PERFECTIONIS (Chapter 9)

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Jun He
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8

 

“Apa yang tidak kau ingat tak akan menyakitimu”

.

.

Perfectionis

 

Seoul, 23 Maret 2017

06.30 KST

 

“Sehun-ah~”

 

Sehun seketika menghentikan kegiatan mengoleskan selai di rotinya dan sontak menatap seseorang yang barus saja memanggilnya.

 

Tanpa balik memandang sang empunya suara kembali bersuara.

 

“Apa aku pernah memanggilmu seperti itu?” Sehun mengerutkan keningnya menatap Rei.

 

“Jujur saja, aku baru seminggu berada di rumah ini, tapi rasanya ada ribuan roll film yang mendesak ingin berputar di kepalaku. Sepertinya aku mulai gila.” Rei memegangi kepalanya kemudian menjambaknya dengan kasar.

 

“Jangan terlalu dipaksa.” Ujar Sehun kemudian. Berusaha menormalkan mimik wajahnya dan kembali memulai sarapannya yang tertunda.

 

Rei mendongak menatap Sehun yang kembali menyantap sarapannya.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku Sehun-ssi?!”

 

“Kau tahu jawabannya Rei.”

 

“Tidak mungkin. Itu pasti hanya mimpi.” Rei kembali memegangi kepalanya. Rei mulai merasakan pening yang akhir – akhir ini sangat mengganggunya.

 

“Rei kau tahu itu semua bukan hanya mimpi, kau pernah jatuh dan amnesia dan-”

 

“Cukup!!” Rei berteriak histeris sambil terus memegangi kepalanya. Rambutnya berantakan, sudah tak berbentuk lagi. Dia menundukkan kepalanya dan membenturkan kepalanya.

 

“REI!” Sehun tak kalah terkejut dengan apa yang di lakukan Rei, dia bergegas berlari ke arah Rei dan menjauhkannya dari meja yang sudah membuat keningnya tergores.

 

“Sadarlah!! Kumohon!!”

 

“AAAHH!! KEPALAKU SAKIT!” Rei terus menangis histeris sambil memegang kepalanya.

 

“LUSIA!”

 

“MENYINGKIRLAH KEPALAKU SAKIIIIIT!” Rei berusah melepaskan rengkuhan Sehun dan berusaha melukai kepalanya.

 

“LUSIA SADARLAH! LUSIA!” Sehun mencoba mengangkat wajah Rei untuk menyadarkannya, tapi terlambat. Hidungnya sudah mengeluarkan darah, yang berarti terjadi pendarahan di kepala Rei.

 

Sehun yang terlalu shock menjadi lengah dan membuat Rei lepas dari rengkuhannya dan berlari menjauh kemudian terjatuh kehilangan keseimbangan.

 

Kepala pelayan Kim langsung datang membantu Sehun. “Tuan Kim, tolong telfon Professor Hyun!”

 

Sehun kembali merengkuh Rei yang masih berteriak histeris dan memegangi kepalanya. Dia masih menangis dan hidungnya masih mengeluarkan darah.

 

Sehun bingung. Sekaligus sedih, melihat Rei yang harus menanggung rasa sakit itu sendirian.

 

“Kumohon sadarlah Rei…” Sehun menitikan air matanya.

 

***

Weoljong Bursa Efek

13.50 KST

 

“Nona Lee, ada yang menunggu anda di kantor.” (Kalo kalian lupa baca chapter 6)

 

Wanita bermarga Lee itu memasuki ruang kerjanya dan mendapati seorang wanita cantik nan anggun itu duduk membelakanginya di sofa.

 

Jun He tersenyum sesaat.

 

Eonnie?!” Mendengar panggilan itu seketika wanita berambut coklat muda itu berdiri dari duduknya dan menghambur ke pelukan Jun He

 

“Waw, sudah berapa lama ya sejak kita terakhir bertemu.” Mereka akhirnya saling berpelukan dan melepas rindu.

 

“Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, aku sulit sekali mencari kontakmu jadi yah seperti ini kita bertemu. Ayo duduk eonnie.” Kedua wanita itu lalu mendudukan diri di sofa hitam dengan hiasan kayu klasik di bagian tangannya.

 

“Jadi apa kabar Nara eonni?”

 

Well, as you know. Aku masih sibuk dengan dunia arsitekku, aku juga akan melanjutkan kuliah S3 jika ada kesempatan. Dan kau? Apa kau sudah menikah?” wanita berdarah campuran Jerman – Korea itu menatap Jun He penasaran.

 

“Jika aku menikah pasti aku akan mengabarimu duluan. Eonnie sendiri bagaimana?”

 

“Seperti yang kau lihat, aku sedang sibuk dengan pekerjaan dan belum ada pria yang menarik bagiku. Yah, meskipun di tempat kerjaku begitu banyak pria.” Wanita memberi tawa hambar di akhir kalimatnya.

 

“Begitukah? Sayang sekali, padahal di umur 28 seorang wanita harus segera mencari pendamping hidup. Apalagi Eonnie berdarah campuran dan sangat cantik.”

 

“Yah, begitulah.” Jawabnya sedikit kecewa. Entah kecewa pada tanggapan gadis itu atau hanya kecewa karena dirinya sendiri.

 

Eonnie…” Jun He memajukan duduknya dan menatap tajam Nara. Sedangkan Nara hanya menatapnya penuh Tanya.

 

“Apakah kau tidak penasaran bagaimana kabar ‘Oh Sehun?”

 

***

 

Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.

Penyebabnya tidak diketahui.

Perilaku yang sering terjadi : 

  • Membersihkan atau mencuci tangan 
  • Memeriksa atau mengecek 
  • Menyusun 
  • Mengkoleksi atau menimbun barang 
  • Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif) 
  • Takut terkontaminasi penyakit/kuman 
  • Takut membahayakan orang lain 
  • Takut salah 
  • Takut dianggap tidak sopan 
  • Perlu ketepatan atau simetri 
  • Bingung atau keraguan yang berlebihan. 
  • Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan bilangan)

 

 

19.15 KST

 

“Aku tak tahu jika istrimu seorang pekerja keras. Dia tampak seperti gadis manja.”

 

“Aku juga berfikir seperti itu dulu. Dan sekarang aku sadar, dia bukan gadis manja.” Sehun duduk di sebelah Rei menatapnya intens sambil membenahi anak rambut Rei.

 

Setelah kejadian menegangkan pagi ini, Sehun membawa Rei di kamarnya yang merupakan kamar utama rumah megah milik pewaris tunggal Seunghwa Groub tersebut dan juga membantu Rei mengganti baju yang penuh noda darah.

 

“Kemungkinan besar OCDnya terjadi setelah dia jatuh dari tangga dan Rei terbangun tanpa ingatan. Jika aku lihat dia seorang gadis perfectionis, mungkin amnesianya yang membuat Rei menderita OCD. Well, gadis perfectionis pasti kebingungan kehilangan kemampuannya, itulah yang membuatnya menjadi khawatir berlebihan. Dia sudah lulus S1 dan menjalankan sebuah perusahaan di usia muda, apakah kau tidak menyadari betapa pintar dan juga ambisiusnya istrimu?”

 

“Lalu kenapa dia sampai seperti ini hanya karena ingatanya mulai kembali, bukannya membuatnya berinteraksi dengan masa lalunya akan membuatnya cepat ingat.” Kini Sehun berdiri dan beralih pada Prof Kang.

 

You’re right Sehun. Tapi penderita OCD memiliki kekhawatiran berlebih, wajar saja tubuh dan otaknya menolak dan batinnya terus saja khawatir apa yang akan terjadi ketika ingatan masa lalunya kembali, yah mungkin seperti itu. Dan juga, dia pasti memiliki motif sendiri sebelum kehilangan ingatannya sampai dia terus saja mengejar ambisi abu yang dia lupakan sendiri.”

 

“Dia memang khawatir berlebih.”

 

“Kau harusnya segera memberikan perawatan intensif padanya. Kau juga dokter. Well, meskipun kau bukan dalam bidangnya.”

 

“Dia keras kepala, dia tak akan mau dan juga aku tak tega melihatnya harus di karantina. Dia bukannya wanita gila yang kehilangan akalnya, dia hanya memiliki kekhawatiran berlebih.” Sehun kembali menatap Rei intens.

 

“Kau bisa merawatnya dirumah, kau memiliki peralatan yang cukup disini. Dan juga kau kaya, tak perlu bingung dengan biaya operasionalnya. Jika kau mau aku akan mengirim asistenku kesini. Tapi biarkan dia istirahat dan jika dia sudah pasti dengan rawat jalannya, dia tak boleh bekerja.”

 

“Itu pasti sulit.”

 

Hey man, she is your wife. Remember that.” Prof. Hyun menepuk bahu Sehun.

 

“Kau benar sunbae, bagaimanapun juga aku suaminya.”

 

 

***

Seoul, 24 Maret 2017

01.30 KST

 

Sudah 6 jam sejak insiden pagi tadi yang membuat semua orang kalang kabut. Sehun masih setia menunggu Rei, hingga dia sangat merepotkan sekertarisnya untuk memindahkan berkas – berkas yang perlu di pelajari segera ke rumahnya.

 

Sesekali sehun memeriksa alat – alat yang terpasang di sebelah Rei dan selang infusnya, berharap Rei akan sadar dan membawa kabar baik bagi semuanya.

 

Jam sudah menunjukan pukul satu lewat tiga puluh menit, tapi Sehun belum juga menghentikan kegiatannya membaca seluruh berkas dan menandatangani proposal – proposal penting lainnya.

 

Sehun yang gila kerja.

 

Tutt… tutt… tutt… tutt…

 

Alat pemantau detak jantung itu berbunyi dengan cepat, membuat Sehun panik dan langsung berlari menuju tempat tidur, dimana Rei terbaring.

 

“Rei, bangunlah. Kau bisa mendengarku?”

 

Sehun segera memeriksa monitor dan juga pupil Rei “LUSIA KUMOHON!” Sehun berteriak.

 

Beberapa detika kemudian Rei bangun dengan mata dan mulut yang terbuka lebar, seolah – olah baru meghirup udara setelah sekian lama sesak. Sehun dengan segera mengambil jarum suntik dan mengambil beberapa botol kecil yg tersimpan di laci kemudian menyuntikannya di selang infuse.

 

Rei mulai kembali bernafas normal dan mencoba melepas alat bantu pernapasan.

 

Wanita itu langsung duduk dan tiba – tiba saja memeluk Sehun yang berada di dekatnya. Suara sesenggukan mulai keluar dan suangai kecil mengalir dari pipi Rei.

 

Gwenchana…” Sehun mulai membalas pelukan Rei dan mendekapnya dengan erat sambil mengusap lembut rambut Rei.

 

Sedangkan Rei sedang menangis hebat di bahu Sehun. Melepaskan semua bebannya yang ingin ia ceritakan, tapi tak mampu.

 

***

02.05 KST

 

“Makanlah lebih banyak, kau tampak mengerikan.”

 

Suara berat itu membangunkan Rei dari lamunannya. Dia menatap Sehun lekat. Melihat tampilan yang berantakan dengan kemeja sama yang ia gunakan pagi ini. Ada beberapa bekas noda darah, yang Rei ingat bahwa darah itu darinya.

 

Sehun membalas tatapan intens Rei dengan mata tajamnya. “Kau lebih mengerikan.” Ujar Rei sekaligus mengakhiri tatapan intens itu.

 

Sehun mengamati penampilannya. Benar juga, dia belum membersihkan diri sejak peristiwa menegangkan tadi pagi. Fikirannya masih terbang pada Rei yang bertambah parah.

 

“Lebih baik kau bersihkan dirimu, aku tidak akan lari dengan semua selang ini.” Sehun tersenyum sekilas kemudian meninggalkan Rei di kamarnya yang masih dipasangi kabel monitor tangan dan infuse –yang sebenarnya Rei sudah gatal ingin melepasnya. Tapi Sehun sudah memberi peringatan dan itu artinya tidak baik bermain – main dengannya.

 

Sehun juga turun tangan membuatkan makanan untuk Rei. Hari ini Rei kembali memutar film lama di kepalanya.

 

“Aku tak mau makan. Ibu! Lidahku rasanya pahit!” Remaja pemberontak itu memutahkan apa saja yang di suapkan ibunya.

 

“Lusia, kau tidak akan sembuh hanya dengan minum obat, kau harus makan.” Nyonya Kim kalang kabut meladeni Rei yang merintih kesakitan tapi tidak mau makan.

 

Tokk tokk tokk

 

Seseorang mengetuk pintu lalu membuka kenop pintu bercat putih itu perlahan. Menampilkan wajah tegas nan tampan dengan nampan dan beberapa makanan di atasnya.

 

“Pesanan datang. Kau mau makan apa tuan putri?”

 

“Sehun oppa?”

 

“Panggil aku Chef Oh, hari ini special untuk Putri Lusia aku akan menghilangkan segala penyakit ini dengan masakan ajaibku. Bagaimana?”

 

Rei begitu bersamangat dan hampir lupa bahwa dia sedang sakit dan melahap habis bubur ayam buatan Sehun. Menjadikan makanan Sehun salah satu favoritenya.

 

Ny. Kim senang melihat kedua anak – anak itu begitu akur. Biasanya mereka akan bertengkar habis – habisan hingga berakhir ketika Rei pulang dan menangis.

 

Meskipun begitu, Rei akan tetap datang pada Sehun sebesar apapun pertengkarannya.

 

Karena Rei…

.

.

 

Telah jatuh ribuan kali,

.

.

.

 

Untuk Sehun…

.

.

.

 

Selalu…

.

.

Dan

.

.

.

.

 

Akan tetap seperti itu…

 

Rei meneteskan air matanya lagi. Mengingat lagi siapa dia di masa lalu. Dan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Sehun. Begitu sakitnya hingga dia tak mampu lagi berkata – kata.

 

Bubur ayam sialan itu membuatnya mengingat masa lalunya.

 

Dan hal itu membuat hatinya sakit.

 

“Bagaimana harusnya aku menghadapimu sekarang?”

 

***

02.27 KST

 

Mendengar derap langkah menuju kearahnya, Rei segera mengusap air matanya dan menghabiskan makannya dengan cepat.

 

Pintu terbuka dan menampakan Sehun dengan setelan rumah yang menawan. Membuat jantung Rei berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Pria itu semakin mendekat dan membuat Rei kehilangan fokusnya.

 

“Minum ini.” Sehun membawa beberapa pil dan air putih.

 

Dengan tangan bergetar Rei mengambil pil – pil itu dan berusaha memakannya.

 

Sehun yang tak tahan dengan hal itu membatu Rei menghabiskan obatnya dan menyuapinya beberapa sendok bubur. Bahkan Rei tak mampu menghapiskan setengah mangkuk.

 

Hati Rei bergetar. Perasaan ini telah lama ia tak merasakannya.

 

Rei POV

 

Sehun membereskan meja kecil itu dari hadapanku dan menaruhnya sembarangan di bawah tempat tidur.

 

“Apa kau sakit di suatu tempat?” Ujarnya mengagetkanku.

 

Ani.”

 

“Kenapa tanganmu bergetar, kau juga berkeringat, detak jantungmu juga cepat. Apa kau merasa sedang panik sekarang atau kepalamu pusing? Katakan padaku sesuatu, kau terlihat tidak baik.”

 

Sehun mengusap lembut kening dan pipiku, mengusap keringat dingin dan sekali lagi menatapku intens.

 

“Tolong katakan sesuatu jika kau merasa tak nyaman Lu-ah. Eoh?”

 

“Jangan memanggilku seperti itu!” ujarku cepat. “Itu memalukan.” Aku mengakhiri kontak mata dengan Sehun. Sebelum semuanya hilang kendali.

 

“Ingatanmu kembali?” Sehun memegang bahuku erat. Memintaku untuk menatapnya.

 

Kau benar Sehun, aku mengingatnya. Semua!

 

Tentang hubungan kita.

 

Tentang apa yang pernah aku lakukan padamu.

 

Dan apa yang kau lakukan padaku.

 

Aku mengingatnya semua. Karena itu, aku benar – benar takut kehilanganmu, dan memelukmu hingga hatiku ingin meleleh rasanya karena kau juga membalas pelukanku.

 

“Apa yang tidak kau ingat tak akan menyakitimu.” Ucapan Sehun tiba – tiba saja menyadarkanku.

 

“Istirahatlah, ini hampir tengah malam. Besok kita bicara lagi. Jangan lepas infusenya!” Sehun mengusap kepalaku lembut lalu meninggalkanku di kamarnya sendiri.

 

Aku benci infuse.

 

Aku juga benci Sehun.

 

Ada jutaan alasan aku membenci Sehun, tapi aku tak pernah benar – benar bisa melakukannya. Semua rasa sakit itu hanya aku yang rasa.

 

Sedangkan Sehun, dengan mudahnya meninggalkanku di belakang sendirian.

 

Sekarang aku tahu kenapa aku tak mengingat sedikitpun tentang Sehun.

 

Itu karena aku terlalu menyukainya. Ani-bahkan aku sangat mencintainya.

 

Karena aku terlalu menyukainya dan karena itu juga hatiku menjadi lebih sakit.

 

Kenapa aku tidak bisa meraih hatinya. Hal apa yang tidak aku punyai yang mereka punya, hingga hatinya tak pernah goyah karenaku.

 

Apa yang membuatmu begitu menyakitiku. Rasanya sakit. Perasaan ini perlahan membunuhku, berharap untuk segera dibalas.

 

Hati ini sudah tak mampu menampung luapan rasa sakit ini Sehun.

 

Sikap tak acuhmu membuatku lebih sakit lagi.

 

Aku tahu kenapa orang tuaku mengatur perjodohan kita. Karena eomma dan appa tahu aku menderita OCD dan dengan menjodohkanku dengan Sehun berharap bahwa hatiku akan mulai sembuh dan penyakitku sembuh.

 

Ini percuma.

 

Hatinya tak pernah termiliki olehku…

 

Aku benar – benar ingin marah padamu. Selalu seperti ini. Meskipun tahu akhirnya akan selalu menyakitkan, tapi hati ini tak mampu melepasmu.

 

Aku takut.

 

Takut ketika waktu itu akan tiba.

 

Waktu dimana aku harus merelakanmu pergi tanpa kembali ketika semua ini selesai. Aku takut penyesalan menghantuiku. Aku takut jika suatu hari nanti aku harus melepasmu, aku akan menyesalinya meskipun hati ini telah tersakiti begitu dalam hingga tak mampu lagi merasakan perasaan itu. Hingga hatiku mati rasa.

 

Sehun-ah~

 

Seharusnya kau tidak menerima perjodohan ini sejak awal. Kau hanya menambah rasa sakit ini…

 

Aku sekarang ingat. Hatimu akan tetap pada Bae Hyun Ji. Wanita itu memang tak tergantikan. Dia yang membuatmu seperti sekarang ini. Dingin pendendam.

 

Bahkan sekarang aku ingat kenapa kau membentakku ketika bertengkar di mobil. Karena kau takut hal itu akan mengingatkanmu tentang Hyun Ji. Dan wanita Le Jun He itu yang membuat kalian bertengkar, karena itu kau mengajakku ke vilamu untuk meredam amarahmu.

 

Ingatanku sudah kembali hari ini Sehun, maafkan aku tak bisa jujur padamu.

 

Maafkan aku Sehun, aku akan egois kali ini.

 

Aku akan beranggapan bahwa ingatanku belum kembali.

 

Dan bertahan disisimu lebih lama lagi…

 

***

Author POV

 

Rei Lu Industry

08.38

 

“Hya! Yoon Herin, apa kau akan mengikuti terus?!” (Lihat chapter 7 kalo lupa hehe)

 

Gadis itu tiba – tiba berhenti mengikuti pria di depannya dan menunduk merasa bersalah.

 

“S-ssiapa yang mengikutimu?”

 

Mwo?”

 

Aniii~ aku hanya ingin bertanya sesuatu, tapi kau tampak muram hari ini jadi aku ingin tahu kapan saat yang tepat bertanya padamu, lalu dengan tidak sengaja aku terbawa hingga kesini.” Herin memainkan ujung jemarinya.

 

“Kau pikir aku akan percaya?” pria di depannya tampak gusar.

 

“Kenapa Oppa selalu menjawabku dengan kasar seperti itu, apa aku pernah melakukan kesalahan dan melukaimu?” Herin mulai marah dan meninggikan suaranya. Untung saja, saat itu lobi lantai delapan sedang sepi.

 

“Apakah aku juga harus menjawab pertanyaanmu itu?” Luhan dengan guratan marah di keningnya berjalan menjauh dari Herin.

 

“Luhan-ssi, bukankah dengan hal ini kau sadar bahwa Presdir kita bukan jalanmu. Daripada terus diam dan hanya mengamati dari dekat bukankah seharusnya kau mengutarakannya dengan berani, kau tahu kesempatan itu sudah hilang.” Herin mengucapkannya dengan air mata di pelupuk mata.

 

Dengan langkah lebar dan mata memerah Luhan kembali menyisakan jarak satu langkah saja dari Haerin.

 

“Kau tahu Herin. Bukan karena aku tak berani dan kehilangan kesempatan. Tapi karena kesempatan itu memang tidak pernah ada,” Luhan mengusap wajahnya gusar dengan air mata yang telah menetes.

 

“aku cukup sadar diri dengan keadaan keluargaku. Rei begitu jauh di atasku dan kau tahu apa yang menjadi masalah. Karena aku terlanjur mencintainya. Daripada aku kehilangnya lebih baik aku berdiam dan mengamatinya dari dekat. Karena hal itu lebih baik daripada harus kehilangan dia dari hadapanku.”

 

Herin kemudian mulai menangis mendengar penjelasan Luhan.

 

“Kau tahu, beberapa hal memang tak bisa dipaksakan Lu.” Kemudian Haerin berlari pergi menuju kamar mandi.

 

***

Sehun’s House

09.00 KST

 

Gadis yang baru saja menguap itu merasa punggungnya sakit karena seharian tertidur dan mencoba membuka matanya. Tak mudah untuknya, karena dia baru bisa tertidur pukul empat pagi, karena memikirkan banyak hal. Termasuk dimana Sehun tidur.

 

Well, Sehun memilih tidur di sofa ruang bacanya daripada melakukan hal – hal yang tidak baik karena sudah melihat tubuh Rei ketika membantunya berganti pakaian.

 

“Aigoo, sudah jam Sembilan. Aku begitu merindukan kamarku yang penuh dengan warna – warni.”

 

Rei kemudian mencoba untuk bangkit dan melepaskan infusenya.

 

“Sehun pasti sudah pergi, infuse ini sangat mengganggu. Aku akan memikirkan alasan ketika saatnya tiba.” Rei kemudian beranjak dari tempat tidur dengan malas, lalu menuju kamar mandi yang berada di kamar bernuansa hitam elegan itu.

 

Setelah beberapa menit membersihkan diri di kamar mandi, Rei langsung menuju meja makan yang anehnya masih ada makanan hangat.

 

Rei langsung saja menghampirinya, karena dia merasa sudah sembuh hari ini.

 

“Nyonya Rei anda sudah bangun?!” Para pelayan di ruang makan itu begitu terkejut mendapati Rei berjalan dengan piyamanya.

 

“Wae? Ini aku? Kenapa kalian sangat terkejut, apa aku menakutimu? Apa sehun baru saja marah dan pergi begitu saja.” Semua pelayan yang berada begitu membeku di tempat.

 

“Ini sudah jam Sembilan lebih, dan sepertinya masakan ini baru dimasak. Apa dirumah ini memang makanan dimasak setiap jam?” Rei langsung menempatkan diri dimeja makan.

 

Sedangkan para pelayan masih diam membeku.

 

“Apa Sehun baru saja memarahi ahjumma? Kenapa tegang sekali? Sudahlah, Sehun memang seperti itu dia akan tiba – tiba berubah kepribadian.” Rei tersenyum pada para pelayan dan hanya dibalas senyum kaku.

 

“Bagus sekali!” Tiba – tiba suara berat itu membuat Rei membeku dan berhenti tersenyum. Rei langsung saja menunduk di meja makan.

 

“Tidak hanya melepas infuse, kau juga membicarakanku di belakang.” Sehun kemudian mangambil tempat duduk di depan Rei. Dan Rei sadar bahwa saatnya telah tiba.

 

Mwo? Sehun memang seperti itu dan Mwo?! Berubah kepribadian.” Rei bahkan tak berani melihat bagaiman rupa Sehun di depannya.

 

Dia terus saja mengutuk dirinya karena berbicara asal di rumah orang.

 

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu, jangan lepas infusenya?!” Sehun terus saja menatap Rei dan Rei pun hanya mampu melihat jari – jarinya dan lengannya yang berdarah karena melepas selang infuse.

 

Annii~ tanganku hanya merasa gatal dan aku merasa lapar, aku merasa tidak nyaman makan dengan selang infuse.”

 

“Kau masih berani menjawab.” Entah ada apa dengan Rei hari ini, dia biasanya akan menegakkan kepala dan berdebat dengan Sehun. Tapi dia hanya diam dan menunduk, merasa bersalah dan juga takut.

 

Sehun berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rei, Rei pun begitu gemetar karena Sehun mulai mendekatinya.

 

“Perlihatkan tanganmu.” Sehun berlutut dan mengangkat lengan baju Rei. Mebersihkan luka sobek bekas infuse dan memberikannya plester.

 

Rei mengamati Sehun dari celah rambutnya dan bergetar merasakan perhatian Sehun.

 

“Apa kau sudah tak waras menarik jarum infuse seperti itu, bagaimana jika pembuluh darahmu putus.”

 

Apa kau mengkhawatirkan aku?. Batinnya

 

“Biarkan saja, lagi pula dia(pembuluh darah) akan kembali bersatu lagi.”

 

“Dan ayahmu akan membunuhku.”

 

“Kenapa semua orang selalu menanggapi ayahku seperti itu, ayahku orang yang baik.”

 

“Kau hanya tidak tahu saja betapa ayahmu menyayangimu.” Sehun selesai dengan mengobati goresan di lengan Rei. Dan kembali di meja makan.

 

“Kau baru mau berangkat, ku kira kau sudah pergi.”

 

“Jika sudah, kau akan membicarakan kejelekanku lebih banyak lagi?”

 

“Itu seperti peringatan.” Jawab Rei masih menunduk.

 

“Kau tidak diperbolehkan meninggalkan rumah ini tanpa izinku. Kau mengerti. Semua dengar itu! Aku akan memberikan hukuman kepada siapa saja yang membiarkan dia pergi.” Setelah menyelesaikan ucapannya Sehun pergi menuju mobilnya yang sudah siap.

 

Nappeunnum!” ujar Rei lirih sambil mengacau makanannya.

 

“Aku bisa mendengarmu.” Teriak Sehun.

 

Rei langsung menutup mulutnya dan memukul kepalanya. “Apa dia menempelkan alat penyadap padaku, aissh.”

 

***

 

Seunghwa Groub

12.45 KST

 

Sehun tiba – tiba saja berdiri dari duduknya, mengambil sebuah buku lalu mengambil foto yang disimpannya di halaman buku itu. Fotonya bersama Hyun Ji.

 

“Spertinya ingatannya sudah kembali.” Ujarnya pada foto itu.

 

“Tapi kenapa dia tak mengatakannya padaku?”

 

“Ah… pasti ketika dia menangis dan memelukku.” Sehun kemudian tersenyum dan menatap foto itu intens.

 

“Apa yang harus aku lakukan padanya Hyun Ji-ah?”

 

To Be Continue…

 

Hallo para readersku *deepbow. Maafkan Jihyoen yang kelamaan update sampai kalian lupa sama jalan ceritanya wkwks. Ini dia cerita yang agak panjangnya, dan gak bagus – bagus amat. Semoga kalian gk bingung – bingung amat ya sama jalan ceritanya. Kalo ada yang gajelas langsung comment aja, ntar aku coba untuk menjelaskan.

Oh ya, aku berfikir untuk menulis di wattpad, dengan sedikit perbaikan untuk Perfectionis ini, atau My Cool Namja. Menurut kalian gimana? Yay or nay? *.*

 

Terimakasih sudah mau membaca dan meninggalkan jejak. Satu comment kalian begitu berarti buatku untuk tetap melanjutkan menulis :3

 

Jihyoen undur diri- pai pai ^^

 

Advertisements

35 responses to “PERFECTIONIS (Chapter 9)

  1. Kasihan juga sama rei yang suka sama sehun sampai nyakitin diri sendiri (sampai jadi penyakit),.. Sehun.a juga kalu gak suka sama rei knpa dia mau dijodohin sma rei,.. Next chap selalu kutunggu .. 😉

    • namanya manusia, dikasih yang pasti maunya yg gak pasti hehe. btw thanks for leaving a comment ^^

  2. Sehun suka ga sih sama rei???
    Kasian reinya klo digantungin,kan jadinya rei boongkan, isshh dasar sehun nyebelin
    Rei sama luhan ajalah yg pasti bikin bahagia rei, ga usah sama sehun
    Ditunggu next chapnya, jgn lama” ya author hehe
    Trus klo author mau nulis di wattpad oke aja sih tapi jgn diubah samain aja hehe

    • wkwkws, mangkanya tungguin next chapter ya ^^
      oke, aku akan coba memperbaiki perfectionis biar bisa laris di wattpad ^^

  3. huaaa… diterusin aja cerita ini thor
    keren kok ceritanyaaa, aku suka banget malahhhh…

    bikin aku penasaran gitu, hyunji ini kenapa kok bisa dapetin hatinya sehun sebegitunya,
    aaaa…
    lanjutin aja deh thor.. sumpah kepo baca end nyaaaaa 😀😀😀

    btw, fighting for the next chapt,
    I’ll wait the next chapt..

  4. iyaa kk, coba dehh di wattpad..banyak bgt loh pembaca di wattpad, hihi aku tunggu yaa kk

    .woahhh akhirnya rei inget juga sm masalalu nya, tp bikin aku sedih, luka lama rei kembali lagi.. huaaaa ga mau liat rei sakit hati mulu, hihhh sehunnn coba dong buka hatimu yah walaupun km uda perhatian bgt sm rei tp kan masih ada bayang” Hyun Ji.. bikin gereget bgt, serius dehh..aku takut klo sehun berlaku terlalu perhatian sm rei, reinya jadi salah paham kan berasa kaya di php in..wkwkwk.. semoga aja sehun lama kelamaan ada rasa sm rei, buruan dong hun!! kasian rei nya..

    oh yaa kk, makin keren kok ff nya.. enak dibaca, hihihi..kk kpn” bikin scene moment HunRei yg bikin deg”an yaa kk.. sweet” gmna gtuuu.. aku tunggu kakaaaaaa.. semangatt yaa

  5. Fiks disini aku gk suka sehun
    Mulai suka sama rei plisss
    Gk mungkin kan dia membangkitkan orang mati si hyunji itu
    Greget aku tu
    Ditunggu nextnya

  6. Sehun kenapa sih gak sadar sama perasaan nya,dia itu sebenernya jg ada sedikit rasa kan sama rei.
    Rei udah ingat semuanya,terus bakalan gimana hubungan ya nanti sama sehun.kepo banget kak, cepetan lanjut
    Btw kak,jangan di wp kak update nya disini aja,hehe…
    Semangat kak,ditunggu next chapter nya

  7. Akhirnya rei udh inget tpi kasian juga ngeliat keadaan rei, sehun bener bener udh tau rei Cinta mati banget tapi disiasiann baru tau rasa kalau karma udh berjalan, semoga rei bahagia jangan sampai bahagia sama sehun aku pingin sehun menyesal banget 😄😳😂 ditunggu ka next nya

  8. Rei udah ingat masa lalunya. Tp masalalunya sperti menyakitkan utk diingat. Sehun sdh tau, tp diam sja. Sehun juga masih ga paham sma perasaannya. Penasaran gmn kelanjutannya

  9. Huuaa sedih liat perjuangan lusia buat dapetin hatix sehun.. Berkali kali disakitin tpi gk pernah menyerah, smpai harus berbohong supaya bisa trus sama sehun..
    Kayax sehun jg udah tau klo ingatan rei udah kmbali, tpi kok sehun malah diam aja? Sehun jahat jahat jahat!!

    Next kak
    Fighting

  10. Halo kak, aku baru baca ff nya di chap ini kak, jadi sehari maraton dari chap 1. Btw aku suka ff yg ada pict2nya gitu 😀 semangat bua chap selanjutnya ya kak

  11. Bener bener pinggin mengumpat….huuaaa aku nangis parah. Dasar gak pega apa emang begok ya ni sehun. Bener2 greget sam sehun .. dan setiap baca kisah lusia bikin hati berasa nyuuut gitu. Pokoknya gitulah. Bingung mau bicara apa.oh iya on kalo mau post di wattpad, nama penggunanya apa, siapa tau bisa mampir ngrame’in.see you next chapternya. Jangan lama2 ya

  12. Authorrr ditunggu kelanjutannyaa yaa, ceritanya ini keren, bagusss😭 bikin nyesek.. Kalo mau bikin di wattpad lebih panjang dong ya😏😂.. Bagus thor kalo di wattpad.. Tpi jangan lama2 yaaa thorr semangaaatt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s