Be in Trouble – Angelina Triaf

Angelina Triaf ©2017 Present

Be in Trouble

Johnny Seo (NCT) & Wendy (Red Velvet) | Friendship, College-life | G | Ficlet

“But I’d love to be in trouble with you.”

0o0

Langkah kaki tergesa milik keduanya memang tak mampu untuk mengalihkan atensi tiap pasang mata yang berada di koridor yang sama. Namun bagi mereka pribadi, ini adalah hal yang benar-benar mengganggu karena menyangkut tentang masa depan mereka―jika tidak berlebihan disebut demikian.

“Kan sudah kubilang untuk tidak ikut campur, John.”

Tak peduli dengan sepatu haknya yang setinggi dua belas senti itu, Wendy masih juga mengentakkan kedua kakinya seiring langkah yang dipercepat. Ia sudah tak tahu lagi apakah Johnny mendengarkannya atau tidak untuk kali ini. Dasar pemuda bodoh.

Nyatanya, sangat mudah bagi Johnny untuk mengimbangi langkah cepat Wendy. Diberkatilah kaki jenjangnya yang memiliki langkah terlampau lebar itu. “Aku hanya ingin membantu, Kak.”

“Membantuku bukan berarti harus membuat kelulusanmu terancam gagal juga. Kau ini bagaimana, sih?”

“Ya, mau bagaimana lagi?”

Kini Wendy langsung menghentikan dirinya, membuat Johnny juga langsung terdiam dengan kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Tatapan Wendy kali ini cukup mengintimidasi, jika Johnny boleh jujur. “Kau tahu ‘kan kalau dosen botak satu itu tak akan membiarkanmu begitu saja? Tugas akhirmu tinggal selangkah lagi selesai dan dengan mudahnya kau tinggalkan begitu saja hanya karena mendengar kabarku yang cukup buruk kemarin lalu langsung menyusulku ke tempat survei tugas akhirku?”

“Tapi bayangkan saja jika aku tak datang tepat waktu, Kak. Kau bisa saja terluka lebih dari itu.”

You drop yourself to this big trouble that I made, John. I can’t deal with it.”

Sirat khawatir tergambar jelas di wajah Wendy, yang justru membuat Johnny entah kenapa lebih memilih untuk tersenyum ketimbang menunjukkan ekspresi lainnya. Sembari mengusap rambut gadis yang lebih tua darinya itu, Johnny balas berucap, “But I’d love to be in trouble with you. At least I know that you always in a good condition.”

Wendy selalu tahu bahwa berdebat dengan Johnny tak akan pernah ada habisnya. Maka ia hanya mencoba tenang dengan menghela napasnya, menjauhkan tangan Johnny dari rambutnya lalu tersenyum kecil, walaupun dengan sedikit paksaan.

“Baiklah, aku kalah. Yang terpenting sekarang kita harus temui dosenmu untuk mengklarifikasikan ketidakhadiranmu waktu itu.”

As you wish, Kak.”

Kini mereka kembali menyusuri koridor dengan lebih santai, khususnya Wendy yang masih mencoba untuk tenang lantaran Johnny yang memintanya. Ia tak akan pernah bisa mengabaikan Johnny, Wendy sangat tahu hal itu. Sebesar apa pun kemarahan atau kekesalannya terhadap pemuda itu.

Karena Johnny adalah temannya yang paling berharga, begitu pula sebaliknya. Mereka saling menjaga, dan Wendy masih berharap dalam hatinya bahwa masih ada kesempatan bagi Johnny untuk tetap lulus secepatnya.

Wendy hanya tak ingin menjadi beban, itu saja. Walaupun bagi Johnny tidaklah demikian. Ia tak pernah terbebani dengan apa pun yang Wendy lakukan dan hal apa yang ia perbuat.

Justru Johnny merasa bahwa dengan ia membantu Wendy, ia merasakan sebuah perasaan senang yang menggelitik dalam dirinya. Entah apa itu.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s