Tragedi Jisoo – Angelina Triaf

Angelina Triaf ©2017 Present

Tragedi Jisoo

Ji Hansol, Park Jisung, Nakamoto Yuta, Kim Doyoung, Johnny Seo, Ten Leechaiyapornkul (NCT) with Kim Jisoo (BlackPink), Park Jisoo/Jihyo (Twice), Hong Jisoo/Joshua (Seventeen), Seo Jisoo (Lovelyz) | Comedy, College-life | G | 4 Ficlet(s)

“Jisoo, ada yang mencarimu di depan!”

0o0

Keramaian kelas lantaran dosen yang telat datang nyatanya tak membuat Hansol kehilangan kepekaannya pada sekitar. Matanya kini memerhatikan pintu depan kelas yang terbuka, terdapat seorang anak laki-laki yang mungkin masih duduk di bangku SMP berdiri di sana. Tak mengindahkan panggilan Jisoo di sampingnya, Hansol bangkit dari kursinya lalu menghampiri anak itu.

“Ada perlu apa ya?”

Anak itu sedikit terkejut, tapi tak lama memberi salam pada Hansol dengan sopan. “Hai Kak, namaku Jisung. Apa ada yang namanya Jisoo di sini? Dia kakakku, dan aku diminta untuk mengantarkan buku ini.”

Hansol mengangguk sesaat, lalu tersenyum pada bocah bernama Jisung itu. “Ada, sebentar ya.”

Lalu pemuda itu masuk kembali ke kelas, menepuk pundak Jisoo. “Kim Jisoo, adikmu datang itu di depan kelas.”

Setelah memberikan informasi itu, Hansol langsung duduk di tempatnya, tak melihat perubahan wajah Jisoo yang tampak bingung.

Tapi sudahlah, Jisoo hanya menurut dan berjalan ke arah pintu kelas. Dilihatnya seorang anak lelaki yang cukup tinggi berdiri membelakanginya. “Permisi, ada perlu apa, ya?”

Jisoo masih memerhatikan gerak-gerik anak itu yang sepertinya sama-sama kebingungan.

“Aku… mencari Kak Jisoo.”

“Aku Jisoo.”

Jisung membulatkan kedua matanya, “Maksudku, Park Jisoo, mahasiswi jurusan Sastra Jepang.”

Semuanya jelas sekarang. Jisoo hanya tersenyum kecil lalu segera memberitahukan di mana letak gedung fakultas Seni dan Bahasa. Begitu Jisung pergi, Jisoo langsung kembali ke tempat duduknya.

“Sudah bertemu adikmu?” tanya Hansol dengan wajah datarnya.

Jisoo tersenyum sinis, mencubit kedua pipi Hansol dengan gemas. “Jadi kekasihku sudah berapa lama, sih, Ji Hansol? Aku anak tunggal, dasar bodoh.”

Dan Hansol hanya terdiam saja, mencoba mencerna apa yang Jisoo katakan padanya.

~~~~~

“Jisung belum datang?”

Jisoo hanya bisa mengangguk dengan lesu. Kelasnya akan dimulai sejam lagi dan dengan bodohnya ia lupa membawa buku yang isinya adalah bahan ujian hari ini. Jisoo belum selesai belajar semalam, tentu saja ia khawatir jika nanti tidak dapat mengerjakan ujiannya dengan benar.

“Jisoo, ada yang mencarimu di depan!”

Betapa bahagianya Jisoo mendengar teriakan salah satu temannya dari depan kelas. Matanya berbinar seperti telah memenangkan hadiah mobil dari undian konyol yang sempat Jaehyun tawarkan padanya kemarin.

Gadis itu bahkan hampir berlari untuk menghampiri adiknya yang―

“Permisi, dengan Jisoo?”

Sejak kapan adiknya berubah menjadi tukang antar pizza?

“Iya…” jawab Jisoo ragu-ragu. Terlihat dengan jelas olehnya papan nama bertuliskan Yuta menempel di baju pemuda itu. Jika saja sedang tidak dirundung kebingungan mungkin Jisoo akan sepenuhnya menyadari bahwa tukang antar pizza ini sangat amat tampan.

“Ini pesanan pizzanya. Totalnya―”

“Mas, tunggu!” potong Jisoo sebelum ia mendengar hal tak berguna semacam harga pizza itu atau promo lainnya yang mungkin akan Yuta tawarkan padanya. “Pizzanya atas nama siapa?”

“Atas nama Hong Jisoo.”

Jelas sudah, Jisoo menghela napas putus asa. Bukannya Jisung yang datang malah tukang antar salah alamat yang ia temui. “Hong Jisoo ada di gedung sebelah, Mas.”

Tentu saja ucapan Jisoo membuat Yuta kaget.

“Dan Mas Yuta yang tampan, jangan sampai salah lagi, ya. Hong Jisoo itu laki-laki.”

Gadis itu berlalu begitu saja masuk ke dalam kelas, dengan rasa kesal setengah mati sembari mulutnya mengumpati Jisung yang tak kunjung datang.

Oh, dan jangan tanyakan bagaimana ekspresi bodoh Yuta saat ini.

~~~~~

“Bro, yakin tuh tukang pizza engga salah gedung? Kudengar yang namanya Jisoo ada banyak di sini.”

Doyoung terus memerhatikan jam di atas layar putih di depan kelasnya. Menghitung waktu yang sepertinya jadi berlalu sangat lama jika sedang kelaparan. Mungkin seharusnya Doyoung tadi membeli makanan sendiri di kafetaria kampus daripada meminta Jisoo memesankan pizza untuk mereka.

“Entah, kalau salah orang kan masih bisa tanya di jalan.”

Jika saja bukan temannya mungkin Doyoung akan langsung memukul kepala Jisoo dengan salah satu gitar di kelasnya.

“Jisoo, ada yang mencarimu tuh. Cepat!”

Seorang gadis berambut kemerahan berteriak dari depan kelas. Jisoo menjawabnya dengan anggukan lantas mengeluarkan sejumlah uang dari saku kemejanya. “Nih, bayar sana.”

Senyuman lebar khas Doyoung langsung terlihat. Dengan senang hati Doyoung berjalan menuju depan kelas.

Hanya untuk mendapati seorang pemuda tinggi dengan tangan kosong yang berdiri membelakanginya. “Eum, maaf, ada perlu apa, ya?” tanya Doyoung sedikit ragu. Tentunya ia tidak cukup bodoh untuk mengira bahwa pemuda tampan yang mungkin sebaya dengannya itu adalah tukang antar pizza.

“Aku mencari Jisoo. Dia ada di dalam, ‘kan?”

“Jisoo? Ada.”

“Boleh tolong panggilkan―”

“Tunggu! Aku temannya, jadi bolehkah aku tahu ada perlu apa kau dengannya? Jisoo itu paling tak suka berurusan dengan orang asing.”

Mungkin di kepala pemuda itu Doyoung adalah salah satu jenis manusia yang dapat membuang-buang waktunya. Tapi akhirnya ia hanya tersenyum kecil lalu menjawab, “Aku Johnny, kekasihnya―oh, mungkin akan jadi mantan, sih. Kemarin kami bertengkar dan ia sama sekali tak menjawab teleponku.”

Demi langit juga Bumi dan segala isinya, Doyoung benar-benar membulatkan matanya selebar yang ia bisa. Jangan pula tanyakan jadi seperti apa wajah kagetnya itu saat ini. “Kekasihnya… Jisoo? Serius?”

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

“Hong Jisoo, kukira kau laki-laki sejati. Apa ini alasanmu tak pernah menerima cinta para gadis di kampus…” gumam Doyoung kaget bercampur ngeri, tapi sepertinya Johnny tak mendengarnya.

“Jadi, boleh tolong panggilkan―”

“Doyoung, kenapa lama sekali?”

Tahu-tahu Jisoo sudah muncul di belakang Doyoung. Ia mengerutkan keningnya karena mendapati Doyoung yang bicara dengan orang asing dan bukannya sedang menerima pizza. “Itu siapa?”

“Kekasihmu,” jawab Doyoung sekenanya.

Tentunya Jisoo dan Johnny sama-sama terkejut dibuatnya. “Kau bercanda, Kim Doyoung.”

“Johnny sendiri yang bilang kalau dia kekasihmu, Hong Jisoo!”

“Oh tunggu, Hong Jisoo?” sela Johnny, sepertinya ia mulai sadar apa yang tengah terjadi saat ini. “Aku mencari Seo Jisoo, mahasiswi jurusan Psikologi.”

Semua kesalahpahaman ini berakhir dengan Jisoo yang memberikan rute menuju gedung tempat Seo Jisoo berada pada Johnny, juga satu sindiran bodoh yang ia ucapkan sedalam mungkin pada Doyoung.

Benar saja, saat ini Doyoung melupakan rasa laparnya dan lebih memilih untuk bersyukur bahwa dunia tidak jadi kiamat hari ini.

~~~~~

Mendapatkan teror dari Johnny selama hampir seminggu ini membuat Jisoo hanya mampu menghela napas lelah setiap hari. Ia jadi tidak konsentrasi dalam mengerjakan apa pun, baik itu di rumah maupun di kampus.

“Jisoo, ada seorang pemuda yang mencarimu di depan kelas.”

Gadis itu mengangkat kepalanya yang sebelumnya terkulai lemas di atas meja. Benar-benar tak ada semangat untuk hidup. “Siapa?”

“Entah, yang jelas di tangannya ada buket bunga besar juga boneka beruang. Sepertinya untukmu.”

Sontak saja Jisoo mengerutkan keningnya. Sampai sebegitunya Johnny ingin mereka kembali bersama sehingga melakukan hal konyol seperti ini? “Aku malas, suruh dia pulang saja.”

“Tapi wajahnya melas sekali, Ji. Temuilah sebentar.”

Karena tak tega juga dengan sahabatnya itu, dan mendengar betapa kasihannya Johnny menunggu di luar sana, Jisoo akhirnya menurut dan berjalan menuju pintu dengan lunglai.

“Johnny, sudah kubilang kita―”

“Kak Jisoo, terima cintaku!”

Ada apa ini…

Jisoo bingung, pemuda dengan rambut hitam itu juga bingung. “Eh? Kamu siapa, ya?”

Masih dengan kondisi setengah sadar, pemuda itu langsung menurunkan buket bunga yang dipegangnya lalu memberi salam pada Jisoo. “Aku Ten. Kakak siapa, ya?”

“Aku Jisoo.”

Lagi-lagi keduanya bingung luar biasa. Jisoo tak pernah mengenal siapa itu Ten dan begitu pula dengan Ten yang tak mengenal siapa Jisoo di hadapannya ini.

“Ah, maaf, Kak. Sebenarnya aku mencari Kak Jisoo, Kim Jisoo.”

Tak butuh waktu lama bagi Jisoo untuk melihat semburat merah di pipi Ten. Lucu sekali melihat orang lain malu di hadapannya seperti ini. “Oh, Kim Jisoo Fakultas Hukum? Gedungnya memang bersebelahan dengan gedung ini. Aku Seo Jisoo.”

Ten tak tahu lagi mau ditaruh di mana wajahnya saat ini. Terkutuklah Taeyong yang salah memberikannya informasi (atau justru sengaja memberinya informasi yang salah?).

“Maaf juga, lagipula seingatku Kim Jisoo itu kekasihnya Ji Hansol.”

Lee Taeyong sialan.

“Oh? Begitu, ya…” ujar Ten lemas, mau tak mau menumbuhkan sedikit perasaan iba dalam diri Jisoo. Sudah salah orang, terlebih lagi ternyata ia salah sasaran tembak.

“Kalau begitu…” Ten kembali mengangkat buket bunga dalam genggamannya. “Kim Jisoo atau Seo Jisoo sama saja, deh. Mau terima aku engga, Kak?”

Sepertinya Jisoo akan menjadi benar-benar gila saat ini.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s