Dear Mother #ONESHOT ~QueenX~

a (2)

Dear My Son

 

January, 2013

Putraku yang tampan, Oh Sehun ku sayang, apa kabar kau, nak?

Ibu rindu.

Sudah lama ibu tak berjumpa dan mendengar suaramu.

Sudah lama juga kita tidak saling berkirim.

Ibu titipkan surat ini pada Yoojung. Apakah sekarang sudah sampai padamu?

Ibu hanya ingin berkata, ibu rindu.

Dear My Son

 

April, 2013

Putraku Oh Sehun, tiga bulan lamanya ibu menantikan surat balasan darimu.

Yoojung meminta maaf padaku, berkata bahwa kau tengah sibuk.

Kau sudah membaca surat pertamaku, itu katanya dan ia juga berkata kau sangat merindukanku.

Tidak apa-apa, nak. Jika belum sempat membalas surat dan datang mengunjungiku.

Ibu baik-baik saja disini, Yoojung berkata kau menitipkan salammu untukku.

Jika sempat, sesekali hubungilah ibu. Cukup mengucapkan selamat malam sebelum ibu tidur saja sudah cukup.

Putraku Oh Sehun, ibu sangat merindukan suaramu.

 

Dear My Son

 

August, 2013

Apa kabar Oh Sehun?

Apakah kau masih sibuk?

Sayang, maaf jika surat-surat dari ibu menganggumu selama ini.

Yoojung berkata padaku, belakangan ini kau mudah sekali marah, meski ia berkata bukan karena surat yang ibu kirimkan untukmu, tapi ibu mohon kendalikan emosimu.

Ibu berjanji tidak akan sering-sering mengirimkan surat padamu jika surat dari ibu mengganggu pekerjaanmu selama ini.

Oh Sehun putraku, kudengar dari Yoojung kau mendapatkan kenaikan jabatan. Selamat putraku, ibu bangga padamu.

Ibu akan mengusahakan datang mengunjungimu di kota secepatnya, ibu ingin memelukmu dengan erat dan mengucapkan kata selamat ini secara langsung.

Ibu menyayangimu selalu Oh Sehun.

 

Dear My Son

 

February, 2014

Sehun-ah, selamat atas kelahiran putra pertamamu.

Mengapa kau tak menemani Yoojung saat datang mengunjungiku? Apakah kau masih sibuk dengan pekerjaanmu?

Putramu sangat tampan dan sangat mirip dengan dirimu. Oh Yoohun adalah nama yang cocok untuknya, kata Yoojung kau sendiri ya yang memberi nama itu untuk putramu?

Ibu jadi teringat perkataanmu saat kau masih kecil dulu, apakah kau ingat?

Kau bertanya padaku mengapa aku tak menamaimu Yoohun saja?

Mengingat masa kecilmu membuat ibu tidak bisa menahan air mata rindu, ibu sangat merindukanmu Oh Sehun, tidakkah kau berniat untuk datang menemuiku dan menghapuskan rasa rinduku pada dirimu?

 

Dear My Mom

 

April, 2014

Hai, bu?

Maaf baru bisa membalas semua suratmu sekarang.

Aku benar-benar sibuk, bu. Aku benar-benar minta maaf kalau sampai saat ini belum bisa mengunjungimu.

Bagaimana kabar ibu? Kabarku selalu baik setiap kali mendapatkan surat dari ibu.

Setiap saat dan setiap waktu, saat Yoojung kembali dari Daegu, hal yang paling aku tunggu selain kepulangannya adalah surat darimu.

Bu, sekali lagi aku meminta maaf karena belum bisa mengunjungimu. Tapi aku berjanji padamu, jika semua urusanku sudah terselesaikan, aku akan datang mengunjungimu.

Aku akan melepas rinduku pada ibu begitupula sebaliknya selama seharian ibu.

Dari putramu yang selalu merindukanmu di setiap hembus napasku, Oh Sehun.

 

Tangan wanita paruh baya yang usianya nyaris menginjak kepala tujuh itu bergetar. Ia memeluk menantu yang duduk di sebelahnya. Betapa bahagianya ia mendapatkan surat balasan dari Sehun.

“B-benarkah ini? Benarkah ini Oh Sehunku?”

Yoojung menganggukkan kepalanya dan mendekap ibu mertuanya dengan erat.

Maafkan aku, bu. Maafkan kebohonganku.’ Batin Yoojung tak bisa menahan air matanya menetes membasahi pipinya.

 

Dear My Son

 

April, 2014

Aku sangat bahagia.

Aku adalah ibu yang paling bahagia di dunia saat ini.

Kau membalas suratku sayang, akhirnya kau membalasnya.

Tidak apa-apa sayang, tidak masalah kau belum bisa datang untuk menemuiku saat ini.

Aku sudah cukup bahagia, sangat bahagia mendapatkan surat balasan darimu.

Oh Sehun, apakah kehidupan di luar kota membuat tulisanmu sedikit berubah? Tulisanmu menjadi sedikit rapi dan jelas.

Tapi tidak masalah, bagaimanapun bentuk tulisanmu, ibu akan tetap membacanya, ibu bahkan sudah membaca surat balasan darimu lebih dari sepuluh kali. Ya Tuhan, ini sangat berlebihan tapi deretan kalimat yang kau susun dalam surat balasanmu sudah cukup melepas rasa rinduku padamu.

Sehun-ah, ibu sangat menyayangimu.

Sampai kapanpun.

 

Yoojung menggigit bibir bawahnya, ia tak bisa menahan tangisnya membaca surat dari ibu mertuanya. Ia menggeleng pelan lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur miliknya dan Sehun.

Mendengar suara pintu kamarnya di buka, Yoojung langsung buru-buru melipat surat dari mertuanya dengan cepat dan ditaruhnya ke dalam nakas. Nakas dimana ia menyimpan semua surat dari ibu mertuanya selama ini.

“K-kau…kau sudah pulang, Hun?” ucap Yoojung.

“Ada apa denganmu? Kau menangis?” tanya Sehun yang langsung berjalan mendekati istrinya.

“T-tidak. A-aku…aku baik-baik saja.”

“Kau masih sering mengunjungi ibuku, kan?” tanya Sehun dengan ekspresi yang dingin dan tatapan mata yang menusuk Yoojung.

“S-Sehun-ah…tentang itu—”

“BERHENTILAH MENGUNJUNGINYA! DEMI TUHAN OH YOOJUNG! AKU AKAN MENGUNJUNGINYA, YA, PASTI! TAPI BUKAN SEKARANG!” pekik Sehun tepat di depan wajah istrinya.

Untungnya saat itu Yoohun tidak berada di rumah. Ia dititipkan oleh Yoojung pada tetangganya dan Yoojung belum sempat membawa Yoohun kembali ke rumah.

“KAU SELALU BERKATA BEGITU SEJAK DUA TAHUN YANG LALU OH SEHUN! TAPI KAU TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA! KAPAN KAU ADA WAKTU UNTUK IBUMU? DIA IBU KANDUNGMU OH SEHUN! DIA SANGAT MERINDUKANMU!” pekik Yoojung tak kalah kerasnya.

PLAKKK

Lagi-lagi ia mendapatkan tamparan dari Sehun. Yoojung diam saja, ia kembali melanjutkan tangisannya. Sementara Sehun hanya terdiam di tempatnya lalu membalikkan tubuhnya dan merenggangkan dasi di lehernya.

“Kau selalu membuatku ingin menyakitimu, Yoojung.” Tutur Sehun lirih yang terdengar oleh Yoojung.

“Ini tidak seberapa dengan sakitnya ibumu merindukan dirimu, Sehun.” Balas Yoojung.

Sehun mengepalkan tangannya dengan kuat, ia menahan dirinya untuk tidak menyakiti istrinya lagi. Ia menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya lagi.

“Apakah ibu menitipkan surat darinya lagi untukmu?” tanya Sehun.

“Memangnya kau peduli? Setiap kali aku menaruh surat darinya di atas meja kerjamu, kau pasti akan lebih memilih menandatangi surat kontrak perusahaan dan perjanjian dengan para pemegang saham perusahaanmu daripada membaca suratnya, kan?”

“Oh Yoojung, jangan memancing emosiku!”

“Memangnya aku salah? Apa yang aku kataka—”

PLAKKK

Tamparan kedua, kali ini berhasil membuat Yoojung meringis dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.

“Aku menyesal menikah denganmu Oh Sehun! Kalau bukan karena ibumu, aku pasti sudah mengajukan surat perceraian padamu bahkan sebelum aku melahirkan Yoohun ke dunia ini!” tutur Yoojung lalu berjalan keluar meninggalkan Sehun di kamarnya dalam diam.

 

Dear My Son

 

June, 2014

Putraku Oh Sehun, bagaimana kabarmu, nak?

Ah, ibu merindukanmu. Lagi-lagi merindukanmu. Yoohun semakin tumbuh besar dan tampan, ia aktif seperti dirimu. Ibu senang setidaknya ibu bisa diberi kesempatan bertemu dengan Yoohun. Rasanya menggendong Yoohun sama seperti menggendongmu saat kau masih bayi dulu.

Sehun-ah, apakah terjadi sesuatu antara dirimu dengan Yoojung? Setiap dia datang kemari, dia lebih banyak diam dan menjawab tidak tahu jika ibu bertanya tentang dirimu.

Maafkan ibu jika ibu ikut campur dengan urusan rumah tanggamu, tapi sesekali luangkanlah waktu dengan istri dan putramu, sayang. Mereka juga membutuhkan perhatian darimu, jangan hanya mengurus pekerjaanmu terus.

Kata Yoojung kau mengalami demam dan mengigau menyebut namaku berulang kali beberapa hari yang lalu, ya? Apakah sekarang kau sudah merasa lebih baik?

Cepatlah sembuh, nak. Kau harus kembali bekerja, bukan? Menghidupi istri dan putramu pasti membuatmu lelah sampai harus memforsir semua tenagamu saat bekerja.

Jangan lupa jaga pola makanmu, ibu sudah menitipkan resep sup kesukaanmu untuk membantumu memulihkan kesehatanmu.

Salam sayang dari ibu.

 

Yoojung terkejut dengan kehadiran sekretaris Sehun di kediaman mereka. Ia bahkan tengah menggelayut manja di lengan Sehun di ruang makan. Yoojung tak bisa menahannya lagi, ia benar-benar sakit hati kali ini, semua yang ia coba pertahankan tak dapat ia tahan lagi. Tidak ia panggil teriakan Sehun dari lantai bawah, ia membawa Yoohun dalam gendongannya memasuki kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya rapat.

Yoojung! Dengarkan aku dulu! Yoojung! Buka pintunya!

Dengan Yoohun yang tiba-tiba saja menangis dalam gendongannya. Ia mengeluarkan koper miliknya dari kolong kasurnya dan membuka lemari kamarnya lalu memasukkan semua pakaian miliknya ke dalam sana.

“Aku sudah menahannya Oh Sehun, dan kali ini…aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Kau sudah terlalu menyakitiku.” Gumam Yoojung disela isak tangisnya.

“Kita akan pulang sayang, kita tidak akan pernah kembali disini. Akan ibu hapus nama Sehun dari dalam kepalamu, selamanya dia tidak akan pernah mendapatkan maaf dan pengakuan dariku sebagai ayahmu.” Tutur Yoojung lalu mengecup puncak kepala putra kecilnya yang kini sudah tidak menangis lagi dalam dekapannya.

Oh Yoojung! Aku tahu kau mendengarku! Buka pintunya sekarang jug—Y-Yoojung? K-kau…apa yang—”

“Aku ingin berpisah darimu Oh Sehun.” Ucap Yoojung tegas.

Ia meninggalkan Sehun yang berdiri mematung di depan pintu kamar mereka. Sementara sekretaris Sehun yang masih duduk manis di kursi ruang makan mereka hanya menatap kepergian Yoojung dengan senyuman penuh kemenangan. Setelah Yoojung pergi dan membanting pintu depan, Sehun berlari turun ke bawah, mencoba mengejar Yoojung namun sekretaris Sehun menahannya.

“Kau mau kemana, sayang? Kita bahkan belum menyelesaikan urusan kita di—”

“DIAM DAN MENJAUHLAH KAU DARI HADAPANKU!” pekik Sehun lalu mendorong dengan kasar tubuh sekretarisnya sehingga jatuh tersungkur di lantai.

“YAH! OH SEHUN! OH SEHUUUNN!”

~~

Dua tahun sudah berlalu. Yoohun tumbuh menjadi balita lucu yang menggemaskan. Wajahnya semakin mirip dengan Sehun. Setiap kali melihat Yoohun, Yoojung tak pernah bisa menahan dirinya untuk menangis. Dua tahun lamanya ia mencoba menghapus Sehun dari ingatannya, menghapus cintanya yang selalu ia rasakan sebagai cinta sepihak, tapi tidak pernah bisa. Semakin Yoojung mencobanya, semakin Yoojung terlarut dalam kesedihannya karena merindukan Oh Sehun.

Yoojung dan Yoohun hidup jauh dari Seoul, juga tidak hidup di Daegu. Mereka tinggal bersama dengan paman dan bibi Yoojung di Busan. Semua kesesakan yang Yoojung rasakan, ia tumpahkan hari itu juga pada paman dan bibinya setibanya di Busan. Membuat paman dan bibinya marah besar dan nyaris meninggalkan kediamannya saat itu juga untuk datang ke Seoul dan memarahi Sehun habis-habisan. Untunglah Yoojung bisa menahan keduanya, ia menjanjikan pada paman dan bibinya untuk tidak lagi berhubungan dengan Sehun. Untuk memutuskan semua kontaknya dari Sehun.

“Tapi sampai detik ini kau masih mengunjungi ibu mertuamu. Apakah itu tidak masalah?” tanya bibi Yoojung sore itu.

Yoojung tersenyum tipis sambil mengusap kening putranya yang tertidur di pangkuannya.

“Bagaimana bisa aku tidak mengunjunginya, bibi? Dia sendirian disana, tanpa sanak saudara dan bahkan sampai detik ini Sehun belum mengunjunginya.”

“Apakah kau masih berpura-pura menjadi Sehun yang selalu membalas surat dari ibunya?” tanya pamannya kali ini.

“Aku tidak bisa melihat ibu mertuaku sedih, bibi. Dia sudah terlalu tua untuk memikirkan hal yang memberatkan pikirannya. Ia bahkan tidak tahu kalau sudah dua tahun lamanya aku dan Sehun berpisah meski status kita sampai detik ini masih sebagai suami dan istri.” Jelas Yoojung.

“Apakah Yoohun tidak menanyakan keberadaan ayahnya?”

Yoojung terdiam, dipandanginya wajah damai Yoohun yang tidur dengan menghisap jari jempolnya.

“Awalnya aku berniat menghapus Sehun dari dalam pikirannya. Tapi, semakin hari ia tumbuh semakin mirip dengan ayahnya. Aku selalu tak bisa menahan isak tangisku setiap kali melihat senyumannya, setiap kali mendekapnya, bahkan semua yang ada pada dirinya, tak bisa kau lepaskan dari Sehun. Dia membuatku sulit untuk melupakan Sehun, bibi.” Ucap Yoojung yang kali ini membiarkan air mata membasahi wajahnya.

~~

“Jangan beritahu Sehun tentang keadaanku.” Pinta ibu Sehun pada Yoojung.

Yoojung sejak tadi terus menangis, ia memegang salah satu tangan mertuanya yang terasa dingin.

“Ibu, maafkan aku, bu. Maaf aku belum bisa membawa Sehun datang bersamaku.” Ucapnya.

“Tidak apa-apa. Toh dia sedang bekerja demi menghidupimu dan juga YooHunie. Sudahlah, jangan menangis lagi, Yoojung.”

“Ibu, kau harus lekas sembuh. Aku berjanji padamu, saat kau sembuh nanti, aku pastikan Sehun datang menjengukmu. Bukan hanya menjengukmu, ia juga akan tinggal bersamamu untuk beberapa hari, untuk menemanimu memulihkan kondisimu.” Tutur Yoojung disela isak tangisnya.

Ibu Sehun terjatuh dari tangga saat akan turun dari kamarnya menuju ruang tamu untuk menemui Yoojung. Keningnya memar dan kakinya berdarah, Yoojung yang panik langsung berlari menghampiri ibu mertuanya dan meminta tolong pada tetangga untuk mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Untunglah tidak terjadi apapun pada mertuanya selain keretakan di tulang punggungnya. Yang harus membuatnya  lebih banyak tidur dan tidak melakukan aktivitas yang memberatkan.

Tanpa berpikir dua kali, Yoojung langsung menghubungi Sehun setibanya di rumah sakit. Di percobaannya yang kesekian, panggilannya tak kunjung dijawab oleh Sehun. Hal ini membuatnya kesal, entah dia harus marah pada Sehun atau pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya membiarkan dirinya menghubungi Sehun padahal sudah jelas Sehun tidak pernah menganggapnya ada. Bahkan sejak pernikahan mereka yang dilangsungkan hanya atas dasar balas budi ibu Sehun pada keluarga Yoojung yang sering menolong Sehun dan membawa Sehun pada tahap kesuksesan sampai saat ini.

“Brengsek kau Oh Sehun.” Rutuk Yoojung yang langsung menaruh ponselnya ke dalam tas gendongnya dan kembali masuk ke dalam ruang dimana ibu mertuanya diistirahatkan.

~~

Di tempat yang berbeda. Di tengah hiruk pikuk keramaian kota di tengah malam. Sehun asyik berpesta dengan teman-temannya, menikmati pemandangan tubuh indah gadis-gadis malam setiap hari setelah ia pulang bekerja. Tidak ada lagi yang Sehun lakukan selain bekerja segila-gilanya di pagi hari menjelang malam dan berpesta sepuas-puasnya di tengah malam hingga fajar kembali menampakkan dirinya.

Hanya dengan begitu ia bisa melupakan masalah dalam hidupnya. Melupakan Yoojung dan Yoohun yang meninggalkannya dan tak bisa ia temukan lagi di seluruh penjuru kota. Ia putus asa, ia merasa kehilangan segalanya, hanya hingar bingar malam dan tumpukan kertas kantor yang menjadi teman hidupnya sekarang.

Sehun merasakan ponsel di saku celananya bergetar sejak tadi, namun ia tidak menggubrisnya, minuman keras sudah menghilangkan akal sehatnya, membuatnya tuli dan tidak bisa merasakan apapun yang ada di dekatnya. Terakhir yang ia tahu, ia menarik asal wanita malam di dekatnya dan membawanya ke sebuah kamar hotel dan menumpahkan hawa nafsu mereka disana hingga pagi menjelang.

~~

Sehun membuka matanya perlahan saat dirasakannya beban di lengan kanannya. Ia melihat seorang gadis tanpa busana masih lelap dalam tidurnya sambil memeluk pinggang Sehun. Kondisi Sehun sama seperti gadis tersebut, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka. Sehun mendengus kasar. Ditatapnya langit-langit hotel yang ia datangi dengan gadis malam yang entah sudah berapa kali ia gunakan sebagai pelepas hawa nafsunya.

Sehun menarik lengannya kasar, membuat gadis di sebelahnya menggeliat dan terbangun dari tidurnya.

“Morning, babe.” Ucap gadis tersebut.

“Aku tidak membutuhkanmu lagi.” Ucap Sehun tanpa memandang pada wanita tersebut dan mengambil celana dan pakaiannya kemudian ia kenakan dengan cepat sebelum berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Babe, what’s wrong with you?”

“Keluarlah, sebelum aku melakukan hal yang kasar padamu.” Tutur Sehun lalu membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.

“Tapi kau belum membayarku untuk yang semalam Oh Sehun! Bagaimana bisa kau mengusirku?!” protes wanita itu yang di detik selanjutnya membuat Sehun keluar dari dalam kamar mandinya dan mencekik leher gadis itu dengan sangat kuat.

“L-lep-leph-lepaskan! S-Sse-Sehun!”

“Kau menghabiskan isi kartu debitku, bukan hanya satu, tapi tiga kartu sekaligus dan kau dengan tidak tahu malunya masih meminta bayaran dariku?! Jika kau tidak mau kumasukkan ke dalam penjara, pakai pakaianmu dan pergi sekarang juga!” gertak Sehun lalu melepaskan tangannya dari leher wanita tersebut.

~~

Sehun memasuki kamarnya bersama dengan Yoojung—dua tahun yang lalu sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkannya sendirian di rumah besar itu—diciumnya aroma kamarnya yang mulai berubah, bahkan sudah berubah sejak beberapa bulan Yoojung meninggalkan dirinya.

“Oh Yoojung…” bisiknya lalu berjalan menuju kasurnya.

“…bogoshipda.”

Ia menjatuhkan dirinya disana. Membenamkan wajahnya ke bantal dan tiba-tiba saja lututnya menyenggol nakas di pinggir kasurnya. Membuatnya bersungut lalu terbangun dari tidur sesaatnya dan melihat pintu nakas terbawahnya sedikit terbuka. Ia membukanya kemudian menemukan tumpukan surat yang selama ini ibunya titipkan pada Yoojung setiap kali istrinya mengunjungi rumah mertuanya. Dilihatnya setiap surat itu satu per satu. Ia melihat ujung kertasnya yang mulai sobek karena termakan oleh waktu. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya asal sebelum akhirnya membuka setiap suratny dan mulai membacanya satu per satu.

~~

Eomma, mengapa rumah halmeoni banyak olang?” tanya Yoohun yang ada di gendongan ibunya.

“Mereka adalah orang-orang yang menyayangi halmeoni sayang, sama seperti kau dan ibu yang juga menyayangi halmeoni.”

“Itu belalti ada appa juga dicini? Kata eomma, appa juga menayangi halmeoni, tan?” tanya Yoohun polos yang langsung didekap oleh Yoojung dengan erat.

Yoojung selalu tak bisa menahan tangisnya setiap kali Yoohun membahas tentang ayahnya. Yoohun anak yang manis dan pintar, ia sama persis seperti Sehun kecil, berulang kali mendiang ibu mertuanya berkata seperti itu. Sebelum akhirnya mertuanya menghembuskan napas terakhirnya di malam dimana Yoojung berusaha mati-matian menghubungi Sehun namun tak kunjung mendapatkan jawaban atau balasan pesan dari Sehun. Rasa bersalahnya masih tak bisa menghilang, pada akhirnya ia mengingkari janjinya pada ibu mertuanya, ia tak bisa membawa Sehun pada ibu mertuanya.

Eomma, Hunie cangat inin beltemu tengan appa. Hunie lindu appa, eomma juga, tan?” ucap Yoohun lalu menatap wajah Yoojung yang sembap.

Eomma, ulljima, eoh? Hunie celalu dicini belcama eomma, Hunie akan menemani eomma menunggu appa datang, eoh?” ucap putra kecilnya lagi.

“Yo-Yoohun…Oh Yoohun.”

Suara itu. Suara yang selama ini tidak ingin lagi Yoojung dengarkan namun sangat Yoojung rindukan. Terdengar dengan sangat jelas, bergetar dan penuh dengan kerinduan. Yoojung tidak mau mempercayai apa yang ia dengar, Yoojung bahkan bersikeras tidak mau membalikkan tubuhnya. Namun ia berbalik juga, dan menatap terkejut pria yang berdiri beberapa kaki di depannya. Saat pria itu berjalan maju selangkah, Yoojung mundur selangkah. Pria itu maju dua langkah, Yoojung mundur dua langkah. Sementara Yoohun digendongan Yoojung menatap pria tersebut dengan penuh tanya.

“Dia ciapa, eomma?” tanya Yoohun dengan polosnya.

Dia ayahmu sayang. Ayahmu! Dia si brengsek yang selama ini membuat ibu selalu menangis karena memikirkannya, dia yang membuat ibu tersiksa karena tidak pernah bisa berhenti mencintainya. Dialah ayahmu, mengapa dia harus menjadi ayahmu yang bahkan tidak akan pernah bisa kau banggakan karena kebrengsekannya.’ Batin Yoojung bergejolak.

“A-aku…sayang, ini ap—”

“Menjauhlah dari putraku Oh Sehun!” potong Yoojung kemudian.

“Y-Yoojung…aku—”

“Jangan pernah lagi muncul di hadapanku! Kita tidak ada hubungan apapun lagi!”

Yaaah! Ajucci! Eomma menanis gala-gala ajucci, tan? Pelgi! Jangan ganggu eomma Hunie lagi!” pekik Yoohun seolah tahu mengapa tiba-tiba saja Yoojung memarahi pria yang asing di matanya itu.

Jangan mengusirnya, sayang. Dia adalah ayahmu. Tapi ibu juga tidak mau membuatmu tahu kalau dia adalah ayahmu.’ Batin Yoojung semakin bergejolak.

“Yo-Yoohun-ah, a-aku ini…t-tunggu dulu. Ada apa ini? Mengapa ada banyak orang di rumah ibu? A-apa yang terjadi apa ibu Yoojung-ah? Katakan padaku!” pekik Sehun yang langsung maju tepat di depan Yoojung yang sudah tidak dapat memundurkan dirinya lagi karena terpojok oleh dinding rumah mertuanya.

Yoohun yang ketakutan mendengar gertakan Sehun, langsung membalikkan tubuhnya dan menangis sambil memeluk leher ibunya.

“Kau lihat Oh Sehun?! Kau membuat putramu sendiri ketakutan dengan dirimu! Kau benar-benar pria brengsek! Kau bahkan baru datang ke rumah saat ibumu sudah tidak lagi ada di dunia ini. Anak macam apa kau ini?! Kau lebih memilih hidup dalam kekayaanmu daripada menjenguk ibumu meski hanya semenit saja. Sekarang saat ibumu tak bisa kau temui lagi di dunia ini, baru kau datang mencarinya.” Cecar Yoojung yang membuat tubuh Sehun terhuyung ke belakang.

“A-apa? A-andwae! Maldo andwaeee! Eomma!!!”

Sehun langsung berlari memasuki rumahnya, menembus kerumunan yang sekilas melihat pertengkarannya dengan istrinya. Ia menangis sejadinya, memeluk figura foto ibunya dengan erat, berteriak frustasi bahkan sampai menjambaki rambutnya sendiri. Dari pintu depan, Yoojung hanya bisa menangis menatap kesedihan suaminya, itu adalah balasan yang setimpal untuk Sehun. Hanya karena harta dan kekuasaan yang tidak permanen dalam hidupnya, ia sampai melupakan kasih sayang ibunya yang kekal untuk dirinya. Karena bubur tidak akan lagi bisa kembali menjadi nasi, karena kesalahan Sehun yang sebenarnya tak bisa termaafkan menurut Yoojung tak bisa lagi Sehun perbaiki. Karena jika sudah berhubungan dengan kematian, tidak ada kesempatan kedua untuk membuat orang yang kita abaikan selama ini untuk hidup kembali. Sehun menyesal, Sehun benar-benar menyesal bahkan berulang kali meneriakkan nama ibunya, namun tidak akan pernah mengubah keadaan. Jiwa ibunya telah pergi, hanya jasadnya yang tertinggal disana. Jangankan untuk sekedar menghapus air mata penyesalan Sehun, jasad itu akan tetap meutup matanya dengan rapat dan tak akan pernah mendengarkan isak tangis Sehun.

 

 

 

DEAR MOTHER

 

OH SEHUN

KIM YOOJUNG (Mrs. Oh)

OH YOOHUN (Mr & Mrs. Oh son)

 

HURT, FAMILY, MARRIAGE LIFE

 

PG 17

 

ONESHOT

 

SORRY FOR TYPO

Advertisements

11 responses to “Dear Mother #ONESHOT ~QueenX~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s