menjadi suami terbaik untukmu.”

Dadaku ditusuk sembilu.

Sakit rasanya menyaksikannya terus meminta maaf seperti ini—sebab mungkin akulah alasan utama yang membuatnya merasa tak mampu menjadi suami yang baik bagi Byul. Aku yang selama ini terlalu mengemis kasih sayang kepadanya, memintanya untuk tidak pergi meskipun aku tahu betul hatinya tak pernah ada untukku.

Lucukah jika kukatakan bahwa, sesungguhnya, faktor mendasar yang memicu terbentuknya hubungan kami justru rasa kasihan?

Sehun tak pernah mencintaiku, tetapi aku jatuh terlalu dalam.

“M—maafkan aku, Byul.”

Kuperhatikan bagaimana bibirnya bergerak pelan, mengutarakan permintaan maaf tulus itu kepada seorang perempuan di seberang sana yang selalu setia menanti kepulangannya. Raut gamang terlukis jelas di wajahnya dan hal itu semakin kentara sewaktu laki-laki itu mendapati suatu berita mengejutkan—setidaknya untuknya dan diriku saat itu.

  

“K—kau hamil?”

  

Kastil es yang selama ini berdiri tegak di hatiku kini hancur lebur.

Seegois apa pun aku, naluri perempuanku masih memiliki eksistensi untuk memahami hati perempuan lain. Dalam konteks ini seorang Park Byul yang sama sekali tidak menyadari bahwa seorang jalang sedang berusaha merebut hati sang suami darinya.

Maafkan aku, Byul.

Tubuhku bergetar hebat bahkan nyaris kehilangan keseimbangan. Kudapati Sehun tak lagi mampu berdiri tegap, tubuhnya merosot ke lantai dan suaranya kian berat. Aku tahu dia sedang berusaha menahan tangis, meski kutahu tidak akan mampu. Sementara mataku sendiri mulai sembab digenangi air mata, dadaku sakit menyaksikan manusia yang paling kucintai itu justru harus menahan sakit karena sikap egoisku.

“Byul, aku turut senang mendengar kabar itu,” suara Sehun terdengar samar-samar, sebaik mungkin dia berusaha menjaga tempo vokalnya, “bagaimanapun juga, aku ayahnya, kan?”

“Laki-laki mana yang tidak bahagia mendapati perempuannya mengandung buah hati mereka? Tolong jaga bayi kita selama aku jauh ya, aku akan segera kembali.”

 

“Aku janji, Byul.”

  

Ø

  

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu dan ini penting. Tolong jangan mengacuhkanku lagi tiap kali aku hendak membicarakan hubungan kita, Sehun.”

Malam itu juga, aku memintanya untuk berbicara empat mata denganku dan entah mengapa Sehun tak mengemukakan alasan apa pun untuk menghindar. Santapan makan malam kami sudah mulai dingin tatkala aku dan Sehun duduk berhadapan, membiarkan beberapa piring masakan yang kubuat khusus untuknya seharian sama sekali terbengkalai.

“Oh Sehun,” aku memanggil namanya, “sejak awal aku tahu ada yang salah dengan hubungan kita.”

Dia menundukkan kepalanya; seolah berusaha menghindarkan kontak mata dariku. Dua jam lamanya kami mendiamkan satu sama lain semenjak kabar itu datang dan perasaan bersalah menggelayuti hati masing-masing. Menyesali kesalahan yang telah kami perbuat terlalu lama—merenungi dosa kami pada perempuan itu, Park Byul.

  

“Yang pertama, biarkan aku untuk minta maaf.”

  

Mataku memanas kembali.

     

“Maafkan aku karena selama ini terlalu egois dalam mencintaimu. Aku tahu sejak awal hatimu tak pernah ada di sini, tetapi aku memaksamu untuk tetap tinggal. Mungkin memang bukan secara verbal, melainkan melalui tindakan-tindakanku yang bisa jadi membuatmu tak tega meninggalkanku.”

“Maafkan perempuan depresi yang selalu membuatmu kasihan ini, Oh Sehun.”

“Kau tahu,” bulir air mata pertamaku menetes, “kau tidak pantas menjalani hidup seperti ini, Sehun. Berada di sisi seseorang hanya karena merasa kasihan, bukan karena cinta. Mungkin sejenak aku bisa menjadi pelampiasan kerinduanmu pada Byul, tetapi aku juga sadar bahwa aku bukan Byul. Bukan perempuan yang sangat kaucintai…”

 

“Bukan perempuan yang rela kauperjuangkan sepenuhnya.”

 

Jumlah partikel oksigen yang beredar di udara seolah menipis drastis sewaktu aku menyampaikan hal itu kepadanya. Seharusnya aku bisa lebih kuat, tetapi pada nyatanya perasaanku sendiri telah mengalahkan tekadku untuk tegar.

“Maafkan aku, Sehun…”

Geming sejenak. Aku menggigit bibir menahan tangis yang semakin mendesak keluar.

“Andai Byul tahu, aku juga memohon maaf sepenuhnya kepadanya. Mungkin perbuatanku sudah terlalu hina hingga nyaris tak pantas mendapat pengampunan lagi, tetapi aku sungguh menyesal. Aku telah mengambilmu darinya, juga Joon kalian. Memaksamu untuk membagikan sebagian cintamu untukku hanya demi kepentinganku sendiri, aku sungguh-sungguh minta maaf…”

“M—maafkan aku.”   

Tiba-tiba saja, Sehun mengangkat kepalanya. Manik gelapnya menatapku setelah sekian lama.

 

“Aku juga minta maaf padamu, Jude…”

 

Dia memanggil namaku.

 

“Maafkan aku karena atas keputusan tololku jugalah kau menjadi korban pada hubungan ini. Aku yang bodoh dalam bertindak, sehingga baik kau dan Byul menjadi tersakiti atas ulahku. Aku sudah berusaha sebisaku untuk membuatmu merasa lebih baik, pada awalnya kupikir melalui hubungan ini.”

“Namun nyatanya, apa yang kita lakukan hingga saat ini memang sudah salah sejak awal…”

Kesepuluh jemarinya bergerak mencapai kedua tanganku, menggenggamnya erat.

“Kau tidak pantas untuk tersakiti, tetapi jujur, aku juga tidak bisa mencintaimu sepenuhnya. Jika kau tanya kenapa, aku juga tidak tahu persis alasannya. Sekeras apa pun aku berusaha, perasaan yang kumiliki kepadamu tidak lebih dari apa yang kurasakan saat aku pertama kali melihatmu.”  

“Kau tahu, Jude—Judith Lee,” suaranya membisikkan namaku lembut, “sejak awal aku melihatmu, aku tahu kau perempuan yang mengagumkan. Kau adalah perempuan cerdas yang kerap kali membuatku terpaku dengan pengetahuanmu. Tetapi di saat yang sama pula, aku menemukan ada sesuatu yang hampa pada sosokmu…”

“Judith Lee yang kukenal mengalami depresi. Lalu, aku menemukan alasannya saat kau menceritakan perihal kematian Wu Yifan kepadaku.”

“Menjadi temanmu adalah suatu kehormatan besar bagiku saat itu. Dengan senang hati aku mendengarkan keluh-kesahmu lantaran aku peduli.” Dia menjabarkan segalanya perlahan, sebisa mungkin meniti kata-katanya dengan baik agar tak menyakitiku.

“Lama-kelamaan, aku menjadi menyayangimu. Aku tak tega meninggalkanmu sendirian, meskipun diriku sendiri tersiksa merindukan perempuan yang paling kucintai di dunia jauh dariku, Park Byul.”

“Ada saat-saat tertentu di mana aku takut kau akan kehilangan kontrol dan bisa jadi membunuh dirimu sendiri. Sehingga ketika hari itu kau mengatakan bahwa kau mencintaiku dan memintaku untuk memulai hubungan ini, aku memutuskan untuk mengiyakannya. Walaupun memang, aku paham betul bahwa ini tidak benar.”

 

“Tidak seharusnya…”

 

Dia berbisik lemah.

 

“Tidak seharusnya aku melakukan ini. Aku yang terlalu gegabah dalam bertindak, terlalu sok tahu dalam menyelesaikan suatu masalah. Aku yang memasukkan diriku sendiri ke lubang neraka dan kini menyakiti kalian berdua…”

“M—maafkan aku, Judith.”

“Oh Sehun…”

Aku memanggil namanya, berusaha menginterupsinya agar tak terus menyalahkan diri sendiri.

 

“Berhenti minta maaf dan sadarlah ini bukan salahmu sepenuhnya.”

 

Aku yang terlalu egois dan Sehun yang mengasihaniku, seharusnya sejak awal aku menyadari bahwa dua hal itu justru merupakan dasar pertama pembentuk hubungan yang menyiksa ini. Bukan cinta yang membuatnya mendampingiku, bukan cinta pula yang membuatku ingin terus berada di sisinya—melainkan egoku sendiri.

“Daripada terus bertahan dan saling menyiksa diri, bukankah lebih baik jika kita menjalani hidup masing-masing sendiri? Jika memang kau hendak pergi sejak awal, aku akan melepasmu pergi. Aku tahu perempuan itu adalah rumah bagimu dan di sanalah pada akhirnya kau kembali sepenuhnya. Terlebih…”

Sakit.

Hatiku sakit tiap kali hendak menyampaikan pesan pelepasanku untuknya.

“Terlebih ada satu malaikat kecil lagi yang sedang menantimu untuk pulang, Sehun. Joon akan segera punya adik dan kau adalah ayah mereka. Kebahagiaan keluarga kalian sebentar lagi akan semakin lengkap, tidak baik aku merusaknya dengan kehadiranku.”

“Pulanglah ke tempat di mana kau seharusnya berada.”

Genggamannya pada pergelangan tanganku kian kuat. Pandangannya menunjukkan ketidakpercayaan yang begitu kentara padaku.

Aku menganggukkan kepala, berusaha tersenyum kepadanya. “Bagaimana pendapatmu jika ada seekor ikan yang hidup bebas di air justru dipaksa menjadi amfibi? Hidup di dua tempat yang jelas bukan habitatnya, apakah mungkin ikan itu dapat bertahan lama, Sehun?”

“Yang justru terjadi adalah ikan itu sekarat. Dia bisa saja mati sewaktu hidup di darat, padahal air adalah rumah baginya.” Tahu-tahu saja, air mataku mengalir lagi. “Kau sudah pasti bisa menebak siapa ikan itu, kan…”

“Ikan itu kau. Air itu Park Byul dan daratan itu aku.”

 

“Aku tak mau kau mati karena aku.”

 

Aku menganggukkan kepalaku yakin.

 

“Ini saatnya bagimu untuk pulang ke peraduanmu. Jikalaupun besok kau hendak pulang ke Seoul dan tidak akan kembali, aku rela, Sehun. Kau bahkan boleh menghapuskan memorimu tentangku sepenuhnya, lupakan saja namaku jika bisa. Kembalilah kepada mereka, keluargamu.

“Dan andai suatu hari kita berjumpa lagi, anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumya.”

“Judith…”

Tak ada yang lebih menyakitkan bagiku selain menyaksikan laki-laki yang paling kucintai seumur hidup justru tersiksa karenaku. Aku sudah jatuh terlalu dalam padanya, kebahagiaannya bahkan jauh lebih penting dari kebahagiaanku sendiri.      

     

“Dan jangan khawatir jika aku akan bunuh diri. Setahun bersamamu telah mengajarkanku banyak hal tentang hidup dan aku berterima kasih padamu untuk itu, ‘Hun’.”   

                  

“Izinkan aku memanggilmu dengan sebutan itu untuk kali terakhir, ya?”   

            

Untuk pertama kalinya, Sehun memenuhi permintaanku akan hal yang satu itu.  

     

“At the end of the day, I’ll be alright, Hun.”

      

Dan untuk terakhir kalinya, aku menautkan jemariku bersatu dengannya.

  

“You’ll be alright too.”

     

“So will Byul and Joon—do not forget about your future bundle of joy too, the baby, Hun.”

        

“Terima kasih untuk segalanya. Aku sangat mencintaimu…”

 

“Pulanglah pada Byul. Aku sudah rela.”

  

Ø

 

I was falling too deep that I let him go.

  

Fin

April 25th 2017

  

  

Author’s Note

Halo. It’s Ayu again.

Seperti biasa, selamat bagi para pembaca yang berhasil mencapai tahap akhir dari random fic ini! Bagi kamu yang sebelumnya pernah membaca tulisanku yang berjudul “That Man and That Woman” pasti bakal ngeh lebih banyak deh dengan alur yang ada di sini.

Sama dengan fic utamanya, tema yang diangkat adalah ‘cerita perselingkuhan’ yang kebetulan terinspirasi dari beberapa cerpen karya seorang sastrawan Indonesia, Seno Gumira Ajidarma, yang pernah aku baca dan membuat aku sadar kalau cinta itu bisa dilihat dari banyak sisi, bahkan dari sisi tergelap sekalipun. Tapi di lain sisi, sewaktu aku nulis ini, entah kenapa aku juga kepikiran posisi dan karakter Sehun itu mirip Mas Pras di film Surga yang Tak Dirindukan itu lho, lol. Oke, lupakan.

Once again, thank you for reading and it would be such an honor if you would like to comment too.

My best wishes are for you all and see you again!

  

Advertisements

7 responses to “[Oneshot] Falling – by A.S. Ruby (Side Story of “That Man and That Woman”

    • Thank you sudah membaca, Pio 😄
      Aku juga ngga kok, haha. Entah kenapa ‘tergelitik’ pingin nulis aja gitu.

  1. Terkuak sudah kisah di balik kehidupan sehun jauh disana. Salut sama kesadaran mereka berdua, kalo mereka bertahan bakalan bikin sedih baby joon kan kasihan

    • Baby Joon is surely going to be so sad if it goes on. Semoga kamu suka ceritanya ya. Anyway, thank you sudah berkomentar Jean 😀

  2. aku udah baca dari “THAT MAN AND THAT WOMAN” sampai side story nya. masih butuh sequel dari kedua cerita ini semoga sehun dan byul gak jadi cerai dan keluarga kecil mereka selalu bahagia ditambah akan hadir adiknya joon…
    dan judith menemukan cinta sejatinya hehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s