FALLEN HEAVEN – CHAPTER [3]

He was the one, who I wasn’t allowed to fall for. But I did.

He was the one, who I wasn’t allowed to become mine. But I did.

If I had to choose between them or him, the answer was him.

Even if I had to face the risk.

I was scared, but he’ll protect me. He said so. He has always protect me.

And I know he will do anything to protect me.

.

.

FALLEN HEAVEN

Choi Seona – Byun Baekhyun

Romance, Action, Crime, Drama, Family

PG-17

aaahraaa©2017

Warning :

Cerita ini hanyalah fiksi, jadi don’t be serious guys! A lot of grammatical errors bahkan tidak sesuai ejaan yang disempurnakan, karna aku sendiri hanyalah manusia biasa. Kritik yang membangun boleh asal menggunakan bahasa yang baik.

Selamat membaca!

Previous Chapter :

[1] – ONE THING LEADS TO ANOTHER 

[2] – HER CURIOSITY KILLED THE CAT

.

.

CHAPTER THREE
HIS ELECTRIC BLUE-EYED MONSTER

.

.

Byun Baekhyun mengetukkan jemarinya di atas meja berkayu hitam legam di dalam ruangannya. Tatapannya mengarah keluar jendela besar, melihat rembulan malam yang bersinar terang di hari keempat belas bulan September dengan tatapan kosong.

Tanpa ekspresi. Bermimik datar. Itulah wajah yang selalu ia gunakan kapanpun dan dimanapun. Sudah bertahun-tahun lamanya, Baekhyun memakai topeng tanpa ekspresi ini. Topeng yang mengantarkannya menuju kesuksesan bagi dirinya.

Black Wolf, organisasi hitam yang ia bangun dari hasil keringatnya sendiri hingga kini tak satupun yang berani mengusik transaksi jual-beli ilegal miliknya. Mulai dari senapan, pistol, ganja, hingga morfin yang ia kirim hingga ke Benua Eropa. Namun tak hanya Black Wolf yang ia miliki, beberapa perusahaan pun ia miliki walau tujuan utama hanyalah ingin mengelabui para polisi yang berusaha mencari kelemahannya.

Kekuasaan, kekayaan, dan wanita dengan begitu mudahnya ia dapatkan. Namun, sebuah ingatan masa lalu yang kelam turut menghantui dirinya.

Masih teringat jelas dalam ingatannya saat pertama kali ia berhasil menarik pelatuk senapannya tepat di jantung seseorang yang begitu membekas di dalam hidupnya. Kala itu, dirinya merasa begitu bodoh dan gegabah dalam mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang akhirnya merenggut nyawa seorang gadis kecil yang tak berdosa, yaitu meninggalkan keluarganya demi seorang gadis. Baekhyun ingat betapa hancur hatinya melihat sang gadis menatapnya seakan meminta tolong namun hanya jeritan tangis yang mampu Baekhyun keluarkan dari bibirnya. Saat itu, ia menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Sejak saat itu, Baekhyun bersumpah tidak akan mencintai seorang wanita kembali. Ia telah menutup rapat hatinya untuk siapapun, bahkan ayahnya sekalipun. Ia merasa seperti robot berwujud manusia yang dengan mudah menarik pelatuk pistolnya kepada siapapun.

Hingga suatu ketika, hati yang tertutup rapat itu memaksa untuk dibuka saat Baekhyun tak sengaja melihat seorang wanita memiliki paras wajah yang mirip dengan gadis kecilnya.

Ya, wanita itu.

Seona.

Saat itu, Baekhyun terkejut bukan main. Ia bahkan tak yakin dengan penglihatannya sendiri. Hingga sang wanita pun menyadari bahwa dirinya telah diperhatikan olehnya. Baekhyun menatap lekat wanita itu, ia bertanya-tanya apakah gadis kecilnya akan memiliki paras wajah yang sama dengan wanita itu?

Suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar seketika. Sedetik kemudian, seorang pria paruh baya memasuki ruangannya. Pria itu perlahan menghampiri meja Baekhyun kemudian menundukkan kepalanya. Ia menatap Baekhyun dengan wajah tenangnya, seakan tak takut dengan latar belakang Baekhyun yang membuat siapapun tak mampu menatap matanya.

Pria itu adalah Pengacara Jang Jin. Ia merupakan pria yang dipercaya oleh Baekhyun bahkan oleh Ayah dan keluarganya selama bertahun-tahun lamanya. Ia telah mengetahui seluk-beluk keluarganya dan juga Black Wolf.

“Apa kau mendapatkan apa yang kuinginkan?” tanya Baekhyun tanpa basa-basi. Matanya menatap langsung mata Jang Jin.

Pengacara Jang tak lantas menjawab pertanyaan Baekhyun, ia terlebih dahulu duduk di sofa cokelat tua di depan Baekhyun.

Baekhyun memerhatikan Jang Jin yang hanya menatapnya diam dengan menyerngitkan alisnya. Tak biasanya Jang Jin diam tanpa mengeluarkan lembaran kertas berisikan informasi yang ia ingin ketahui.

“Kau tidak memberikan apapun padaku?” tanya Baekhyun dengan sakarstik.

“Sejujurnya, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba kau memerintahku untuk mencari tahu tentang wanita bernama Seona ini. Di dunia ini, banyak sekali yang bernama Seona. Bahkan kau tak memberikan informasi detail mengenai dirinya,” jelas Jang Jin. Kemudian Jang Jin mengeluarkan sebuah map cokelat muda kepada Baekhyun.

“Kau bisa melihatnya sendiri, yang manakah Seona-mu itu.”

Baekhyun lantas  mengambil map cokelat muda itu dan membukanya dengan cepat. Ia melihat banyak lembaran foto wanita yang bernama Seona. Lembaran demi lembaran Baekhyun telisik wajah mereka; mulai dari anak-anak, remaja, wanita dewasa hingga wanita paruh baya.

Baekhyun melempar asal foto-foto itu. Ia marah. Wanita yang ia cari tidaklah berada diantara lembaran foto itu. Ada sedikit rasa penyesalan di dalam dirinya. Mengapa ia membiarkannya pergi?

“Tidak ada,” ucap Baekhyun singkat. “Kau yakin hanya itulah yang kau miliki?”

“Sebenarnya tidak, aku masih memiliki yang lain. Namun aku sedikit ragu untuk memberikannya padamu,” jawab Jang Jin. Ia mengeluarkan foto terakhir yang ia miliki kepada Baekhyun yang lantas disambar oleh Baekhyun.

Matanya dengan cepat memerhatikan wajah seorang wanita berparas cantik dan elegan dengan surai cokelat bergelombang yang membuatnya semakin cantik.

Dialah yang Baekhyun cari.

Ia terlihat lebih cantik dari apa yang ia ingat.

Pengacara Jang menangkap arti pandangan Baekhyun. “Jadi…yang selama ini kau cari adalah Choi Seona? Anak bungsu dari Choi Seunghan?”

Mendengarnya, lantas membuat Baekhyun menolehkan kepalanya menatap Pengacara Jang dengan sedikit terkejut.

Choi Seunghan.

Menyebut namanya saja, membuat rasa amarahnya menjalar ke seluruh tubuhnya.

Jadi, selama ini Choi Seunghan memiliki anak perempuan yang tak ia ketahui?

“Aku tak pernah tahu ia memiliki seorang anak perempuan,” gumam Baekhyun yang masih dapat didengar oleh Pengacara Jang.

“Aku tahu selama ini ia memiliki seorang anak perempuan. Ia memang sengaja untuk menutupi keberadaan putrinya karna ia sangat protektif terhadapnya. Tapi perlahan rahasia itu mulai diketahui saat ia kembali dari Amerika beberapa hari yang lalu.”

Penjelasan Jang Jin membuatnya tak habis pikir. Mengapa selama ini Jang Jin tidak memberi tahu tentang keberadaan wanita itu. Terlebih lagi ia merupakan anak dari seorang Choi Seunghan, pria yang telah menghancurkan keluarganya.

Sebuah gagasan ide terlintas dipikirannya. Mungkin ia bisa memanfaatkan wanita itu untuk menghancurkan Choi Seunghan.

“Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, Nak. Namun jangan harap kau bisa menyentuhnya. Apalagi terhadap putri Choi Seunghan. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi padamu.”

Seketika Baekhyun memasang mimik wajah tak bersalahnya. “Kau pikir aku mau apakan dia?”

“Matamu tak bisa membohongiku, Baekhyun.”

“Aku jadi merasa bahwa dia adalah anakmu, Pengacara Jang.”

Mata Jang Jun tertuju pada jendela, matanya terlihat menerawang. “Karna aku pernah bertemu dengannya,” ujarnya pelan. “Dia sangatlah cantik, Baekhyun. Bahkan cerdas. Dia merupakan anak perempuan yang paling kau inginkan di dunia ini.”

“Kau membuatku semakin ingin mengenalnya.” Sebuah seringaian kecil terkukir di bibirnya. “Aku ingin kau mencari lebih jauh tentangnya.”

“Tunggu sebentar.” Jang Jin membuka tablet besarnya kemudian memberikannya kepada Baekhyun.

Baekhyun mengambil tablet itu. Matanya bergerak ke kiri dan kanan, membaca semua informasi yang terdapat di dalamnya. Alisnya terangkat saat membacanya. Ia heran mengapa di dalamnya hanya tidak  terdapat informasi mengenai kehidupan pribadinya, justru yang tercantum hanyalah data kelahiran, catatan sipil, dan nilai-nilai akademisnya. Selain itu tidak ada.

“Hanya ini saja? Tidak ada alamat tempat tinggal? Riwayat kesehatannya?”

Jang Jin menghela nafas. “Tidak, bahkan di Amerikapun tidak diketahui di mana Choi Seona menetap. Semuanya tidak ada bahkan riwayat kesehatannya pun juga kosong, seperti ia tak pernah sakit seumur hidupnya. Aku bisa saja menyuruh seseorang untuk mengikutinya dan mencari informasi lebih jauh tentang dirinya.”

Baekhyun memutar bolpoinnya saat mendengar tawaran Jang Jin. Sesaat terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Masuklah seorang pria berperawakan tinggi menghampiri Baekhyun diikuti dengan kedua pria lainnya.

“Tidak perlu, aku akan menghubungimu kalau aku membutuhkan sesuatu.”

“Baiklah,” ucap Jang Jin. Ia berdiri, membereskan semua lembaran foto yang tergeletak di atas lantai dan memasukkannya ke dalam map cokelat muda. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Baekhyun yang masih memegang tablet hitam miliknya.

Ketiga pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan, menyadari perubahan raut wajah Baekhyun. Tatapannya fokus pada tablet hitamnya namun terlihat lipatan yang terdapat di dahinya. Telapak tangannya juga ia cengkram, menandakan bahwa ia tengah menahan amarahnya.

“Baekhyun?” panggil Chanyeol. Ketiga pria itu terlonjak kaget saat Baekhyun melempar asal tablet hitamnya di atas meja. Wajahnya tak berekspresi, namun matanya masih terus menatap wajah seorang wanita cantik bersama seorang pria berkepala lima di dalam foto itu dengan mengepalkan telapak tangannya. Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan pria itu dan juga kakaknya dengan manjanya, matanya terlihat bersinar dan senyumnya yang lebar mengindikasikan bahwa wanita itu bahagia.

“Apa yang kalian bertiga lakukan disini?”

“Seona telah keluar dari rumah sakit,” jawab Chanyeol pada Baekhyun.

“Aku tak butuh informasi itu!” bentak Baekhyun. Lagi-lagi membuat ketiganya terlonjak kaget.

Baekhyun memutar kursinya membelakangi ketiga pria itu. “Bagaimana dengan pengiriman barang ke Rusia?”

“Sudah selesai semuanya, tak akan ada satu polisi pun yang menyadari kita telah mengirimkan senjata ilegal ke sana,” jawab Joonmyeon.

“Bagaimana dengan kokain?”

“Sudah, aku telah mempersiapkan kapal khusus dan menyuap para penjaga wilayah disana. Kau tak perlu khawatir,” jawab Chanyeol.

“Yang kau perlu khawatirkan adalah tentang Seona,” ucap Chen tiba-tiba mengangkat kembali topik mengenai Seona. Baekhyun lantas menatap tajam Chen dengan tatapan mematikannya.

Sebesit rasa takut menjalar di seluruh tubuh Chen saat melihat tatapan Baekhyun yang begitu menusuk seakan ingin menembus kepalanya.

“Kau ingin mati, Chen?” tanya Baekhyun pelan namun begitu menyeramkan.

“T-Tidak, Sir. Maksudku─“

“KALAU BEGITU JANGAN BAHAS DIA!!” bentak Baekhyun. Wajahnya sedikit memerah lantaran amarahnya yang tengah memuncak.

Kali ini Chen benar-benar takut, ia tak tahu mengapa Baekhyun sangat marah padanya hari ini. Ia memang biasa menghadapi Baekhyun, namun kali ini berbeda. Ia bisa rasakan itu.

Getaran ponsel milik Chanyeol membuat mereka terdiam sejenak. Chanyeol yang menyadari ponselnya bergetar, dengan cepat ia mengambil dan mengangkatnya.

“Chanyeol.”

“Ya, Hyeri-ah.”

“Kau dimana?”

“The Whisker’s. Ada apa?”

“Seona sedang menuju ke sana.”

“Apa?!” Lantas, ketiga orang di ruangan itu menatap Chanyeol dengan penasaran walaupun sedikit terkesan mengintimidasi.

“Iya. Seona sedang menuju ke sana. Tadi dia bertanya padaku dimana Baekhyun berada. Aku hanya khawatir saja padanya.”

“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Chanyeol pelan, berharap Baekhyun tak mendengarnya.

“Aku tak tahu, kelihatannya sangat penting.”

“Kau tak perlu khawatir, sayang. Kira-kira berapa menit lagi?”

“Sekitar 10 menit lagi ia sampai.”

“Baiklah.” Chanyeol memutus sambungan telepon, kemudian ia menyilangkan kakinya dan menatap Baekhyun. “Kau memiliki tamu tak diundang.”

Baekhyun mengangkat alisnya. Tatapan intimidasinya tak berpengaruh pada Chanyeol, yang telah mengenal Baekhyun hampir seumur hidupnya.

“Siapa?” tanya Baekhyun, merasa penasaran siapakah yang datang ke tempatnya  tanpa diundang.

“Kau juga akan tahu.” Chanyeol berdiri kemudian pergi meninggalkan ruangan. Chanyeol berjalan menuju pintu masuk utama tempat ini. Ia tak menyangka bahwa Seona akan mengunjungi tempat ini, terlebih lagi ingin bertemu dengan Baekhyun. Tapi untuk apa? Chanyeol tidak tahu.

**

Chanyeol berjalan melewati lorong menuju pintu keluar. Sayup-sayup ia mendengar suara pekikan wanita. Chanyeol yakin wanita itu adalah Seona. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menghampiri Seona.

“Lepaskan dia!” titah Chanyeol dengan lantang. Hal tersebut lantas membuat para pria bertubuh besar melepaskan Seona dan menegakkan tubuh mereka, karna mereka tahu siapa pemilik suara itu.

“Maafkan saya, Bos,” ucap salah satu pria bertubuh besar. Chanyeol hanya menghiraukan mereka, ia justru mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Kau ingin bertemu dengan Baekhyun, kan?”

Seona terdiam. Matanya hanya terfokus pada uluran tangan Chanyeol. Tatapannya mengisyaratkan bahwa ia ragu apakah ia harus mempercayai Chanyeol atau tidak. Namun mengingat bahwa Jihoon sekarang dalam situasi genting membuatnya mau tak mau mempercayai Chanyeol. Akhirnya Seona menganggukkan kepalanya.

“Kau bisa ikut aku,” ajak Chanyeol kemudian mempersilahkan Seona memasuki tempat bar itu. Seona sedikit menjauhkan dirinya dari Chanyeol saat ia merasakan tangan Chanyeol yang menyentuh punggungnya. Ia tahu Chanyeol hanya bersikap ramah padanya, namun ia merasa tidak nyaman apalagi di tempat seperti itu.

Saat mereka telah melewati tempat bar, sebuah pintu terbuka lebar. Di saat itulah suara musik yang sayup-sayup Seona dengar bertambah kencang.

Seona mengedarkan pandangannya sambil mengikuti Chanyeol. Ruangan tersebut dilapisi cat hitam pekat dengan pencahayaan yang berwarna merah. Di sana terdapat sebuah panggung yang dilengkapi dengan beberapa tiang silver mengkilap. Di sana terlihat beberapa wanita tengah meliuk-liukan tubuhnya di tiang tersebut mengikuti irama musik yang sensual.

Di sudut ruangan terdapat pintu yang hampir tak terlihat secara kasat mata, mungkin bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi Seona. Hal itu karena pintu itu memiliki warna yang sedikit berbeda dengan dinding di sekitarnya. Lalu, Chanyeol mendekatkan kedua matanya pada sebuah mesin pendeteksi tak terlihat. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Chanyeol dan Seona memasukinya.

Seona terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka ruangan yang ia masuki sama sekali berbeda. Ekspetasinya bahwa ruangan itu kotor, kusam bahkan tak terawat atau mungkin lorong kaca bersinar seperti yang ada di dalam film action kebanyakan. Namun arsitektur ruangan itu terkesan seperti berada di dalam rumah inggris kuno. Dinding yang dilapisi kayu pekat, banyak lukisan yang terpajang di sepanjang ruangan, penerangan ruangan yang menggunakan beberapa lilin, dan juga suasana yang cukup mencekam baginya.

Setelah tak lama berjalan, Seona melihat sebuah pintu kayu yang ukurannya dua kali tinggi badannya. Seona menghentikan langkahnya, tak lantas mengikuti Chanyeol yang telah masuk ke dalam ruangan. Ia hanya diam tak bergeming. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya dingin dan sedikit basah. Entah mengapa ia gugup. Ia tak mengerti mengapa dirinya seperti ini. Seona menutup matanya sejenak. Berusaha meredakan detak jantungnya yang berdetak hebat tanpa ia inginkan. Beberapa saat kemudian, barulah Seona membuka kelopak matanya.

Saat Seona memasuki ruangan, semua orang yang berada di ruangan itu, kecuali Chanyeol, terdiam dan menatap mereka, terutama Seona.

Di hadapan Seona terdapat empat pria yang asing baginya. Pertama adalah pria yang baru saja ia kenal, Park Chanyeol namanya. Kedua adalah pria berkulit putih pucat dan bersurai hitam. Ketiga adalah pria bermata bulat dengan rahang tegas serta memiliki surai berwarna cokelat tua. Dan yang terakhir adalah pria yang tengah duduk tepat searah dengannya, mungkin itulah pria yang selama ini Seona cari, yaitu Byun Baekhyun.

Familiar. Itulah kesan pertama ketika ia menatap Baekhyun. Pria itu memiliki surai hitam pekat yang membuat mata electric blue-nya begitu terang dan mencolok di tengah kegelapan dalam ruangan itu. Anehnya, pandangan mata pria itu tak pernah lepas dari Seona hingga tanpa sadar Seona telah berada tepat di hadapan Baekhyun. Manik mata Seona menelisik raut wajah Baekhyun yang datar, mencari sebuah kebenaran apakah Baekhyun yang menculik Jihoon atau tidak. Namun yang Seona dapatkan hanyalah tatapan datar Baekhyun yang sulit untuk dimengerti.

“Apa maksud kedatanganmu ke sini, Choi Seona-ssi?” Suara Baekhyun yang terdengar menusuk di telinga Seona, membuat bulu kuduknya berdiri.

Baekhyun mengenalnya. Mengenali dirinya.

Rasanya sulit bagi Seona untuk mengeluarkan suaranya. Ia gugup berhadapan dengan empat orang pria yang tak ia kenal, terutama Baekhyun. Tetapi sebisa mungkin ia harus memberanikan dirinya. Demi Jihoon.

“Aku ingin kau melepaskan Jihoon,” ucap Seona tanpa basa-basi.

Alis Baekhyun saling bertautan. “Maksudmu?”

“Ya, aku ingin kau melepaskan Jihoon. Aku tahu kaulah yang menculik Jihoon, bukan? Aku tak tahu kau menyanderanya dimana, tapi aku akan memberikan sejumlah uang yang kau minta asalkan kau melepaskan Jihoon!” ujar Seona tegas.

“Aah…Jadi pria itu bernama Jihoon?” gumam Baekhyun yang masih dapat di dengar oleh Seona, atau apakah itu memang disengaja?

Seona mengeluarkan sebuah amplop putih dan meletakkannya di atas meja. “Ini belum seberapa. Sisanya akan aku berikan setelah ia dibebaskan.” Kemudian Seona mulai berbalik menuju pintu keluar.

“Kau pikir aku membutuhkan uangmu?” Suara Baekhyun membuat langkah kaki Seona terhenti. Seona membeku sesaat. Entah mengapa firasatnya berkata untuk tidak meremehkan pria yang memiliki tatapan paling menakutkan di dunia ini. Ia juga meyakini bahwa ini tidak akan sesuai dengan rencananya. Kemungkinan besar ia akan terjebak di dalam ruangan ini lebih lama lagi.

Baekhyun menatap kepada tiga orang pria yang masih berada di dalam ruangan. Tatapannya seperti mengisyaratkan pada mereka untuk keluar dari ruangan. Mereka yang memahami itu, akhirnya keluar dari ruangan meninggalkan Baekhyun dan Seona sendirian.

Setelah punggung mereka sudah tak terlihat dari balik pintu, Baekhyun berdiri mengitari meja kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Seona. Seona sendiri dengan perlahan melangkahkan kakinya ke belakang, tak ingin Baekhyun mendekatinya, hingga punggungnya menyentuh dinding yang terasa dingin. Baekhyun terus saja melangkahkan kakinya hingga tak ada jarak diantara mereka.

“Kau harus tahu satu hal, sayang.” Baekhyun menyentuh dagu Seona pelan. “Tidak semuanya bisa ditukar dengan uang.” Baekhyun menatap lekat wajah Seona yang sedikit ketakutan.

Kemudian Baekhyun mendekatkan bibirnya pada telinga Seona dan berbisik pelan, “Mungkin, aku akan mempertimbangkannya jika itu nyawa taruhannya.”

Seona benar-benar tak bisa berkutik setelah mendengar ucapan Baekhyun. Bulu romanya berdiri. Pupil matanya membulat sempurna.

Disisi lain Baekhyun masih menatap wajah Seona yang menatap wajahnya dengan terkejut. Wajah Seona masih terlihat cantik walaupun raut wajahnya menunjukkan rasa ketakutannya.

Munafik jika Baekhyun berkata ia tidak tertarik dengan wanita ini. Munafik jika Baekhyun sama sekali menyangkal bahwa saat ini detak jantungnya tidak berdetak tak menentu. Ia mencengkram telapak tangannya dengan kuat, menahan sebesit rasa yang terlintas dipikirannya yaitu merasakan bibir merah muda milik Seona.

Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari Seona, mencegah dirinya berbuat hal yang takut ia sesali.

“N-nya…wa?” tanya Seona seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Baekhyun menjauhkan dirinya dari Seona. “Ya, nyawa. Apa kau masih ingin menyelamatkan pria yang dengan bodohnya menguntitku?”

“Aku akan melakukan apapun yang kau mau asalkan kau melepaskan dia,” ucap Seona tegas. Matanya memancarkan kesungguhan yang membuat sudut bibir Baekhyun terangkat puas seakan hal itulah yang Baekhyun inginkan.

Ia memandang Seona dengan penuh tertarik. “Benarkah? Baiklah kalau itu yang kau mau.”

Baekhyun maju selangkah mendekati Seona, pandangan matanya tak pernah lepas dari Seona. Tanpa berpikir panjang, Baekhyun mengambil beberapa helai rambut Seona dan meletakkannya di belakang telinganya lalu Baekhyun berbisik pelan, “Datanglah besok jam 7 malam di La Belleza, kau akan tahu apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan pria bodoh itu.”

Sebuah kehangatan menjalar dari seluruh tubuh Seona menuju wajahnya akibat deru nafas Baekhyun yang menerpa permukaan kulitnya, hingga kini wajahnya terlihat memerah bak bunga mawar.

Seona menatap marah pada Baekhyun. Ia marah karna Baekhyun seenaknya menjuluki Jihoon dengan sebutan pria bodoh. Rasanya Seona ingin melemparkan ijazah dengan sertifikat cum laude milik Jihoon tepat ke wajah Baekhyun.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Seona keluar dari ruangan Baekhyun dengan wajah memerah.

**

Choi Seunghyun membenarkan letak kacamata miliknya. Pandangannya serius menatap layar komputernya dan juga sesekali membaca sebuah lembaran dokumen di tangannya.

Beberapa menit kemudian, Seunghyun mengacak surai hitamnya dengan frustasi. Ia telah menyelidiki kasus kebakaran yang melibatkan adik perempuannya selama seminggu lebih. Namun hasilnya nihil. Semua bukti menyatakan bahwa kejadian itu benar-benar disebabkan oleh korsletnya arus listrik. Ia yang melihatnya sendiri.

Seunghyun menekan pelipisnya dengan ujung jarinya, berharap rasa pening di kepalanya menghilang.

Suara dentingan dari ponselnya membuat Seunghyun membuka matanya. Ia meraih ponselnya dan melihat ada sebuah pesan masuk. Lantas ia membukanya.

Sebuah video yang berasal dari kamera CCTV dikirimkan padanya. Ia menekan play, kemudian ia melihat seorang pria tengah ditarik paksa masuk ke dalam mobil van hitam besar.

Seunghyun memutar video itu satu kali lagi. Firasatnya ia mengenali pria yang tengah ditarik itu. Penasaran, akhirnya Seunghyun men-zoom video untuk melihat pria itu lebih jelas. Alangkah terkejutnya ia mengenali pria itu adalah Jihoon.

Tunggu.

Apa jangan-jangan Jihoon tahu penyebab kejadian kebakaran itu?

Ia tahu bahwa Jihoon dan Seona adalah teman dekat. Jadi itu hal yang mungkin, terlebih lagi profesi Jihoon sekarang yang mendukung Seona untuk mencari tahu lebih jauh.

Ya benar, ia harus mencari tahu keberadaan Jihoon.

**

“Nona Seona,” ucap salah seorang pria paruh baya, berusaha memanggil Seona yang hanya diam termenung menatap refleksi wajahnya di kaca mobil.

“Non-“ baru saja pelayan muda memanggil Seona sekali lagi, Seona sudah menolehkan kepalanya menatap sang supir. “Aku mendengar. Tinggal katakan saja apa yang ingin kau katakan.”

“Ah…Baik, Nona. Tuan menitipkan sesuatu untuk Nona.” Pria paruh baya itu memberikan sebuah amplop merah pada Seona, kemudian ia membuka segel yang terdapat pada amplop tersebut.

Seona sama sekali tak tertarik dengan isi yang terdapat pada amplop tersebut. Bukan berarti Seona tidak peduli dengan acara amal itu, namun ia tahu bahwa acara itu hanya sebagai ajang memamerkan kekayaan sebagian para kolongmerat dan juga pejabat yang membuat Seona muak.

“Kita sudah sampai, Nona,” ucap sang supir kemudian datanglah seorang pelayan pria membuka pintu mobil dan mempersilahkan Seona keluar. Baru saja Seona ingin masuk ke dalam restoran, ia langsung disambut oleh seorang pelayan wanita. “Selamat malam, Nona Seona. Tuan Baekhyun sudah menunggu Anda di dalam.”

Seona bukan pertama kalinya datang ke restoran ini, namun ia merasakan perbedaan yang cukup terasa. Seona tahu bahwa restoran ini tidak terlalu besar namun entah mengapa ia merasa perjalanan menuju tempat Baekhyun terasa lama. Entah itu karna pelayanannya yang berbeda atau karna ia akan bertemu dengan Baekhyun. Seona tak tahu.

Samar-samar Seona melihat sesosok pria berjas hitam tengah duduk seraya menatap gemerlap kota Seoul dari balik dinding kaca itu.

Baekhyun merasakan seseorang berjalan menghampirinya, membuatnya menoleh dan menatap wanita yang tengah berjalan menuju arahnya. Seona benar-benar memesona malam ini. Padahal ia tidak menggunakan gaun mewah yang kebanyakan wanita pakai ketika makan malam bersamanya. Namun hanya menggunakan sebuah gaun sederhana yang entah bagaimana sang perancang busana itu lakukan agar pakaian itu terlihat pas dengan lekukan tubuhnya.

Tanpa berkata apapun, Baekhyun berdiri menghampiri Seona.

“Kau terlihat sangat menakjubkan, Seona-ssi.” Satu kalimat yang terucap dari bibir Baekhyun mampu membuat pipi Seona merona hebat. Bahkan hingga Seona lupa tujuan awal ia datang kesini.

“Terima kasih.” Rasanya Seona ingin menahan senyumnya, namun tak bisa.

Baekhyun mengulurkan tangannya, namun Seona tak lantas menyambutnya. Ia ragu. Baekhyun yang mengetahui hal itu akhirnya berkata, “Kau tak perlu ragu. Aku takkan berbuat hal yang tidak kau inginkan. Kau percaya kan padaku?”

Seona menatap manik mata Baekhyun seakan mencari sebuah kebohongan, namun ia tak menemukannya yang Seona temukan hanyalah sebuah kejujuran. Hal itulah yang membuat Seona akhirnya menyambut uluran tangan Baekhyun.

Baekhyun tentu saja senang, ia merasa seperti pria yang paling bahagia di dunia. Berlebihan memang. Namun ia tak bisa memungkiri bahwa secara tak langsung Seona percaya padanya.

Baekhyun menarik kursi ke belakang sedikit dan mempersilahkan Seona untuk duduk. Kemudian Baekhyun menjentikkan jarinya untuk memanggil seorang pelayan. Ia meminta sebuah hidangan terbaik yang ada di restoran itu. Sang pelayan mengerti, kemudian ia berjalan meninggalkan Baekhyun dan Seona sendirian.

Seona melihat sekelilingnya, tidak ada satupun orang yang berada di restoran ini kecuali mereka berdua. Hal itu membuatnya gugup. Ia bingung mengapa Baekhyun membuat pertemuan ini terasa seperti sebuah kencan. Padahal tujuan awal kedatangannya ke sini adalah untuk menyelamatkan Jihoon.

“Jadi, apa yang harus kulakukan untuk membebaskan Jihoon?”

Baekhyun tertawa. Seona mengangkat alisnya, bingung. “Ada yang lucu?”

Baekhyun berusaha menahan ketawanya. “Aku tak percaya kau memang benar-benar orang yang to-the-point.”

“Aku hanya tidak suka basa-basi,” jawab Seona seadanya.

Memang benar. Baekhyun baru pertama kali bertemu dengan wanita yang tidak suka berbasa-basi. Banyak sekali wanita yang bertanya hal-hal tidak penting ketika bertemu dengannya agar dapat berbicara lama-lama dengannya.Namun tidak untuk Seona. Baekhyun rasanya ingin lama-lama bercengkrama dengan Seona, namun justru sebaliknya Seona terlihat tidak senang berlama-lama dengannya. Ironis memang.

“Aku dengar kau seorang pebisnis sukses. Di bidang apa?” satu pertanyaan sederhana Seona mampu membuat senyum di wajah Baekhyun sirna.

“Aku hanya seorang pebisnis biasa yang suka berinvestasi di beberapa hotel, kasino, restoran, dan sebagainya. Termasuk restoran ini.”

Pantas saja, pikir Seona. “Kau menikmatinya? Hmm..maksudku kau menikmati pekerjaanmu sekarang ini?”

“Ya, aku menikmatinya walaupun banyak masalah yang terjadi namun justru itulah tantangannya. Aku suka tantangan.” Sudut bibir Baekhyun terangkat dan menatap lekat wanita yang berada di hadapannya. Hal tersebut membuat Seona berusaha menahan keinginannya untuk melakukan hal-hal yang diluar akal sehatnya.

Seona berdeham. “Tidak ada yang kau ingin tanyakan padaku?”

“Tentu saja ada.” Baekhyun memajukan badannya dan meletakkan tangannya diatas meja. “Ku dengar kau baru saja kembali dari Amerika. Tapi aku sama sekali tidak pernah mendengar tentangmu. Berminat untuk menjelaskan?”

“Ayah sangat protektif padaku, tapi aku juga tidak suka kehidupanku terekspos di media massa. Aku tidak ingin masuk berita dan gosip murahan seperti Anak Komisaris Polisi Tertangkap Basah Berciuman dengan Seorang Pria Asing? Anak Komisaris Polisi Diduga Mengedarkan Narkoba?” Seona tertawa. “Aku hanya bercanda, aku tahu karna itu sangat tidak mungkin bagiku.”

“Benarkah? Kupikir kau benar-benar melakukannya.” Baekhyun menyenderkan punggungnya pada kursi. “Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi?”

Sial. Pertanyaan menjebak, pikir Seona. Seona tak tahu harus menjawab apa. Ia tak menyangka pertanyaan itu akan terucap dari bibir Baekhyun.

Seona bernafas lega ketika makanan mereka tiba. Pelayan pria itu dengan perlahan meletakkan piring makanan diatas meja. Sesekali ia menatap wajah Seona, mengagumi kecantikannya. Ketika pelayan pria itu tertangkap basah oleh Seona, ia tersipu malu. Hal itu membuat Seona menjadi sedikit tidak nyaman.

Baekhyun sendiri sudah mengepalkan telapak tangannya sedari tadi saat ia melihat sang pelayan dengan beraninya menatap wanitanya. Baekhyun akhirnya menyuruh pelayan itu pergi. Seona melihat Baekhyun yang melirik entah kemana kemudian menganggukkan kepalanya.

Seona yang penasaran akhirnya menolehkan kepalanya. Matanya membulat seketika saat ia melihat pelayan pria tadi telah tergeletak di lantai penuh dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Seona menutup bibirnya yang terbuka, ia tak memercayai apa yang telah dilihatnya. Seona lantas berbalik menghadap Baekhyun. “K-Kau apakan dia?”

“Aku sedang memberinya pelajaran,” jawab Baekhyun yang juga tengah melihat pelayan itu terkapar dengan tenangnya.

“Apa yang salah dengannya? Apa…kau juga melakukan hal yang sama pada Jihoon?” tanya Seona skeptis, kemudian matanya membulat. “Kau membunuh Jihoon?!”

Baekhyun terkejut. “Tidak…kurasa.”

Seona berdiri. “Kurasa? Dengar, Byun Baekhyun. Aku tidak mau tahu, apapun yang terjadi kau harus memberitahuku dimana Jihoon sekarang!” Nafas Seona tersengal-sengal lantaran emosinya yang memuncak. Hari ini ia harus menemukan Jihoon. Ia bisa mati kalau ayahnya sampai mengetahui bahwa Jihoon hilang.

Baekhyun berdiri kemudian kedua tangannya menyentuh lengan Seona seakan menyuruhnya untuk duduk kembali. “Tenang saja, aku takkan membuat temanmu itu bernasib sama seperti dia.”

Seona sedikit rileks mendengarnya, walaupun ia tahu tidak sepenuhnya itu benar.

“Apa yang kau ingin aku lakukan untuk melepaskan Jihoon?”

“Tidak sulit. Kau hanya perlu datang bersamaku.” Baekhyun meletakkan sebuah amplop merah di hadapan Seona.

Seona merasa familiar dengan bentuk dan warna amplop yang ia dapatkan. Perlahan tapi pasti Seona membukannya, alangkah terkejutnya ia menerima kartu undangan yang sama seperti ayahnya berikan. Berarti kemungkinannya adalah Baekhyun dan ayahnya akan berada di tempat yang sama. Terlebih lagi Seona datang bersama pria yang baru saja ia temui.

Seumur hidup, Seona tak pernah datang ke acara seperti ini bahkan bersama ayahnya. Lalu sekarang ia akan datang bersama Baekhyun? Rasanya Seona membutuhkan inhealer sekarang juga.

“Tidak sulit, bukan? Kau hanya datang sebagai pendampingku saja. Tidak lebih.”

Memang tidak sulit untuk kebanyakan orang, tapi tidak untuk Seona. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah acara itu selesai. Jihoon sangat berhutang banyak padanya.

“Baiklah, aku akan pergi denganmu. Sekarang dimana Jihoon?”

Baekhyun tersenyum mendengar jawaban Seona. “Chanyeol?”

Entah darimana Chanyeol datang, Seonapun tidak tahu dan tiba-tiba saja Chanyeol sudah berada di hadapan Baekhyun. “Kau bawa Seona ke gudang,” titah Baekhyun.

Chanyeol mengangguk, kemudian ia mempersilahkan Seona untuk ikut berasamanya.

**

Choi Seona memasuki sebuah gedung tua terbengkalai di kawasan yang ia sendiri tak tahu dimana. Ia mengikuti Chanyeol dalam diam. Sesungguhnya ia tak percaya dengan hal-hal mistis yang sering diceritakan oleh Bona, namun suasana mencekam ini membuatnya sedikit takut.

Chanyeol yang merasakan ketakutan Seona akhirnya berusaha memecah keheningan. “Kau sebenarnya tidak perlu sampai kesini. Kau tahu? Tanpa kau kesini pun, Baekhyun akan membebaskannya.”

“Aku hanya ingin memastikan saja.”

“Aku tak menyangka kau benar-benar seperti apa yang dikatakan Bona.”

“Memangnya Bona mengatakan apa?”

“Rahasia.”

“K─Kau!”

“Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa teman pacarku,” ucap Chanyeol seraya mengedipkan sebelah matanya.

Seona memutar bola matanya. Ia tak percaya Chanyeol yang memiliki sifat kekanak-kanakan sama seperti Bona bisa memiliki hubungan dekat dengan pria berdarah dingin seperti Byun Baekhyun.

“Akh!” Suara ringisan seorang pria menggema ke seluruh penjuru gedung itu. Seona lantas berlari mengikuti sumber suara itu. Hingga langkahnya terhenti saat melihat Jihoon yang tengah dihabisi oleh dua orang pria. Tanpa pikir panjang Seona berlari menghampiri Jihoon. Tanpa merasa takut, Seona menarik kedua pria itu kemudian menghabisi mereka hingga tergeletak tak berdaya di lantai.

“Jihoon! Kau tidak apa-apa?” Seona membuka ikatan tali di tangan serta kaki Jihoon dengan terburu-buru. Jihoon menatap raut wajah khawatir Seona dengan penglihatannya yang buram. Ia merasa lega bahwa dirinya selamat, hingga rasanya Jihoon ingin menutup mata karna kelelahan. Seona sendiri rasanya ingin menangis melihat wajah Jihoon yang penuh luka lebam. Ia tak menyangka betapa teganya mereka menghabisi Jihoon hanya karna menguntit.

Tidak. Bukan mereka. Pasti Byun Baekhyun.

**

Di sisi lain, Chanyeol melihat kejadian itu dengan senyum lebar sambil memegang ponselnya untuk merekam kejadian itu. Di mulai dari Seona yang berlari menghampiri Jihoon lalu menghabisi kedua pria yang merupakan bawahannya sampai menggendong Jihoon yang terlelap di punggung kecilnya.

Chanyeol tersenyum puas melihat hasil rekamannya, kemudian dengan cepat ia mengirimkan video tersebut melalui pesan singkat kepada Baekhyun.

Ia yakin Baekhyun takkan percaya apa yang ia lihat.

**

Baekhyun memutarbalikkan jam pasir berkayunya untuk kesekian kalinya. Ia memerhatikan butiran-butiran pasir yang perlahan turun melewati corong kecil di dalamnya. Sekilas Baekhyun terlihat fokus, namun pikirannya tertuju pada Seona. Terutama video yang baru saja Chanyeol kirimkan untuknya. Di dalam video itu menampilkan bagaimana Seona menghabisi anak buahnya untuk menyelamatkan si penguntit itu.

Sebenarnya Jihoon bukanlah penguntit seperti apa yang ia katakan sebelumnya pada Seona. Ia hanya berusaha menggali informasi yang tak seharusnya pria itu ketahui. Baekhyun benar-benar menjaga rahasia Black Wolf nya dengan sebaik mungkin. Ia tak ingin apa yang telah ia bangun selama bertahun-tahun hancur, terutama di tangan Choi Seunghan.

Mengingat Choi Seunghan, membuat Baekhyun teringat rencana balas dendamnya dengan memanfaatkan Seona. Namun ia teringat apa yang dikatakan Sooman dan juga….hatinya.

Baekhyun keluar dari dalam mobilnya kemudian memasuki gedung rumah sakit. Ia menemukan Seona yang sedang menatap pria yang berbaring di atas ranjang tersebut. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Seona, Baekhyun tak tahu.

Seona yang baru saja akan berdiri, tak sengaja melihat Baekhyun tengah berdiri di dekat pintu kamar.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Seona bingung, tak terpikirkan bahwa Baekhyun akan datang mengunjungi Jihoon di rumah sakit.

“Aku berubah pikiran,” ucap Baekhyun seraya berjalan menghampiri Seona.

Seona ikut berdiri dan juga menghampiri Baekhyun. Ia menatap ekspresi wajah Baekhyun yang sulit dibaca olehnya. “Maksudmu?”

Baekhyun berbisik di telinganya, “Datanglah bersamaku nanti sebagai…tunanganku.”

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Hola, lama tak berjumpa!

Ya ya, aku tahu sudah sangat lama sekali tidak memposting satupun chapter ff ini maupun yang lain. Maafkan aku semuanya. Aku ingin memberikan berita bahagia bahwa aku akan menikah dengan baekhyun telah lulus sekolah menengah atas! (yeay) jadi bisa melanjutkan fic yang entah terbengkalai, mungkin sudah berdebu dan jadi sarang laba-laba.___.

Jadi, bagaimana? Penasaran sama cerita selanjutnya?

Let me know your thoughts through the comments below!

sampai jumpa dalam waktu dekat!

Best Regards, Ahra.

Advertisements

28 responses to “FALLEN HEAVEN – CHAPTER [3]

  1. Aduhh uda lupa Ama ceritanya, jadi baca ulang lagi. Wkwkk.
    Kak feelnya slalu dapat.. aku suka Baekhyun yg bad boy gitu.. buruan kak buat mereka saling suka. Wwkkk.
    Cepat updet ya kak 😂
    Selamat atas kelulusannya kK..

  2. Akhhh tambah seru ajeee
    Bad boy nya baekhyun bner bner euhhhhh
    Wow mrk bakal jd tunangan ??
    Ukhh senengnyaaa
    Cerita sdikit donk,,kok bsa barkhyun benci sma ayahx seona

  3. hai kak aku readers baru ijin baca ya kak hehehe
    congratulation kak buat kelulusannya…
    ceritanya seru kak jadi sedikit penasaran sma sifatnya baekhyun di cerita ini ditunggu kak kelanjutannya

  4. Omaigat omaigattt… inii aku gak tau mau komen apa… udah lama gak update, pas update ceritanya bikin gregetan… oke, paham kenapa baru update, karena baru lulus dan selesai ujian ptn bukan?? *sok tau* wkwkwk seangkatan kitaa *sksd banget akuu* 😅😅

    • haha iya bener banget, tangan gatel sebenarnya pengen update cuman ditahan terus 😀 halo teman seangkatan! gimana sbmnya? (smirk)

  5. Heol … Sebagai tunangan baekhyun ? Terus apa jawaban seona ? Mau balas dendam tapi memanfaatkan seona ? Dasar bacon jahat tapi nanti kena batu nya karna gak bisa menghindari pesona seona buktinya baekhyun udah mulai suka sama seona.

  6. Aku..aku!!! Aku sampe lupa dg ceritanua… hahaa… jd td smpet cek dr part awal n baru igt trxta ini slah satu ff yg sgt disukai.. haa.. yaya happy grafuation buat dedek author Ahra.. semoga sukses selallu….. 😊😊😊 ne ditunggu juga cerita slnjutnya… 😄😄😄😄😄

  7. aku kira itu undangan pertunangan seona sama sapa gtu. itu nikahan rekan bisnis? ko seona sendiri dapet undangan khusus untuknya baekhyun licik tapi kayanya baekhyun aslinya tuh suka tapi dia gengsi ngakuin karna tau seona anak polisi yg bersangkutan sama masa lalunya, jadi penasaran sama masa lalunya. btw itu aku mikirnya baekhyun ga tua2 gtu ya? trus aku tadinya ngira jihoon itu joon seinget aku jihoon tuh temen chanyeol sama baekhyun pas nolong baekhyun di bar Heaven and ark ternyata setelah aku baca lgi nama yg di chapter sebelumnya bkn jihoon tapi joon:v aku tunggu next chapternya ya author,

  8. Huahhhhh baekhyun emang udh falling lah ma seona..dia cemburu yah hahahaha…ampe bilang gitu..emang knp ma appa y seona..ada dendam apa yahh..ditunggu bgt lanjutan y…

  9. Baekhyun sama seona ternyata musuhan yaa:( baekhyun jatuh cinta ke seona tp mau manfaatin dia gitu ka?:( terus juga makasihhh loh ka udah dibikinin karakter baekhyun segelap ini aku suka aku sukaaaa. Jadi bikin baper kalo setiap mereka ketemuuu, gimana ya kalo seona ternyata ingat sm ingatannya pfttr bikin penasaran ajaaa. Fast update ya plis ka😂
    Fighting unni!

  10. Uhh baper malem”.
    Perut rasanya ada kupu” lagi pada berterbangan *cyaelaah.
    Semangat terus authorr. Saya sukaaaa bgt sm ff ini 💕

  11. Baekhyun mau manfaatin seona yaa kayanya?? Sebenernya baekhyun pnya masalah apasih sama ayah seona?

  12. Yeah, Baekhyun mulai muncul rasa sukanya nich? Mkany dia minta Seona ngaku jadi tunangannya. Seru dech. Next.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s