[CHAPTER 24] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Action–Incest-Thriller–PG-15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Line@ : @fbo0434t

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

Hee-Ra menguap beberapa kali, kepalanya agak pusing, kedua pahanya juga terasa pegal. Ia menilik jam weker di meja. Sudah pukul sembilan malam dan Hee-Ra belum mandi.

 

Oke, mari berusaha untuk tidak membicarakan soal kejadian beberapa jam lalu. Maksudku, ya… saat Hee-Ra dan Se-Hun melakukannya. Bukan karena Hee-Ra merasa kotor dan jijik pada diri sendiri, tapi karena membayangkan apa yang telah terjadi membuat pipinya memerah tak karuan.

 

Oh ayolah, kalau sudah seperti ini apa yang bisa dilakukan Hee-Ra? Bahkan nama Jong-In pun tak terlintas sedikitpun di kepalanya.

 

Hee-Ra bangkit dari kasur dan mengenakan jubah tidur. Perutnya keroncongan karena belum sempat makan sejak tadi siang. Ia mengikat rambut ke atas dan berjalan keluar kamar mencari sosok Se-Hun yang sudah tak ada di sampingnya.

 

Dapur adalah tujuan utamanya. Namun nihil, Hee-Ra tak menemukan siapapun di sini. Tidak ada pula makanan yang tersaji di meja makan, yah, mungkin ia harus pergi ke supermarket setelah mandi. Tapi, hei! Di mana Se-Hun?

 

Bukankah mengesalkan jika ditinggal setelah ehm… bercinta?

 

Hee-Ra menggeleng, otaknya selalu dan selalu mengingat itu. Ia bisa frustasi kalau terus seperti ini!

 

Untuk menghilangkan perasaan juga ingatannya, Hee-Ra berusaha mengubah topik. Ia berjongkok di depan kulkas, siapa tahu ada yang bisa dimakan. Hee-Ra ingat memiliki beberapa batang coklat dan susu di kulkas.

 

“Kelaparan, Miss. Shin?”

 

Hee-Ra tersentak, kepalanya refleks menengok ke belakang dan mendapati Se-Hun dengan jubah tidur bewarna navy tengah menenteng dua kantong plastik putih di tangannya.

 

Let me..”

 

Se-Hun melenggang ke meja makan dan menaruh kantong plastik tersebut. Di keluarkannya dua box makanan, soda, dan french fries. “Aku memesan makanan tadi.” Ia membuka salah satu box makanan dan mendorongnya untuk mendekat pada Hee-Ra. “Makanlah, atau perlu kusuapi?”

 

Sejenak Hee-Ra sibuk pada pikirannya sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Se-Hun dan meraih sendok di hadapannya. Ia melirik Se-Hun yang tak pernah memalingkan padangan darinya. Well, apakah Se-Hun berniat membunuh Hee-Ra perlahan dengan pandangan seperti itu?

 

Untuk beberapa alasan Hee-Ra mencoba mengacuhkan Se-Hun dan menyantap makanannya. Jujur saja ia agak risih dipandangi terus, tapi mau bagaimana lagi? Toh Se-Hun tak akan berhenti walau Hee-Ra memarahinya.

 

“Kau tidak makan?” tanya Hee-Ra begitu saja.

 

Se-Hun menaikkan kedua pundaknya bersamaan. “Makan. Kalau kau mau menyuapiku.”

 

Demi apapun! Kenapa Se-Hun tiba-tiba berubah menjadi semanis ini? Di mana Se-Hun yang dulu? Se-Hun yang sangat otoriter dan kejam? Atau mungkin memang seperti inilah sifat Se-Hun yang sebenarnya? Bisa jadi apa yang dilihat Hee-Ra dulu hanyalah topeng dan pertahanan belaka.

 

Hee-Ra berusaha menyembunyikan pipi merahnya dengan menunduk. Ia mengambil sesendok nasi dan mendekatkannya pada bibir Se-Hun. “Buka mulutmu, kau mau kusuapi, kan?”

 

Buru-buru Se-Hun membuka mulutnya dan memakan nasi dari Hee-Ra. Pemandangan yang begitu indah, mereka seperti pasangan yang benar-benar dimabuk cinta. Se-Hun dengan kelembutannya dan Hee-Ra yang sangat pengertian.

 

Mereka saling berbagi makanan. Sesekali Se-Hun tertawa pelan dan mengusap pipi Hee-Ra yang tengah menyuapinya. Mereka tidak mengobrol, hanya saling berpandangan dan entah kenapa hatinya begitu bahagia.

 

Sampai ia menyadari ada yang berbeda, Hee-Ra menyipitkan matanya, kenapa ia baru sadar kalau jari manisnya memakai cincin? Seingatnya Hee-Ra tak pernah memakai asesoris semacam itu.

 

“Oh, itu dariku,” ujar Se-Hun cepat, ia langsung peka saat Hee-Ra memandang jarinya penuh tanya.

 

Se-Hun memegang kedua lengan Hee-Ra dan mendekatkan wajahnya. “Simpanlah, kau tidak harus selalu memakainya, kau hanya harus menyimpannya. Dan aku juga tak akan memaksa atau menyuruhmu memutuskan Jong-In, yang penting jangan pernah lari lagi dariku. Itu sudah cukup.”

 

Tidak ada balasan dari Hee-Ra. Ia terlalu sibuk pada pikirannya tentang beberapa waktu lalu. Hee-Ra yakin telinganya tak salah dengar. Se-Hun mengatakan kalau mereka bukanlah saudara—walau tidak sadar seratus persen—tapi melihat cincin itu memang melingkar di jarinya, berarti yang tadi juga kenyataan, kan?

 

Oke, sudah cukup makan malamnya.” Se-Hun bangkit, ia mengusap kepala Hee-Ra. “Aku akan lembur malam ini. Kalau ada apa-apa kau bisa mencariku di ruang kerja, mengerti?”

 

Hee-Ra mengangguk dua kali, setelah itu Se-Hun memberikan kecupan di keningnya selama beberapa saat sebelum melangkah ke ruang kerja. Sementara Hee-Ra masih terpaku, dia berusaha meyakinkan diri akan apa yang telah terjadi. Maksudku, timbul keinginan dalam hatinya untuk mencari tahu kebenaran yang ada.

 

Apakah Se-Hun memang bukan kakaknya?

 

Lalu siapa dia?

 

Kenapa dia mengaku sebagai saudaranya?

 

Apa yang dia inginkan?

 

Dan apa dia benar-benar mencintai Hee-Ra?

 

 

 

 

 

 

Royce telah mempersiapkan jiwa dan raganya untuk hari ini. Kemungkinan mendapat kebencian yang tak berujung dari putranya memang menakutkan, tapi sebagai seorang ayah yang harus melindungi dan mempertanggung jawabkan perbuatannya, Royce bertekad akan melakukannya.

 

Sementara Elliot yang duduk di sampingnya segera mendekatkan alat komunikasi khusus para agen ke mulutnya. “LSA-880479-Lion sudah sampai di tempat. Ganti.”

 

LSA-435883-Snake berada di posisi.”

 

LSA-038488-Tiger siap di posisi.”

 

Elliot tersenyum puas. “Target akan segera keluar dari restoran. Siapkan alat kalian, aku akan menghubunginya begitu kelihatan,” ujarnya.

 

“Siap. Laksanakan!” ujar kedua orang tadi bergantian.

 

Elliot menyapukan pandangannya ke sekitar restoran. “Bagaimana kalau dia tidak mau melakukannya?”

 

Ketakutan yang sama. Royce-pun juga takut bila Se-Hun tak mau melakukannya. Dalam satu sisi Royce melakukan hal itu untuk membebaskan Se-Hun dari organisasi berbahaya yang telah dirangkulnya bertahun-tahun, tapi di sisi lain ia ingin menebus segala kesalahannya. Namun, bila Se-Hun menolak, apa yang bisa ia lakukan selain memaksa? Elliot tentu tak akan tinggal diam bila mendapat perlawanan, bisa-bisa Se-Hun langsung dijebloskan ke penjara  atau bahkan yang lebih parah langsung dihukum mati.

 

“Aku punya kartu AS-nya. Kau tidak perlu khawatir,” gumam Royce untuk meyakinkan Elliot. Yah, walaupun sesungguhnya Royce sendiri tidak seratus persen yakin.

 

“Tunggu, dia sudah keluar,” ujar Elliot tiba-tiba. Ia langsung bergeser posisi dan kembali mendekatkan alat komunikasinya. “LSA-435883-Snake, target sudah mendekati posisi. Bersiaplah.”

 

Beberapa detik kemudian, suara dari seberang terdengar menjawab ucapan Elliot. “LSA-435883-Snake sudah bersedia.”

 

Mendengar Elliot, Royce sontak menajamkan pandangannya. Hatinya sakit menatap sosok pria berbadan tegak yang tengah berdiri di depan restoran. Perasaan bersalah langsung menyeruak, seolah membunuhnya perlahan. Tapi Royce harus berhasil mengendalikan diri, ia tidak boleh larut dalam rasa bersalah saat ini.

 

“Lakukan, jangan sampai dia pergi,” ucap Royce penuh keyakinan.

 

Elliot mengangguk dua kali, kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia mencari kontak seseorang dan tidak lama kemudian mulai berkata, “Good afternoon, Mr. Oh. Sepertinya acara makan siang anda berjalan dengan sangat baik, ya?”

 

 

 

 

 

 

Makan siang beserta pertemuan bisnisnya baru saja usai. Semenjak Shin Jae-Woo meninggal, Se-Hun lah yang menggantikan beliau menjadi Presiden Direktur dan pindah ke kantor pusat.

 

Setelah mengucapkan salam perpisahan juga hormat kepada rekan bisnisnya, Se-Hun bergegas keluar restoran, ia sudah berjanji untuk menjemput Hee-Ra di kampus hari ini. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, ponselnya berdering, membuat Se-Hun mau tak mau segera merogoh saku dan melihat siapa yang menghubunginya. Awalnya Se-Hun mengira itu Hee-Ra, sayangnya ia salah, yang didapati hanyalah sebuah nomor tak bernama.

 

“Halo?”

 

Se-Hun mengerutkan dahi, menunggu balasan dari seberang. Ia berusaha tak kelihatan bingung sampai akhirnya suara deheman seseorang mulai terdengar.

 

Suara yang begitu asing dan tak pernah didengar sebelumnya. Mungkinkah orang penting? Atau hanya orang iseng yang menekan angka sembarangan?

 

Good afternoon, Mr. Oh. Sepertinya acara makan siang anda berjalan dengan sangat baik, ya?

 

Brengsek! Siapa pria itu?

 

Se-Hun mendengus kesal. Ia hampir mengumpat.

 

“Siapa kau?” tanyanya kemudian. Kedua matanya menyapu ke sekitar, ia yakin orang itu berada tak jauh dari lokasinya saat ini.

 

“Tidak perlu kebingungan seperti itu, Oh Se-Hun. Aku sendiri yang akan menemuimu.” Ia berhenti sebentar. “Sekarang, berbaliklah dan kau bisa menungguku di atap hotel samping restoran.”

 

Se-Hun terkekeh, lebih terkesan menyepelekan, “dan kau pikir aku mau melakukannya?”

 

“Well, aku tidak akan memaksamu. Tapi asal kau tahu, mungkin dalam hitungan detik aku bisa langsung meledakkan mobilmu.”

 

“Ledakkan saja, aku tidak peduli.”

 

“Wow, kau benar-benar orang yang hebat rupanya. Lalu, bagaimana kalau kutembus kemeja mahalmu itu?”

 

Kali ini Se-Hun menyunggingkan senyum liciknya. “Membunuhku hanya akan membuatmu kehilangan informasi. Jadi, lakukan saja.”

 

“Oh sialan, kau memang pintar rupanya.” Orang itu tertawa sangat keras. “Baiklah, penawaran terakhir. Pergi sekarang atau bersiaplah mendengar kabar orang tua angkat dan adikmu ce—”

 

“Brengsek! Jangan sentuh mereka!”

 

Se-Hun tak menyangka orang itu berhasil menemukan kelemahannya. Ia tak akan membiarkan keluarganya terluka untuk kesekian kali. Keputusan terakhir yang bisa diambil hanyalah mengikuti permainan orang itu.

 

“Baiklah, aku akan pergi ke sana. Kau akan menyesal kalau berani menyentuh mereka. Ingat itu,” ucap Se-Hun sebelum akhirnya memutus panggilan dan berbalik ke arah hotel.

 

Ia berusaha menyusun rencana untuk menyelamatkan diri, tentu saja setelah mengetahui siapa orang yang berani mengancamnya seperti tadi. Mungkinkah mereka ada hubungannya dengan organisasi? Bisa saja Jasmine telah melaporkan kepada sang atasan, apalagi kemarin Se-Hun nekat membunuh Alexander Jones tanpa himbauan ataupun perintah, mengingat pria itu adalah salah satu klien organisasi, bisa diartikan Se-Hun telah menyalahi aturan.

 

Ia melangkah cepat ke hotel dan langsung menuju ke lantai paling atas, kemudian menaiki tangga agar sampai ke atap. Cukup tinggi, orang yang berlalu lalang di jalan raya tak akan bisa melihatnya.

 

Beberapa menit ia menunggu sampai akhirnya seseorang menarik kedua lengannya ke belakang dan diborgol begitu saja. Se-Hun tak terkejut, tidak pula berusaha melawan, ia membiarkan orang itu mendekatkan pistol ke kepalanya. Hanya rasa tenang yang dibutuhkan Se-Hun sekarang, pikirannya harus dingin.

 

Se-Hun digiring masuk ke suatu ruangan yang berada di atap hotel. Ia duduk di sebuah bangku dimana sisi kanan, kiri, depan juga belakangnya dikelilingi pria bersenjata. Mereka telah siap dengan pistolnya seolah ingin membantai Se-Hun bila pria itu berani melepaskan diri.

 

“Senang bisa bertemu denganmu, Mr. Oh.”

 

Dua orang muncul dari balik pintu. Yang satu berkemeja hitam dan yang lainnya berkemeja biru tua. Se-Hun memutar otaknya, mencoba mengenali orang yang tengah berdiri di hadapannya kini.

 

“Apa yang kau inginkan?” Basa-basi bukanlah gaya Se-Hun. Ia tahu kemungkinan untuk mati sekarang begitu besar, tapi bukan berarti ia tidak memiliki kesempatan untuk lolos dan tetap hidup, bukan?

 

“Tenanglah, aku tak akan membunuhmu. Tentu saja bila kau bersedia bekerja sama dengan kami.” Ia menghisap sebatang rokok dan meniupkan asapnya ke wajah Se-Hun. “Lakukan sekarang,” ujarnya datar kemudian menjauh.

 

Setelah itu, dua orang berjas putih mendekati Se-Hun. Mereka membawa sesuatu yang tak pernah dilihat Se-Hun sebelumnya. Detik berikutnya, salah seorang dari pria berjas putih itu memegang erat kedua lengan Se-Hun, dan yang lainnya nampak menempelkan sesuatu.

 

Bukan, bukan menempel.

 

Lebih tepatnya menanamkan sesuatu ke dalam lengan Se-Hun hingga pria itu menjerit kesakitan.

 

Ia bisa merasakan darah segar mengalir di lengannya, namun cepat-cepat dijahit dan diperban oleh kedua orang tadi. Se-Hun meringis, ia tak bisa melakukan apapun kecuali pasrah.

 

“Aku sudah menanamkan alat ke dalam tanganmu,” ujar pria berkemeja hitam. Ia kembali menghisap rokoknya. “Dengan begitu aku bisa mengetahui di mana lokasimu dengan mudah, dan juga… ” Ia berhenti sebentar, senyum licik mengembang di wajahnya. “Aku bisa meledakkan kedua tanganmu bila kau berani macam-macam.”

 

Sialan! Alat macam apa ini? Sekarang apa yang harus dilakukan Se-Hun? Ia harus cepat-cepat mendatangi organisasi dan berusaha mengeluarkan alat sialan yang mengancam nyawanya ini.

 

Ah, kau tidak akan bisa mengeluarkannya Mr. Oh. Untuk mengeluarkan alat itu kau harus memiliki remote control-nya. Kau tahu? Alat yang ditanam dalam tanganmu itu sangat sensitif dan gampang meledak bila tersentuh secara langsung. Kau bisa tenang, alat itu tak akan meledak karena masih dilapisi oleh kulitmu.”

 

“Bedebah! Apa yang kau inginkan dariku?!” Se-Hun tak tahan lagi. Otaknya tak sanggup untuk berpikir menggunakan kepala dingin dan hei! Siapa orang yang bisa tenang kalau dalam tubuhnya telah tertanam alat semengerikan itu?

 

“Kau harus melunturkan kesetiaanmu pada Second Seven dan bekerja sama denganku untuk menghancurkannya.”

 

Menghancurkan Second Seven sama artinya dengan bunuh diri! Se-Hun tak mungkin bisa melakukannya!

 

“Bodoh! Kau pikir apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya anggota biasa!”

 

Pria itu menggeleng. “Aku tahu kau adalah salah satu anggota paling hebat di organisasi. Yah, kalau kau menolak untuk melakukannya, aku mungkin tidak hanya meledakkan tubuhmu tapi juga orang tua dan adi—”

 

Fine! Aku akan menuruti keinginanmu!”

 

Kurang ajar! Betapa piciknya mereka menggunakan Hee-Ra dan Kang So-Hee sebagai umpan!

 

“Bagus. Begitulah seharusnya yang kau lakukan sebagai warga negara yang baik.” Ia bertepuk tangan puas akan kelakuannya, kemudian menggerakkan dagu ke samping sebagai tanda agar bawahannya melepaskan borgol di tangan Se-Hun.

 

“Aku akan segera menghubungimu. Senang bekerja sama, Mr. Oh,” ujarnya lalu keluar begitu saja. Membiarkan Se-Hun menahan perih di kedua tangannya yang barusan dijahit tanpa bius. Sialan, Se-Hun kalah hari ini. Bisa-bisanya ia membiarkan diri untuk masuk ke perangkap paling mematikan.

 

Sebenarnya Se-Hun langsung tahu bahwa orang tadi adalah salah satu bagian dari agen rahasia di London, ia hanya berusaha menyelamatkan diri dan tidak banyak berkomentar.

 

Namun ada yang aneh, tepat setelah borgol dilepas dari kedua tangannya, seseorang yang tadi bersama agen rahasia, ya orang berkemeja biru tua. Ia menghampiri Se-Hun dan memberikan kantong plastik padanya.

 

“Bersihkan lukamu dan perbanlah. Dalam kantong plastik ini tersedia apa yang kau butuhkan,” ujarnya lalu berjalan meninggalkan Se-Hun begitu saja, bahkan saat Se-Hun belum sempat membuka mulutnya.

 

Ini ganjil..

 

Ia merasa pernah melihat pria itu sebelumnya…

 

Bukan wajahnya…

 

Tapi…mata mereka benar-benar mirip.

 

 

 

 

 

 

Sudah satu jam lebih Hee-Ra menunggu kedatangan Se-Hun di depan gerbang kampus. Kesalahannya juga sih sebenarnya karena memutuskan untuk tidak membawa mobil dan memilih berangkat diantar Se-Hun tadi siang, mengingat betapa keras kepalanya Se-Hun meminta dan Hee-Ra tak bisa menolak.

 

Sementara Jong-In yang kebetulan hari ini kuliah sore pun tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak mungkin keluar untuk mengantar Hee-Ra pulang dan merelakan nilainya hangus begitu saja.

 

Oke, pilihannya saat ini hanya menunggu Se-Hun untuk beberapa menit ke depan atau langsung mencari taksi saja. Sebenarnya pulang dengan taksi bukan hal yang buruk, hanya saja Hee-Ra tak bisa menghubungi Se-Hun untuk memberi kabar bahwa ia akan pulang lebih dulu karena menunggu pria itu terlalu lama. Jadi ia terpaksa menahan diri untuk tetap berdiri sambil berharap Se-Hun segera muncul dari ujung jalan. Ya, seperti itu.

 

Jessica menyiku pelan lengan Hee-Ra. “Sepertinya aku harus pulang sekarang juga, kau tahukan ibuku sangat protektif akhir-akhir ini?”

 

Hee-Ra tertawa pelan. “Tidak masalah, sampaikan salamku pada Mrs. Ford, oke?”

 

Okay. Kalau begitu aku duluan ya!”

 

Jessica pergi sembari melambaikan tangan kanannya yang kemudian dibalas oleh Hee-Ra. Ia memotar bola matanya, membatin kenapa Se-Hun tidak juga datang. Pikiran-pikiran buruk mengenai kemungkinan sang kakak kecelakaan langsung membayangi otaknya.

 

Siapa yang tidak berpikir aneh-aneh kalau ponselnya tak bisa dihubungi? Apalagi orang sibuk seperti Se-Hun pasti menggunakan ponsel sebagai salah satu barang paling penting untuk memperluas bisnisnya.

 

Ini sungguh aneh, atau mungkin Se-Hun kehilangan ponselnya di jalan? Atau mungkin rusak? Atau mungkin-mungkin yang lain dan entah mana yang benar.

 

Hee-Ra mendecak beberapa kali, “Di mana kau? Kenapa tidak datang juga sih,” kelunya pada diri sendiri.

 

Saat fokusnya berada pada sisi kanan jalan, Hee-Ra yang tak menyadari seseorang tengah mendekat ke arahnya hanya diam saja. Tiba-tiba lengan kanannya terasa perih akibat tusukan benda tajam.

 

Hee-Ra menengok, ia mendapati sosok pria berkacamata memberikan seulas senyum padanya sambil terus menyuntikkan suatu cairan ke dalam tubuhnya. Belum sempat bergerak untuk melepaskan diri, pandangannya serasa kabur, kepalanya berputar-putar seolah ingin ambruk.

 

Hee-Ra berusaha mempertahankan keseimbangan dirinya, namun semua runtuh saat matanya memaksa untuk menutup begitu saja. Ia tak tahu apa yang terjadi, ia tak sempat memikirkan kejadian setelah ini. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah semoga Se-Hun menyelamatkannya nanti dan kemudian semuanya gelap.

 

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

Advertisements

43 responses to “[CHAPTER 24] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. wah…. jadi penasaran di apain ya heera sama itu orang…. terus kasian sama sehunnya, ia pasti kaget dirumah nggak ada heera….. tambah penasaran nih dengan ceritanya…

    keren…..

  2. Aduuh firasatku mulai gak enak nih, takut banget klo mereka gak bahagia di endingnya..udah trauma dgn ff yg sad ending..pliss thor happy ending yah, btw mereka manis banget paling suka bagian mereka makan bareng..

  3. Aduhhhh…. siapa yang mencelakai Heera?? Sehun bertemu ayahnya.. to ga igt dy siapa……. wah keren sekali part ini Heena…. ga sabar pengen tau lnjutannya lagi…. apakah kira2 heera mampu menemukan rahasia Sehun klau mreka bkn saudara??? Dan yg trpnting.. gimana craanta sehun bisa mngeluarkan bom yg tertanam ditubuhnya itu??? Buuuueh keren mah bkin tamalbah penasaran…. 😄😄😄😄😄

  4. uluhuluh.. so sweetnya mereka.
    terus nasib jongin gimana?
    *samaakuajakaliya hehe *plak #abaikan
    itu rencana ayah sehun kan?
    heera di suntik siapa? kok jadi serem gini sih, pakek suntik2 segala.
    jangan2 heera di suntik itu bagian dari rencana ayahnya sehun?

  5. Blum selese sehun tubuhnya ditanem alat,, eh si heera di suntik sma orang yang gahelas asal usulnya(?).. Nextlah thor😊

  6. Blum selese sma masalah si sehun yg ditancepin alat di badannya,, eh ini si heera jga tiba” disuntik ama orang yg asal usulnya gajelas.. next lah thor😊

  7. Siapa yang culik heera ? Apa itu jasmine ? Sehun disuruh menghancurkan organisasi second seven, apa sehun bisa ya. Semoga aja bisa. Makin hari sehun sama heera makin so sweet deh tapi kasihan juga sama jongin.

  8. Siapa yg ya kira2 yg mw culik heera????sehun g kenal gitu??apa dia lupa???wahhhh heera inget nya ma sehun….mdh2an g ada apa2 ma heera…

  9. Yeauyy akhirnya ff favoritku keluar,yaampun sehun kenapa jdi diperdaya gt ya,semoga dia bs ngelawan. Author smoga panjang lgi ya,tp ff ini kerennn bgt

  10. Ihhhhhhhh siapa yg mau mencelakai heera,,,, baru aja sehun ngerasa bahagia sm heera ada aja yg bikin rusak kemesraan mereka ><
    Btw bayangin alat yg ditanam dilengan tangan sehun kek alat yg ada di the suicide squad dimana aku suka banget sm movie itu 🤣
    Yg pake baju biru pasti royce, ayahnya sehun!!! Matanya aja mirip,,,
    Udah heera putusin jongin si item aja deh hahahha
    Ditunggu updatenya kak ^^

  11. Huwaaaa sehun ko jadi manja gitu ya ahhh sosweet bgt yg tadi tuh ,,,
    mkin banyak aja org jahat nya thor cem sinetron aja tpi kalo yg ini lebih greget dan penasaran juga … Ditunggu chapter selanjutnya ya kalo bisa secepatnya .

  12. Scene Sehun dan Heeea bersama-sama, makan bersama dengan damai. It’s like Finally. Rasanya tentrem banget. Hehehe And here it goes the drama Sehun harus nurutin kemauan orang2 itu demi Heera. Apapun demi Heera. How lovely is that?? Where in the world I can find someone like him? #curcol #huhuhu

  13. awalnya aku berharap heera tetep sama jongin tanpa berpaling ke sehun sungguh :3, tapi aku juga ga bisa nolak kalau heera-sehun itu kenapa disini jadi gemesin. uh author bacanya sih keren tpi aku berhenti baca sejenak pas sehun tangannya di masukin alat, ga tega aku tuh >.< apa! apa! heera di tusuk di mananya? punggung? perut? aduh sapa yang nusuk sih uh aku tusuk balik kau orang asing tega sekali beraninya main belakang sama perempuan pula ㅠ.ㅠ
    buruan di lanjut ya duh ga sabar duh bikin aku sabar menunggu dong ^,^ im waiting for the next chapter SEMANGAT

  14. Aduh….siapa si ajjussi itu,makin pnasaran,bian komennya ga bisa bwanyak,soalnya sambil mikir hihihihi

  15. Manisnya mereka berduaaa 😍😍😍 mari kita mulai lupakan jongin
    Dan untuk bagian terakhir,semoga ga bakal kejadian buruk yang dialamin heera kalau di kenapa-napa gak jamin sehun ga garang kayak singa /?

  16. Penasaran… Sypa yg masukin ‘sesuatu’ k tangn Sehun itu? Apakah Royce Cs?
    Tp kn bpaknya?
    Trus, yg bius Heera sypa lagi tuch? Aduh makin seru aja nih.

    Moga ada moment merekah married. Hehehe

  17. Thor sebelumnya maaf banget aku ga sempet comment di setiap chapter cerita ini, tapi jujur aku ngikutin banget dari awal cerita ini. Dan aku nunggu tiap chapter dri cerita ini, dan…kenapa pendek thor chapternya yg ini 😥

    Cepet keluar chapter selanjutnya ya thooor, ceritanya bagus banget banget banget :)))

  18. Sehun heera so sweet bgt. Udah heera lupain aja jongin, kmu sama sehun aja

    Omo heera! Otteokhe? Kyaa Sehun selamatkan heera..

    Next kak…

  19. wah, makin penasaran ama ni ff. bikin penasaran bgt ama chapter 23. what are going on sehun n heera? thor, tolong password chap. 23 donk. aku dah inbox via FB author. katanya respon 1x 24. pliss. thanks

  20. Jangan-jangan royce itu ayah kandungnya sehun lagii? Yaampunn, sadis banget sii, masa mau masang alat k tubuh org gak pake peredam sakit sih, tega banget main nyobek kulit org, ga ngebayang sakitnya kaya apaa

  21. Disaat Hee ra dan sehun bersatu malah semakin rumit jalannya. Siapa yang menculik Hee Ra?

  22. OMO! Itu siapa?! Sehuuuun.. kemana Kamu? Semoga cepet datang lagi kayak waktu ituu.. Aamiin… 😇
    Sebegitukah beda wajahnya Ayah Sehun dari yg dulu? Bukannya Sehun udah pernah lihat foto terbarunya, ya? 😩
    Aku lanjut ya, Kaaak. Takut Hee-Ra kenapa-napa 😁😉.

  23. Aduh tuh tangan ditanem alat apa rasanya coba.. heera nya pake diculik lagii… aduuh semoga sehun ga terlambat ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s