ANTAGONIS – HELP

antagonis

ANTAGONIS

Cast : Sehun, Kai and Jihye

Terastory © 2017

‘Antagonis adalah versi cara pandangmu, karena kau tidak pernah melihat dia menjadi protagonis melalui cara pandangnya.’


.

.

Klub Paradise memang yang paling besar di antara semua klub malamnya jalan Gangnam. Para manusia yang kesepian sedikit melipir mencari kehebohan untuk menemani, ada pula orang yang cukup bodoh untuk menyendiri di tengah keramaian seperti ini. Tapi Jihye tidak punya waktu men-judge siapapun, karena di antara ratusan kepala yang menghentak bersama musik sang DJ, tubuhnya meliuk bersama mereka.

Dia juga kesepian, dan dia juga ingin menyendiri.

Aneh? Well, dia tidak peduli.

Ketika satu persatu tangan pria mulai berniat menyentuh tubuhnya yang membuat siapa saja iri, mata kucingnya justru bertemu pemandangan langka.

Satu garis melengkung di bibirnya yang marun membentuk senyuman sinis yang pahit.

“Kau sangat tahu cara menghancurkan pestaku, Bae Sumin.”

Demi Tuhan! Untuk apa si miss goodie two shoes itu datang ke tempat seperti ini? Pesta ini hanya untuk anak-anak berkelas sepertinya. Bukan gadis kampungan yang tidak mengerti caranya berpakaian.

Matanya bergulir ke hadapan Kai, pemuda yang secara kebetulan datang ke bar yang sama dengannya. Tidak, pria itu sama sekali tidak berpesta. Dia lebih kebagian orang-orang yang menyendiri di tengah keramaian.

Dia menepis segala macam tangan kurang ajar di sekujur tubuhnya, dan bergerak cepat ke arah meja Kai tentu dengan langkah yang seduktif. Tatkala berhasil menarik perhatian sang pemuda dari segelas Vodka, senyuman bangga dan manis Jihye pertontonkan pada Kai.

“Hai, Kai.” Ujar Jihye basa-basi.

“Tinggalkan aku Jihye, aku sedang tidak berminat menghadapimu.”

Oh, ya. Jihye berusaha setengah mati tidak memutar bola matanya. Bukan rahasia umum kalau Kai membenci Jihye dari ujung rambut sampai kakinya. Terutama fakta bahwa Jihye hobi sekali membuat kehidupan orang lain menderita.

“Kenapa? Padahal aku punya kejutan untukmu.” Jihye mulai bergelayut di lengan Kai diiringi nada-nada manja yang biasa digunakannya untuk memikat pria.

“Lepaskan, Shin Jihye,” Kai melemparkan tatapan jijik padanya, sekaligus menghentak lengan mungil gadis itu dari tangannya. Dia muak berurusan dengan rubah betina macam Jihye. Wajahnya memang cantik tiada dua, sayang hatinya lebih busuk ketimbang tumpukan sampah di pembuangan.

Atau itu yang semua orang pikirkan.

Jihye merajuk, dia bersidekap dan kakinya yang jenjang menyilang. “Kau masih sibuk memikirkan Sumin? Ayolah, semua juga tahu dia itu wanita jalang ya—“

“SHIN JIHYE!” gelas vodka Kai jatuh menumpahkan isinya. Keterkejutan nampak di wajah Jihye, tetapi tidak lama baginya kembali menghujat Bae Sumin di depan pria yang mencintainya tapi cukup bodoh untuk tidak menyadari perasaannya sendiri.

“Apa? Kau melihatnya sendiri dia—“

“KUBILANG TUTUP MULUTMU SHIN JIHYE!”

Dia beruntung, suara musik terlalu keras sehingga menutupi teriakan Kai yang jelas akan mengundang perhatian. Meski tetap beberapa kepala yang mengetahui perdebatan mereka juga menoleh di akhir. Mereka yang cukup pintar memutuskan menjauh atau menganggapnya angin lalu.

Jihye menyipitkan matanya. “Kau membentakku untuk wanita seperti itu, Kai?”

Kai dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kehormatan, tentu memukul wanita adalah sebuah kesalahan. Walaupun dorongannya sangat besar untuk melakukan satu pada Jihye.

“Kau seharusnya melihat bagaimana wanita itu menggoda seseorang sekarang.” Kai mengikuti arah pandang Jihye.

Apa yang dia temukan semakin menambah bara ke dalam api cemburu yang dia rasakan. Kai beringsut meninggalkan Jihye demi menghampiri Sumin dan seorang pria mabuk yang mencoba menggoda gadis malang itu.

Jihye memang kesal ditinggalkan begitu saja oleh pria yang dia taksir. Semua orang melihat itu di tengah temaram lampu klub, tetapi mereka melewatkan helaan napas lega dari bibirnya yang berhembus menyapu poni.

Tidak ada lagi hal menarik untuk dilihat, Jihye mengambil tasnya dari mejanya sendiri. Mengabaikan seruan teman-temannya—atau yang mereka kira begitu.

Manusia selalu punya dua wajah. Jihye benci itu.

Udara malam yang dingin tidak terlalu dia pikirkan, padahal dress tube gadis itu sangat pendek untuk ukuran wajarnya. Langkah Jihye berhenti ketika jaraknya sudah dua meter dari mobil. Ia mencoba menajamkan pengelihatannya, setelah memastikan bahwa yang duduk di samping mobil kesayangannya adalah seorang geladangan, rasa kesal langsung menjalari Jihye.

Dia menendang kaki pria yang wajahnya banyak lebam itu dengan stiletto-nya yang tajam. “Ya! Ireona!” Jihye tidak sudi menggunakan formalitas dengan orang tanpa asal-usul. Waktu sudah larut, dan besok dia masih harus ke rumah sakit untuk jadwal intern.

“akkh….” Pemuda yang rambutnya kepirangan itu mencoba melihat siapa yang lagi-lagi membubuhi rasa sakit di tubuhnya. Ketika dilihatnya seorang gadis semampai dengan baju kurang bahan, pria itu mengutuk keberuntungannya.

Sayangnya dalam situasi buruk ini, dia tidak bisa memilih kepada siapa dia harus meminta pertolongan. “Tolong aku….”

Di lain pihak, Shin Jihye menatap gelandangan di depannya menilai. Dia punya dua pilihan meninggalkan, atau menyelamatkan. Jujur saja dia benci membuang waktunya, tetapi melihat kalau pria ini memiliki aura yang menarik—sesuai bisikan instingnya—Jihye mempertimbangkan.

Gadis itu berjongkok di hadapan si laki-laki, jemarinya menarik dagunya hingga laki-laki tersebut kembali meringis oleh luka di sudut bibirnya. Jihye memang tidak bisa memperlakukan orang lain dengan lembut.

“Siapa namamu?”

“Sshh, Oh S-sehun.”

“Aku akan menolongmu, tapi dengan satu syarat.”

Mata keduanya saling berpandangan. Jihye nyaris lupa kalau di sinilah dia yang seharusnya mengendalikan situasi.

“A-apa?” Sehun sebenarnya sedang berpikir apakah wanita di depannya ini serius atau tidak? Well, kemanusiaan mungkin memang sudah luntur dari dunia. Dulu mereka yang selalu menjunjung pertolongan tanpa pamrih, kenyataannya pasti ada satu atau banyak hal yang diam-diam mereka hasratkan, tapi wanita ini, dia begitu gamblang meminta sesuatu.

“Jadilah peliharaanku.”

Dia memang sudah gila.

.

.

.

Review Character 1

Shin Jihye
large

21 years old

The heiress of Shinkan Electrics, Corp.

Two-faces beauty, liar, other call her femme fatale because of her skill to seducing every men thrown her way. Arrogancy is her middle name. You will hate her with passion. 

more info will be added later.

 

TBC

What is thiiiiiis?!!!!!!!!!! Saya juga ga tahu hwaaaaaak, RCL puhwease kalau menurutmu ini menarik dan cocok buat dilanjut. Thanks, until we meet again!

Advertisements

21 responses to “ANTAGONIS – HELP

  1. Gilaaa permintaannya😑 aigoooo…
    Tapi aku suka dgn karakter Jihye….
    Sering kesel sndiri baca ff kalo dah ceweknya protagonis teruss…pasrah sama nasib mulu😁
    Waiting for next chap yya unnie…^^
    Jgn buat Sehunnya jadi sedih2 amat nasibnya😂

  2. Jadi disini sehun jadi gelandangan gitu? Jangan sampe sehun menderita, nggak tega kalo liat dia jadi peliharaan jihye dan menderita

  3. Menarik kak.. biasanya kan yg jadi orang berkuasa itu cowok, tp disini cewek.. waahh kira2 jihye punya maksud apa ya ke sehun? ditunggu kelanjutannya kakk😆

  4. Jihye parah gila.
    Peliharaan (?) uluhuluh kasian sehun oppa.
    Ditunggu kelanjutan nya kak 🙂

  5. Wah Jihye emang rada2,, jadi peliharaan(?) dikira apa kali yaa… tapi ceritanya bagus, dan menarik untuk diikuti.. next & fighting !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s